Anda di halaman 1dari 13

studi kritis imunisasi dalam tinjauan syariat dan medis

Studi kritis imunisasi


Dalam
tinjauan Syariat dan medis


.


:
Tulisan ini adalah sebuah risalah fiqhiyyah an-nazilah (fiqh kontenporer) seputar imunisasi
yang menjadi polemik besar di kalangan ahli ilmu yang sebenarnya bukan kemampuan kami
untuk menguraikannya. Akan tetapi berawal dari permintaan salah satu ikhwan kepada kami
di mana didaerahnya terjadi sikap kolot terhadap masalah khilafiyah khususnya dalam
masalah ini maka kami mencoba dengan segala kekerdilan kami untuk menggoreskan tinta
ini dengan sikap tathofful bil ulama(bimbingan ulama)

Karena pembahasan ini ada sangkut pautnya dengan kedokteran maka kami berusaha untuk
mengumpulkan komentar-komentar ahli medis baik yang pro maupun kontra untuk
: memudahkan tashowwur (gambaran) riil yang ada, karena diantara kaidah fatwa adalah


hukum sesuatu adalah cabang dari gambaran terhadap sesuatu tersebut
Tulisan ini kami bagi menjadi beberapa bab
1. Moqoddimah
2. Definisi Imunisasi
3. Macam-macam imunisasi
4. Hukum asal imunisasi
5. Praktek imunisasi modern
6. Beberapa argumen/alasan bagi orang yang kontra dan anti dengan imunisasi
7. Perantara menuju jawaban
8. Tarjih dan analisa
9. Fatwa para ulama tentang imunisasi
10. Kesimpulan dan penutup
Yang perlu di sebutkan juga di sini bahwa masalah in adalah masalah fiqhiyyah ijtihadiyah
yang tidak menjadikan sesat orang yang menyelisihinya[2], dan apa yang saya tulis ini
belumlah titik, masih terbuka bagi semuanya untuk mencurahkan pengetahuan dan penelitian
baik dari segi ilmu medis maupun ilmu syari agar bisa sampai kepada hukum yang sangat
jelas
Dan kami nasehatkan agar janganlah kita meresahkan masyarakat dengan membuat keraguan
kepada mereka karena ini termasuk masalah-masalah umat apalagi telah keluar fatwa MUI
tentangnya[3]
Dan kami memohon tulisan ini bermanfaat khususnya pada pribadi kami dan para pembaca
yang budiman dan menjadi tambahan berat dalam mizan hari akhirat. Amiin

1. Moqoddimah
Perkembangan zaman dengan segala realitas kehidupan yang ada di dalamnya telah
memunculkan berbagai persoalan baru yang memerlukan respon keagamaan yang tepat dan
argumentatif. Banyak masalah-masalah baru yang tidak ada sebelumnya. Sekarang
membutuhkan fatwa khusus
Permasalahannya tidaklah serumit ini jika seandainya permasalahan-permasalahan baru
tersebut di pegang oleh ahli islam yang amanah. Hanya saja yang disayangkan kebanyakan
bahkan hampir seluruh permasaahan baru tersebut di pegang oleh orang-orang kafir atau
orang-orang zindiq yang tidak perduli lagi tentang halal & harom kita mengadu kepada
alloh atas segala kehinaan dan kekalahan kaum muslimin dalam segala bidangnyaOleh karena itu seringkali muncul permasalahan dan pertanyaan di kalangan kaum muslimin
di berbagai tempat yang tentunya membutuhkan jawaban yang benar sesuai dengan hukum
islam itu sendiri
Di antara permasalahan itu yang menjadi polemik dan kontroversi adalah masalah yang akan
kita bahas ini yaitu imunisasi yang di informasikan mengandung unsur-unsur harom seperti
adanya enzim babi untuk pembuatan imunisasi polio, padahal di waktu yang sama pemberian
imunisasi di zaman kita ini sangat di perlukan. Hal itu di sebabkan konsumsi-konsumsi
manusia saat ini yang hampir tidak lepas dari bahan-bahan kimia yang berbahaya sehingga
muncullah penyakit-penyakit yang tidak ada pada sebelumnya. Maka di buatlah imunisasi
yang merupakan tindakan preventif untuk mencegah datangnya penyakit-penyakit berbahaya
tersebut.

