Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pada saat ini dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi orang

mendapatkan pembuktian secara ilmiah yang disebut saksi diam (silent witness). Di
sini diperlukan peran ahli untuk memeriksa barang bukti (corpus delicti) secara
ilmiah, sehingga barang terbukti tersebut dapat berguna sebagai petunjuk tentang apa
yang telah terjadi. Barang bukti dapat berupa orang hidup, mayat, darah, semen,
rambut, sidik jari, peluru, larva lalat, nyamuk, surat tulisan tangan, suara dan lainlain. Kumpulan pengetahuan yang memeriksa barang bukti untuk kepentingan
peradilan dikenal dengan nama forensic sciences. Dalam bidang kesehatan terdapat
beberapa cabang ilmu forensik antara lain: kedokteran forensik, odontologi forensik,
psikiatri forensik, patologi forensik, dan antropologi forensik.1,2
Ilmu kedokteran selalu berkembang selaras dengan perkembangan masyarakat
dan norma yang menatanya. Perkembangan ilmu kedokteran berkat ketekunan kerja
para ahlinya dalam mengenali penyakit dan pengobatannya berjalan bersama
keingintahuan masyarakat tentang penyakit yang menimpanya. Pelaksanaan praktek
ilmu kedokteran dan kepentingan masyarakat yang terkait dengannya mendorong
berkembangnya aturan hukum yang mengatur hak dan kewajiban keduanya saat
berinteraksi yang salah satunya adalah aturan hukum mengenai autopsi (bedah mayat)
klinis.1,2
Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi
pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses
penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan
tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat
antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.5
Berdasarkan tujuannya autopsi dapat dibagi atas 3 jenis yaitu autopsi klinik,
autopsi anatomi, dan autopsi forensik/medikolegal. Autopsi klinik berguna untuk
menentukan sebab kematian pasien selama dalam rawatan, autopsi anatomi dilakukan

oleh mahasiswa fakultas kedokteran dan sarjana kedokteran dalam pendidikan untuk
mengetahui susunan jaringan organ tubuh, sedangkan autopsi forensik/ autopsi
medikolegal berfungsi untuk membantu kalangan penegak hukum dalam menentukan
peristiwa kematian korban secara medis. 1
Autopsi klinik dilakukan pada penderita yang meninggal setelah dirawat
dirumah sakit bertujuan untuk menentukan proses patologis yang terdapat dalam
tubuh korban dan melihat kemungkinan hubungan dengan gejala atau diagnosis
klinis, menentukan penyebab kematian yang pasti, menentukan apakah diagosa klinis
yang dibuat selama perawatan sesuai dengan hasil pemeriksaan post mortem,
menentukan efektivitas pengobatan yang telah diberikan, mempelajari perjalanan
lazim sesuatu penyakit, bermanfaat sebagai pencegahan dalam menghadapi penyakit
yang serupa di kemudian hari.1
Abses otak adalah suatu proses infeksi dengan pernanahan yang terlokalisir
diantara jaringan otak yang disebabkan oleh berbagai macam variasi bakteri dan
protozoa.1 Faktor predisposisi dan penyebab yang tersering adalah infeksi telinga
tengah (65%), penyebab lain seperti Tetralogi Fallot dengan abses multiple, penyakit
imunologi, dan lain- lain (20%- 37%).8
Walaupun teknologi kedokteran diagnostik dan perkembangan antibiotik saat
ini sudah mengalami kemajuan, namun angka kematian akibat penyakit abses otak
masih tetap tinggi, yaitu sekitar 10%- 60% atau rata- rata 40%. Walaupun penyakit ini
sudah jarang dijumpai terutama di negara- negara maju, namun karena risiko
kematiannya yang tinggi, abses otak termasuk golongan penyakit infeksi yang
mengancam kehidupan masyarakat (life threatening infection).7
Autopsi pada kematian dengan abses otak merupakan salah satu jenis autopsi
klinik. Autopsi klinis biasanya selalu disertai dengan pemeriksaan yang lengkap,
seperti pemeriksaan bakteriologi, histopatologi, serologi, mikrobiologi dan lain sesuai
kebutuhan. Seluruh penyakit yang diketahui sekarang merupakan hasil dari kumpulan
autopsi klinis yang dilakukan di berbagai rumah sakit di berbagai negara dari dahulu
hingga sekarang. Kegiatan ini sangat mempengaruhi kemajuan dalam bidang
kedokteran. Di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dahulu sudah dilakukan hal

yang serupa namun sejak Indonesia merdeka kegiatan ini semakin menurun, bahkan
sekarang hampir tidah dilakukan lagi.3,4
Berdasarkan hal tersebut di atas maka kami tertarik untuk menulis tentang
makalah tentang temuan autopsi gambaran makroskopis dan mikroskopis pada
kematian dengan abses otak.
1.2

