Anda di halaman 1dari 8

KONSEP ISOLASI SOSIAL

DEFINISI
Isolasi

sosial

adalah

keadaan

dimana

seorang

individu

mengalami

penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan


orang lain di sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima,
kesepian dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang
lain. Isolasi sosial merupakan upaya klien untuk menghindari interaksi
dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain maupun
komunikasi dengan orang lain (Keliat et al, 2005).
Isolasi sosial adalah suatu hubungan interpersonal yang terjadi akibat
adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku
maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial
(Depkes RI, 2000)
Isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian dari seorang individu dan
diteriam sebagai perlakuan dari orang lain serta kondisi yang negatif atau
mengancam (Judith M Wilinson, 2007)
Isolasi sosial adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami
atau merasakan kebutuhan, keinginan untuk meningkatkan keterlibatan
dengan orang lain tetapi tidak mampu membuta kontak (Carpenito, 2006)
Isolasi sosial adalah suatu keadaan dimana individu akan menarik diri dari
orang lain bila merasa tidak dapat mempertahankan keberadaannya di
tengah-tengah masyarakat (Rowins, 2000)
Isolasi sosial adalah individu yang mengalami ketidakmampuan untuk
mengadakan hubungan dengan orang lain dan dengan lingkungan
sekitarnya secara wajar dalam khayalannya sendiri yang tidak realistis.
Isolasi sosial merupakan proses pertahanan terhadap orang lain maupun
lingkungan yang menyababkan kecemasan pada diri sendiri dengan cara
menarik diri secara fisik maupun psikis (Suliswati, 2005)
Isolasi sosial merupakan upaya mengindari komunikasi dengan orang lain
karena

merasa

kehilangan

hubungan

akrab

dan

tidak

mempunyai

kesempatan untuk berbagi rasa, pikiran, dan kegagalan. Klien mengalami


kesulitan dalam berhubungan secara spontan denga orang lain yang
dimanifestasikan dengan mengisolasi diri, tidak ada perhatian dan tidak
sanggup berbagi pengalaman.

RENTANG
Menurut

Stuart

tentang

respons

klien

ditinjau

dari

interaksinya

dengan

lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respon


adaptif dengan maladaptif sebagai berikut :

Menyendiri
Otonomi
Bekerjasama
Interdependen

Manipulasi
Impulsif
Narcissisme

Menarik diri
Dependensi
Curiga

Respon Adaptif

Respons Maladaptif
(Stuart. 2006)

RESPON
Berdasarkan gambar rentang respon sosial di atas, menarik diri termasuk dalam
transisi antara respon adaptif dengan maladaptif sehingga individu cenderung
berfikir kearah negatif.
1. Adaptif
Respon adaptif adalah respon yang diterima oleh norma sosial dan kultural
dimana individu tersebut menjelaskan masalah dalam batas normal.
a. Menyendiri (Solitude)
Respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah
dilakukan

di

lingkungan

sosialnya

dan

merupakan

suatu

cara

mengevaluasi diri dan menentukan langkah berikutnya


b. Otonomi
Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide
pikiran dan perasaan dalam hubungan sosial
c. Bekerjasama (Mutuality)
Suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut
mampu untuk saling memberi dan menerima, merupakan kemampuan
individu yang saling membutuhkan satu sama lain
d. Interdependen
Kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam
membina hubungan interpesonal
2. Maladaptif
Respon maladaptif adalah respon

yang

dilakukan

individu

dalam

menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan


kebudayaan suatu tempat.
a. Menarik diri
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam membina hubungan secara
terbuka dengan orang lain, merupakan gangguan yang terjadi apabila
seseorang memutuskan untuk tidak berhubungan dengan orang lain
untuk mencari ketenangan sementara waktu
b. Ketergantungan (Dependen)
Terjadi bila individu gagal mengembangkan rasa percaya diri atau
kemampuannya untuk berfungsi secara sukses sehinggan tergantung
dengan orang lain
c. Curiga
Seseorang gagal mengembangkan rasa percaya terhadap orang lain
d. Manipulasi

