Anda di halaman 1dari 7

PTERIGIUM

DEFINISI
Pterigium merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat
degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak
bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas ke kornea berbentuk
segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di daerah kornea.

ETIOLOGI DAN PATOGENESIS


Penyebab dari pterigium tidak diketahui dengan jelas dan diduga
merupakan suatu neoplasma, radang, dan degenerasi. Pterigium juga diduga
disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara panas.
Penyebab paling umum adalah exposure atau sorotan berlebihan dari sinar
matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet, baik UVA ataupun UVB, berperan
penting dalam hal ini. Selain itu dapat pula dipengaruhi oleh faktor-faktor lain
seperti zat allegen, kimia dan zat pengiritasi lainnya.
Faktor resiko untuk pterigium meliputi sebagai berikut :
1. Meningkatnya terkena sinar ultraviolet, termasuk tinggal di daerah yang
beriklim subtropics dan tropis.
2. Melakukan pekerjaan dan memerlukan kegiatan di luar rumah serta orang
yang hidup di daerah dengan banyak sinar matahari, daerah berpasir atau
daerah berangin. Petani, nelayan dan orang-orang yang hidup di sekitar
garis khatulistiwa sering terpengaruh.

Predisposisi genetika timbulnya pterygium cenderung pada keluarga


tertentu. Kecenderungan laki-laki mengalami kasus ini lebih banyak dibandingkan

dengan perempuan, meskipun disini hasil temuan ini lebih banyak disebabkan
besarnya paparan sinar ultraviolet dalam kelompok populasi tertentu.
Gangguan lain yang mungkin ikut berperan adalah Pseudopterygia
(misalnya disebabkan oleh bahan kimia atau luka bakar, trauma, penyakit kornea
marginal) dan Neoplasma (misalnya karsinoma in situ yang menyebabkan
konjungtiva perilimbal yang tidak meluas sampai ke kornea).
Beberapa teori telah dikemukakan untuk menerangkan patogenesis
terjadinya pterigium, tetapi etiologinya yang pasti dan penyebabnya bersifat
multifaktorial. Maka berkembang berbagai teori untuk menerangkan patogenesis
pterigium. Antara lain teori degenerasi, infl amasi, tropik, ataupun teori yang
menghubungkan terjadinya pterigium dengan sinar ultra violet. Sebagai tambahan,
hampir sebagian penderita menunjukkan ekspresi abnormal gen tumor suppresor
p53, tanda-tanda neoplasia, differensiasi sel dan apoptosis. Teori tropik
dikemukakan oleh Barraquer yang mengatakan bahwa pterigium adalah suatu
manifestasi pembentukan jaringan parut pada daerah yang mengalami iritasi yang
menahun. Dengan terbentuknya penonjolan di limbus, ada daerah diskontinuitas
precorneal tear film, sehingga terjadi pengeringan kornea yang kemudian menjadi
ulkus. Penyembuhan ulkus tidak dapat dilakukan oleh regenerasi epitel kornea
dan memerlukan konjungtiva yang kaya pembuluh darah dimana akan
menyebabkan terbentuknya jaringan ikat. Akibatnya terjadi perlekatan antara
konjungtiva dengan jaringan sub konjungtiva akan menjadi lebih erat yang
menyebabkan pterigium.

GEJALA KLINIS
Mata merah dengan tajam penglihatan normal disertai jaringan
fibrovaskular konjungtiva yang tumbuh secara abnormal berbentuk seperti sayap
(wing shaped). Gangguan penglihatan dapat terjadi jika pterigium menutupi aksis
visual atau terdapat astigmatisme.

DERAJAT PERTUMBUHAN PTERIGIUM


Menurut

Perhimpunan

Dokter

Spesialis

Mata

Indonesia,

derajat

pertumbuhan pterigium dibagi menjadi 4 derajat: derajat 1, jika pterigium hanya


terbatas pada limbus kornea; derajat 2, jika sudah melewati limbus kornea tetapi
tidak lebih dari 2 mm melewati kornea; derajat 3, sudah melebihi derajat 2 tetapi
tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam
keadaan normal sekitar 3 4 mm); derajat 4, pertumbuhan pterygium melewati
pupil sehingga mengganggu penglihatan.

TERAPI
Penanganan pterIgium pada tahap awal adalah berupa tindakann
konservatif seperti penyuluhan pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun
paparan sinar ultraviolet dengan menggunakan kacamata anti UV dan pemberian
air mata buatan/topical lubricating drops. Indikasi eksisi pterigium termasuk: (a).
Ketidaknyamanan yang persisten; (b). Distorsi visual; (c). pertumbuhan tumor
yang progresif (lebih dari 3-4 mm) ke sentral kornea atau visual aksis; (d).
Berkurangnya pergerakan bola mata.
Adapun indikasi operasi pterigium antara lain: (a). Mengganggu visus; (b).
Mengganggu pergerakan bola mata; (c). Berkembang progresif; (d). Mendahului
suatu operasi intraokuler; (e). Progresif, resiko rekurensi > luas; (f). Di depan
apeks pterigium terdapat grey zone; (g). Pada pterigium dan kornea sekitarnya ada
nodul pungtat; (h). Terjadi kongesti (klinis) secara periodik.
Terdapat berbagai macam teknik dalam penanganan pterigium secara
operatif. Akan tetapi, yang menjadi masalah ialah angka kekambuhan setelah
dilakukan operasi pada pterigium. Beberapa penelitian melaporkan angka
kekambuhan yang bervariasi antara 24% hingga 89%, bergantung pada teknik
operatifnya. Namun penelitian menunjukkan bahwa eksisi pterigium saja
memberikan hasil kejadian rekurensi yang lebih tinggi dibanding eksisi yang

