Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum Peyakit


Faringitis akut merupakan salah satu klasifikasi dalam faringitis.
Faringitis akut adalah suatu penyakit peradangan tenggorok (faring)
yang bersifat mendadak dan cepat memberat. Faringitis akut dapat
menyerang semua umur. Faringitis akut dapat disebabkan oleh viral,
bakteri, fungal dan gonorea. Penyebab terbanyak radang ini adalah
kuman

golongan

Streptokokus

Beta

Hemolitikus,

Streptokokus

viridians dan Streptokokus piogenes. Penyakit ini juga dapat


disebabkan oleh infeksi virus seperti virus influenza dan adenovirus.
Faringitis akut dapat menular melalui kontak dari sekret hidung dan
ludah

(droplet

(Rusmarjonno

infection)
dan

dari

orang

Efiaty Arsyad

yang

menderita

faringitis

Soepardi, 2007). Adenovirus

merupakan virus penyebab faringitis akut yang paling sering,


sedangkan S. pyogenes ( b-hemolytic group A Streptococcus)
merupakan bakteri penyebab faringitis akut yang paling umum (Miriam
T. Vincent, 2004).
Dispepsia adalah kumpulan gejala berupa rasa nyeri pada ulu hati
atau rasa tidak nyaman di perut bagian atas. Rasa tidak nyaman ini
bisa dirasakan seseorang dalam bentuk rasa penuh di perut bagian
atas, rasa cepat kenyang, rasa terbakar, kembung, bersendawa, mual
dan muntah yang bersifat akut, berulang ataupun kronis. Meskipun
jarang terjadi, dispepsia dapat dijadikan sebagai tanda adanya
masalah serius misalnya penyakit radang yang parah pada lambung
ataupun kanker lambung, sehingga harus ditangani dengan serius
(Asma, 2012; Djojoningrat, 2006).
Prevalensi kejadian dispepsia di Amerika Serikat, India, Hongkong,
Australia, Cina cukup tinggi dan 27% yang menderita dyspepsia
adalah remaja putri dan 16% remaja putra (Dwijayanti, Ratnasari &
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

Susetyowati 2008, dalam Susanti, 2011). Berdasarkan penelitian pada


populasi umum didapatkan bahwa 15 30 % orang dewasa pernah
mengalami hal ini dalam beberapa hari. Didaerah asia pasifik,
dispepsia

juga

merupakan

keluhan

yang

banyak

dijumpai,

prevalensinya sekitar 10 20 % (Kusmobroto H, 2003)


B. Data Dasar Pasien
1. Identitas Pasien
Nama

: Ny. R

Tanggal Lahir

: November

Umur

: 27 Tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Suku

: Makassar

No. Register RM

: 02.93.56

Diagnosa Medis
: Fibroadenoma Mammae Dextra
2. Data Subyektif
a. Keluhan Utama
Mengalami Mastalgia (nyeri pada payudara).
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada tanggal 29/10/2014 yaitu pasien di diagnosis

terdapat

Fibroadenoma Mammae Dextra.


c. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya yaitu 8/10/2012 pasien pernah di diagnosa terdapat
Fibroadenoma

Mammae

Sinistra

dan

telah

melakukan

operasi/pengangkatan tumor.
d. Riwayat Gizi Sekarang
Nafsu makan baik,
e. Riwayat Gizi Dahulu
Nasi 3x dalam sehari, pasien menyukai sayur labu siam, pasien
suka mengkonsumsi buah jeruk dan papaya serta ikan, pasien
suka mengkonsumsi wafer dan biscuit, tidak memiliki alergi, dan
tidak ada pantangan
f. Riwayat Sosial Ekonomi
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

Pasien sekarang duduk di kelas 2 SD. Pasien adalah anak


bungsu dari empat bersaudara. Ayah pasien bekerja sebagai
wiraswasta dan ibu pasien sebagai Ibu Rumah Tangga. Pasien
beragama Islam dan bersuku Bugis.
3. Data Obyektif
1) Antropometri
Umur= 6 tahun 11 bulan
BBA= 20 kg
TB = 124 cm
BBI = 24 kg

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

Status Gizi Berdasarkan table CDC, 2000:


BB/TB =

X 100%

X 100%

= 83,3% (Gizi kurang )


TB/U =

X 100%

X 100%

= 101,6% (Gizi Baik)


2) Pemeriksaan
Laboratorium
BB/U =
X 100%
Tabel 1.1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Jenis

Hasil

Pemeriksaan

Nilai Normal

Interpretasi

WBC= 7.02

4-11

Normal

Biokimia

RBC= 4.10

4.50-5.50

Normal

Darah

PCT= 0.30

0.17-0.35

Normal

Sumber : Rekam Medik Pasien, 2014


3) Pemeriksaan Fisik-klinis
Tabel 1.2 Hasil Pemeriksaan Fisik /Klinis
Jenis Pemeriksaan
Keadaan Umum
Tekanan Darah

Hasil
Lemas

Nilai Normal
Baik

90/60 mmhg

90/60mmhg

Nadi

112 x/i

80 120 x/menit

Suhu

37,6 0C

36 37 0c

32x/i

24x/menit

Lancar

Lancar

BAK
Lancar
Sumber : Rekam Medik Pasien, 2014

Lancar

Pernapasan
BAB

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

4) Riwayat Makan
Tabel 1.3 Asupan zat Gizi sebelum intervensi
Energi

Protein

Lemak

KH

Asupan
1035,8 kkal 32,28 gr
Kebutuhan
1920 kkal
72 gr
% Asupan
53,9%
44,83 %
Sumber : Data Primer Terolah, 2014
5) Skrining Gizi

