Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

TRAUMA TUMPUL
Diajukan Guna Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat dalam Menempuh Program
Pendidikan Profesi Dokter

Disusun Oleh :
Adhyaksa Mahardhika 01.209.5818
Subhan Darojat 01.209.6028
Ardiman Destyone Putra 01.210.6087
Elsanita Happy Florita 01.210.6143

Pembimbing :
dr. Setyo Trisnadi., Sp.F

KEPANITERAAN KLINIK RS BHAYANGKARA


BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014
HALAMAN PENGESAHAN

TRAUMA TUMPUL

Diajukan Guna Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat dalam Menempuh Program
Pendidikan Profesi Dokter

Disusun Oleh :
Adhyaksa Mahardhika 01.209.5818
Subhan Darojat 01.209.6028
Ardiman Destyone Putra 01.210.6087
Elsanita Happy Florita 01.210.6143

Semarang, 07 Juli 2014


Pembimbing,

dr. Setyo Trisnadi, Sp. F.

i
BAB I
PENDAHULUAN

Traumatologi berasal dari kata trauma dan logos. Trauma berarti kekerasan atas
jaringan tubuh yang masih hidup (living tissue) sedangkan logos berarti ilmu. Jadi,
pengertian yang sebenarnya dari traumatologi adalah ilmu yang mempelajari semua aspek
yang berkaitan dengan kekerasan terhadap jaringan tubuh manusia yang masih hidup, juga
mempelajari tentang luka dan cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan,
sedangkan yang dimaksud dengan luka adalah suatu keadaan ketidaksinambungan jaringan
tubuh akibat kekerasan. Kegunaannya selain untuk kepentingan pengobatan juga dalam
kepentingan forensik sebab dapat diaplikasikan guna membantu penegak hukum dalam
rangka membuat terang tindak pidana kekerasan yang menimpa tubuh seseorang.1

Trauma merupakan hal yang biasa dijumpai dalam kasus forensik. Trauma dalam
bidang forensik sudah dikenal sejak lama. Pada masa Persia kuno telah dikenal tingkat atau
kualifikasi luka dan pemeriksaan yang dilakukan pada orang-orang yang mengalami
perlukaan. Aquillia (572 SM) menulis tentang perlukaan yang dapat mematikan dan pendapat
medis dalam menaksir kegawatannya. Bohn (1970) adalah orang yang pertama kali
membedakan luka ante mortem dan post mortem.2

Trauma merupakan salah satu penyebab kematian, baik kematian yang mendadak atau
tidak. Untuk itu, diperlukan pengetahuan yang teliti apakah perlukaan pada seseorang dapat
berakibat fatal atau tidak, dan ini merupakan poin penting untuk membantu proses peradilan.
Trauma dikelompokkan berdasarkan sifatnya menjadi trauma mekanik, fisika dan kimia.1
Dalam sebuah penelitian, jumlah data secara keseluruhan yang berasal dan 33
provinsi di Indonesia adalah 972.317 responden. Adapun untuk responden yang pernah
mengalami cedera selama kurun waktu 12 bulan terakhir sebanyak 77.248 orang. Responden
bisa mempunyai jawaban lebih dan satu penyebab cedera selama kurva waktu 12 bulan
tersebut. Dan jumlah tersebut tiga proporsi penyebab cedera terbesar yaitu jatuh sebanyak
45.987 orang (59,6%), kecelakaan lalu lintas sekitar 20.829 orang (27%), dan terluka benda
tajam/tumpul Sebesar 144.127 orang (18,3 %).13
Dari 74 kasus yang masuk di Instalansi Forensik RS. Bhayangkara Semarang periode
ahun 1 Januari 2007 sampai 31 Agustus 2010 didapatkan kasus tersering adalah trauma benda

1
tumpul 40 kasus (54,05%) dan lokasi perdarahan kepala merupakan lokasi perdarahan yang
menyebabkan kematian tersering adalah 46 kasus (62,16%).
Trauma mekanik atau luka mekanik disebabkan oleh kekerasan benda tajam, benda
tumpul dan senjata api. Trauma atau luka mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam
berbagai bentuk, alami atau dibuat manusia. Senjata atau alat yang dibuat manusia seperti
kampak, pisau, panah, martil dan lain-lain. Bila ditelusuri, benda-benda ini telah ada sejak
zaman pra sejarah dalam usaha manusia mempertahankan hidup sampai dengan pembuatan
senjata-senjata masa kini seperti senjata api, bom dan senjata penghancur lainnya. Akibat
pada tubuh dapat dibedakan dari penyebabnya. Benda tumpul yang sering mengakibatkan
luka antara lain adalah batu, besi, sepatu, tinju,lantai, jalan dan lain-lain.
Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah :
Tidak bermata tajam
Konsistensi keras / kenyal
Permukaan halus / kasar
Kekerasan tumpul dapat terjadi karena 2 sebab, yaitu alat atau senjata yang mengenai atau
melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak ke arah objek atau
alat yang tidak bergerak. Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan,
walaupun terkadang sulit dipastikan.3

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Definisi Trauma
Trauma atau luka dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian
medis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya
diskontinuitas dari jaringan. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah
pengetahuan tentang alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan
kesehatan seseorang. Trauma mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam
berbagai bentuk, alami atau dibuat manusia, trauma tumpul sendiri diakibatkan
oleh benda yang memiliki permukaan tumpul.4

II. Trauma Akselerasi dan Deselerasi


Trauma tumpul dapat diklasifikasikan menjadi dua mekanisme utama yaitu cedera

akselerasi (kompresi) dan cedera deselerasi (perlambatan). Cedera akselerasi

(kompresi) merupakan suatu kondisi trauma tumpul langsung ke area abdomen

atau bagian pinggang. Kondisi ini memberikan menifestasi kerusakan vascular

dengan respons terbentuknya formasi hematom di dalam viseria. Cedera kompresi

yang kuat dapat juga mengakibatkan peningkatan tekanan transien intraluminal

yang memberikan respon adanya rupture pada organ di dalam abdomen.

Peningkatan tekanan transien inraabdomen adalah mekanisme umum trauma

tumpul yang mencederai usus kecil.

Cedera deselerasi adalah suatu kondisi di mana suatu peregangan yang berlebihan

memberikan manifestasi terhadap cedera intraabdomen. Kekuatan peregangan

secara longitudinal memberikan manifestasi rupture (robek) pada struktur di

persimpangan antara segmen intraabdomen. Cedera deselerasi yang paling sering

adalah cedera pada hepar sepanjang ligamentum teres dan cedera lapisan intima

arteri ginjal. Kondisi lain juga akan memberikan manifestasi pergeseran usus

3
besar, thrombosis, dana cedera mesentrika disertai dengan cedera pada sistem

vascular splanknik. Kondisi cedera akselerasi memberikan berbagai masalah pada

pasien sesuai organ intraabdominal yang mengalami gangguan. Hal ini

memberikan implikasi kedaruratan klinis, respons sistemik, dan dampak intervensi

medis.11

III. Luka Akibat Trauma Tumpul


Kekerasan oleh benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan berbagai macam
jenis luka, antara lain :
a. Memar (Kontusio)
Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit akibat
pecahnya kapiler dan vena. Merupakan salah satu bentuk luka yang
ditandai oleh kerusakan jaringan tanpa disertai discontinuitas permukaan
kulit.1
Pada saat timbul memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi
ungu atau hitam setelah 4-5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan
menjadi kuning dalam 7-10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14-15
hari. Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepi.5
Pada orang yang menderita penyakit defisiensi atau menderita kelainan
darah, kerusakan yang terjadi akan lebih besar dibanding orang normal.
Oleh sebab itu, besar kecilnya memar tidak dapat dijadikan ukuran untuk
menentukan besar kecilnya benda penyebabnya atau keras tidaknya
pukulan.1