2. Definisi Imunisasi
Di sebutkan dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke tiga halaman : 428,
lafadznya :

Imun a Dok kebal thd suatu penyakit: kalau sudah di suntik TCD, orang akanthd penyakit
tipus, kolera , dan disentri;
Pengimunan n proses, cara, perbuatan menjadikan kebal thd penyakit;
Keimunan n keadaan imun; keadaan kebal thd penyakit
Imunisasi n Doc pengimunan; pengebalan (thd penyakit): pemerintah memberikan suntikan
TCD kepada murid SD dl rangkathd penyakit tipus, kolera, dan disentri
Imunitas n 1 keimunan; kekebalan; 2 Tan keadaan tumbuhan inang yg bebas dr serangan dan
kerusakan yg di sebabkan oleh penyakit (parasit)
Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa bahwa imunisasi adalah tindakan
pengebalan tubuh dari berbagai penyakit

3. Macam-macam imunisasi
Secara garis besarnya imunisasi terbagi menjadi dua :
A. Imunisasi Aktif
Imunisasi aktif adalah kekebalan tubuh yang didapat seseorang karena tubuh yang secara
aktif membentuk zat anti bodi.
1. Imunisasi aktif alamiah
Adalah kekebalan tubuh yang secara otomatis diperoleh setelah sembuh dari suatu penyakit.
2. Imunisasi aktif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan
perlindungan dari suatu penyakit
B. Imunisasi Pasif
Imunisasi Pasif adalah kekebalan tubuh yang bisa diperoleh seseorang yang zat kekebalan
tubuhnya didapatkan dari luar.
1. Imunisasi pasif alamiah
Adalah antibody yang didapat seseorang karena diturunkan oleh ibu yang merupakan orang
tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
2. Imunisasi pasif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang diperoleh karena suntikan serum untuk mencegah penyakit
tertentu. (http://colostrum.naikdaun.com/2010/07/jenis-dan-macammacam-imunisasikekebalan-tubuh-anti-bodi-ilmu-sains-biologi/)
Namun yang menjadi sorotan kita kali ini adalah macam imunisasi yang di peroleh dengan
vaksinasi (Imunisasi aktif buatan), dan kalangan ahli gizi & anak menyebutkan imunisasi
yang vital, yaitu :
1. BCG
- Perlindungan Penyakit : TBC / Tuberkolosis
- Penyebab : Bakteri Bacillus Calmette Guerrin
- Kandungan : Bacillus Calmette-Guerrin yang dilemahkan
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 2 bulan
2. DPT/DT
- Perlindungan Penyakit : Difteri (infeksi tenggorokan), Pertusis (batuk rejan) dan Tetanus
(kaku rahang).
- Penyebab : Bakteri difteri, pertusis dan tetanus
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
VI. Umur / usia 10 tahun

3. Polio
- Perlindungan Penyakit : Poliomielitis / Polio (lumpuh layuh) yang menyababkan nyeri otot,
lumpuh dan kematian.
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 3 bulan
II. Umur / usia 4 bulan
III. Umur / usia 5 bulan
IV. Umur / usia 1 tahun 6 bulan
V. Umur / usia 5 tahun
4. Campak / Measles
- Perlindungan Penyakit : Campak / Tampek
- Efek samping yang mungkin : Demam, ruam kulit, diare
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 9 bulan atau lebih
II. Umur / usia 5-7 tahun
5. Hepatitis B
- Perlindungan Penyakit : Infeksi Hati / Kanker Hati mematikan
- Waktu Pemberian :
I. Ketika baru lahir atau tidak lama setelahnya
II. Tergantung situasi dan kondisi I
III. Tergantung situasi dan kondisi II
IV. Tergantung situasi dan kondisi III
B. Jenis / Macam Imunisasi Vaksin Yang Dianjurkan Pada Anak :
1. MMR
- Perlindungan Penyakit : Campak, gondongan dan campak Jerman
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 1 tahun 3 bulan
II. Umur / usia 4-6 tahun
2. Hepatitis A
- Perlindungan Penyakit : Hepatitis A (Penyakit Hati)
- Penyebab : Virus hepatitis A
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi I
II. Tergantung situasi dan kondisi II
3. Typhoid & parathypoid
- Perlindungan Penyakit : Demam Typhoid
- Penyebab : Bakteri Salmonela thypi
- Waktu Pemberian :
I. Tergantung situasi dan kondisi
4. Varisella (Cacar Air)
- Perlindungan Penyakit : Cacar Air
- Penyebab : Virus varicella-zoster
- Waktu Pemberian :
I. Umur / usia 10 s/d 12 tahun 1 kali dan di atas 13 tahun 2 kali dengan selang waktu 4 s/d 8
minggu. (http://organisasi.org/jenis-macam-vaksin-imunisasi-untuk-anak-informasiimunisasi-lengkap-wajib-penangkal-penyakit)

4. Hukum asal imunisasi


Setelah kita ketahui mana imunisasi secara umum, maka tidak diragukan lagi bahwa hukum
asal imunisasi adalah boleh dan tidak terlarang, karena imunisasi termasuk penjagaan diri
dari penyakit sebelum terjadi . Rosululloh n Bersabda :


Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari
racun dan sihir (HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Berkata Syaikh bin Baz : tidak masalah untuk menggunakan obat untuk menolak atau
menghindari wabah yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi
wa sallam dalam hadits shahih, artinya : Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah
pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun. Ini termasuk tindakan
menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu
penyakit dan dilakukan pengebalan (imunisasi) untuk melawan penyakit yang muncul di
suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan
pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang
dikhawatirkan kemunculannya. (majmu fatawa wal maqolat syaikh ibnu Baz 6/26)
Berkata Ibnul Arobi as-Salafi al-Maliki : menurutku bila sorang mengetahui sebab penyakit
dan khawatir olehnya, maka boleh baginya membendungnya dengan obat. (al-Qobas :
3/1129)

5. Praktek imunisasi Modern


Sebagaimana yang telah kami sebutkan pada muqoddimah bahwa ini termasuk dampak dari
di pegangnya ilmu kedokteran oleh-orang barat yang notabenenya orang-orang kafir yang
bukan hanya jahil terhadap halal-harom akan tetapi bahkan memusuhi dan melecehkan islam
itu sendiri, dan saya mendapati permasalahan ini sering di jadikan senjata untuk menggugat
keabsahan hukum imunisasi
Permasalahan yang kami maksudkan adalah dalam imunisasi yang di kenal ahli medis saat ini
ada dua masalah yang membuat kening berkerut, yang pertama pemberian vaksin kedalam
tubuh, yang kedua bahan yang di gunakan dalam vaksinasi tersebut
a. Vaksinasi
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), vaksin diartikan dengan bibit penyakit yang
sudah di lemahkan, sedang vaksinasi adalah penanaman bibit penyakit yang sudah di
lemahkan kedalam tubuh manusia atau binatang (dengan cara menggoreskan atau
menusukkan jarum) agar orang atau binatang itu menjadi kebal terhadap penyakit tersebut.
(KBBI edisi : 3 hal : 1258).
Oleh karena itu kaidah inti dari imunisasi adalah memasukkan bibit penyakit yang telah
dilemahkan kepada manusia akan menghasilkan pelindung berupa anti bodi tertentu untuk
menahan serangan penyakit yang lebih besar
b. Bahan- bahan dalam pembuatan vaksin
telah tersebar beberapa informasi tentang bahan pembuatan vaksin terutama dalam dunia
maya (internet) bahwa bahan-bahan tersebut kebanyakannya terbuat dari benda benda yang
harom. Berikut sedikit kami nukilkan diantaranya :
Berkata Rini Puspitasari selaku staff of KKIA Departement FULDFK 2009/2010
Penggunaan janin bayi yang sengaja digugurkan ini bukan merupakan suatu hal yang
dirahasiakan publik. Sel line janin yang biasa digunakan untuk keperluan vaksin biasanya
diambil dari bagian tubuh seperti paru-paru, kulit, otot, ginjal, hati, kelenjar tiroid, timus, dan
hepar yang diperoleh dari aborsi janin. Lalu beliau melanjutkan
Disamping itu, vaksin dalam proses pembuatannya juga ada yang menggunakan enzim babi.
Vaksin yang terbuat dari babi yaitu vaksin polio. Seorang pakar dari Amerika mengatakan
bahwa vaksin polio dibuat dari campuran ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh
hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi [4]
(lihat :http://sk-sk.facebook.com/topic.php?uid=197538990489&topic=12546.) Demikianlah
kami nukilkan tanpa ada sedikit perubahan, dan kita serahkan kepada Alloh atas
kebenarannya

6. Beberapa argument / alasan bagi orang yang kontra dan anti dengan
imunisasi

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Melihat penjelasan secara global hakekat imunisasi modern maka banyak timbul
permasalahan hukumnya secara syariat dari beberapa kalangan baik dari ahli
medis(notabenenya para herbalis) itu sendiri atau dari ahli keagamaan. Diantara mereka
dengan menulis artikel atau buku untuk mengkampanyekan haramnya imunisasi dan yang
paling ringan diantara mereka hanya bersikap menahan imunisasi tanpa adanya seruan status
hukumnya. Di bawah ini saya sebutkan diantara argumen atas haramnya imuniasi di beberapa
diskusi kami di mahad kami dengan beberapa ikhwan dan sebagian asatidz juga dari
beberapa artikel mereka yang saya ambil dari internet[5]
Imunisasi terbuat dari bahan-bahan yang harom
Sistem vaksin membahayakan
Banyak kesaksian atas gagalnya imunisasi
Imunisasi adalah program KB terselubung yang bertujuan untuk memandulkan anak
Imunisasi bukanlah suatu yang dhorurot sehingga tidak bisa melegalkan yang harom
Imunisasi tidak penting bagi anak
Demikian sebagian alasan dan hujjah bagi orang-orang ayang meniadakan imunisasi. Lalu
bagaimanakah sebenarnya hakekat imunisasi tersebut? Sejauh mana bahaya imunisasi dan
manfaatnya? Dan bagaimanakah sikap seorang muslim menghadapi problematik seperti ini

