Anda di halaman 1dari 11

Selasa, 07 Mei 2013

ASKEP KANKER URETER


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker adalah Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan gangguan
pertumbuhan selular dan merupakan kelompok penyakit dan bukan hanya penyakit tunggal.
Kanker istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan malignan dalam setiap bagian
tubuh. Pertumbuhan ini tidak bertujuan, bersifat parasit dan berkembang dengan mengorbankan
manusia yang menjadi hospesnya.
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil penyaringan ginjal
(filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica urinaria. Terdapat sepasang ureter
yang terletak retroperitoneal, masing-masing satu untuk setiap ginjal.
1.2 Tujuan

1.
2.
3.
4.
5.

1.2.1 Tujuan Umum


Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan pada klien dengan masalah ca ureter.
1.2.2 Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu membuat pengkajian pada klien dengan masalah ca ureter.
Mahasiswa mampu menegakkan diagnose pada klien dengan masalah ca ureter.
Mahasiswa mampu merencanakan asuhan keperawatan pada klien dengan masalah ca ureter.
Mahasiswa mampu mengimplementasikan masalah keperawatan pada klien Ca ureter
Mahasiswa mampu mengevaluasi pada klien dengan masalah ca ureter.
1.2.3 Manfaat
Dengan adanya makalah ini kita sebagai mahasiswa agar dapat mengetahui penyebab ca ureter
dan pencegahannya agar terhindar dari ca ureter baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga
dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarak agar mampu menjaga kesehatannya, serta
bisa menjadi refrensi untuk mendapat pengetahuan bahayanya penyakit ca ureter yang dapat
menyebabkan kematian.

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR TEORI
2.1.1 Definis

Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil penyaringan ginjal
(filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica urinaria. Terdapat sepasang ureter
yang terletak retroperitoneal, masing-masing satu untuk setiap ginjal. Kanker dapat terjadi pada
sel-sel yang melapisi pelvis renalis dan ureter.
Kanker pada sel-sel yang melapisi pelvis renalisdisebut karsinoma sel transisional. Pelvis
renalis adalah bagian ginjal yang berfungsi sebagai corong yang mengalirkan air kemih ke ureter.
Ureter adalah tabung/saluran yang menghubungkan ginjal dengan kandung kemih.
Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan m.psoas major, lalu
menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca communis. Ureter berjalan secara postero-inferior
di dinding lateral pelvis, lalu melengkung secara ventro-medial untuk mencapai vesica urinaria.
Adanya katup uretero-vesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung kemih.
Terdapat beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan yaitu peralihan pelvis renalisureter, fleksura marginalis serta muara ureter ke dalam vesica urinaria. Tempat-tempat seperti ini
sering terbentuk batu/kalkulus.
2.1.2 Etiologi
Kemungkinan besar perkembangan kanker adalah terkait dengan masalah kromosom
yang menyebabkan penampilan dan pertumbuhan sel-sel ganas. Hal ini bisa disebabkan sebagai
akibat dari paparan karsinogenik tertentu, rangsangan agen atau zat yang dapat menyebabkan
kanker.
2.1.3 Manifestasi Klinis
1. Hematuria
Hematuria dapat dibagi menjadi hematuria intermiten atau penuh, dan dapat dinyatakan
sebagai hematuria awal atau terminal hematuria, sebagian dari pasien kanker kandung kemih
akan ada pembuangan gumpalan gumpalan darah dan bangkai bangkai busuk.
2. Iritasi kandung kemih
Tumor terbentuk di trigonum kandung kemih, lingkup patologi meluas atau saat terjadi infeksi
dapat menstimulasi sampai ke kandung kemih sehingga menyebabkan fenomena sering buang
air kecil dan urgen.
3. Gejala obstruktif saluran kemih
Adanya tumor yang lebih besar, tumor pada ureter dan penyumbatan gumpalan darah akan
menyebabkan buang air bahkan sampai retensi urin. Infiltrasi tumor ke dalam lubang saluran
kemih dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih, sehingga menimbulkan nyeri pinggang,
hidronefrosis dan fungsi ginjal terganggu.
4. Gejala metastase
Invasi tumor stadium lanjut sampai ke jaringan kandung kemih sekitarnya, organ lain atau
metastasis kelenjar getah panggul simpul, akan menyebabkan nyeri di daerah kandung kemih,
uretra fistula vagina, dan edema ekstremitas bawah, metastasis sampai organ yang lebih jauh,
nyeri tulang dan cachexia.

