Anda di halaman 1dari 10

Sejarah Keperawatan Dunia tentang Rufaidah Al-Asalmiya

Sejarah Perkembangan Keperawatan Islam

Masa sejarah perkembangan islam dalam keperawatan, tidak dapat dipisahkan

dalam konteks perkembangan keperawatan di Arab Saudi khususnya, dan negara-

negara di Timur Tengah umumnya. Berikut ini akan lebih dijelaskan tentang

sejarah perkembangan keperawatan di masa Islam dan di Arab Saudi khususnya.

1. Masa penyebaran Islam/ The Islamic Period (570-632)

Dokumen

tentang

keperawatan

sebelum-islam

(pre-islamic

period)

sebelum 570 M sangat sedikit ditemukan. Perkembangan keperawatan di masa

ini, sejalan dengan perang kaum muslimin/jihad (holy wars), memberikan

gambaran tentang keperawatan di masa ini. Sistem kedokteran masa lalu yang

lebih menjelaskan pengobatan dilakukan oleh dokter ke rumah pasien dengan

memberikan resep, lebih dominan.Hanya sedikit sekali literature tentang

perawat, namun dalam periode ini dikenal seorang perawat bersama Nabi

Muhammad SAW telah melakukan peran keperawatan yaitu Rufaidah binti

Sa’ad/Rufaidah Al-Asalmiya (Tumulty 2001, Al Osimy, 1994)

2. Masa Setelah Nabi/Post-Prophertic Era (632-1000) Sejarah tentang keperawatan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW

jarang sekali (Al Simy, 1994). Dokumen yang ada lebih didominasi oleh

kedokteran di masa itu. Dr Al-Razi yang digambarkan sebagai seorang

pendidik, dan menjadi pedoman yang juga menyediakan pelayanan

keperawatan. Dia menulis karangan tentang “The Reason Why Persons and

The Common People Leave a Physician Evev If He Is Clever” dan “A Clever

Physician Does Not Have the Power to Heal All Diseasis, for That is Not

Within the Realm of Possibility”. Di masa ini ada perawat di beri nama “Al

Asiyah” dari kata Aasa yang berarti mengobati luka, dengan tugas utama

memberikan makanan, memberikan obat dan rehidrasi.

3. Masa Late to Middle Ages (1000-1500) Di masa ini negara-negara Arab membangun RS dengan baik, dan

mengenalkan perawatan orang sakit. Ada gambaran unik di RS yang tersebar

dalam peradaban Islam dan banyak dianut RS modern saat ini hingga sekarang,

yaitu pemisahan antar ruang pasien laki-laki dan perempuan, serta perawat

wanita merawat pasien wanita, dan perawat laki-laki merawat pasien laki-laki

(Donahue, 1985, Al Osimy, 2004)

4. Masa Modern (1500-sekarang) Early Leaders in Nursing’s Development) Masa ini ditandai dengan banyaknya ekspatriat asing (perawat asing dari

Eropa, Amerika dan Australia, India, Philipina) yang masuk dan bekerja di RS

di negara Timur Tengah. Bahkan dokumen tentang keperawatan di Arab,

sampai tahun 1950 jarang sekali, namun di tahun 1890 seorang misionaris

Amerika, dokter dan perawat dari Amerika telah masuk Bahrain dan Riyadh

untuk merawat Raja Saudi King Saud. (Amreding, 2003)

Biografi Rufaidah Al-Asalmiya

Rufaidah Al-Asalmiya atau Siti Rufaidah adalah perawat muslim pertama didunia,

ia sudah ada jauh sebelum Pioneer of Modern Nurse lahir kedunia. Di Indonesia,

nama Rufaidah sendiri masih terasa asing dibandingkan dengan tokoh-tokoh

keperawatan dunia yang berasal dari golongan barat. Namun dikalangan Negara

arab dan timur tengah, nama Florence Nightingale tidak lebih terkenal dari

Rufaidah Al-Asalmiya.