7. Perantara menuju jawaban


Sebelum kita masuk permasalahan inti sekaligus jawaban dari hukum imunisasi ada beberapa
permasalahan yang harus kita pahami terlebih dahulu
1. Hukum berobat dengan hal yang di haromkan
Masalah ini terbagi menjadi dua bagian :
a. Berobat dengan khomr adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama, berdasarkan
hadits Thoriq bin Suwaid a, sesungguhnya ia bertanya kepada Rosululloh tentang khomr,
maka Rosululloh n melarang untuk membuatnya, lalu ia berkata lagi : sesungguhnya aku
membuatnya hanya untuk di jadikan obat, maka Rosululloh bersabda :


Sesungguhnya khomr itu bukanlah obat melainkan penyakit. (HR. Muslim:1984)
Berkata Imam an-Nawawi dalam syarah shohih muslim (13/153) : Hadist ini merupakan
dalil yang sangat jelas tentang haramnya khomr dijadikan sebagai obat
Berkata Syaikh Abu Malik dalam shohih fiqh sunnah (2/391) : maka masuk akalkah ada
dokter muslim yang mengetahui syariat islam mensifati khomr sebagai obat, padahal
rosululloh mensifatinya sebagai penyakit
b. Berobat dengan benda haram selain khomr. Masalah ini diperselisihkan ulama menjadi dua
pendapat :
Pendapat yang Pertama : Boleh dalam kondisi darurat.
Ini pendapat Hanafiyyah, Syafiiyyah, dan Ibnu Hazm. (lihat pemaparan khilaf dalam
majmu syarh muhadzab, karya imam an-nawawi : 9/50).
Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah :




()

Artinya : mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut
nama Allah ketika menyembelihnya, Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada
kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan

Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain)
dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih
mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
Demikian juga Nabi membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit (HR muslim
15/(2076, dan bolehnya orang yang sedang ihrom untuk mencukur rambutnya apabila ada
penyakit di rambutnya (Shohih Fihq Sunnah 2/203).
Kedua: Tidak boleh secara mutlak.
Ini adalah madzab Malikiyyah dan Hanabillah (lihat al-Mughni karya ibnu Qudamah 8/605).
Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi :

Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan jangan
berobat dengan benda haram (HR. Abu Dawud 3874, & di shohihkan syaikh al-albani dalam
asshohihah 4/174)
Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama, dan karena
sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin.
Pendapat yang kuat: Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram kecuali
dalam kondisi darurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi kriteria sebagai
berikut :
1)Penyakit tersebut penyakit yang harus diobati
2)Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut.
3)Tidak ada pengganti lainnya yang mubah. (lihat penjelasan lengkap masalah ini dalam kitab
Ahkamul-Adwiyah Fi syariah Islamiyyah kar. Dr. Hasan bin ahmad al-Fakki hal : 187)
2. Memahami mana dhorurot
Berkata syaikh Muhammmad bin Husain al-Jaizani : Yang di makud dhorurat (darurat)
menurut ahli fiqh & ushul adalah kebutuhan mendesak untuk menerjang syariat, terkandung
daam definisi ini dua poin penting, yaitu :
1. Dhorurot adalah kebutuhan mendesak yang tidak ada jalan keluarnya
2. Dhorurot adalah udzur yang dianggap oleh syariat & salah satu sebab keringanan yang
benar, yang mengharuskan menyelisihi hukum syari (Haqiqoh dhoruroh syariyyah, hal : 8)
Jadi hakekat dhorurot adalah ketika seorang memilki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak
menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada
badanya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan:


Darurat itu membolehkan suatu yang dilarang
Akan tetapi dhorurot ini memiliki syarat & dhowabit (kaidah), yaitu ada 4 :
1. Tegaknya kemadhorotan baik yakin atau persangkaan kuat
2. Adanya udzur (yaitu tidak bisa sama sekali dengan sarana yang halal)
3. Menggunakan sebatas dhorurot tersebut
4. Pandangan ke depan, di mana tidak ada bahaya yang mengancamnya
(Haqiqoh dhoruroh syariyyah hal : 14)
Berkata al-Izzu bin Abdussalam : Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis
maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada
kerusakan makan barang najis.[Qowaidu Ahkam hal : 141]
3. Masalah Istihalah