2.1.4 Patofisiologi
Kenaikan tekanan ureter menyebabkan perubahan yang ditandai difirasi glomelurus, fungsi
tubular, dan aliran darah ginjal, tingkat perubahan secara fungsional secara langsung berkaitan
dengan durasi dalam sistem pengumpulan intrarenal, derajat diladasi oleh parenkem ginjal.
2.1.5 Klasifikasi
1. Stadium (0)
Dikenal sebagai karsinoma in situ, di dalam ureter organisme bagian tepi timbul tumor.
2. Stadium (I)
Sel kanker telah menyebar ke lapisan dalam dan luar ureter.
3. Stadium (II)
Sel kanker telah menyebar ke lapisanan otot dinding ureter.
4. Stadium (III)
Sel kanker telah menyebar sampai jaringan adipose pada sekitar ureter , kemungkinan menyebar
sampai ke alat kelamin.
5. Stadium (IV)
Sel kanker telah menyebar dari ureter sampai ke peritoneum atau ke panggul. Sel kanker
mungkin telah mempengaruhi sampai ke kelanjar getah bening atau sampai ke organ lain dalam
tubuh.
6. Kekambuhan
Setelah dilakukan pengobatan kanker ureter, ureter atau bagian lain dalam tubuh bisa mengalami
kekambuhan.

2.1.6 Pathway
Ca Ureter

Respon Obstruksi

Respon Infeksi dan Inflamasi akibat

Respon edema

Iritasi kanker

Nyeri kolik, hematuria, Respons sistemik akibat nyeri


Peningkatan tekanan
Sering Miksi
kolik (mual,muntah,anoreksia) Hidrostatik dan distensi
kelemahan intoleransi aktivitas

Piala ureter serta ureter

Ggn rasa nyaman


nyeri

Ketidakseimbangan
Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
a.
b.

2.1.7 Komplikasi
1. Pembentukan Abses ginjal atau perirenal.
2. Gagal ginjal.
2.1.8 Pemeriksaan Diagnostic
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan urografi intravena atau urografi retrograd.
CT scan dapat membantu membedakan tumor dengan batu ginjal atau bekuan darah dan
menunjukkan pertumbuhan kanker.
Pemeriksaan mikroskopik terhadap contoh air kemih bisa menunjukkan adanya sel-sel kanker.
Ureteroskopi atau nefroskopi digunakan untuk mengamati atau kadang untuk mengobati tumor
yang kecil.
2.1.9 Penatalaksanaan
Jika kanker belum menyebar, maka dilakukan pengangkatan ginjal dan ureter
(nefroureterektomi). Tetapi jika ginjal tidak berfungsi dengan baik atau jika penderita hanya
memiliki 1 ginjal, maka tidak dilakukan pengangkatan ginjal, karena penderita akan tergantung
kepada dialisa. Jika kanker telah menyebar, dilakukan kemoterapi. Pengobatan untuk kanker
uretra bisa dilakukan dengan cara:
Pembedahan
Terapi penyinaran, menggunakan sinar X dosis tinggi atau sinar energi tinggi lainnya untuk
membunuh sel-sel kanker.
Kemoterapi,
menggunakan
obat-obatan
untuk
membunuh
sel-sel
kanker.
Pembedahan untuk mengangkat kanker ureter terdiri dari:
Elektrofulgurasi, menggunakan arus listrik untuk mengangkat kanker. Tumor dan daerah di
sekitarnya dibakar lalu diangkat dengan pisau bedah.
Terapi laser.

2.2 KONSEP DASAR ASKEP


2.2.1 Pengkajian Keperawatan
Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga
dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.
a. Anamnesis
Keluhan utama yang sering menjadi alasan kien untuk meminta pertolongan
kesehatan kepada tenaga kesehatan atau tanaga menis.
b. Riwayat penyakit saat ini
Faktor riwayat penyakit sangat penting di ketahui karena untuk mengetahui predisposisi
penyebab Ca ureter. Disini harus di tanya dengan jelas tentang gejala yang timbul seperti kapan
mulai serangan, sembuh, atau bertambah buruk. Keluhan Ca ureter perlu mendapat perhatian
untuk di lakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya Ca ureter, stimulus apa

yang sering menimbulkan nyeri pada ureter, dan tindakan apa yang telah di berikan dalam upaya
menurunkan keluhan nyeri tersebut.
c. Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah di alami klien yang memungkinkan adanya hubungan
atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernah kah klien mengalami Ca ureter
sebelumnya.
d. Pengkajian psiko-sosio-spiritual
Pengkajian mekanisme koping yang di gunakan klien juga penting untuk menilai respon
emosi klien terhadap penyakit yang di deritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga dan
mesyarakat serrta respon atau pengaruh dalam kehidupan sehari hari baik dalam keluarga atau
masyarakat. Apakah ada dampak yang timbul pada klien, yaitu timbul ketakutan akan kecacatan,
rasa cemas, rasa ketidak mampuan untuk melakukan aktifitas secara optimal, dan pandangan
terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh). Karena klien harus menjalani rawat inap
maka apakah keadaan ini memberi dampak pada ststus ekonomi klien, karena biaya perawatan
dan pengobatan memerlukan dana yang tidak sedikit.

