Anda di halaman 1dari 17

Bab 1

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Rongga mulut manusia terdiri dari struktur-struktur yang kompleks dan
terlapisi oleh suatu cairan yang disebut saliva. Cairan ini dihasilkan oleh beberapa
kelenjar yang terdapat didalam rongga mulut. 99% dari cairan ini merupakan air
yang mengandung elektrolit dan protein. Kelenjar-kelenjar saliva tersebut selalu
mensekresikan saliva setiap saat dengan volume dan waktu tertentu yang disebut
dengan saliva flow (de Almeida PDV et al., 2008). Saliva menjaga kelembapan
dan kenyamanan di dalam rongga mulut. Selain itu, saliva juga berfungsi
melawan kuman dan menjaga enamel supaya tidak terjadi karies (WebMD, 2015).
Di dalam rongga mulut terdapat suatu jaringan penyangga gigi yang disebut
dengan periodontium. Jaringan tersebut terdiri dari 4 struktur utama, yaitu
gingiva, tulang alveolar, ligamen periodontal, dan cementum yang menempel pada
akar gigi (Scheid et al., 2012). Salah satu penyakit yang terdapat pada jaringan
tersebut adalah penumpukan kalkulus. Secara umum, kalkulus merupakan suatu
plak pada gigi yang mengalami mineralisasi (Rajendran dan Sivapathasundharam,
2009). Mineral-mineral yang terkandung didalam saliva dipercaya dapat
mempengaruhi pembentukan kalkulus (Heinonen, 2012). Untuk membuktikan
pernyataan tersebut, maka penulis berminat menulis judul Pengaruh Kandungan
Mineral dalam Saliva terhadap Kalkulus
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh kandungan mineral terhadap konsentrasi mineral?
2. Bagaimana pengaruh volume saliva terhadap konsentrasi mineral?
3. Bagaimana pengaruh volume saliva terhadap pH saliva?
4. Bagaimana pengaruh konsentrasi mineral dan pH saliva terhadap
pembentukan kalkulus?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mendeskripsikan pengaruh kandungan mineral terhadap konsentrasi
mineral
2. Mendeskripsikan pengaruh volume saliva terhadap konsentrasi mineral
3. Mendeskripsikan pengaruh volume saliva terhadap pH saliva

4. Mendeskripsikan pengaruh konsentrasi mineral dan pH saliva terhadap


pembentukan kalkulus.
1.4 Manfaat Penulisan
Manfaat dari tugas metodologi penelitian ini dibuat adalah supaya mahasiswa
memahami cara menulis proposal skripsi ilmiah dengan baik dan benar.

Bab 2

Tinjauan Pustaka
2.1 Saliva
2.1.1 Definisi Saliva
Saliva cairan rongga mulut yang berfungsi melindungi jaringan di dalam
rongga mulut dengan cara pembersihan secara mekanis untuk mengurangi
akumulasi plak, lubrikasi elemen gigi-geligi, pengaruh buffer, agregasi bakteri
yang dapat menghambat kolonisasi mikroorganisme, aktivitas antibakterial,
pencernaan, retensi kelembaban, dan pembersihan makanan. Perubahan kondisi
saliva sangat mempengaruhi kesehatan rongga mulut seseorang. (Amelia, 2010)
Berikut ialah fungsi dari saliva:
Fungsi
Proteksi

Efek
Membersihkan ronggamulut

Komponen aktif
Air

Lubrikasi

Mucin, glikoprotein

Buffer

Pembentukan pelikel
Mempertahankan pH

Protein, glikoproten, mucin


Bicarbonate, fosfat, protein

Tooth integrity

Menetralkan asam
Maturasi enamel

dasar, urea , ammonia


Kalsium,
fosfat,
florida,

Memperbaiki enamel

statherin, acidic proline-rich

Barrier fisik

proteins
Mucin

Pertahanan imun

IgA

Pertahanan nonimun

Peroksidase,

Aktivitas antimikroba

lactoferin,
agglutinin,
Memperbaiki jaringan
Pencernaan
Perasa

Menyembuhkan luka, epitel


Membentuk bolus
MEmpertahankan taste buds

Lisozim,
histatin,

mucin,

defensing

dan

cathelicidin-LL37
Growth Factor, trefoil protein
Air, mucin
Epidermal growth factor dan
karbonik anhydrase VI

