Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN TEORI
2.1 KONSEP TEORI MYOMA UTERI
2.1.1 Pengertian
Mioma uteri / fibroid uterus adalah tumor yang biasanya jinak yang paling sering
terjadi pada organ reproduksi wanita
(bambam. w. 2006)
Neoplasma jinak ini berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya
sehingga dikenal dengan istilah fibromioma, lelomioma ataupun fibroid
(Sarwono. 2006)
Mioma uteri adalah tumor jinak otot rahim, yang berdasarkan besar dan lokasinya
dapat memberikan gejala klinis. Nama lain leimioma uteri, fibro miomi uteri, uterine
fibroid.
(Manuaba, 2010)
Mioma uteri adalah tumor jinak yang berasal dari sel-sel otot polos yang telah
mengalami degenerasi
(Williams dan Wilkins, 2001)
Myoma uteri adalah neoplasma jinak, berasal dari otot uterus. Dikenal juga dengan
nama:
-

Fibromioma uteri.

Leiomioma uteri.

Uterine fibroid.
(Sarwono, 1991; Manuaba, 1993).

Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut
juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid. Myoma Uteri umumnya terjadi
pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada
serviks uteri (2 %) dan pada korpus uteri (97%), belum pernah ditemukan myoma uteri
terjadi sebelum menarche.
2.1.2 Etiologi
Penyebab
Penyebab myoma uteri belum jelas, disangka berasal dari :
1. Teori genefoblas yaitu pada wanita ekstrogenik yang menyebabkan sel-sel otot yang
imatur/belum matang
2. Faktor keturunan
Predisposisi
Predisposisi terjadinya myoma uteri adalah :
1. Kulit hitam lebih banyak
2. Jarang ditemukan pada wanita berumur 20 tahun, paling banyak pada usia 35-45
tahun (kurang lebih 25 %)
3. Nulipara/kurang subur
4. Keturunan
5. Zat-zat karsinogenik

(Sarwono, 2010)
2.1.3 Jenis Myoma Uteri
Berdasarkan posisi myoma terhadap lapisan-lapisan yterus, dapat dibagi dalam 3 jenis:
Myoma Submukosa 5 %
Berada di bawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Paling
sering menyebabkan perdarahan yang banyak sehingga memerlukan hysterektomi
walaupun ukurannya kecil.
Adanya myoma jenis ini dirasakan sebagai suatu curet bump (benjolan
waktu curet. Kemungkinan terjadinya degenerasi sarcoma leih besar pada jenis ini.
Sering mempunyai tangkai yang panjang sehingga menonjol melalui servik atau
vagina.
Myoma Intramural
Terletak pada myometrium. Kalau besar atau multiple dapat menyebabkan
pembesaran uterus dan berbenjol- benjol.
Myoma Subserosa/subperitoneal
Tumbuh keluardinding uterus sehingga menonjol pada permukaan uterus
diliputi oleh serosa. Kadang-kadang vena yang ada di permukaan pecah dan
menyebabkan perdarahan intraabdominal. Kadang timbul diantara 2 ligamen latum
yang dapat menekan ureter dan arteria iliaka.
Adakalanya tumor ini terdapat vaskularisasi yang lebih banyak dari
omentum sehingga lambat laun terlepas dari uterus disebut sebagai parasitic
myoma. Myoma subserosa yang bertangkai dapat mengalami torsi.
2.1.4

Tanda Dan Gejala


Adanya myoma tidak selalu memberikan gejala karena itu myoma sering ditemukan

tanpa disengaja, yaitu pada saat pemeriksaan ginekologik. Gejala yang ditemukanpun
sangat tergantung pada tempat sarang myoma itu berada, besarnya tumor, perubahan
dan komplikasi yang terjadi ( Sarwono, 1999 ).
Adapun tanda-tanda yang umumnya terjadi adalah :
Tumor massa, dibawah perut
Sering kali penderita pergi ke dokter oleh karena adanya gejala ini.