Istihalah adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang
berbeda nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, babi menjadi garam,
minyak menjadi sabun, dan sebagainya (Hasyiah ibnu Abidin : 1/210)
Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci? Masalah ini
diperselisihkan ulama.
1. Pendapat yang pertama, Istihalah dapat mensucikan benda najis
ini adalah pendapat hanafiyah, dhohiriyah, salah satu pendapat malikiyyah dan hanabilah,
Syaikhul Islam, Ibnul qoyyim, Assyaukani dan lain-lain
2. Pendapat yang kedua, Istihalah tidak dapat mensucikan benda najis
ini adalah pendapat syafiiyyah, hanabilah, sebagian madzhab malikiyyah & di ikuti abu
yusuf (murid abu Hanifiyyah)
di antara Hujjah mereka adalah : bahwasana benda najis tidak akan bisa suci dengan cara
apapun seperti darah menjadi nanah juga di kuatkan bahwa benda najis yang proses
istihalahnya dengan di bakar maka ia bagian dari najis tersebut & di ikutkan kenajisannya
sebagai sikap kehati-hatian (Wallohu alam sebatas pencarian kami dalil mereka hanya
sebatas nadhori (logika), berkata syaikhul islam : tidak ada mereka baik al-quran, sunnah,
ijma maupun qiyas)
hanya saya pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya
suci, dengan dalil-dalil berikut :
a.Ijma (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khomr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi
suci (al-Muhalla 1/117 7/433)
b.Pendapat mayoritas ulama bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak, berdasarkan
sabda Nabi :


Kulit bangkai jika disamak maka ia menjadi suci. ( Lihat Shohihul-Jami : 2711)
c.Benda-benda baru tersebut setelah perubahan hukum asalnya adalah suci dan halal,
tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya.
Pendapat ini di bela mati-matian oleh syaikhul islam (majmu fatawa & lihat argumentasi
beliau secara naql & aql dalam kitab tersebut 21/481-504)
Alangkah bagusnya ucapan Imam Ibnul-Qoyyim : Sesungguhnya benda suci apabila
berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah
menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin
benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari
kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi
patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal
nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya. (Ilamul
Muwwaqqin 1/394)
4. Masalah Istihlak
Maksud Istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya
yang suci dan hal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya,
baik rasa, warna, dan baunya.
Apakah benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat
yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan sabda Rosululloh :


Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun. (HR. Ahmad 3/31, Abu Dawud 66,
Tirmidzi 1/95 & di shohihkan syaikh albani dalam irwaul gholil 1/45)
dan sabda beliau :

Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.


(HR. Abu dawud 56 & di shohihkan syaikh albani dalam irwaul gholil 23).
Dua hadits di atas menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur
dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakn warna atau baunya
maka dia menjadi suci. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah berkata: Barang siapa yang
memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syariat, niscaya
akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa
berubah, sangat jauh dari logika.[Majmu Fatawa : 21/508]
Oleh karenanya, seandainnya ada seseorang yang meminum khomr yang bercampur dengan
air yang banyak sehingga sifat khomr-nya hilang maka dia tidak dihukumi minum khomr.
Demikian juga, bila ada seorang bayi diberi minum ASI (air susu ibu) yang telah bercampur
dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak
persusuannya.[al-Fatawa alKubro 1/423]

8. Tarjih & analisa


1.

Dari keterangan di atas kita katakan pada masalah imunisasi :


Anggapan imunisasi tidak penting bagi anak bahkan banyak kejadian gagal, dan sistem
vaksinasi yang sangat BERBAHAYA.
Untuk menjawab anggapan ini kami nukilkan keterangan Dr. Arief [6]yang kami anggap
tsiqoh (terpercaya) dalam masalam ini, beliau berkata dalam situsnya www.drarief.com,
setelah memaparkan anggapan-anggapan negatif seputar imunisasi : Isu-isu di atas adalah
TIDAK BENAR. Saat ini informasi bisa kita dapatkan dengan mudah dengan cara apapun.
Kita bisa mengetahui dari belahan dunia manapun dengan mudah dan cepat. Kita bisa
menyaksikan bagaimana dunia berlomba-lomba meningkatkan kecanggihan vaksin untuk
meningkatkan kekebalan tubuh anak, dengan mengurangi efek samping hingga seminimal
mungkin. Sekarang kita juga bisa membuktikan bahwa para ahli di seluruh dunia sepakat
bahwa imunisasi adalah penting.
Bagi beberapa orang yang termakan isu-isu di atas, silakan Anda cari informasi terkini yang
berkenaan dengan imunisasi tersebut. Insya Allah Anda akan menemukan 100% informasi
yang ilmiah tentunya, bukan sekedar asal ngomong belaka yang akan mendukung dan
menguatkan dasar pentingnya dilakukan imunisasi.
Toh anak saya juga sehat nggak pakai imunisasi nah lho? Memang benar ada
kemungkinan anak Anda tetap sehat tanpa imunisasi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh
dr. Adi di atas tadi, imunisasi bertujuan untuk memproteksi bukan 100%, terhadap penyakit.
Ini artinya, bila sang anak yang sehat tanpa imunisasi tadi tidak tertular oleh penyakit yang
dia tidak memiliki daya tahan terhadapnya maka kita sebut saja dia beruntung. Contohnya
penyakit tuberculosis (TBC) yang dinyatakan secara statistik (dihitung orang per orang di
setiap negara) bahwa Indonesia salah satu yang menduduki peringkat tertinggi di dunia.
Apakah Anda tega membiarkan sang anak tanpa perlindungan dan hanya berbekal semoga
beruntung saja?
Anak yang sudah diimunisasi dengan baik masih mungkin tertular penyakit tersebut. Namun,
dibandingkan dengan yang tidak diimunisasi, tingkat sakitnya akan jauh berbeda.
Sebagai permisalan, pada saat turun hujan; anak yang diimunisasi adalah ibarat anak yang
memakai jas hujan dan yang tidak diimunisasi adalah ibarat anak yang tidak memakai jas
hujan. Apakah mungkin yang memakai jas hujan masih basah ? Mungkin saja! Tapi coba
bandingkan dengan yang tidak pakai jas hujan. Tentu derajat basahnya tidak akan sama
Nah khusus untuk poin isu ke-2 (sistem vaksinasi) di atas yang mungkin diyakini
kebenarannya oleh beberapa orang, saya punya penjelasan sedikit ..Imunisasi memang benar
berarti memasukkan penyakit ke dalam tubuh anak.. tapi tunggu dulu, bukan sembarang
penyakit yang dimasukkan ke dalam tubuh sang anak tersayang.Vaksin penyakit yang

