Anda di halaman 1dari 6

DIPLOMASI

DIPLOMASI AUSTRALIA TERHADAP


INDONESIA DALAM KASUS BALI NINE

MALSYA GHASSANI
143112350750039
FISIP/HI

METODELOGI HUB INTERNASIONAL

MALSYA GHASSANI
143112350750039
FISIP/HI

Realisme merupakan perspektif teori yang paling diakui di


dalam

Hubungan

internasional.

Realisme

telah

mendominasi

Hubungan Internasional pada tingkatan mahasiswa dan sarjana hingga


sering lupa fakta bahwa realisme hanyalah salah satu perspektif saja.
Mereka

juga

menghadirkan

seolah-olah

realisme

merupakan

pandangan umum di dunia dibandingkan semua perspektif lain yang


seharusnya dipertimbangkan juga.
Dalam pemikiran kaum realis, manusia dicirikan sebagai
makhluk yang selalu cemas akan keselamatan dirinya dalam hubungan
persaingan dengan yang yang lain. Mereka ingin berada dalam kursi
pengendali. Mereka tidak ingin diambil keuntungannya. Mereka terusmenerus berjuang mendapatkan yang terkuat dalam hubungannya
dengan yang lain termasuk hubungan internasional dengan negaranegara lain. Dalam hal demikian paling tidak manusia dipandang pada
dasarnya sama dimana pun. Sehingga untuk memperoleh keuntungaan
dari yang lain dan mencegah dominasi dari yang lain adalah universal.
Pandangan pesimis atas sikap manusia ini sangat jelas dalam
teorinya Hans Morgenthau, pemikir realis terkemuka abad dua puluh.
Ia melihat pria dan wanita memiliki keinginan untuk berkuasa. Hal
itu sangat jelas dalam politik dan khususnya dalam politik
Internasional: Politik adalah perjuangan memperoleh kekuasaan atas
manusia, dan apapun tujuan akhirnya, kekuasaan adalah tujuan
terpentingnya dan cara-cara memperoleh, memelihara dan
menunjukan kekuasaan menentukan teknik tindakan politik.

Kaum realis berjalan dengan asumsi dasar bahwa politik dunia


berkembang dalam anarki internasional, yaitu sistem tanpa adanya
kekuasaan yang berlebihan, tidak ada pemerintahan dunia. Negara
adalah aktor utama dalam politik dunia. Hubungan Internasional
khususnya merupakan hubungan Negara-negara. Semua aktor lain
dalam politik dunia (individu-individu, organisasi Internasional, LSM,
dll) kurang penting atau tidak penting. Inti terpenting kebijakan luar
negeri adalah untuk membentuk dan mempertahankan kepentingan
Negara dalam politik dunia. Tetapi Negara-negara tidaklah sama,
sebaliknya, terdapat hirarki internasional atas kekuasaan diantara
Negara-negara. Negara-negara yang paling penting dalam politik dunia
adalah Negara-negara berkekuatan besar (great power). Hubungan
internasional dipahami oleh kaum realis terutama sebagai perjuangan
diantara Negara-negara berkekuatan besar untuk dominasi dan
keamanan. Dasar normatif realisme adalah keamanan nasional dan
kelangsungan hidup Negara: ini merupakan nilai-nilai yang
menggerakkan doktrin kaum realis dan kebijakan luar negeri kaum
realis. Negara dipandang esensial bagi kehidupan warga negaranya;
tanpa Negara yang menjamin alat-alat dan kondisi-kondisi keamanan
dan yang memajukan kesejahteraan, kehidupan manusia dibatasi
menjadi, seperti pernyataanThomas Hobbes yang terkenal, terpencil,
miskin,
sangat
sangat
tidak
menyenangkan,
tidak
berperikemanusiaan dan singkat. Dengan demikian negara dipandang
sebagai pelindung wilayahnya, penduduknya, dan cara hidupnya yang
khas dan berharga. Kepentingan nasional adalah wasit terakhir dalam
menentukan kebijakan luar negeri. Masyarakat dan moralitas manusia

dibatasi pada Negara dan tidak meluas pada hubungan internasional


yang merupakan arena politik dari kekacauan yang besar, perselisihan,
konflik antar Negara-negara yang berkekuatan besar mendominasi
pihak-pihak lain.

Fakta bahwa semua negara harus mengejar kepentingan nasionalnya


sendiri berarti bahwa negara dan pemerintahan lainnya tidak akan
pernah dapat diharapkan sepenuhnya. Seluruh kesepakatan
internasional bersifat sementara dan kondisional atas dasar keinginan
negara-negara untuk mematuhinya. Semua negara harus siap
mengorbankan kewajiban internasionalnya yang berdasar pada
kepentingannya sendiri jika dua negara terlibat dalam konflik. Hal itu
menjadikan perjanjian-perjanjian dan semua persetujuan, konvensi,
kebiasaan, aturan dan hukum lainnya, antara negara-negara hanyalah
berupa pengaturan yang bijaksana yang dapat dan akan
dikesampingkan jika semua itu berseberangan dengan kepentingan
negara. Tidak ada kewajiban internasional dalam pengertian moral dari
kata itu (yaitu terikat kewajiban timbal balik) antara negara-negara
merdeka. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, satu-satunya
tanggung jawab mendasar warga negara adalah meningkatkan dan
mempertahankan kepentingan nasional.

Mazhab realisme terbagi menjadi dua bagian, yakni realisme atau sering
juga disebut dengan realisme klasik dan neo-realisme atau realisme
kontemporer. Ada perbedaan penting dalam teori HI antara realisme
klasik dan realisme kontemporer. Realisme klasik adalah salah satu dari
pendekatan tradisional yang terkenal sebelum revolusi kaum
behavioralis tahun 1950-an dan 1960-an. Pada dasarnya realisme klasik
merupakan pendekatan normatif dan memfokuskan pada nilai-nilai
dasar politik dari keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara.