Anda di halaman 1dari 20

Tugas Makalah

Kelompok Mata Kuliah Politik Luar Negeri Republik Indonesia

Kebijakan Luar Negeri Indonesia Terhadap Malaysia Terkait Dengan Kebakaran


Hutan di Provinsi Riau

Dosen Pembimbing:
Reuspatyono

Disusun Oleh:
Arifasjahriza 0801512029
Dilla Augusta 0801512005
Putri Quarta Capriarti 0801512028
Saarah Ayu Qonitah 0801512001

FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK


PRODI HUBUNGAN INTERNASIONAL
UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berjudul
Kebijakan Luar Negeri Indonesia Terhadap Malaysia Terkait Dengan Kebakaran Hutan
di Riau.
Makalah ini disusun untuk melengkapi nilai mata kuliah Politik Luar Negeri
Indonesia serta agar pembaca dapat mengetahui mengenai isu Asap Kebakaran hutan
di Riau dan dampaknya terhadap negara Malaysia, serta kebijakan pemerintah
Indonesia dalam menghadapi permasalahan ini.
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
membantu penulis dalam pembuatan makalah ini, terutama kepada:
1. Bapak Reus selaku dosen mata kuliah Politik Luar Negeri Indonesia
2. Teman-teman dan keluarga yang mendukung
Dengan tersusunnya makalah ini, diharapkan makalah ini dapat dimanfaatkan
sebagai media untuk menambah wawasan. Penulis menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk
memperbaiki makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih.

Jakarta , 20 Mei 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................... 2
DAFTAR ISI.................................................................................................................. 3
BAB I........................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN........................................................................................................... 4
1.1

LATAR BELAKANG........................................................................................... 4

1.2

RUMUSAN MASALAH...................................................................................... 4

1.3

TUJUAN PENELITIAN....................................................................................... 5

1.4

MANFAAT PENELITIAN.................................................................................... 5

1.5

METODE PENGUMPULAN DATA.......................................................................5

1.6

SISTEMATIKA PENULISAN............................................................................... 5

BAB II.......................................................................................................................... 7
ISI............................................................................................................................... 7
2.1

KEBAKARAN HUTAN DI RIAU........................................................................7

2.2

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI RIAU.........................................................9

2.3

DAMPAK KABUT ASAP DI RIAU TERHADAP NEGARA TETANGGA (MALAYSIA)


11

2.4 KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP MALAYSIA TERKAIT


DENGAN KEBAKARAN HUTAN DI RIAU................................................................12
2.5 PERSETUJUAN INDONESIA ASEAN UNTUK MENANGGULANGI KABUT ASAP
RIAU 14
BAB III....................................................................................................................... 17
PENUTUP.................................................................................................................. 17
3.1

KESIMPULAN.......................................................................................... 17

BAB I
PENDAHULUAN
1

LATAR BELAKANG
Terjadi kebakaran hutan di Indonesia memang sudah seringkali terjadi
sehingga membuat wargasetempat menjadi cemas dan dilanda ketakutan karena
kabut asap yang terjadi karena pembakaran hutan. Sama dengan kasus
pembakaran hutan yang terjadi pada bulan Februari awal tahun 2014 kemarin di
provinsi Riau, Sumatera Barat. Kebakaran hutan ini menyebabkan kabut asap
menjadi sangat tebal sehingga membuat warga disekitar Riau terjangkit penyakit
yang berhubungan dengan masalah pernapasan.
Kebakaran hutan tidak mungkin terjadi begitu saja, dikarenakan pasti ada
oknum-oknum yang terlibat dalam pelaksanaan pembakaran hutan tersebut.
pembakaran hutan biasanya dilakukan untuk kepentingan-kepentingan pribadi
dari oknum yang ingin meraup sejumlah keuntungan dari hutan tersebut tanpa
memikirkan akibat yang ada.
Akibat yang terjadi dikarenakan adanya pembakaran hutan adalah asap
yang menyebar luas tidak hanya ke negeri sendiri tetapi juga ke negara tetangga.
Sehingga negara tetangga merasa risih serta kurang nyaman dikarenakan adanya
kabut asap kiriman yang terbawa oleh awan Riau yang juga merugikan negara
tetangga khususnya Malaysia.
Dalam televisi lokal Malaysia menyebutkan banyak penerbangan tertunda
yang diakibatkan oleh kabut asap kiriman dari Riau 1. Sehingga pemerintahan
dan wibawa Indonesia tercoreng dikarenakan dinilai kurang sigap dalam
menyelesaikan masalah kasus kebakaran hutan tersebut.
Oleh karena itu ada dua tindakan yang diambil oleh pemerintahan
Indonesia, dimana tindakan ini diharapkan dapat membuat kasus kebakaran
hutan menurun jumlahnya di negara ini.

