Anda di halaman 1dari 7

Vaksin Meningitis; Antara Halal dan Haram

Vaksin Meningitis; Antara Halal dan Haram


Ibadah haji merupakan rukun Islam yang kelima dan sangat krusial bagi kaum muslimin
tentunya bagi yang sudah masuk dalam kategori istitho'ah. Namun, pada beberapa tahun ini
semenjak pihak Arab Saudi sebagai khadimul haramain menetapkan bahwa bagi seluruh
calon jama'ah haji diwajibkan vaksin meningitis atau dalam istilah arabnya iltihab as-sahaya
(radang otak), banyak jama'ah calon haji yang merasa resah karena tersebar kabar bahwa
vaksin tersebut mengandung enzim babi (porcine).
Dalam hal ini penulis mencoba untuk mengidentifikasi dan memberikan sedikit pengenalan
tentang Vaksin Meningitis sampai tinjauan hukum Islam dalam menangani masalah tersebut.
Apakah Vaksin Meningitis itu?
Vaksin (dari kata vaccinia, penyebab infeksi cacar sapi yang ketika diberikan kepada
manusia, akan menimbulkan pengaruh kekebalan terhadap cacar), adalah bahan antigenik
yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat
mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar".
Meningitis adalah radang membran pelindung sistem syaraf pusat. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh mikroorganisme, luka fisik, kanker, atau obat-obatan tertentu. Meningitis
adalah penyakit serius karena letaknya dekat otak dan tulang belakang, sehingga dapat
menyebabkan kerusakan kendali gerak, pikiran, bahkan kematian.
Kebanyakan kasus meningitis disebabkan oleh mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur,
atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak. Daerah "sabuk meningitis" di Afrika
terbentang dari Senegal di barat ke Ethiopia di timur. Daerah ini ditinggali kurang lebih 300
juta manusia. Pada 1996 terjadi wabah meningitis di mana 250.000 orang menderita penyakit
ini dengan 25.000 korban jiwa.
Bakteri ini ditularkan dari orang ke orang melalui tetesan sekresi pernafasan atau
tenggorokan. Tutup dan lama kontak (misalnya berciuman, bersin dan batuk pada seseorang,
yang tinggal di dekat tempat tinggal atau asrama (militer yang direkrut, mahasiswa), berbagi
alat makan atau minum, dll) memfasilitasi penyebaran penyakit. Inkubasi rata-rata adalah 4
hari, berkisar antara 2 dan 10 hari.
Gejala yang paling umum adalah leher kaku, demam tinggi, kepekaan terhadap cahaya,

