Anda di halaman 1dari 8

APIN

A. Kedudukan wudhu dalam sholat


Wudhu merupakan suatu hal yang tiada asing bagi setiap muslim, sejak kecil ia telah
mengetahuinya bahkan telah mengamalkannya. Akan tetapi apakah wudhu yang telah
kita lakukan selama bertahun-tahun atau bahkan telah puluhan tahun itu telah benar
sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi was sallam?
Karena suatu hal yang telah menjadi konsekwensi dari dua kalimat syahadat bahwa
ibadah harus ikhlas mengharapkan ridho Allah dan sesuai sunnah Nabi shallallahu
alaihi was sallam. Demikian juga telah masyhur bagi kita bahwa wudhu merupakan
syarat sah sholat[1], yang mana jika syarat tidak terpenuhi maka tidak akan
teranggap/terlaksana apa yang kita inginkan dari syarat tersebut. Sebagaimana sabda
Nabi yang mulia, Muhammad shallallahu alaihi was sallam,





Tidak diterima sholat orang yang berhadats sampai ia berwudhu.
Demikian juga dalam juga Allah Subhanahu wa Taala perintahkan kepada kita dalam
KitabNya,


Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. (QS Al Maidah [5] : 6).
B. Tata Cara Berwudhu'
Dari Humran bekas budak Utsman, bahwa bin Affan r.a. meminta air wudhu'. (Setelah
dibawakan), ia berwudhu', ia mencuci kedua telapak tangannya tiga kali, kemudian
berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidungnya, kemudian mencuci wajahnya
tiga kali, lalu membasuh tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian membasuh
tangannya yang kiri tiga kali seperti itu juga, kemudian mengusap kepalanya lalu
membasuh kakinya yang kanan sampai kedua mata kakinya tiga kali kemudian
membasuh yang kiri seperti itu juga. Kemudian mengatakan, "Saya melihat Rasulullah
saw. (biasa) berwudhu' seperti wudhu'ku ini lalu Rasulullah bersabda, "Barang siapa
berwudhu' seperti wudhu'ku ini kemudian berdiri dan ruku' dua kali dengan sikap tulus
ikhlas, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." Ibnu Syihab berkata, "Adalah
ulama-ulama kita menegaskan, ini adalah cara wudhu' yang paling sempurna yang
(seyogyanya) dipraktikkan setiap orang untuk shalat." (Muttafaq 'alaih : Muslim I:204

no:226, dan ini redaksinya, Fathul Bahri I:266 no:164, 'Aunul Ma'bud I:180 no:106 dan
Nasa'i I:64).
C. Syarat-Syarat Sahnya Wudhu'
a) Niat, berdasar sabda Nabi saw., "Sesungguhnya segala amal hanyalah bergantung pada
niatnya." (Muttafaqun 'alaih: Fathul Bari, I:9 no:1, Muslim III:1515 no:1907, Aunul Ma'bud
VI:284 no:2186, Tirmidzi III: 100 no:169, Ibnu Majah II:1413 no:4227, Nasa'i I:59). Tidak
pernah disyariatkan melafadzkan niat karena tidak ada dalil yang shahih dari Nabi saw. yang
menganjurkannya.
b) Mengucapkan basmalah, karena ada hadits Nabi saw., " Tidak sah shalat bagi orang yang
tidak berwudhu' (sebelumnya) dan tidak sah wudhu' bagi orang yang tidak menyebut,
Bismillah" (sebelumnya)." (Hadits hasan: Shahihu Ibnu Majah no: 320 'Aunul Ma'bud I:174
no:101 dan Ibnu Majah I:140 no:399).
c) (Di samping itu, ada dua riwayat lain yang menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
"Tawadhdha-uu-bibismillahi (Berwudhu'lah dengan (menyebut) nama Allah," Lihat Nasai'i,
kitab thaharah no: 61 bab : mengucapkan basmallah ketika akan berwudhu', dan Musnad
Imam Ahmad III:165 (pent.))
d) Muwalah (Berturut-turut) tidak diselingi oleh pekerjaan lain, berdasarkan hadits Khalid bin
Ma'dan, "Bahwa Nabi saw. pernah melihat seorang laki-laki tengah mengerjakan shalat,
sedang di punggung kakinya dan sebesar uang dirham yang tidak tersentuh air wudhu', maka
Nabi saw. menyuruhnya agar mengualngi wudhu' dan shalatnya." (Shahih: Shahih Abu Daud
no: 161 dan 'Aunul Ma'bud I: 296 no:173)
D. Hal-Hal yang Fardhu/Najis dalam Wudhu'
1. Membasuh wajah termasuk berkumur-kumur dan membersihkan hidung.
2. Mencuci kedua tangan sampai kedua siku-siku. (Dalam Al Umm I:25 Syafil menegaskan
Selamanya tidak dianggap cukup membasuh kedua tangan kecuali dengan membasuh tangan
dan punggungnya secara keseluruhan sampai ke siku-siku. Jika ada bagian darinya yang
tertinggal walaupun kecil sekali, maka dianggap tidak sah membasuh tangannya. Selesai)
3. Mengusap seluruh kepala, dan kedua telinga termasuk bagian dari kepala.
4. Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT,
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, basuhlah mukamu
dan tanganmu sampai dengan siku dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan
kedua mata kakimu." (Al-Maaidah : 6).
Adapun berkumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung)
termasuk bagian dari muka sehingga wajib dilakukan karena Allah Taala telah
memerintahkan di dalam kitab-Nya yang mulia membasuh muka. Di samping itu,