RUMUSAN MASALAH

1 http://www.riau24.com/berita/baca/17810-berita-kabut-asap-riau-ditayangkan-tvmalaysia-muka-pemerintah-tercoreng/
5

1. Apakah penyebab dari kebakaran hutan di Riau?


2. Bagaimana dampak kebakaran hutan di Riau terhadap lingkungan
sekitarnya?
3. Bagaimana reaksi dari Negara tetangga Indonesia (Malaysia) terkait dengan
asap kebakaran hutan di Riau?
4. Apa kebijakan yang diambil Indonesia terhadap Malaysia terkait dengan
kebakaran hutan di Riau?
3

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penulis dalam mengulas kajian ini secara garis besar adalah
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kebijakan luar negeri yang diambil Indonesia
terhadap Malaysia untuk mengatasi masalah kebakaran hutan di Riau.
2. Secara khusus makalah ini disusun untuk melengkapi nilai tugas
kelompok di Universitas Al Azhar Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional.

MANFAAT PENELITIAN
Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca atau mahasiswa/i
dapat lebih mengetahui mengenai isu kebakaran hutan di Riau serta dampaknya
terhadap negara Malaysia, dan kebijakan luar negeri Indonesia terhadap
Malaysia terkait masalah tersebut.

METODE PENGUMPULAN DATA


Data-data dan informasi yang dikemukakan dalam makalah ini diperoleh
dengan membaca jurnal atau tulisan yang dapat diperoleh melalui internet,
buku-buku sumber, yang berhubungan dengan isu kebakaran hutan di Riau.

SISTEMATIKA PENULISAN
Makalah terdiri dari tiga bab dan daftar pustaka, disusun dengan urutan
sebagai berikut:
6

Bab I merupakan bab pendahuluan yang berisikan latar belakang


masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

metode pengumpulan data, sistematika penulisan.


Bab II membahas mengenai penyebab kebakaran hutan di Riau dan
dampanya terhadap lingkungan dan negara Malaysia, serta kebijakan

luar negeri RI untuk mengatasi masalah tersebut.


Bab III merupakan bab terakhir yang berisikan saran dan kesimpulan

dari bab-bab sebelumnya.


Terakhir, terdapat daftar pustaka yang memuat daftar berisi buku,
makalah, artikel, dan bahan bacaan lainnya yang dikutip atau digunakan sebagai
sumber informasi dalam penulisan makalah.

BAB II
ISI
2.1

KEBAKARAN HUTAN DI RIAU

Dari berita yang kita ketahui yang bersumber dari kementrian kehutanan
meyakinkan bahwa adanya oknum-oknum yang secara sengaja membakar hutan
di Riau, yang luas dari hutannya sendiri adalah 10.000 hektar, diyakinkan untuk
dijadikan lahan kosong untuk mendirikan suatu perusahaan atau semacamnya
oleh oknum tersebut. Kementrian kehutanan sendiri (Sumarto) mengatakan
hutan yang ada di Riau adalah hutan gambut yang berarti mengandung sangat
banyak air yang berada di akar, sehingga tidak mudah kebakaran atau sangat
kecil kemungkinan untuk terbakar sekalipun sedang dalam musim kering atau
kemarau, karena di bagian akar tanaman gambut berisi air yang sangat banyak.
Kebakaran hutan di Riau adalah kebakaran hutan terparah dari tahun 1997
karena saat asap tahun 1997, masyarakat masih bisa mengirup udara segar dan
matahari dibanding tahun 2014 ini.
Sumarto meyakinkan juga bawah oknum-oknum yang terkait dalam
pembakaran hutan juga sudah mengetahui bagaimana caranya agar gambut ini
dapat terbakar dengan sempurna,2
yang saya ketahui adalah cara membakar gambut adalah dengan di buatnya kanalkanal, yang terdapat sungai kecil, yang berfungsi untuk mengeringkan gambut dari air atau
meresap air yang terdapat dari gambut, karena akar gambut selalu basah dibutuhkannya sungai
kecil itu untuk menarik air dari akar gambut, jika sudah terbakar maka tanaman gambut adalah
tanaman yang paling susah dipandamkan sekalipun sudah disemprotkan air yang cukup banyak,
karena api membara sampai ke akarnya dan air pasti sudah habis dimakan oleh api di atas
sebelum sampai ke permukaannya, karena api yang menjalar sampai ke dalam akar gambut, dan
akan terus apinya berkobar jika terkena angin, dan menyebar ke tanaman gambut lainnya.