Dilihat sepintas luka memar terlihat seperti lebam mayat, tetapi jika
diperiksa dengan seksama akan dapat dilihat perbedaannya5 :
Memar Lebam Mayat
- Lokasi - Bisa dimana saja - Pada bagian terendah
- Pembengkakan - Positif - Negatif
- Bila ditekan - Warna tetap - Memucat / hilang
- Mikroskopik - Reaksi jaringan (+) - Reaksi jaringan (-)

4
b. Luka Lecet (Abrasi)
Luka lecet atau abrasi adalah luka yang disebabkan oleh rusaknya atau
lepasnya lapisan luar dari kulit, yang ciri-cirinya adalah :
Bentuk luka tidak teratur
Batas luka tidak teratur
Tepi luka tidak rata
Kadang-kadang ditemukan sedikit perdarahan
Permukaan tertutup oleh krusta
Warna coklat kemerahan
Pada pemeriksaan mikroskopis terlihat adanya beberapa bagian yang
masih tertutup epitel dan reaksi jaringan.1
Luka lecet dapat terjadi superfisial jika hanya epidermis saja yang
terkena, lebih dalam ke lapisan bawah kulit (dermis) atau lebih dalam lagi
sampai ke jaringan lunak bawah kulit. Jika abrasi terjadi lebih dalam dari
lapisan epidermis pembuluh darah dapat terkena sehingga terjadi
perdarahan. Arah dari pengelupasan dapat ditentukan dengan pemeriksaan
luka. Dua tanda yang dapat digunakan. Tanda yang pertama adalah arah
dimana epidermis bergulung, tanda yang kedua adalah hubungan
kedalaman pada luka yang menandakan ketidakteraturan benda yang
mengenainya.4
Perkiraan umur luka lecet:
Umur luka lecet secara nakroskopis maupun mikroskopis dapat
diperkirakan sebagai berikut:
- Hari ke 1 3 berwarna coklat kemerahan karena eksudasi darah
dan cairan limfe.
- 2-3 hari kemudian pelan-pelan bertambah suram dan lebih gelap.
- Setelah 1-2 minggu mulai terjadi pembentukan epidermis baru.
- Dalam beberapa minggu akan timbul penyembuhan lengkap.6
Walaupun kerusakan yang ditimbulkan minimal sekali, luka lecet
mempunyai arti penting di dalam Ilmu Kedokteran Kehakiman, oleh
karena dari luka tersebut dapat memberikan banyak hal, misalnya:
i. Petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat
dalam tubuh, seperti hancurnya jaringan hati, ginjal, atau limpa, yang

5
dari pemeriksaan luar hanya tampak adanya luka lecet di daerah yang
sesuai dengan alat-alat dalam tersebut.
ii. Petunjuk perihal jenis dan bentuk permukaan dari benda tumpul yang
menyebabkan luka, seperti :
- Luka lecet tekan pada kasus penjeratan atau penggantungan,
akan tampak sebagai suatu luka lecet yang berwarna merah-
coklat, perabaan seperti perkamen, lebarnya dapat sesuai
dengan alat penjerat dan memberikan gambaran/cetakan yang
sesuai dengan bentuk permukaan dari alat penjerat, seperti
jalianan tambang atau jalinan ikat pinggang. Luka lecet tekan
dalam kasus penjeratan sering juga dinamakan jejas jerat,
khususnya bila alat penjerat masih tetap berada pada leher
korban.
- Di dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban
terlindas oleh ban kendaraan, maka luka lecet tekan yang
terdapat pada tubuh korban seringkali merupakan cetakan dari
ban kendaraan tersebut, khususnya bila ban masih dalam
keadaan yang cukup baik, dimana kembang dari ban tersebut
masih tampak jelas, misalnya berbentuk zig-zag yang sejajar.
Dengan demikian di dalam kasus tabrak lari, informasi dari
sifat-sifat luka yang terdapat pada tubuh korban sangat
bermanfaat di dalam penyidikan.
- Dalam kasus penembakan, yaitu bila moncong senjata
menempel pada tubuh korban, akan memberikan gambaran
kelainan yang khas yaitu dengan adanya jejas laras, yang
tidak lain merupakan luka lecet tekan. Bentuk dari jejas laras
tersebut dapat memberikan informasi perkiraan dari bentuk
moncong senjata yang dipakai untuk menewaskan korban.
- Di dalam kasus penjeratan dengan tangan (manual
strangulation), atau yang lebih dikenal dengan istilah
pencekikan, maka kuku jari pembunuh dapat menimbulkan
luka lecet yang berbentuk garis lengkung atau bulan sabit;
dimana dari arah serta lokasi luka tersebut dapat diperkirakan
apakah pencekikan tersebut dilakukan dengan tangan kanan,

6
tangan kiri atau keduanya. Di dalam penafsiran perlu hati-hati
khususnya bila pada leher korban selain didapatkan luka lecet
seperti tadi dijumpai pula alat penjerat; dalam kasus seperti ini
pemeriksaan arah lengkungan serta ada tidaknya kuku-kuku
yang panjang pada jari-jari korban dapat memberikan kejelasan
apakah kasus yang dihadapi itu merupakan kasus bunuh diri
atau kasus pembunuhan, setelah dicekik kemudian digantung.
- Dalam kasus kecelakaan lalu-lintas dimana tubuh korban
bersentuhan dengan radiator, maka dapat ditemukan luka lecet
tekan yang merupakan cetakan dari bentuk radiator penabrak.
iii. Petunjuk dari arah kekerasan, yang dapat diketahui dari tempat dimana
kulit ari yang terkelupas banyak terkumpul pada tepi luka; bila
pengumpulan tersebut terdapat di sebelah kanan maka arah kekerasan
yang mengenai tubuh korban adalah dari arah kiri ke kanan. Di dalam
kasus-kasus pembunuhan dimana tubuh korban diseret maka akan
dijumpai pengumpulan kulit ari yang terlepas yang mendekati ke arah
tangan, bila tangan korban dipegang; dan akan mendekati ke arah kaki
bila kaki korban yang dipegang sewaktu korban diseret.7
Sesuai dengan mekanisme terjadinya luka lecet dapat diklasifikasikan
sebagai:
1. Luka lecet gores
Diakibatkan oleh benda runcing, misal kuku jari, yang menggeser
lapisan permukaan kulit (epidermis) dan menyebabkan lapisan
tersebut terangkat sehingga dapat menunjukkan arah kekerasan
yang terjadi.

