Anda di halaman 1dari 30

JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT NEUROLOGIK dan

NEUROMUSKULER TERHADAP TUBUH


(Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Farmakologi Keperawatan)

OLEH :
KELOMPOK IV :
1. EMILIUS DAY LENA
2. HANGRY B. NAWAMATARA
3. RUT NOMLENI

NIM : (01.11.00486)
NIM : (01.11.00489)
NIM : (01.11.00514)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


CITRA HUSADA MANDIRI KUPANG
TAHUN AJARAN
2012 / 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami juga tak lupa ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk penyempurnaan
makalah ini karena kami merasa bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.

Kupang, September 2012

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Neurologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang susunan sistem saraf pada
tubuh makhluk hidup. Sistem saraf dalam melakukan fungsinya menyampaikan informasi
yang diperoleh dari lingkungan kepada pusat susunan saraf dan sebaliknya untuk
menanggapi perubahan atau situasi lingkungan tersebut oleh organ sasaran tertentu dalam
memerlukan rangkaian sel-sel saraf. Maka agar informasi atau pesan untuk organ sasaran
tidak berubah kualitasnya, hubungan antara sel-sel saraf yaitu sinapsis sangatlah penting.
Adanya struktur sinapsis yang khas dilengkapi dengan kemampuan saraf menghasilkan
substansi yang disebut neurotransmiter. Serta adanya reseptor khusus untuk neurotransmiter
pada sel saraf yang harus meneruskan pesan, sangat mendukung akan arti penting hubungan
antara sel saraf ataupun dengan sel-sel sasaran.
Namun demikian, untuk mempertahankan fungsinya susunan saraf tidak berdiri sendiri,
melainkan diperlukan jenis sel lain yang bertindak sebagai mitra. Hubungan dengan sel-sel
neuroglia yang bertindak sebagai mitra tersebut demikian eratnya sehingga merupakan suatu
kesatuan fungsional. Dengan demikian gangguan yang menimpa sel-sel neuroglia tentu saja
akan mempengaruhi fungsi susunan saraf.
Terdapat obat-obatan yang memiliki pengaruh spesifik terhadap sistem saraf.
Obat-obatan yang memiliki manfaat langsung terhadap Agen-agen neurologik dan
neuromuskular memiliki beberapa pengelompokan obat-obatan. Yakni penggolongan dalam
Sistem Saraf Pusat: Perangsang Sistem Saraf Pusat, Penekan Sistem Saraf Pusat,
Anelgesik Narkotik dan Nonnarkotik, Antikonvulsi, Antipsikotik, Antiansietas dan
Antidepresi. Dan penggolongan dalam Sistem Saraf Otonom: Adrenergik dan Penghambat
Adrenergik, serta Kolinergik dan Antikolinergik. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan
dijelaskan bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja, dan efek samping dari agen obat-obatan
neurologik dan neuromuskular.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat perangsang
sistem saraf pusat?

2. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat penekan sistem
saraf pusat?
3. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat analgesik
narkotik dan analgesik nonnarkotik?
4. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat antikonvulsi?
5. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat anti psikotik,
anti ansietas, dan anti depresi?
6. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat susunan saraf
otonom?
7. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat adrenergik dan
penghambat adrenergik?
8. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat kolinergik dan
antikolinergik?
9. Bagaimana jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat untuk kelainan
neuromuskular : parkinsonisme, miastenia gravis, spasme otot?
1.3 TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat
neurologik dan neuromuskular terhadap tubuh.
2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui
jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat
perangsang sistem saraf pusat.
2. Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat penekan
sistem saraf pusat.
3. Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat analgesik
narkotik dan analgesik nonnarkotik
4. Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat
antikonvulsi.
5. Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat anti
psikotik, anti ansietas, dan anti depresi.
6. Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat susunan
saraf otonom.
7. Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat adrenergik
dan penghambat adrenergik.
8. Mengetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat kolinergik
dan antikolinergik.

9. Megetahui jenis-jenis, mekanisme kerja dan efek samping dari obat-obat untuk
kelainan neuromuskular : parkinsonisme, miastenia gravis, spasme otot.

BAB II
PEMBAHASAN

A. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT PERANGSANG


SISTEM SARAF PUSAT
Informasi dan Kerja secara umum : Stimulan Sistem Saraf Pusat ini meningkatkan
kadar neurotransmiter dalam sistem tersebut. Agen ini menghasilkan stimulasi Sistem

Saraf Pusat dan pernapasan, dilatasi pupil, peningkatan aktivitas motorik dan
kewaspadaan mental, mengurangi keletihan, dan meningkatkan semangat.
1. Amfetamin dan obat-obat seperti amfetamin
a. Amfetamin
Mekanisme Kerja
Amfetamin adalah simpatomimetik amina yang merangsang sistem saraf
pusat,

mungkin

dengan

meningkatkan

kerja

sinap

melepaskan

neurotransmiter, norepinefrin, dan dopamin, dari otak dan sitem saraf


simpatis. Waktu paruh dari amfetamin bervariasi dari 4-30 jam. Amfetamin
dieksresikan lebih cepat pada urin yang asam dari pada urin yang basa, karena
jika terjadi toksisitas SSP atau toksisitas jantung maka dengan menurunkan
pH urin akan membantu eksresi obat. Urin yang asam mengurangi paruh
waktu dari amfetamin.
OBAT
Amfetamin
Amfetamin

DOSIS
sulfat D: 5-20 mg, q.d sampai t.i.d

(benzedrine)

PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN


Untuk

narkolepsi,

gangguan

penurun

A > 6 th: 2,5-5 mg, sehari untuk perhatian (GPP). Dosis harus minimal
GPP; naikkan dosis jika perlu.

untuk mengendalikan gejala-gejala pada


GPP. Toksisitas SSP dan jantung dapat
terjadi.
Sama seperti benzedrine, telah dipakai

Dekstroamfetamin

Sama seperti benzedrine.

sulfat (dexedrine)
Metamfetamin

untuk obesitas dan narkolepsi.


A: 2,5-5 mg, sehari; naikan Untuk GPP. Dapat menimbulkan toksisitas

hidroklorida (desoxyn)

sampai 20 mg, jika perlu

SSP dan jantung.

b. Obat-Obat Seperti Amfetamin


Dan obat-obat seperti amfetamin digunakan untuk mengatasi narkolepsi
(dimana paralisis tidur biasanya turut menyertai narkolepsi dan mempengaruhi
otot-otot volunter sehingga orang tersebut tidak dapat bergerak atau mungkin
pingsan), dan Gangguan Penurunan Perhatian (GPP) yang paling sering
terjadi pada anak-anak.
Pada GPP, anak mungkin menunjukan kooordinasi yang buruk, dan
mungkin ditemukan EEG yang abnormal. Kelainan ini juga dikenal sebagai
disfunsi otak minimal, hiperaktivitas pada anak, hiperkinesia, dan sindrom

hiperkinetik dengan gangguan belajar. Dua obat seperti amfetamin;


metilfenidat (ritalin), dan pemolin (cylert) biasanya lebih sering diresepkan
untuk mengobati GPP dibandingkan amfetamin karena insiden efek
sampingnya lebih rendah.
OBAT
DOSIS
Obat-obat yang seperti
amfetamin
Metilfenidat (ritalin)

A: 5 mg, b.i.d, naikan jika


perlu, tidak > 60 mg

PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN

Untuk GPP pada anak. Dosis sinaikan tiap


minggu

sampai

gejala-gejala

berkurang.

Absorbsi dipengaruhi oleh makanan.


