Anda di halaman 1dari 5

BAB II

ISI

2.1. Komponen Lingkungan Yang Terkena Dampak


2.1.1. Wilayah studi
Data tentang kondisi lingkungan yang diperkirakan terkena dampak dikumpulkan dari wilayah
studi yang meliputi data primer dan sekunder. Batas proyek mencakup tapak kegiatan
pembangunan Fly over yang panjangnya 1 km dengan lebar 20 meter.
2.1.2. Komponen Lingkungan Fisik-kimia
2.1.2.1. Iklim
a. Temperatur Udara
Kota Bandung beriklim tropis dengan musim hujan (November-Mei) dan musim kemarau (Juli-
September). Suhu rata-rata bulanan berkisar 23,30 – 24,50 C.
b. Kelembaban Udara Nisbi
Kelembaban udara Nisbi berkisar antara 69 % yang terjadi pada bulan September dan 82 % yang
terjadi pada bulan April. Tekanan udara rata-rata bulanan di wilayah studi berkisar antara 921,0
nb – yang terjadi pada Bulan Januari dan tertinggi sebesar 922,6 mb yang terjadi pada bulan
Agustus dan September.
c. Curah Hujan
Crah hujan bulanan rata-rata di wlayah studi berkisar antara 41,5 mm yang terjadi pada bulan
Agustus dan tertinggi sekitar 309,1 mm yang terjadi pada bulan November.
d. Kecepatan Angin
Kecepatan angin rata-rata di wilayah studi berkisar antara 3,0m/det yang terjadi pada bulan
April, November, dan tertinggi sebesar 6,0 m/det yang terjadi pada Februari.
2.1.2.2. Kualitas Udara dan Kebisingan
a. Kualitas Udara
Parameter kualitas udara yang diukur adalah kandungan debu dan gas serta kebisingan. Untuk
mendapatkan data mengenai kandungan debu dan gas SO2, CO, NO2, TSP (Total Suspended
Particulate) Pb analisis laboratorium. Kulaitas udara diukur di 3 lokasi, yaitu pinggir Jalan
Kiaracondong sekitae rel Kerta Api memiliki NOx yang memiliki lebih tinggi lokasi yang
lainnya yaitu sebesar 66,65 µg/m3. Sedangkan pinggir jalan Embah malim mempunyai nilai CO
lebih tinggi sebesar 374 µg/m3. Untuk nilai SO2 yang lebih tinggi lokasi sekitar jalan kereta api
Kiaracondong yang nilai 147, 57 µg/m3.
b. Kebisingan
Hasil pengukuran menunjukkan tingkat kengisingan yang terendah 73,47 – 82,7 dB(A) terjadi
dilokasi Warung Jambu sedangkan Kiaracondong menunjukkan tingkat kebisingan yang relatif
tinggi yang berkisar 75,4 – 90,73dB(A)
2.1.2.3. Hidrologi
Debit banjir rencana dengan periode ulang beberapa tahun yang dapat dihitung dengan metode
Rasional disajikan pada tabel dibawah
Tabel 1. Debit banjir dengan periode ulang 5,10 dan 25 tahun

Debit Banjir ( m3/detik)


Area
Q5 Q10 Q25
J1 0,059 0,067 0,076
J2 0,053 0,060 0,069
J3 0,047 0,053 0,061
J4 0,059 0,067 0,076
J5 0,053 0,060 0,069
J6 0,047 0,053 0,061

2.1.3. Geomorfologi
Penentuan Daya Dukung Tanah untuk pondasi dangkal dipakai batasan lebar pondasi 1,2 meter,
kedalaman 2 meter dengan memakai pondasi lajur. Untuk pondasi Sumuran/Tiang dipakai
batasan diameter 40 cm.
2.1.4. Ruang, Lahan, dan Tahan
a. Ruang
Konsep srtruktur tata ruang wilayah dilokasi studi tidak terlepas dari adanya konsep Bandung
Metropolitan Area (BMA), dimana Bandung menjadi Bagian struktur tata ruang kota yang
terintegrasi dengan kota-kota lain disekitarnya, sehingga pengembangan tata ruang untuk
wilayah kota Bandung khususnya untuk wilayah pembangunan karees (Kiaracondong) harus
singkron dengan rencana tata ruang disekitarnya.
Rencana struktur pusat pelayanan kota Bandung pada tahun 2010 diarahkan mempunyai 2 pusat
pengembangan, yaitu Alun-alun dan Gedebage.
Dengan dilakukannya pembangunan fly over Kiaracondong tentunya berpengaruh pada jalan
Cibiru-Cileunyi yang telah diperlebar dan juga terkait dengan pembangunan jalur jalan paspati
(Paster-Surapati), serta pelebaran jalan Surapati-Cicaheum. Dengan pengembangan jalur
transportasi ini salah satu masalah lalulintas kota Bandung mulai dari Padalarang-Kota Bandung
hingga ke Cileunyi terpecahkan, selain adanya tol Panci.
Rencana pemanfaatan ruang untuk wilayah pusat Gedebage yaitu: Sub pusat Cicaheum,
Kiaracondong, Kordon, dan Ujung berung. Rencana struktur sistem pusat Gedebage dimana akan
menghubungkan dengan wilayah Bandung bagian timur mempunyai fungsi sarana sosial,
pergudangan, terminal, perdagangan, serta komersial.

b. Tanah
Jenis-jenis tanah dilokasi studi adalah umumnya jenis-jenis tanah dicekungan Bandung sesuai
dengan tekstur tanah dan sebarannya, kedalamnan efektip masing-masing tanah bervariasi,
diantaranya tanah Aluvial, tanah Latosol, dan tanah Podsolik.