2. Luka lecet serut


Variasi dari luka lecet gores yang daerah persentuhannya dengan
permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan dengan
melihat letak tumpukan epitel.
3. Luka lecet tekan
Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul terhadap kulit. Karena
kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka belum tentu
sama dengan permukaan benda, tetapi masih mungkin untuk

7
mengidentifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk khas,
misal kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dsb. Gambaran yang
ditemukan adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap
dari sekitarnya.
4. Luka lecet geser
Disebabkan oleh tekanan linier kulit disertai gerakan bergeser,
misalnya pada kasus gantung atau jerat. Luka lecet geser yang
terjadi semasa hidup sulit dibedakan dari luka lecet geser yang
terjadi segera pasca mati.5
Perbedaan luka lecet ante motem dan post mortem3

ANTE MORTEM POST MORTEM


1. Coklat kemerahan 1. Kekuningan

2. Terdapat sisa sisa-sisa epitel 2. Epidermis terpisah sempurna


dari dermis
1. Tanda intravital (+)
3. Tanda intravital (-)
2. Sembarang tempat
4. Pada daerah yang ada
penonjolan tulang

c. Luka Robek (Lacerasi)


Luka robek (vulnus laceratum) / luka terbuka adalah luka yang
disebabkan karena persentuhan dengan benda tumpul dengan kekuatan
yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di bawahnya,
yang ciri cirinya sebagai berikut :
Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata
Bila ditautkan tidak dapat rapat (karena sebagaian jaringan hancur)
Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan
Di sekitar garis batas luka di temukan memar

Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang
(misalnya daerah kepala, muka atau ekstremitas). Karena terjadinya luka
disebabkan oleh robeknya jaringan maka bentuk dari luka tersebut tidak
menggambarkan bentuk dari benda penyebabnya. Jika benda tumpul yang
mempunyai permukaan bulat atau persegi dipukulkan pada kepala maka
luka robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi.1

8
Suatu pukulan yang mengenai bagian kecil area kulit dapat
menyebabkan kontusio dari jaringan subkutan, seperti pinggiran balok
kayu, ujung dari pipa, permukaan benda tersebut cukup lancip untuk
menyebabkan sobekan pada kulit yang menyebabkan laserasi. Laserasi
disebabkan oleh benda yang permukaannya runcing tetapi tidak begitu
tajam sehingga merobek kulit dan jaringan bawah kulit dan menyebabkan
kerusakan jaringan kulit dan bawah kulit. Tepi dari laserasi ireguler dan
kasar, disekitarnya terdapat luka lecet yang diakibatkan oleh bagian yang
lebih rata dari benda tersebut yang mengalami indentasi.

Pada beberapa kasus, robeknya kulit atau membran mukosa dan


jaringan dibawahnya tidak sempurna dan terdapat jembatan jaringan.
Jembatan jaringan, tepi luka yang ireguler, kasar dan luka lecet
membedakan laserasi dengan luka oleh benda tajam seperti pisau. Tepi
dari laserasi dapat menunjukkan arah terjadinya kekerasan. Tepi yang
paling rusak dan tepi laserasi yang landai menunjukkan arah awal
kekerasan. Sisi laserasi yang terdapat memar juga menunjukkan arah awal
kekerasan.

Bentuk dari laserasi tidak dapat menggambarkan bahan dari benda


penyebab kekerasan tersebut. Karena daya kekenyalan jaringan regangan
jaringan yang berlebihan terjadi sebelum robeknya jaringan terjadi.
Sehingga pukulan yang terjadi karena palu tidak harus berbentuk
permukaan palu atau laserasi yang berbentuk semisirkuler. Sering terjadi
sobekan dari ujung laserasi yang sudutnya berbeda dengan laserasi itu
sendiri yang disebut dengan swallow tails. Beberapa benda dapat
menghasilkan pola laserasi yang mirip.

Seiring waktu, terjadi perubahan terhadap gambaran laserasi tersebut,


perubahan tersebut tampak pada lecet dan memarnya. Perubahan awal
yaitu pembekuan dari darah, yang berada pada dasar laserasi dan
penyebarannya ke sekitar kulit atau membran mukosa. Bekuan darah yang
bercampur dengan bekuan dari cairan jaringan bergabung membentuk
eskar atau krusta. Jaringan parut pertama kali tumbuh pada dasar laserasi,
yang secara bertahap mengisi saluran luka. Kemudian, epitel mulai
tumbuh ke bawah di atas jaringan skar dan penyembuhan selesai. Skar

9
tersebut tidak mengandung apendises meliputi kelenjar keringat, rambut
dan struktur lain.

Perkiraan kejadian saat kejadian pada luka laserasi sulit ditentukan


tidak seperti luka atau memar. Pembagiannya adalah sangat segera segera,
beberapa hari, dan lebih dari beberapa hari. Laserasi yang terjadi setelah
mati dapat dibedakan ddengan yang terjadi saat korban hidup yaitu tidak
adanya perdarahan.

Laserasi dapat menyebabkan perdarahan hebat. Sebuah laserasi kecil


tanpa adanya robekan arteri dapat menyebabkan akibat yang fatal bila
perdarahan terjadi terus menerus. Laserasi yang multipel yang mengenai
jaringan kutis dan sub kutis dapat menyebabkan perdarahan yang hebat
sehingga menyebabkan sampai dengan kematian. Adanya diskontinuitas
kulit atau membran mukosa dapat menyebabkan kuman yang berasal dari
permukaan luka maupun dari sekitar kulit yang luka masuk ke dalam
jaringan. Port dentree tersebut tetap ada sampai dengan terjadinya
penyembuhan luka yang sempurna. Bila luka terjadi dekat persendian
maka akan terasa nyeri, khususnya pada saat sendi tersebut di gerakkan ke
arah laserasi tersebut sehingga dapat menyebabkan disfungsi dari sendi
tersebut. Benturan yang terjadi pada jaringan bawah kulit yang memiliki
jaringan lemak dapat menyebabkan emboli lemak pada paru atau sirkulasi
sistemik. Laserasi juga dapat terjadi pada organ akibat dari tekanan yang
kuat dari suatu pukulan seperi pada organ jantung, aorta, hati dan limpa.

Hal yang harus diwaspadai dari laserasi organ yaitu robekan yang
komplit yang dapat terjadi dalam jangka waktu lama setelah trauma yang
dapat menyebabkan perdarahan hebat.4

d. Fraktur
Fraktur adalah suatu diskontinuitas tulang. Istilah fraktur pada bedah
hanya memiliki sedikit makna pada ilmu forensik. Pada bedah, fraktur dibagi
menjadi fraktur sederhana dan komplit atau terbuka.
Terjadinya fraktur selain disebabkan suatu trauma juga dipengaruhi
beberapa faktor seperti komposisi tulang tersebut. Anak-anak tulangnya masih
lunak, sehingga apabila terjadi trauma khususnya pada tulang tengkorak dapat

