Anda di halaman 1dari 12

PERSEPSI IBU TENTANG METODE MASSAGE DALAM UPAYA

MENGURANGI NYERI PERSALINAN DI RSUD Dr. M. HAULUSSY AMBON


Abstract : Massage is one of the method non farmakologi conducted to lessen bearing pain in
bone before bearing, if do not overcome by hence, it will generate to other problem that
increases feeling of worrying. It usually because less of knowledge about the process happened
before bearing. Intention of this research is to know mothers perception about method of
massage in the effort lessening to decrease of bearing pain in bone at mother inpartu of I
physiological and to know their perception after conducted an abdominal massage of lifting.
Research method that used is diskriptif qualitative to depict phenomenon of mother perception
about method of massage in the effort lessening bearing pain in bone in Hospital of Haulussy,
Ambon
Key words : Massage, lessening to feel pain in bone before bearing

PENDAHULUAN
Persalinan adalah saat yang sangat
dinanti-nantikan ibu hamil untuk dapat
merasakan kebahagiaan melihat dan
memeluk bayinya. Tetapi persalinan
juga disertai rasa nyeri yang membuat
kebahagiaan yang didambakan diliputi
oleh rasa takut dan cemas. Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa pada
masyarakat primitive, persalinannya
lebih lama dan nyeri, sedangkan
masyarakat yang telah maju 7-14 %
bersalin tanpa rasa nyeri dan sebagain
besar ( 90 % ) persalinan disertai rasa
nyeri ( Handaya dalam Longulo,2002 ).
Nyeri adalah masalah yang natural
dalam menghadapi persalinan. Apabila
tidak diatasi maka akan menimbulkan
masalah lain yaitu meningkatkan rasa
khawatir dan biasanya disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan akan proses
yang terjadi di saat menghadapi
persalinan. Untuk itu pemerintah
mencanangkan
Making Pregnancy
Safer ( MPS ) yang pada dasarnya
menekankan
pada
penyediaan
pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal yang cost-affective, yaitu
pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan, penanganan komplikasi
obstertrik
dan
neonatal,
serta
pencegahan kehamilan tidak diinginkan
dan penanganan komplikasi abortus.

Penyebab kematian ini sebagian dapat


dicegah dengan diteksi dini, antenatal
care, penatalaksanaan persalinan dan
nifas yang baik. (Prawirohardjo, 1999).
Stress
dalam
persalinan
menyebabkan
produksi
hormon
adrenalin
meningkat
sehingga
mengakibatkan vasokontriksi dan aliran
darah dari ibu ke janin menurun. Pada
janin akan terjadi hipoksia sedangkan
pada ibu akan terjadi prolong delivery
time ( Sehats dalam Longulo, 2002 ).
Bila nyeri persalinan dapat diatasi
dengan baik, hormone stress akan
menurun dan mengurangi kebutuhan
oksigen hingga 40% ( Falener, dkk,
dalam Longulo, 2002 ).
Salah satu metode yang sangat
efektif dalam menanggulanginya adalah
dengan Massage yang merupakan salah
satu metode non farmakologi yang
dilakukan untuk mengurangi nyeri
persalinan. Dasar teori massage adalah
teori gate control yang dikemukakan
oleh Melzak dan Wall dalam Depkes RI
( 1997 ). Teori ini menjelaskan tentang
dua macam serabut saraf berdiameter
kecil dan serabut berdiameter besar
yang mempunyai fungsi yang berbeda.

Bidan mempunyai andil yang sangat


besar dalam mengurangi nyeri non
farmakologi. Intervensi yang termasuk
dalam pendekatan non farmakologi
adalah analgesia psikologis yang
dilakukan sejak awal kehamilan,
relaksasi, massage, stimulasi kuteneus,
aroma terapi, hipnotis, akupuntur dan
yoga ( Wong & Perry, 1998 ).
Nyeri
persalinan
merupakan
masalah yang sangat mencemaskan bagi
ibu
inpartu,
khususnya
ibu
primigravida. Dan biasanya yang paling
sering dilakukan untuk mengurangi rasa
nyeri adalah dengan metode massage,
baik oleh petugas kesehatan, keluarga
pasien maupun pasien itu sendiri. Tetapi
kadang kala metode massage yang
dilakukan tidak pada tempatnya
sehingga hasilnya tidak efisien.
Contohnya pada pelaksanaan teknik
deep back massage, dimana seharusnya
penekanan dilakukan tepat pada daerah
secrum dengan telapak tangan dan
posisi ibu dalam keadaan berbaring
miring
tetapi
kadang
kala
pelaksanaannya tidak sesuai sehingga
nyeri yang dirasakan oleh pasien tidak
berkurang. Hal ini mungkin diakibatkan
oleh posisi ibu tidak dalam keadaan
berbaring miring, atau penekanannya
tidak tepat pada daerah secrum. Dan hal
ini tidak dilakukan satu kali saja tetapi
harus berulang kali. Begitu juga dengan
teknik firm counter pressure dimana ibu
sebaiknya dalam posisi duduk kemudian
bidan atau keluarga pasien menekan
secrum secara bergantian dengan posisi
tangan yang dikepalkan. Mungkin
karena posisi ibu bukan dalam keadaan
duduk atau penekanan secrum tidak
dengan menggunakan tangan yang
dikepalkan tetapi dengan telapak tangan
sehingga hasil yang diharapkan untuk
mengurangi rasa nyeri tidak seperti
yang diinginkan oleh pasien. Untuk itu