dimasukkan kedalam tubuh anak pada imunisasi khusus untuk penyakit-penyakit yang
terpilih yang berpotensi menimbulkan akibat yang fatal atau cacat yang permanen pada masa
depannya. Vaksin tersebut adalah penyakit yang telah dilemahkan di laboratorium dan telah
teruji secara klinis, sehingga yang didapatkan oleh sang anak adalah kekebalan terhadap
penyakit tersebut dalam wujud sebenarnya yang tidak dilemahkan.
Tubuh manusia memiliki suatu mekanisme untuk belajar mengatasi rangsangan dari luar. Ini
adalah suatu karunia yang sangat besar yang diberikan Allah SWT kepada manusia.
Rangsangan ini bisa berwujud perubahan cuaca dari panas ke dingin (atau sebaliknya),
kontak dengan bakteri dan virus yang ada di udara bebas, kontak dengan alergen; atau
singkatnya : kontak dengan dunia luar. Anak yang sehat memiliki kemampuan untuk
mempelajari dan membuat kesimpulan tentang apa yang dipelajarinya. Ini juga terjadi pada
sistem imun (kekebalan) tubuhnya. Proses belajar pada kekebalan tubuhnya akan langsung
terjadi sesaat setelah seseorang bersinggungan dengan penyakit (misalnya dari orang lain).
Kekebalan akan didapatkan sebagai hasil akhir / kesimpulan dari proses belajar tersebut
dengan catatan bila status gizi pada tubuhnya baik. Mungkin ia akan mengalami sakit
dahulu, namun tubuhnya akan terus mempelajari dan membuat kesimpulan terhadap penyakit
tersebut.
Kekebalan dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu kekebalan aktif dan kekebalan pasif.
Bedanya, yang satu didapatkan setelah seseorang sembuh dari suatu penyakit, dan yang
lainnya didapatkan melalui vaksin penyakit tersebut.
Sebagai contoh : Seseorang bernama A terkena penyakit sebut saja penyakit X. Setelah
sembuh, si A tadi akan memiliki kekebalan terhadap penyakit X tersebut. Pada kasus lain,
seseorang lainnya bernama B mendapatkan vaksinasi penyakit X, dan dia mendapatkan
kekebalan terhadap penyakit X tersebut. Menurut Anda, mana yang lebih bagus ? si A atau
si B ? Anda menjawab Tentu saja si A !. Benarkah ?..
Mungkin jawaban di atas benar, bila penyakit X yang dimaksud adalah penyakit yang
sederhana, seperti flu biasa. Yang jadi masalah adalah : bagaimana bila penyakit X yang
dimaksud adalah suatu penyakit yang fatal dan berpotensi untuk meninggalkan kecacatan???
Misalnya penyakit X tersebut adalah Polio, si A yang mendapat kekebalan setelah sembuh
dari sakitnya belum tentu bisa berjalan dengan baik, bahkan mungkin ia tidak dapat berjalan
lagi; sementara si B yang mendapatkan vaksinasi polio juga mendapatkan kekebalan
terhadap penyakitnya, tetapi tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu. Apa artinya
seseorang memperoleh kekebalan setelah sembuh dari sakitnya, tapi ia kini juga memperoleh
kecacatan (buta, lumpuh, dll) ? Tentu tidak banyak artinya. Apalagi pada konteks anak, masa
depannya masih sangat-sangat-amat panjang sekali( http://www.drarief.com/fatwa-ulamatentang-imunisasi/) di nukil dengan sedikit perubahan2. Bahan-bahan imunisasi yang haram.
Pertama kami : katakan bahwa memang dari imunisasi ada bahan-bahan yang harom semisal
enzim babi dll ( bedasarkan banyaknya keterangan ahli medis) namun ada yang menurut saya
berlebih-lebihan ketika menyebutkan bahan-bahan vaksin yang menyeramkan & menjijikkan
(seperti : sel kanker manusia, bayi kuda, ekstrak mentah lambung babi, nanah dll) dan efek
samping, seperti yang mereka sebutkan VAKSINASI SEBAB TERBESAR MATI
MENDADAK, IMUNISASI = IQ RENDAH DLL yang kebanyakan hanya menukil tanpa
menyebukan buku referensi kedokteran yang autentik, oleh karena itu dr. Arief mengatakan
ketika di tanya masalah tersebut dalam situsnya tersebut Saya mengutip ucapan beberapa
ustadz terkait hal ini, kejelasan kandungan yang berasal dari bahan yang haram juga tidak
ditunjang dengan data yang pasti. Referensi syariah saya dalam hal ini adalah ustadz Abu
Zubair Hawaary, dan ustadz Sufyan Baswedan, keduanya adalah alumni Madinah, insya
Allah bisa dipegang fatwanya.