Batasan Penulisan
Referat ini membatasi pembahasan pada defenisi, klassifikasi, tujuan,

ketentuan hukum, dan pemeriksaan tambahan dari autopsi, kemudian membahas


tentang definisi, patofisiologi, diagnosis, dan komplikasi dari abses otak serta
gambaran makroskopis dan mikroskopis pada kematian dengan abses otak.
1.3

Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum makalah ini adalah untuk mengetahui temuan autopsi gambaran

makroskopis dan mikroskopis pada kematian dengan abses otak.


1.3.2

Tujuan Khusus

Tujuan khusus makalah ini yaitu:


1. Mengetahui defenisi, klassifikasi, tujuan, ketentuan hukum, dan
pemeriksaan tambahan dari autopsi.
2. Mengetahui definisi, patofisiologi, diagnosis, dan komplikasi dari abses
otak.
3. Mengetahui gambaran makroskopis dan mikroskopis pada kematian
dengan abses otak.
1.4

Manfaat Penulisan
1. Meningkatkan kemampuan dalam penulisan ilmiah di bidang kedokteran
2. Menambah informasi bagi para pembaca mengenai defenisi, klassifikasi,
tujuan, ketentuan hukum, dan pemeriksaan tambahan dari autopsi,
kemudian membahasa tentang definisi, patofisiologi, diagnosis, dan
komplikasi dari abses otak serta gambaran makroskopis dan mikroskopis
pada kematian dengan abses otak.

1.5

Metode Penulisan
Penulisan referat ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan

yang merujuk pada berbagai literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Autopsi
2.2.1 Definisi
Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi
pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses
penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan
tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat
antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. Pemeriksaan
post mortem berarti pemeriksaan yang dilakukan pada orang yang telah mati.
Necropsi berasal dari necros ( jaringan mati ) dan opsi ( lihat ) jadi berarti
pemeriksaan pada jaringan mati. Demikian pula autopsi berarti lihat sendiri
(auto=sendiri). Kini istilah autopsi lebih sering dipakai selain bedah mayat atau bedah
jenazah.1
Dalam sejarah autopsi untuk kepentingan hukum (medikolegal autopsi)
telah dimulai sejak tahun 1302 di Bologna, Italia, sementara untuk kepentingan
pendidikan mahasiswa fakultas kedokteran pada mulanya juga mempergunakan
autopsi medikolegal ini, terutama pada korban pembunuhan dan bunuh diri serta
korban hukuman mati. Belakangan, karena sistem demikian tidak efektif untuk
pendidikan maka dipergunakan mayat yang sudah diawetkan terlebih dahulu.1
2.2.2 Klassifikasi
Berdasarkan tujuannya autopsi dapat dibagi atas 3 jenis:1
1. Autopsi klinik, untuk menentukan sebab kematian pasien selama dalam
rawatan.
2. Autopsi anatomi, dilakukan oleh mahasiswa fakultas kedokteran dan sarjana
kedokteran dalam pendidikan untuk mengetahui susunan jaringan organ
tubuh.
3. Autopsi forensik/ autopsi medikolegal, untuk membantu kalangan penegak
hukum dalam menentukan peristiwa kematian korban secara medis.
Autopsi Klinik
5

