Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TEORI BELAJAR
Bab ini akan memebahas teori belajar yang cocok untuk pembelajaran fisika.
Teori belajar yang dimaksudkan yaitu teori belajar yang dikemukakan oleh David
Ausubel, Jerome Bruner, Robert Gagne, Jean Piaget dan Jean Piaget dan Vigotsky .
A. Teori Ausubel
David Ausubel sebagai ahli psikologi pendidikan mengklasifikasikan belajar
menjadi dua demensi yaitu: (1) demensi belajar penerimaan/ penemuan dan (2)
demensi belajar bermakna/hafalan. Demensi penerimaan berkaitan dengan cara
bagaimana materi pelajaran disampaikan ke peserta didik. Belajar penerimaan ini
peserta didik menerima materi atau konsep sudah final. Untuk belajar
penemuan anak didik diharapkan untuk menemukan sendiri konsep dari materi
yang disampaikan.
Belajar bermakna bila peserta didik dapat mengaitkan konsep yang baru
dipelajari dengan konsep yang telah ada di dalam struktur kognitif yang ada di dalam
dirinya. Struktur kognitif dapat berupa; fakta, konsep-konsep, hukum/prinsip yang
telah dipahami sebelumnya oleh peserta didik. Bila peserta didik tidak mampu
menghubungkan konsep baru dengan struktur kognitif yang telah ada, maka peserta
didik itu belajar secara hafalan.
Untuk lebih memahami hubungan antara belajar bermakn/hafalan dan belajar
penerimaan/penemuan dapat dibuat matrik tabel 2.1 menurut Ausubel dan Robinson
seperti yang dikutip Dahar sebagai berikut:
Tabel 2.1 Bentuk-bentuk Belajar Menurut Ausubel dan Robinson
Siswa
Belajar dapat
Hafalan
Bermakna
mengasimilasi
materi pelajaran
Secara
1. Materi disajikan
1. Materi disajikan
penerimaan
dalam bentuk final
dalam bentuk final
2. Materi dihafal
2.Materi dimasukkan
ke struktur kognitif
Secara
1. Materi ditemukan
1. Materi ditemukan
2.
Materi
dihafalkan
2.Materi dimasukkan ke
penemuan
struktur kognitif
Belajar bermakna merupakan inti dari teori belajar Ausubel. Belajar bermakna
bila informasi baru atau konsep baru yang diterima dapat dikaitkan dengan konsep-

konsep yang relevan yang ada di struktur struktur kognitif peserta didik.
Memperhatikan hal tersebut betapa pentingnya seorang guru mengetahui pengetahuan
awal dari peserta didik sebelum melaksanakan pembelajaran. Mulai dari persiapan
sampai dengan pelaksanaan pembelajaran. Pengetahuan awal dari peserta didik ini
dapat digunakan sebagai awal pembelajaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar bermakna ditinjau dari psikologi
belajar adalah: a) struktur kognitif yang dimiliki peserta didik yang berupa fakta,
konsep, hukum atau generalisasi yang telah dimilikinya, b) stabilitas struktur kognitif,
jelas dan teratur, maka pengetahuan baru yang sahih akan jelas terbentuk dan c)
materi atau pengetahuan yang dipelajari harus bermakna dan peserta didik mempunyai
motivasi yang tinggi dan mempunyai tujuan yang kuat.
Kebaikan belajar bermakna yakni; informasi atau pengetahuan lama diingat,
mempermudah

proses

belajar

selanjutnya,

dan

mempermudah

mempelajari

pengetahuan yang mirip meskipun sudah lupa.


B. Teori Jerome Bruner
Bruner seorang ahli psikologi perkembangan sekaligus psikologi kognitif. Menurut
Bruner manusia sebagai pemroses, pemikir, dan pencipta informasi. Dari pandangannya
ini, maka menurut Bruner inti dari belajar adalah bagaimana cara manusia memilih,
mempertahankan, dan mentransformasi informasi secara aktif. Keaktifan dalam
berinteraksi dengan lingkungan dimana manusia belajar. Bruner mengembangkan 3 tahap
dalam teori belajarnya yaitu: a) En Active : Learning is by doing dan belajar melalui
perbuatan termasuk bermain, b) Iconic: Learning is by means of images dan pictures.
Belajar dengan bantuan imej dangambar-gambar, dan c) symbolic: Learning is by means
of words and numbers. Belajar dengan bantuan kata-kata dan angka-angka (Sunderland,
1992). Disamping itu Bruner menyarankan dalam pendidikan agar menggunakan
pendekatan childcentred approach yang dihubungkan dengan belajar penemuan
(discoverylearning)

