Anda di halaman 1dari 4

Definisi

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, diabetes mellitus merupakan suatu
kelompok penyakit metabolik dengan karateristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya.
Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka
insidensi dan prevalensi DM tipe 2 di berbagai penjuru dunia. WHO memprediksi adanya peningkatan
jumlah penyandang diabetes yang cukup besar pada tahun-tahun mendatang. WHO memprediksi
kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta
pada tahun 2030. Senada dengan WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009,
memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 7,0 juta pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada
tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya menunjukkan adanya
peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak dua sampai tiga kali lipat pada tahun 2030.

KLASIFIKASI
1. Klasifikasi etiologis DM

2. Bagan Pengolaan DM

DIAGNOSIS
Diagnosis DM dapat ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Penentuan
diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik
dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (wholeblood), vena, atau angka kriteria
diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil
pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer.
Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penderita DM. Kecurigaan adanya perlu dipikirkan
apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah ini:

Keluhan klasik DM berupa : polyuria, polydipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang

penyebabnya tidak diketahui sebelumnya.


Keluhan lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada
pria, serta pruritus vulvae pada wanita.

Diangnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara:


1. Keluhan klasik ditemukan dan pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl yang sudah
cukup untuk menegakkan diagnosis DM.
2. Pemeriksaan glukosa plasma puasa >126 mg/dl dengan adanya keluhan klasik.
3. Tes toleransi glukosa oral ( TTGO), namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan. TTGO sulit
untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan
persiapan khusus.
Kriteria Diagnosis DM :

4. Pemeriksaan Penyaring dilakukan pada mereka yang mempunyai resiko DM tetapi tidak
menunjukkan adanya gejala DM. Pemeriksaan penyaring bertujuan menemukan pasien dengan

DM, TGT, maupun GDPT, sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat. Pasien dengan TGT
dan GDPT disebut paien intoleransi glukosa, merupakan tahapan sementara menuju DM. Dan
juga merupakan faktor resiko untuk terjadinya DM dan penyakit kardiovaskular dikemudian hari.
Pemeriksaan ini dapat dilakukkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar
glukosa darah puasa.

PENATALAKSANAAN
Perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui
pengelolaan pasien secara holistic dengan mengajarkan perawatan mandiri dan perubahan perilaku.