Oknum-oknum yang bertanggung jawab ini tidak memikirkan pula


dampak yang terjadi dari membakar hutan yang berjenis gambut ini, yang sudah
di jelaskan diatas tanaman gambut adalah tanaman yang sangat susah di
2 Penyebab Kebakaran Hutan di Riau, http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/03/15/n2gmmb-inipenyebab-kebakaran-hutan-di-riau (diakses pada 20 Mei 2014, pk.14.00 WIB)

padamkan dan asap yang di tinggalkan pun bukan main parahnya,


perbandingannya adalah satu (1) hektar lahan yang terbakar seperti seribu (1000)
hektar lahan yang terbakar, asapnya sangat tidak bersahabat, karena terjadinya
asap yang luar biasa maka dampaknya yang paling jelas adalah tidak bisa
operasinya pesawat terbang karna jarak pandang yang sangat pendek, dan
bandara seperti di Jambi, Padang, dan Riau harus ditutup, kerugian yang terjadi
sangat banyak karena pembatalan penerbangan yang terjadi dari bandara yang
bersangkutan.
Oknum oknum yang di duga terlibat dalam kebakaran hutan di Riau
adalah 23 perusahaan yang diduga tersangka dalam kebakaran hutan yang
terjadi di Riau, keterlibatan 23 perusahaan tengah ditelusuri 21 PPNS KLH yang
diturunkan ke Riau. Kambuaya (mentri lingkungan hidup) enggan merinci
perusahaan apa saja yang teridentifikasi membakar lahan tersebut. "Belum bisa
disebutkan. Dalam waktu 6 bulan, penyelidikannya selesai," tandas Kambuaya.
Dalam melaksanakan tugas, 21 PPNS dari KLH itu dibantu PPNS dari
Provinsi Riau. Mereka juga berkoordinasi dengan Polda Riau sebagai
Koordinator Pengawasa Penyidik (Korwasdik). "Pasti akan dilakukan koordinasi.
Polda Riau menjadi Korwasdik. Nanti akan dilakukan koordinasi dengan Polda
Riau," jelas Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo SIK, dikonfirmasi
secara terpisah.3
Sementara itu, Polda Riau menetapkan 1 perusahaan yang diduga
membakar hutan dan lahan di Kepuluan Meranti. Disamping itu, Polda juga
menyelidiki keterlibatan perusahaan lainnya. "Bukti-bukti dan keterangan masih
dikumpulkan. Kalau ada bukti cukup, perusahaan yang terlibat akan ditindak
tegas dan dijerat engan 4 Undang-Undang berlapis.

Ada lingkungan,

pencemaran karena limbah, perusakan hutan dan lahan.