kebingungan, sakit kepala dan muntah-muntah. Bahkan ketika penyakit ini didiagnosis dini
dan terapi yang memadai dilembagakan, 5% sampai 10% dari pasien mati, biasanya dalam
waktu 24-48 jam setelah timbulnya gejala. Bakteri meningitis dapat menyebabkan kerusakan
otak, gangguan pendengaran, atau ketidakmampuan belajar pada 10 sampai 20% dari korban.
Yang kurang umum tapi lebih parah (sering fatal) bentuk penyakit meningokokus adalah
septikemia meningokokus yang ditandai oleh ruam berdarah dan cepat peredaran darah.
Benarkah vaksin meningitis mengandung enzim babi (porcine)?
Berita bahwa vaksin meningitis dicurigai mengandung enzim babi bermula dari sebuah
laporan penelitian yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengkajian dan Pengawasan Obat dan
Makanan Majelis Ulama Indonesia (LP POM MUI) Sumatera Selatan bekerja sama dengan
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. Hasil temuan tersebut kemudian diumumkan
kepada publik pada 24 April 2009 oleh Ketua MUI Sumsel KH Sodikun.
Glaxo Smith kline (GSK) sebagai produsen vaksin meningitis yang digunakan oleh
Departemen Kesehatan RI, membantah bahwa produknya mengandung unsur babi. GSK
menerangkan, bahwa memang pada awalnya mereka menggunakan enzim babi sebagai
katalisator dalam proses pembuatan vaksin meningitis (Old Mencevax TM ACW 135 Y).
Namun hal ini tidak dilakukan lagi pada proses pembuatan vaksin meningitis yang baru
(NEW Mencevax TM ACW 135 Y) yang digunakan sejak akhir tahun 2008.
Klaim GSK ini ternyata hanya isapan jempol belaka. Dalam presentasi GSK di hadapan
sejumlah lembaga terkait, terungkap bahwa pembuatan vaksin meningitis ternyata masih
menggunakan enzim babi.
Meski pada hasil akhirnya vaksin meningits itu tak lagi mengandung enzim babi, namun
dalam prosesnya masih menggunakan enzim babi, ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia
(MUI), KH Umar Shihab, kepada Republika , Jumat (22/5). Menurut Kiai Umar, kepastian
penggunaan enzim babi itu terungkap saat perusahaan GSK, mempresentasikan proses
pembuatan produknya di Gedung Depkes pada Rabu (20/5).
KH. Ma`ruf Amin yang juga Ketua MUI memberikan pernyataan senada, beliau mengatakan:
Walaupun dalam rapat tersebut perusahaan pembuat vaksin telah membantah produknya
mengandung unsur babi, tetapi dalam proses pembuatannya mulai dari bahan baku hingga
menjadi vaksin ternyata bersentuhan dengan porcine sebanyak tiga kali.
Kemungkinan Pembuatan Vaksin Bebas Porcine
Adalah Abdulah Munim dan Herman Suryadi, keduanya adalah ahli farmasi dari Univesitas
Indonesia (UI), yang melontarkan kemungkinan vaksin meningitis bisa menggunakan enzim
yang halal, misalnya dari hewan yang halal atau dari mikroba sendiri.
Sementara di Malaysia, pemerintah negeri itu menjamin penuh vaksin meningitis yang
disuntikkan untuk calon jamaah umrah dan haji tak mengandung babi dan tak berkaitan
dengan babi. Jaminan itu dikemukakan Wakil Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Rosnah
Abdul Rashid Shirlin yang dikutip harian Utusan Malaysia edisi Rabu, (10/6). Menurut
Rosnah, vaksin yang dihebohkan di Indonesia tidak terjadi di Malaysia. Vaksin meningitis
yang diberikan kepada jamaah haji dan umrah yang dilakukan di Malaysia, katanya, telah
diuji dan melalui proses penelitian lebih dulu dan ternyata tidak menimbulkan masalah
hingga kini.
Kantor Berita Malaysia, Bernama, edisi Selasa (5/5) lalu memberitakan bahwa Negeri jiran
itu telah berhasil membuat vaksin meningitis halal dari enzim sapi. Proses penyembelihan