peneliti tertarik untuk meneliti tentang


persepsi ibu terhadap metode Massage
dalam
upaya
mengurangi
nyeri
persalinan di RSUD Dr. M. Haulussy
Ambon.
Nyeri Persalinan
Persalinan adalah suatu proses
pengeluaran atau hasil konsepsi yang
dapat hidup di dalam uterus melalui
vagina
ke
dunia
luar. Proses
pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu),
lahir spontan dengan persentasi
belakang kepala yang berlangsung
dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik
pada
ibu
maupun
janin.
(Prawirohardjo,1992). Adanya kontraksi
rahim pada persalinan menimkbulkan
rasa nyeri pada pasien.
Ditandai dengan adanya kontraksi
rahim, kontraksi sebenarnya telah
terjadi pada minggu ke-30 kehamilan
yang disebut kontraksi Braxton hicks
akibat
perubahan-perubahan
dari
hormone estrogen dan progesterone
tetapi sifatnya tidak teratur, tidak nyeri
dan kekuatan kontraksinya sebesar
5mmHg (Manuaba,1998), dan kekuatan
kontraksi Braxton hicks ini akan
menjadi kekuatan His dalam persalinan
dan sifatnya teratur.
Pada persalinan kala I sebelum atau
sesudah terjadi kontraksi, sering kali
muncul lendir bercampur darah yang
keluar dari vagina sebagai tanda
pwersalinan, hal ini disebabkan oleh
karena terlepasnya sumbatan pelindung
pada leher trahim, karena serviks mulai
membuka dan mendatar sedangkan
darah itu berasal dari pembuluh darah
kapiler yang berada di sekitar Kanalis
Servikalis yang peka akibat pergeseran
yang terjadi sewaktu serviks membuka
(Prawirohardjo, 1999).

Kadang pula tampak keluarnya


cairan ketuban yang biasanya pecah
menjelang pembukaan lengkap tetapi
dapat juga keluar sebelum proses
persalinan. Dengan pecahnya ketuban
diharapkan
persalinan
dapat
berlangsung dalam waktu 24 jam
(Manuaba,1998).
Menurut Depkes RI (2002), tanda
dan gejala dari diagnosa inpartu
adalah : a. His sudah teratur, frekuensi
minimal 2 kali dalam 10 menit, b.
Penipisan dan pembukaan serviks, c.
Keluar cairan dari vagina dalam bentuk
lendir bercampur darah. Kesemua gejala
dan tanda-tanda ini jelas menimbulkan
rasa nyeri.
Nyeri menurut kebanyakan ahli,
sebagai suatu fenomena misterius yang
tidak dapat didefinisikan secara khusus.
Menurut Brunner dan Suddarth ( 1996 ),
pengertian nyeri dalam kebidanan
adalah sesuatu yang dikatakan oleh
pasien, kapan saja adanya nyeri
tersebut. Sedangkan Wolf Firest dalam
Depkes RI ( 1997 ) mendefinisikan
nyeri sebagai suatu perasaan menderita
secara fisik dan mental atau perasaan
yang dapat menimbulkan ketegangan.
Menurut Arthur Custon (Depkes
RI,1997), nyeri adalah suatu mekanisme
proteksi bagi tubuh, timbul bilamana
jaringan sedang dirusakkan dan
menyebabkan individu bereaksi untuk
menghilangkan atau mengurangi rasa
nyeri.
Menurut Depkes RI ( 1997 ), ada
tiga macam teori nyeri yang dapat
dijelaskan sebagai berikut : Teori pola (
Pattern Theory ), rangsangan nyeri
masuk melalui akar ganglion dorsal
medulla spinalis dan merangsang
aktifitas sel T. hal ini mengakibatkan