D: 10-60 mg, sehari
Untuk narkolepsi
A > 6 th: 37,5 mg sehari dan Untuk GPP pada anak. Kurang kuat dan efek

Pemolin (cylert)

dinaikan setiap minggu

sampingnya lebih sedikit dibandingkan dengan

Rata-rata 50-75 mg/hari

Desoxyn dan Ritalin.

Efek samping dan reaksi merugikan :


Amfetamin menyebabkan euforia dan kesiagaan; tetapi juga
mengakibatkan tidak dapat tidur, gelisah, tremor, dan iritabilitas. Masalahmasalah kardiovaskular, seperti meningkatnya denyut jantung, palpitasi,
aritmia jantung, dan meningkatnya tekanan darah, dapat timbul pada
pemakaian yang terus menerus dari amfetamin.
Amfetamin dapat menimbulkan efek-efek

buruk

pada

SSP,

kardiovaskular, gastrointestinal, dan endokrin. Efek samping dan reaksi yang


merugikannya adalah gelisah, insomnia, takikardia, hipertensi, palpitasi
jantung, mulut terasa kering, anoreksia, berat badan turun, diare atau
konstipasi, dan impoten.
2. Analeptik
Merupakan Perangsang SSP, terurtama mempengaruhi batang otak dan
medulla spinalis, tetapi juga memengaruhi korteks serebri. Penggunaan utama
dari analeptik adalah untuk merangsang pernapasan. Salah satu kelompok bagian
dari analeptik adalah santin (metilsantin), di mana obat utamanya adalah kafein
dan teofilin. Tergantung dari dosisnya, kafein merangsang SSP dan dosis tinggi
merangsang pernapasan. Bayi baru lahir dengan distres pernapasan dapat

diberikan kafein untuk meningkatkan pernapasan. Teofilin terutama dipakai untuk


merelaksasi bronkiolus, tetapi pernah dipakai untuk meningkatkan pernapasan
pada bayi baru lahir.
OBAT
Metilsantin(kelompok

DOSIS

santin)
Kafein (tablet)

PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN

Bayi dan A: 5-10 mg/kg Diapakai untuk bayi baru lahir dengan apnea
pada

hari

pertama; untuk merangsang pernapasan; meningkatkan

kemudian 2,5 mg/hari

denyut jantung, dan TD. Diberikan melalui

selang nasogastrik, intramuskular dan intravena.


Bayi: 5 mg/kg pada hari Dipakai untuk bayi baru lahir dengan apnea

Teofilin

pertama;

kemudian

2 untuk

merangsang

pernapasan.

Diberikan

mg dalam 2-3 dosis


Obat-obat bebas (NoDoz, D : 100-200 mg

melalui selang nasogastrik.


Memulihkan kesiagaan mental. Mengandung

Tirend)

kafein sitrat. Kopi mengandung 60-140 mg

Kopi
Perangsang pernapasan
Doxapram (dopram)

kafein per cangkir.


0,5-1 mg/kg IV; 1-2 Dipakai hanya pada orang dewasa untuk
mg/menit infus

penyakitk

pernapasan

obstruktif

menahun

Kerja cepat

(PPOM). Dipakai dalam pengobatan overdosis


sedatif-hipnotik untuk memperbaiki depresi
pernapasan. Dapat meningkatkan TD.

Efek samping dan reaksi yang merugikan


Efek samping dari kafein adalah gugup, gelisah, tremor, kedutan,
palpitasi, dan insomnia. Efek samping lainnya adalah diuresis, iritasi
gastrointestinal (mual,diare), dan kadang-kadang tinitus. Kafein dengan
jumlah > 500 mg akan mempengaruhi SSP dan jantung. Kafein dosis
dalam kopi, coklat, obat pelega gejala-gejala flu dapat menimbulkan
ketergantungan psikologis. Waktu paruh dari kafein adalah 3,5 jam; tetapi
metabolismenya diperlambat dan waktu paruhnya diperpanjang penyakit
hati dan kehamilan. Kafein merupakan kontraindikasi selama kehamilan
karena efeknya pada janin tidak diketahui.

B. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT PENEKAN


SISTEM SARAF PUSAT
Obat-obat penekan SSP menimbulkan depresi ( penurunan aktivitas fungsional)
dalam berbagai tingkat depresi yang tertergantung dari jenis dan jumlah obat yang
dipakai pada SSP. Klasifikasi besar dari penekan SSP adalah sedatif-hipnotik, anestetik
umum dan lokal, analgesik narkotik, antikonvulsi, antipsikotik, dan anti depresan.
1. SEDATIF-HIPNOTIK
Bentuk yang paling ringan dari penekanan SSP adalah sedasi, dimana penekan
SSP tertentu dalam dosis yang lebih rendah dapat menghilangkan respons fisik dan
mental tetapi tidak mempengaruhi kesadaran. Sedatif terutama dipakai pada siang
hari. Peningkatan dosis dapat menimbulkan efek hipnotik-bukan hipnosis, tetapi suatu
bentuk alami dari tidur. Obat-obat sedatif hipnotik seringkali merupakan yang sama;
tetapi , obat-obat tertentu dipakai lebih sering untuk meningkatkan efek hipnotiknya.
Dalam dosis yang tinggi, obat-obat sedatif hipnotik akan mencapai anestesi misalnya
barbiturat.
Ada hipnotik dengan masa kerja singkat dan hipnotik dengan masa kerja sedang.
Hipnotik dengan masa kerja singkat merupakan hipnotik yang ideal dan berguna
supaya dapat tidur kerena memungkinkan klien untuk bangun pada pagi hari tanpa
mengalami efek samping sulit untuk bangun tidur. hipnotik dengan masa kerja sedang
berguna untuk mepertahankan tidur; tetapi setelah memakai obat ini klien mungkin
mengalami rasa kantuk yang tersisa (hangover) pada pagi hari.
OBAT
Kloral hidrat (noctec)

DOSIS
S: 250 mg, t.i.d
H: 0,5-1 g/jam

PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN


Untuk sedatif atau tidur. Tidak ada hangover dan
lebih sedikit terjadi depresi pernapasan. Diberikan
sama-sama dengan makanan/cairan untuk mencegah

Paraldehida (paral)

iritasi lambung
5-10 ml, dalam sari Dikeluarkan melalui paru-paru. Kini jarang dipakai;
buah-buahan
susu.

Barbiturat
*Masa Kerja Singkat
Pentobarbital (nembutal)

atau pernah dipakai untuk mengendalikan dellirium


Tremens DTs

S:20-30 mg, t.i.d.


Untuk sedatif dan tidur. Mulai kerja 15-30 menit;
H:100 mg, PO,h.s.,
lama kerja 3-6 jam. Dapat dipakai untuk
150-200 mg,IM
menimbulkan anestesi umum.

Sekobarbital(seconal)

S:30-50 mg, t.i.d.


Untuk sedasi dan tidur. Mulai kerja 15-30 menit;
H:100-200 mg, h.s.,
lama kerja 3-6 jam. Juga untuk sedasi preanestetik.
dan IM
A:3-5 mg/kg, tidak

lebih dari 100 mg.


*Masa Kerja Sedang
Natrium
amobarbital S: 30-50 mg, t.i.d.
Untuk sedasi dan tidur. Mulai kerja 45-60 menit;
H:60-200 mg, h.s.
(amytal sodium)
lama kerja 6-10 jam.
dan IM
A:2
mg/kg/hari
Aprobarbital (alurate)
Butabarbital (butasol)

dalam dosis terbagi 3


S:40 mg, t.i.d
Untuk sedasi dan tidur.
H:40-160 mg, h.s
S:15-30 mg, t.i.d
Untuk sedasi dan tidur.
A:6 mg/kg/hari atau
180

mg/m2

dalam

dosis terbagi 3
H:50-100mg,h.s
Hipnotik Benzodiazepin
Flurazepam (dalmane)
H:15-30 mg, h.s

Untuk insomnia. Mula kerja cepat, lama kerja

Temazepam (restoril)

H:15-30 mg, h.s

panjang. Waktu paruh (t) panjang.