disertai dengan terapi adjuvan lain. Autograft konjungtiva atau limbal lebih
superior dibandingkan dengan graft membran amniotik. Penelitian lain
menunjukkan bahwa graft yang disertai pemberian mitomycin C (obat sitostatika)
menunjukkan hasil rekurensi yang terendah dibanding jika kedua metode ajuvan
tersebut dilakukan secara sendiri-sendiri. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut
mengenai efek jangka panjang, serta dosis dan durasi daripada pemberian
mitomycin C.

KATARAK
DEFINISI
Katarak berasal dari yunani katarrhakies, inggris cataract, dan latin cataracta yang
berarti air terjun. Dalam bahasa indonesia di sebut bular dimana penglihatan
seperti tertutup air terjun akibat lensa yang keruh. Katarak adalah setiap
kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa,
denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-duanya.

PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI


Patogenesis katarak masih belum dapat sepenuhnya dimengerti, akan tetpi
penuaan merupakan faktor yang paling berperan. Berbagai temuan menunjukkan
bahwa lensa yang mengalami katarak mengalami agregasi protein yang berujung
pada penurunan transparansi, perubahan warna menjadi kuning atau kecoklatan,
ditemukan vesikel antara lensa dan pembesaran sel epitel. Perubahan lain yang
juga muncul adalah perubahan fisiologi kanal ion, absorbsi cahaya, penurunan
aktivitas anti-oksidan dalam lensa juga mengakibatkan katarak.
Katarak komplikata merupakan katarak yang timbul akibat penyakit mata
lain atau penyakit sistemik. Berbagai kondisi yang dapat mengakibatkan
terjadinya katarak sekunder adalah uveitis anterior kronis, glaukoma akut, miopoa
patologis dan diabetes melitus merupakan penyebab yang paling umum.
Penggunaan obat-obatan (steroid) dan trauma, baik trauma tembus, trauma
tumoul, kejutan listrik, radiasi inframerah, dan radiasi pengion untuk tumor mata
juga dapat mengakibatkan kekeruhan lensa/katarak.

KLASIFIKASI
Klasifikasi katarak berdasarkan maturitasnya:

Katarak insipiens: kekeruhan awal pada lensa dengan visus pasien masih

mencapai 6/6
Katarak imatur: lensa mengalami kekeruhan parsial
Katarak matur: lensa mengalami kekeruhan total
Katarak hipermatur: katarak menyusut dan kapsul anterior berkerut karena

kebocoran air mata lensa


Katarak morgagni: liquefaksi korteks lensa katarak hipermatur berakibatka
nukleus jauh ke inferior.

MANIFESTASI KLINIS
Akibat perubahan opasitas lensa, terdapat berbagai gangguan pada penglihatan
termasuk:

Penurunan tajam penglihatan perlahan


Penurunan sensitivitas kontras, pasien mengeluhkan sulitnya melihat

benda di luar ruangan pada cahaya terang


Pergeseran ke arah miopia
Diplopia monokular. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan indeks refraksi
antara satu bagian lensa yang mengalami kekeruhan dengan bagian lensa

lainnya
Sensasi silau (glare). Opasitas lensa mengakibatkan rasa silau karena
cahaya dibiaskan akibat perubahan indeks refraksi lensa.

TERAPI
Tata laksana utama katarak adalah pembedahan. Tidak ada manfaat dari
suplementasi nutrisi atau terapi farmakologi dalam mencegah atau memperlambat
progesivitas dari katarak.
Indikasi bedah:

Penurunan fungsi penglihatan yang tidak dapat lagi ditoleransi pasien

karena mengganggu aktivitas sehari-hari


Adanya anisometropia yang bermakna secara klinis

Kekeruhan lensa menyulitkan pemeriksaan segmen posterior


Terjadi komplikasi terkait lensa seperti peradangan atau glaukoma
sekunder.

Teknik operasi yang digunakan:

Fakoemulsifikasi:

teknik

operasi

yang

memungkinkan

lensa

dihancurkan dan diemulsifikasi kemudian dikeluarkan dengan bantuan

probe dan ekstraksi dikerjakan ekstrakapsular


Teknik ekstraksi katarak manual:
a. Intracapsular cataract extraction (ICCE): ekstraksi lensa utuh
serta seluruh kapsul lensa
b. Extracapsular cataract extraction (ECCE): ekstraksi lensa utuh
dengan meninggalkan bagian posterior dari kapsul lensa
c. Small incision surgery (SICS): ekstraksi lensa dengan insisi
kecil
Terapi pasca-operasi yang diberikan biasanya kombinasi antibiotikDn
steroid tetes mata 6 kali sehari hingga 4 minggu pasca operasi.