10
menyebabkan kerusakan otak yang hebat tanpa menyebabkan fraktur tulang
tengkorak. Wanita usia tua sering kali telah mengalami osteoporosis, dimana
dapat terjadi fraktur pada trauma yang ringan.
Pada kasus dimana tidak terlihat adanya deformitas maka untuk
mengetahui ada tidaknya fraktur dapat dilakukan pemeriksaan menggunakan
sinar X, mulai dari fluoroskopi, foto polos. Xero radiografi merupakan teknik
lain dalam mendiagnosa adanya fraktur.
Fraktur mempunyai makna pada pemeriksaan forensik. Bentuk dari fraktur
dapat menggambarkan benda penyebabnya (khususnya fraktur tulang
tengkorak), arah kekerasan. Fraktur yang terjadi pada tulang yang sedang
mengalami penyembuhan berbeda dengan fraktur biasanya. Jangka waktu
penyembuhan tulang berbeda-beda setiap orang. Dari penampang makros
dapat dibedakan menjadi fraktur yang baru, sedang dalam penyembuhan,
sebagian telah sembuh, dan telah sembuh sempurna. Secara radiologis dapat
dibedakan berdasarkan akumulasi kalsium pada kalus. Mikroskopis dapat
dibedakan daerah yang fraktur dan daerah penyembuhan. Penggabungan dari
metode diatas menjadikan akurasi yang cukup tinggi. Daerah fraktur yang
sudah sembuh tidaklah dapat menjadi seperti tulang aslinya.
Perdarahan merupakan salah satu komplikasi dari fraktur. Bila perdarahan
sub periosteum terjadi dapat menyebabkan nyeri yang hebat dan disfungsi
organ tersebut. Apabila terjadi robekan pembuluh darah kecil dapat
menyebabkan darah terbendung disekitar jaringan lunak yang menyebabkan
pembengkakan dan aliran darah balik dapat berkurang. Apabila terjadi
robekan pada arteri yang besar terjadi kehilangan darah yang banyak dan
dapat menyebabkan pasien shok sampai meninggal. Syok yang terjadi pada
pasien fraktur tidaklah selalu sebanding dengan fraktur yang dialaminya.
Selain itu juga dapat terjadi emboli lemak pada paru dan jaringan lain.
Gejala pada emboli lemak di sereberal dapat terjadi 2-4 hari setelah terjadinya
fraktur dan dapat menyebabkan kematian. Gejala pada emboli lemak di paru
berupa distres pernafasan dapat terjadi 14-16 jam setelah terjadinya fraktur
yang juga dapat menyebabkan kematian. Emboli sumsum tulang atau lemak
merupakan tanda antemortem dari sebuah fraktur.
Fraktur linier yang terjadi pada tulang tengkorak tanpa adanya fraktur
depresi tidaklah begitu berat kecuali terdapat robekan pembuluh darah yang

11
dapat membuat hematom ekstra dural, sehingga diperlukan depresi tulang
secepatnya. Apabila ujung tulang mengenai otak dapat merusak otak tersebut,
sehingga dapat terjadi penurunan kesadaran, kejang, koma hingga kematian.4
e. Kompresi
Kompresi yang terjadi dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek
lokal maupun sistemik yaitu asfiksia traumatik sehingga dapat terjadi
kematiaan akibat tidak terjadi pertukaran udara.4
f. Perdarahan
Perdarahan dapat muncul setelah terjadi kontusio, laserasi, fraktur, dan
kompresi. Kehilangan 1/10 volume darah tidak menyebabkan gangguan
yang bermakna. Kehilangan volume darah dapat menyebabkan pingsan
meskipun dalam kondisi berbaring. Kehilangan volume darah dan
mendadak dapat menyebabkan syok yang berakhir pada kematian.
Kecepatan perdarahan yang terjadi tergantung pada ukuran dari pembuluh
darah yang terpotong dan jenis perlukaan yang mengakibatkan terjadinya
perdarahan. Pada arteri besar yang terpotong, akan terjadi perdarahan
banyak yang sulit dikontrol oleh tubuh sendiri. Apabila luka pada arteri
besar berupa sayatan, seperti luka yang disebabkan oleh pisau, perdarahan
akan berlangsung lambat dan mungkin intermiten. Luka pada arteri besar
yang disebabkan oleh tembakan akan mengakibatkan luka yang sulit untuk
dihentikan oleh mekanisme penghentian darah dari dinding pembuluh
darah sendiri. Hal ini sesuai dengan prinsip yang telah diketahui, yaitu
perdarahan yang berasal dari arteri lebih berisiko dibandingkan perdarahan
yang berasal dari vena.
Hipertensi dapat menyebabkan perdarahan yang banyak dan cepat
apabila terjadi perlukaan pada arteri. Adanya gangguan pembekuan darah
juga dapat menyebabkan perdarahan yang lama. Kondisi ini terdapat pada
orang-orang dengan penyakit hemofili dan gangguan pembekuan darah,
serta orang-orang yang mendapat terapi antikoagulan. Pecandu alcohol
biasanya tidak memiliki mekanisme pembekuan darah yang normal,
sehingga cenderung memiliki perdarahan yang berisiko. Investigasi
terhadap kematian yang diakibatkan oleh perdarahan memerlukan
pemeriksaan lengkap seluruh tubuh untuk mencari penyakit atau kondisi

12
lain yang turut berperan dalam menciptakan atau memperberat situasi
perdarahan.4

IV. Klasifikasi Trauma Tumpul Berdasarkan Jaringan atau Organ yang


Terkena4
1. Kulit
Luka Lecet
Luka Memar
Luka Robek
2. Kepala
Tengkorak
Jaringan Otak
3. Leher dan Tulang Belakang
4. Dada
Tulang
Organ dalam dada
5. Perut
Organ Parenchym
Organ berongga
6. Anggota Gerak

V. Akibat Kekerasan Benda Tumpul Pada Organ yang terkena


1. Kepala
Cedera Kepala pada Penutup Otak
Jaringan otak dilindungi oleh 3 lapisan jaringan. Lapisan paling luar
disebut duramater, atau sering dikenal sebagai dura. Lapisan ini tebal dan
lebih dekat berhubungan dengan tengkorak kepala dibandingakan otak. Antara
tengkorak dan dura terdapat ruang yang disebut ruang epidural atau
ekstradural. Ruang ini penting dalam bidang forensik.
Lapisan yang melekat langsung ke otak disebut piamater. Lapisan ini
sangat rapuh, melekat pada otak dan meluas masuk ke dalam sulkus-sulkus
otak. Lapisan ini tidak terlalu penting dalam bidang forensik.

13
Lapisan berikutnya yang terletak antara dura mater dan pia mater
disebut arakhnoid. Ruang yang dibentuk antara lapisan dura mater dan
arakhnoid ini disebut ruang subdural. Kedalaman ruang ini bervariasi di
beberapa tempat. Perlu diingat, cairan otak terdapat pada ruang subarakhnoid,
bukan di ruang subdural.
Perdarahan kepala dapat terjadi pada ketiga ruang yaitu ruang epidural,
subdural atau ruang subarakhnoid, atau pada otak itu sendiri.

Perdarahan Epidural (Hematoma)


Perdarahan jenis ini berhubungan erat dengan fraktur pada tulang
tengkorak. Apabila fraktur mengenai jalinan pembuluh darah kecil yang dekat
dengan bagian dalam tengkorak, umumnya arteri meningea media, dapat
menyebabkan arteri terkoyak dan terjadi perdarahan yang cepat. Kumpulan
darah akhirnya mendorong lapisan dura menjauh dari tengkorak dan ruang
epidural menjadi lebih luas. Akibat dari lapisan dura yang terdorong ke dalam,
otak mendapatkan kompresi atau tekanan yang akhirnya menimbulkan gejala-
gejala seperti nyeri kepala, penurunan kesadaran bertahap mulai dari letargi,
stupor dan akhirnya koma. Kematian akan terjadi bila tidak dilakukan terapi
dekompresi segera. Waktu antara timbulnya cedera kepala sampai munculnya
gejala-gejala yang diakibatkan perdarahan epidural disebut sebagai lucid
interval

Perdarahan Subdural (Hematoma)


Perdarahan ini timbul apabila terjadi bridging vein yang pecah dan
darah berkumpul di ruang subdural. Perdarahan ini juga dapat menyebabkan
kompresi pada otak yang terletak di bawahnya. Karena perdarahan yang
timbul berlangsung perlahan, maka lucid interval juga lebih lama
dibandingkan perdarahan epidural, berkisar dari beberapa jam sampai
beberapa hari. Jumlah perdarahan pada ruang ini berkisar dibawah 120 cc,
sehingga tidak menyebabkan perdarahan subdural yang fatal.
Tidak semua perdarahan epidural atau subdural bersifat letal. Pada
beberapa kasus, perdarahan tidak berlanjut mencapai ukuran yang dapat
menyebabkan kompresi pada otak, sehingga hanya menimbulkan gejala-gejala