Untuk insomnia. Waktu paruh 10 jam. Untuk orang

Triazolam (halcion)

H:0,125-0,5 mg, h.s

lanjut usia: 15 mg.


Untuk insomnia. t pendek. Untuk orang lanjut

Lorazepam (ativan)

H:2-4 mg, h.s

usia: 0,125-0,25 mg.


Untuk
antiansietas

dan

insomnia.

Dapat

menyebabkan rasa mengantuk yang tersisa.


Piperidion
Glutetimid (doriden)

H:250-500 mg, h.s.

Untuk insomnia. Mirip barbiturat. Hati-hati dalam


pemakaian; penyakit ginjal dan depresi mental.
Hentikan obat secara bertahap untuk mencegah

Metiprilon (noludar)

H:200-400 mg, h.s.

timbulnya gejal-gejala putus obat.


Untuk insomnia. Hentikan obat secara bertahap
untuk mencegah timbulnya gejal-gejala putus obat.

Sedatif

Hipnotik

Lainnya
Etklorvinol (placidyl)

S:100-200 mg, b.i.d


H:0,5-1 g, h.s.

Untuk sedasi dan tidur. Cepat diabsorbsi dan


diberikan bersama makanan/cairan. Hati-hati dalam

pemakaian;

penyakit

ginjal/hati,

dan

penyalahgunaan obat.

EFEK SAMPING
Hangover

Efek samping dan reaksi yang merugikan pada Sedaptif-Hipnotik :


PENJELASAN
Rasa kantuk yang tersisa ; mengakibatkan kerusakan waktu reaksi. Hipnotik
dengan masa kerja sedang dan panjang seringkali menimbulkan hangover obat.
Hati membiotransformasi obat-obat ini menjadi metabolit aktif yang menetap
dalam tubuh, sehingga menimbulkan rasa kantuk.
REM rebound, yang mengakibatkan mimpi yang jelas dan mimpi yang buruk,

REM rebound

seringkali terjadi setelah memakai hipnotik dalam jangka waktu lama dan
kemudian tiba-tiba berhenti. Tetapi, ini juga dapat terjadi setelah hanya memakai 1
dosis hipnotik.
Ketergantungan adalah akibat dari penggunaan hipnotik yang kronis. Dapat timbul

Ketergantungan

ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik tampak pada gejalagejala putus obat yang khas jika obat dihentikan setelah pemakaian jangka
panjang.
Timbul ketika diperlukan dosis yang lebih tinggi dari waktu ke waktu untuk

Toleransi

mencapai efek yang di inginkan.


yang Pemakaian hipnotik jangka panjang dapat menimbulkan depresi, yang di tandai

Depresi
berlebihan

dengan keletihan, kantuk, kurang konsentrasi, kebingungan dan depresi

Depresi pernapasan
Reaksi

psikologis.
Sedatif-hipnotik dosis tinggi dapat menekan pusat pernapasan pada medulla.
Ruam kulit dan urtikaria dapat timbul pada pemakaian barbiturat. Reaksi seperti

hipersensitifitas

ini jarang terjadi.

2. Anestetik
Diklasifikasikan ke dalam anestesi umun dan lokal. Anestesi umum menekankan
Sistem saraf pusat, mengurangi nyeri, dan menyebabkan hilangnya kesadaran.
Anestesi lokal digunakan untuk menghilanhkan sakit pada tempat dimana obat akan
diberikan dan kesadaran tetap dipertahankan.
Saat ini digunakan anestesi seimbang yakni anestesi dari kombinasi obat-obatan,
terdiri dari:
Hipnotik diberikan semalam sebelumnya.

Premedikasi, seperti anelgesik narkotik atau benzodiazepin dan antikolinergik

untuk mengurangi sekresi diberikan kira-kira 1 jam sebelum pembedahan.


Barbiturat dengan masa kerja singkat seperti natrium tiopental
Gas inhalan, seprti nitrous oksida dan oksigen.
Pelemas otot jika perlu.

C. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT ANALGESIK


NARKOTIK dan NON NARKOTIK
Analgesik, baik narkotik maupun nonnarkotik diresepken untuk meredakan nyeri;
pilihan obat tergantung dari beratnya nyeri. Nyeri ringan sampai sedang dari otot rangka
dan sendi seringkali diredakan dengan pemakaian analgesik nonnarkotik. Nyeri sedang
sampai berat pada otot polos, lorgan dan tulang biasanya membutuhkan analgesik
narkotik.
1. Analgesik Narkotik
Analgesik narkotik disebut juga agonis narkotik, bekerja terutama pada sistem
saraf pusat. Narkotik tidak hanya menekan rangsang nyeri tetapi juga menekan
pernapasan dan batuk dengan bekerja pada pusat pernapasan dan batuk pada medulla
dibatang otak. Pemakaian analgesik narkotik adalah kontraindikasi bagi pasien yang
cedera kepala.
NARKOTIK
Morfin

DOSIS
PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN
IM, IV: 5-15 mg, Narkotik kuat untuk nyeri yang berat. Morfin
setiap 4 jam, PRN

diberikan secara IV untuk meredakan nyeri jantung


akibat infark miokardium.
ES:
menimbulkan
depresi

pernapasan,

ketergantungan fisik, hipotensi, ortostatik, dan


konstipasi. Dapat menyebabkan mual muntah
Kodein

akibat bertambahnya kepekaan vestibular.


15-60 mg, setiap 4-6 Efektif untuk nyeri yang ringan sampai sedang.
jam, PRN

Dapat dipakai bersama nonnarkotik (asetaminofen)


untuk meredakan nyeri. Mempunyai efek antitutif.
ES: memperlambat pernapasan, ketergantungan

Hidromorfin (dilaudid)

fisik, dan konstipasi.


PO, SK, IM, IV, dan Untuk nyeri berat. 5-10 x lebih kuat dari morfin.
PR: 2-4 mg, setiap 4- Efektif mengendalikan nyeri pada kanker terminal.
ES: memperlambat pernapasan dan konstipasi.
6 jam, PRN.

Oksikodon
percodan)
Levorfanol

(percotet PO: 5 mg, setiap 4-6 Untuk nyeri sedang-berat.


ES: dapat menimbulkan iritasi lambung jika tidak
jam,PRN
dipakai bersama makanan atau banyak cairan.
tartrat (levo- PO, SK: 2 mg, setiap Untuk nyero sedang-berat. ES: serupa dengan

dromoran)
Meperidin (demerol)

6-8 jam, PRN


morfin.
PO,IM: 50-100 mg, Untuk nyeri sedang.
ES: menurunkan tekanan darah dan menimbulkan
setiap 3-4 jam, PRN
pusing. Pada cedera kepala dapat meningkatkan

Propoksifen (darvon)

65
beda)

mg

TIK.
(berbeda- Untuk nyeri ringan, analgesik rendah.
ES: tidak menimbulkan konstipasi dan sedikit
menimbulkan ketergantungan fisik.