Sekarang, Riau pun masih berupaya untuk menanggulangi asap tersebut
dengan satgas udara memodifikasi cuaca agar keadaan di cuaca di riau selalu
hujan dan ada pesawat penyiraman yaitu bolco,casa dan hercules. Dan juga mau
diadakan peswat amfibi dari Rusia.
Pemerintah Riau telah merancang program antisipasi bencana asap, salah
satunya membentuk Satgas Pemadam di setiap desa di Riau serta mewajibkan
setiap pemilik kebun memiliki embung (sumur) sebagai sumber air untuk
3 Ibid.
9

antisipasi kebakaran. "Saat ini tengah dibahas dalam penganggaran APBD untuk
honor Satgas Pemadam, kemudian berupaya memperoleh payung hukum dari
Kementerian Dalam Negeri.
Pekatnya kabut asap di Riau juga berdampak ke tiga provinsi di
sekitarnya, yakni Sumatera Selatan, Jambi, dan Sumatera Barat. Tiga provinsi itu,
Kamis, menetapkan siaga kabut asap.
Kabut asap terpantau di Kota Palembang, Kabupaten Musi Banyuasin,
dan Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Posko penanggulangan kabut asap juga
didirikan di provinsi itu.
2.2

DAMPAK KEBAKARAN HUTAN DI RIAU

Kabut asap tebal yang disebabkan oleh pembakaran hutan di Riau, telah
menimbulkan dampak yang serius pada ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Pada hari Kamis (13/03), Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB)
mengatakan, kondisi kualitas udara di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya "sudah
pada level berbahaya."4
Dari

beberapa

ISPU

yang

tersebar di Riau menyebutkan rata-rata


angka pencemaran udara berkisar 300500 polutan standar indeks. Alat ISPU
yang berada di Rumbai misalnya,
mencatat tingkat polusi 359 psi, Duri
Camp 409 psi, Libo 449 psi dan di Siak,
Kandis, Dumai, Perawang, Duri Field
dan Bangko sudah menunjukan angka
500 psi.
Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan bila tingkat pencemaran
udara sudah melebihi angka 300 psi, maka kualitas udara di daerah tersebut

4 Kabut Asap Riau,


http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/03/140314_kabut_asap_komentar_bnpd_riau.shtm
l (diakses pada 20 Mei 2014, pk. 19.00 WIB)
10

dikategorikan berbahaya. "Indeks standar hampir 300-500 dan ini sudah masuk
sangat berbahaya," kata Sutopo.
Menurut Sutopo, tingginya tingkat pencemaran udara di Riau disebabkan
kebakaran lahan dan hutan yang semakin meluas. Data yang dimiliki BNPB
setidaknya mencatat sebanyak 187 titik api yang tersebar di Kepulauan Riau.
"Titik api terus bertambah karena pembakaran liar. Ini tentu saja membuat kabut
asap makin pekat," ujarnya.
Kondisi ini menyebabkan banyak masyarakat yang menderita penyakit
paru-paru. Dari data BNPB, jumlah penderita infeksi saluran pernafasan akut
atau ISPA di wilayah itu mencapai 38.111 jiwa, penomonia 811 jiwa, asma 1.464
jiwa dan 1.276 jiwa yang mengalami iritasi mata.5
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi telah mengeluarkan himbauan kepada
masyarakat di Riau agar tidak sering melakukan aktivitas di luar rumah. Karena
dampak asap kebakaran hutan itu sangat berbahaya bagi kesehatan. "Sesedikit
mungkin ke luar (rumah) klaupun keluar pakai masker," kata Menteri Kesehatan
Nafsiah di Kantor Wakil Presiden, Selasa 11 Maret 2014.
Kementeriannya telah bekerjasama dengan PBB dalam melakukan
edukasi kesehatan kepada masyarakat akan bahayanya menghirup asap dampak
kebakaran hutan. Diharapkan masyarakat agar asap jangan sampai masuk ke
saluran pernafasan dan mata. "Kita juga sediakan pengobatan," terangnya.
Oleh karena asap ini mengganggu kesehatan dan aktivitas penduduk
Riau dan sekitarnya, sekolah pun terpaksa diliburkan. Disamping itu pekatnya
kabut asap ini juga mengganggu penerbangan karena jarak pandang terbatas.
Sejak beberapa hari ini Bandara Sultan Kasim II Pekanbaru nyaris lumpuh.
Tak hanya itu, Bandara Sultan Thaha Jambi juga kena getahnya. Aktivitas
bandara sempat terganggu, beberapa penerbangan terpaksa dialihkan. Bahkan
lalu-lintas transportasi di Sungai Batanghari pun ikut lumpuh karena jarak
pandang yang kurang dari 10 meter membuat semua nakhoda kapal lego
jangkar di tengah sungai. Mereka menghindari terjadinya kecelakaan dalam
pelayaran.