14
yang ringan. Pada beberapa kasus yang lain, memerlukan tindakan
operatif segera untuk dekompresi otak.
Penyembuhan pada perdarahan subdural dimulai dengan terjadinya
pembekuan pada perdarahan. Pembentukan skar dimulai dari sisi dura dan
secara bertahap meluas ke seluruh permukaan bekuan. Pada waktu yang
bersamaan, darah mengalami degradasi. Hasil akhir dari penyembuhan
tersebut adalah terbentuknya jaringan skar yang lunak dan tipis yang
menempel pada dura. Sering kali, pembuluh dara besar menetap pada skar,
sehingga membuat skar tersebut rentan terhadap perlukaan berikutnya yang
dapat menimbulkan perdarahan kembali. Waktu yang diperlukan untuk
penyembuhan pada perdarahan subdural ini bervariasi antar individu,
tergantung pada kemampuan reparasi tubuh setiap individu sendiri.
Hampir semua kasus perdarahan subdural berhubungan dengan trauma,
meskipun dapat tidak berhubungan dengan trauma. Perdarahan ini dapat
terjadi pada orang-orang dengan gangguan mekanisme pembekuan darah atau
pada pecandu alcohol kronik, meskipun tidak menyebabkan perdarahan yang
besar dan berbahaya. Pada kasus-kasus perdarahan subdural akibat trauma,
dapat timbul persarahan kecil yang tidak berisiko apabila terjadi pada orang
normal. Akan tetapi, pada orang-orang yang memiliki gangguan pada
mekanisme pembekuan darah, dapat bersifat fatal.
Ada kalanya juga perdarahan subdural terjadi akibat perluasan dari
perdarahan di tempat lain. Salah satu contohnya adalah perdarahan
intraserebral yang keluar dari substansi otak melewati pia mater, kemudian
masuk dan menembus lapisan arakhnoid dan mencapai ruang subdural.

Perdarahan Subarakhnoid
Penyebab perdarahan subarakhnoid yang tersering ada 5, dan terbagi
menjadi 2 kelompok besar, yaitu yang disebabkan trauma dan yang tidak
berhubungan dengan trauma. Penyebabnya antara lain:
1. Nontraumatik:
a. Ruptur aneurisma pada arteri yang memperdarahi otak
b. Perdarahan intraserebral akibat stroke yang memasuki
subarakhnoid
2. Traumatik:

15
a. Trauma langsung pada daerah fokal otak yang akhirnya
menyebabkan perdarahan subarakhnoid
b. Trauma pada wajah atau leher dengan fraktur pada tulang
servikal yang menyebabkan robeknya arteri vertebralis
c. Robeknya salah satu arteri berdinding tipis pada dasar otak
yang diakibatkan gerakan hiperekstensi yang tiba-tiba dari
kepala.
Arteri yang lemah dan membengkak seperti pada aneurisma, sangat
rapuh dindingnya dibandingkan arteri yang normal. Akibatnya, trauma yang
ringan pun dapat menyebabkan ruptur pada aneurisma yang mengakibatkan
banjirnya ruang subarakhnoid dengan darah dan akhirnya menimbulkan
disfungsi yang serius atau bahkan kematian.
Yang menjadi teka-teki pada bagian forensik adalah, apakah trauma
yang menyebabkan ruptur pada aneurisma yang sudah ada, atau seseorang
mengalami nyeri kepala lebih dahulu akibat mulai pecahnya aneurisma yang
menyebabkan gangguan tingkah laku berupa perilaku mudah berkelahi yang
berujung pada trauma. Contoh yang lain, apakah seseorang yang jatuh dari
ketinggian tertentu menyebabkan ruptur aneurisma, atau seseorang tersebut
mengalami ruptur aneurisma terlebih dahulu yang menyebabkan perdarahan
subarakhnoid dan akhirnya kehilangan kesadaran dan terjatuh. Pada beberapa
kasus, investigasi yang teliti disertai dengan otopsi yang cermat dapat
memecahkan teka-teki tersebut.
Perdarahan subarakhnoid ringan yang terlokalisir dihasilkan dari
tekanan terhadap kepala yang disertai goncangan pada otak dan penutupnya
yang ada di dalam tengkorak. Tekanan dan goncangan ini menyebabkan
robeknya pembuluh-pembuluh darah kecil pada lapisan subarakhnoid, dan
umumnya bukan merupakan perdarahan yang berat. Apabila tidak ditemukan
faktor pemberat lain seperti kemampuan pembekuan darah yang buruk,
perdarahan ini dapat menceritakan atau mengungkapkan tekanan trauma yang
terjadi pada kepala.
Jarang sekali, tamparan pada pada sisi samping kepala dan leher dapat
mengakibatkan fraktur pada prosesus lateralis salah satu tulang cervical
superior. Karena arteri vertebralis melewati bagian atas prosesus lateralis dari
vertebra di daerah leher, maka fraktur pada daerah tersebut dapat

16
menyebabkan robeknya arteri yang menimbulkan perdarahan masif yang
biasanya menembus sampai lapisan subarakhnoid pada bagian atas tulang
belakang dan akhirnya terjadi penggenangan pada ruang subarakhnoid oleh
darah. Aliran darah ke atas meningkat dan perdarahan meluas sampai ke dasar
otak dan sisi lateral hemisfer serebri. Pada beberapa kasus, kondisi ini sulit
dibedakan dengan perdarahan nontraumatikyang mungkin disebabkan oleh
ruptur aneurisma.
Tipe perdarahan subarakhnoid traumatik yang akan dibicarakan kali ini
merupakan tipe perdarahan yang massif. Perdarahan ini melibatkan dasar otak
dan meluas hingga ke sisi lateral otak sehingga serupa dengan perdarahan
yang berhubungan dengan aneurisma pada arteri besar yang terdapat di dasar
otak.Akan tetapi, pada pemeriksaan yang cermat dan teliti, tidak ditemukan
adanya aneurisma, sedangkan arteri vertebralis tetap intak. Penyebab
terjadinya perdarahan diduga akibat pecahnya pembuluh darah berdinding
tipis pada bagian bawah otak, serta tidak terdapat aneurisma. Terdapat 2 bukti,
meskipun tidak selalu ada, yang bisa mendukung dugaan apakah kejadian ini
murni dimulai oleh trauma terlebih dahulu. Bukti pertama yaitu adanya
riwayat gerakan hiperekstensi tiba-tiba pada daerah kepala dan leher, yang
nantinya dapat menyebabkan kolaps dan bahkan kematian.

Kontusio otak
Hampir seluruh kontusio otak superfisial, hanya mengenai daerah abu-
abu. Beberapa dapat lebih dalam, mengenai daerah putih otak. Kontusio pada
bagian superfisial atau daerah abu-abu sangat penting dalam ilmu forensik.
Rupturnya pembuluh darah dengan terhambatnya aliran darah menuju otak
menyebabkan adanya pembengkakan dan seperti yang telah disebutkan
sebelumnya, lingkaran kekerasan dapat terbentuk apabila kontusio yang
terbentuk cukup besar, edema otak dapat menghambat sirkulasi darah yang
menyebabkan kematian otak, koma, dan kematian total. Poin kedua terpenting
dalam hal medikolegal adalah penyembuhan kontusio tersebut yang dapat
menyebabkan jaringan parut yang akan menyebabkan adanya fokus epilepsi.