Tabel 1. Fungsi saliva (Nanci, 2013)


2.1.2 Anatomi Kelenjar Saliva
Kelenjar saliva dibagi menjadi 2, yaitu kelenjar saliva mayor dan kelenjar
saliva minor. (Bailey, 2006) Saliva disekresi oleh 3 pasang kelenjar saliva mayor,

yaitu kelenjar parotis, submandibular, dan sublingual. Bentuk anatomi dari ketiga
kelenjar tersebut memiliki persamaan; sel acini memproduksi saliva. Sel acini
dikelilingi oleh matriks ekstrasel, sel mioepitel, miofibroblas, sel imun, sel
endotel, sel stroma dan sabut saraf. (Ligtenberg, 2014)
Kelenjar parotis merupakan kelenjar saliva terbesar. Bagian superfisial dari
kelenjar parotis berada pada subkutan, di depan telinga bagian eksterna, dan
bagian profundusnya tersembunyi di belakang ramus mandibular. Kelenjar parotis
berhubungan dengan cabang perifer dari saraf fasial. Duktus kelenjar parotis
(Stensens duct) terletak menyilang

kedepan dari musculus masseter, hingga

sepanjang tepi anterior masseter dan bermuara pada papil yang terletak
bersebrangan dengan molar kedua rahang atas. (Nanci, 2013)
Kelenjar submandibular terletak pada bagian posterior pada dasar mulut,
bagian tepi posterior dari kelenjar submandibular diselimuti oleh musculus
mylohyoid. Duktus kelenjar submandibular (Whartons duct) terletak di atas
musculus mylohyoid dan bermuara di bawah lidah, di lateral frenulum lingualis.
(Nanci, 2013)
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar terkecil dari ketiga pasang
kelenjar saliva mayor. Kelenjar ini terletak pada bagian anterior dasar mulut,
antara mukosa dan musculus mylohyoid. Sekresi kelenjar ini melalui duktus kecil,
yaitu Rivinus, yang terletak di sepanjang sublingual fold dan terkadang dapat
melalui duktus yang lebih besar (Bartholins duct) terletak dekat duktus
submandibular. (Nanci, 2013)
Kelenjar saliva minor memiliki jumlah 600 sampai 1000 kelenjar. Kelenjar
saliva minor terdiri dari kelenjar lingualis, bukalis, labialis, palatinal, dan
glossopalatinal. Kelenjar-kelenjar ini berada di bawah mukosa dari bibir, lidah,
pipi, serta palatum. (Bailey, 2006)

2.2 Volume Saliva


2.2.1 Definisi

Salivary flow rates (SFR) merupakan total berat dari saliva yang
disekresikan selama 5 menit dan dinyatakan dalam satuan ml/menit. Hasil yang
diperoleh merupakan jumlah saliva normal yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar
saliva di dalam rongga mulut per satuan waktu. (Trajtenberg et al. 2013).
Salivary flow rate rata-rata seseorang perkiraan sekitar 0,5 1,5 liter per
hari. Acuan umum dari salivary flow rate adalah sebagai berikut :

2.2.2 Metode untuk mengumpulkan saliva


David (2008) mengemukakan bahwa metode umum untuk mengumpulkan
saliva yang menyeluruh meliputi metode draining, splinting, suction dan
absorben (swab). Stimulus umum yang biasa digunakan adalah dengan
mengunyah chewing gum.
a) Draining
Metode draining yaitu dengan cara membiarkan saliva mengalir dengan
sendirinya dan saliva ditampung dalam sebuah wadah atau gelas.

b) Splinting
Saliva dibiarkan terakumulasi di dasar mulut, kemudian diludahkan kedalam
suatu wadah atau gelas.
c) Suction
Saliva terakumulasi di dasar mulut kemudian diambil dengan menggunakan
alat yang disebut saliva ejector
d) Adsorben (swab)
Saliva diakumulasi kemuduian diswab dengan menggunakan cotton wall
swab untuk kemudian disentrifugasi.