5 Tara, Keadaan Luar Biasa Kabut Asap Riau, http://www.kitanews.co/1394647937-keadaan-luar-biasakabut-asap-riau.html (diakses pada 20 Mei 2014, pk. 20.00 WIB)
11

Setidaknya pada Jumat sore hingga malam, 14 Maret, ada 24penerbangan


yang tertunda. "Para pilot tak berani menjalankan pesawat karena jarak pandang
tak sampai 1000 meter, jarak aman penerbangan sipil," kata petugas bandara
Rian Hadihito.
Ternyata penyebabnya bukan hanya asap kiriman Riau saja, kebakaran
lahan gambut di beberapa titik kawasan hutan Muaro Jambi diduga sebagai
salah satu pemicu kabut asap. Petugas setempat tengah berupaya memadamkan
api.
Kabut asap juga sempat melanda Kota Medan dan beberapa daerah
sekitarnya. Di Kota Binjai, kota yang berada 22 km dari pusat di sebelah barat
ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan, kabut asap mulai dirasakan warga
sejak Senin pagi, 3 Maret 2014.
Kabut asap pun telah mengganggu kegiatan operasi industri hulu migas.
Ratusan sumur minyak harus ditutup dan potensi produksi telah hilang
setidaknya sebanyak 12.000 barel minyak per hari (BOPD), sejak Rabu 11 Maret
2014.
Potensi produksi yang hilang terbesar berasal dari Wilayah Kerja Rokan
yang dioperasikan PT Chevron Pacific Indonesia. Kualitas udara yang buruk
membuat Chevron harus melakukan perawatan darurat terhadap North Duri
Cogen dan menyebabkan penurunan daya (power shedding) sebesar 70 mega
watt (MW).
Sebanyak 573 sumur harus ditutup dan 19 unit pompa untuk injeksi air
harus ditutup akibat power shedding. Selain itu, beberapa kegiatan konstruksi
dan perawatan fasilitas produksi terpaksa dihentikan, karena minimnya jarak
pandang di area kegiatan tersebut. "Menyebabkan kehilangan potensi produksi
sebesar 8.800 BOPD dari wilayah kerja ini," ujar Handoyo.
Handoyo menambahkan, penghentian ini juga mengakibatkan kenaikan
biaya operasional rig, karena hingga saat ini tercatat penundaan operasi
pengeboran setidaknya sudah terjadi selama 800 jam dari 15 rig.
2.3

DAMPAK KABUT ASAP DI RIAU TERHADAP NEGARA


TETANGGA (MALAYSIA)

Kabut asap yang membanjiri udara sejumlah provinsi di Sumatera, telah


meluas hingga ke Negara Malaysia dan Singapura. Dampaknya telah merugikan
12

negara-negara tetangga tersebut, dengan beberapa jumlah masyarakat yang


terkena penyakit Inpeksi Saluran Pernapasan (Ispa) dan terganggunya jadwal
penerbangan, sehingga menimbulkan protes keras dari Malaysia dan Singapura.
Persoalan kabut asap lintas negara ini pun menjadi isu kawasan (internasional)
dan membutuhkan penanganan yang cepat.
Gedunggedung di Malaysia
hanya terlihat samarsamar karena kabut
asap

yang

menyelimuti beberapa
kawasan

di

Lumpur,

Kuala

Malaysia.

Kabut

asap

menyebabkan kualitas
udara di beberapa kawasan dinyatakan tidak sehat diakibatkan kebakaran hutan
dan lahan terbuka di berbagai lokasi di Malaysia menyusul cuaca panas di
negara tersebut.
Malaysia dan Singapura menilai bahwa Indonesia tidak cukup serius
menangani persoalan kabut asap ini, sehingga kebakaran hutan selalu terjadi
hampir setiap musim kemarau. Melalui Menteri Lingkungan Hidup Malaysia, G.
Palanivel, Malaysia mendesak Indonesia untuk meratifikasi perjanjian penting
Asia

Tenggara

yang

bertujuan

untuk

mengatasi

kabut

asap

dengan

meningkatkan kerjasama regional.