suatu respon yang merangsang ke


bagian yang lebih tinggi yaitu korteks
serebri dan menimbulkan persepsi, lalu
otot
berkontraksi
sehingga
menimbulkan nyeri.
Teori Spesifik, menurut teori ini
rangsangan sakkt masuk ke spinal cord
melalui dorsalis yang bersinaps di
daerah posterior kemudian naik ke
traktus hemisfer dan menyilang ke garis
media ke sisi lainnya dan berakhir di
korteks selebri, dimana rangsangan
nyeri tersebut diteruskan ( Depkes RI,
1997 ).
Teori Gate Control, teori ini
dikemukakan oleh Melzak dan Wall
dalam Depkes RI, (1997). Teori ini
lebih komprehensip dalam menjelaskan
transmisi
dan
persepsi
nyeri.
Rangsangan atau impuls nyeri yang
disampaikan oleh saraf perifer aferen ke
korda spinalis dapat dimodifikasi
sebelum transmisi ke otak. Sinaps
dalam
dorsal
medulla
spinalis
beraktifitas
seperti
pintu
untuk
mengijinkan impuls masuk ke otak.
Kerja control gerbang ini tergantung
dari kerja serat saraf besar dan kecil
yang
keduanya
berada
dalam
rangsangan akar ganglion dorsalis.
Rangsangan
pada
serat
akan
meningkatkan
aktifitas
subtansia
gelatinosa
yang
mengakibatkan
tertutupnya pintu sehingga katifitas sel
T terhambat dan menyebabkan hantaran
rangsangan nyeri terhambat juga.
Rangsangan serat besar ini dapat
langsung merangsang ke korteks
serebri dan hasil persepsinya akan
dikembalikan ke dalam medulla spinalis
melalui serat eferen dan reaksinya
mempengaruhi
aktifitas
sel
T.
rangsangan pada serat kecil akan
menghambat
aktifitas
subtansi
gelatinosa
dan
membuka
pintu

mekanisme sehingga aktifitas sel T


meningkat yang akan menghantarkan ke

otak. Hal ini dapat dilihat pada gambar


1.

Metode Massage
Spasme otot

Impuls rasa sakit diblok

Jepitan pembuluh darah


Metabolisme Aerob asam laktat
Nyeri

Aktifitas subtansi gelatinosa


Gate control tertutup
Aktifitas sel T terhambat
Hantaran rangsangan nyeri terhambat
Nyeri

Sumber : Goyton ( 1997 )

Gambar 1.
EFEK METODE MASSAGE PADA NYERI
Nyeri sering disebabkan oleh
rangsangan dari lingkungan, misalnya
suara bising atau cahaya yang sangat
terang. Usia juga dapat mempengaruhi
nyeri karena control nyeri seseorang
akan berubah dan berbeda sesuai
dengan usia ( Depkes RI, 1997 ).
Kelelahan tidak saja dapat memperhebat
nyeri tetapi juga dapat mengurangi
kemampuan koping seseorang untuk
mengatasi nyerinya, oleh karena itu
nyeri akan berkurang setelah tidur dan
beristirahat yang cukup.
Depkes RI,(1997) mengemukakan
karakteristik nyeri yaitu meliputi :
Lokasi nyeri, pada umumnya dibagi
menjadi dua yaitu Nyeri Superfisisial
atau pada permukaan tubuh dan Nyeri

Viserial atau nyeri pada bagian dalam


tubuh. Seorang bidan harus mengetahui
lokasi atau letak nyeri yang dialami
pasien dan pada bagian mana nyeri itu
berada, apakah di proksimal, distal,
medial atau lateral.
Metode spesifik yang dapat
dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri
adalah : Distraksi yaitu cara pengalihan
perhatian dari rasa nyeri dan
mengurangi persepsi nyeri dalam
beberapa hal. Relaksasi yaitu bernafas
dengan irama, bernyanyi dengan
mengikuti irama lagu, berhayal (Depkes
RI, 1997). Teknik relaksasi sangat
efektif untuk nyeri kronis, karena
relaksasi mengurangi rasa cemas yang
berhubungan dengan nyeri atau stress,

mengurangi
rasa
nyeri
menghilangkan
depresi
berhubungan dengan nyeri.

dan
yang

Menurut Sherwen (1999), setiap


wanita dalam menginterprestasi dan
menghadapi
persalinan
berbeda,
demikian juga dalam menghadapi nyeri.
Beberapa
factor
yang
dapat
mempengaruhi respon nyeri yaitu
paritas, ras, budaya, etnik, mekanisme
koping, factor emosi, sifat dan tingkat
pengetahuan, kepercayaan diri, support
system, lingkungan, kelelahan, nausea,
vomiting dan diare, panjangnya waktu
persalinan, maternal posisi dan fetal
posisi.
Kualitas
nyeri
secara
fisik
digambarkan seperti rasa tertusuk-tusuk,
terbakar, nyeri mual dan kejang. Sakit
pada saat melahirkan bayi memberikan
kenaikan pada gejala. Penambahan
aktifitaspada system saraf simpatis
dapat timbul sebagai respon atau reaksi
akibat perubahan pada tekanan darah,
detak jantung, pernafasan dan warna
kulit, pucat dan diaphoresis (Potter
dalam Bobak dan Jensen, 2000).
Pada saat melahirkan, ada 3 (tiga)
komponen pengalaman nyeri yang dapat
dialami oleh seorang ibu. Komponen
tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut : Reception yaitu komponen
neurofisiologi faal dari pengalaman
nyeri. Special receptor menerima
stimulant nyeri kemudian impuls
ditransmisikan melalui serabut perifer
afferent ke spinal cord. Setelah
menyilang pada spinal cord maka
stimulus dikirim ke pusat susunan saraf.
Yang dimaksud dengan special receptor
nyeri yang dapat terjadi pada kulit, otot,
mambran mukosa, tendon dan organorgan visceral.