2.3 pH saliva
2.3.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi pH saliva
Derajat keasaman (pH) dan kapasitas buffer saliva dipengaruhi oleh
perubahan-perubahan yang disebabkan oleh irama cyrcadian, diet dan rangsangan
terhadap kecepatan sekresi saliva (Arabaci T. et.al., 2013).

a. Irama cyrcadian
Irama cyrcadian mempengaruhi pH dan kapasitas buffer saliva. Pada
keadaan istirahat atau segera setelah bangun, pH saliva meningkat dan
kemudian turun kembali dengan cepat. Pada seperempat jam setelah makan
(stimulasi mekanik), pH saliva juga tinggi dan turun kembali dalam waktu 3060 menit kemudian. pH saliva meningkat hingga malam, dan setelah itu turun
kembali (Arabaci T. et.al., 2013).
b. Diet
Diet juga mempengaruhi kapasitas buffer saliva. Diet kaya karbohidrat
dapat menurunkan kapasitas buffer saliva, sedangkan diet kaya serat dan diet
kaya protein mempunyai efek meningkatkan buffer saliva. Diet kaya
karbohidrat meningkatkan metabolisme produksi asam oleh bakteri-bakteri
mulut, sedangkan protein sebagai sumber makanan bakteri, meningkatkan
sekresi zat-zat basa seperti ammonia (Arabaci T. et.al., 2013).
2.3.2 Kapasitas Buffer Saliva
Kapasitas buffer saliva merupakan suatu mekanisme pertahanan yang
penting dimana kapasitas buffer saliva adalah suatu kemampuan dari saliva untuk
menjaga pH saliva tetap berada dalam nilai diatas pH kritis (Pedersen AML,
2007).

Kapasitas buffer dari saliva mempengaruhi perubahan pH dan dapat

mencegah penurunan pH saliva dengan menetralkan asam yang ada di dalam


rongga mulut (netralisasi) (Gopinath, Arzreanne, 2006).
Salah satu buffer yang terdapat dalam cairan saliva adalah urea. Urea
adalah suatu hasil dari katabolisme protein dan asam amino yang dapat
menyebabkan peningkatan pH secara cepat dengan melepaskan ammonia dan
karbondioksida (Almeida PDV. et.al., 2008). Selain urea, fluorida juga berpotensi
meningkatkan pH yang membantu remineralisasi jaringan keras di rongga mulut.
Oleh sebab itu, fluorida yang terkandung dalam saliva yang berasal dari makanan,
pasta gigi dan obat kumur dapat memfasilitasi terbentuknya kalkulus (Ramisetti
A. et.al, 2014).

2.3.3 pH saliva terhadap pembentukan kalkulus


pH saliva adalah derajat keasaman dari saliva. pH saliva normal
mempunyai nilai diantara 6 sampai 7. pH saliva merupakan hal yang penting dari
saliva. Walaupun pembentukan kalkulus sebagian besar dipengaruhi oleh
kebiasaan oral higiene dari seorang individu, tetapi banyak faktor lain yang juga
berpengaruh terhadap pembentukan kalkulus, salah satunya adalah pH saliva. pH
saliva mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan kalkulus.
Peningkatan pH dapat mendukung pembentukan kalkulus dengan meningkatkan
tingkat kejenuhan kalsium fosfat pada plak (Almeida PDV. et.al., 2008).
Dawes menyatakan bahwa derajat kejenuhan plak meningkat ketika pH
dalam keadaan tinggi (Gupta S. et.al., 2011). Hasil penelitian lain menunjukkan
pentingnya pH yang bersifat alkali untuk deposisi kalsium fosfat yang dapat
menyebabkan mineralisasi plak gigi. pH kritis adalah pH saliva yang apabila
berada dibawah nilai tersebut maka material anorganik dari gigi geligi mulai larut.
Nilai pH kritis adalah 5,5 dengan kisaran antara 5,2-5,7 (Arabaci T. et.al., 2013).
Berdasarkan teori presipitasi dalam pembentukan kalkulus, kalsifikasi dari
plak menjadi kalkulus dapat terjadi apabila pH saliva serta konsentrasi ion
kalsium dan fosfat cukup tinggi sehingga mengakibatkan presipitasi garam
kalsium fosfat (Ramisetti A. et.al, 2014). pH saliva sangat berhubungan dengan
kapasitas buffer dimana buffer adalah kemampuan untuk menetralkan keadaan
yang asam. Oleh karena itu, pH dan kapasitas buffer saling berpengaruh dalam
pembentukan karies dan kalkulus (Kitasako Y. et.al., 2006).
Penelitian Mashhadani menyatakan adanya korelasi yang positif antara
pH dan indeks gingiva yaitu berupa peningkatan rerata pH saliva seiring dengan
peningkatan keparahan inflamasi gingiva. Selain itu, urea, fluorida dan silikon
juga berperan dalam kalsifikasi kalkulus (Fiorellini JP, et.al, 2012).
2.4 Kandungan Mineral dalam Saliva
2.4.1 Kandungan Saliva