Seseorang yang mengganggu orang lain sebagai objek individu, hubungan


terpusat pada masalah pengendalian dan berorientasi pada diri sendiri
atau pada tujuan, bukan berorientasi pada orang lain sehingga tidak dapat
membina hubungan sosial secara mendalam
e. Impulsif
Ketidakmampuan merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari
pengalaman, tidak dapat diandalkan, mempunyai penilaian yang buruk
f.

dan cenderung memaksakan kehendak


Narcissisme
Harga diri yang rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan
penghargaan dan pujian, memiliki sikap egosentris, pencemburu dan
marah jika orang lain tidak mendukung

PENYEBAB
Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan isolasi sosial dibedakan menjadi 2,
yaitu faktor predisposisi dan faktor presipitasi.
1. Faktor predisposisi
a. Faktor tumbuh kembang
Setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas yang harus dilalui individu
dengan sukses, karena apabila tugas perkembangan ini tidak dapat
dipenuhi, maka akan menghambat masa perkembangan selanjutnya.
Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan pengalaman bagi
individu

dalam

menjalin

hubungan

dengan

orang

lain.

Kurangnya

stimulasi, kasih saying, perhatian, dan kehangatan dari ibu/pengasuh


pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang dapat menghambat
terbentuknya rasa percaya diri. Rasa ketidakpercayaan tersebut dapat
mengembangkan tingkah laku curiga pada orang lain maupun lingkungan
dikemudian hari. Oleh karena itu, komunikasi yang hangat sangat penting
dalam masa ini, agar anak tidak merasa diperlakukan sebagai objek.
b. Faktor komunikasi dalam keluarga
Masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontribusi penting
dalam

mengembangkan

gangguan

tingkah

laku

seperti

sikap

bermusuhan/hostilitas, sikap mengancam, merendahkan dan menjelekjelekkan anak, selalu mengkritik, menyalahkan, dan anak tidak diberi
kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya, kurang kehangatan,
kurang memperhatikan ketertarikan pada pembicaraan anak, hubungan
yang kaku antara anggota keluarga, kurang tegur sapa, komunikasi
kurang terbuka, terutama dalam pemecahan masalah tidak diselesaikan
secara terbuka dengan musyawarah, ekspresi emosi yang tinggi, double

bind, dua pesan yang bertentangan disampaikan saat bersamaan yang


membuat bingung dan kecemasannya meningkat
c. Faktor sosial budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan merupakan faktor
pendukung terjadinya gangguan berhubungan. Dapat juga disebabkan
oleh karena norma-norma yang salah yang dianut oleh satu keluarga
seperti anggota tidak produktif diasingkan dari lingkungan sosial.
d. Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif. Bukti
terdahulu

menunjukkan

keterlibatan

neurotransmitter

dalam

perkembangan gangguan ini, namun tetap diperlukan penelitian lebih


lenjut.
Adanya faktor genetic inheritance
Hipotesis dopamin, dimana gejala muncul terutama karena aktivitas
hiperdopaminergik
Studi neuroanatomik,

temuan

adalah

pembesaran

ventrikular,

atropiserebellar, fungsi premorbid buruk, respons terapi buruk, dan


kerusakankognitif
2. Faktor presipitasi
a. Faktor eksternal
Stress sosiokultural
Stress dapat ditimbulkan oleh karena menurunya stabilitas unit keluarga
seperti perceraian, berpisah dari orang yang berarti, kehilangan pasangan
pada usia tua, kesepian karena ditinggal jauh, dan dirawat di rumah sakit
atau di penjara. Semua ini dapat menimbulkan isolasi sosial.
b. Faktor internal
Stress Psikologis
Ansietas berat yang berkepanjangan terjadi bersamaan

dengan

keterbatasan kemampuan untuk mengatasinya.Tuntutan untuk berpisah


dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi
kebutuhan ketergantungan dapat menimbulkan ansietas tingkat tinggi