17
Yang harus dipertimbangan adalah lokasi kontusio tipe superfisial yang
berhubungan dengan arah kekerasan yang terjadi. Hal ini bermakna jika pola
luka ditemukan dalam pemeriksaan kepala dan komponen yang terkena pada
trauma sepeti pada kulit kepala, kranium, dan otak.
Ketika bagian kepala terkena benda yang keras dan berat seperti palu atau
botol bir, hasilnya dapat berupa, kurang lebihnya, yaitu abrasi, kontusio, dan
laserasi dari kulit kepala. Kranium dapat patah atau tidak. Jika jaringan
dibawahnya terkena, hal ini disebut coup. Hal ini terjadi saat kepala relatif
tidak bergerak.
Kita juga harus mempertimbangkan situasi lainnya dimana kepala yang
bergerak mengenai benda yang padat dan diam. Pada keadaan ini kerusakan
pada kulit kepala dan pada kranium dapat serupa dengan apa yang ditemukan
pada benda yang bergerak-kepala yang diam. Namun, kontusio yang terjadi,
bukan pada tempat trauma melainkan pada sisi yang berlawanan. Hal ini
disebut kontusio contra-coup.
Pemeriksaan kepala penting untuk mengetahui pola trauma. Karena
foto dari semua komponen trauma kepala dari berbagai tipe kadang tidak tepat
sesuai dengan demontrasi yang ada., diagram dapat menjelaskan hubungan
trauma yang terjadi. Kadang dapat terjadi hal yang membingungkan, dapat
saja kepala yang diam dan terkena benda yang bergerak pada akhirnya akan
jatuh atau mengenai benda keras lainnya, sehingga gambaran yang ada akan
tercampur, membingungkan, yang tidak memerlukan penjelasan mendetail.
Tipe lain kontusio adalah penetrasi yang lebih dalam, biasanya
mengenai daerah putih atau abu-abu, diliputi oleh lapisan normal otak, dengan
perdarahan kecil atau besar. Perdarahan kecil dinamakan ball hemorrhages
sesuai dengan bentuknya yang bulat. Hal tersebut dapat serupa dengan
perdarahan fokal yang disebabkan hipertensi. Perdarahan yang lebih besar dan
dalam biasanya berbentuk ireguler dan hampir serupa dengan perdarahan
apopletik atau stroke. Anamnesis yang cukup mengenai keadaan saat
kematian, ada atau tiadanya tanda trauma kepala, serta adanya penyakit
penyerta dapat membedakan trauma dengan kasus lain yang menyebabkan
perdarahan.
Perdarahan intraserebral tipe apopletik tidak berhubungan dengan
trauma biasanya melibatkan daerah dengan perdarahan yang dalam. Tempat

18
predileksinya adalah ganglia basal, pons, dan serebelum. Perdahan tersebut
berhubungan dengan malformasi arteri vena. Biasanya mengenai orang yang
lebih muda dan tidak mempunyai riwayat hipertensi.
Edema paru tipe neurogenik biasanya menyertai trauma kepala.
Manifestasi eksternal yang dapat ditemui adalah foam cone busa berwarna
putih atau merah muda pada mulut dan hidung. Hal tersebut dapat ditemui
pada kematian akibat tenggelam, overdosis, penyakit jantung yang didahului
dekompensasio kordis. Keberadaan gelembung tidak membuktikan adanya
trauma kepala.4,8
2. Leher

Dapat berakibat :

Patah tulang leher

Robek pembuluh darah, otot, oesophagus, trachea/larynx

Kerusakan saraf

3. Dada

Dapat berakibat :

Patah os costae, os. sternum, os. scapula, os. clavicula

Robek organ jantung, paru, pericardium

4. Perut

Dapat berakibat :

Patah os pubis, os sacrum, symphysiolysis, Luxatio sendi sacro iliaca

Robek organ hepar, lien, ginjal. Pankreas, adrenal, lambung, usus, kandung
seni

5. Tulang Belakang (Vertebra)

Dapat berakibat :

Fraktura, dislokasi os vertebrae

19
Dapat karena :

1. Trauma langsung

2. Tidak langsung karena tarikan / tekukan

6. Anggota Gerak

Dapat berakibat :

Patah tulang, dislokasi sendi

Robek otot, pembuluh darah, kerusakan saraf 4,8

VI. Pola Trauma

Terdapat beberapa pola trauma akibat kekerasan tumpul yang dapat dikenali,
yang mengarah kepada kepentingan medikolegal. Contohnya :

1. Luka terbuka tepi tidak rata pada kulit akibat terkena kaca spion pada saat
terjadi kecelakaan. Ketika terjadi benturan, kaca spion tersebut akan menjadi
fragmen-fagmen kecil. Luka yang terjadi dapat berupa abrasi, kontusio, dan
laserasi yang berbentuk segiempat atau sudut.

2. Pejalan kaki yang ditabrak kendaraan bermotor biasanya mendapatkan


fraktur tulang panjang kaki. Hal ini disebut bumper fractures. Adanya
fraktur tersebut yang disertai luka lainnya pada tubuh yang ditemukan di
pinggir jalan, memperlihatkan bahwa korban adalah pejalan kaki yang
ditabrak oleh kendaraan bermotor dan dapat diketahui tinggi bempernya.
Karena hampir seluruh kendaraan bermotor nose dive ketika mengerem
mendadak, pengukuran ketinggian bemper dan tinggi fraktur dari telapak
kaki, dapat mengindikasikan usaha pengendara kendaraan bermotor untuk
mengerem pada saat kecelakaan terjadi.

3. Penderita serangan jantung yang terjatuh dapat diketahui dengan adanya pola
luka pada dan di bawah area hat band dan biasanya terbatas pada satu sisi
wajah. Dengan adanya pola tersebut mengindikasikan jatuh sebagai
penyebab, bukan karena dipukul.

20
4. Pukulan pada daerah mulut dapat lebih terlihat dari dalam. Pukulan yang
kepalan tangan, luka tumpul yang terjadi dapat tidak begitu terlihat dari luar,
namun menimbulkan edem jaringan pada bagian dalam, tepat di depan gigi
geligi. Frenum pada bibir atas kadang rusak, terutama bila korban adalah
bayi yang sering mendapat pukulan pada kepala

Pola trauma banyak macamnya dan dapat bercerita pada pemeriksa


medikolegal. Kadangkala sukar dikenali, bukan karena korban tidak diperiksa,
namun karena pemeriksa cenderung memeriksa area per area, dan gagal
mengenali polanya. Foto korban dari depan maupun belakang cukup berguna
untuk menetukan pola trauma. Persiapan diagram tubuh yang memperlihatkan
grafik lokasi dan penyebab trauma adalah latihan yang yang baik untuk
mengungkapkan pola trauma.4

VII. Akibat Trauma


1. Aspek medik
Konsekuensi dari luka yang di timbulkan oleh trauma dapat berupa :
a. Kelainan fisik / organic
Bentuk dari kelainan fisik atau organic ini dapat berupa :
Hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh
Hilangnya sebagaian atau seluruh organ tertentu.
b. Gangguan fungsi dari organ tubuh tertentu.
Bentuk dari gangguan fungsi tergantung dari organ atau bagaian
tubuhyang terkena trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain
lumpuh,buta, tuli atau terganggunya fungsi organ- organ dalam.
c. Infeksi
Kulit atau membrane mukosa merupakan barier terhadap infeksi. Bila kulit
atau membrane tersebut rusak maka kuman akan masuk lewat pintu ini.
Bahkan kuman dapat masuk lewat daerah memar atau bahkan irritasi
akibat benda yang terkontaminasi oleh koman. Jenis kuman dapat berupa
streptococcus, staphylococcus, echeria coli, proteus vulgaris, clostridium
tetani serta kuman yang menyebabkan gas gangren.
d. Penyakit