Sekresi saliva normal adalah 800-1500 ml/hari. Pada orang dewasa


kecepatan sekresi saliva normal saat stimulasi adalah 1-2 ml/menit, sedangkan
saat tidak terstimulasi sekitar 0,32 ml/menit.
Komponen-komponen saliva dalam keadaan larut disekresi oleh kelenjar
saliva, dapat dibedakan atas komponen organik dan anorganik. Namun demikian,
kadar tersebut masih terhitung rendah dibandingkan dengan serum karena pada
saliva bahan utamanya adalah air yaitu sekitar 99,5%. Komponen anorganik saliva
antara lain sodium, kalsium, kalium, magnesium, bikarbonat, khlorida, rodanida,
dan thiocyanite, fosfat, potassium, dan nitrat. Sedangkan komponen organik pada
saliva meliputi protein yang berupa enzim amilase, maltase, serum albumin, asam
urat, kretinin, musin, vitamin C, beberapa asam amino, lisosim, laktat, dan
beberapa hormon seperti testoterone dan kortisol (Hashim, 2010).
1. Komponen Anorganik
Dari kation-kation, sodium (Na+) dan kalium (K+) mempunyai konsentrasi
tertinggi dalam saliva. Disebabkan perubahan di dalam muara pembuangan,
Na+ menjadi jauh lebih rendah di dalam cairan mulut daripada di dalam
serum dan K+ jauh lebih tinggi. Ion khlorida merupakan unsurpenting untuk
aktifitas enzimatik -amilase. Kadar kalsium dan fosfat dalam saliva sangat
penting untuk remineralisasi email dan berperan penting pada pembentukan
karang gigi dan plak bakteri. Kadar fluorida di dalam saliva sedikit
dipengaruhi oleh konsentrasi fluoride dalam air minum dan makanan.
Rodanide dan thiosianat apenting sebagai agen anti bakterial yang bekerja
dengan sistem laktoperosidase. Bikarbonat adalah ion buffer terpenting
dalam saliva yang menghasilkan 85% dari kapasitas buffer (Hashim, 2010).
2. Komponen Organik
Komponen organik dalam saliva yang utama adalah protein. Protein yang
secara kuantitatif penting adalah -amilase, protein kaya prolin, musin dan
imunoglobulin. Berikut adalah fungsi protein dalam saliva:
a. -amilase
mengubah tepung kanji dan glikogen menjadi kesatuan karbohidrat yang
kecil. Juga karena pengaruh -amilase, polisakarida mudah dicernakan
(Hashim, 2010).
b. Lisozim
Mampu membunuh bakteri tertentu sehingga berperan dalam sistem
penolakan bakterial (Hashim, 2010).

c. Kalikren
Dapat merusak sebagian protein tertentu, di antaranya faktor pembekuan
darah XII dan dengan demikian berguna bagi proses pembekuan darah
(Wong, 2008)
d. Laktoperoksidase
Mengkatalisis oksidasi

thiosianat

menjadi

hypothio

yang

mampu

menghambat pertukaran zat bakteri dan pertumbuhannya (Hashim, 2010).