2.2. Komponen Biologi


2.2.1. Flora
Flora atau vegetasi diwilayah bstudi umumnya merupakan jenis tumbuhan yang sengaja ditanam
untuk tumbuhan peneduh/pohon pelindung. Selain itu didaerah sekitar tumbuhnya terdapat jenis
tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomis dan estesis.
Jenis tumbuhan disepanjang jalur jalan terdapat pohon ki hujan, angsana, sedangkan dilokasi
bangunan dibelakang badan jalan terdapat berbagai jenis tumbuhan pekarangan, tanaman hias,
tanaman buah yang sengaja ditanam. Jenis flora yang ada tersebut tidak termasuk kategori jenis
langka atau dilindungi. Jenis tanaman dilokasi studi disajikan pada tabel berikut :
2.2.2. Fauna
Berkaitan dengan jenis fauna yang ada di wilayah studi terdiri berbagai penggunaan lahan
sebagai habitat hewan tertentu. Jenis fauna yang ada tersebut tidak termasuk jenis langka atau
dilindungi seperti merpati, ayam, capung, belalang, kupu-kupu, tikus kucing, dan katak.
2.3. Sosial Ekonomi dan Budaya
2.3.1. Kependudukan
Kelompok umur 19-35 tahun lebih dominan dan kelompok umur 5-18 tahun dan 46-60 tahun
jumlah hampir merata dan mulai menurun pada kelompok umur 61-75 tahun dan 75 tahin keatas.
2.3.2. Sosial Ekonomi
a. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk diwilayah studi yaitu di Kelurahan Kebonwaru didominasi oleh
buruh Industri besar dan sedang sebanyak 3815 orang (58 %) dan pegawai swasta sebanyak 796
(12 %), diKelurahan Kebongedang didominasi oleh pegawai swasta sebanyak 686 orang(25 %)
dan PNS/POLRI/TNI sebanyak 633 orang (22 %), di Kelurahan Babakansari didominasi oleh
pegawai swasta sebanyak 6300 orang (3 5%) dan buruh industri besar dan sedang sebanyak 1350
orang (8 %), sedangkan Kelurahan Kebonjayanti didominasu oleh dan PNS/POLRI/TNI
sebanyak 1892 orang (26 %) dan pegawai swasta sebanyak 1875 orang (2 %).
b. Tingkat Pendapatan
Dari hasil wawancara dari 100 responden di empat kelurahanpada wilayah Kecamatan
Batununggal dan kecamatan Kiaracondong, diketahui bahwa rata-rata dalam satu keluarga yang
bekerja 1 orang sebanyak 45 %, 2 orang 23 %, 3 orang 12 %, dan 4 atau lebih sebanyak 2 %
serta yang belum bekerja 18 %. Jika dilihat sebanyak 25 % pendapatan sekitar 500.000 –
699.000, 24 % pendapatan sekitar 1000.000 – 2.499.000.
2.4. Kesehatan Masyarakat
2.4.1. Jenis Penyakit Terbanyak dan Fasilitas Pelayanan Yana Tersedia
Tabel 2. Jenis penyakit terbanyak yang diderita oleh masyarakat di lokasi studi
No Nama penyakit Jumlah %
1 ISPA 13922 48,7
2 Anthisis 3373 11,7
3 Hypertensi 3211 11,2
4 Gastritis 2196 ,6
5 Diare 1751 6,1
6 Demam thypoid 1299 4,5
7 Jaringa kulit yang tak terkualifikasi 1227 4,3
8 Pneumonia 697 2,4
9 Infeksi kulit 541 1,9
10 Conjuntivitis 401 1,4
11 Lain-lain 53 0,2
Jumlah 28741 100
Sumber : buku laporan Tahunan Puskesmas Kiaracondong tahun 2002
2.4.2. Sarana dan Prasarana
Tabel 3. Sarana dan prasarana kesehatan
No Jenis Kecatan Kecamatan
Jumlah
Fasilitas Batununggal Kiaracondong
1 Rumah sakit 0 1 1
2 Klinik/Balai Pengobatan 4 2 6
3 Puskesmas 3 2 5
4 Posyandu 116 122 238
Jumlah 123 127 250
Sumber : Tabulasi data sekunder Kota Bandung dalam angka Tahun 2001
2.4.3. Kondisi Permukiman
Dari hasil wawancara dengan 100 responden di wilayah studi diketahui bahwa 70 % rumah yang
ditempati responden adalah milik sendiri, 10 % sewa, 11 % kontrak, dan 9 % lainnya milik
kerabat dekat.