telah sah dari Nabi saw., beliau terus menerus melakukan kumur dan istinsyaq
setiap kali berwudhu.
Sebagaimana

yang

telah

diriwayatkan

oleh

seluruh

sahabatnya

yang

meriwayatkan dan menerangkan tata cara wudhu Nabi saw., sehingga secara
keseluruhan itu menunjukkan bahwa membasuh wajah yang diperintahkan di
dalam al-Quran meliputi berkumur-kumur dan istinsyaq (as-Sailal Jarrar I:81)
Lagi pula ada sabda Nabi saw. yang memerintah berikumur-kumur dan istinsyaq
memasukkan air ke dalam hidung.
Apabila seorang di antara kamu berwudhu, maka masukkanlah air ke dalam
hidungnya, lalu keluarkanlah! (Shahih : Shahihul Jamius Shaghir no:443,
Aunul Mabud I:234 no:140 dan Nasai I:66).
Dan sabda beliau saw. yang lain, Bersungguh-sungguhlah dalam melakukan
istinsyaq, kecuali sedang berpuasa. (Shahih: Shahih Abu Daud no:129 dan 131,
Aunul Mabud I:236 no: 142 dan 144).
Dalam hadits yang lain, beliau saw. bersabda juga, Apabila kamu berwudhu,
maka hendaklah berkumur-kumur. (Shahih: sama dengan di atas).
Adapun tentang wajibnya mengusap seluruh kepala, yaitu karena perintah
mengusap kepala di dalam Al-Quran bersifat mujmal (global), maka bayan
(penjelasannya) dikembalikan kepada sunnah Nabi saw.. Sudah tegas dalam
riwayat Bukhari, Muslim dan selain keduanya bahwa Nabi saw. mengusap seluruh
kepalanya. Dan dalam hal ini terdapat dalil yang tegas yang menunjukkan
wajibnya mengusap seluruh kepala secara sempurna.
Jika ada yang berpendapat, bahwa ada riwayat yang shahih dari al-Mughirah,
bahwa Nabi saw. pernah mengusap ubun-ubunnya dan di atas surbannya?
Maka jawabannya: Rasulullah saw. mencukupkan mengusap di atas ubunubunnya, karena beliau menyempurnakan dengan mengusap sisa kepalanya di atas
surbannya. Dan, penulis berpendapat demikian dan di dalam riwayat al-Mughirah
tersebut tidak terdapat syarat yang menunjukkan bolehnya mengusap hanya di atas
ubun-ubun saja atau sebagian kepala saja tanpa menyempurnakan di atas
surbannya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir II:24 dengan sedikit perubahan redaksi).
Walhasil, wajib mengusap seluruh kepala. Pengusap kepala jika mau boleh,
mengusap di atas kepala saja atau di atas surban saja atau di atas kepala dan
dilanjutkan di atas surban, ketiga cara tersebut shahih dan kuat (pernah dilakukan
oleh Nabi saw.)

5. Adapun perihal dua telinga termasuk bagian dari kepala sehingga wajib pula diusap
berdasarkan pada sabda Nabi saw., Dua telinga itu termasuk kepala. (Shahih: Shahih Ibnu
Majah no: 357 dan Ibnu Majah I:152 no:443).