Efek samping dan reaksi yang merugikan :


Yang paling penting dari efek samping dari analgesik narkotik
adalah depresi pernapasan, hipotensi ortostatik, takikardia, mengantuk,
mental berkabut, konstipasi, dan retensi urin. Juga konstriksi pupil,
toleransi, dan ketergantungan psikologis serta fisik dapat terjadi pada
penggunaan jangka panjang.
Peningkatan metabolisme

narkotik

menyebabkan

terjadinya

toleransi, sehingga diperlukan dosis narkotik yang lebih tinggi. Jika


pemakaian kronik darin narkotik dihentikan, gejala-gejala putus obat
(sindroma abstinensi) biasanya terjadi dalam 24-48 jam setelah
pemakaian narkotik terakhir dan disebabkan oleh ketergantungan fisik.
Iritabilitas, diaforesis, gelisah, kedutan otot, serta meningkatnya denyut
jantung dan tekanan darah adalah contoh dari gejala-gejala putus obat.
Gejala-gejala putus obat akibat narkotik paling tidak menyenangkan tapi
tidak sampai mengancam jiwa sepertyi gejal-gejala putus obat akibat
hipnotik-sedatif suatu proses yang dapat menyebabkan kejang.
2. Analgesik Non Narkotik
Analgesik nonnarkotik dapat dibeli bebas, tidak bersifat adaktif dan kurang kuat
dibandingkan analgesik narkotik. Bekerja pada reseptor nyeri di sistem saraf tepi.
Obat-obat ini efektif untuk nyeri tumpul pada sakit kepala, dismenore, nyeri pada
inflamasi, abrasi minor, nyeri otot, dan arthtritis ringan sampai sedang.

OBAT

DOSIS

PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN


PEMAKAIAN

Salisilat
Aspirin (ecotrin, anacin PO:
dalam bentuk buffer)

325-650

mg,

q4-6 Efektif dalam meredakan sakit kepala, nyeri

jam/hari (sakit kepala, pegal otot inflamasi dan nyeri pada arthritis, dan
dan nyeri otot), 1 g, 4-6 sebagai antikoagulan ringan.
Efek samping: tidak enak pada lambung, tinitus,
x/hari(inflamasi)
vertigo, tuli (reversibel), bertambahnya

Diflunisal (dolobid)

Mula-mula 1000 mg
PO:500 mg, 2-3 x/hari

perdarahan.
Dipakai u/ nyeri ringan-sedang.
Dianggap kurang toksik dibandingkan dengan
aspirin.

NSAID Asam Propionat


Ibuprofen (motrin, advil, PO: 200-600 mg, 3 x/hari Untuk pegal dan nyeri otot ringan-sedang.
Efek samping: tidak enak pada lambung tapi
nuprin, medipren)
(pegal dan nyeri)
lebih ringan dari aspirin.
Para-aminofenol
Asetaminofen (tylenol, PO: 325-650 mg, q.i.d
Pada nyeri ringan-sedang. Tidak menyebabkan
panadol)

rasa tidak enak pada lambung atau menggangu


agregasi platelet.
Efek samping: hepatotoksisitas hati dalam dosis
tinggi.

D. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT ANTIKONVULSI


Obat-obat Antikonvlusi biasanya dipakai untuk mengobati epilepsi/kejang.
Antikonvlusi biasanya dipakai seumur hidup. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin
menghentikan antikonvlusi jika dalam waktu 3-5 tahun terakir tidak lagi terjadi serangan
kejang.
OBAT
Hidantoin:

DOSIS

PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN


PEMAKAIAN
ES: Hiperplasia gingiva, atau pertumbuhan
jaringan gusi yang berlebihan, efek neurologis
dan psikologis, seprti sukar bicara, bingung,
depresi, dan trombositopenia, serta leukimia. Dlm
jangka panjang: hiperglikemia akibat inhibisi obat

terhadap pelepasan insulin. Es yang lebih ringan:


*Fenitoin (dilantin)

mual, muntah, konstipasi dan sakit kepala.


D: PO: 100 mg, t.i.d.; IV: dosis Serangan kejang tonik-tonik (grand-mal) dan
pembeban 10-15 mg/kg; infus psikomotor. Reaksi yang merugikan berupa
IV 50 mg/menit. Maksimum hiperplasia gingiva dan efek pada SSP.
300 mg/hari.
A: 4-8 mg/kg/hari dalam dosis

*Mefenitoin

terbagi.
D: PO: mula-mula 50-100 mg; Serangan kejang grand-mal, psikomotor, fokal

(mesantoin)

100-200 mg, t.i.d

(simpel)

A:mula-mula 50-100 mg; 100400


*Etotoin (peganone)

mg/hari

dalam

dosis

terbagi.
D:PO: 1-3 g/hari dalam dosis Serangan grand-mal, psikomotor.
terbagi
A:0,5-1 g/hari

Barbiturat:
*Fenobarbital

ES: lebih ringan dari fenitoin.


D:PO: 100-200 mg/hari dalam Kategori kehamilan dewasa. Hindari sebisa

(luminal)

dosis terbagi

mungkin.

Mefobarbital

D:PO:400-600 mg/hari

psikomotor: status epileptikus.


Serangan kejang grand-mal dan petit mal

(mebaral)

A:PO: 6-12 mg/kg/hari dalam (absence)

Serangan

kejang

grand-mal

dosis terbagi atau


>5 tahun: 32-64 mg, t.i.d atau
q.i.d.;
<5 tahun: 16-32 mg, t.i.d. atau
Primidon (mysoline)

q.i.d
A: PO: 125-250 mg, b.i.d Erat berkaitan dengan barbiturat
sampai q.i.d
A:O:,<8 tahun: dosis dewasa

Suksinimid
Etosksimid

D:PO:250 mg, b.i.d., naikan Serangan kejang petit-mal (absence).

(zarontin)

dosis bertahap
A:3-6 tahun: PO:250 mg/hari

dan

Metsuksimid

D&A:PO:dosis

awal

300 Serangan kejang petit-mal (absence) jika refrakter

(celontin)

mg/hari selama 1 minggu; dapat terhadap obat lain. Sering terjadi toksisitas. Lebih

Fensuksimid

ditingkatkan dalam interval


sering daripada etosuksimid
D&A:PO:0,5-1 g, b.i.d atau t.i.d Serupa dengan metsuksimid

(milontin)
Oksazolidon
Trimetadion

D: PO: 300-600 mg, t.i.d atau Serangan kejang petit-mal (absence). Jarang

(tridion)

q.i,d

dipakai, hindari pemakaian saat hamil.

A: PO: 13 mg/kg, t.i.d., atau


335 mg/m2, t.i.d., atau 300-900
Parametadion

mg/hari dalam dosis terbagi


Sama seperti trimetadion

(paradion)
Benzodiazepin
(antiansietas)
Klonazepam

D:PO:0,5-1 mg, t.i.d secara Petil-mal, mioklonus, dan status epileptikus.

(klonopim)

bertahap naikan dosis setiap 3 ES: toleransi setelah 6 bulan terapi obat.
hari saapai kejang dikendalikan
A:PO:0,01-0,03

mg/kg/hari,

Nitrazepam

naikan dengan bertahap


D : 1 mg/kgBB sehari

(tranxene)
Diazepam (valium)

terapi tambahan.
D: IV:5-10 mg, 2-5 mg/menit; q Status epileptikus (obat pilihan). Pemakaian
2-4 jam,PRN

Serangan kerja parsial. Dapat dipakai sebagai

parenteral untuk status epileptikus.

IM: 5mg
A:IV: 1 mg selama 3 menit
Iminostilben
Karbamazepin

D:PO:200

(tegretol)

ditingkatkan jika perlu

mg,

b.i.d

dosis Serangan kejang grand-mal, psikomotor dan


campuran. Dipakai u/ mengobati serangan kejang

A:PO:10-20 mg/kg/hari dlam yang tidak berespon terhadap antikonvulsi lain.


dosis terbagi
Valproat
Asam valproat

ES: hepatotoksisitas
D&A:PO: 15 mg/kg sampai Serangan
kejang

grand-mal,

dengan 60 mg/kg/hari dalam psikomotor,

dan

mioklonik.

dosis terbagi.

tiap

minggu

ditingkatkan

petit-mal,

Dosis
sebanyak

dapat
5-10

mg/kg/hari

sampai

seranagan

kejang

dapat

dikendalikan. Hindari selama kehamilan.

E. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT ANTIPSIKOTIK,


ANTI ANSIETAS, dan ANTI DEPERSI
1. Antipsikotik
Merupakan kelompok obat terbesar yang dipakai untuk mengobati gangguan
mental. Secara khusus obat-obat ini memperbaiki proses pikir dan perilaku klien
dengan gejala-gejala psikotik, khususnya bagi penderita skizofrenia. Teorinya
adalah

bahwa

gejala-gejala

psikotik

diakibatkan

oleh

ketidaksimbangan

neurotransmiter, dopamin, pada otak.


Antipsikotik dibagi dalam 4 kelas: fenotiazin, tiosantin, butirofenon, dan
dibenzodiazepin.
OBAT

DOSIS

PEMAKAIAN dan PERTIMBANGAN


PEMAKAIAN

Feotiazin Alifatik
Klorpromazin

25 mg, t.i.d untik mulai dan Fektif untuk psikosis akut. Efek sedasi

hidroklorida (thorazine)

tingkatkan

secara

bertahap. kuat.

Maksimum 1000 mg/hari


Promazin

Dapat

menimbulkan

hipotensi

ortostatik. Juga dipakai untuk cegukan


yang tidak mau berhnti.
Untuk
psikosis.
Hati-hati:

hidroklorida D:PO: 10-200 mg, q 4-6 jam

(sparine)
Triflupromazin (vesprin) D:PO: 10-50 mg, b.i.d atau t.i.d

dapat

menimbulkan hipitensi ortostatik


Sama seperti promazin hidroklorida.

IM: 60-150 mg/hari


Piperazin
Proklorperazin

maleat D:PO: IM: 5-10 mg, t.i.d atau q.i.d; Untuk

perilaku

psikotik

ringan.

(compazine)

tidak melebihi 40 mg/hari

Antiemetik yang efektif. Lebih sedikit

Perfenazin (trilafon)

menimbulkan sedasi dan hipotensi.


D:PO: 4-16 mg, b.i.d atau t.i.d atau Sama seprti proklorperazin. Dipakai
q.i.d

sebelelum pemberian kemoterapi untuk


mencegah mual.
Untuk psikosis sedang sampai berat.

Flufenazin hidroklorida D:PO: 1-5 mg t.i.d atau q.i.d


(prolixin)

Lanjut usia: 1-2,5 mg/hari juga dosis Kemungkinan terjadi EPS.


dengan

masa

kerja

panjang

Trifluoperazin

mingguan/dua mingguan
D:PO: 1-5 mg, b.i.d maksimum 40 Untuk psikosis.

hidroklorida (stelazine)

mg/hari

Asetofenazein

A:PO: 1 mg, q/d. Atau b.i.d


maleat D:PO: 20 mg, b.i.d.-q.i.d

(tindal)
Piperidin
Tioridazin (mellaril)

Untuk psikosis. Dosis lebih tinggi untuk


skizofrenia.

D:PO:50-100 mg t.i.d

Untuk psikosis. Dosis lebih tinggi untuk

Lanjut usia: 1/3 sampai dosis psikosis berat. Dosis lebih rendah (10-50
dewasa regular

mg t.i.d) untuk depresi yang nyata,


gejala-gejala putus obat karena alkohol,
nyeri yang tidak dapat hilang. Efek
antiemetik lemah. Dapat menimbulkan

Mesoridazin

besilat D:PO: 50 mg, t.i.d naikan bertahap

(serentil)

hipotensi ortostatik
Untuk psikosis dan skizofrenia, ansietas

Lanjut usia: 1/3 sampai dosis berat, sindroma otak kronik (dosis lebih
dewasa regular

rendah).

Sedikit

efek

hipotensi

dibandingkan tioridazin.
Butirofenon
Haloperidol (haldol)

D:PO:1-5 mg b.i.d atau t.i.d

Untuk psikosis akut dan anak dengan

A: 0,05-0,15 mg/kg/hari dalam dosis problem perilaku yang berat bersifat


terbagi

menyerang.

Kemungkinan

Lanjut usia: dosis lebih rendah dari menimbulkanpra EPS. Mempunyai efek
dewasa muda
Droperidol (inapsine)

sedasi, hipotensi, dan antikolinergik yang

minimal.
D: IM: IV: 2,5-10 mg, 30-60 menit Diresepkan sebagai obat prabedah yang
sebelum anestesi

diberikan

tersendiri/dengan

narkotik.

A:IM:IV: 0,088-0,165 mg/kg

Efek antiemetik. Dapat menurunkan TD


dan meningkatkan denyut jantung.

Tiosantin
Klorprotiksen (taractan)

D:PO:

25-50

mg,

t.i.d

naikan Untuk psikosis dan psikofrenia. Efek

bertahap sampai 500-600 mg/hari


Tiotiksen (navane)

sedasi. Dapat menimbulkan hipotensi

ortostatik.
D:PO: 2 mg, t.i.d mula-mula, naikan Untuk psikosis dan skizofrenia. Serupa

bertahap sampai 10-25 mg/hari

dengan

fenotiazin

piperazin.

Kemungkian menimbulkan EPS.


Dibenzoksazepin
Loksapin (loxitane)

D:PO: 10 mg, b.i.d mula-mula dapat Untuk


ditingkatkan sampai 50-100 mg/hari

psikosis

dan

skizofrenia.

Kemungkian menimbulkan EPS.

Lanjut usia:1/3 samapai dosis


dewasa regular
Lain-lain
Klozapin (clozaril)

D:PO:

IM,

50

mg/hari.

jika Obat antipsikotik terbaru. Untuk klien

ditoleransi, dosis dapat ditingkatkan skizofrenia yang sangat berat.


300-450

mg/hari

dalam

dosis

terbagi.

Efek samping dan reaksi yang merugikan


Banyak antipsikotik mempunyai efek antikolinergik, seperti mulut
kering, meningkatnya denyut jantung, retensi urin, dan konstipasi.
Tekanan darah menurun. Pamakaian antipsikotik dosis tinggi atau jangka

panjang dapat menyebabkan diskrasia darah (gangguan sel darah).


2. Anti ansietas
Ansietas dalam batas-batas tertentu dapat dianggap normal; tetapi jika
ansietas berlebihan dan dapat mengganggu, maka mungkin perlu dilakukan
antiansietas. Kerjanya seperti sedatif-hipnotik tapi tidak seprti antipsikotik.
Obat dapat diberikan dalam jangka pendek untuk menghilangkan ansietas
akut. Pemakaian jangka panjang dari ansietas tidak dianjurkan keran toleransi
dapat terjadi dalam waktu beberapa minggu atau bulan, tergantung dari agen
obatnya.
Kelompok obat antiansietas adalah ansiolitik yang disebut juga sebagai
agen sedatif-hipnotik. Toleransi obat terjadi kurang dari 2-3 bulan untuk
meprobamat dan fenobarbital.
Salah 1 jenis obat ansiolitik adalah Benzodiazepin yang mempunyai
banyak kegunaan seperti antikonvlusi, antihipertensi, sedatif-hipnotik, obat-obat
preoperasi,dan antiansietas. Kebanyakan dari benzodiazepin dipakai terutama
untuk ansietas yang berat atau berkepanjangan; contohnya klordiazepoksid
(librium), diazepam (valium), klorazepat dipotassiumn (tranxene), okzasepam
(serax), lorazepam (ativan), alprazolam (xanax), prazepam (centrax), dan