Pada persalinan kala I (Mphtar dan


Manuaba, 1992), dimana pembukaan
yang dimulai dari pembukaan serviks
hingga pembukaan lengkap (10 cm),
kontraksi lebih kuat karena terjadi
dilatasi serfiks dan pendataran, juga
terjadinya
iskemia
uterus
yang
menyebabkan nyeri mules.
Pada persalinan kala II atau kala
pengeluaran janin, kepala janin telah
turun masuk ruang panggul yang secara
reflektoris
menimbulkan
rasa
mengedan. Karena tekanan pada
rectum, ibu merasa seperti mau buang
air besar dengan tanda anus terbuka,
sehingga timbul rasa nyeri karena
peregangan dasar panggul akibat
penekanan kepala janin pada dinding
panggul dan peregangan perineum.
Serangan mual, nyeri dan muntah
serta keringat yang berlebihan juga
merupakan hal yang biasa. Ekspresi
emosional dari penderitaan tertentu
seringkali
nampak.
Perubahan
emosional termasuk meningkatnya
kecemasan dikarenakan oleh kurangnya
pengetahuan, sehingga pasien hanya
dapat menggeliat, menangis, merintih,
gerak tubuh ( tangan mengepal dan
meremas ), dan perangsangan otot yang
berlebihan pada tubuh (Bobak dan
Jansen, 2000).
Aktifitas spesifik yang dapat
dilakukan bidan untuk mengatasi nyeri
persalinan dan merupakan tindakan
independent adalah analgesia psikologi,
distraksi,
relaksasi,
massage,
transcutaneus nerve stimulus, imaginasi
dipandu guided imageri. Tindakan ini
merupakan pendekatan non farmakologi
yang
dapat
menurunkan
dan
mengurangi rasa nyeri.
Metode Massage

Massage merupakan salah satu


metode non farmakologi yang dilakukan
untuk mengurangi nyeri persalinan.
Dasar teori massage adalah teori gate
control oleh Melzak & Wall, dalam
Depkes
RI
(1997).
Teori
ini
menjelaskan bahwa ada dua macam
serabut saraf yaitu serabut saraf
berdiameter kecil dan serabut saraf
berdiameter besar yang mempunyai
fungsi yang berbeda.

keluarga pasien menekan daerah secrum


secara mantap dengan telapak tangan,
lepaskan dan tekan lagi, begitu
seterusnya.

Impuls rasa sakit yang dibawa oleh


saraf berdiameter kecil menyebabkan
gate control di spinal cord membuka
dan impuls diteruskan ke korteks
serebral sehingga akan menimbulkan
rasa sakit. Tetapi impuls rasa sakit ini
dapat diblok yaitu dengan memberikan
rangsangan pada saraf berdiameter
besar yang menyebabkan gate control
akan tertutup dan rangsangan sakit tidak
dapat diteruskan ke korteks serebral.
Pada prinsipnya rangsangan berupa
usapan pada saraf berdiameter besar
yang banyak pada kulit harus dilakukan
awal rasa sakit atau sebelum impuls rasa
sakit yang dibawa oleh saraf
berdiameter kecil mencapai korteks
serebral.

Abdominal Lifting, yaitu dengan


cara membaringkan pasien pada posisi
terlentang dengan posisi kepala agak
tinggi. Letakkan kedua telapak tangan
pada pinggang belakang pasien,
kemudian secara bersamaan lakukan
usapan yang berlawanan ke arah puncak
perut tanpa menekan ke arah dalam,
kemudian
ulangi
lagi.
Begitu
seterusnya.

Beberapa macam massage yang


dapat dilakukan untuk merangsang saraf
berdiameter besar yaitu :
Effluerage, yaitu pasien dalam
posisi atau setengah duduk, lalu
letakkan kedua telapak tangan pada
perut dan secara bersamaan digerakkan
melingkar dari arah pusat ke simpisis
atau dapat juga menggunakan satu
telapak tangan dengan gerakkan
melingkar atau satu arah. Cara ini dapat
dilakukan sendiri oleh pasien.
Deep Back Massage, yaitu pasien
berbaring miring, kemudian bidan atau

Firm Counter Pressure, yaitu pasien


dalam posisi duduk kemudian bidan
atau keluarga pasien menekan secrum
secara bergantian dengan tangan yang
dikepalkan
secara
mantap
dan
beraturan.