C. Teori Robert Gagne


Robert Gagne menyusun 8 tipe belajar secara hirarki sebagai berikut: 8) problem
solving, 7) rule learning, 6) concept learning, 5) discriminationlearning,
learning, 3) chaining, 2) stimulus reponse learning, dan 1) signal learning.
1.
Tipe 8: Problem solving

4) verbal

Problem solving disebut juga dengan inquiry dalam pelaksanaannya sering digabung
dengan discovery sehingga diperoleh modifikasi yang disebut structured inqury
(penyelidikan terstruktur). Pada penyelidikan terstruktur ini peserta didik mendapat saran
cara kerja, mengumpulkan data, mengorganisasi data dan mendapat pertanyaan yang
mengarah pada penyelesaian masalah yang dihadapinya. Sedangkan penyelidikan tidak
terstruktur, peserta didik dihadapkan pada permasalahan dan mereka melengkapi cara
kerja sendiri untuk menyelesaikan permasalahan.
Belajar memecahkan masalah ini merupakan tipe belajar tingkat tinggi, yang
menggunakan prinsip/hukum untuk mencapai tujuan dari belajar. Pemecahan masalah
merupakan aktivitas mental secara aktif yang memungkin terbentuknya pemikiran ilmiah
atau pemecahan masalah dengan menggunakan metode ilmiah.
Guru yang menggunakan pembelajaran problem solving oleh Gagne disaranakan: 1)
guru harus mengembangkan tugas-tugas pemecahan masalah dengan ide-ide baru jauh dari
latihan rutin, 2) guru harus menganalisis tugas tersebut untuk menentukan pengetahuan
dan keterampilan awal yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan, 3) guru harus
yakin bahwa peserta didik memahami hakikat dari permasalahan yang diberikan, dan 4)
guru harus hati-hati tidak memberi jalan pemecahan masalah dari permasalahn yang
diberikan. Peserta didik yang belajar denganproblem solving mereka harus tahu cara
2.

belajar rule learning


Tipe 7: Rule learning
Rule learning memerlukan kemampuan menggabungkan dua konsep atau lebih.
Misal pada siang hari berembus angin laut dan malam hari berembut angin darat. Hal ini
siswa harus memahami bahwa udara mengalir dari daerah bertekanan tinggi ke daerah
yang bertekanan rendah. Juga harus memahami hubungan antara tekanan dan suhu pada
ruang terbuka, bahwa pada suhu tinggi tekanannya rendah dan pada suhu rendah

3.

tekanannya tinggi. Peserta didik telah memahami cara belajar concept learning.
Tipe 6: Concept learning
Peserta didik belajar concept learning mereka akan memperoleh pemahaman
tentang konsep tertentu. Konsep berupakan gambaran dari suatu kejadian atau obyek yang
memiliki atribut atau sifat tertentu. Misal: (1) konsep yang baik yaitu

contoh dan

atributnya dapat diamati. Contoh konsep spektrum cahaya konsep contohnya pelangi
atributnya bentuknya melengkung memiliki warna dan memiliki ukuran tertentu. (2)
Konsep dengan contoh yang dapat diamati tetapi atributnya tidak dapat diamati. Misalnya
tembaga contohnya dapat diamati tetapi atributnya tidak dapat diamati karena terdiri dari
4.

atomatom. (3) konsep yang contoh maupun atributnya tidak dapat diamati misal inti atom.
Tipe 5: Discriminationlearning

Tipe belajar ini anak dituntut untuk membedakan setiap stimulus yang berbeda yang
datang pada dirinya. Membedakan setiap stimulus yang datang ini merupakan kegiatan
5.

intelektual yang mendasar. Tipe belajar ini digunakan untuk anak-anak kecil.
Tipe 4: Verbal learning
Tipe belajar verbal dimana peserta didik diharapkan dapat membedakan dengan
menghubungkan suatu yang pernah dipelajari dengan kata lain. Belajar verbal ini agar
dapat berlangsung dengan baik perlu dipenuhi beberapa syarat antara lain: (1) kata atau
unsur telah dipelajari, sehingga dapat dipelajari satu dengan yang lainnya, (2) penyajian
kata-katanya harus teratur, dan (3) peserta didik harus aktif merespon, dan (4) perlu ada

reinforcenent
6.
Tipe 3: Chaining
Tipe ini menuntut anak untuk dapat merangkaikan respon yang berkaitan satu dengan
yang lain. Misal pintu tak terkunci, maka akan menimbulkan beberapa respon misalnya
memilih kunci, memasukkan kunci dan memutar kunci agar pintu terkunci.
7.