sapi sebagai bahan vaksin juga dilakukan dengan islami.Vaksin baru tersebut akan selalu dan
mengharuskan mengikuti prosedur, antara lain, penelitian dan percobaan. Vaksin tersebut
baru bisa dipasarkan setelah melewati berbagai prosedur, seperti prosedur jaminan keamanan
vaksin, sertifikasi vaksin, registrasi, dan persyaratan umum lainnya. Vaksin tersebut
merupakan hasil kerja sama antara Universiti Sains Malaysia (USM) dan Institut Finlay dari
Kuba, untuk mengembangkan vaksin meningitis halal, yang telah dimulai sejak dua tahun
lalu. Vaksin tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi andalan produksi bioteknologi
kedua negara.
Vaksin Meningitis dalam tinjauan hukum Islam
Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkesimpulan bahwa vaksin meningitis produksi Belgia
yang digunakan jamaah Indonesia dan puluhan negara lainnya adalah haram.
Berikut ini adalah kutipan pernyataan KH. Ma`ruf Amin, Ketua MUI, pada wartawan
Republika usai rapat MUI yang membahas vaksin di Kantor MUI, Jakarta, Kamis (16/7).
Keputusannya, bahwa vaksin Meningitis produksi Belgia itu yang digunakan oleh Depkes
untuk jamaah haji kita, adalah haram karena mengandung enzim babi Namun, karena
untuk calon jamaah haji intinya wajib harus divaksin karena ketentuan dari pemerintah Arab
saudi, maka kita perbolehkan dengan hukum darurat bagi yang berhaji wajib atau pertamakali
haji Namun hukum darurat ini tidak berlaku bagi yang berhaji yang kedua dan
seterusnya,.
Dikatakan KH. Maruf bahwa Fatwa MUI ini sifatnya sementara sampai ditemukan vaksin
yang halal. Atau sampai kebijakan pemerintah Arab saudi yang mengharuskan vaksin
meningitis ini dicabut, tutur Kiai Maruf. Kami juga merekomendasikan paling lambat
tahun 2010, pemerintah sudah harus memperoleh vaksin yang halal atau memproduksi sendiri
vaksin yang halal, tegas Kiai Maruf.
A.B. Tamam Elvasrowany (Koordinator Dept. Pendidikan & Dakwah DPW. PPI
Hadhramout) mengutarakan pernyataan diatas dengan jawaban sebagai berikut: Pada
dasarnya saya setuju dengan keputusan MUI tersebut, hanya saja saya kurang sependapat
dengan KH. Ma`ruf Amin yang memperbolehkan vaksinasi bagi yang berhaji wajib atau
pertamakali haji dengan alasan dhorurot. Menurut hemat saya, dalam masalah ini sama sekali
tidak ada dhorurot sehingga dapat diberlakukan kaidah fiqh Al-Dhorurot Tubih alMahdzurot (keadaan darurat dapat memperkenankan sesuatu yang dilarang). Karena
sebagaimana sudah maklum- ibadah haji adalah ibadah yang bersifat wajib `ala tarokhy,
artinya boleh ditunda pelaksanaannya walaupun bagi orang yang sudah mampu.
Dan seandainyapun yang dimaksud dengan dhorurot disini adalah pengertian yang lumrah
kita baca di kitab-kitab fiqh, yaitu ancaman gangguan kesehatan yang dapat membahayakan
keselamatan jiwa atau lainnya sehingga dapat memperbolehkan bertayammum (mubih altayammum). Keputusan hukum di atas tetaplah tidak akan berubah dengan dua alasan:
Pertama : sebagaimana dijelaskan sebelumnya, vaksinasi dimaksudkan sebagai tindakan
prefentif agar jamaah haji terhindar dari kemungkinan tertular dan menularkan meningitis
terhadap orang lain ketika berada di Arab Saudi. Sementara untuk kondisi Indonesia,
kemungkinan ini hampir tidak ada. Ini berarti hukum dhorurot tidak berlaku bagi para jamaah
yang masih berada di Indonesia, walaupun dia tergolong calon jamaah haji wajib. Karena
sebagaimana dipaparkan sebelumnya- kewajiban haji bersifat `ala tarokhy.
Kedua : vaksinasi meningitis dapat dilakukan dengan menggunakan cara-cara yang halal.