Yang kedua : kalau memang kenyataannya seperti itu maka kami katakan : bukankah kita
telah bahas pada bab yang lalu tentang masalah istihalah bahwa yang rojih adalah bisa
mensucikan, dan proses pembuatan imunisasi sebagaimana keterangan-keterangan ahli medis
(terutam anggota LPPOM)[7] 100% sudah bersih dari bahan-bahan harom tersebut[8].
Berikut kami nukilkan mereka dalam masalah vaksin meningitis
Berkata Dr H Achmad Sanusi, SpPD, ketua MPKS dalam acara press briefing tentang
persiapan WHA dan vaksin meningitis di gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (14/5/2010) :
"Kami mengkaji sistem ilmiahnya tentang bagaimana proses dari awal hingga didapatkan
produk akhir, untuk vaksin meningitis ini yang diambil hanya polisakarida. Beliau juga
mengatakan Bahan yang digunakan untuk membuat vaksin adalah polisakarida. Berdasarkan
kajian yang kami lakukan, didapati bahwa hasil akhir yang berupa polisakarida tersebut tidak
mengandung apa-apa.
Juga apa yang di ungkapkan salah satu anggota LPPOM."Memang benar dalam proses
produksinya vaksin meningitis bersentuhan dengan babi. Tapi vaksinnya sudah tidak
mengandung babi lagi karena dilakukan proses ultrafiltrasi."
(http://www.detikhealth.com/read/2010/05/14/134221/1356995/763/bahan-akhir-vaksinmeningitis-bebas-kandungan-babi?ld991107763)
3.
Manfaat dan bahaya imunisasi
Sebenarnya poin ini sudah di jelaskan di depan dari keterangan dr. Arief, namun perlu kami
tambahkan bahwa manfaat imunisasi itu suatu yang tidak samar karena itu adalah tujuan dari
di buatnya imunisasi adapun efek samping darinya maka seharusnya kita beri arahan dan
motivasi kepada para dokter untuk meningkatkan kwalitas dan meminimalkan efek
sampingnya, bukan malah membuat putus asa mereka dengan langsung vonis yang buruk.
Dan sesungguhnya kejadian atas gagalnya imunisasi terhadap beberapa orang tidaklah
mengubah status hukumnya, itu seperti beberapa obat atau tindakan medis (seperti operasi,
kemoterapi dll) yang pernah mengalami kegagalan. Lantas apakah kita mengatakan tindakantindakan medis tersebut haram semuanya?!
9. Fatwa para ulama tentang imunisasi.
Sebagai pelengkap pembahasan ini kami nukilkan fatwa para ulama
1. Fatwa Majelis Eropa Lil-Ifta wal Buhuts
Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: Setelah Majelis mempelajari
masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syariat, kaidah-kaidah fiqih serta
ucapan para ahli fiqih, maka Majelis menetapkan :
1) Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yanitu melindungi anakanak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah. Sebagaimana belum ditemukan adanya
pengganti lainnya hingga sekarang. Oleh karena itu, menggunakannya sebagai obat dan
imunisasi hukumnya boleh, karena bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar.
Sesungguhnya pintu fiqih luas memberikan toleransi dari perkara najis- kalau kita katakan
bahwa cairan (vaksin) itu najis- apalagi terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur denga
memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam
kategori darurat atau hajat yang sederajat dengan darurat, sedangkan termasuk perkara yang
dimaklumi bersama bahwa tujuan syariat yang paling penting adalah menumbuhkan
maslahat dan membedung mafsadat.
2) Majelis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz agar
mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah (berada dalam ruang lingkup ijtihad)
seperti ini yang sangat membawa maslahat yang besar bagi anak-anak muslim selagi tidak

bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.[ Website Majlis Eropa Lil Iftawal Buhuts/www.ecfr.org, dinukil dari kitab Fiqh Shoidali al-Muslim hlm. 107.]
2. Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia)
Majelis Ulama Indonesia dalam rapat pada 1 Syaban 1423H, setelah mendiskusikan masalah
ini mereka menetapkan :
1). Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari atau
mengandung- benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram.
2). Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat
ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.[ Himpunan Fatwa
Majelis Ulama Indonesia hlm. 370.]