Autopsi klinik dilakukan pada penderita yang meninggal setelah dirawat


dirumah sakit bertujuan untuk
1. Menentukan proses patologis yang terdapat dalam tubuh korban dan melihat
kemungkinan hubungan dengan gejala atau diagnosis klinis
2. Menentukan penyebab kematian yang pasti
3. Menentukan apakah diagosa klinis yang dibuat selama perawatan sesuai
dengan hasil pemeriksaan post mortem
4. Menentukan efektivitas pengobatan yang telah diberikan
5. Mempelajari perjalanan lazim sesuatu penyakit
6. Bermanfaat sebagai pencegahan dalam menghadapi penyakit yang serupa di
kemudian hari.
Autopsi klinis selalu disertai denga pemeriksaan yang lengkap, seperti
pemeriksaan bakteriologi, histopatologi, serologi, mikrobiologi dan lain sesuai
kebutuhan. Seluruh penyakit yang diketahui sekarang merupakan hasil dari kumpulan
autopsy klinis yang dilakukan di berbagai rumah sakit di berbagai negara dari dahulu
hingga sekarang. Kegiatan ini sangat mempengaruhi kemajuan dalam bidang
kedokteran. Di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dahulu sudah dilakukan hal
yang serupa namun sejak Indonesia merdeka kegiatan ini semakin menurun, bahkan
sekarang hampir tidah dilakukan lagi.1,2
Demi kemajuan ilmu kesehatan kegiatan ini sudah harus dimulai
kembali.Untuk itu pemerintah menerbitkan peraturan pemerintah Republik Indonesia
Nomor : 18 Tahun 1981 Tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis
serta Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia dan di lingkungan ABRI
dengan diterbitkannya

keputusan Menhankam, Panglima Angkatan Bersenjata

Nomor; KEP/B/20/V/1972 tentang bedah mayat klinis dalam lingkungan angkatan


bersenjata RI.1
Namun kegiatan ini ternyata hingga kini belum dapat dilaksanakan. Hambatan
utama adalah karena masyarakat belum menyadari kepentingan pemeriksaan ini.
Keluarga orang sakit sangat keberatan bila dilakukan pemeriksaan pada penderita
yang akhirnya meninggal dirumah sakit. Demikianlah dokter dan rumah sakit belum
berani menghadapi kenyataan mungkin salah dalam menetapkan diagnose klinis dan
pengobatan.1,2

Berbeda dengan autopsi forensik dimana prinsipnya dapat dilakukan tanpa


persetujuan keluarga korban, pada autopsi klinik harus melalui persetujuan keluarga
penderita. Autopsi klinik dapat juga dilakukan tanpa persetujuan keluarga, yaitu bila
orang yang meninggal diduga penderita penyakit yang dapat membahayakan orang
lain atau masyarakat sekitarnya dan boleh dilakukan apabila dalam jaga 2 hari tidak
ada keluarga terdekat datang ke rumah sakit. 1,3
Autopsi Anatomi
Autopsi anatomi Dilakukan terhadap mayat korban meninggal akibat
penyakit, oleh mahasiswa kedokteran dalam rangka belajar mengenai anatomi
manusia. Untuk autopsi ini diperlukan izin dari korban (sebelum meninggal) atau
keluarganya. Dalam keadaan darurat, jika dalam 2 x 24 jam seorang jenazah tidak ada
keluarganya maka tubuhnya dapat dimanfaatkan untuk autopsi anatomi.1
Autopsi Forensik/Medikolegal
Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu
sebab tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri.
Tujuan pemeriksaan autopsi forensik adalah untuk:3
1. Membantu penentuan identitas mayat.
2. Menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian.
3. Mengumpulkan dan memeriksa benda bukti untuk penentuan identitas benda
penyebab dan pelaku kejahatan.
4. Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk
visum et repertum.
5. Menentukan saat kematian pada kasus-kasus tertentu.
6. Pemeriksaan pada bayi yang baru lahir untuk menentukan viabilitas lahir
hidup atau lahir mati.
Autopsi forensik harus dilakukan sedini mungkin, lengkap, oleh dokter
sendiri, dan seteliti mungkin. Seperti diutarakan di atas dalam melakukan autopsi,
dokter harus sadar bahwa pelayanan yang dilakukan dengan tidak mudah ini adalah

untuk member bantuan kepada penegak hukum, sehingga kalangan ini mendapat
pegangan dalam melakukan penyidikan, penuntutan, pembelaan atau pemutusan
perkara disidang pengadilan. Melalui pemerisaan secara ilmiah yang dilakukan oleh
dokter diharapkan proses hukum dapat berjalan dengan bukti yang dapat
dipertanggungjawabkan dalam istilah hukum kegiatan ini disebut dengan
mendapatkan kebenaran material. Oleh karena itu dokter tidah boleh melakukan
bedah mayat hanya untuk sekedar telah melakukan apa yang diminta, tetapi harus
sadar bahwa hasil pemeriksaannya akan digunakan sebagai petunjuk, pedoman dan
sebagai alat bukti di sidang pengadilan.
2.2.3 Tujuan
Sebelum

melakukan

autopsi,

pemeriksa

harus

menyadari

tujuan

dilakukannya pelayanan untuk kepentingan hukum ini yaitu :1


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Menentukan sebab kematian yang pasti