46,8 gr
53,3 gr
87,8 %

120 gr
288 gr
41,8 %

Tabel 1.4 Hasil Skrining Gizi Terhadap Pasien


No

Indikator

Hasil

Perubahan BB

Nafsu makan menurun

Kesulitan mengunyah /& menelan

Mual

Muntah

Alergi/intoleransi zat Gizi

Diet khusus

8
Asupan oral
Sumber : Data Primer, 2014

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

BAB II
PENENTUAN MASALAH GIZI DAN PROBLEM CLUE
A. Diagnosis Gizi
1. Domain Intake
Tabel 2.1 Diagnosis Gizi Berdasarkan Domain Intake
Problem
Asupan

Etiologi
Oral Nafsu

Kurang

menurun

Sign
makan hasil

recall

24

jam

sebelum intervensi:
E = 1035,8 kkal (53,9%)
P = 32,28 gr (44,83 %)
L = 46,8 gr (87,8%)
KH = 120 gr (41,8%)

(NI-2.1)
Intake makanan atau minuman yang tidak adekuat disebabkan
nafsu makan menurun ditandai dengan hasil recall 24 jam sebelum
intervensi:
E = 1035,8 kkal (53,9%)
P = 32,28 gr (44,83 %)
L = 46,8 gr (87,8%)
KH = 120 gr (41,8%)
B. Diagnosis Medis
Diagnosis medis yang diberikan pada An. AA (anak) adalah Faringitis
akut dan dispepsia

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

BAB III
RENCANA TERAPI GIZI
A. Rencana Asuhan Gizi
1. Jenis diet
Diet Lambung 1920 kkal
2. Tujuan Diet
Memberikan makanan yang adekuat untuk:
a. Meningkatkan asupan oral pasien
b. Mencapai status gizi normal
c. Meringankan pekerjaan saluran cerna (lambung)
d. Mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh
3. Prinsip/Syarat Diet
Adapun prinsip/syarat diet adalah sebagai berikut :
a. Energi sesuai kebutuhan, yaitu 1920 kkal
b. Protein 15% dari kebutuhan total, yaitu 72 gram
c. Lemak 25% dari kebutuhan energi total, yaitu 53,3 gram
d. Karbohidrat 60% dari kebutuhan energi total, yaitu 288 gram
e. Cukup mineral, vitamin, dan kaya serat
f. Makanan tidak merangsang saluran cerna
g. Makanan sehari-hari beraneka ragam dan bervariasi
4. Perencanaan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi
Data Antropometri :
Umur= 6 tahun 11 bulan
BBA= 20 kg
TB = 124 cm
BBI = 24 kg

Status Gizi Berdasarkan table CDC, 2000:


BB/TB =

X 100%

X 100%

= 83,3% (Gizi kurang )


TB/U =

X 100%

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
=
X 100%
FLORINA YULINDA_K21111001
= 101,6% (Gizi Baik)

Kebutuhan Energi dan zat gizi:


Energi

= RDA x BBI
= 80 x 24
= 1920 kkal

Protein

=
=
= 72 gram

Lemak

=
=
= 53,3 gr

% KH

= 100 (%protein +% lemak)


= 100 % - (15%+25%)
= 60 %

Karbohidrat

=
=

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

= 288 gr
5. Rencana Motivasi Dengan Penyuluhan Konsultasi
Materi:
Diet Lambung 1920 kkal
Tujuan:
Agar pasien dan keluarga:
1. Dapat menjalankan diet yang dianjurkan dengan benar
2. Mengerti tentang makanan yang boleh, dibatasi dan
dihindari untuk dikonsumsi
Sasaran:
Pasien & keluarga
Waktu :
15 menit
Tempat :
Kamar 432 lantai 4, Rumah Sakit Pendidikan Unhas.
Metode :
Penyuluhan individu kepada keluarga pasien
Alat Bantu :
Leaflet
6. Rencana Monitoring
Parameter yang dimonitor selama studi kasus adalah sebagai
berikut:

Asupan zat gizi


Data antropometri
Perubahan data pemeriksaan fisik klinis
Nilai laboratorium jika ada

B. Implementasi Asuhan Gizi


1. Diet Pasien
Diet yang diberikan adalah diet Lambung yang bertujuan untuk
Memberikan makanan yang adekuat untuk meningkatkan asupan
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

oral pasien, mencapai status gizi normal, meringankan pekerjaan


saluran cerna (lambung), mencegah dan mengurangi kerusakan
jaringan tubuh.
Diet ini mengandung energi sebesar 1920 kkal sesuai
kebutuhan kalori pasien, protein sebesar 15% dari jumlah energi,
lemak 25% dari jumlah energi, dan karbohidrat cukup yaitu 60%
jumlah energi, vitamin dan mineral sesuai kebutuhan, dan cairan
cukup. Diet pasien diberikan dalam bentuk makanan lunak dengan
pertimbangan pasien bukan diberi bubur melainkan nasi tim.
2. Susunan Menu
Dari hasil perhitungan, maka didapatkan standar kebutuhan
energi dan zat gizi harian pasien sebagai berikut: energi = 1920
kkal, protein = 72 gr, lemak = 53,3 gr, KH = 288 gr.
Sehingga berdasarkan standar kebutuhan tersebut, maka
perencanaan distribusi makanan pasien berdasarkan menu dan
porsi makanan seharinya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Perencanaan Susunan Menu
Waktu