Rufaidah Al-Asalmiya memiliki nama lengkap Rufaidah Binti Sa’ad Al-Bani

Aslam Al-Khazraj. Ia lahir di Yatsrib, Madinah pada tahun 570 M dan wafat pada

tahun 632 M. Rufaidah hidup pada masa Rasulullah SAW pada abad pertama

Hijriah atau abad ke-8 Masehi. Ia termasuk golongan kaum Anshor (Golongan

pertama yang menganut agama Islam di Madinah).

Ayah Rufaidah adalah seorang dokter, Rufaidah mempelajari ilmu keperawatan

saat ia bekerja membantu ayahnya. Saat kota madinah berkembang, ia

mengabdikan diri merawat kaum muslimin yang sakit. Saat tidak terjadi

peperangan, Rufaidah membangun tenda diluar Masjid Nabawi untuk merawat

kaum muslimin yang sakit. Pada saat perang Badar, Uhud, Khandaq, dan perang

Khaibar Rufaidah menjadi sukarelawan dan merawat korban yang terluka akibat

perang. Ia mendirikan rumah sakit lapangan, sehingga Rasulullah SAW

memerintahkan korban yang terluka dirawat oleh Rufaidah. Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, Sr, 1998 dalam studi Paper Presented at the 3rd

International Nursing Conference “Empowerment and Health: An Agenda for

Nurses in the 21st Century” yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1-4

Nopember 1998, menggambarkan Rufaidah adalah perawat profesional pertama

dimasa sejarah islam. Beliau hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad

pertama Hijriah/abad ke-8 Sesudah Masehi, dan diilustrasikan sebagai perawat

teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah adalah seorang pemimpin,

organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain. Dan digambarkan

pula memiliki pengalaman klinik yang dapat diajarkan kepada perawat lain, yang

dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat

dalam aspek klinikal semata, namun juga melaksanakan peran komunitas dan

memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai

macam penyakit. Rufaidah adalah public health nurse dan social worker, yang

menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam.

Saat perang Badar, Uhud, Khandaq dan Perang Khaibar dia menjadi sukarelawan

dan merawat korban yang terluka akibat perang. Dan mendirikan Rumah sakit

lapangan sehingga terkenal saat perang dan Nabi Muhammad SAW sendiri

memerintahkan korban yang terluka dirawat olehnya. Pernah digambarkan saat

perang Ghazwat al Khandaq, Sa’ad bin Ma’adh yang terluka dan tertancap panah

di tangannya, dirawat leh Rufaidah hingga stabil.

Rufaidah melatih pula beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat, dan

dalam perang Khaibar mereka meminta ijin Nabi Muhammad SAW, untuk ikut di

garis belakang pertempuran untuk merawat mereka yang terluka, dan Nabi

mengijinkannya. Tugas ini digambarkan mulia untuk Rufaidah, dan merupakan

pengakuan awal untuk pekerjaaannya di keperawatan dan medis.

Konstribusi Rufaidah tidak hanya merawat mereka yang terluka akibat perang.

Namun juga terlibat dalam aktifitas sosial di komunitasnya. Dia memberikan

perhatian kepada setiap muslim, miskin, anak yatim, atau penderita cacat mental.

Dia merawat anak yatim dan memberikan bekal pendidikan. Rufaidah

digambarkan memiliki kepribadian yang luhur dan empati sehingga memberikan

pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasiennya dengan baik dan teliti.

Sentuhan sisi kemanusiaan adalah hal yang penting bagi perawat, sehingga

perkembangan sisi tehnologi dan sisi kemanusiaan (human touch) mesti

seimbang. Rufaidah juga digambarkan sebagai pemimpin dan pencetus Sekolah

Keperawatan pertama di dunia Isalam, meskipun lokasinya tidak dapat dilaporkan,

dia juga merupakan penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventif care)

dan menyebarkan pentingnya penyuluhan kesehatan (health education).