Mengetahui mekanisme kematian
Mengetahui cara kematian
Menentukan lama kematian
Pada korban tak dikenal dilakukan pemeriksaan identifikasi
Mengenal jenis senjata maupun racun yang digunakan
Apakah ada penyakit penyerta diderita korban
Apakah ada tanda tanda perlawanan dari korban yang berhubungan dengan

kematiannya, seperti pada kasus perkosaan


9. Mengetahui apakah posisi korban telah dubah setelah dia mati
10. Mengumpulkan serta mengenal benda benda bukti yang berguna untuk
penentuan identitas pelaku kejahatan
11. Pada yang baru lahir untuk menentukan viabilitas, apakah bayi lahir hidup
atau lahir mati
12. Membuat laporan tertulis yang objektif dan berdasarkan fakta dalam bentuk
Visum et Repertum
2.2.4 Ketentuan Hukum
Pemeriksaan autopsi diatur dengan jelas dalam ketentuan hukum. Dalam
RIB (Reglemen Indonesia yang diperbaharui), hukum acara pidana sebelum KUHAP
yang berlaku sejak 31 Disember 1981, dinyatakan adanya wewenang pegawai
8

penuntut umum dan magistrat pembantu (termasuk kepolisian) untuk meminta


bantuan dokter melakukan pemeriksaan jenazah.1,2
Ketentuan hukum tentang autopsi telah terdapat dalam RIB antara lain:
-

RIB Pasal 68
RIB Pasal 69
Dalam KUHAP yang mulai berlaku pada penutup tahun 1981, terdapat

ketentuan yang menjelaskan keterlibatan dokter dalam melakukan autopsi antara lain:
-

KUHAP Pasal 133


KUHAP Pasal 134
KUHAP Pasal 222

2.2.5 Pemeriksaan Tambahan


1. Pemeriksaan Patologi Anatomi
Pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan lebih teliti melalui pemeriksaan
jaringan secara mikroskopik. Jaringan yang diperlukan diambil dari beberapa
tempat yang dicurigai dengan ukuran 2x2 cm dan tebal 0.5 sampai 1 cm dan
diawetkan dengan formalin 10% dalam botol bermulut lebar. Organ yang diambil
adalah paru-paru, hati, limpa, pancreas, otot jantung, arteri coronaria, ginjal, otak
dan lain organ yang menunjukkan ada kelainan. Dalam pengambilan jaringan
selalu diusahakan jaringan normal juga ikut dalam sayatan. Ini perlu sehingga
memudahkan ahli patologi anatomi mengenal jaringan dan membedakannya
dengan bagian yang mengalami kelainan. Bahan dapat dikirim ke Laboratorium
Patologi Anatomi setempat.1,4
2. Pemeriksaan Racun
Yang diambil adalah bahan yang dicurigai seperti muntahan, isi lambung beserta
jaringan lambung dimasukkan ke dalam botol. Darah diambil dari jantung atau
vena kira-kira 20-50ml dan dimasukkan ke dalam botol begitu juga hati dan
empedu. Pada dugaan keracunan logam berat seperti Arsen, maka perlu dikirim
rambut, kuku dan tulang.4
3. Pemeriksaan Bakteriologi

Bila ada dugaan ke arah adanya sepsis, maka darah diambil dari jantung dan limpa
untuk pembiakan kuman. Darah diambil dengan spuit 10ml melalui dinding
kantong jantung yang telah dibakar dengan spatel panas terlebih dahulu, lalul
dipindahkan ke dalam tabung reagen yang steril. Jaringan limpa diambil dengan
pinset dan gunting steril dengan cara pembakaran yang sama seperti di atas, lalu
dimasukkan dalam tabung steril.1,4
4. Pemeriksaan balistik
Pemeriksaan mayat yang diduga mati akibat penembakan seharusnya dimulai
dengan melakukan pemeriksaan rontgenologi pada seluruh tubuh untuk
mendeteksi adanya logam (peluru). Tetapi karena sarana ini tidak terdapat, bahkan
di pusat pemeriksaan kedokteran forensik sekalipun, maka usaha untuk
mendapatkan adanya peluru terpaksa dilakukan dengan menelusuri seluruh
jaringan tubuh. Sering dengan melakukan perabaan usaha ini dapat berhasil.1
Peluru harus diambil dengan sangat hati-hati dengan jari, tidak boleh
menggunakan benda keras seperti tang atau klem. Penggunaan benda keras dapat
menyebabkan terjadinya goresan pada anak peluru yang akan menyebabkan
keraguan pada ahli balistik yang akan memeriksa peluru di laboratorium
kriminologi. Bila peluru tertanam dalam tulang, jangan dipaksa mengambil anak
peluru secara paksa. Dalam keadaan demikian, tulang yang ada pelurunya
dipotong untuk dikirim ke laboratorium. Petugas di Laboratorium Kriminologi
Forensik akan mengambil tulang dengan hati-hati.1,4
Anak peluru sesudah diambil, dikembalikan kepada petugas kepolisian untuk
dikirim ke laboratorium kriminologi dengan cara:4
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Timbang berat anak peluru, bentuk, ukuran, jenis metal