Misalnya dengan menggunakan vaksin bebas porcine sebagaimana yang katanya- digunakan
di Malaysia, atau dengan cara-cara alami sbb:
Laksanakan hijamah/bekam 1bulan 1 x (3 bulan berturut-turut sebelum naik haji)
Sangat perlu makan yang segar-segar
Pagi : Wortel 1 gelas, bayam gelas
Siang : Wortel 1 gelas, bit 1/3 gelas, Timun 1/3 gelas
Sore : Wortel 1 gelas, seledri gelas, Bayam 1/3 gelas
Malam : Wortel 1 gelas
Tambahan : Habatusauda, madu, sari kurma
Makanan minuman: Back to nature, tidak msg, vetsin, instan.
Alasan kedua ini semakin melemahkan argumen MUI. Karena diantara syarat
diperbolehkannya menggunakan benda najis atau haram sebagai obat adalah apabila
pengguanaan benda tersebut merupakan alternatif terakhir.
Adapun apabila cara-cara halal ini tidak mendapatkan pengakuan dari Depkes RI. Maka ini
adalah masalah lain yang tidak dapat merubah keadaan normal menjadi darurat atau yang
haram menjadi halal.
Walhasil, hukum vaksinasi meningitis menggunakan Mencevax TM ACW 135 Y buatan GSK
Belgia adalah haram. Tidak ada alasan mendasar untuk memperbolehkannya dengan alasan
darurat, karena memang kriteria darurat belum terpenuhi.
Kriteria darurat sebagaimana yang disampaikan oleh KH. Ma`ruf Amin mungkin dapat
berlaku bagi orang yang berkewajiban menunaikan ibadah haji sesegera mungkin (man
wajaba `alaihi al-hajj fauron), disebabkan oleh nadzar atau yang lain. Namun demikian, ini
masih memerlukan kajian lebih mendalam apakah memang benar dia itu sudah dianggap
dalam keadaan darurat (mudhthor) atau justeru ibadah haji menjadi tidak wajib baginya
karena dianggap belum mampu (istitho`ah).
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pekan depan akan kembali bersidang untuk
membuat keputusan tentang penggunaan vaksin meningitis yang
mengandung unsur babi bagi calon jemaah haji atau umrah. "Kalau belum
juga ada jawaban dari Arab Saudi tentang kebijakan menggunakan vaksin
itu, minggu depan kami akan kembali bersidang untuk menentukan
langkah apa yang mesti diambil," kata Ketua MUI Amidhan Shaberah di
Jakarta, Selasa.
Hal itu dilakukan karena waktu persiapan keberangkatan jemaah haji
semakin dekat dan belum adanya ketetapan mengenai penggunaan
vaksin meningitis yang proses pembuatannya melibatkan unsur babi
tersebut yang dapat mengganggu persiapan calon jemaah haji.
Ia menjelaskan, MUI sudah menyampaikan surat kepada pemerintah Arab
Saudi untuk menanyakan kebijakan negara tersebut mewajibkan seluruh
calon jemaah haji dan umrah mendapatkan vaksinasi meningitis. "Saya
juga sudah bertemu dengan Duta Besar Arab Saudi, katanya surat itu

sudah disampaikan ke pemerintah pusat namun belum mendapatkan


jawaban. Kami menanyakan apakah itu benar-benar diwajibkan dan
mengapa diwajibkan serta apakah ada alternatif lain yang bisa dilakukan,"
jelasnya.
Menurut Amidhan, jika pemerintah Arab Saudi tetap mewajibkan
penggunaan vaksin meningitis tersebut tanpa memberikan alternatif
upaya pencegahan yang lain maka kemungkinan MUI terpaksa
memperbolehkan penggunaan vaksin tersebut bagi calon jemaah haji
sebelum pemerintah bisa memroduksi vaksin meningitis yang halal.
"Dengan alasan darurat mungkin akan diperbolehkan. Soalnya, tidak
mungkin kita melarang orang menunaikan ibadah haji karena masalah ini.
Tapi, kami tetap mendesak pemerintah Arab Saudi memberikan klarifikasi
mengenai hal ini karena saya khawatir ini ada kaitannya dengan bisnis,"
katanya.
Ia mengatakan, untuk mengatasi masalah ini MUI juga mendesak
pemerintah berusaha memproduksi vaksin meningitis yang halal.
Dalam satu bulan terakhir, MUI membahas penggunaan vaksin meningitis
yang prosesnya melibatkan unsur babi. Ketua Komisi Fatwa MUI Ma'ruf
Amin sebelumnya menjelaskan, vaksin meningitis yang selama ini
digunakan calon jemaah haji haram karena meski hasil akhirnya tidak
mengandung unsur babi tapi proses pembuatannya melibatkan unsur
babi. Namun MUI belum menetapkan fatwa tentang penggunaannya.
Menurut hukum Islam, dalam keadaan darurat barang yang haram bisa
digunakan dan MUI hingga saat ini masih mengkaji tingkat kedaruratan
dari penggunaan vaksin tersebut.
MUI sudah melakukan pertemuan dengan Departemen Kesehatan, Badan
Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan praktisi kesehatan untuk
meminta masukan mengenai spesifikasi dan kebutuhan akan vaksin
tersebut. Di samping itu, MUI juga meminta klarifikasi dan menanyakan
beberapa hal kepada pemerintah Arab Saudi terkait kebijakan
penggunaan vaksin meningitis yang diterapkan negara itu namun belum
mendapatkan jawaban.
Ayo, ikut kopi darat Wikipedia bahasa Indonesia!
Akan dilaksanakan pada 26 April 2015 di Depok, untuk informasi lebih
lengkap silakan klik di sini