Sejarah islam juga mencatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah

seperti : Ummu Ammara, Aminah, Ummu Ayman, Safiyat, Ummu Sulaiman, dan

Hindun. Beberapa wanita muslim yang terkenal sebagai perawat adalah :

Ku’ayibat, Aminah binti Abi Qays Al Ghifari, Ummu Atiyah Al Ansariyat dan

Nusaibat binti Ka’ab Al Maziniyat. Litelatur lain menyebutkan beberapa nama

yang terkenal menjadi perawat saat masa Nabi Muhammad SAW saat perang dan

damai adalah : Rufaidah binti Sa’ad Al Aslamiyyat, Aminah binti Qays al

Ghifariyat, Ummu Atiyah Al Anasaiyat, Nusaibat binti Ka’ab Al Amziniyat,

Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata.

Ummu Ammara juga dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka’ab bin Maziniyat, dia

adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat

dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam

Perjanjian Aqabat dan perjanjian Ridhwan, dan andil dalam perang Uhud dan

perang melawan musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia

terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal dengan luka-lukanya. Dia

terlibat dalam perang Uhud, merawat korban yang luka dan mensuplai air dan

juga digambarkan berperang menggunakan pedang membela Nabi.

Sebagai tambahan pengetahuan, perkembangan keperawatan didunia islam atau

lebih tepatnya lagi di negara Arab Saudi dapat digambarkan sebagai berikut:

1.

Masa penyebaran islam /The Islamic Periode ( 570 – 632 M). Pada masa ini

keperawatan sejalan dengan peperangan yang terjadi pada kaum muslimin (Jihad).

Rufaidah Al-Asalmiya adalah perawat yang pertama kali muncul pada mas ini.

  • 2. Masa setelah Nabi / Post Prophetic Era (632 – 1000 M). Pada masa ini lebih

didominasi oleh kedokteran dan mulai muncul tokoh-tokoh kedokteran islam

seperti Ibnu Sinna, Abu Bakar Ibnu Zakariya Ar-Razi (dr. Ar-Razi).

  • 3. Masa pertengahan/ Late to Middle Age (1000 – 1500 M). pada masa ini negara-

negara arab membangun rumah sakit dengan baik, pada masa ini juga telah

dikenalkan konsep pemisahan antara ruang rawat laki-laki dan ruang rawat

perenpuan. Juga telah dikenalkan konsep pasien laki-laki dirawat oleh perawat

laki-laki dan pasien perempuan dirawat oleh perempuan.

Sejarah Islam juga mencatat beberapa nama yang bekerjasama dengan Rufaidah,

seperti:

Ummu Ammara Aminah Ummu Ayman Safiyat Ummu Sulaiman Hindun Ada juga beberapa muslim yang terkenal sebagai perawat adalah:

Ku’ayibat Aminah binti Abi Qays Al Ghifari Ummu Atiyah Al Ansariyat Nusaibat binti Ka’ab Al Maziniyat

Ummu Ammara dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka’ab bin Maziniyat. Dia

adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat

dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam

Perjanjian Aqabat dan Perjanjian Ridhwan juga andil dalam Perang Uhud dan

perang melawan Musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia

terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal dengan luka-lukanya. Dia

juga terlibat dalam Perang Uhud, merawat korban yang terluka dan menyuplai air

juga digambarkan berperang menggunakan pedang untuk membela Nabi. Dalam bidang lain, tersebutlah nama Asy-Syifa’ binti Al-Harits. Asy-Syifa’

termasuk wanita cerdas yang dikenal sebagai guru dalam membaca dan menulis

serta ahli ruqyah (pengobatan) sebelum datangnya Islam. Sesudah memeluk

Islam, dia tetap memberikan pengajaran kepada kaum perempuan. Oleh karena

itu, dia disebut sebagai guru (ulama) wanita pertama dalam Islam. Di antara

muridnya bernama Hafshah binti Umar bin Khattab. Kesibukan mengurus suami

dan mendidik seorang anak tidak membuat Asy-Syifa’ lupa untuk menuntut ilmu

hadis kepada Rasulullah, kemudian menyebarkannya sembari menyelipkan

nasehat-nasehat bagi umat Islam. Bahkan, Khalifah Umar bin Khattab sering

meminta pendapat Asy-Syifa’ tentang urusan agama dan dunia. Lain Asy-Syifa’ lain Ummu Hani’. Selain pandai berdiplomasi, Ummu Hani’

