Anda di halaman 1dari 2

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKSI OBAT

Karena beberapa jenis makanan dapat berinteraksi dengan obat yang kita minum, sehingga
obat tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Dampak dari obat yang berinteraksi dengan
makanan dapat mengakibatkan pada hal kecil sampai dampak yang berbahaya.
Sebenarnya faktor yang mempengaruhi kerja obat bukan hanya dari makanan saja, tapi beberapa
faktor seperti kondisi fisikseseorang, faktor lingkungan, juga dapat berpengaruh pada
peningkatan atau penurunan efektifitas dari obat tersebut.Akibat perbedaan cara dan tipe kerja
obat, respon terhadap sangat bervariasi. Faktor selain karakteristik obat juga mempengaruhi kerja
obat. Klien mungkin tidak memberi respon yang sama terhadap setiap dosis obat yang diberikan.
Begitu juga, obat yang sama dapat menimbulkan respon yang berbeda pada klien yang berbeda.
1. Perbedaan Genetik
Susunan genetik mempengaruhi biotransformasi obat. Pola metabolik dalam keluarga sering
kali sama. Fakktor genetik menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk
membantu penguraian obat. Akibatnya, anggota keluarga sensitif terhadap suatu obat.
2. Variabel Fisiologis
Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu. Hormon
dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam
proses metabolik yang sama. Variasi diurnal pada sekresi ekstrogen bertanggung jawab untuk
fluktuasi siklik reaksi obat yang di alami wanita
Usia berdampak langsung pada kerja obat. Bayi tidak memiliki banyak enzim yang diperlukan
untuk metabolisme oabt normal. Jumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan
mempengaruhi respon terhadap terapi obat. Sistem tubuh mengalami perubahan fungsi dan
struktur yang mengubah pengaruh obat. Perawat haus berupaya meminimalkan efek obat yang
berbahaya yang meningkatkkan kapasitas fungsi yang tersisa pada klien.
Apabila status nutrisi klien buruk, sel tidak dapat berfungsi dengan normal, sehingga
biotransformasi tidak berlangsung seperti semua fungsi tubuh, metabolisme obat bergantung
pada nutrisi yang adekkuat untuk membentuk enzim dan protein. Kebanyakan obat berikatan
dengan protein sebelum didistribusi ke tempat kerja obat.
Setiap penyakit yang merusak fungsi organ yang bertanggung jawab untuk farmakokinetik
normal juga dapat merusak kerja obat. Perubahan integritas kulit, penurunan absorpsi atau
motilitas saluran cerna, dan kerusakan fungsi ginjal dan hati hanya beberapa kondisi penyakit
yang berhubungan dengan kondisi yang dapat mengurangi kemanjuran obat atau membuat kliien
berisiko mengalami toksikasi obat.
3. Kondisi Lingkungan
Stres fisik dan emosi yang berat akan memicu respon hormonal yang pada akkhiirnya
mengganggu metabolisme obat pada klien. Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan
mengubah kkecepatan aktivitas enzim.
Pajanan pada panas dan dingin dapat memengaruhi respon terhadap obat. Klien hipertensi
diberi vasodilator untuk mengontrol tekanan darahnya. Pada cuaca panas, dosis vasodilator perlu
dikurangi karena suhu yang tinggi meningkatkan efek obat.cuaca dingin cenderung
meningkatkan vasokontriksi, sehingga dosis vasodilator ditambah.
Reaksi suatu obat bervariasi, bergantung pada lingkungan obat itu digunakan. Klien yang
dilindungi dalam isolasi dan diberikan analgesik memperoleh efekk peredaan nyeri yang lebih
kecil dibandingkan klien yang dirawat di ruang tempat keluarga dapat mengunjungi klien.
Contoh lain, jika meminum alkohol sendirian ; efek yang timbul hanya mengantuk. Namun,
minum bersama sekelompok teman membuat individu menjadi ceria dan mudah bergaul.

4. Faktor Psikologis
Sejumlah fator psikologis mempengaruhi penggunaan obat dan respon terhadap obat. Sikap
seseorang berakar dari pengalaman sebelumnya atau pengaruj keluarga. Melihat orang tua sering
menggunakan obat obatan dapat membuat anak menerima obat sebagai bagian dari kehidupan
normalnya.
Makna obat atau signifikasi mengosumsi obat mempengaruhi reaksi klien terapi. Obat dapat
digunakan sebagai cara untuk mengatasi rasa tidak nyaman. Pada situasi ini klien bergantung
pada obat sebagai media koping dalam kehidupan. Sebaliknya jika klien kesal terhadap kondisi
fisik mereka, rasa marah dan sikap bermusuhan dapat menimbulkan reaksi yang diinginkan
terhhadap obat.
Obat sering kali memberikan rasa aman. Penggunaan secara teratur obat tanpa resep atau obat
yang dijual bebas mis. Vitamin, laksatif, dan aspirin membuat beberapa orang merasa mereka
dapat mengontrol kesehatannya.
Perilaku perawat saat memberikan obat sangat berdampak secara signifikan pada respon klien
terhadap pengobatan. Apabila perawat memberikan kesan bahwa obat dapat membantu,
pengobatan kemungkinan akan memberikan efek yang positif. Apabila perawat terllihat kurang
peduli saat pasien kurang nyaman, obat yang diberikan terbukti relatif tidak efektif.
5. Diet
Interaksi obat dan nutrien dapat mengubah kkerja obat atau nutrien . contoh, vit. K
(terkandung dalam sayur hijau berdaun) merupakan nutrien yang melawan efek warfarin natrium
(coumadin), mengurangi efeknya pada mekanisme pembekuan darah. Minyak mineral
mengurangi absorpi vitamin larutan lemak. Klien membutuhkan nutrisi tambahan saat
mengkonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi. Menahan konsumsi nutrien tertentu dapat
menjamin efek terapeutik obat