e. Protein kaya prolin
Membentuk suatu kelas protein dengan berbagai fungsi penting: membentuk
bagian utama pelikel muda pada email gigi (Hashim, 2010).
f. Musin
Membuat saliva menjadi pekat sehingga tidak mengalir seperti air
disebabkan musin mempunyai selubung air dan terdapat pada semua
permuakaan mulut maka dapat melindungi jaringan mulut terhadap
kekeringan. Musin juga untuk membentuk makanan menjadi bolus
(Elizabeth, 2008)
2.4.2 Mineral yang menyebabkan kalkulus
Kalkulus gigi adalah bentuk dari proses kalsifikasi dalam lingkungan
rongga mulut di mana kalsium (Ca) dan fosfor (P) ion yang berasal dari air liur
memainkan peran utama. Kalkulus ini terjadi melalui interaksi dengan plak gigi,
yang merupakan komunitas mikroorganisme yang ditemukan pada permukaan
gigi sebagai biofilm (PD, Marsh. 2004). Dalam lingkungan mulut yang sehat, air
liur jenuh dengan Ca dan P, namun, tanpa pengendapan. Meskipun demikian,
ketika keseimbangan ini terganggu, kalkulus gigi terbentuk ditingkatkan dengan
peningkatan pH saliva (C, Dawes. 2006). Kalkulus gigi terbentuk dengan empat
kristal yang berbeda dari Ca-P; brushite, octa Ca-P, hidroksiapatit dan whitlockite
di mana kristal yang paling banyak adalah hidroksiapatit dan octa Ca-P (Lang NP,
etc. 2008)
Komposisi kalkulus terdiri dari 80% masa anorganik, air, matriks organik
(protein dan karbohidrat), sel-sel epitel deskuamasi, dan leukosit. Masa anorganik
terutama terdiri dari fosfat, kalsium, dalam bentuk hidroksiapatit, brushite, dan
oktakalsium. Selain itu, juga terdapat sejumlah kecil kalsium karbonat,
magnesium, fosfat, dan florida.

Komposisi kalkulus dipengaruhi oleh lokasi kalkulus dalam mulut serta


waktu pembentukan kalkulus. Tingkat kalkulus dan lokasi pembentukan kalkulus
dipengaruhi oleh kebiasaan dalam menjaga kebersihan rongga mulut, diet, usia,
penyakit sistemik, waktu terakhir membersihkan gigi, dan penggunaan obat resep.
Kalkulus gigi merupakan suatu lapisan deposit mineral berwarna kuning
atau coklat pada gigi karena plak pada gigi yang keras. Struktur permukaan
kalkulus yang kasar memudahkan timbunan plak gigi (PD, Marsh. 2004).
2.4.3 Cara Mengukur Kandungan Anorganik dalam Saliva (kalsium dan fosfat)
Prosedur tes meliputi :
1. Pertama saliva yang tidak terstimulasi dikumpulkan dari seratus orang
dewasayang sehat ( laki-laki dan perempuan)
2. kemudian saliva dirangsang dengan interval satu jam
3. Sampel dibagi menjadi tiga kelompok ( ringan , sedang dan berat )
menurut(DMFS)
4.

Ion

kalsium

dinilai

dengan

menggunakan Atomic

Absorption

Spectrophotometer
5. Anorganik fosfat konsentrasi ion ditentukan dengan metode
Molybdenum-Vanadatemenggunakan Ulteaviolet visible spectrophotometer.
2.5 Konsentrasi Mineral dalam Saliva
2.5.1 Definisi
Konsentrasi mineral saliva merupakan perbandingan antara mineralmineral yang terkandung di dalam saliva dan volume cairan yang terdapat di
dalam saliva. Mineral-mineral yang terkandung di dalam saliva antara lain
sodium, potassium, kalsium, klorida, magnesium, bikarbonat dan fosfat.
Konsentrasi kalsium dan fosfat yang tinggi di dalam saliva dapat
menyebabkan pertukaran ion pada permukaan gigi sehingga remineralisasi pada
gigi cepat terjadi. Konsentrasi kalsium dalam saliva berbeda-beda tergantung pada
salivary flow (SF) dan tidak terpengaruh oleh makanan yang dikonsumsi.