halazepam (paxipam). Benzodiasepin bersifat larut dalam lemak dan cepat


diabsorbsi dari saluran gastrointestinal.
Efek samping adalah efek sedasi, pusing, sakit kepala, mulut kering,
penglihatan kabur kadag-kadang inkotinensia urin, dan konstipasi. Reaksi yang
merugikan adalah lekopenia dengan gejala demam, malaise, dan nyeri
tenggorokan; toleransi terhadap dosis obat pada pemakaian yang terus-menerus
dan ketergantungan fisik. Gejala-gejala putus obat benzodiazepin mirip dengan
sadatif-hipnotik tapi lebih lambat berkembangnnya.
3. Anti depresi
Tiga gangguan yang berespon terhadap antidepresi adalah: depresi reaktif,
gangguan afektif unipolar (depersi unipolar), dan gangguan afektif bipolar
(manik-depresif). Antidepresi telah dipakai untuk mengobati depresi unipolar.
Antidepresi dibagi menjadi 2 kelompok: antidepresi trisilik (ATS) dan
penghambat monoamin oksidase (MAO) dan ada juga antimanik : litium untuk
mengobati gangguan afektif bipolar.
a. Antidepresi trisiklik (ATS)
Menghambat pengambilan neurotransmiter norepinefrin dan serotonin
dalam otak. Respon klinik terhadap ATS terjadi 2-4 minggu terapi obat.
Trisilik dipakai dengan efektif untuk mengobati depresi unipolar. Jenis-jenis
trisiklik adalah amitriptilin hidroklorida (elavil), imipramin hidroklorida
(tofranil),

doksepin

hidroklorida

(sinequan),

despramin

hidroklorida

(norpramin pertofrane), notriptilin hidroklorida (avently), dan protriptilin


hidroklorida (vivactil).
Efek samping yang umum dari trisiklik adalah sedasi, hipotensi ortostatik,
dan gejala-gejala antikolinergik seperti berkurangnya salivasi, retensi urin,
konstipasi, dan bertambahnya denyut jantung. Jika klien memakai takar lajak
dapat terjadi aritmia ventrikel yang fatal. Efek samping lainnya dari ATS
adalah

reaksi

alergi

(ruam

kulit,

pruritus,

petekie),

gejala-gejala

gastrointestinal (mual,muntah, anoreksia,diare, rasa tidak enak pada


epigastrium), disfungsi seksual, gangguan sel darah atau diskrasia darah.
b. Penghambat Monoamin Oksidase
Dengan menghambat monoamin oksidase, kadar dari neurotramsmiter
meningkat. 3 penghambat dari monoamin oksidase yang kini diresepkan
adalah: trenilsipromin sulfat (parnate), isokarboksazid (marplan), dan fenelzin

sulfat (nardil). Penghambat MAO dipakai untuk depresi ringan, reaktif, dan
atipikal (ansietas kronik, hipersomnia, dan ketakutan).
Efek samping dari penghambat MAO adalah rangsangan SSP (agitasi,
gelisah, insomnia),hipotensi ortostatik, dan efek-efek antikolinergik.
c. Antimanik : litium (karbonat atau sitrat)
Litium dipakai untuk mengobati gangguan afektif bipolar, atau penyakit
manik-depresif. Litium mempunyai efek menenangkan tanpa mengganggu
efek intelektual.
Efek sampingnya adalah mulut kering, rasa haus, bertambahnya
pengeluaran urin (kehilangan urin, dan natrium) bertambahnya berat badan,
rasa kembung, rasa kecap logam, edema tangan dan mata kaki.
F. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT SUSUNAN SARAF
OTONOM
Sistem saraf otonom disebut juga sebagai sistem viseral bekerja pada otot polos dan
kelenjar. Fungsi dari sistem saraf otonom adalah mengendalikan dan mengatur jantung,
sistem pernapasan, sistem gastrointestinal, kandung kemih, mata dan kelenjar. Sistem
saraf otonom bekerja pada otot polos tetapi sistem saraf otonom merupakan sistem saraf
involunter yang kita tidak atau sedikit kita kendalikan. Obat otonom mempengaruhi
transmisi neurohumural dengan cara menghambat atau mengintensifkannya. Terdapat
beberapa kemungkinan tempat pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik maupun
adrenergik, yaitu :
1) Hambatan pada sintesis atau penglepasan transmitter.
2) Mempengaruhi penglepasan transmiter.
3) Ikatan dengan reseptor.
4) Hambatan destruktif atau pengambilan transmiter.
a. Sistem saraf simpatis
Sistem saraf simpatis juga dikenal juga sebagai sistem adrenergik karena dulu
diperkirakan bahwa adrenalin merupakan neurotransmiter yang mempersarafi otototot polos, kini neurotransmiter tersebut dikenal sebagai norepinefrin. Obat-obat yang
merupakn efek dari norepinefrin disebut sebagi obat-obat adrenergik disebut sebagai
penghambat adrenergik atau simpatolitik.
b. Sistem saraf parasimpatis
Sistem saraf parasimpatis

dikenal

sebagai

sistem

kolinergik

karena

neurotransmiter yang terdapat pada ujung neuron yang mempersarafi otot adalah
asetilkolin. Obat-obat yang menyerupai asetilkolin disebut sebagai obat-obat

kolinergik atau parasimpatomimetik. Obat-obat yang menghambat efek asetilkolin


disebut sebagai antikolinergik atau parasimpatolitik.
Menurut efek utamanya maka obat otonom dapat dibagi dalam 5 golongan :
1. Parasimpatomimetik atau kolinergik. Efek obat golongan ini menyerupai
efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpati.
2. Simpatomimetik atau adrenergik yang efeknya menyerupai efek yang
ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis.
3. Parasimpatolitik atau penghambat kolinergik menghambat timbulnya efek
akibat aktivitas susunan saraf parasimpatis.
4. Simpatolitik atau penghambat adrenergik menghambat timbulnya efek
akibat aktivitas saraf simpatis.
5. Obat ganglion merangsang atau menghambat penerusan impuls di ganglion.
G. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT ADRENERGIK
dan PENGHAMBAT ADRENERGIK
a.
Adrenergik
Obat-obat yang merangsang sistem saraf adrenergik disebut adrenergik,
agonis adrenergik, atau simpatomimetik karena obat-obat ini menyerupai
neurotransmiter simpatis (norepinefrin dan epinefrin). Obat-obat ini bekerja pada
1 tempat atau lebih dari reseptor adrenergik yang terdapat pada sel-sel otot polos,
seperti jantung, dinding bronkiolus, saluran gastrointestinal, kandung kemih, dan
otot siliaris pada mata. Ada 4 reseptor adrenergik: alfa 1, alfa2, beta1,dan beta2,
yang menjadi perantara respon utama.
Reseptor adrenergik lain adalah dopaminergik dan terdapat pada arteri
ginjal, mesenterium, koroner, dan serebral. Jika reseptor ini diransang, prmbuluh
darah akan berdilatasi dan aliran darah bertambah. Hanya dopamin yang dapat
mengaktivasi reseptor ini.
Obat-obat simpatomimetik

yang

merangsang

reseptor

adrenergik

diklasifikasikan ke dalam 3 golongan berdasarkan efeknya pada sel organ:


a) Simpatomimetik yang bekerja langsung; langsung merangsang reseptor
adrenergik (contoh epinefrin, atau norepinefrin)
b) Simpatomimetik yang bekerja tidak langsung; merangsang pelepasan
norepinefrin dari ujung saraf terminal (amfetamin)

c) Simpatomimetik yang bekerja campuran; baik langsung maupun tidak


langsung yang merangsang reseptor adrenergik dan merangsang pelepasan
norepinefrin dari ujung saraf terminal.