Konsep Persepsi
Menurut Rukminto (1993), persepsi
adalah proses mental yang terjadi pada
diri manusia yang menunjukkan
bagaimana kita melihat, mendengar,
merasakan, memberi serta meraba kerja
indera di sekitar kita. Menurut
Widayatun (1999), persepsi adalah
pengalaman yang terbentuk berupa
kata-kata yang dapat melalui indera,
hasil pengolahan otak dan ingatan.
Sedangkan menurut Rahmat (2000),
persepsi adalah pengalaman tentang
objek, hubungan yang diperoleh dengan
menyimpulkan
informasi
dan
menafsirkan pesan.
Terjadinya persepsi adalah karena
objek atau stimulus yang merangsang
untuk ditangkap oleh panca indera,
kemudian stimulus atau objek perhatian
tadi dibawa ke otak, dari otak terjadinya
kesan atau jawaban ( respon ), adanya
stimulus berupa kesan atau respon

kemudian dibalikkan berupa tanggapan


atau persepsi atau hasil kerja indera
berupa pengalaman hasil pengolahan

otak. Menurut Rahmat (2000), proses


persepsi dapat dijelaskan dalam skema
di bawah ini :

Objek
( Stimulus )
Sensorik

Out Put
Indera I
Otak

Berubah Persepsi terhadap


rangsangan

Diproses
Sumber : Rahmat, 2000

Gambar 2.
Skema Proses Persepsi
Faktor-faktor yang mempengaruhi
persepsi adalah : Usia, factor ekstrinsik
dan intrinsic seseorang yakni cara
hidup, cara berfikir, kesiapan mental
(kebutuhan dan wawasan), factor
ideology, politik, social budaya,
pertahanan dan keamanan, lingkungan
sekitar, pembawaan fisik dan kesehatan
( Widayatun, 1999). Menurut Rahmat
(
2000
),
pengolahan
akan
mempengaruhi kecermatan persepsi dan
pengalaman tidak selalu melalui proses
belajar formal, tetapi pengalaman juga
dapat melalui rangkaian peristiwa yang
dihadapi.
Berdasarkan pendapat dan uraian di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa
persepsi adalah tanggapan atau proses
mental seseorang dalam memberikan
makna terhadap suatu stimulus.
METODE
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui persepsi ibu terhadap
metode
massage
dalam
upaya
mengurangi nyeri persalinan pada ibu
inpartu kala I fisiologis dan mengetahui
persepsi ibu setelah dilakukan massage
abdominal lifting. Desain penelitian

yang digunakan adalah diskriptif


kualitatif
yaitu
menggambarkan
fenomena dari persepsi ibu terhadap
metode
massage
dalam
upaya
mengurangi rasa nyeri di saat persalinan
di RSUD dr. M. Haulussy Ambon
dengan
menggunakan
variable
dependent yaitu massage abdominal
lifting yang terdiri dari persepsi ibu dan
kemajuan
persalinan,
sedangkan
variable independent adalah ibu inpartu.
Populasi
dan
sample
dalam
penelitian ini adalah semua ibu inpartu
fisiologis kala I yang dirawat di RSUD
Dr. M. Haulussy Ambon (penelitian
kualitatif) berjumlah tiga orang. Alat
dan cara pengumpulan data yaitu
dengan wawancara mendalam yakni
suatu bentuk komunikasi verbal dengan
menggunakan format pengkajian yang
digunakan untuk mengumpulkan data
dan observasi yakni cara memperoleh
data dengan melihat, mengamati secara
langsung dengan menggunakan indera
penglihatan,kemudianmenginterpretasik
an dari hasil observasi dapat
memperoleh masalah yang ada pada ibu
untuk menggali persepsi dan melihat
kemajuan persalinan ibu tentang metode

massage abdominal lifting terhadap


nyeri persalinan yang dialaminya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan pada tanggal 27 Agustus
2006 di RSUD Dr. M. Haulussy,
Ambon. Peneliti mengumpulkan data
dengan cara wawancara mendalam
dengan tiga (3) orang responden inpartu

kala I fisiologis dan observasi secara


langsung. Sebelum menyajikan hasil
dari penelitian dan pembahasannya,
terlebih dahulu peneliti memaparkan
defenisi operasional dan karakteristik
dari responden menyangkut umur,
paritas,
tingkat
pendidikan
dan
pekerjaan yang terdapat pada table 1
dan 2 di bawah ini :