Perdarahan yang abnormal

Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah hipermenorea, menorragi, dan


dapat juga terjadi metroragia. Beberapa factor yang menjdi penyebab perdarahan ini,
antara lain adalah :
-

Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium sampai


adenokarsinoma endometrium.

Permukaan endometrium yang lebih luas dari pada biasa.

Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.

Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya sarang


mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh darah

yang melaluinya dengan baik.

Rasa Nyeri
Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul karena gangguan
sirkulasi darah pada sarang myoma, yang disertai nekrosis setempat dan
peradangan

Gejala dan Tanda penekanan


Gangguan ini tergantung dari besar dan tempat moma uteri. Penekanan pada
kandung kemih akan menyebabkan poliuri, pada uretra dapat menyebabkan
retensio urine, pada ureter dapat menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis,
pada rectum dapat menyebabkan obstipasi dan tenesia, pada pembuluh darah
dan pembuluh limfe di panggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri
panggul.

Infertilitas dan Abortus


Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan atau
menutup

pars

interstitial

tuba,

sedangkan

mioma

submukosum

juga

memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus.


2.1.5

Patofisiologi
Penyebab pasti mioma uteri sampai saat ini belum diketahui namun membesarnya

mioma ditengarai akibat meningkatnya jumlah hormon estrogen dalam tubuh. Karena
dipengaruhi oleh hormon estrogen, pada anak-anak yang belum menstruasi, jarang
ditemukan kasus mioma uteri. Pada wanita yang sudah mengalami menopause, mioma
juga akan mengecil karena kadar estrogen sudah berkurang.
Diduga faktor keturunan juga menjadi penyebab mioma uteri. Beberapa ahli
mengatakan bahwa mioma uteri juga terkait dengan faktor bakat, yang kemudian dipicu
oleh rangsangan hormon. Makanan kaya lemak dan kelebihan berat badan rangsangan
inilah yanh memicu pertumbuhan mioma. Infeksi

dan jamur didalam rahim juga

memungkinkan mioma tumbuh lagi, meskipun telah diangkat (operasi). Disamping


keluhan gangguan buang air kecil dan menstruasi, mioma uteri juga dapat menyebabkan
kemandulan.
Kehamilan juga dapat memperparah dampak mioma uteri. Saat hamil mioma uteri
cenderung membesar sehingga menyebabkan perdarahan dan nyeri. Juga sudah dirasa
mengganggu dan menurunkan kualitas hidup mioma harus ditangani dengan serius
Rangsangan estrogen pada cell nest
Wanita usia reproduktif

MYOMA UTERI
Submukosum
(Di bawah endometrium)
tunika serosa)

Interstitial/intramural
Subserosa/ subperitoneal
(Myometrium)
(Di bawah

Keluhan klinis:
Teraba tumor.
Perdarahan
Nyeri
Akibat
tekanan=pressure
effect
(bladder, uretra, rectum,
vena cava inferior).
Infertilitas.
-

Keluhan skunder:
- Anemia.
- Lemah.
- Pusing-pusing
- Sesak nafas.
- Fibroid
(disangkal).
- Erythrocytosis
myoma besar.

Kelemahan
Kecemasan
heart
pada

Resiko defisit
Volume cairan
Nyeri

Diagnosa:
Palpasi abdomen: teraba massa tumor keras, bentuk tidak teratur,
gerakan bebas, tidak sakit, letak tumor ditengah-tengah.
Pemeriksaan bimanual
Hysterografi/hysteroskopi
Sondage: cavum uteri besar dan tidak rata

Terapi:
Konservatif dengan pemeriksaan periodic
Radioterapi
Operasi (myomektomi, hysterektomi)

2.1.6

Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan Darah Lengkap : Hb: turun, Albumin : turun, Lekosit : turun /


meningkat, Eritrosit

: turun

2. USG : terlihat massa pada daerah uterus.


3. Vaginal Toucher : didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan
ukurannya.

4. Sitologi : menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.,


5. Rontgen : untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat
tindakan operasi.
6. ECG : Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi
tindakan operasi.
2.1.7

Pemeriksaan penunjang
a. USG abdominal dan transvaginal.
b. Hysterogrami / hyesteroscopy
c. ECG : normal
d. Hasil RD : tampak tumor padat mendorong ke depan dan tidak tampak gambar
cyste.
e. Golongan darah O.