Tipe 2: Stimulus reponse learning


Belajar coba-coba (trial and error) terjadi pada anak yang belajar bahasa. Agar
terjadi proses belajar pada tipe belajar ini harus ada reinforcement. Rentang waktu antara
stimulus satu dengan yang lain penting. Semakin singkat stimulus response, maka semakin

8.

muat reinforcement nya.


Tipe 1: Signal learning.
Belajar isyarat ini sebagai proses penguasaan pola dasar perilaku yang bersifat
tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya. Agar terjadi proses belajar, maka perlu
pemberian stimulus-rangsangan secara berulang-ulang seperti percobaannya Pavlov
dengan teori conditioning.
Hasil belajar menurut Gagne ada lima, tiga pada aspek kognitif yaitu keterampilan
intelektual, strategi kognitif, dan informasi verbal, satu pada aspek afektif yaitu sikap dan
aspek psikomotor berupa keterampilan motorik.

D. Teori Jean Piaget


Perkembangan kognitif menurut Piaget ada 3 aspek penting yaitu struktur, isi, dan
fungsi. Aspek struktur sering disebut skemata merupakan organisasi

mental

yang

terbentuk ketika individu berinteraksi dengan lingkungan. Aspek isi berkaitan dengan pola
perilaku yang khas gambaran dari respon dari masalah yang dihadapi. Fungsi adalah cara
untuk membuat kemajuan intelektual.
Untuk mempelajari teori perkembangan kognitif menurut Piaget perlu memahami
3 istilah yang dipergunakan Piaget yaitu: proses akomodasi (accommodation), asimilasi
(assimilation), dan ekuilibrasi (equilibration). Akomodasi merupakan kemampuan anak

menyesuaikan terhadap lingkungan. Misal seorang anak bermain mobil-mobilan pada


jalan yang seharusnya dilewati terhalang oleh benda, maka anak mengambil benda yang
menghalangi agar mobil-mobilannya dapat berjalan. Asimilasi kemampuan anak
mengubah lingkungan, agar sesuai dengan yang diimajinasikan. Seorang anak bermainmain dengan kayu dan kayu tersebut diimajinasikan sebagi pedang. Sedangkan ekuilibrasi
atau kesetimbangan dinamis kemampuan anak untuk menyusun dan mengatur.
Selanjutnya Piaget membagi perkembangan kognitif menjadi 3 bagian utama
yakni: sensori motorik, pra operasional, dan operasional. Untuk operasional dibagi
menjadi dua yaitu operasional konkrit dan operasional formal. Karakteristik dari
perkembangan Piaget disajikan pada tabel 2.2
Tabel 2.2 Karakteristik Perkembangan Kognitif Menurut Piaget
N
o
1

Tahap Perkembangan

Pra operasional
(2 7 tahun)

Operasiona konkrit
(7 11 tahun)

Operasional formal
11 tahun

Sensorik Motorik
(0 2 tahun)

Karakteristik
a. Melakukan gerak reflek seperti: memegang,
menghisap, menangis.
b. Bermain, meniru (imitasi)
c. Sifat permanen objek
d. Non verbal
a. Perkembangan bahasa sangat pesat
b. Bersifat egosentris
c. Bersifat eriversibel
d. Cenderung berfikir memusat
a. Berfikir reversibel
b. Mampu mengklasifikasikan
c. Mampu melakukan operasi +, -, x, :
d. Memahami prinsep konservasi: jumlah, luas,
volume, berat dan sebagainya
a. Mampu memberi alasan yang proporsional
dan mengkombinasikan beberapa alasan
b. Mampu mengidentifikasi dan mengkontrol
variabel
c. Mampu memberi alasan yang bersifat
deduktif hipotetik
d. Mampu berfikir reflektif