1.
2.
3.
4.
5.

Pengkajian diagnostik pada Ca ureter


Pemeriksaan sedimen urine menunjukan adanya: leukosituria, hematuria, dan dijumpai kristalkristal berbentuk kanker.
Pemeriksaan kultur urine mungkin menunjukan adanya pertumbuhan kumanpemecah urea.
Pemeriksaan fungsi ureter untuk memonitor penurunan fungsi.
Pemeriksaan elektrolit untuk ketrlibatan peningkatan kalsium dalam darah.
Pemeriksaan foto polos abdomen, PIV, urogram, USG untuk menilai posisi, besar, dan benttuk
batu dalam saluran kemih.

2.2.2 Diagnosis Keperawatan


a. Analisa Data
Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, menyeleksi,
mengelompokkan, mengaitkan data, menentukan kesenjangan informasi, melihat pola data,
membandingakan dengan standar, menginterpretasi dan akhirnya membuat kesimpulan. Hasil
analisa data adalah pernyataan masalah keperawatan atau yang disebut diagnosa
keperawatan.Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti tentang
masalah pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan
keperawatan.
Diagnosa yang muncul pada kasus Ca ureter :
1. Gangguan Nyaman Nyeri b/d aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises, peregangan dari
terminal syaraf sekunder dari adanya batu pada ginjal, nyeri pasca bedah.

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan status metabolik akibat
keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional.
3. Ansietas b/d prognosis pembedahan, tindakan invasif diagnostik.

2.2.3 Rencana Keperawatan


1. Gangguan nyaman nyeri b/d aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises, pergangan dari
terminal syaraf sekunder dari adanya batu pada ginjal, nyeri pasca bedah.
Tunjuan :
Nyeri berkurang/hilang/teradaptasi.
Kriteria hasil:
a. Nyeri berkurang atau dapat beradaptasi dengan sekala nyeri 0-1
b. Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
c. Eksfresi klien rlaks
Intervensi dan Rasional :
Intervensi

Rasional

1. kaji derajat ketidaknyamanan melalui


1. Tindakan

dan

reaksi

nyeri

adalah

isyarat verba dan nonverbal, perhatikan individual dan berdasarkan pengalaman


pengaruh budaya terhadap pengaruh nyeri.

masa lalu, serta memahami perubahan


fsiologis dan latar belakang budaya.

2. Bantu klien agar dapat beristirahat.

2. Dapat menurunkan
jaringan

ferifer

kebutuhan

oksigen

sehingga

akan

meningkatkan suplai darah ke jaringan.


3. Lingkungan yang
3. berikan

lingkungan

yang

nyaman dapatmenurunkan

danbatasi pengunjung.

nyaman
stimulasi

eksternal

nyeri
dan klien

dapat beristirahat dengan nyaman..


4. Vasodilatasi dapat menurunkan spasme
4. Beri kompres hangat pada pinggang.

otot dan kontraksiotot pinggangsehingga


menurunkan stimulasi nyeri.
5. dapat

memblok

imfuls

nyeri

dalam

korteks serebri.
5. Bantu

dalam

penggunaan

tehnik

pernapasan yang tepat

6. analgentik dapat mengurangi rasa nyeri

6. kolaborasi dalam pemberian analgetik

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan status metabolik akibat
keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional.
Tunjuan:
Nutrisi dapat tercukupi.
Kriteria hasil :
a. dapat mempertahankan BB
b. Bebas dari tanda mal nutrisi
c. Secara subjektif melaporkan kekurangan nutrisi tercukupi.
d. Eksfresi klien rileks
Intervensi dan Rasional
Intervensi

rasional
1. mengetahui penyebab dapat menentukan
1. kaji penyebab kurangnya nutrisi
tindakan selanjutnya
2. Berikan makanan sedikit tetapi sering 2. makan yang sedikit tapi sering dapat
meningkatkan nutrisi pada klien
3. Asupan nutrisi dan cairan yang adekuat
diperlukan untuk mengimbangi status
3. Dorong klien untuk meningkatkan
hipermetabolik pada klien dengan
asupan nutrisi (tinggi kalori tinggi
protein) dan asupan cairan yang adekuat. keganasan.
4. Kebutuhan nutrisi perlu diprogramkan
secara individual dengan melibatkan klien
dan tim gizi bila diperlukan.

