Anda di halaman 1dari 23

KLASIFIKASI

MANAJEMEN
MANAJEMEN NON-TERAPI
kriteria untuk Non Operatif
Manajemen
Hemodinamik stabil
Tidak adanya peritoneal sign
Adanya modalitas CT scan
Monitor ICU
Fasilitas operasi segera
Tidak adanya cedera organ lainnya

MANAJEMEN OPERATIF
Damage Control Surgery
bertujuan untuk menyelamatkan
nyawa pasien dan menghentikan
proses perdarahan
Operasi Definitif
o Pasien yang Stabil
o Nekrosis hepar dan pembentukan
abses yang terjadi setelah
perdarahan berhenti

KOMPLIKASI
KOMPLIKASI NON OPERATIF
Komplikasi paling sering adalah kegagalan
manajemen itu sendiri, sehingga pasien
harus menjalani operasi defenitif

Dalam sebuah studi multisenter baru-baru ini,


komplikasi hepar berkembang sekitar 5% (13
dari 264) dari pasien dengan trauma grade
3, 22% (36 dari 166) dari pasien dengan
trauma grade 4 dan 52% (12 dari 23) dari
pasien dengan trauma grade 5.

KOMPLIKASI OPERATIF
Perdarahan ulang pada periode
pasca operasi
Koagulopati sehingga terjadi
perdarahan lebih lanjut
sepsis
empedu kebocoran
gagal hepar

Foto X-Ray
mengidentifikasi adanya fraktur iga
bawah
Pneumoperitoneum, cedera
diafragma besar, dan logam benda
asing
membantu diagnosis cedera
diafragma
dapat menemukan adanya
pneumoperitoneum yang terjadi
akibat perforasi hollow viscus

USG

Gambar 4.8 Sonogram perut pria 35 tahun setelah


cedera tumpul abdomen riwayat pukulan
menunjukkan gambaran hyperechoic berbentuk
bulan sabit sepanjang lateral kanan hepar disertai
dengan hematoma subkapsular.

Hematoma hepatic dikelompokkan


menjadi 3 kategori, sebagai berikut:
(21)

Rupture ke dalam hepar dan kapsul


Pemisahan kapsul oleh hematoma
subkapsular
Central hepatic rupture

Hematoma subkapsular biasanya


muncul seperti kumpulan cairan
berbentuk lengkung, echogenisitas
bervariasi dengan waktu. Awalnya
hematoma anechoic, kemudian
terjadi perubahan menjadi echogenic
dalam 24 jam. Selanjutnya
echogenisitas hematoma mulai
menurun, dan dalam 4-5 hari
hematoma menjadi hypoechoic dan

. Beberapa rumah sakit


menggunakan ultrasonografi sebagai
pemeriksaan awal. Pasien yang tidak
stabil dan terdeteksi memiliki
sejumlah besar cairan pada
ultrasonograms dapat segera
dilakukan operasi. Jika temuan
ultrasonografi positif untuk cairan
intra-abdomen, CT scan adalah
langkah berikutnya.

Ultrasonografi adalah pemeriksaan


awal pilihan dalam kelompok usia
pediatrik karena bersifat non-ion dan
non-invasif

Cedera pada hepar terutama pada segmen


lateral lobus kiri, biasanya kurang terlihat
dengan ultrasonografi, terutama dengan
adanya ileus atau ketika pasien merasa nyeri
yang membuat pemeriksaan sulit dilakukan.
Sensitivitas ultrasonografi dalam mendeteksi
cairan perut bebas berhubungan dengan usus
atau cedera mesenterika telah dilaporkan
hanya sebesar 44%. Ultrasonografi terbatas
dalam mendeteksi lesi vaskular

Nuclear Imaging
Nuclear imaging digunakan dalam
mengevaluasi pasien dengan trauma tumpul
hepar dan trauma splen
Pencitraan dengan radionuclide penting
sebagai alternatif pasien yang kontraindikasi
menggunakan pencitraan CT scan dengan
kontras baik secara intravena maupun oral,
pasien yang tidak mampu menahan napas
panjang dan pasien dengan benda logam
atau surgical clip pada ruang abdomen

Gambar 4.9 Perempuan, 62 tahun, dengan riwayat


biopsi hepar. Technetium-99m iminodiacetic acid
(IDA) scan setelah injeksi radioisotop menunjukkan
filling defect yang luas di hepar, yang menunjukkan
gambar pengisian setelah 4 jam berikutnya.

Gambar 4.10 Teknesium-99m asam Iminodiacetic


(IDA) scan pada seorang pria 30 tahun yang
mengalami cedera hepar akibat kecelakaan
kendaraan bermotor. Scan diperoleh 1 bulan
kemudian dan menunjukkan ekstravasasi isotop
dari saluran empedu. Hal ini sesuai dengan
gambaran kebocoran empedu.

Angiografi
Pada penelitian angiografi dinamis
dapat menunjukkan lokasi
perdarahan aktif, mempermudah
trans-kateter embolisasi, yang
mungkin pilihan terapi yang
diperlukan

Selektif celiac arteriogram pada trauma hepar grade 1


pada seorang pria 21 tahun dengan trauma tusuk pada
kuadran kanan atas perut. Gambar menunjukkan area
fokus perdarahan di lobus kanan hepar (panah) akibat
cedera tusukan. Lingkaran filling defect berbatas tegas
terlihat pada daerah lateral lobus kanan hepar

Post-embolisasi arteriogram selektif pada


trauma hepar grade 1, Seorang pria 21 tahun
dengan trauma tusukan pada kuadran kanan
atas perut (pasien yang sama seperti pada
gambar sebelumnya). Gambar menunjukkan

Gambaran cedera hepar grade 2 akibat trauma tumpul


abdomen. Pria 20 tahun dengan lupus eritematosus
sistemik. Selektif arteriogram arteri celiac menunjukkan
beberapa mikroaneurisma karena lupus eritematosus
sistemik. Terlihat filling defect pada parenkim akibat luka
memar dan terdorongnya bagian medial tepi hepar kanan
akibat hematoma subkapsular.

KESIMPULAN
Hepar merupakan organ kedua yang paling
sering terluka setelah trauma abdominal,
tetapi kerusakan hepar adalah penyebab
kematian paling terbanyak. (1) Sebanyak
25% kasus trauma hepar merupakan
trauma tumpul
Manajemen trauma hepar dapat bervariasi
mulai dari manajemen non operasi dengan
atau tanpa angioembolisasi hingga
tindakan pembedahan

Ultrasonography (FAST) dapat


melakukan evaluasi cepat pada
pasien trauma tumpul atau tajam
abdomen. FAST besifat murah,
portabel dan noninvasif
dibandingkan dengan lavage
peritoneal dan tidak menggunakan
radiasi atau media kontras seperti
iodinasi
Sensitifitas FAST terhadap cairan
intraabdominal setelah trauma
mencapai 75-93,8% dan

Pemeriksaan menggunakan CT scan


bersifat akurat dalam menentukan
luas lesi ruptur hepar dan trauma
terkait, sehingga dapat memberikan
informasi yang penting untuk
pengobatan pada pasien.