Anak peluru dibungkus dengan kapas atau kain kasa sebagai pelindung
Dimasukkan ke dalam kotak (Peluru kecil cukup dalam kotak korek api)
Kotak dibungkus rapi dengan kertas
Diikat dengan benang
Disegel dengan lak (bila ada) dan diujung benang ditaruh kertas yang berisi
keterangan tentang benda yang dikirim, nama korban, tanggal pembungkusan
dan penyegelan.
10

7. Buat berita acara pembungkusan dan penyegelan


2.2 Abses Otak
2.1.1 Definisi
Abses otak adalah suatu proses infeksi dengan pernanahan yang terlokalisir
diantara jaringan otak yang disebabkan oleh berbagai macam variasi bakteri dan
protozoa.5
2.1.2 Patofisiologi
Pada tahap awal abses otak terjadi reaksi radang yang difus pada jaringan
otak dengan infiltrasi leukosit disertai edeme, perlunakan dan kongesti jaringan otak,
kadang-kadang disertai bintik perdarahan. Setelah beberapa hari sampai beberapa
minggu terjadi nekrosis dan pencairan pada pusat lesi sehingga membentuk suatu
rongga abses. Astroglia, fibroblas dan makrofag mengelilingi jaringan yang
nekrotikan. Mula-mula abses tidak berbatas tegas tetapi lama kelamaan dengan
fibrosis yang progresif terbentuk kapsul dengan dinding yang konsentris. Tebal
kapsul antara beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. Beberapa ahli
membagi perubahan patologi abses otak dalam 4 stadium yaitu :8
1. Stadium serebritis dini (Early Cerebritis)
Terjadi reaksi radang lokal dengan infiltrasi polimorfonuklear leukosit,
limfosit dan plasma sel dengan pergeseran aliran darah tepi, yang dimulai
pada hari pertama dan meningkat pada hari ke 3. Sel-sel radang terdapat pada
tunika adventisia dari pembuluh darah dan mengelilingi daerah nekrosis
infeksi. Peradangan perivaskular ini disebut cerebritis. Saat ini terjadi edema
di sekita otak dan peningkatan efek massa karena pembesaran abses.
2. Stadium serebritis lanjut (Late Cerebritis)
Saat ini terjadi perubahan histologis yang sangat berarti. Daerah pusat
nekrosis

membesar

oleh

karena

peningkatan

acellular

debris

dan

pembentukan nanah karena pelepasan enzim-enzim dari sel radang. Di tepi


pusat nekrosis didapati daerah sel radang, makrofag-makrofag besar dan
gambaran fibroblast yang terpencar. Fibroblast mulai menjadi reticulum yang
akan membentuk kapsul kolagen. Pada fase ini edema otak menyebar
maksimal sehingga lesi menjadi sangat besar.