1. Sensori motorik (0 - 2 tahun)


Aktivitas mental pada tahap ini ditunjukkan secara non verbal, karena individu belum
dapat menyebutkan obyek dan berkomunikasi dengan kata-kata, sehingga bermain
merupakan manifestasi dari ketertarikan atau kesenangan. Individu lebih suka menirukan
dan gerak refleks seperti memegang, menghisap, menangis. Pada tahap awal apabila objek
di sembunyikan dihadapan individu akan dilupakan, tetapi pada akhir perkembangan dari

tahap ini ia sudah mengenali dan mencari bila disembunyikannya mulailah pembentukan
memori dan obyek mulai permanen.
2. Pra Operasional (2 - 7 tahun)
Perkembangan bahasa berlangsung sangat pesat dia mulai sebagai pemikir dan suka
berbicara (thinkers and talkers), tetapi alasan yang diberikan sering tidak logis bagi orang
dewasa. Misal seorang anak menggambar anak yang baru saja makan buah-buah dan
tampak pada bagian perutnya itu gambar buah itu dan

menceriterakannya. Anak

berpikirnya masih memusat belum dapat berfikir kebalikan (reverse thinking). Contoh
misal pada gelas A berisi air 1 liter tampak hanya setengah gelas dan pada gelas B juga
berisi air 1 liter tampak penuh, maka anak mengatakan air pada gelas B lebih banyak dari
pada di gelas A. Hal ini menunjukkan persepsi anak lebih mendominasi pikirannya. Pada
tahap ini anak lebih egosentris atau berpusat pada dirinya.
3.

Operasional Konkrit (7 - 11 tahun)


Tahap ini individu sudah berpikir logis dan menunjukkan kemampuan seperti:

mengurutkan,

mengklasifikasikan,

menjumlahkan,

mengurangi,

mengalikan

dan

membagi.Juga berkembang kemampuan memnentukan penyebab dari suatu kejadian dan


menunjukkan hubungan spatial (ruang). Kemampuan individu dalam memahami
konservasi juga berkembang. Kemampuan konsevasi ini merupakan aspek yang penting,
karena dengan mengubah suatu variabel dalam suatu sistem, variabel yang lain tidak
berubah. Juga paham konsep luas, volume dan berat.
4. Operasional Formal (11 tahun - ... )
Tahap ini dimulai fari permulaan masa remaja dan sudah mampu berfikir abstrak.
Merek mampu membuat asumsi-asumsi tentang sesuatu. Selain itu juga mampu menyusun
hipotesis, menggunakan pemikiran kombinatorial dan menggunakan alasan yang
proporsional misalnya = 4/8 hal ini juga mudah dipahami oleh individu yang berada
pada tahap operasional konkrit. Tetapi juga hubungan yang lebih kompleks misalnya 25/30
= x/90, masalah ini memerlukan permikiran yang lebih formal untuk memahaminya.
Misalnya dalam pembelajaran fisika hubungan tersebut ada pada penentuan fokus dari
lensa positif
E. Teori Jean Piaget dan Vigotsky
Teori konstruktivisme didefinisikan sebagi pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan menciptakan suatu makna dari yang dipelajari. Kontruktivisme sebenarnya bukan
gagasan baru, apa yang kita miliki merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi
pengalaman. Hal inilah yang menyebabkan manusia mempunyai pengetahuan yang