2.1.8

Komplikasi

1. Degenerasi Ganas
Mioma uteri yang menjadi leimiosartoma ditemukan hanya 0.32-0.6% dari seluruh
kasus mioma uteri serta merupakan 50-70% dari semua sarcoma uterus. Keganasan
umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histoli uterus yang telah diangkat.
Komplikasi ini dicurigai jika ada keluhan nyeri/ukuran mioma yang semakin
bertambah besar terutama jika dijumpai pada penderita yang sudah menopause.
2. Anemia
Anemia sering terjadi karena serangkaian penderita mioma uteri mengalami
perdarahan pervaginam yang abnormal, perdarahan abnormal pada kasus mioma uteri
akan mengakibatkan anemia defisiensi besi
3. Torsi
Sarang mioma yang bertangkai mengalami torsi, timbul gangguan sirkulasi akut
sehingga mengalami nekrosis dengan demikian timbul sindroma abdomen akut, mual,
muntah dan shoks
4. Infertilitas
Infertilitas bisa terjadi apabila sarang mioma menutup dan menekan part infertilitas
tuba. Sedangkan mioma uteri sub mukosa juga memudahkan terjadinya abortus
karena distosia rongga uterus.
2.1.9

(Sarwono,2010)

Penanganan dan Pengobatan


Rawat inap darurat diindikaikan apabila perdarahan mengancam jiwa atau nyeri

akut abdomen. Perencanaan tata laksana harus disesuaikan dan spesifik atas
pertimbangan : keparahan gejala, keinginan mempunyai anak di kemudian hari, dan
ukuran tumor.
1.

Kuretagge endometrium

Dapat mengidentifikasi kelainan pada endometrium da menyingkirkan


kemungkinan keganasan endometrium. Apabila leiomioma ukurannya kecil,
tidak mengubah rongga endometrium dan apabila endometrium menunjukkan
perdarhan anvoluntair maka dapat dipertimbangkan untuk menekanovarium
dengan tablet kombinasi estrogen-progestrin. Hormon hormon tersebut harus
digunakan dengan hati-hati, karena dapat membangkitkan leiomioma yang
sudah ada.
2.

Pengobatan operatif ( Miomektomi dan Histerektomi )


Miomektomi

dianjurkan

apbila

pasien

hendak

mempertahankan

atau

meninkatkan potensinya untuk hamil. Histerektomi merupakan pengobatan


definitive untuk gejala yang persisten. Namun, hiterektomi dianjurkan bagi
pasien-pasien simptomatik yang tidak lagi menghendaki anak di kemudian hari.
3.

Radioterapi
Tindakan ini bertujuan agar ovarium tidak berfungsi lagi sehingga penderita
mengalami menopause. Radioterapi ini umumnya hanya dikerjakan kalau
terdapat kontra indikasi untuk tindakan operatif.

2.1.10 Penatalaksanaan
1.

Konservatif
Penderita dengan mioma kecil dan tanpa gejala tidak memerlukan pengobatan,
tetapi harus diawasi perkembangan tumornya. Jika mioma lebih besar kehamilan
10-12 minggu, tumor yang berkembang cepat terjadi torsi pada tungkai perlu
diambil tindakan operasi.(+)

2.