21
Trauma sering dianggap sebagai faktor resiko terjadinya penyakit jantung
walaupun hubungan kausalnya sulit diterangkan dan masih dalam
kontroversi.
e. Kelainan psikis
Trauma, meskipun tidak menimbulkan kerusakan otak, kemungkinan
dapat menjadi faktor resiko bagi terjadinya kelainan mental yang
spketrumnnya amat luas; yaitu dapat berupa compensational neurosis,
anxiety neurosis, dementia praecox primer (schizophrenia), manic
depressive atau psikosis. Kepribadian serta potensi individu
untuk terjadinya reaksi mental yang abnormal merupakan factor utama
timbulnya gangguan mental tersebut; meliputi jenis, derajat serta lamanya
gangguan. Oleh sebab itu pada setiap gangguan mental post-trauma perlu
dikaji elemen-elemen dasarnya yang terdiri atas latarbelakang mental dan
emosi serta nilai relative bagi yang bersangkutan atas jaringan atau organ
yang terkena trauma. Secara umum dapat diterima bahwa hubungan antara
kerusakan jaringan tubuh atau organ dengan psikosis post trauma
di dasarkan atas :
- Keadaan mental benar benar sehat sebelum trauma
- Trauma telah merusak susunan syaraf pusat
- Trauma, tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan
seseorang.
- Trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur dan
fungsinya dapat mempengaruhi emosi organ genital, payudara,
mata,tangan atau wajah.
- Korban cemas akan lamanya waktu penderitaan
- Psikosis terjadi dalam tenggang waktu yang masuk akal
- Korban dihantui oleh kejadian (kejahatan atau kecelkaan) yang
menimpanya.9
2. Aspek yuridis
Jika dari sudut medik, luka merupakan kerusakan jaringan (baik disertai atau
tidak disertai diskontuinitas permukaan kulit) akibat trauma maka dari sudut
hukum, luka merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu tindak
pidana, baik yang bersifat intensional (sengaja), reckless (ceroboh) atau
negligence (kurang hatihati). Untuk menentukan berat-ringannya hukuman

22
perlu ditentukan lebih dahulu berat ringannya luka. Kebijakan hukum pidana
didalam penentuan berat ringannya luka tersebut didasarkan atas pengaruhnya
terhadap :
- Kesehatan jasmani
- Kesehatan rohani
- Kelangsungan hidup janin di dalam kandungan
- Estetika jasmani
- Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencarian
- Fungsi alat indera.1,9

VII. Derajat Luka


1. Luka ringan adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencahariannya.
2. Luka sedang adalah luka yang dapat menimbulkan penyakit atau halangan
dalam menjalankan pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian untuk
sementara waktu.
3. Luka berat adalah luka yang sebagaimana diuraikan di dalam pasal 90
KUHP, yang terdiri atas :
a. Luka atau penyakit yang tidak dapat diharapkan akan sembuh dengan sempurna
lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada satu mata yang
menyebabkan kornea robek. Sesudah di jahit sembuh, tetapi mata tersebut tidak
dapat melihat.
b. Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut.
Dapat mendatangkan bahaya maut pengertiannya memiliki potensial
untuk menimbulkan kematian, tetapi sesudah diobati dapat sembuh.
c. Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan
jabatan atau mata pencariaanya. Luka yang dari sudut medik tidak membahayakan
jiwa, dari sudut hukum dapat dikategorikan sebagai luka berat. Contonya
trauma pada tangan kiri pemain biola atau pada wajah seorang peragawati
dapat dikatagorikan luka berat jika akibatnya mereka tidak dapat lagi
menjalankan pekerjaanya tersebut selamanya.
d. Kehilangan salah satu dari panca indera.
i. Jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilngan pendengran
satu telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan indera. Meskipun

23
demikian tetap digolongkan sebagai luka berat berdasarkan butir (1) di
atas.
e. Cacat besar atau kudung.
f. Lumpuh.
g. Gangguan daya pikir lebih dari 4 minggu lamanya. Gangguan daya pikir
tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat juga berupa
amnesia, disorientasi, anxietas, depresi atau gangguan jiwa lainnya.
h. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan. Keguguran ialah
keluarnya janin sebelum masa waktunya yaitu, tidak didahului oleh proses yang
sebagaimana umumnya terjadi seorang wanita ketika melahirkan. Sedang
kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi
menunjukan tanda tanda hidup. Tidak dipersoalkan bayi keluar atau
tidak dari perut ibunya.. 1

24
BAB III
LAPORAN KASUS
PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM
NO....02 / VeR / VI / 2014

Atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resor Semarang Timur melalui suratnya tanggal 28
bulan Juni tahun 2014, Nomor polisi: B/18/VI/2014/Reskrim, yang ditandatangani oleh
Soeprapto, SH pangkat AKP, NRP 62120577 dan diterima pada tanggal 28 bulan Juni tahun
2014, jam 20.00 Waktu Indonesia Barat, maka dengan ini, saya, dr. Setyo T., Sp. F, sebagai
dokter yang bekerja pada Rumah Sakit Bhayangkara Semarang menerangkan bahwa pada
tanggal 28 bulan Juni tahun 2014 jam 20.15 Waktu Indonesia Barat, di Instalasi Gawat
Darurat Rumah Sakit Bhayangkara Semarang telah memeriksa serta merawat orang, yang
berdasarkan surat permintaan tersebut di atas dan telah dibenarkan oleh yang bersangkutan
bernama Siswanto, umur 30 tahun, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan pegawai swasta, Warga
Negara Indonesia, agama Islam, alamat Sendang Guwo Utara RT 3 RW II, diduga telah
mengalami peristiwa penganiayaan fisik.---------------------------------------------------------------
HASIL PEMERIKSAAN ---------------------------------------------------------------------------------
Dari pemeriksaan yang telah saya lakukan, ditemukan fakta-fakta sebagai berikut: -------------
A. FAKTA DARI PEMERIKSAAN PERTAMA KALI :---------------------------------------
Tanggal : dua puluh delapan bulan Juni tahun dua ribu empat belas-----------------------
1. KEADAAN UMUM:-------------------------------------------------------------------------
a. Tingkat kesadaran : Sadar penuh---------------------------------------------------
b. Denyut nadi : Delapan puluh dua kali per menit--------------------------
c. Pernapasan : Dua puluh dua kali per menit-------------------------------
d. Tekanan darah : Seratus dua puluh per tujuh puluh milimeter air raksa--
e. Suhu badan : Tiga puluh tujuh derajat selsius----------------------------
2. KELAINAN-KELAINAN FISIK:----------------------------------------------------------
Bagian Luar Tubuh : ------------------------------------------------------------------
a. Kepala : ditemukan dua buah luka memar pada wajah---------------------
1) Luka memar pertama terletak pada titik perpotongan garis tengah tubuh
dengan garis yang melewati kedua mata dengan bentuk tidak beraturan
berukuran nol koma lima sentimeter kali satu sentimeter garis batas