dinamis. Konsep umum yang dimiliki oleh pendekatan kontruktivisme antara lain: a)
pebelajar aktif membina pengetahuan berdasarkan pengalaman yang sudah ada, b) dalam
konteks pembelajaran pebelajar harus membina sendiri pengetahuannya, c)pentingnya
membina pengetahuan secara aktif oleh pebelajar sendiri saling mempengaruhi antara
pembelajaran yang baru dengan yang terdahulu, d) unsur yang penting dalam teori ini
seseorang yang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan
informasi baru dengan informasi yang lama, e) ketidakseimbangan merupakan faktor
motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pebelajar
menyadari ketidak konsistenan atau konsisten dengan pengatahuan alamiah, dan f) bahan
pembelajaran yang disediakan perlu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman pebelajar
untuk menarik minat.
Salah satu teori yang sangat terkenal berkaitan dengan terori belajar konstruktivisme
adalah teori perkembangan mental dari Piaget. Teori belajar (Piaget) tersebut berkaitan
dengan kesiapan anak dengan belajar yang tampak pada tahap perkembangan mental sejak
lahir hingga dewasa. Setiap perkembangan mental mempunyai ciri-ciri tertentu dalam
mengkonstruksi pengetahuan.
Wheatly (1991:12) mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori
konstruktivisme. Pertama pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara
aktif oleh struktur kognitif peserta didik. Kedua fungsi kognitif bersifat adaptif dan
membantu membentuk pengorganisasian melalui pengalaman nyata dari anak.
Pengertian di atas menekankan pentingnya keterlibatan peserta didik secara aktif
dalam mengaitkan sejumlah gagasan dan pengkontruksian ilmu pengetahuan melalui
lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudaya (1990:4) mengatakan bahwa seseorang
akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu berdasarkan apa yang telah
diketahui orang lain. Oleh karena itu untuk mempelajari suatu materi yang baru,
pengalaman belajar yang lalu dari seseorang mempengaruhi proses pembelajaran tersebut.
Selain penekanan dan tahap-tahap tertentu yang perlu diperhatikan dalam teori belajar
konstruktivisme, Hanbury (1996:3) mengemukakan beberapa aspek yang berkaitan
denganpembelajaran yaitu; 1) peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya dengan cara
mengintegrasikan ide yang telah dimiliki, 2) pembelajaran menjadi lebih bermakna bila
siswa mengerti, 3) strategi peserta didik lebih bernilai, dan 4) siswa mempunya
kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan
dengan temannya.
Tujuan teori konstrktuktivisme dikelas:
1. Memotivasi peserta didik bahwa belajar adalah tanggung jawab peserta didik itu
sendiri

2. Mengembangkan kemampuan peserta didik

untuk mengajukan pertanyaan dan

mencari jawaban sendiri dari pertanyaan


3. Membantu peserta didik mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara
lengkap
4. Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk jadi pemikir secara mandiri
5. Menekan proses belajar bagaimana belajar itu.
a. Teori Belajar Konstruktivisme Jean Piaget
Piaget dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 189:159) menegaskan bahwa
penekanan teori kontruktivisme pada proses untuk menemukan teori stsu pengetahuan
yang dibangun dari realita. Oeran guru menurut teori kontruktivisme sebagai fasilatator
dan moderator. Menurut pandangan kalangan kontruktivistikpeserta didik dalam
membangun pengetahuandi dalam pikirannya melalui kegiatan asimilasi dan akomodasi
sesuai dengan skemata yang dimilikinya.
Skemata merupakan sekumpulan konsep yang digunakan untuk berinteraksi dengan
lingkungannya. Sejak kecil anak memiliki skemata atau struktur kognitif. Skemata ini
terbentuk karena pengalaman. Penyempurnaan skemata ini semakin sempurna dengan
semakin banyaknya pengalaman yang dimilikinya. Penyempurnaan skemata ini melalui
kegiatan asimilasi dan akomodasi.
Asimilasi merupakan proses kognitif dari seseorang untuk mengintegrasikan persepsi,
konsep atau pengelaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.
Asimilasi dipandang sebagai proses kognitif yang menempatkan dang mengklasifikasikan
kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada dan proses asimilasi ini terus
berjalan.Asimilasi ini tidak akan menyebakan perubahan/pergantian skemata melainkan
perkembangan skemata. Asimilasi merupakan proses individu dalam mengadaptasikan
dang mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang.
Akomodasi merupakan proses lebih lanjut pengembangan skemata. Bila rangsang atau
pengalaman yang datang ke individu tidak dapat diasimalasi oleh skema yang telah ada di
dalam diri individu, maka individu tersebut akan melakukan akomodasi. Akomodasi ini
akan membentuk skemata baru atau memodifikasi skemata yang ada agara cocok dengan
rangsang atau pengalaman yang barudatang.
Kesetimbangan atau ekuilibrasi merupakan keseimbangan antara asimilasi dan
akomodasi. Kesetimbangan ini membuat individu mampu menyatukan pengalaman luar
dengan struktur yang ada.
b. Teori Belajar Konstruktivisme Vygotsky
Ratumanan (2004:45) mengemukan bahwa karya Vygotsky didasarkan pada dua ide
utama. Pertama perkembangan intelektual dapat dipahami dari konteks historis dan budaya