Menu

07.00

Nasi tim
Telur Rebus
Oseng Tempe
Sayur Bening

10.00

Jus Alpukat

Nasi tim
Ikan Bakar Kecap
Semur Tempe
Tumis Pelangi

12.00

16.00

Puding coklat + Fla

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

10

19.00

20.30

Nasi Tim

Tumis Ayam Suir

Perkedel Tahu

Sayur Labu Kuning

Buah Pepaya

3. Distribusi Makanan Sehari


Tabel 3.2 Perencanaan Distribusi Makanan Pasien
Menu
07.00
Nasi tim
Telur Rebus
Oseng Tempe
Sayur Bening

Bahan
Beras giling
Telur ayam
Tempe kedelai murni
Kecap
Minyak kelapa sawit
Bayam
Kacang Panjang
Jagung Kuning Pipil

JUMLAH
URT
Gram
2 gls
1 butir
1 ptg sdg
1 sdt
sdt
gls
gls

80
55
20
40
2.5
15
10
5

gls
10.00
Jus Alpukat

12.00
Nasi tim
Ikan Bakar Kecap
Semur Tempe
Tumis Pelangi
Buah

Buah Alpukat

bh sdg

Susu Kental Manis

2 sdm

Beras giling
Ikan Segar
Kecap
Tempe
Kecap
Minyak kelapa sawit
Buncis
Labu siam
Wortel
Jeruk Manis

gls
1 ekor
1 sdt
1 ptg sdg
1 sdt
sdt
gls
gls
gls
1 bh sdg

65
20

100
40
5
45
5
2.5
20
20
10
65

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

11

16.00
Puding coklat + Fla

Agar-agar
Susu Kental Manis
Telur ayam
Santan Peras + air
Gula pasir
Maizena

sdt
1 sdm
1 sdt
2 sdm
1 sdt
1 sdm

1
10
5
20
5
10

19.00

Nasi Tim
Tumis Ayam Suir

Perkedel Tahu

Beras giling
Ayam
Kecap
Minyak Kelapa Sawit
Tahu
Tepung Terigu
Telur ayam
Minyak Kelapa Sawit
Labu kuning
Kacang panjang
Santan peras + air

gls
ptg
1 sdt
sdt
1 ptg sdg
1 sdt
1 sdt

75
45
5
2.5
40
5
5
5
15
10
30

1 sdt
gls

Sayur Labu Kuning

gls
20.30
Buah

Pepaya

3 sdm
1 ptg sdg

100

Menu tersebut mengandung E= 1904 kkal (99,19%), P= 69,32gr


(96,3%), L= 53,4 gr (100%), KH= 289 gr (100%).

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

12

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
1.
Faringitis
Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat
disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, trauma, toksin dan lain-lain
(Rusmarjono dan Efiaty Arsyad Soepardi, 2007).
Faringitis akut adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh
virus atau bakteri, yang ditandai oleh adanya nyeri tenggorokan,
faring eksudat dan hiperemis, demam, pembesaran limfonodi leher
dan malaise (Vincent,2004)
Faringitis akut merupakan salah satu klasifikasi dalam faringitis.
Faringitis akut adalah suatu penyakit peradangan tenggorok (faring)
yang bersifat mendadak dan cepat memberat. Faringitis akut dan
tonsillitis

akut

sering

ditemukan

bersama-sama

dan

dapat

menyerang semua umur. Faringitis akut dapat disebabkan oleh


viral, bakteri, fungal dan gonorea. Penyebab terbanyak radang ini
adalah

kuman

golongan

Streptokokus

Beta

Hemolitikus,

Streptokokus viridians dan Streptokokus piogenes. Penyakit ini juga


dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti virus influenza dan
adenovirus. Faringitis akut dapat menular melalui kontak dari sekret
hidung dan ludah (droplet infection) dari orang yang menderita
faringitis (Rusmarjonno dan Efiaty Arsyad Soepardi, 2007).
2.
Dispepsi
Dispepsia merupakan keluhan klinis yang sering dijumpai
dalam praktik klinis sehari hari. Penyebab dispepsia yakni adanya
infeksi bakteri Helicobacter pylori, menderita gartritis, menderita
hiayus hernia, menderita kanker esophageal, menderita kanker
gaster, menderita penyakit refluks gastroesofageal, mnenderita
ulkus peptikum, penggunaan antibiotik, penggunaan obat anti
peradangan, penggunaan

obat anti

peradangan

dan

ulkus

duodenum (Abdullah dkk, 2012).


Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

13

Istilah dispepsia sendiri mulai gencar dikemukakan sejak akhir


tahun 1980-an, yang menggambarkan keluhan atau kumpulan
gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di
epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa penuh,
sendawa, regurgitasi, dan rasa panas yang
Sindrom atau keluhan ini

menjalar di dada.

dapat disebabkan atau didasari oleh

berbagai penyakit, tentunya termasuk juga di dalamnya penyakit


mengenai lambung (Abdullah dkk, 2012).
B. Etiologi
1.
Faringitis
Faringitis dapat menular melalui udara yaitu melalui percikan
saliva/ludah dari orang yang menderita faringitis akut. Infeksi ini
biasanya disebabkan oleh virus dan bakteri, dipermudah oleh
adanya rangsangan seperti asap, uap, dan zat kimia.
a. Virus
Adenovirus, virus epstein barr, herpes simpleks,

virus

parainfluenza, enterovirus, v. Sinsitium pernapasan, virus


influenza (A & B).
b. Streptokokus-hemolitikus grup A
adalah satu-satunya agen penyebab infeksi bakteri yang lazim
dan kecuali selama epidemi, infeksi ini mungkin meliputi kurang
dari 15 % kasus.
c. Mikoplasma dan arcanobacterium hemolytieum.
d. Infeksi gonokokus faring dapat terjadi akibat felasio (hubungan
kelamin melalui mulut)
e. Pneumokokus, Basilus influenza (Behrman, 1999).
2. Dispepsia
Keluhan berupa nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati,
kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, dan perut
terasa penuh atau begah (Djojoningrat, 2006b; Asma, 2012).
Keluhan ini tidak selalu semua ada pada setiap pasien, dan bahkan
pada beberapa pasien pun keluhan dapat berganti atau bervariasi
dari hari ke hari baik dari segi jenis keluhan maupun kualitasnya
(Djojoningrat, 2006).
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

14

Mansjoer (2001) dalam bukunya membagi klasifikasi klinis


secara praktis, didasarkan atas gejala yang dominan, membagi
dispepsia menjadi tiga tipe:
1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus-like dispepsia),
dengan gejala:

Nyeri epigastrium terlokalisasi

Nyeri hilang setelah makan

Nyeri saat lapar

Nyeri episodik

2. Dispepsia

dengan

gejala

dismotilitas

(dysmotility-like

dispepsia),dengan gejala:

Mudah kenyang

Perut cepat terasa penuh saat makan

Mual

Muntah

Upper abdominal bloating

Rasa tak nyaman bertambah saat makan

C. Patofisiologi
1. Faringitis
Organisme yang menghasilkan eksudat saja atau perubahan
kataral sampai yang menyebabkan edema dan bahkan ulserasi
dapat mengakibatkan faringitis. Pada stadium awal, terdapat
hiperemia, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat
mula-mula serosa tapi menjadi menebal atau berbentuk mukus dan
kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada
dinding faring.
Dengan hiperemia, pembuluh darah dinding faring menjadi
melebar. Bentuk sumbatan yang berwarna putih, kuning atau abuabu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tidak adanya
tonsilia, perhatian biasanya difokuskan pada faring dan tampak
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

15

bahwa folikel limfoid atau bercak-bercak pada dinding faring


posterior atau terletak lebih ke lateral, menjadi meradang dan
membengkak. Tekanan dinding lateral jika tersendiri disebut
faringitis lateral. Hal ini tentu saja mungkin terjadi, bahkan adanya
tonsilia, hanya faring saja yang terkena (Adams, G.L, 1997)
2. Dispepsia
Dari sudut pandang patofisiologis, proses yang paling banyak
dibicarakan

dan

potensial

berhubungan

dengan

dispepsia

fungsional adalah hipersekresi asam lambung, infeksi Helicobacter


pylori, dismotilitas gastrointestinal, dan hipersensitivitas viseral.
Patofisiologi dispepsia hingga kini masih belum sepenuhnya jelas
dan penelitian-penelitian masih terus dilakukan terhadap faktorfaktor yang dicurigai memiliki peranan bermakna, seperti di bawah
ini (Anonim, 2013):
a. Abnormalitas

fungsi

motorik

lambung,

khususnya

keterlambatan pengosongan lambung, hipomotilitas antrum,


hubungan antara volume lambung saat puasa yang rendah
dengan pengosongan lambung yang lebih cepat, serta
b.

gastric compliance yang lebih rendah.


Infeksi Helicobacter pylori: Peran infeksi Helicobacter pylori
pada dispepsia fungsional belum sepenuhnya dimengerti dan
diterima.

Kekerapan

infeksi

H.

pylori

pada

dispepsia

fungsional sekitar 50% dan tidak berbeda bermakna dengan


angka kekerapan infeksi H. pylori pada kelompok orang
sehat. Mulai ada kecenderungan untuk melakukan eradikasi
H. pylori pada dispepsia fungsional dengan H. pylori positif
c.

yang gagal dengan pengobatan konservatif.


Faktor-faktor psikososial, khususnya terkait

dengan

gangguan cemas dan depresi.