Faktor utama yang mempengaruhi konsentrasi mineral dalam saliva adalah


flow index. Jika salivary flow meningkat, maka konsentrasi dari mineral saliva
yaitu sodium, kalsium, klorida, dan bikarbonat meningkat. Sedangkan konsentrasi
dari inorganik fosfat dan magnesium tidak mengalami peningkatan (de Almeida,
et al, 2008)
2.5.2 Cara Mengukur Konsentrasi Mineral dalam Saliva
Konsentrasi kalsium dan magnesium dalam saliva diukur dengan absorbsi
atomik dengan menggunakan spektrofotometer setelah saliva dicairkan dengan
larutan akuades (mengandung 0,89% lanthanum oksida dan 0,4% asam
hidroklorid dengan) dengan perbandingan 1:10. Sedangkan konsentrasi dari fosfor
diukur sebagai inorganik fosfat dengan metode Fiske dan SubbaRow dengan
peralatan otomatis. Konsentrasi kalsium, fosfor, dan magnesium dihitung dengan
rumus (milligram per 100 rnl x 10 x rata-rata flow saliva = microgram per menit).
(Shannon & Feller, 1979)

2.6 Kalkulus
2.6.1 Definisi
Kalkulus merupakan suatu massa yang mengalami kalsifikasi yang
terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi. Kalkulus merupakan plak
terkalsifikasi. Jenis kalkulus di klasifikasikan sebagai supragingiva dan
subgingiva berdasarkan relasinya dengan gingival margin. (Michalowicz Bryan S,
Pihlstrom Bruce L, 2006)
Kalkulus supragingiva ialah kalkulus yang melekat pada permukaan
mahkota gigi mulai dari puncak gingival margin dan dapat dilihat. Kalkulus ini
berwarna putih kekuning-kuningan atau bahkan kecoklat-coklatan. Konsistensi
kalkulus ini seperti batu tanah liat dan mudah dilepaskan dari permukaan gigi
dengan skeler. Pembentukan kalkulus tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah plak di
dalam mulut,tetapi juga dipengaruhi oleh saliva. Saliva dari kelenjar saliva
mengalir melalui permukaan fasial molar atas melalui ductus Stensen sedangakn
orifisium ductus Whartons dan ductus Bhartolin kosong pada permukaan lingual

insisivus bawah dari masing-masing kelenjar submaxillary dan sublingual.


(Newman MG, Takei HH, Carranza FA, 2008).
Kalkulus subgingival adalah kalkulus yang berada dibawah batas gingival
margin, biasanya pada daerah saku gusi dan tidak dapat terlihat pada waktu
pemeriksaan. Untuk menentukan lokasi dan perluasannya harus dilakukan probing
dengan eksplorer, biasanya padat dan keras, warnanya coklat

tua atau hijau

kehitam-hitaman, konsistensinya seperti kepala korek api dan melekat erat ke


permukaan gigi. Clerehugh et al menggunakan probe #621 WHO untuk
mendeteksi dan memberikan skor untuk kalkulus subgingiva (Newman MG, Takei
HH, Carranza FA, 2008).
Kalkulus gigi berupa jaringan keras yang melekat erat pada gigi yang
terdiri dari bahan-bahan mineral seperti Ca, Fe, Cu, Zn, dan Ni (Artawa I Made
Budi, I G A A Pt. Swastini, 2010).
2.6.2 Proses Terbentuknya Kalkulus
Setelah kita menyikat gigi, pada permukaan gigi akan terbentuk lapisan
bening dan tipis yang disebut pelikel. Pelikel ini belum ditumbuhi kuman
(Bakteri). Apabila pelikel sudah ditumbuhi kuman (Bakteri) disebutlah dengan
plak. Plak berupa lapisan tipis bening yang menempel pada permukaan gigi,
terkadang juga ditemukan pada gusi dan lidah. Lapisan itu tidak lain adalah
kumpulan sisa makanan, segelintir bakteri, sejumlah protein dan air ludah. Plak
selalu berada dalam mulut karena pembentukannya selalu terjadi setiap saat, dan
akan hilang bila menggosok gigi atau menggunakan benang khusus. Plak yang
dibiarkan, lama kelamaan akan terkalsifikasi (berikatan dengan kalsium) dan
mengeras sehingga menjadi karang gigi. Mineralisasi plak mulai di dalam 24-72
jam dan rata-rata butuh 12 hari untuk matang. Karang gigi menyebabkan
permukaan gigi menjadi kasar dan menjadi tempat menempelnya plak kembali
sehingga kelamaan karang gigi akan semakin mengendap, tebal dan menjadi
sarang kuman (Bakteri). Jika dibiarkan menumpuk, karang gigi dapat me-resorbsi
(Mengkikis) tulang alveolar (tulang penyangga gigi) dan akibatnya gigi mudah
goyang dan tanggal.

