Anda di halaman 1dari 2

KTI FARMAKOLOGI BISMILLAH

Pendahuluan
Latar Belakang
Asam urat merupakan hasil akhir metabolisme purin. Kadar asam urat dapat
diketahui dengan pemeriksaan darah dan urin. Nilai rujukan kadar asam urat normal pada
laki laki yaitu 3.4 7.0 mg/dl sedangkan pada wanita yaitu 2.4 - 6.1 mg/dl. Asam urat
dalam darah dengan kadar normal berperan sebagai antioksidan alami dengan cara
melengkapi kekurangan elektron dan menghambat terjadinya reaksi berantai dari
pembentukan radikal bebas yang dapat menimbulkan stress oksidatif . Namun, kadar asam
urat darah yang berlebihan dapat menyebabkan penumpukan asam urat yang disebut
hiperurisemia. (Fransiska Angelina, dkk. 2014)
Prevalensi hiperurisemia di dunia cenderung mengalami peningkatan. Data National
Health and Nutrition Examination Survey (NHANES III), menyebutkan prevalensi
hiperurisemia pada orang dewasa di Amerika Serikat mengalami peningkatan selama
lebih dari 10 tahun terakhir yaitu 2,7% pada tahun 1994 dan menjadi 3,9% pada tahun 2008 .
Peningkatan prevalensi juga terjadi pada suku Aborigin Australia yaitu dari 0% pada
tahun 1965 menjadi 9,7% pria dan 2,9% wanita pada tahun 2002 . Tahun 2007, prevalensi
hiperurisemia di kota Zhojiang, Cina sebesar 24,32% pada pria dan 3,37 pada wanita,
tahun 2008 meningkat menjadi 31,89% pada pria dan 10, 83% pada wanita .
Prevalensi hiperurisemia dan gout di Indonesia tidak diketahui secara pasti. Survei
epidemiologik tahun 1992 yang di lakukan di Bandungan, Jawa Tengah atas kerjasama WHOCOPCORD terhadap
4.683 sampel berusia antara 15 45 tahun di dapatkan bahwa prevalensi hiperurisemia
sebesar 24,3% pada laki-laki dan 11,7% pada wanita. Laporan dari puskesmas sekota
Semarang tahun 2011 angka kejadian gout di kota Semarang sejumlah 1091 orang. (Fransiska
Angelina, dkk. 2014)
Ki Urat ( Plantago Major mempunyai indikasi Analgetik

Tinjauan Pustaka
Pengertian Gout arthritis
Istilah gout berasal dari kata gutta yang berarti tetesan. Konon, menurut kepercayaan
masyarakat pada saat itu, gout muncul sebagai akibat dari tetesan roh jahat yang masuk kedalam
sendi. Penyakit gout dapat dijumpai disetiap negara di dunia. Hasil penelitian epidemologis
menunjukkan bahwa bangsa Maori di Selandia Baru, Filipina, dan bangsa-bangsa dikawasan
Asia Tenggara mempunyai kecenderungan menderita penyakit ini. Di Indonesia, suku Minahasa
dan Tapanuli berpeluang menderita penyakit gout lebih tinggi dibandingkan dengan suku-suku
yang lainnya (Junaidi, 2013:80)

Penyakit artritis gout adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling sering
ditemukan, ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di dalam ataupun di sekitar
persendian. Monosodium urat ini berasal dari metabolisme purin. Hal penting yang
mempengaruhi penumpukan kristal adalah hiperurisemia dan saturasi jaringan tubuh terhadap
urat. Apabila kadar asam urat di dalam darah terus meningkat dan melebihi batas ambang
saturasi jaringan tubuh, penyakit artritis gout ini akan memiliki manifestasi berupa penumpukan
kristal monosodium urat secara mikroskopis maupun makroskopis berupa tophi (Mandel, 2008).

Plantago Major
Memiliki sejumlah kelengkapan unik yang membuatnya cocok untuk digunakan secara luas
dalam tradisional di seluruh dunia. Ramuan abadi ini telah digunakan sebagai tanaman obat
tradisional untuk berabad-abad, untuk mengobati beberapa penyakit termasuk pilek, hepatitis,
penyakit kulit, penyakit menular, masalah yang berkaitan dengan organ pencernaan, pernafasan
organ, reproduksi, sirkulasi, dan digunakan untuk mengurangi demam. Beberapa aktivitas
biologi telah dikaitkan dengan daun Plantago termasuk anti-inflamasi, antivirus, analgesik,
antioksidan, anti-kanker, anti-tumor, anti-demam, kekebalan modulator, dan efek anti-hipertensi
dan memiliki juga telah digunakan untuk menetralkan internal dan eksternal racun