ADRENERGIK

RESEPTOR

Epinefrin (adrenalin) Alfa1,


beta2
Efedrin

Alfa1,
beta2

Norepinefrin

DOSIS

PEMAKAIAN

KLINIK
beta1, Berbeda-beda
Syok nonhipovolemik, henti
D: IV, IM, SK:0,2-1 mL dari
jantung, anafilaksis akut, asma
1:1000
akut.
beta1, D: PO: 25-50 mg, t.i.d atau q.i.d Keadaan
hipotensi,
D:SK, IM, IV: 10-25 mg
bronkospasme, kongesti hidung,

Alfa1, beta1

hipotensi ortostatik.
D: IV: 4 mg, dalam 250-500 mL Syok.
Merupakan

(levarterenol,

dalam

levophed)

normal salin, 2-12/menit

Dopamin (intropin)

beta1

dekstrose

D:IV:

bertahap;

naikan
tidak

atau vasokonstriktor

meningkatkan tekanan darah


dan curah jantung
1- Hipotensi (tidak menurunkan
secara fungsi

ginjal

(dimetapp,

kapsul

dristan,

contac,

Alfa1, beta1

Obat bebas (beberapa)

Kongesti hidung

Alfa1, beta1

Obat bebas (bebrapa)

Kongesti hidung

beta1

D:IV: mula-mula 2,5-10/kg; Obesitas

triaminicol,
dexatrim,

dietc,

prolamine, control)
Dobutamin

dosis

Kongesti hidung (dekongestan)

cold

formula)
Fenilpropanolamin

dalam

melebihi <5g/kg/menit)

(sudafed, actifed, cotylenol

kuat,

50/kg/menit
Larutan 0,123-1%

(neo- Alfa1

synephrine)
Pseudoefedrin

5%

mula-mula

5/kg/menit;

Fenilefrin

DALAM

(dobutrex)

dapat
bertahap:

Isoproterenol

beta1, beta2

(isuprel)

ditingkatan
tidak

secara
melebihi

40/kg/menit
Inhal: 1-2 semprotan,

IV: Dekompensasi jantung, payah

5/menit sampai 20/menit

jantung
(meningkatan

beta1,

(alupent, metaprel)

(beberapa)

Isoetarin (bronkosol) beta2


Albuterol (proventil) beta2
beta2

Inhal: 1-2 semprotan, q4h


Inhal: 1-2 semprotan q 4-6 h
PO:2-4 mg, t.i.d atau q.i.d
Inhal: 2 semprotan q 4-6 h
PO:2,5-5 mg, t.i.d atau q8h
IV: 10 g/menit, naiakan secara

beta1, beta2

tidak

terhadap atropin)
Bronkospasme
Bronkospasme
Bronkospasme
Relaksasi uterus

melebihi

80/menit
D:PO: 10-20 mg, q 4-6 h, tidak Relaksasi uterus
melebihi 120 mg/hari
IV: 50-300 /menit

Efek sampingnya seringkali timbul jika dosis obat dinaikan atau obat
bersifat nonselektif (bekerja pada reseptor). Efek samping yang sering timbul
pada obat-obt adrenergik adalah hipertensi, takikardia, palpitasi, aritmia, tremor,
pusing, kesulitan berkemih, mual dan muntah.
b.

darah

melebihi 12 semprotan/hari
akut ( hanya dipakai pada
D: PO: 10-20 mg, t.i.d atau q.i.d
bradikardi
yang
refrakter

bertahap;
Ritodrin (yutopar)

aliran

miokardium dan curah jantung)


beta2 Inhal: 2-3 semprotan, tidak Bronkospasme, blok jantung

Metaproterenol

Terbutalin (brethine)

kongastif,

Penghambat Adrenergik
Obat-obat yang menghambat efek neurotransmiter adrenergik disebut
sebagai penghambat adrenergik, atau simpatolitik. Obat-obat ini merupakan
antagonis terhadap agonis adrenergik dengan menghambat tempat-tempat reseptor
alfa dan beta. Obat-obat ini menghambat efek neurotransmiter secara langsung
dengan menempati reseptor alfa atau beta, atau tidak langsung dengan
menghambat pelepasan neurotransmiter, norepinefrin dan epinefrin. Ketiga

reseptor simpatolitik adalah alfa1, beta1, dan beta2. Berikut adalah efek-efek
penghambat adrenergik pada reseptor .
RESEPTOR
menurunkan

RESPONS
TD. ES: Dapat

Alfa1

Vasodilatasi:

Beta1
Beta 2

aritmia,flushing, dan hipotensi.


Miosis: konstriksi pupil. Menekan ejakulasi.
Menurunkan denyut jantung.
Konstriksi bronkiolus, konstriksi uterus

terjadi

refleks

takikardia,

Efek samping dari penghambat-beta: bradikardia, pusing, hipotensi, sakit


kepala, hiperglikemia, bertambah beratnya hipoglikemi, dan granulositosis.
Biasanya Efek sampingnya bergantung pada dosis.

PENGHAMBAT
ADREGENIK
Tolazolin

RESEPTOR
Alfa

DOSIS
D: IM: IV: 25 mg, q.i.d

PEMAKAIAN DALAM KLINIS


Gangguan pembuluh darah tepi,

(proscoline)

Bayi baru lahir: IV: 1-2 hipertensi

Fentolamin

mg/kg selama 15 menit


D:IM:IV: 5 mg

Gangguan pembuluh darah perifer,

(regitine)

A:IM:IV: 1mg

hipertensi

Prazosin (minipress)

Alfa

Antidot untuk infiltrasi dopamin.


D:PO: 1-5 mg t.i.d.; tidak Hipertensi

Beta1, beta2

melebihi 20 mg/hari.
D:PO: 10-20 mg, t.i.d atau Hipertensi,

Propanolol (inderal)

Alfa

aritmia,

angina

q.i.d ; dosis dapat berbeda- pektoris, pasca infark miokardium.


beda
D:IV: 1-3 mg, dapat diulang
Beta1,beta2

jika perlu.
D:PO: 40-80 mg/hari, tidak Hipertensi, angina

Pindolol (viken)

Beta1,beta2

melebihi 240 mg/hari


D:PO: 5-30 mg/hari dalam Hipertensi

Timolol (blocarden)

Beta1,beta2

dosis terbagi
D:PO: 10-20 mg, b.i.d tidak Hipertensi,

pasca

infark

Metoprolol

Beta1

melebihi 60 mg/hari
miokardium
D:PO: 100-450 mg, q.i.d; q Hipertensi,

pasca

infark

Nadolol (corgard)

(lopressor)
Atenolol (tenormin)
Asebutolol (sectral)

rata-rata 50 mg b.i.d
D:PO: 50-100 mg/hari
D:PO: 200 mg, b.i.d

Beta1
Beta1

miokardium,angina
Hipertensi, angina
Hipertensi, aritmia ventrikel

H. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT KOLINERGIK


dan ANTIKOLINERGIK
1. Kolinergik
Obat-obat kolinergik atau parasimpatomimetik merupakan obat-obat yang
merangsang sistem saraf parasimpatis. Juga dikenal dengan kolinomimetik,
perangsang kolinergik, atau agonis kolinergik. Ada obat-obat kolinergik yang
bekerja langsung; bekerja pada reseptor untuk mengaktivasi respon jaringan dan ada
juga

yang

bekerja

(asetilkolinesterase)

tidak

dengan

langsung;
membentuk

menghambat
suatu

kerja

kompleks

kolinesterase

kimia,

sehingga

memungkinkan asetilkolin untuk tetap dan berdiam pada reseptor.