Menyela-nyelakan air pada jenggot


Dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw. apabila berwudhu,
mengambil segenggam air, lalu memasukkannya ke belakang dagu,
kemudian menyela-nyelakannya di antara jenggotnya, seraya bersabda,
Beginilah yang Rabbku Azza wa Jalla Perintahkan kepadaku. (Shahih:

Irwaul Ghalil no: 92. Aunul Mabud I: 243 no:45, dan Baihaqi I:54).
Menyela-nyelakan air pada jari-jemari tangan dan kaki
Sebagaimana yang ditegaskan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
Sempurnakanlah wudhu dan sela-selakanlah (air) di antara jari-jemari dan
bersungguh-sungguhlah dalam melakukan instinsyaq kecuali kamu dalam
keadaan puasa. (Shahih: Shahih Abu Daud no:129 dan 131 dan Aunul
Mabud I: 236 no:142 dan 144).

E. Sunnah-Sunnah Wudhu' (Hal-Hal yang Disunahkan Ketika Berwudhu')


1. Siwak, sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw.
bersabda, Kalaulah sekiranya aku tidak (khawatir) akan memberatkan umatku, niscaya
kuperintahkan mereka bersiwak setiap kali wudhu. (Shahih: Shahihul Jammi no:5316 dan
al-Fathur Rabbani I:294 no:171).
2. Mencuci kedua telapak tangan tiga kali pada awal wudhu, sebagaimana yang telah
diriwayatkan dari Utsman bin Affan r.a. yang mengisahkan wudhu Nabi saw. di mana dia
membasuh kedua telapak tangannya tiga kali. (Lihat masalah tata cara Wudhu pada halaman
sebelumnya).
3. Kumur-kumur dan instinsyaq sekali jalan, tiga kali:
Dari Abdullah bin Zaid r.a. tentang dia mengajarkan (tata cara) wudhu
Rasulullah saw., di mana dia berkumur-kumur dan instisyaq dari satu telapak
tangan. Dia berbuat demikian (sebanyak) tiga kali. (Shahih: Mukhtashar Muslim
no:125, dan Muslim I:210 no:235).
4. Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyaq: kecuali bagi orang yang
berpuasa, berdasarkan hadits Nabi saw., Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq, kecuali
kamu dalam keadaan berpuasa. (Shahih: Shahih Abu Daud no:129 dan 131, Aunul Mabud
I:236 no:142 dan 144).
5. Mendahulukan anggota wudhu yang kanan daripada yang kiri karena ada hadits Aisyah r.a.
yang mengatakan, Adalah Rasulullah saw. mencintai mendahulukan anggota yang kanan

dalam hal mengenakan alas kaki, menyisir, bersuci dan dalam seluruh ihwahnya.
(Muttafaqun alaih: Fathul Bari I: 269 no:168, Muslim I: 226 no:268, Nasai I:78).
Di samping itu hadits Utsman yang menceritakan tata cara wudhu Nabi saw. di
mana dia membasuh anggota yang kanan, lalu yang kiri.
6. Menggosok, karena ada hadits Abdullah bin Zaid yang mengatakan, Bahwa Nabi saw.
pernah dibawakan dua sepertiga mud (air), kemudian beliau berwudhu, maka beliapun
menggosok kedua hastanya. (Sanadnya shahih: Shahih Ibnu Khuzaimah I:62 no:118).
7. Membasuh tiga kali, tiga kali, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Utsman bin Affan ra
(pada awal pembahasan wudhu) bahwa Nabi SAW berwudhu tiga kali, namun ada juga
riwayat yang sah yang menyatakan, Bahwa Nabi saw. pernah berwudhu satu kali satu dan
kali dua kali dua kali. (Hasan shahih: Shahih Abu Daud no:124, Fathul Bari I:258 no:158
dari hadits Abdullah bin Zaid Aunul Mabud I:230 no:136, Tirmidzi I:31 no:43 dari hadits
Abu Hurairah).
Dianjurkan pula kadang-kadang mengusap kepala lebih dari sekali (tiga kali)
karena ada riwayat, dari Utsman bin Affan r.a. bahwa ia pernah mengusap
kepadanya tiga kali seraya berkata, Saya pernah melihat Rasulullah saw.
berwudhu (dengan mengusap kepala) begini. (Hasan Shahih: Shahih Abu
Dawud no:101 dan Aunul Mabud I:188 no:110).
8. Tertib, karena kebanyakan cara wudhu Rasulullah saw. selalu dengan tertib sebagaimana
yang telah disampaikan sejumlah sahabat yang meriwayatkan wudhu beliau saw. Akan
tetapi, ada riwayat yang sah dari al-Miqdam bin Madikariba ia berkata :
Bahwa Rasulullah saw. pernah dibawakan air wudhu, lalu beliau berwudhu
membasuh kedua telapak tangannya tiga kali dan membasuh wajahnya tiga kali,
kemudian membasuh kedua hastanya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan
mengeluarkan air yang telah dimasukkan ke dalam hidung tiga kali, kemudian
mengusap kepalanya dan dua telinganya. (Shahih: Shahih Abu Daud no:112 dan
Aunul Mabud I:211 no:121).
9. Berdoa sesudah wudhu. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Nabi saw. Tak
seorangpun di antara kalian yang berwudhu dengan sempurna, lalu mengucapkan (doa)
Asyhadu allaa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan
'abduhu wa rasuuluh (Aku bersaksi bahwa tiada Ilah (yang patut diibadahi) keuali Allah
semata tiada sekutu bagi-Nya; dan aku bersaksi, bahwa Muhammad hamba dan Rasul-Nya).
melainkan pasti dibukalah baginya pintu-pintu surga yang delapan, ia boleh masuk dari pintu