D. Gejala
1. Faringitis

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

16

Secara umum, gejalan/tanda penyakit faringitis adalag


sebagai berikut (Adams, G L., 1997):
a. Mengeluh rasa kering / gatal pada tenggorok.
b. Malaise dan sakit kepala
c. Suhu tubuh meningkat
d. Nyeri
e. Disfagia
f. Suara parau Proses peradangan menyertai laring
g. Batuk
h. Edema Faring
Berdasarkan penyebabnya, manifestasi klinis faringitis dapat
dibagi dua, tetapi ada banyak tanda dan gejala yang tumpang tindih
dan sulit dibedakan antara satu bentuk faringitis dengan yang lain
(Behrman, 1999):
1. Faringtis Virus
a. Tanda awal: Demam, malaise, anoreksia dengan nyeri
tenggorokan sedang
b. Suara parau, batuk dan rinitis
c. Pada kasus berat dapat terbentuk ulkus kecil pada palatum
lunak dan dinding faring posterior.
2. Faringitis Steptokokus
a. Pada anak umur lebih dari 2 tahun: Nyeri kepala, nyeri
perut, muntah.
b. Demam 40oC kadang tidak tampak
c. Pembesaran tonsil dan tampak eksudat dan eritema faring
d. Disfagia
e. Kemerahan difus pada tonsil dan dinding penyangga tonsil
dengan bintik-bintik petekie palatum lunak, limfadenitis atau
eksudasi folikuler.
3. Dispepsia
Gejala-gejala yang biasa timbul yaitu (Abdullah dkk, 2012):
a. Kulit kering
b. Menderita rasa panas dalam perut
c. Mual
d. Pembuluh darah yang bengkak atau melebar pada bagian putih
mata, yang menyebabkan mata terlihat merah (mata merah)
e. Perut kembung
f. Rasa sakit pada bagian atas perut
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

17

E. Penatalaksanaan
1. Faringitis
a. Nonfarmakologis
a.
b.
c.
d.
e.

Istirahat untuk beberapa hari


Nutrisi harus adekuat
Minum lebih banyak air
Tidak minum minuman yang dingin
Menghindari makanan yang merangsang seperti cabe
(Smeltzer, Suzanne C. 2001).

b. Farmakologis
Terapi pada penderita faringitis akut yang disebabkan oleh
bakteri diberikan penisilin, dan jika pasien alaergi terhadap
penisilin maka eritromisin merupakan obat yang disarankan.
Untuk menghindari infeksi dari jamur, maka diberikan solusi
dengan nystatin 100.000 unit dua kali sehari. Dan pada
penderita yang disebabkan oleh virus, maka diberikan aspiria,
acetomynopher untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri (Adams,
G L., 1997).
2. Dispepsia
a. Terapi Farmakologi
1) Antasid: Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung.
Campuran yang biasanya terdapat didalam antacid adalah
Na

Bikarbonat,

Al(OH)3, Mg(OH)2,

dan

MG

trisilikat.

Pemakaian obat ini sebaiknya jangan diberikan terus


menerus, sifatnya hanya sistematis untuk mengurangi rasa
nyeri.
2) Antagonis reseptor H2: Ransangan reseptor H2 akan
memicu eksresi asam lambung, antagnis berfungsi dalam
menghambat proses ini.
3) Penghambat pompa proton: PPI menghambat sekresi
lambung dengan cara menghambat H + / K + ATPase yang
ada dalam sel parietal lambung yang menimbulkan efek anti
sekresi yang kuat dan tahan lama. PPI terurai dalam
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

18

lingkungan asam oleh karena itu PPI diformulasi dalam


bentuk kapsul atau tablet lepas lambat.
4) Stimulan Motilitas: Metoklopramida

dan

domperidon

bermanfaat untuk pengobatan dyspepsia non tukak. Kedua


obat tersebut bermanfaat untuk mengatasi mual dan muntah
non spesifik.
5) Pelindung Mukosa / Sitoprotektif: Sukralfat adalah garam
aluminium dari sucrose sulfat yang bekerja lokal pada T
raiktus gastro intestinal dan hamper tidak diabsorpsi,
membentuk suatu rintangan sitoprotektif pada sisi ulkus
sehingga menahan degradasi oleh asam dan pepsin
(Tarigan., 2013)
b. Terapi Non Farmakologi
Modifikasi gaya hidup & menghindari obat penyebab ulcer
(aspirin & NSAIDs lain, bisphosphonat oral, KCl, pengobatan
imunosupresan),
alkohol,kafein

menghindari

(stimulan

asam

stress,

stop

lambung),

merokok
makanan

&
dan

minuman soda, sebaiknya dihindari makan malam (Tarigan.,


2013).
F. Penatalaksanaan Diet
1. Faringitis
Pemberian diet pada kasus faringitis akut dilakukan secara
bertahap kemudian ditingkatkan sesuai dengan kemampuan
penderita. Diet Tahap I diberikan setelah fase akut teratasi. Pasien
diberikan makanan saring setiap tiga jam dan tetap diberikan
makanan parenteral untuk memenuhi kebutuhan cairan dan energi.
Diet Tahap II diberikan setelah suhu badan stabil. Makanan
diberikan dengan porsi kecil dan konsistensi lunak. Diet tahap III
diberikan setelah suhu badan stabil dan hepato-slenomegalia telah
hilang. Konsistensi makanan yang diberikan lunak atau biasa
tergantung toleransi pasien, tetapi kandungan serat tetap terbatas.
Pasien faringitis dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan
yang lunak. Makanan yang mengandung vitamin C juga perlu
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