2.4

KEBIJAKAN

LUAR

NEGERI

INDONESIA

TERHADAP

MALAYSIA TERKAIT DENGAN KEBAKARAN HUTAN DI


RIAU
Kasus kebakaran hutan yang melanda negara Indonesia di provinsi
Sumatera, kabupaten Riau membuat asap yang di produksi oleh kebakaran
hutan tersebut menyebar luas ke negara tetangga yaitu Malaysia & Singapura.
Dalam stasiun televisi lokal Malaysia mengatakan bahwa asap yang disebabkan
oleh kebakaran hutan di Indonesia mengganggu jadwal penerbangan dari negara
13

lain ke Malaysia, sehingga dampak dari berita diatas dinilai bahwa pemerintah
Indonesia dinilai gagal peranannya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan
menjaga wibawa pemerintahannya.
Oleh karena itu pemerintah Indonesia khususnya presiden Indonesia mengambil
tindakan untuk membuat kebijakan dalam rangka menaggulangani serta
melakukan pencegahan terhadap kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia.
Kebijakan tersebut ada dua, yaitu kebijakan jangka pendek dan kebijakan jangka
panjang. Kebijakan jangka pendek untuk memastikan agar api benar-benar
padam sehingga asap hilang, sedangkan kebijakan jangka panjangnya tidak lain
adalah penertiban kawasan dan pencegahan kawasan dari pembakaran. Jangka
pendek adalah operasi tanggap darurat kemudian jangka panjangnya adalah
kawasan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan termasuk ketegasan dalam
penindakan.
Kebijakan jangka pendek yakni upaya pemadaman api agar kabut asap
hilang dari langit bumi Riau.6 Upaya ini merupakan upaya operasi tanggap
darurat. Dengan melibatkan tentara TNI lengkap dengan peralatannya, upaya
pemadaman api ini dilakukan secara gencar. Aksi pemadaman api oleh TNI,
Polri dan BNPB. Operasi Terpadu Penanggulangan Bencana Asap di Riau yang
berada dibawah kendali BNPB melibatkan 5.110 personel, terdiri dari 3.181
prajurit TNI dan 1.929 unsur lainnya berhasil memadamkan 172 titik api atau
sekitar 19.642 hektar kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau. 172 titik api
yang berhasil dipadamkan tersebut tersebar di beberapa lokasi diantaranya
wilayah Siak, Dumai, Bengkalis, Rohil, Kampar dan Pelalawan.
Dalam upaya penanggulangan asap di Riau beberapa upaya telah
dilakukan oleh Satgas seperti melakukan 32 kali water bombing Kamov, Sikorsky
119 kali di daerah Bukit Batu dan Palintung Dumai. Selain itu dilakukan juga
rekayasa cuaca/ TMC dengan menggunakan pesawat Cassa yang mengangkut 2
ton garam untuk ditabur di wilayah Siak dan Pelelawan serta dengan pesawat
Hercules yang mengangkut 5 ton garam untuk ditabur di wilayah Bangkinang,
Kampar dan Inhu. Rekayasa ini berhasil membuat terjadinya hujan ringan,
sedang di Pekanbaru dan seluruh wilayah Riau.
6 Upaya Penanggulangan Bencana Asap di Riau, http://www.driau.com/2014/03/upayapenanggulangan-bencana-asap-di.html (diakses pada 20 Mei 2014, pk. 18.00 WIB)
14

Kebijakan jangka panjang meliputi penertiban kawasan dan pencegahan


bahaya asap.7 Dalam hal ini perlu dilakukan upaya pelayanan kesehatan bagi
mereka yang terdampak asap ini; dan penegakan hukum yang harus
dilaksanakan secara tegas, keras, dan cepat.
2.5