mana saja yang dikehendakinya. (Shahih: Mukhtasharu Muslim No: 143 Muslim 1:209
no:234).
Kemudian Imam Tirmidzi menambahkan, Allahummaj'alni minat tawwaabiina
waj'ani minal mutathahiriin (Ya, Allah, jadikahlah kami termasuk orang-orang
yang tekun bertaubat dan jadikahlah kami termasuk orang-orang yang rajin
bersuci). (Shahih: Shahih Tirmidzi no:48 dan Tirmidzi I:38 no:55)
10. Dan dari Abu Said al-Khudri bahwasannya Nabi bersabda, Barang siapa berwudhu lalu
membaca, Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji bagi-Mu aku bersaksi bahwasannya
tiada sesembahan yang sebenarnya kecuali Engkau, aku mohon ampunan dan bertaubat padaMu", niscaya dicatat pada sebuah lembaran kemudian dicetak dengan sebuah cetakan lalu
tidak dipecahkan hingga hari kiamat." (Hadits Shahih, lihat at-Targhib no.220, al-Hakim
I/564, dan tidak akan ada hadits shahih mengenai doa (bacaan-bacaan) ketika sedang
berwudhu)
F. Hal-Hal yang Membatalkan Wudhu'
1. Apa saja yang keluar dari kemaluan dan dubur, berupa kencing, berak, atau kentut. Allah
SWT berfirman yang artinya, "Atau kembali dari tempat buang air." (Al-Maidah:6)
Rasulullah saw. bersabda, "Allah tidak akan menerima shalat seorang di antara
kamu yang berhadas sampai ia berwudhu' (sebelumnya)." Maka, seorang sahabat
dari negeri Hadramaut bertanya. "Apa yang dimaksud hadas itu wahai Abu
Hurairah?" Jawabnya, "Kentut lirih maupun kentut keras." (Muttafaqun 'alaih
Fathul Bari I: 234, Baihaqi I:117, Fathur Robbani, Ahmad II:75 no:352) Dan
hadits ini menurut sebagian mukharrij selain yang disebut di atas tidak ada
tambahan (tentang pernyataan orang dari Hadramaut itu), Muslim I:204 no:225,
'Aunul Ma'bud I:87 no:60, dan Tirmidzi I: 150 no:76.
"Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, "Mani, wadi dan madzi (termasuk hadas).
Adapun mani, cara bersuci darinya harus dengan mandi besar. Adapun madi dan
madzi," maka dia berkata, "cucilah dzakarmu, kemaluanmu, kemudian
berwudhu'lah sebagaimana kamu berwudhu' untuk shalat!" (Shahih: Shahih Abu
Daud no:190, dan Baihaqi I:115).
2. Tidur pulas sampai tidak tersisa sedikitpun kesadarannya, baik dalam keadaan duduk yang
mantap di atas ataupun tidak. Karena ada hadits Shafwan bin Assal, ia berkata, "Adalah
Rasulullah saw. pernah menyuruh kami, apabila kami melakukan safar agar tidak melepaskan
khuf kami (selama) tiga hari tiga malam, kecuali karena janabat, akan tetapi (kalau) karena