4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk


menetapkan program diet pemulihan bagi
klien.

5. Anti

emetik

diberikan

bila

klien

mengalami mual dan roborans mungkin


diperlukan untuk meningkatkan napsu
makan
dan
membantu
proses
metabolisme.

5. Berikan obat anti emetik dan roborans


sesuai program terapi.

3. Resiko tinggi terhadap infeksi b/d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif.
Tujuan :
Resiko tinggi infeksi dapat teratasi
Kriteria Hasil :
a.

Tidak di temukan tanda-tanda infeksi

b. kadar Hb dalam batas normal (11-14 gr %)


c.

pasien tidak demam atau menggigil suhu dalam batas normal 37o C
Intervensi dan Rasional :
Intervensi
1. Kaji tanda-tanda infeksi

2.

3.

4.

5.

6.

1.

2.
Berikan
perawatan
aseptik
dan
antiseptik, lakukan cuci
tangan
yang
baik sebelum
melakukan
tindakan
3.
keperawatan.
Kaji daerah kulit yang mengalami
kerusakan, daerah yang terpasang alat
invasi, catat karakteristik dari drainase dan
4.
adanya inflamasi.
Pantau suhu tubuh secara teratur, catat
adanya demam, menggigil, diaforesis dan
perubahan fungsi mental (penurunan
5.
kesadaran).
Anjurkan untuk melakukan napas dalam,
latihan pengeluaran sekret paru secara
terus menerus. Observasi karakteristik
6.
sputum.
Kolaborasi dengan ahli medis dalam
pemberian antibiotik

Rasional
Mengetahui tanda-tanda infeksi dapat
menentukan tindakan selanjutnya
Agar tidak terjadi penyebaran infeksi atau
dapat menghindari terjadinya
infeksi
nosokomial.
Deteksi dini perkembangan infeksi
memungkinkan untuk melakukan tindakan
dengan segera dan pencegahan terhadap
komplikasi selanjutnya.
Dapat mengindikasikan perkembangan
sepsis yang selanjutnya memerlukan
evaluasi atau tindakan dengan segera.
Peningkatan mobilisasi dan pembersihan
sekresi paru untuk menurunkan resiko
terjadinya pneumonia, atelektasis.
analgentik dapat mengurangi rasa
nyeripada klien.

sesuaidengan indikasi.

2.2.4 Implementasi
Pada tahap implementasi atau pelaksanaan dari asuhan keperawatan meninjau kembali dari apa
yang telah direncanakana atau intervensi sebelumnya, dengan tujuan utama pada pasien dapat
mencakup peredaan nyeri, kebutuhan nutrisi tercukupi pengurangan kecemasan.
2.2.5 Evaluasi
Hasil yang di harapkan setelah mendapatkan intervensi adalah sebagai berikut:
1. Gangguan nyaman nyeri b/d aktivitas peristaltik otot polos sistem kalises, pergangan dari
terminal syaraf sekunder dari adanya batu pada ginjal, nyeri pasca bedah.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d peningkatan status metabolik akibat
keganasan, efek radioterapi/kemoterapi dan distres emosional.
3. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d jaringan trauma, kulit rusak, prosedur invasif.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kanker istilah umum yang mencakup setiap pertumbuhan malignan dalam setiap bagian
tubuh. Pertumbuhan inJi tidak bertujuan, bersifat parasit dan berkembang dengan mengorbankan
manusia yang menjadi hospesnya.
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil penyaringan ginjal
(filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica urinaria. Terdapat sepasang ureter
yang terletak retroperitoneal, masing-masing satu untuk setiap ginjal.

3.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mengetahui penyebab dan pencegahannya agar dapat terhindar dari Ca
ureter baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga .
2. Bagi Masyarakat
Diharapkan bagi masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya terutama jika ada kelainan
pada uterus maupun tubuh lainnya, segera konsultasikan ke dokter.
3. Bagi Institusi
Diharapkan agar makalah ini menjadi refrensi untuk mendapat pengetahuan tentang
bahayanyapenyakit Ca ureter yang dapat menyebabkan kematian.