pengalaman anak. Kedua perkembangan tergantung pada sistem isyarat yang mengacu
pada simbol-simbol yang diciptakan oleh budaya untuk membantu orang berfikir,
berkomunikasi, memecahkan masalah, dengan demikian berkembangan kognitif anak
mensyaratkan sistem komunikasi budaya dabn belajar menggunakan sistem-sistem ini
untuk menyesuaikan proses-proses berfikir diri sendiri. Menurut Slavin (dalam
Ratumanan, 2004:49) ada dua implikasi utama teory Vygotsky dalam pendidikan.
Pertama, dikehendakinya setting kelas bentuk pembelajaran kooperatif antara kelompokkelompok peserta didik dengan kemampuan yang berbeda, sehingga peserta didik dapat
berinteraksi dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi
pemecahan masalah yang efektif dalam daerah pengembangan terdekat/proksimal masingmasing. Kedua,dalam pembelajaran menggunakan yang menekankan perancahan atau
pendampingan (scaffolding), sehingga peserta didik semakin lama semakin dapat
mengambil tanggungjawab untuk pembelajarannya sendiri.
(1) Pengelolaan Pembelajaran
Interaksi sosial individu dengan lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan
belajar seseorang, sehingga perkembangan sifat-sifat dan jenis manusia akan dipengaruhi
oleh kedua unsur tersebut. Menurut Vygotsky dalam Slavin (2000), peserta didik
melaksanakan aktivitas belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat
yang mempunyai kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide-ide baru
dan memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.
(2) Pemberian Bimbingan
Menurut Vygotsky, tujuan belajar akan tercapai dengan belajar menyelesaikan tugastugas yang belum dipelajari tetapi tugas-tugas tersebut masih berada dalam daerah
perkembangan terdekat mereka (Wersch,1995), yaitu tugas-tugas yang terletak di atas
peringkat perkembangannya. Menurut Vygotsky. Pada saat peserta didik melaksanakan
aktivitas di dalam daeah perkembangan terdekat mereka, tugas yang tidak dapat
diselesaikan sendiri akan dapat mereka selesaikan dengan bimbingan atau bantuan orang
lain.
c. Ciri dan Prinsip Teori Belajar Konstruktivistik
1) Ciri teori Belajar kontruktivistik
Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
Pengetahuan tidak dapat dipindah dari guru ke peserta didik, kecuali dengan

keaktifan peserta didik untuk bernalar.


Peserta didik mengkonstruksi secara terus-menerus, sehingga selalu terjadi

perubahan konsep ilmiah


Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses kontruksi
berjalan lancar

Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.


Selain itu yang paling penting, guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan

pengetahuan kepada peserta didik.Peserta didik harus membangun pengetahuan di dalam


pikirannya. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang
membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi peserta didik,
dengan memberi kesempatan kepada peserta didikuntuk menemukan atau menerapkan
sendiri ide-ide dan dengan mengajak peserta didik agar menyadari dan menggunakan
strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada
peserta didik agar dapat membantu peserta didik mencapai tingkat pemahaman yang lebih
tinggi, tetapi harus diupayakan agar siswa sindiri yang mau memanjatnya.
2) Prinsip Teori Belajar Konstruktivistik
Secara garis besar, prinsip kontruktivisme yang diterapkan dalam proses pembelajar
adalah:
Pengetahuan dibangun sendiri oleh peserta didik
Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke peserta didik, kecuali peserta

didik aktif sendiri untuk bernalar


Peserta didik aktif mengkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi

perubahan konsep ilmiah


Guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses kontruksi

pengetahuan berjalan lancar


Menghadapi masalah yang relevan dengan peserta didik
Struktur pembelajaran seputar konsep utama penting sebuah pertanyaan
Mencari dan menilai pendapat peserta didik
Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan peserta didik
Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh

hanya semata-mata memberi pengetahuan pada peserta didik. Peserta didik harus
membangun pengetahuan dalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses
ini dengan cara membuat informasi lebih bermakna dan sangat relevan bagi peserta didik.
Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk menemukan atau menerapkan ide-ide
debgan mengajak peserta didik menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka
sendiri untuk belajar.
d. Aplikasi dan Implikasi Teori Belajar kontruktivistik
1) Setiap guru akan pernah mengalami, bahwa materi yang telah di bahas dengan jelas,
tetapi masih ada sebagian peserta didik belum memahami dari materi yang telah
dibahas. Hal ini bukan berarti guru tidak berhasil, karena belajar merupakan
tanggungjawab peserta didk sendiri untuk belajar. Jadi dalam pembelajaran yang