TABEL I
DEFENISI OPERASIONAL
Variabel /
No Sub Variabel
1
Ibu Inpartu

Defenisi
Operasional
Ibu dalam proses
persalinan
pada
kala pembukaan
hingga pembukaan
lengkap (10cm)
Persepsi Ibu Ungkapkan
ibu
Inpartu
inpartu kala I
fisiologis setelah
dilakukan
Massage
Kemajuan
Kemajuan
Persalinan
persalinan dilihat
dari
penurunan
bagian terendah
janin
dan
pembukaan servis

Alat Ukur
Observasi

Kategori
Skala
Inpartu
bila Nominal
pembukaan 1
10 cm

Pedoman
wawancara

Nyeri berkurang Nominal


=1
Nyeribertambah
=0

Observasi

Bila
ada Nominal
kemajuan
- Bertambah
pembukaan =
1
- Tidak
bertambah
pembukaan =
0

TABEL 2
KARAKTERISTIK RESPONDEN

Karakteristik Responden
20 30 Tahun
Umur
31 40 Tahun
Jumlah
PI
Paritas
P II
Jumlah
SD
SMP
Tingkat Pendidikan
SMU
PT
Jumlah
Wiraswasta
Pekerjaan
PNS
Ibu RT
Jumlah

Jumlah
2
1
3
3
0
3
0
0
1
2
3
0
2
1
3

%
66,7
33,3
100
100
0
100
0
0
33,3
66,7
100
0
66,7
33,3
100

Sumber : Data Primer, 2006

Pada table 1, menggambarkan


bahwa dari tiga orang responden
terdapat dua orang ibu yang merasa
nyaman setelah dilakukan metode
massage abdominal lifting dan satu
orang ibu tidak merasa nyaman.
Menurut dua orang ibu, setelah
dilakukan pijatan/usapan, nyeri dapat
berkurang
sedikit
demi
sedikit,
sedangkan satu orang ibu tetap merasa
nyeri walaupun telah dilakukan massage
berulang kali. Sesuai dengan jawaban
ketiga
responden
maka
dapat
disimpulkan bahwa dua orang ibu setuju
massage pada persalinan dan satu orang
ibu masih ragu dengan jawaban yang
kurang jelas atau tidak setuju dengan
metode massage.
Pada table 2, menggambarkan
bahwa unsur responden sebagian besar
(66,7%) berada pada kelompok umur 20
30 tahun, atau berada pada usia muda
sehingga responden fisiologi yang
timbul karena sakit berupa nyeri, pasien
masih dapat menahan rasa sakit.
Sedangkan (33,3%) berada pada usia 31
40 tahun, wanita yang berada pada
usia ini akan mengalami penurunan dan

berkurangnya kemampuan tubuh untuk


menahan rasa sakit akibat terjadinya
penurunan fisiologi tubuh manusia
karena proses penuaan. Dari hasil
wawancara ketiga responden, (100%)
responden menyatakan bahwa baru
pertama kali melahirkan. Tingkat
pendidikan menunjukkan bahwa dua
orang responden (60,7%) memiliki
tingkat pendidikan perguruan tinggi,
sedangkan satu orang responden
(33,3%) memiliki tingkat pendidikan
SMU. Berdasarkan data yang diperoleh,
terdapat 2 orang (66,7%) yang
pekerjaannya sebagai PNS, sedangkan
satu orang (33,3%) tidak mempunyai
pekerjaan.
Setelah memaparkan karakteristik
responden,
dapat
dilihat
hasil
wawancara sebagai berikut :
Responden 1. Ny. A
T : Bagaimana perasaan ibu setelah
dilakukan pijatan/usapan (message)? J :
Oh lumayan bu, terasa lebih nyaman
dan enak. T : Sebelumnya, apakah ibu
pernah melakukan cara seperti ini? J :
Belum pernah dan sangat membantu