Karang gigi mengandung banyak bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan


penyakit lain di daerah sekitar gigi. Bila tidak dibersihkan, maka bakteri dapat
memicu terjadinya infeksi pada daerah penyangga gigi (Gusi, Tulang gigi, dan
Pembuluh

darah

gigi).

Bila sudah infeksi maka masalah lebih lanjut bisa timbul. Penderita biasanya
mengeluh gusinya terasa gatal, mulut berbau tak sedap, sikat gigi sering berdarah,
bahkan adakalanya gigi dapat lepas sendiri dari jaringan penyangga gigi. Infeksi
yang mencapai lapisan dalam gigi (tulang alveolar) akan menyebabkan tulang
pernyangga gigi menipis, kemudian gigi akan goyang dan mudahtanggal.
Selain mengakibatkan gigi tanggal, bakteri menginfeksi jaringan penyangga gigi
dan dapat menyebar ke seluruh tubuh. Melalui aliran darah, bakteri dapat
menyebar ke organ lain seperti jantung (Bakteremia). Karena itu ada beberapa
kasus penyakit yang sebenarnya dipicu oleh infeksi dari gigi, ini disebut infeksi
fokal. Penyakit infeksi otot jantung (miokarditis) termasuk penyakit yang dapat
disebabkan oleh infeksi fokal.
2.6.3 Faktor-faktor penyebab kalkulus
1. Gigi berdesakan.
Gigi berjejal/berdesakan merupakan keadaan berjejalnya gigi di luar susunan gigi
yang normal. Kondisi gigi berjejal terkadang menjadi masalah bagi penderitanya.
Gigi berjejal sangat sulit dibersihkan dengan menyikat gigi, kondisi ini dapat
menyebabkan penumpukan plak yang juga merupakan salah satu faktor resiko
terjadinya kalkulus dan gingivitis. (Altriany Sasea, B. S. Lampus, Aurelia Supit,
2013)
2. Makanan/minuman yang mengandung mineral kalsium dan fosfor
Kalkulus merupakan kumpulan plak yang mengalami kalsifikasi dan melekat erat
pada permukaan gigi serta objek solid lainnya di dalam mulut, akibatnya dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan jaringan penyangga gigi. Air sumur gali
memiliki kandungan seperti kalsium dan fosfor yang juga merupakan kandungan
dalam pembentukan kalkulus. (Wanda S. Wungkana, Billy J. Kepel, Dinar A.
Wicaksono, 2014)
3. Sisa-sisa makanan yang menempel pada piranti cekat orto.

Sisa sisa makanan yang melekat pada gigi yang dibiarkan akan terus menumpuk.
Penumpukan sisa makanan tersebut yang tidak dibersihkan akan berkumpul
menjadi plak dan akhirnya menjadi kalkulus. Sisa-sisa makanan tersebut
menempel pada piranti cekat orto pada pengguna kawat gigi. (Charlito J. R.
Galag, P. S. Anadita, Olivia Waworuntu, 2015)
2.6.4 Cara mengukur kalkulus
Teknik pengambilan sampel dengan cara (purposive sampling) yaitu,
pengambilan sample secara sengaja sesuai persyaratan yang diperlukan, dengan
menggunakan Pemeriksaan indeks kalkulus dilakukan dengan cara men-jalankan
sonde dari arah incisal atau oklusal ke arah servikal. Nilai nol menandakan tidak
terdapat kalkulus, nilai satu menandakan kalkulus menutup tidak lebih dari 1/3
servikal, nilai dua menandakan kalkulus menutup lebih dari 1/3 servikal, nilai tiga
menandakan kalkulus menutup lebih dari 2/3 servikal