Terapi medika Mentora


Terapi yang tidak memperkecil volume/menghentikan pertumbuhan mioma
secara menetap belum tersedia pada saat ini, tetapi medika mentora masih
merupakan terapi tambahan / terapi pengganti sementara dari operatife.
Preparat yang sering digunakan untuk terapi medika mentosa adalah:

a) GNRH analog
Efek maksimal dari GnRHa baru terlihat setelah 3 bulan dimana cara kerjanya
menekan produksi estrogen dengan sangat kuat. Sehingga kadarnya dalam darah
menyerupai kadar estrogen wanita usia menopause
b) Progesteron
Golahiezer melaporkan adanya perubahan degeneratif mioma uteri pada
pemberian progesteron dosis besar
c) Danazol

Merupakan progesteron sintetik yang berasal dari festosteron. Dosis sub stansial
didapatkan hanya menyebabkan pengurangan volume uterus sebesar 20-20%
dimana diperoleh fakta bahwa danazol memiliki substansi androgenic.
d) Gestrinom
Merupakan suatu trienek 19 non steroid sintetik juga dikenali dengan R2323
yang lebih terbukti efektif dalam mengobati endometriosis
e) Tamoksiten
Merupakan turunan trifeniletilen yang mempunyai khasiat ektrogenik maupun
anti ekstrogenik dan dikenal sebagai selektive estrogen receptor modulator
(SERM)
f) Goserelin
Merupakan suatu GnRH agornis dimana ikatan reseptornya terhadap jaringan
sangat kuat sehingga kadarnya dalam darah berada cukup lama. Pada pemberian
goserelin dapat mengurangi setengah ukuran mioma uteri dan dapat
menghilangkan gejala menorrhagia dan nyeri pelvis.
g) Anti Prostaglandin
Dapat mengurangi perdarahan yang berlebihan pada wanita dengan menorragia
dan hal ini beralasan untuk diterima / mungkin efektif untuk menorragia yang di
induksi oleh mioma uteri
3.

Embalisasi Arteri Uterina


Suatu tindakan yang dapat menghambat aliran darah ke uterus dengan cara
memasukkan agen emboli ke arteri uterin. Tingkat keberhasilan penatalaksanaan
mioma uteri dengan embolisasi adalah 85-90%

4.

Terapi Enovatif
Berdasarkan aktivitas mekanisme molekuler setelah didapatkan mekanisme
molekuler mioma uteri tetapi yang lebih baik dapat secara khusus masalah ini.

2.2 KONSEP ASUHAN KEBIDANAN PADA MYOMA UTERI


No. Reg

Tanggal MRS :

I.

Jam

Oleh

Tempat

PENGKAJIAN
(tanggal.,pukul.)
A.

Data Subjektif

Tanggal pengkajian

Jam pengkajian

1. Biodata
Nama

: Untuk memanggil, mengenal dan menghindari kekeliruan

Umur

: Myoma jarang ditemukan pada wanita umur < 20 tahun,


paling banyak pada umur 35 45 tahun (25 %) dan myoma
uteri tidak pernah terjadi setelah menopause dan hanya
sekitar 10 % myoma yang masih tumbuh.

Agama

: Untuk mengetahui kepercayaan ibu pada saat memberikan


asuhan atau bimbingan doa pada saat menghadapi komplikasi
atau kegawatan.

Pendidikan : Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu pada saat


konseling
Pekerjaan

: Untuk mengetahui status ekonomi keluarga terkait dengan


biaya perawatan dan pengobatan yang diperlukan.

Alamat

: Untuk mengetahui alamat ibu jika sewaktu-waktui ada


masalah, bisa langsung menghubungi keluarga di rumah.