PERSETUJUAN

INDONESIA

ASEAN

UNTUK

MENANGGULANGI KABUT ASAP RIAU


Upaya menanggulangi kabut asap dilakukan kedalam organisasi regional
ASEAN ,dalam sebuah perjanjian yang bernama ASEAN Agreement on
Transboundary Haze Pollution (AATHP). Perjanjian ini ditandatangani oleh
seluruh anggota ASEAN pada 10 juni 2002 di Kuala Lumpur.tujuan perjanjian ini
antara lain untuk membantu Negara baik penyumbang ataupun korban dari
kabut asap agar dapat menyelesaikan permasalahan ini.
Berikut adalah isi perjanjian ASEAN Agreement On Transboundary Haze
Pollution (AATHP):
1.
Bekerjasama dalam mengembangkan dan melaksanakan langkah-langkah
untuk mencegah , memantau , dan mengurangi polusi asap yang dilewati
lintas batas Negara, dengan mengendalikan lahan/ menjaga agar tidak
terjadi kebakaran hutan melalui system peringatan dini.pertukaran
2.

informasi dan teknologi.serta penyediaan bantuan antar Negara.


Segera menanggapi permintaan untuk mendapatkan informasi terkait
dengan kebakaran lahan/polusi asap yang diminta oleh suatu Negara

3.

dengan maksud untuk meminimalkan konsekuensi dari polusi asap.


Mengambil tindakan hukum ,administratif dan tindakan lainnya untuk
melaksanakan kewajiban Negara berdasarkan perjanjian.
Bila dikaitkan dengan konsep The Public Policy Circle (Black Box) yang

diutarakan oleh David Easton, proses ratifikasi yang tidak kunjung dilaksanakan
ini terhambat di DPR. Upaya untuk mencegah kebakaran hutan telah banyak
dilakukan oleh beberapa pihak, seperti Kementrian Lingkungan Hidup,
Pemerintah daerah,LSM, dan masyarakat local itu sendiri. Namun DPR tampak
enggan meratifikasi karena beberapa alasan:
7 Ibid.
15

1. Terkait masalah pendanaan yang belum dibuat kesepakatannya antara pihak


Indonesia dan ASEAN, serta bantuan tekhnologi dan sumber daya manusia.
2. DPR juga sedikit-banyak dipengaruhi oleh kepentingan perusahaanperusahaan domestik yang memang banyak membela lahan dengan cara
membakar hutan.
3. Masalah kebakaran hutan ini,menurut DPR,tidak untuk diinternasionalisasi
karena menyangkut politik,ekonomi,serta citra Indonesia di mata dunia.
Walaupun Indonesia belum meratifikasi dan menjadi anggota (party) dari
AATHP, namun selama ini Indonesia selalu hadir dalam setiap pertemuan
AATHP sebagai pengamat (observer). Indonesia juga mendapatkan keuntungan
dari beberapa program dan kegiatan terkait pelaksanaan yang mendukung
penerapan AATHP, antara lain:
1.

Kerja sama dengan Singapura tentang Pengendalian Kebakaran


Hutan dan/atau Lahan serta Mitigasi Pencemaran Asap Lintas
Batas di Provinsi Jambi;kerja sama dengan Malaysia tentang
Pengendalian Kebakaran Hutan dan/atau Lahan serta Mitigasi
Pencemaran Asap Lintas Batas di Provinsi Riau;kerja sama
regional untuk pengelolaan lahan gambut berkelanjutan di

2.

provinsi Riau dan Kalimantan Barat.


Guna meningkatkan kesiapan meratifikasi AATHP, Pemerintah
telah

melakukan

kegiatan

sosialisasi

AATHP

secara

berkelanjutan kepada kementerian/lembaga terkait, Pemerintah


Daerah di daerah rawan kebakaran hutan dan/atau lahan
(Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Barat), kalangan dunia usaha (pemegang HPH, HTI dan usaha
perkebunan), masyarakat (masyarakat sekitar hutan, Masyarakat
3.

Peduli Api (MPA), serta LSM.


Dalam rangka tindakan pencegahan kebakaran hutan dan/atau
lahan,

telah

dilakukan

kegiatan

koordinasi

baik

antar-

kementerian/lembaga, pemerintah daerah maupun dengan


masyarakat seperti:
pemetaan daerah rawan kebakaran hutan dan/atau lahan;
16

penguatan data dan informasi terkait dengan hot-spot,


persebaran asap, pemetaan daerah terbakar, fire danger
rating system (sumber data diperoleh dari Kementerian