11

3. Stadium pembentukan kapsul dini (Early Capsule Formation)


Pusat nekrosis mulai mengecil, makrofag menelan acellular debris dan
fibroblast meningkat dalam pembentukan kapsul. Lapisan fibroblast
membentuk anyaman reticulum mengelilingi pusat nekrosis. Di daerah
ventrikel, pembentukan dinding sangat lambat oleh karena kurangnya
vaskularisasi di daerah substansi putih dibandingkan substansi abu.
Pembentukan kapsul yang terlambat di permukaan tengah memungkinkan
abses membesar ke dalam substansi putih. Bila abses cukup besar, dapat robek
ke dalam ventrikel lateralis. Pada pembentukan kapsul, terlihat daerah
anyaman reticulum yang tersebar membentuk kapsul kolagen, reaksi astrosit
di sekitar otak mulai meningkat.
4. Stadium pembentukan kapsul lanjut (Late Capsule Formation)
Pada stadium ini, terjadi perkembangan abses secara lengkap.
Abses dalam kapsul substansia alba dapat makin membesar dan meluas ke
arah ventrikel sehingga bila terjadi ruptur, dapat menimbulkan meningitis. Infeksi
jaringan fasial, selulitis orbita, sinusitis etmoidalis, amputasi meningoensefalokel
nasal dan abses apikal dental dapat menyebabkan abses otak yang berlokasi pada
lobus frontalis. Otitis media, mastoiditis terutama menyebabkan abses otak lobus
temporalis dan serebelum, sedang abses lobus parietalis biasanya terjadi secara
hematogen. 7

Gambar 2.1 gambaran abses otak


2.1.3 Diagnosis

12

Diagnosis

ditegakkan

berdasarkan

anamnesis,

gambaran

klinik,

pemeriksaan laboratorium disertai pemeriksaan penunjang lainnya. Selain itu penting


juga untuk melibatkan evaluasi neurologis secara menyeluruh, mengingat keterlibatan
infeksinya. Perlu ditanyakan mengenai riwayat perjalanan penyakit, onset, faktor
resiko yang mungkin ada, riwayat kelahiran, imunisasi, penyakit yang pernah
diderita, sehingga dapat dipastikan diagnosisnya.8
Pada pemeriksaan neurologis dapat dimulai dengan mengevaluasi status
mental, derajat kesadaran, fungsi saraf kranialis, refleks fisiologis, refleks patologis,
dan juga tanda rangsang meningeal untuk memastikan keterlibatan meningen.
Pemeriksaan

motorik

sendiri

melibatkan

penilaian

dari

integritas

sistem

musculoskeletal dan kemungkinan terdapatnya gerakan abnormal dari anggota gerak,


ataupun kelumpuhan yang sifatnya bilateral atau tunggal.6,7
Pada pemeriksaan laboratorium, terutama pemeriksaan darah perifer yaitu
pemeriksaan lekosit dan laju endap darah; didapatkan peninggian lekosit dan laju
endap darah. Pemeriksaan cairan serebrospinal pada umumnya memperlihatkan
gambaran yang normal. Bisa didapatkan kadar protein yang sedikit meninggi dan
sedikit pleositosis, glukosa dalam batas normal atau sedikit berkurang kecuali bila
terjadi perforasi dalam ruangan ventrikel.8
Foto polos kepala memperlihatkan tanda peninggian tekanan intrakranial,
dapat pula menunjukkan adanya fokus infeksi ekstraserebral; tetapi dengan
pemeriksaan ini tidak dapat diidentifikasi adanya abses. Pemeriksaan EEG terutama
penting untuk mengetahui lokalisasi abses dalam hemisfer. EEG memperlihatkan
perlambatan fokal yaitu gelombang lambat delta dengan frekuensi 13 siklus/detik
pada lokasi abses. Pnemoensefalografi penting terutama untuk diagnostik abses
serebelum. Dengan arteriografi dapat diketahui lokasi abses di hemisfer. Saat ini,
pemeriksaan angiografi mulai ditinggalkan setelah digunakan pemeriksaan yang
relatif noninvasif seperti CT scan. Dan scanning otak menggunakan radioisotop
tehnetium dapat diketahui lokasi abses; daerah abses memperlihatkan bayangan yang
hipodens daripada daerah otak yang normal dan biasanya dikelilingi oleh lapisan
hiperderns. CT scan selain mengetahui lokasi abses juga dapat membedakan suatu
serebritis dengan abses.6,9

13

Magnetic Resonance Imaging saat ini banyak digunakan, selain memberikan


diagnosis yang lebih cepat juga lebih akurat.6

Gambar 2.2. gambaran CT-Scan pada abses otak


Pemeriksaan CT scan dapat dipertimbangkan sebagai pilihan prosedur
diagnostik, dikarenakan sensitifitasnya dapat mencapai 90% untuk mendiagnosis
abses serebri. Yang perlu dipertimbangkan adalah walaupun gambaran CT tipikal
untuk suatu abses, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk didiagnosis banding
dengan tumor (glioblastoma), infark, metastasis, hematom yang diserap dan
granuloma.
Walaupun sukar membedakan antara abses dan tumor (glioblastoma,
metastasis) dari CT scan, ada beberapa parameter yang dapat digunakan untuk
membedakan keduanya antara lain : umur penderita, ketebalan ring (cicin tipis hanya
3-6 mm) dan biasanya uniform, diameter ring, rasio lesi dan ring. Pada kasus,
kapsul bagian medial lebih tipis dari kapsul subkortikal. Hal ini menunjukkan
sedikitnya vaskularisasi dari massa putih dan menjelaskan mengapa daughter abscess
biasanya berkembang di medial.
2.1.4 Komplikasi
14

Abses

otak

menyebabkan

kecacatan

bahkan

kematian.