2. Keluhan Utama
Biasanya berupa tanda gejala myoma uteri yang mendorong ibu untuk
memeriksakan keadaannya ke nakes, antara lain:
a. Tumor / massa di perut bawah.
Seringkali penerita pergi ke dokter oleh karena adanya gejala ini.
b. Perdarahan
Biasanya dapat berupa hipermenorrhoe, menorrhagi atau metrorrhagia
yang disebabkan hiperplasia endometrium.,permukaan endometrium,
atropi endometrium dan kontraksi miometrium tidak optimal.
c. Nyeri
Nyeri ditimbulkan gangguan sirkulasi peredaran yang disertai nekrose
setempat / proses peradangan dengan perlekatan omentum.
d. Akibat penekanan
Penekanan kandung kemih (retensia urine)
Penekanan pada rektum (obstipasi dan renesmi)
Penekanan pada limfe dan vena cava inferior di panggul (odem tungkai
dan nyeri panggul).
3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Perlu ditanyakan apakah klien pernah menderita penyakit berta seperti TBC,
jantung, ginjal, penyakit darah, DM, penyakit jiwa yang terkait dengan
penanganan myoma uteri. Jika memerlukan tindakan opewratif, tentunya
diperlukan fungsi alat tubuh yang optimal termasuk jantung, paru, ginjal dsb.

Riwayat operasi nonginekologik perlu diperhatikan seperti strumektomi,


myomektomi, appendiktomi.
4. Riwayat Kesehatan Sekarang
Erlu ditanyakan apakah klien sedang menderita penyakit seperti yang disebut
diatas dan juga dapat ditambah berupa keluhan sehubungan dengan myoma
uteri.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Faktor genetik merupakan salah satu penyebab terjadinya myoma.
6. Riwayat Haid
Mengkaji riwayat haid sebelum dan saat penyakit timbul. Hal ini terkait
dengan munculnya tanda dan gejala adanya myoma.
Menometroraghi merupakan gejala penyakit myoma uteri akibat pecahnya
pembuluh darah pada pembesaran kavum endometrium dan daerah
permukaan yang lebih luas pada endometrium.
7. Riwayat Perkawinan
Menikah berapa kali, lama menikah, usia pertama menikah untuk membantu
menegakkan diagnosis dan untuk keperluan pemriksaan.
8. Riwayat Kebidanan yang Lalu
Paritas

merupakan

salah

satu

pertimbangan

dalam

menentukan

penatalaksanaan kasus myoma uteri. Myomektomi dilakuakn jika masih


diinginkan keturunan dan histerektomi pada wanita muda sebaiknya
ditinggalkan 1 atau ke 2 ovarium.
9. Riwayat KB
Pemakaian kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen dosis tinggi
dapat memacu timbulny amyoma uteri dan menyebabkan neoplasma
membesar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan dan mencapai ukuran
yang sangat besar.
10.

Pola Kebiasaan Sehari-hari


a.
Pola Nutrisi
Junk food, makanan instant terbukti bersifat karsinogenik yang dapat
b.
c.
d.

memicu adanya keganasan.


Pola eliminasi
Penderita mioma uteri biasanya mengalami
kesulitan BAB (konstipasi BAK lebih dari normal)
Pola Istirahat
Istirahat dapat terganggu saat pasien mengalami disminorea hebat
diwaktu haid.

e.

Pola aktivitas
Aktifitas dapat terganggu saat disminirea di waktu haid.

f.

Pola kebiasaan
Kebersihan genetalia yang kurang baik dapat meningkatkan komplikasi
lebih lanjut/ infeksi.

g.

Pola kebiasaan lain


Kebiasaan merokok, minum-minuman beralkohol dapat meningkatkan
potensial terjadinya mioma uteri.

11. Riwayat Psikososial


a.

Adanya perasaan cemas berhubungan dengan


penyakitnya

b.

Tahap-tahap

penerimaan

pasien

terhadap

diagnosa penyakit:
a.

Menolak dan isolasi


Respon:

- Tidak percaya terhadap hal tersebut


- Tidak siap menghadapi masalah
- Memperlihatkan kegembiraan yang
dibuat-buat
- Menolak berkepanjangan

b.

Marah (anger)
Respon : Marah terhadap orang lain dan hal-hal sepele iritable dan
sensitif

c.

Bargaining
Respon

: - Mulai tawar menawar terhadap


diagnosa penyakit
- Mengekspresikan rasa bersalah, takut

d.

Depresi
Respon : - Rasa berduka terhadap apa yang terjadi
- Kadang bicara bebas/menarik diri

e.