25
luka tidak jelas berwarna merah keunguan terdiri atas kulit yang masih
utuh dan disekitar memar tidak ditemukan kelainan------------------------
2) Luka memar kedua terletak dua sentimeter sebelah kiri garis tengah
tubuh dan empat sentimeter diatas garis yang melewati kedua mata
dengan bentuk tidak teratur berukuran satu koma lima sentimeter kali
nol koma lima sentimeter garis batas luka tidak jelas berwarna merah
keunguan terdiri atas kulit yang masih utuh dan disekitar memar tidak
ditemukan kelainan--------------------------------------------------------------
a. Leher : tidak ada kelainan----------------------------------------------------------
b. Bahu : ditemukan satu buah luka memar pada bahu depan dan satu buah
luka lecet------------------------------------------------------------------------------
1) Luka memar pertama terletak lima belas sentimeter sebelah kiri garis
tengah tubuh dan tujuh belas sentimeter diatas puting dengan bentuk
tidak teratur berukuran enam kali satu koma lima sentimeter bergaris
batas tidak tegas dengan merah keunguan terdiri atas kulit yang masih
utuh dan disekitar memar tidak ditemukan kelainan----------------------
2) Luka lecet terletak sepuluh sentimeter sebelah kiri garis tulang
belakang dan dua sentimeter dari garis yang melewati lipat ketiak
berupa garis lurus yang arahnya miring dengan ukuran panjang dua
koma lima sentimeter dengan tepi luka tidak rata dan permukaan
ditutupi oleh darah yang telah mengering berwarna merah kecoklatan
dan perabaan kasar serta disekitar luka sedikit memar--------------------
c. Dada : tidak ada kelainan--------------------------------------------
d. Punggung : ditemukan satu buah luka lecet berbentuk persegi
panjang, ujung pertama terletak delapan sentimeter sebelah kiri dari garis
tulang belakang dan sepuluh sentimeter diatas garis yang melewati
panggul, ujung kedua terletak tujuh koma lima sentimeter sebelah kanan
dari garis tulang belakang dan delapan sentimeter diatas garis yang
melewati panggul, ujung ketiga tujuh sentimeter sebelah kanan dari garis
tulang belakang dan tiga sentimeter diatas garis yang melewati panggul,
ujung keempat terletak sembilan sentimeter sebelah kiri garis tulang
belakang dan lima sentimeter diatas garis yang melewati panggul,
berukuran tiga belas kali enam sentimeter, berbentuk teratur bergaris batas
tidak tegas, tepi luka tidak teratur, dengan permukaan ditutupi oleh darah

26
yang telah mengering berwarna merah kecoklatan dan perabaan kasar
serta disekitar luka sedikit memar-------------------------------------------------
e. Perut : tidak ada kelainan--------------------------------------------
f. Bokong : tidak ada kelainan--------------------------------------------
g. Dubur : tidak ada kelainan--------------------------------------------
h. Anggota gerak : tidak ada kelainan--------------------------------------------
Bagian Dalam Tubuh : tidak diperiksa---------------------------------------------------------
B. FAKTA YANG DIALAMI SELAMA PERAWATAN:-------------------------------------
A. Fakta berupa akibat : tidak ada--------------------------------------------------------------
B. Fakta berupa tindakan medik : tidak ada---------------------------------------------------
C. FAKTA DARI PEMERIKSAAN TERAKHIR:----------------------------------------------
1. Fakta yang berkaitan dengan kondisi jasmaniah :----------------------------------------
2. Fakta yang berkaitan dengan pekerjaannya :----------------------------------------------
Tidak menimbulkan halangan dalam menjalani pekerjaan mata pencahariannya
atau jabatannya-------------------------------------------------------------------------------
KESIMPULAN:--------------------------------------------------------------------------------------------
Dari fakta-fakta yang saya temukan sendiri dari pemeriksaan atas orang tersebut, maka saya
simpulkan bahwa telah diperiksa seorang laki-laki, umur tiga puluh tahun, sadar penuh,
keadaan umum baik, ditemukan luka memar dan luka lecet di wajah, bahu dan punggung
akibat kekerasan benda tumpul yang tidak menimbulkan halangan dalam pekerjaannya
sebagai pegawai swasta.-----------------------------------------------------------------------------------

PENUTUP:--------------------------------------------------------------------------------------------------
Demikianlah keterangan tertulis ini saya buat dengan sesungguhnya dengan mengingat
sumpah sewaktu menerima jabatan sebagai dokter.---------------------------------------------------

Semarang, 28 Juni 2014


Dokter yang memeriksa,

dr. Setyo T., Sp.F

27
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari hasil anamnesis yang telah dilakuan identitas pasien seorang laki-laki S berumur
30 tahun, telah mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh pelaku yang memiliki hutang
dengan pasien. Pelaku lebih dari 1 orang melakukan penganiayaan dengan menggunakan
tangan, balok kayu, dan bambu kepada pasien saat pasien hendak menagih hutang kepada
pelaku di rumah pelaku.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tingkat kesadaran penuh dan keadaan umum baik,
didapatkan tanda-tanda kekerasan berupa luka memar dan lecet. Luka memar ditemukan di
bagian wajah dan bahu dengan ciri-ciri bentuk tidak teratur, batas tidak tegas dan warna
kemerahan, sedangkan luka lecet ditemukan pada bahu dan punggung dengan ciri batas tidak
tegas, permukaan kulit ditutupi oleh darah yang mengering berwarna merah kecoklatan.
Kedua luka tersebut kemungkinan diakibatkan kekerasan benda tumpul, karena ciri-ciri
bentuk luka akibat benda tumpul secara umum sama dengan luka pada pasien yaitu bentuk
luka yang tidak teratur, batas luka yang tidak tegas dan tepi luka yang tidak rata. Pasien
masih bisa melaksanakan pekerjaaannya dan luka pada pasien dapat sembuh sempurna tanpa
meninggalkan cacat.

28
BAB V
KESIMPULAN

Dari pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seorang laki-laki, umur tiga
puluh tahun, ditemukan luka memar dan luka lecet di wajah, bahu dan punggung akibat
kekerasan benda tumpul yang tidak menimbulkan halangan dalam pekerjaannya sebagai
pegawai swasta dan luka dapat sembuh sempurna tanpa meninggalkan bekas.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik. Cetakan Pertama semarang: Badan


Penerbit Universitas Diponegoro, 2000.
2. Anonim; http//www.traumatologi.webs.com
3. Apuranto Hariadi. Luka Akibat Benda Tumpul. Diunduh
dari http://www.fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen//LUKA%20TUMPUL.pdf
4. Traumatologi Forensik. Diunduh
dari http://www.freewebs.com/traumatologie2/index.htm
5. Budiyanto A, Widiatmika W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. FK-UI.
Jakarta. 1997.
6. Anonim;http://blogkputih.blogspot.com/2012/01/jenis-jenis-luka-luka-rusaknya-
jaringan.html
7. Anonim; http://karikaturijo.blogspot.com/2010/06/diskripsi-luka-forensik.html
Dikutip dari: www.fk.uwks.ac.id
8. Mansjoer A, dkk. Traumatologi. Dalam Kapita Selekta Kedokteran , ed 3. Jilid kedua.
Media Aeskulapius. FK-UI.2000
9. Amir A. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, ed 2. Bagian Ilmu kedokteran
Forensik dan Medikolegal FK-USU. Medan. 2007.
10. Dahlan, Sofwan. Pembuatan Visum et Repertum. Badan Penerbit Universitas
Diponegoro, 2008.
11. Muttaqin, Arif, Kumala Sari. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Salemba medika. Jakarta.2011.
12.Nugraha, A. 2006. Kecelakaan. Sumber: KepMen Pertambangan dan Energi No.
555.K/26/M.PE/1995.

30