penting bagaimana seorang gyry mendorong peserta didik mau berusaha keras
secara mandiri untuk memahaminya dari apa yang diinformasikan guru.
2) Tugas guru memfasilitasi peserta didik. Sehingga materi yang dibangun atau
dikontruksi peserta didik sendiri bukan ditanam guru; Peserta didik harus aktif
mengasimilasi dan mengakomodasi pengalaman baru ke dalam struktur kognitifnya.
3) Untuk melaksanakan pembelajaran dengan baik guru harus mengetahui modelmodel mental yang digunakan peserta didik untuk mengenal dunia mereka dan
penalaran yang dikembangkan yang dibuat peserta didik untuk mendukung modelmodel itu
4) Peserta didik perlu mengkontruksi pemahaman mereka sendiri untuk masingmasing konsep materi sehingga guru dalam proses pembelajaran bukan
mengkuliahi atau yang sejenisnya tetapi guru harus menciptakan situasi bagi
peserta didik yang membantu perkembangan mereka membentuk kontruksikontruksi mental yang diperlukan.
5) Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi situasi yang memungkinkan
pengetahuan dan keterampilan dapat dikontruksi oleh peserta didik
6) Latihan memecahkan masalah sebaiknya dilakukan secara berkelompok dengan
menganalisis masalah dalamkehidupan sehari-hari
7) Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai
dengan dirinya. Guru hanya sebagai fasilitator, moderator dan teman yang membuat situasi
kondusifuntuk terjadinya kontruksi pengetahuan pada diri pesertadidik.
Daftar Pustaka
1. Ausubel, D.P., 1986. Educational Psychology: A cognitive View. New York: Holt
Rinehart & Winston.
2. Dahar, Ratna W., (1988). Teori-teori Belajar. Jakarta: Proyek P2LPTK
3. Lawson, A.E., 1995. Science Teaching and Development of Thinking. Belmont,
California: Wadsworth Publishing Company

Pertanyaan Latihan
1. Menurut Ausubel inti dari belajar adalah , jelaskan.
2. Seorang anak dapat menemukan sendiri materi belajarnya dan dimasukkan ke dalam
struktur kognitif, maka anak tersebut menurut Ausubel.
3. Apa yang dimaksud dengan kemampuan berfikir deduktif-hipotetik menurut Piaget.
4. Bagaimana Bruner memandang manusia dalam teori belajarnya

5. Mengapa menurut Gagne pemecahan masalah merupakan belajar yang paling tinggi
tingkatnya jelaskan.
6. Pada pembelajaran penemuan menurut Gagne dan Piaget bagaimana peran peserta
didik dan guru jelaskan.
7. Apa yang disaran Gagne pada guru yang menggunakan pemecahan masalah dalam
pembelajaran?
8. Seorang anak telah mengalami perkembangan intelektualnya, menurut Piaget jika anak
tersebut telah:
9. Jelaskan istilah asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi dalam teori perkembangan
intelektual menurut Piaget.
10. Hal yang perlu diingat untuk memahami teori perkembangan intelektual menurut
Piaget adalah:
11. Beri contoh dalam memecahkan masalah dalam belajar fisika peserta didik telah
mampu berfikir reflektif
12. Konsep umum yang dimiliki oleh pendekatan kontruktivisme antara lain:
13. Menurut Slavin ada dua implikasi utama teory Vygotsky dalam pendidikan jelaskan.
14. Menurut Vygotsky dalam Slavin , peserta didik melaksanakan aktivitas belajar adalah.
15. Jelaskan Ciri dan Prinsip Teori Belajar Konstruktivistik.

Jawaban Pertanyaan
1. Inti dari belajar menurut Ausubel adalah belajar bermakna, artinya peserta didik dapat
mengasimilasi materi pelajaran secara penerimaan, maupun secara penemuan
2. Seorang anak dapat menemukan sendiri materi belajarnya dan dimasukkan ke dalam
struktur kognitif, maka anak tersebut menurut Ausubel maka anak tersebut telah
belajar secara penemuan
3. Kemampuan berfikir deduktif-hipotetik menurut Piaget kemampuan membuat asumsi
situasi-situasi hipotesis dan mengemukakan alasan yang logis serta mampu
menggunakan pemikiran yang kombinasi dn menggunakan alasan secara proporsional.
Alasan proporsional ini menunjukkan bahwa anak tersebut telah mampu memahami
hubungan.