Acceptance
Respon

: - Penurunan interest terhadap lingkungan


sekitar dan support
- Berkeinginan untuk membuat rencanarencana

12.Latar Belakang Sosial Budaya


Dalam budaya klien mungkin terdapat kebiasaan mengkonsumsi makanan
tertentu yang bersifat karsinogenik sehingga dapat memicu timbulnya
keganasan.
13.Data Spiritual

Agama yang dianut ibu dan aktivitas ibu dalam menjalankan ajaran
agama. Untuk mengetahui kondisi kejiwaan ibu (semakin dekat dengan
Tuhan kondisi psikologis semakin bagus) dan untuk membimbinmgh doa
sesuai dengan agama yang dianutnya.
B.

DATA OBJEKTIF

C.

Data Objektif
1.

Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : baik/ kurang/ cukup/ jelek
Kesadaran
TTV

: compous mentis/apatis/somnolen/koma
TD

: 90/60 140/90 mmHg ; systole < 90 mmHg, waspada syok

Nadi : 76 96 x/menit; nadi > 110/menit merupakan tanda syok


RR

: 16 24 x/menit; RR > 30 kali/menit waspada terjadi syok

Suhu : 36 37,5 0C ; T > 38 0C menunjukkan infeksi


2.

Pemeriksaan Fisik
Kepala

: Rambut rontok apa tidak

Muka

: Pucat apa tidak (terkait dengan terjadinya anemia) pada myoma


potensial sekali terjadi anemia akibat perdarahan yang dialami
ibu.

Mata

: Konjunctiva pucat apa tidak (kaji anemia), sklera ikterus apa


tidak (kaji kelainan hepar)

Hidung

: Pernapasan cuping hidung (salah satu indikator asma)

Mulut

: Kering/tdak,

pecah-pecah/tidak

(kaji

dehidrasi),

bibir

pucat/tidak, lidah pucat/ tidak (kaji anemia)


Telinga

: Pendengaran baik / tidak (penting untuk kegiatan konseling)

Leher

: Ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid (keseimbangan


hormonal dalam tubuh),

dan vena jugularis (terkait dengan

penyakit jantung)
Dada

: Retraksi ada/tidak(kaji asma), payudara simetris tidak, Ada


tidaknya bunyi napas tambahan terkait dengan gangguan paru,
auskultasi bunyi jantung regular / tidak, terdapat mur mur/
tidak (kaji penyakit jantung)

Perut

: Kendor/tidak, terdapat pembesaran/tidak, nyeri tekan/tidak,


ukluran pembesaran berapa, mobil/ tidak, konsistensinya kistik /
solid.
Adanya pembesaran abnormal pada abdomen merupakan
indicator adanya tumor dalam abdomen, jika neoplasma jinak
cirinya tidak ada nyeri tekan, mobil dan berbatas tegas..

Genetalia : Flek +/-, fluksus +/-, fluor albus +/3.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan bimanual (CURF/CUAF, APCD)
Histerogrfi/ hysteroskopi
Sonde uterus
USG
DL

II.

Identifikasi Diagnosa dan masalah


Dx

: Ny. ... umur. Th P...... Ab....... post histerectomy atas indikasi myoma
uteri

Ds

: - ibu mrngatakan perut bagian bawah nyeri


- terdapat pengeluaran darah atau tidak

Do

: - Ada luka operasi


- Luka operasi tertutup kassa
- Terpasang infus dan kateter
TTV

Perut

TD

: 90/60 140/90 mmHg

Nadi

: 76 96 x/menit

RR

: 16 24 x/menit

Kendor/tidak, terdapat pembesaran/tidak, nyeri tekan/tidak,


ukluran pembesaran berapa, mobil/ tidak, konsistensinya
kistik / solid.

Genetalia Flek +/-, fluksus +/-, fluor albus +/Pemeriksaan Penunjang


DL
III.

Identifikasi Diagnosa dan masalah Potensial


-

IV.

Identifikasi Kebutuhan Segera


-

V.