19

dikonsumsi yang bermanfaat sebagai anti inflamsi seperti buahbuahan antara lain jeruk, pisang, dan sayuran seperti wortel dan
tomat. Pisang dengan teksturnya yang lembut dan empuk di
tenggorokan sangat baik untuk penderita faringitis, selain dari
fisiknya pisang juga mengandung indeks glikemik yang rendah,
kaya vitamin C, B6, dan kalium. Wortel rebus yang sangat kaya
akan vitamin A, C, K, serta serat dan postasium bisa membantu
untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan memproduksi
lebih banyak antibodi. antibodi ini yang akan melawan virus,
bakteri, dan toksin yang ada di daerah tenggorokan (faring).
Bawang putih hampir sama manfaatnya dengan wortel rebus yaitu
untuk meningkatkan antibodi & melawan penyakit faringitis.
Makanan hangat juga baik dikonsumsi penderita faringitis,
seperti sop ayam hangat bisa dimanfaatkan untuk mencegah atau
mengurangi kemerahan, panas, pembengkakan, nyeri dan kelainan
fungsi di daerah tenggorokan. Jahe & madu bisa kita gunakan
untuk mengurangi iritasi dan rasa gatal di tenggorokan. Penderita
juga perlu mengkonsumsi banyak air putih yang dapat mencegah
tubuh kekurangan cairan.
Makanan & minuman dingin perlu dikurangi. makanan dan
minuman yang bisa merangsang terjadinya radang tenggorokan
seperti gorengan-gorengan, makanan berminyak, asam, pedas,
telalu manis, berlemak juga perlu dihindari.
Dalam kasus ini jenis diet yang diberikan yaitu makanan lunak
yang bertujuan mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan
tubuh melalui asupan energi dan ptotein yang adekuat serta
memberikan asupan yang adekuat untuk membantu mencapai
berat badan ideal serta untuk mempertahankan status gizi.
2. Dispepsia
Penyakit lambung atau gastrointestinal meliputi gastritis akut
dan kronik, ulkus peptikum, pasca operasi lambung yang sering
diikuti dengan dumping sindrome dan kanker lambung. Ganguan
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

20

gastrointestinal

sering

dihubungkan

dengan

emosi

atau

psikoneurosis dan/atau makan terlalu cepat karena kurang


dikunyah sertta terlalu banyak merokok.
Gangguan pada lambung umumnya

berupa

sindrom

dispepsia, yaitu kumpulan gejala yang terdiri dari mual, muntah,


nyeri epigastrium, kembung, nafsu makan berkurang, dan rasa
cepat kenyang.
Tujuan diet lambung ini adalah ntuk memberikan makanan
dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung serta
mencegah

dan

menetralkan

sekresi

asam

lambung

yang

berlebihan. Syarat diet lambung yaitu memberikan makanan yang


mudah dicerna, porsi kecil dan sering diberikan, energi dan protein
cukup,sesuai dengan kemampuan pasien untuk menerimanya,
lemak rendah, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total yang
ditingkatkan secara bertahap hingga sesuai dengan kebutuhan,
rendah serat, terutama serat yang tadak larut air yang ditingkatkan
secara bertahap, cairan cukup, terutama bila ada muntah, tidak
mengandung bahan makanan atau bumbu yang tajam, baik secara
termis, mekanis, ,maupun kimia (dusesuaikan dengan daya terima
perorangan) dan mengandung laktosa rendah bila ada gejala
intoleransi laktosa; umumnya tidak dianjurkan minum susu terlalu
banyak. Pada fase akut dapat diberikan makanan parenteral saja
selama 24-48 jam untuk memberi istirahat pada lambung. Diet
lambung terdiri dari 3 macam diet, yaitu diet lambung I, II, dan III.
Pasien yang mengalami gangguan pada lambung di anjurkan
diberikan makanan yang lunak agar tidak memberatkan kerja
lambung dan mudah dicerna (Anonim, 2014)

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

21

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

22

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Monitoring
1. Monitoring Diet Pasien
Jenis diet yang diberikan pada pasien adalah diet lambung
dengan

konsistensi

makanan

lunak

yang

bertujuan

untuk

memberikan makanan yang adekuat untuk meningkatkan asupan


oral pasien, mencapai status gizi normal, meringankan pekerjaan
saluran cerna (lambung), mencegah dan mengurangi kerusakan
jaringan tubuh.
Diet ini mengandung energi sebesar 1920 kkal sesuai
kebutuhan kalori pasien, protein sebesar 15% dari jumlah energi
yaitu sebesar 72 gr, lemak 25% dari jumlah energi yaitu sebesar
53,3 gr, dan karbohidrat cukup (60%) jumlah energi yaitu sebesar
288 gr, vitamin dan mineral sesuai kebutuhan, dan cairan cukup.
Diet pasien diberikan dalam bentuk makanan lunak dengan
pertimbangan pasien bukan diberi bubur melainkan nasi tim.
Sebelum dilakukan intervensi selama 3 hari, pasien terlebih
dahulu di recall. Recall yang dilakukan adalah recall 24 jam.
Setelah dilakukan recall, intervensi pun dijalankan. Saat intervensi,
pasien dan keluarganya diberikan edukasi mengenai tatalaksana
diet penyakit lambung, pasien dan keluarganya diperlihatkan leaflet
mengenai diet yang akan dijalankan oleh pasien agar lebih
mengerti lagi tentang diet yang akan dijalani pasien.
Berdasarkan hasil recall 24 jam sebelum intervensi tersebut,
maka diagnosa gizi dari domain intake yang dapat ditegakkan
adalah:

(NI-2.1) Intake makanan atau minuman yang tidak adekuat


disebabkan nafsu makan menurun ditandai dengan hasil recall
24 jam sebelum intervensi: energi: 53,9%, protein: 44,83%,
lemak: 87,7% dan KH: 41,8%.