buang air besar atau kecil ataupun karena tidur (pulas maka cukup berwudhu')." (Hasan:
Shahih Nasa'i no:123 Nasa'i I:84 dan Tirmidzi I:65 no:69).
3. Pada hadits ini Nabi saw. menyamakan antara tidur nyenyak dengan kencing dan berak
(sebagai pembatal wudhu').
"Dari Ali r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Mata adalah pengawas duburdubur; maka barangsiapa yang tidur (nyenyak), hendaklah berwudhu'." (Hasan:
Shahih Ibnu Majah no:386. Ibnu Majah I:161 no:477 dan 'Aunul Ma'bud I:347
no:200 dengan redaksi sedikit berlainan).
Yang dimaksud kata al-wika' ialah benang atau tali yang digunakan untuk
menggantung peta.
Sedangkan kata "as-sah" artinya : "dubur" Maksudnya ialah "yaqzhah" (jaga, tidak
tidur) adalah penjaga apa yang bisa keluar dari dubur, karena selama mata terbuka
maka pasti yang bersangkutan merasakan apa yang keluar dari duburnya. (Periksa
Nailul Authar I:242).
Hilangnya kesadaran akal karena mabuk atau sakit. Karena kacaunya pikiran
disebabkan dua hal ini jauh lebih berat daripada hilangnya kesadaran karena tidur
nyenyak.
4. Memegang kemaluan tanpa alas karena dorongan syahwat, berdasarkan sabda Nabi saw.,
"Barangsiapa yang memegang kemaluannya, maka hendaklah berwudhu'." (Shahih: Shahih
Ibnu Majah no:388, 'Aunul Ma'bud I:507 no:179, Ibnu Majah I:163 no:483, 'Aunul Ma'bud
I:312 no:180 Nasa'i I:101, Tirmidzi I:56 no:56 no:85).
Betul, ia memang bagian dari anggota badanmu, bila sentuhan tidak diiringi
dengan gejolak syahwat, karena sentuhan model seperti ini sangat memungkinkan
disamakan dengan menyentuh anggota badan yang lain. Ini jelas berbeda jauh
dengan menyentuh kemaluan karena termotivasi oleh gejolak syahwat. Sentuhan
seperti ini sama sekali tidak bisa diserupakan dengan menyentuh anggota tubuh
yang lain karena menyentuh anggota badan yang tidak didorong oleh syahwat dan
ini adalah sesuatu yang amat sangat jelas, sebagaimana yang pembaca lihat sendiri
(Tamamul Minnah hal:103).
5. Makan daging unta sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bara' bin 'Azib ra ia berkata,
"Rasulullah saw. bersabda, "Berwudhu'lah disebabkan (makan) daging unta, namun jangan
berwudhu' disebabkan (makan) daging kambing!" (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:401, Ibnu
Majah I:166 no:494, Tirmidzi I:54 no:81, 'Aunul Ma'bud I:315 no:182).

Dari Jabir bin Samurah r.a. bahwa ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi saw.
apakah saya harus berwudhu' (lagi) disebabkan (makan) daging kambing? Jawab
Beliau, "Jika dirimu mau, silakan berwudhu'; jika tidak jangan berwudhu' (lagi)."
Dia bertanya (lagi) "Apakah saya harus berwudhu' (lagi) disebabkan (makan)
daging unta?" Jawab Beliau, "Ya berwudhu'lah karena (selesai makan) daging
unta!" (Shahih Mukhtashar Muslim no:146 dan Muslim I:275 no:360).
G. Hal-Hal yang Karenanya Diwajibkan Berwudhu'
1. Shalat, karena Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang berfirman, apabila kamu berdiri
hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka-muka kamu." (Al-Maaidah: 6).
Di samping itu, Rasulullah saw. bersabda, "Allah tidak akan menerima, shalat
(yang dilakukan) tanpa bersuci (sebelumnya)." (Shahih: Mukhtashar Muslim
no:104, Muslim 1:204 no:224 dan Tirmidzi 1:3 no:1).
2. Thawaf di Baitullah, berdasarkan sabda Nabi saw., "Thawaf di Baitullah adalah shalat, hanya
saja Allah membolehkan berbicara." (Shahih: Shahihul Jami'us Shaghir no:3954 dan Tirmidzi
II:217 no:967).