Intervensi
Dx

: Ny. ... umur. Th P...... Ab....... dengan myoma uteri

Tujuan :
-

Keadaan ibu kembali baik


Luka sembuh dengan baik

K.H.

: - keadaan ibu baik


- tidak terjadi infeksi
- myoma hilang/ berkurang
- TTV DBN

TD

: 90/60 140/90 mmHg

Nadi

: 76 96 x/menit

RR

: 16 24 x/menit

Suhu

: 36 37,5 0C

Intervensi
1. Gunakan teknik terapeutik dalam pemberian KIE
R

: Komunikasi terapeutik mempermudah komunikasi petugas dengan klien

2. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang hasil pemeriksaan


R : Meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarga sehingga lebih kooperatif
3. Menjelaskan efek nyeri yang merupakan efek samping dari perlukaan jaringan
pada pembedahan.
R : Pendekatan pada manajemen rasa sakit pasca opersi berdasarkan kepada
faktor-faktor variasi multiple.
4. Motivasi klien untuk mobilisasi dini setelah pembedahan bila sudah
diperbolehkan.Lakukan reposisi sesuai petunjuk, misalnya semi fowler, miring
R : Mungkin mengurangi rasa sakit dan meningkatkan sirkulasi. Posisi semi
fowler dapat mengurangi tegangan otot abdominal dan otot punggung
artritis, sedangkan miring mengurangi tekanan dorsal.
5. Diskusikan kebutuhan istirahat dan kebersihan
R : Istirahat yang cukup dapat cegah kelelahan sehingga dapat meningkatkan
daya tahan tubuh. Jika terjadi perdarahan pervaginam memudahkan
masuknya ku man ke dalam genetalia interna sehimngga perlu menjaga
kebersihan.
6. Identifikasi rencana untuk meningkatkan/mempertahankan keseimbangan cairan
optimal mis jadwal masukan cairan.
R : Pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali mengakibatkan dehidrasi
atau mengganti cairan untuk masukan kalori yang berdampak pada
keseimbangan elektrolit.
7. Anjurkan pada ibu untuk makan-makanan yang bergizi, Anjurkan ibu untuk
mengkonsumsi makanan tinggi zat besi
R : Makanan dapat menambah energi dan mempercepat involusi
8. Libatkan keluarga dalam setiap asuhan
R : Keluarga dapat memberika dukungan psikologis bagi ibu
9. Anjurkan pada ibu cara personal hygiene dan vulva hygiene.

R : Keadaan bersih mencegah masuknya kuman penyebab infeksi.


10. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi obat injeksi antrain,
ranitidin,cefazolin, alinamin, kalnex dan metoclo
R : berfungsi sebagi profilaksis terhadap kemungkinan terjadinya infeksi.
merupakan

analgesic untuk

kurangi nyeri,

menghambat aktivasi

plasminogen activator dan fibrin sehingga mencegah terjadinya fibrinolisis


pada proses pembekuan darah dan penting untuk menjaga kesehatan
tubuh.
11. Anjurkan ibu untuk bertanya
R : Bertanya dapat membantu ibu untuk lebih mengerti dan mengeluarkan
unek-unek yang belum dimengerti
12. Jawab pertanyaan klien dengan bahasa yang mudah dipahami
R : Agar tyerjadi umpan balik yang positif dari nakes dan tidak terjadi
kerancuan
13. Kaji ulang pemahaman klien
R : Agar terjadi feed back terhadap penjelasan yang diberikan untuk
mengetahui seberapa dalam penyerapan klien
VI.

Implementasi
Mengacu pada intervensi

VII.

Evaluasi
Mengacu pada kriteri hasil

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan,
Jakarta : EGC
Saifidin, Abdul Bari,dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI.
Jakarta
Prawirohardjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Prof. Dr. Mochtar, Rustam. MPH. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarts, EGC
Royburn, F Williams dkk. 2001. Obstetri dan Ginekologi, Jakarta : Widya Medika.