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

23

Adapun hasil monitoring asupan makanan pasien selama


intervensi, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.1 Distribusi Hasil Monitoring Asupan Makanan Pasien
HARI

URAIAN

ASUPAN ZAT GIZI


E (Kkal) P (gr)
L (gr)
KH (gr)

Asupan
1033.5
Kebutuhan
1920
% Asupan
53.83
Asupan
1321
II
Kebutuhan
1920
09/10/2014
% Asupan
68.83
Asupan
1821.5
III
Kebutuhan
1920
10/10/2014
% Asupan
94.87
Rata-rata persen Asupan
72.51
Sumber : Data Primer Terolah, 2014
I
08/10/2014

43.9
72
61.09
54,7
72
76
61.89
72
85.96
74.35

41.4
53.3
77.7
45
53.3
84.4
39.3
53.3
73.8
78.63

110
288
38.3
171
288
59.4
302
288
105
67.5

Berdasarkan tabel 5.1, dapat diketahui bahwa asupan pasien


dari intervensi hari pertama sampai dengan intervensi hari ketiga
dibandingkan dengan sebelum intervensi mengalami peningkatan.
Rata-rata % asupan selama intervensi yaitu energi 72.51%, protein
74.35%, lemak 78.63% dan KH 67.5%, dimana dapat dilihat bahwa
asupan intervensi hari ketiga telah mencukupi kebutuhan zat gizi
pasien. Diharapkan asupan ini bisa dipertahankan dan tetap
diterapkan setelah intervensi berakhir. Peningkatan asupan ini
berhubungan dengan semakin membaiknya keadaan dan nafsu
makan pasien.

Grafik 5.1 : Presentasi Asupan zat gizi selama intervensi

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

24

Berdasarkan grafik 5.1, kita bisa melihat bahwa selama studi


kasus berlangsung, asupan energi, protein, dan karbohidrat
mengalami peningkatan akan tetapi asupan lemak menurun,
bahkan di intervensi hari keempat asupan energi dan karbohidrat
pasien telah mencapai standar kebutuhan asupan untuk pasien.
2. Monitoring Pemeriksaan Fisik-Klinik
Adapun hasil monitoring pemeriksaan fisik-klinik pasien selama
intervensi, dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.2 Monitoring Pemeriksaan Fisik-Klinik
Pemeriksaan
07/10/14
08/10/14
Keadaan Umum
Lemas
Lemas
Tekanan Darah
90/60
120/80
Nadi
112x/i
100x/i
Suhu
37,60
36,90
Pernapasan
32x/i
28x/i
Sumber: Rekam Medik Pasien, 2014

09/10/14
Lemas
120/80
102x/i
360
28x/i

10/10/14
Sedang
120/80
105x/i
360
30x/i

Berdasarkan tabel 5.2 berkaitan dengan pemeriksaan fisik-klinik


pasien diketahui bahwa keadaan umum pasien membaik pada hari
ke empat pengambilan kasus, sehingga pasien diperbolehkan
pulang pada tanggal 11 Oktober 2014. Hal ini berkaitan dengan
semakin membaiknya kondisi pasien.
3. Monitoring Pemeriksaan Laboratorium
Adapun perkembangan data laboratorium pasien tidak dapat
dimonitor karena pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan selama
intervensi study kasus berlangsung.
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

25

B. Hasil Motivasi Diet Pasien


1. Perkembangan Pengetahuan Gizi
Pasien dan keluarga pasien, sebelum pelaksanaan intervensi
belum pernah mendapatkan edukasi terkait dengan masalah gizi,
hal ini diketahui berdasarkan penuturan keluarga pasien. Terapi
edukasi yang diberikan dengan metode penyuluhan gizi yang
dilakukan selama 15 menit di hari sebelum dilakukannya intervensi
dan diskusi yang dilakukan setiap hari selama 3 hari intervensi
menunjukkan hasil yang baik, walaupun An. AA sedikit pendiam
dan malu-malu saat dilakukannya penyuluhan, tetapi keluarga
pasien (bapak pasien dan ibu pasien) merespon dengan sangat
baik apa yang kami sampaikan terkait diet yang dianjurkan.
2. Sikap Dan Perilaku Pasien Terhadap Diet
Hasil recall konsumsi 24 jam sebelum pelaksanaan intervensi
menunjukkan bahwa asupan energi, protein, dan karbohidrat
pasien

sangat

kurang

dari

kebutuhan

berdasarkan

hasil

perhitungan kebutuhan yang disesuaikan dengan jenis diet yang


diberikan pada pasien.
Penyuluhan gizi dan diskusi dapat memberi motivasi kepada
pasien dan penjaga pasien untuk menjalankan terapi diet yang
dianjurkan dengan baik dan benar. Dengan semakin baiknya
kondisi pasien, nafsu makan pasien juga semakin baik sehingga
terjadi peningkatan asupan makan dari pasien.
C. Evaluasi Asuhan Gizi Pasien
1. Konsumsi Energi dan Zat Gizi Pasien
Hasil monitoring evaluasi asupan energi dan zat gizi selama
studi kasus didapatkan data bahwa terjadi peningkatan asupan
dibanding sebelum intervensi yaitu asupan energi dari 53.9%
menjadi 94.87%, protein dari 44.83% menjadi 85.96%, Lemak dari
87.8% menjadi 73,8% dan karbohidrat dari 41.8% menjadi 105%.
Adanya peningkatan asupan tersebut akibat peningkatan nafsu
makan dan kondisi pasien yang semakin membaik. Peningkatan
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