Kehutanan, LAPAN, dan BMKG)


penguatan dan peningkatan kapasitas masyarakat peduli
api (dilakukan melalui sosialisasi, kegiatan pencegahan

dini maupun pelatihan);


penanggulangan bencana asap yang dikoordinasikan oleh
Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan
dipimpin oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) dalam rangka tanggap darurat bencana, antara
lain melalui operasi modifikasi cuaca yang dilaksanakan

4.

oleh BPPT.
Pemerintah menggunakan dan menggerakkan sumber daya
secara

optimal

dalam

rangka

tindakan

penanggulangan

kebakaran hutan dan/atau lahan serta pencegahan pencemaran


asap lintas batas, termasuk gelar pasukan Manggala Agni,
Masyarakat Peduli Api (MPA), bantuan TNI-POLRI serta
pelibatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan di lokasi
5.

terjadinya kebakaran hutan dan/atau lahan.


Melakukan penegakan hukum (pidana, perdata maupun
administrasi)

terhadap

pelaku

(individu

dan

korporasi)

pembakaran hutan dan/atau lahan serta pencemaran asap lintas


6.

batas yang mengakibatkan kerusakan lingkungan.


Memperkuat kelembagaan dan peraturan perundang-undangan
yang mendukung pembukaan lahan tanpa bakar (zero burning)
dan pencegahan kebakaran hutan/lahan serta pencemaran asap

lintas batas.
Lanjutan dari AATHP adalah setiap Negara anggota yang meratifikasi
wajib membayar US $50.000 sebagai bentuk kompensasi untuk menanggulangi
masalah kabut asap (Haze Fund). Selain itu juga, perjanjian itu mewajibkan para
pihak untuk membentuk ASEAN center.Dan juga masing masing Negara wajib
menunjuk Focal Point dan Competent Authorities. Focal Point disini adalah

17

kementrian Lingkungan Hidup, sementara Competent Authorities Kementrian


Kehutanan,Kementrian Pertanian.
Kesimpulan yang bisa diambil dari Kesepakatan AATHP ini hendaknya
usaha pencegahan kebakaran hutan dan pelestarian lingkungan di Indonesia itu
sendiri,serta demi perbaikan citra Indonesia sebagai Negara pemilik hutan tropis
terluas di Asia Tenggara, Indonesia segera meratifikasi perjanjian tersebut agar
dapat dilakukan langkah-langkah yang lebih konkrit agar kebakaran hutan
dapat teratasi.

18

BAB III
PENUTUP

3.1

KESIMPULAN
Pembakaran hutan masih sangat sering terjadi di Indonesia, pembakarann

hutan tersebut seringkali bertujuan untuk membuat kepentingan serta bisnis


yang dilakukan manusia terpenuhi tanpa memikirkan sebab-akibat yang akan
terjadi aibat pembakaran hutan.
Pembakaran hutan di Riau membuat masyarakat di Riau susah
menemukan udara bersih dan membuat negara tetangga yaitu Malaysia
terganggu akibat kabut asap kiriman yang didapat dari Riau. Sehingga Indonesia
mengambil tindakan serta membuat kebijakan yang diharapkan dapat
mengurangi jumlah pembakaran hutan yang terjadi di Indonesia.
Yaitu dengan kebijakan jangka pendek dan kebijakan jangka panjang serta
berunding dengan ASEAN tentang bagaimana cara menanggulangi kebakaran
hutan yang seringkali terjadi di Indonesia.

19

DAFTAR PUSTAKA
Website
-

Kabut Asap Riau,


http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/03/140314_kabut_asa

p_komentar_bnpd_riau.shtml (diakses pada 20 Mei 2014, pk. 19.00 WIB)


Penyebab Kebakaran Hutan di Riau,
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/03/15/n2gmmb-ini-

penyebab-kebakaran-hutan-di-riau (diakses pada 20 Mei 2014, pk.14.00 WIB)


Tara, Keadaan Luar Biasa Kabut Asap Riau, http://www.kitanews.co/1394647937keadaan-luar-biasa-kabut-asap-riau.html (diakses pada 20 Mei 2014, pk. 20.00
WIB)

Upaya Penanggulangan Bencana Asap di Riau, http://www.driau.com/2014/03/upayapenanggulangan-bencana-asap-di.html (diakses pada 20 Mei 2014, pk. 18.00 WIB)

20