Kolinergik yang bekerja tidak langsung menghambat enzim kolinesterase,
sehingga memungkinkan asetilkolin menumpuk pada tempat reseptor sehingga obat
ini dikenal juga dengan penghambat kolinesterase atau antikolinesterase.
Jenis-jenis obat kolinergik :
1. Betanekol
2. Neostigmin
3. Takrin
Efek samping yang umum dari obat-obatan kolinergik adalah mual, muntah, diare,
kejang abdomen, bradikardia, banyak berkeringat, salivasi dan sekresi bronkial.
Hipotensi dapat terjadi pada dosis tinggi.
2. Antikolinergik
Obat-obat yang menghambat kerja asetilkolin dengan menempati reseptorreseptor asetilkolin disebut dengan antikolinergik atau parasimpatolitik. Obat-obat
antikolinergik dan kolinergik mempunyai efek yang berlawanan. Respon utama dari
antikolinergik adalah menurunkan motilitas gastrointestinal, mengurangi salivasi,
dilatasi pupil mata dan meningkatkan denyut nadi.
Jenis-jenis obat antikolinergik :
1. Atropin sulfat
2. Glikopirolat
3. Skopolamin

Efek sampingnya meliputi mulut kering, gangguan penglihatan, konstipasi


sekunder akibat berkurangnya peristaltik gastrointestinal, retensi urin akibat
berkurangnya tonus kandung kemih, dan takikardiaa (dosis tinggi).
I. JENIS-JENIS, MEKANISME KERJA dan EFEK OBAT-OBAT untuk KELAINAN
NEUROMUSKULER, PARKINSONISME, MIASTENIA GRAVIS, SPASME
OTOT
1. Parkinsonisme
Penyakit Parkinson (paralisis agitans) merupakan suatu sindrom dengan gejala
utama berupa trias gangguan neuromuskular : tremor, rigiditas, akinesia
(hipokinesia) disertai kelainan postur tubuh dan gaya berjalan.
Obat-obat yang dipakai untuk mengobati parkinsonisme dengan mengurangi
gejala-gejala atau mengganti kekurangan dopamin dibagi ke dalam 2 kelompok :
a. antikolonergik (yang menghambat reseptor kolinergik).
Jenis obat :
Benztropin (cogentin) : untuk parkinsonisme dan parkinsonisme akibat
obat

untuk

obat

pemakaian

jangka

panjang

dapat

terjadi

toleransi

obat.

dapat

dipakai

bersama

obat

antiparkinsonisme

antiparkinsonisme

yang

paling

banyak

dipakai.kategori

kehamilan C.
Etopropazin (parsidol) : untuk semua jenis parkinsonisme.merupakan
suatu

bersama

lain.kategori kehamilan C.
Triheksifinidil (artane) : untuk semua jenis parkinsonisme.merupakan
obat

dipakai

obat.kategori kehamilan C.
Prosiklidin (kemadrin) : untuk parkinsonisme dan parkinsonisme
akibat

distonia.dapat

antiparkinsonisme lain.kategori kehamilan C.


Biperiden (akineton) : untuk parkinsonisme. parkinsonisme akibat
obat.pada

mengurangi

derivate

fenotiazin

dengan

efek

antikolinergik.kategori

kehamilan C.
Orfenadrin (disipal, norflex) : untuk parkinsonisme.merupakan suatu
antihistamindengan beberapa efek antikolinergik.sedikit merangsang

SSP dan dapat menyebabkan euforia.


b. Dopaminergik (yang merangsang reseptor dopamain)
Jenis obat :

Levodopa (L-dopa, DOPAR, laropoda) : untuk parkinsonisme.tidak


untuk parkinsonisme akibat obat.dapat meyebabkan rasa tidak enak
pada gastrointestinal;obat harus dimakan bersama makanan.banyak

mempunyai efek samping.


Karbidopa-levodopa (sinemat) :untuk parkinsonisme.lebih banyak
levodopa

yang

mencapai

otak;karbidopa

menghambat

dopa

dekarboksilase di perifer. Diperlukan levodopa dalam dosis lebih


rendah.
2. Miastenia Gravis
a. Penghambat asetilkolinsterase
Edrofonium (tensilon) :untuk mendiagnosis miastenia gravis. Dosis harus
hilang dalam waktu 1-5menit. Merupakan obat dengan masa kerja sangat

singkat.
Neostigmun (prostigmin) :untuk mengendalikan miastenia gravis harus
diberikan tepat pada waktunya untuk mencegah krisis miastenia, rute
pemberian

dengan

parenteral

dilakukan

jika

terdapat

gangguan

mengunyah,menelan, dan bernafas.


Piridostigmin (mestion.regonol) :untuk miastenia gravis, juga dipakai
untuk memulihkan kelumpuhan otot pasca bedah akibat penghambat

neuromuskular.
Ambenonium (mytelase) :untuk miastenia gravis merupakan suatu

penghambat AKE dengan masa kerja panjang.


3. Pelemas otot rangka
a. Pelemas otot yang bekerja sentral
Baklofen (lioresal) : untuk spasme otot akibat sklerosis multiple dan

cedera medulla spinalis.overdosis dapat menyebabkan depresi SSP.


Karisoprodol (soma) : untuk spasme otot.tersedia dalam bentuk campuran

dengan aspirin dengan kodein.


Kloefenisin (maolate) : untuk spasme otot.untuk pengobatan spasme akut

jangka pendek.
Klorzoksazon (paraflex) : untuk spasme otot akut atau berat.diminum

bersama makanan untuk mengurangi rasa tidak enak pada gastrointestinal.


Sikobenzaprin (flexeril) : untuk pengobatan spasme otot jangka
pendek.diminum bersama makanan atau susu untuk mengurangi rasa tidak
enak pada gastrointestinal.

Metaksalon (skelaxin) : untuk spasme otot akut.


Metokarbamol (robaxin) : untuk spasme otot akut; obat dipakai untuk

pengobatan tetanus.
Orfenadrin (norflex) : untuk spasme otot akut, dapat bersifat toksik pada
overdosis yang ringan.dipakai dalam kombinasi dengan aspirin dan

kafein(norgesic).
b. Pelemas otot yang bekerja perifer
Jenis obat :
Dantrolen (dantrium) :untuk gangguan neurologis yang menyebabkan
spasme otot. Mulai dengan dosis rendah dan naikan setiap 4-7hari.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Neurologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang susunan sistem
saraf pada tubuh makhluk hidup. Sedangkan Neuromuskular berkenaan dengan saraf dan
otot. Jenis-jenis obat neurologik dan neuromuskular seperti obat-obat perangsang sistem
saraf pusat seperti amfetamin, selain itu obat perangsang sistem saraf pusat terdapat pula

obat penekan sistem saraf pusat, obat analgesik narkotik dan analgesik non-narkotik,
antikonvusi atau antiepilepsi dan antipsikotik, antiansietas serta antidepresi.
B. SARAN
Dengan adanya makalah ini semoga dapat membantu mahasiswa keperawatan
memahami tentang mekanisme kerja, jenis-jenis dan efek samping dari obat-obat
neurologik dan neuromuskular.

DAFTAR PUSTAKA

FK Universitas Indonesia. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : EGC.


James Olson. 1993. Belajar Mudah Farmakologi. Jakarta : EGC.
Townsend, C. Mary. 2003. Pedoman Obat Dalam Keperawatan Psikiatri. Jakarta : EGC