Daftar Pustaka
Almeida PDV, Gregio AMT, Machado MAN, Lima AAS, Azevedo LR. Saliva composition and
functions: a comprehensive review. The J of contemporary dental practice 2008; 9(3): 111.
Amelia R, Handajani J, Puspita R. Pemakaian kontrasepsi pil dan suntik menaikkan pH dan
volume saliva. Dentika Dental Journal 2010; 15(1): 1-5.
Arabaci T, cicek Y, Beydemir S, Canakci CF, Canakci V. Are increased salivary carbonic
anhydrase VI levels related to the amount of supragingival dental calculus formation
and clinical periodontal scores?. J of Dent Sciences 2013:1-5.
Bailey BJ, Johnson JT. Head and Neck Surgery: Otolaryngology. 2006. 4 th ed. Philadelphia;
Lippincott Williams & Wilkins.
David, T.W., 2008, Salivary diagnostics 1st ed. Hal : 59-37, Wiley-Blackwell, Washington.
Dawes C. Why does supragingival calculus form preferentially on the lingual surface of the 6
lower anterior teeth? J Can Dent Assoc 2006;72:923-926.
de Almeida PDV, Grgio AMT, Machado MN, de Lima AAS, Azevedo LR. (2008). Saliva
Composition and Functions: A Comprehensive Review. J Contemp Dent Pract (9)3:072080.
Elizabeth.M. 2007.The Role of Saliva In Oral health. Supportive Oncology. pp.215-225. Available
at www.medical look.com
Fiorellini JP, Kim DM, Uzel NG. Anatomy of the periodontium. In: Carranza FA ed. Carranzas
clinical periodontology. Edisi ke-11. Missouri: Elsevier, 2012: 25.
Gopinath VK, Arzreanne AR. Saliva as a diagnostic tool for assessment of dental caries. Archives
of orofacial sciences 2006; 1: 57-9.
Gupta S, Bhat KM, Kumar MSA. Influence of oral hygiene measures, salivary pH and urea level
on calculus formation A clinical Study. J of Indian Dental Association 2011; 5(5):
Abstract.
Heinonen, J. (2012). Biological role of inorganic pyrophosphate. Boston: Kluwer Academic
Publishers. p. 168
Hashim, Azmi Bin. 2010. Saliva Sebagai Media Diagnosa.FKG USU.

Kitasako Y, Ikeda M, Burrow MF, Tagami J. Oral health status in relation to stimulated saliva
buffering capacity among japanese adults above or below 35 years of age. J med dent
sci 2006; 53: 175-80
Lang NP, Mombelli R, Attstrom R. Oral biofilms and calculus. In: Linde J, LangNP, Karring T,
editors. Clinical Periodontology and Implant Dentistry. Oxford, UK:Blackwell
Munksgaard; 2008. p. 197-205.
Ligtenberg A J M, Veerman E C I. Saliva: secretion and functions. 2014. Vol 24. German; S.
Karger AG. P: 1
Marsh PD. Dental plaque as a microbial biofilm. Caries Res 2004;38:204-211.
McDonald RE, Avery DR, Weddel JAGingivitis and periodontal diseases.
In:McDonald RE, Avery DR, Dean JA, editors. Dentistry for the Child and
Adolescent.St Louis, MO: Mosby; 2004. p. 449-450.
Nanci A. Ten Cates oral histology: development, structure, and function. 2013. 8 th ed. Canada;
Elsevier Inc. p: 254-255
Pedersen AML. Saliva. Denmark: institute of odontology university of copenhagen, 2007: 2-8.
Rajendran, R., Sivapathasundharam, B.(2009) Shafer's Textbook of oral pathology. 6th edition.
India: Elsevier.
Ramisetti A, Babu R, Kotha K, Tej G, Chirtha S. Influence of salivary pH and urea level on
calculus formation a clinical study. Carib J Seitech 2014; 2: 503- 8.
Scheid, R., Weiss, G. and Woelfel, J. (2012). Woelfel's dental anatomy. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins. p. 13
Shannon IL & Feller RP. (1979). Parotid Saliva Flow Rate, Calcium, Phosphorus, and Magnesium
Concentrations in Relation to Dental Caries Experience in Children. Pediatric Dentistry
(1)1:016-020.
Trajtenberg, C. , Barros, J. , Patel, S. , Miles, L. and Streckfus, C. 2013. Salivary flow rates, per se,
may not serve as consistent predictors for dental caries. Open Journal of Stomatology 3,
pp. 133-141.
WebMD, (2015). Saliva and Your Mouth: Function of Saliva in Oral Health. [online] Available at:
http://www.webmd.com/oral-health/what-is-saliva [Accessed 11 Sep. 2015].
Wong.D.T.2008. Salivary Diagnostic.NIH Public.pp.100