[tutup]

Meningitis
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam
artikel ini boleh digunakan hanya untuk penjelasan ilmiah, bukan untuk diagnosis
diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.
Perhatian: Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.
Wikipedia bukan pengganti dokter.
Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga
kesehatan profesional.
Meningitis
Klasifikasi dan rujukan eksternal

Meninges sistem saraf pusat: dura mater, arachnoid,


dan pia mater.
ICD-10
G00.G03.
ICD-9
320322
DiseasesDB 22543
MedlinePlus 000680
eMedicine
med/2613 emerg/309 emerg/390
MeSH
D008581
Meningitis adalah radang pada membran pelindung yang menyelubungi otak dan sumsum
tulang belakang, yang secara kesatuan disebut meningen.[1] Radang dapat disebabkan oleh
infeksi oleh virus, bakteri, atau juga mikroorganisme lain, dan walaupun jarang dapat
disebabkan oleh obat tertentu.[2] Meningitis dapat menyebabkan kematian karena radang yang
terjadi di otak dan sumsum tulang belakang; sehingga kondisi ini diklasifikasikan sebagai
kedaruratan medis.[1][3]
Gejala umum dari meningitis adalah sakit kepala dan leher kaku disertai oleh demam,
kebingungan atau perubahan kesadaran, muntah, dan kepekaan terhadap cahaya (fotofobia)
atau suara keras (fonofobia). Anak-anak biasanya hanya menunjukkan gejala nonspesifik,
seperti lekas marah dan mengantuk. Adanya ruam merah dapat memberikan petunjuk
penyebab dari meningitis; contohnya, meningitis yang disebabkan oleh bakteri meningokokus
dapat ditunjukkan oleh adanya ruam merah.[1][4]
Tindakan punksi lumbal dilakukan untuk mendiagnosa ada tidaknya meningitis. Jarum
dimasukkan ke dalam kanalis spinalis untuk mengambil sampel likuor serebrospinalis (LCS),
yang menyelubungi otak dan sumsum tulang belakang. LCS diperiksa di laboratorium medis.
[3]
Penanganan pertama pada meningitis akut terdiri dari pemberian secara tepat berbagai
antibiotik dan kadang-kadang obat antivirus. Kortikosteroid juga dapat digunakan untuk
mencegah terjadinya komplikasi karena radang yang berlebihan.[3][4] Meningitis dapat
mengakibatkan konsekuensi jangka panjang seperti ketulian, epilepsi, hidrosefalus dan defisit

kognitif, terutama bila tidak dirawat dengan cepat.[1][4] Beberapa jenis meningitis (misalnya
yang berhubungan dengan meningokokus, Haemophilus influenzae type B,pneumokokus atau
infeksi virus mumps) dapat dicegah oleh imunisasi.[1]