4. Bruner memandang manusia dalam teori belajarnya sebagai pemikir dan pencipta
informasi

artinya

manusia

mengkontruksi

pengetahuan

baru

dengan

cara

menghubungkan pengetahuan lama yang telah dimiliki dengan pengetahuan baru.


5. Pemecahan masalah merupakan belajar yang paling tinggi tingkatnya menurut Gagne
sebab Problem solving (pemecahan masalah) disebut juga dengan inquiry dalam
pelaksanaannya sering digabung dengan discovery sehingga diperoleh modifikasi
yang disebut structured inqury (penyelidikan terstruktur). Pada penyelidikan
terstruktur ini peserta didik hanya mendapat saran cara kerja untuk: mengumpulkan
data, mengorganisasi data dan mendapat pertanyaan yang mengarah pada
penyelesaian masalah yang dihadapinya.
6. Peran peserta didik dan guru pada pembelajaran penemuan menurut Gagne dan Piaget
peserta didik harus yang melakukan kegaiatan belajar sebagai pusat karena merekalah
yang belajar, sedangkan guru berlaku sebagai fasilatator, motivator secara singkat
child centered approach.
7. Saran Gagne pada guru yang menggunakan pemecahan masalah dalam pembelajaran
adalah: 1) guru harus mengembangkan tugas-tugas pemecahan masalah dengan ideide baru jauh dari latihan rutin, 2) guru harus menganalisis tugas tersebut untuk
menentukan

pengetahuan

dan

keterampilan

awal

yang

diperlukan

untuk

menyelesaikan permasalahan, 3) guru harus yakin bahwa peserta didik memahami


hakikat dari permasalahan yang diberikan, dan 4) guru harus hati-hati tidak memberi
jalan pemecahan masalah dari permasalahn yang diberikan
8. Seorang anak telah mengalami perkembangan intelektualnya, menurut Piaget jika
anak tersebut telah memperoleh skemata atau konsep sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannnya
9. Dalam teori perkembangan intelektual

Piaget menggunakan istilah-istialh seperti

Asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi yang dimaksud adalah asimilasi adalah


kemampuan anak untuk mengubah lingkungan untuk memenuhi imajinasinya,
akomodasi kemampuan anak menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan ekuilibrasi
kemampuan anak untuk mengatur dan menyusun
10. Hal yang perlu diingat untuk memahami teori perkembangan intelektual menurut
Piaget adalah setiap anak pasti mengalami masing-masing tahap perkembangan dan
dalam massa berkembangannya secara berturutan hanya kecepatannya berbeda-beda.
11. contoh dalam memecahkan masalah dalam belajar fisika peserta didik telah mampu
berfikir reflektif. Sekelompok anak melakukan percobaan menentukan fokus sebuah
lensa cembung di kelas, setelah mengukur jarak benda sebagai benda nyala lilin, jarak
bayangan dan menghitung besarnya fokus. Etelah selesai melakukan percobaan

kelompok anak ini menyarankan sebaiknya percobaan ini dilakukan di ruang gelap
agar hasilnya lebih akurat.
12. Konsep umum yang dimiliki oleh pendekatan kontruktivisme antara lain di jelaskan
pada hal 7 sampai 8.
13. Menurut Slavin ada dua implikasi utama teory Vygotsky dalam pendidikan,
dikehendakinya setting kelas bentuk pembelajaran kooperatif antara kelompokkelompok peserta didik dengan kemampuan yang berbeda. Kedua, dalam
pembelajaran menggunakan yang menekankan perancahan atau pendampingan
(scaffolding).
14. Menurut Vygotsky dalam Slavin , peserta didik melaksanakan aktivitas belajar , bila
melakukan interaksi dengan orang dewasa dan teman sejawat yang mempunyai
kemampuan lebih. Interaksi sosial ini memacu terbentuknya ide-ide baru dan
memperkaya perkembangan intelektual peserta didik.
15. Ciri dan Prinsip Teori Belajar Konstruktivistik baca pada Bab II halaman 10