Adapun

komplikasinya adalah:6
1.
2.
3.
4.

Robeknya kapsul abses ke dalam ventrikel atau ruang subarachnoid


Penyumbatan cairan serebrospinal yang menyebabkan hidrosefalus
Edema otak
Herniasi oleh massa Abses otak

2.3 Autopsi pada Abses Otak


2.3.1 Gambaran Makroskopis Kematian Dengan abses otak
Sebelum akhir tahun 1800, abses otak merupakan salah satu penyakit dengan
kondisi fatal yang jarang didiagnosis sebelum di autopsi. William Macewan, ahli
bedah dari Inggris, merupakan salah satu penemu cara terapi pada pasien dengan
abses otak. Dengan pengetahuannya mengenai anatomi pembedahan kranial dan
perkembangan teknik bedah terbaru, dia menunjukkan bahwa beberapa pasien dapat
ditangani dengan drainase abses.9
Penjelasan secara baik dan jelas mengenai kasus abses otak pertama kali
diambil dari Lancet yang dilaporkan dari rumah sakit Middlesex pada bulan Maret
tahun 1825. Dari temuan post mortem pasien laki- laki yang berusia 31 tahun, pada
pengangkatan duramater, ditemukan dalam jumlah yang banyak cairan pus berwarna
kehijauan keluar dari bagian posterior cerebrum, hemisfer kanan. Sedangkan pada
serebelum tidak ditemukan kelainan.10

15

Gambar 2.3 Berbagai sumber infeksi abses otak

Abses otak biasanya merupakan kelainan sekunder dari fokus primer yang
terdapat pada bagian tubuh lain. Abses otak dapat terjadi akibat penyebaran
perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari
tempat yang jauh atau secara langsung seperti trauma kepala. Abses yang terjadi oleh
penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak, tetapi paling sering pada
pertemuan substansia alba dan grisea; sedangkan yang perkontinuitatum biasanya
berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu. Abses serebri yang
hematogen ditandai dengan adanya fokus infeksi (yang tersering dari paru), lokasi
pada daerah yang diperdarahi oleh arteri serebri media di daerah perbatasan massa
putih dan abu-abu dengan tingkat mortalitas yang tinggi.7,9
Umumnya kondisi yang dapat memicu terjadinya abses otak merupakan
perluasan langsung dari trauma kepala, infeksi dari telinga, mata, hidung dan sinus,
16

dan infeksi dari wajah dan kepala. Infeksi telinga tengah merupakan penyebab
tersering abses otak, sedangkan trauma kepala merupakan penyebab abses otak yang
paling jarang terjadinya. 9,10
Abses otak akibat trauma kepala dapat dicurigai apabila tidak terdapat fokus
primer penyebab abses otak lainnya pada tubuh. Abses otak akibat trauma kepala
biasanya ditemui pada lobus frontal, dan jarang ditemukan di lobus lainnya. Pada
abses yang disebabkan trauma biasanya otak melekat pada duramater, kemudian pada
trauma bisa ditemui adanya robekan pembuluh darah dan perdarahan.
Jika abses cukup besar dan ruptur ke dalam ventrikel secara cepat akan
diikuti oleh kematian. Abses pada pertengahan fossa umumnya merupakan efek
sekunder dari otitis media. Bagian yang paling sering terkena adalah di piarachnoid
langsung diatas tegmen dari antrum atau telinga tengah atau di bagian dari lobus
temporosphenoidal.10
Abses otak bersifat fokal, infeksi intraserebral biasanya dimulai sebagai area
yang terlokalisir dan berkembang ke dalam bentuk sekumpulan pus yang dikelilingi
oleh kapsul dengan vaskularisasi yang baik.9

Pada sebagian besar dari hasil analisi post mortem, abses yang ditemukan di
piarachnoid akan terlokalisir dengan baik tetapi karena efek dari tekanan yang
ditimbulkannya akan menyebabkan nekrosis otak pada area sekitarnya, tetapi tidak
pernah menghasilkan abses yang sebenarnya. Abses perpanjangan yang biasanya
disebut abses temporosphenoidal dengan tangkai

biasanya diemukan di lobus

temporosphenoidal, tepat diatas tegmen.10

17

Gambar 2.4 Abses otak yang terlokalisir

2.3.2 Gambaran Mikroskopis Kematian Dengan abses otak


Perjalanan patologi pada abses otak kronik sama seperti pembentukan abses di
bagian tubuh lainnya. Adanya kematian jaringan dan perubahan karena reaksi
perlindungannya. Selanjutnya dipertahankan oleh jaringan yang khusus. Pada
pemeriksaan mikroskopis abses otak kronik yang berkapsul terdiri dari: 1) rongga
dengan ukuran yang bervariasi yang berisi pus dan detritus, dengan hasil akhir
kematian jaringan yang lengkap dari gangguan nutrisi dan bekteri. 2) bentuk kapsul
yang terbatas akibat iritasi dari bakteri dan toksinnya pada jaringan dan pelidung
jaringannya dan rekonstruksi. Kapsul terbagi menjadi 3 area, ketiganya ini hampir
tidak dapat dibedakan, sifat bakteri yang dekstruktif memiliki dominasi terdekat
dengan rongga sementara di area eksternal rekonstruktif dan kekuatan pelindung
jaringan tampak jelas. Meskipun kemampuan bakteri untuk mendestruksi lebih besar
dari pada kemampuan rekontruksi dari kapsulnya. Dari

luar ke rongga hingga

kedalam nya disebut dengan necroticzone yang mana jaringan yang baru mati
mengalami pencairan oleh toksin-toksin. Penggabungan kedalam area nekrotik
merupakan granulasi area jaringan dengan jaringan penghubung yang berkembang

18

dari jaringan tersebut. Dari luar ke sekitar infiltrasi sel jaringan di dalam pembungkus
perivaskuler dari pembuluh darah menunjukan adanya inflamasi atau proses
perlindungan yang masih aktif dengan baik di luar kapsul.
Kematian pasien penderita abses otak biasanya terjadi pada saat perubahan
patologi otak sudah memasuki stadium pembentukan kapsul lanjut (Late
Capsule Formation) (stadium 4). Pada stadium 3 biasanya ditandai dengan
gambaran histologis sebagai berikut:
Bentuk pusat nekrosis diisi oleh acellular debris dan sel-sel radang.
Daerah tepi dari sel radang, makrofag, dan fibroblast.
Kapsul kolagen yang tebal.
Lapisan neurovaskular sehubungan dengan serebritis yang berlanjut.
Reaksi astrosit, gliosis, dan edema otak di luar kapsul.

19

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Amri, Amir. 2001. Autopsi Medikolegal. Edisi ke-2. USU PRESS: Medan.
2. Dasar Hukum Proses Identifikasi Forensik. SlideShare. Available from:
http://www.slideshare.net/nurdianirr/dasar-hukum-forensik [Accessed on 14th
November 2015].
3. Staf Kedokteran forensik FK UI. Teknik autopsi forensik. cetakan ke 3.
Jakarta: Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran Universitas
Indonesia. 1996. Hal:1-54.
4. The Medico-Legal Autopsy. Welcome to the Department of Forensic
Medicine Web Site. Available from:
http://www.dundee.ac.uk/forensicmedicine/notes/autopsy.pdf [Accessed on
14th November 2015].
5. Dorlan, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. Jakarta : EGC.
6. Adams RD, Victor Maurice. Brain Abscess. In Principles of Neurology. 5th
ed. USA:McGraw-Hill Inc, 1993:612-616.
7. Xiang Y. Han et al: Fusobacterial brain abscess A review of five cases and
analysis of possible pathognesis; Journal of neurosurgeon, Oct. 2003; Vol.99.
8. Hakim, Adril Arsyad. Abses Otak. Majalah Kedokteran Nusantara, Dec. 2005;
Vol. 38.
9. Glenn E. Mathisen and J. Patrick Johnson. Brain Abscess. Clinical Infectious
Diseases 1997;25:76381.
10. Threadgill, Frank W. Brain abscess. .University of Nebraska Medical Center
Omaha. MD Theses.

21