TANDA DAN GEJALA


1. Gejala Subjektif :
Klien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak orang lain
Klien merasa tidak aman berada dengan orang lain
Respon verbal kurang dan sangat singkat
Klien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain
Klien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu
Klien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan
Klien merasa tidak berguna
Klien tidak yakin dapat melangsungkan hidupnya
Klien merasa ditolak
2. Gejala Objektif :

Klien banyak diam dan tidak mau bicara


Kurang spontan
Apatis, ekspresi wajah sedih, afektif datar
Ekspresi wajah kurang berseri
Tidak merawat diri dan tidak memperhatikan kebersihan diri
Komunikasi verbal menurun/tidak ada
Tidak memiliki teman dekat
Mengisolasi diri
Aktivitas menurun
Kepribadian yang kurang sehat
Tidak ada kontak mata, sering menunduk
Asyik dengan pikirannya sendiri
Lebih senang menyendiri
Menyendiri/berdiam di kamar
Tidak mampu berhubungan dengan orang lain secara intim
Tidak ada rasa percaya diri
Tidak dapat membina hubungan baik dengan orang lain
Mondar-mandir, melakukan gerakan berulang/sikap mematung
POHON MASALAH
Resiko bunuh diri
Isolasi sosial
Harga diri rendah kronis
Koping individu tidak efektif
(Iyus, 2009)

STRATEGI PELAKSANAAN PADA KLIEN DENGAN ISOLASI SOSIAL


STRATEGI PELAKSANAAN 1
Tujuan
a. Membangun kepercayaan klien pada perawat
b. Mendiskusikan tentang hal positif yang dimiliki oleh klien
c. Menggali kemauan klien untuk merawat diri dalam mandi dan penampilan
d. Menggali kemampuan klien untuk memahami manfaat berhubungan dengan
orang lain
1. Orientasi
Salam
- Mengucapkan salam
- Memperkenalkan diri

- Menanyakan nama
Evaluasi/validasi
- Menanyakan kabar dan suasana hati klien.
Kontrak (topik, waktu, tempat)
- Menanyakan kesediaan untuk berdiskusi
- Menanyakan tempat yang dipilih untuk berdiskusi
- Mendiskusikan waktu untuk berdiskusi
2. Kerja
-

Menanyakan ulang siapa nama perawat yang saat ini berdiskusi dengan
klien

Menanyakan apa yang dirasakan klien saat ini

Menanyakan siapa orang yang paling berharga bagi klien atau orang
yang disayangi

Menanyakan tentang hal positif yang dimiliki klien

Mengarahkan tentang hal positif apa saja yang dimiliki oleh seorang
ibu, misal dapat mendidik anak-anak, dapat mengatur keluarga, berhati
mulia, disayang keluarga

Menanyakan apa yang membuat klien sendirian di kamar

Mendiskusikan hal-hal atau aktivitas yang dapat dilakukan klien setiap


hari

Menanyakan hal yang terkait aktivitas mandi, apakah ibu memiliki


handuk?