binti Abi Thalib Al-Hasyimiyyah kesohor sebagai penunggang unta yang hebat,

periwayat dan pengajar hadis hingga akhir hidupnya. Ummu Hani’ mengerti betul

tugasnya selaku istri yang mengagungkan hak-hak suami dan mengasuh keempat

anaknya. Baginya, mengurus mereka membutuhkan perhatian yang menyita

waktu banyak. Karena itu, dia tak ingin menyia-nyiakan satu pun dari keduanya,

hingga dia mendapatkan pujian yang begitu mulia dari Rasulullah sebagai

perempuan penyayang keluarga. Pada saat yang sama, Ummu Hani’ pun tidak

lupa berperan di tengah masyarakat. Jasa Hafshah binti Umar bin Khattab juga tidak boleh diremehkan. Dia

memiliki keberanian, kepribadian kuat dan ucapannya tegas. Kelebihan lainnya

berupa kepandaian dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan

tersebut belum lazim dimiliki kaum perempuan. Bahkan, dia satu-satunya istri

Rasulullah yang pandai membaca dan menulis. Atas dasar hal tersebut, Hafshah

sebagai orang yang pertama kali diperintahkan oleh khalifah Abu Bakar Siddiq

untuk mengumpulkan tulisan ayat-ayat Al-Quran yang masih berserakan di

banyak tempat pada lembaran kulit, tulang dan pelepah kurma sekaligus

menyimpan dan memeliharanya. Mushaf asli Al-Quran itu berada di rumah

Hafshah hingga dia meninggal dunia. Ketika Rasulullah mengalami rintangan dan gangguan dari kaum kafir Quraisy,

makaKhadijah Binti Khuwailid selalu berada di sampingnya untuk

menenangkan sekaligus menyenangkan hatinya yang gundah. Khadijah juga

mendukung perjuangan suaminya dengan sepenuh jiwa raga dan menyerahkan

seluruh harta benda yang dimilikinya. Sebagai pebisnis muslimah sukses yang

dermawan, wanita terbaik di dunia ini memang setia, taat dan sayang kepada

suami dan anak-anaknya. Khadijah selalu menyiapkan makanan, minuman dan

segala keperluan Rasulullah serta mendidik putra putrinya dengan teladan dan

penuh kesadaran. Kisah lebih heroik terjadi pada Ummu ‘Umarah. Ummu ‘Umarah bersama suami

dan kedua putranya ikut dalam Perang Uhud yang berlangsung dahsyat. Ketika

pasukan kaum muslimin tercerai berai, Ummu ‘Umarah justru mendekati

Rasulullah, bermaksud melindungi di depannya dengan menggunakan pedang.

Namun, Ummu ‘Umarah beberapa kali terkena sabetan pedang yaang ditebarkan

pasukan musuh. Luka yang paling besar terdapat di pundaknya, karena ditikam

Ibnu Qami’ah, hingga dia harus mengobati luka itu setahun lamanya. Pada masa

khalifah Abu Bakar Siddiq, Ummu ‘Umarah juga ikut memerangi Musailamah Al-

Kadzdzab yang mengaku nabi. Di sinilah Ummu ‘Umarah terpotong tangannya

dan kehilangan seorang putranya yang terbunuh.

SEJARAH KEPERAWATAN DUNIA TENTANG RUFAIDAH AL-ASALMIYA

Disusun Oleh :
Disusun Oleh :

Kelompok 7 Munifa Tasbi Nur Aini Fadliati Zahra Moh. Rajab Syam Moh. Nizar Rahmat

POLTEKKES KEMENKES PALU JURUSAN KEPERAWATAN PALU PRODI DIII KEPERAWATAN T.A 2015 - 2016