10.

kesimpulan dan penutup

Setelah keterangan di atas, maka kami memandang bolehnya imunisasi dengan kriteriakriteria di atas atau yang semisalnya, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya jenis
imunisasi yang di sepakati bahayanya yang memunculkan hukum baru
Kami menyimpulkan juga dari beberapa diskusi ilmiyyah yang menjadi titik dasar
perselisihan adalah ADA BAHAN HARAMNYA dan telah berlalu penjelasannya pada bab
istihalah bahwa yag rojih adalah bisa mensucikan demikian juga masalah istihlak, oleh
karena itu ketika MUI memfatwakan bolehnya imunisasi jenis IPV adalah karena alasan
darurat, karena memang pendapat MUI dalam hal ini adalah syafiiyyah yang meniadakan
pengaruh istihalah ataupun istihlak[9]
Adapun manfaat dan madhorot yang di timbulkannya kami memandang seperti umumnya
obat-obat kimia yang memilikiki beberapa efek samping akan tetapi dengan adanya
rekomendasi para dokter insyaalloh- manfaatnya lebih besar dari pada bahayanya
Kemudian kita juga katakan bahwa asal imunisasi adalah boleh sedangkan bahaya yang di
hasilkannya minimalnya masih tanda tanya dalam artian meragukan. Dan dalam kaidah
fiqhiyyah di katakan :


Suatu yang yakin tidak bisa hilang dengan suatu yang meragukan
Meskipun walohu alam kecenderungan hati kami bahwa imunisasi bukanlah suatu yang
darurat karena kami tidak dapati pengaruh imunisasi seperti definisi darurat yang di
terangkan ulama lebih-lebih kalau kita mau menerapkan back to nature kembali kepada
yang alami & juga memakai tibbun nabawi yang telah teruji secara medis memiliki
kandungan imun yang sangat besar[10]
Dan tulisan ini juga bukan ajakan wajib imunisasi. Akan tetapi seperti inilah tindakan
obyektif dalam hukum islam, adapun setiap pribadi maka silahkan memakainya jika di
pandang imunisasi sangatlah urgen dan bagi yang lebih percaya pada thibbun nabawi
silahkan meninggalkannya dan berusaha kembali ke hidup sehat ala rosul, akan tetapi kami
ingatkan agar selalu menyandarkan semuanya kepada Allah dan kita tidak boleh sombong
dengan sebab yang kita upayakan dalam menjaga kesehatan anak-anak kita -baik dengan cara
imunisasi ataupun thibbun nabawiBagi yang mengimunisasi, kemudian anaknya terkena penyakit yang dikhawatirkan, maka ia
tidak akan menyalahkan vaksin itu sendiri, Kenapa kok masih sakit padahal sudah di
imunisasi Karena memang sudah dijelaskan bahwa vaksin tidak memastikan bebas dari
penyakit tersebut dan kita berusaha bersabar menerima takdir yang Allah tetapkan.
Begitupun kepada yang tidak mengimunisasi anaknya dan memilih thibbun nabawi, maka
ketika anaknya terkena penyakit yang dikhawatirkan, maka tidak boleh menyalahkan thibbun
nabawi tersebut sehingga mengurangi rasa cintanya pada thibbun nabawi dan kemudian
menyalahkan diri dan menyesali, kalau seandainya dulu pake vaksin.

Karena kembali lagi, semuanya itu telah ditetapkan oleh Allah dan kita berusaha bersabar dan
menerimanya.
Dan untuk kedua belah pihak, kalau seandainya anak saudaranya terkena penyakit yang
dikhawatirkan, jangan bersikap sombong terhadap saudaranya, Makanya, harusnya dulu
diimunisasi. atau ternyata yang terkena adalah anak yang diimunisasi, maka yang tidak
mengimunisasi juga jangan sombong, sehingga kemudian masing-masing pihak lupa berdoa
kepada Allah bahwa semua itu -kesehatan dan musibah yg tidak terkena padanya- adalah
semata-mata keutamaan dari Allah dan hendaklah kita selalu memanjatkan doa kepada Alloh


Segala puji bagi Allah yg telah memberi keutamaan kepadaku atas banyak orang.
Dan akhirnya ini yang bisa kami uraikan seputar imunisasi sejauh tashowwur kami dari
beberapa referensi karena keterbatasan referensi kami, dan kami sangat mengharapkan
masukan dari saudara semua baik dari pemuka agama atau dari kalangan ahli medis. Dan apa
yang ada dalam tulisan ini jika ada benarnya maka semata-mata dari Alloh dan jika ada
kesalahan maka itu dari kami dan syaithon dan alloh dan rosulnya berlepas diri darinya.