Mendiskusikan waktu mandi dan berdandan yang tepat untuk klien


misal pada pagi dan sore hari

Memberikan pujian kepada klien saat mau berbicara kepada perawat

Mengajarkan klien untuk berkenalan dengan satu orang

Mendiskusikan tentang kerugian apabila tidak berinteraksi dengan


orang lain

3. Terminasi
-

Menanyakan perasaan yang dialami klien setelah berdiskusi dengan


perawat

Mengulangi hal-hal penting yang menjadi point diskusi, seperti hal


positif dan waktu mandi yang tepat untuk klien

Merencanakan pertemuan selanjutnya, waktu dan tempat

Memberikan salam

STRATEGI PELAKSANAAN 2
Tujuan

a. Melatih klien untuk melakukan perawatan diri, mandi dan berdandan


b. Melatih klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti yang telah
disepakati dipertemuan sebelumnya
c. Melatih klien untuk berinteraksi dengan orang
d. Melibatkan keluarga dalam perawatan diri klien
1. Orientasi
Salam
- Mengucapkan salam
- Memperkenalkan diri kembali
Evaluasi/validasi
- Menanyakan kabar dan suasana hati klien
Kontrak (topik, waktu, tempat)
- Menanyakan kesediaan untuk berdiskusi
- Menanyakan tempat yang dipilih untuk berdiskusi
- Mendiskusikan waktu untuk berdiskusi
2. Kerja
-

Menanyakan apa yang telah klien lakukan sepanjang hari ini

Menanyakan bagaimana perasaan klien ketika melakukan aktivitas

Menanyakan dimana letak handuk atau sabun klien untuk mengecek


apakah klien benar-benar tahu dimana perlengkapan mandi berada

Memuji

klien

telah

berpenampilan

lebih

baik

dari

pertemuan

sebelumnya
-

Mengajak klien untuk melakukan aktivitas di sekitar kamar, misal


menyapu, membereskan kamar

Mengajak klien untuk ke kamar mandi dan mengecek perlengkapan


mandi yang ada

Mengajak klien untuk mempraktekkan mencuci rambut dengan baik


dibantu dengan anggota keluarga

Mengajak klien dan anggota keluarga pergi ke luar kamar dan berjalanjalan di sekitar ruangan sambil menyapa orang-orang di sekitar

Meminta klien untuk memperaktekkan berinteraksi dengan orang lain

Meminta ijin klien untuk mengenalkan atau mengajak orang dalam


pertemuan selanjutnya

3. Terminasi
-

Menanyakan perasaan yang dialami klien setelah berdiskusi dan diajak


aktivitas dengan perawat

Memberikan pemahaman kepada keluarga tentang pentingnya klien


mendapat perhatian lebih dan memuji klien tiap klien bisa melakukan
perubahan

Merencanakan pertemuan selanjutnya, waktu dan tempat

Memberikan salam

STRATEGI PELAKSANAAN 3
Tujuan
a. Menggali apakah klien telah patuh dengan jadwal aktivitas yang disepakati di
pertemuan 1
b. Mengenalkan klien dengan perawat lain atau orang lain
c. Membangun kepercayaan klien dengan orang lain
1. Orientasi
Salam
- Mengucapkan salam
- Memperkenalkan diri kembali
- Memperkenalkan orang yang diajak oleh perawat
Evaluasi/validasi
Menanyakan kabar dan suasana hati klien
Kontrak (topik, waktu, tempat)
- Menanyakan kesediaan untuk berdiskusi
- Menanyakan tempat yang dipilih untuk berdiskusi
- Mendiskusikan waktu untuk berdiskusi
b. Kerja
-

Mengenalkan seseorang yang diajak untuk berinteraksi dengan klien

Memberikan klien perasaan nyaman bahwa orang yang diajak adalah


orang yang baik dan dapat dipercaya

Memberi kesempatan klien untuk berdiskusi dengan orang yang diajak

Mengajak klien untuk melakukan aktivitas yang telah dijadwalkan


sebelumnya

Menanyakan kepada klien dimana klien mandi tadi pagi dan apakah
klien senang dengan pakaian yang ia pakai

Memberi pujian terhadap penampilan klien

Menganjurkan klien untuk berinteraksi dengan dua orang atau lebih di


esok hari setelah mandi pagi hari

Menanyakan kepada anggota keluarga tentang kegiatan yang dilakukan


klien

c. Terminasi
-

Menanyakan perasaan yang dialami klien setelah berdiskusi dan diajak


aktivitas dengan perawat

Menanyakan perasaan klien setelah berkenalan dan berdiskusi dengan


orang yang diajak

Merencanakan pertemuan selanjutnya, waktu dan tempat

Memberikan salam