mengurangi rasa nyeri. T : Bagaimana


menurut ibu setelah adanya cara ini? J :
Terasa lebih nyaman. T : Menurut ibu,
apakah ibu-ibu yang lain akan senang
dengan cara seperti ini atau tidak? J :
Saya rasa iya bu. T : Setujukah ibu
dengan cara seperti ini? J : oh sangat
setuju sekali.
Responden 2. Ny. B
T : Bagaimana perasaan ibu setelah
dilakukan pijatan/usapan (message)? J :
Sakit sekali bu, nggak nyaman,tetap aja
sakit. T : Sebelumnya, apakah ibu
pernah melakukan cara seperti ini? J :
Belum. T : Bagaimana menurut ibu
setelah adanya cara ini? J : Saya rasa
sama aja, tetap saja merasa nyeri. T :
Menurut ibu, apakah ibu-ibu yang lain
akan senang dengan cara seperti ini atau
tidak? J : Nggak tau deh bu. T :
Setujukah ibu dengan cara seperti ini?
J : Setuju bu.
Responden 3 . Ny. C
T : Bagaimana perasaan ibu setelah
dilakukan pijatan/usapan (message)? J :
Lumayan bu. T : Sebelumnya, apakah
ibu pernah melakukan cara seperti ini? J
: Belum pernah tapi bagus bangat bu
cara ini.. T : Bagaimana menurut ibu
setelah adanya cara ini? J : Cukup
membantu walaupun sakitnya tetap
muncul. T : Menurut ibu, apakah ibuibu yang lain akan senang dengan cara
seperti ini atau tidak? J : Nggak tau ah
bu. T : Setujukah ibu dengan cara
seperti ini? J :. Nggak tau ah bu, sakit
nih.
Responden 1 (NY. A), masuk
tanggal 29-08-2006, jam 06.00 WIT
dengan G1. PO. AO. Berusia 24 tahun.
Nyeri dirasakan sejak 03.00 WIT
dilakukan pemeriksaan kehamilan,

hasilnya tinggi Fundus Uteri 3 jari


bawah prosessus xipoydeus, punggung
kanan, kepala sudah masuk pintu atas
panggul, persentase terendah janin
adalah kepala, DJJ 120 x/m. dilakukan
pemeriksaan dan hasilnya pembukaan
serviks 7-8 cm. fase aktif, ekspresi
wajah nyeri dan meringis.
Responden 2 (Ny. B), masuk
tanggal 29-08-2006 jam 20:00 WIT
dengan G1. PO. AO usia 23 tahun.
Nyeri dirasakan sejak pukul 16.00,
dilakukan
pemeriksaan
kehamilan
hasilnya tinggi fundus uteri 3 jari bawah
prosessus xipoydeus, punggung kanan,
kepala sudah memasuki pintu atas
panggung, persentase terendah janin
adalah DJJ 120 x/m. dilakukan
pemeriksaan dalam hasilnya pembukaan
serviks 8 cm. fase aktif, ekspresi wajah
ibu nyeri dan meringis, ibu tampak
lelah.
Responden 3 (Ny. C), masuk pada
tanggal 30-08-2006 jam 18.00 WIT
dengan G1. PO. AO. Usia 31 tahun.
Nyeri dirasakan sejak pukul 01.00 dini
hari, dilakukan pemeriksaan kehamilan
hasilnya tinggi fundus utri 3 jari bawah
prosessus xipoydeus, punggung kanan,
kepala sudah masuk pintu atas panggul.
Presentase terendah janin dalam kepala.
DJJ 120 x/m, dilakukan pemeriksaan
dalam, hasilnya pembukaan 8 cm fase
aktif. Ekspresi wajah ibu merasa nyeri
dan meringis, ibu tampak lelah karena
istirahat dari 2 hari yang lalu.
Nyeri persalinan disebabkan oleh
dua hal, antara lain karena kontraksi
uterus,
adanya
dilatasi
serviks,
pendataran dan peregangan mulut
rahim. Ciri dan nyeri persalinan kala I
adalah semakin sering bertambah kuat
serta lebih lama sakitnya. Untuk
mengurangi nyeri yang dirasakan dalam
persalinan ada beberapa cara yang dapat

digunakan untuk mengurangi nyeri


antara lain, metode Effluerage, Deep
Back Massage, Firm Counter Pressure
dan Abdominal Lifting.
Upaya mengatasi nyeri yang peneliti
gunakan dalam hal ini adalah teknik
Abdominal Lifting yang dilakukan
dengan cara ibu dibaringkan dengan
posisi terlentang dan posisi kepala
sedikit tinggi, kemudia tangan bidan
diletakkan pada pinggang pasien dan
usapan dilakukan berlawanan ke arah
puncak perut pasien.
Dari metode abdominal lifting yang
dilakukan terhadap ketiga responden,
terdapat dua orang responden yang
menyatakan berkurangnya rasa nyeri
setelah Massage. Hal ini dapat dilihat
pada ekspresi wajah responden yang
merasa nyaman dengan tindakan yang
diberikan. Kedua responden sangat
setuju bila tindakan tersebut diberikan
kepada mereka yang sedang memasuki
tahap persalinan.
Berbeda halnya dengan seorang
responden
yang
merasa
tidak
terpengaruh dengan tindakan massage
abdominal lifting yang diberikan.
Menurut Sherwen (1999), setiap wanita
dalam
menginterprestasi
dan
menghadapi nyeri persalinan berbedabeda, demikian juga dalam menghadapi
nyeri.
Factor-faktor yang mempengaruhi
nyeri tersebut adalah paritas, ras,
budaya, etnik, emosi, sifat, kelelahan,
nausea, vomiting, panjangnya waktu
persalinan, maternal, posisi dan fetal
posisi. Dari factor di atas, dapat
disimpulkan bahwa yang terjadi pada
responden 3 dengan tidak merasa
nyaman setelah diberikan massage
dikarenakan oleh factor usia, emosi,

maupun kelelahan
waktu persalinan.