26

asupan makanan sebelum intervensi dengan rata-rata asupan


selama intervensi menunjukan peningkatan. Hal itu dapat dilihat
pada tabel 5.1 tentang hasil monitoring intervensi asupan makanan
pasien.
2. Evaluasi Status Gizi
Keadaan status gizi pasien pada akhir studi kasus tidak dapat
dimonitor oleh karena pasien sudah tidak rawat inap di rumah sakit.
3. Perkembangan Pengobatan Yang Berhubungan Dengan Gizi
Pengobatan yang berhubungan dengan gizi tidak terpantau
selama studi kasus dilaksanakan.
4. Perkembangan Terapi Diet
Terapi diet yang diberikan sejak awal intervensi hingga akhir
intervensi tidak berubah karena dari hasil monitoring dan evaluasi
yang dilakukan setiap hari tidak terdapat identifikasi masalah baru
baik

dari

pemeriksaan

antropometri,

fisik/klinis

maupun

laboratorium sehingga terapi diet tetap yaitu diet lambung.

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

27

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Pasien didiagnosa faringitis akut dan dispepsia
2. Status gizi pasien Berdasarkan tabel CDC, 2000:

BB/TB = 83,3% (Gizi kurang)

TB/U=101,6% (Gizi Baik)

BB/U= 86,9% (Gizi Kurang)

3. Jenis diet yang diberikan adalah diet lambung.


4. Pada studi kasus ini diagnosa gizi yang ditegakkan adalah NI-2.1,
diagnosa gizi ini berlaku sampai dilakukan intervensi selama 3 hari.
5. Asupan energi, protein, dan karbohidrat mengalami peningkatan
akan tetapi asupan lemak menurun, bahkan di intervensi hari
keempat asupan energi dan karbohidrat pasien telah mencapai
standar kebutuhan asupan untuk pasien.
B. Saran
1. Terapi diet dan edukasi gizi harus terus dlakukan untuk memberikan
motivasi pada pasien dan keluarganya.
2. Menambah pengetahuan kepada keluarga pasien tentang makanan
yang perlu di konsumsi dan yang perlu di batasi.
3. Pemeriksaan antropometri, fisik-klinis dan laboratorium harus tetap
dipantau untuk melakukan identifikasi masalah gizi sedini mungkin.
4. Pola makan pasien perlu ditingkatkan.

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

28

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Murdani dan Jeffri Gunawan. 2012. Dispepsia. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Adams, George L. 1997. Buku Ajar Penyakit THT, ed.6. Jakarta:
EGC.
Anonim.
2014.
Terapi
Pada
http://erikarizkyanti.blogspot.com/2011/04/dispepsia.html.
Oktober 2014.

Dispepsia.
Diakses, 18

Asma, M. 2014. Asuhan Keperawatan Pada Ny.N Dengan Dispepsia


di Ruang Instalasi Rawat Inap di RS Dr. Reksodiwiryo Padang. Sekolah
Tinggi
Ilmu
Kesehatan
Indonesia.
[online].
http://www.scribd.com/doc/78583982/askep-dispepsia [diakses tanggal18
Oktober 2014].
Anonim. 2014. Diet Pada Penyakit Lambung. [online].
http://yayanakhyar.wordpress.com/2009/10/14/diit-pada-penyakitlambung/ [diakses tanggal 18 oktober 2014].
Behrman, dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson, vol.2, ed.15.
Jakarta: EGC.
Djojoningrat, D. 2006. Dispepsia Fungsional. Dalam: Sudoyo, A.W;
Setiyohadi, B; Alwi, I; Simadibrata, M; Setiati, S. (eds.). 2006. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Jilid1. Edisi ke-4. Jakarta, Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.
Mansjoer, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, ed 3, jilid 1.
Jakarta: Media Ausculapius.
Smeltzer, Suzanne C. 2001.Buku ajar keperawatan medical-bedah
Brunner & Suddarth. Ed 8. Jakarta: EGC
Soepardi, Efiaty Arsyad, dkk, 2007, Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher, ( Edisi Keenam ), Jakarta:
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Tarigan, C.J. 2003. Perbedaan Depresi Pada Pasien Dispepsia
Fungsional Dan Dispepsia Organik. Tesis, Universitas Sumatera Utara.
Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin
Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

29

USU Digital Library.http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/6365


[diakses tanggal18 Oktober 2014].
Vincent, T., Mirian, Celestin,N.,Hussain,N.,Aneela.
Pharyngitis.
http://www.a.f.p.org.2004;69:1469-70www.emedicine.com/med/topic735
htm.2006. [diakses tanggal 18 oktober 2014)

Laporan Magang Dietetik RS Universitas Hasanuddin


Makasssar_2014
FLORINA YULINDA_K21111001

30