dan

panjangnya

Hal itu juga dapat dilihat pada


panjangnya waktu persalinan dari
pembukaan 1-8 cm membutuhkan
waktu 17 jam (01:00-18:00) sehingga
pasien menjadi sangat lelah dan letih
yang merupakan penyebab tidak
efisiennya massage yang diberikan.
Factor kelelahan tidak hanya dapat
memperhebat nyeri melainkan juga
dapat mengurangi koping seseorang
dalam mengatasi nyerinya. Oleh karena
itu, nyeri akan berkurang jika
beristirahat yang cukup. Usia juga
merupakan pencetus utama timbulnya
nyeri pada ibu, karena semakin
bertambahnya usia seseorang maka
control nyeri akan berubah dan berbeda
sesuai dengan usia.
Dengan demikian, dapat peneliti
simpulkan bahwa nyeri dapat diatasi
dengan
tindakan-tindakan
seperti,
distraksi, relaksasi dan massage. Yang
merupakan pendekatan non farmakologi
dalam menurunkan dan mengatasi rasa
nyeri, akan tetapi metode massage
tersebut dapat juga membawa pada
kegagalan karena disebabkan oleh
berbagai factor, diantaranya adalah,
usia, kelelahan dan pengalaman masa
lalu. Oleh sebab itu, pemberian massage
abdominal lifting dapat diberikan pada
ibu inpartu kala I fisiologis untuk
mengurangi rasa nyeri yang dirasakan
dengan memperhatikan keadaan dan
kondisi ibu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan
pembahasan
dan
penelitian ini, maka dapat disimpulkan
sebagi berikut :
1. Massage abdominal lifting dapat
digunakan sebagai pertolongan
pertama pada nyeri persalinan

terutama bagi ibu inpartu kala I


fisiologis dalam mengurangi
rasa nyeri.
2. Kegagalam metode massage
abdominal
lifting
yang
diberikan, dapat dipengaruhi
oleh
berbagai
factor,
diantaranya; usia, kelelahan dan
pengalaman masa lalu.
Saran yang dapat diberikan adalah :
1. Bagi para bidan umumnya dan
bidan di RSUD Dr. M. Haulussy,
Ambon
khususnya,
untuk
mengetahui dan dapat mengatasi
nyeri pada ibu inpartu kala I
fisiologis
dengan
tindakan
Massage Abdominal Lifting.
2. Perlu adanya sosialisasi metode
massage, khususnya abdominal
Lifting kepada ibu-ibu terutama
ibu hamil.
3. Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut mengenai variable ini
maupun variable yang belum
diteliti.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak I.M dan Jansen M.D, 2000,
Perawatan Maternitas dan
Ginekologi,
YIA-PKP,
Bandung.
Brunner and Suddarth, 1996, Medical
Surgical Nursing, Lippincot
Reven
Publisher,
Philadelphia.
Depkes RI, 1997, Peralatan Medis
esensial untuk Puskesmas,
Jakarta; Depkes.
Depkes R.I, 2002, Indonesia Sehat
2010, Jakarta.
Guyton dan Hall, 1997, Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran, EGC,
Jakarta.
Longulo, O.J, 2002, Hubungan Metode
Massage Dengan Nyeri
Persalinan di Ruangan

Bersalin RSB Siti Fatima,


Makasar
(tidak
dipublikasikan).
Manuaba, 1998, Ilmu Kebidanan
Penyakit Kandungan dan
Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan, EGC,
Jakarta.
Mochtar R, 1992, Sinopsis Obstetri
Jilid 2, EGC, Jakarta.
Muhiman
M,
dkk,
1996,
Penanggulangan Nyeri pada
Persalinan,
Fakultas
Kedokteran
Universitas
Indonesia, Jakarta.
Prawiroharjo
Sarwono,1999,
Ilmu
Kebidanan, Cetakan ke-5,
Yayasan
Bina
Pustaka,
Jakarta.
Rukminto, 1993, Pengantar Psikologi
untuk Ilmu kesehatan social,
Rajawali press, Jakarta.
Rahmat, 2000, Kesehatan ibu hamil
dan persalinan, yayasan
adikarja. Bandung
Sherwen,
1999,
Mempersiapkan
persalinan
sehat,
Puspaswara, Jakarta
Wong D.L. dan Perry S.E., 1998,
Maternal Child Nursing
Care, Mosby Year Book,
Inc, Amerika.
Widayatun, 1999, Ilmu Perilaku, CV
Agung Seto, Jakarta