Anda di halaman 1dari 6

Diagnosis

Perhitungan usia kehamilan merupakan hal yang penting dilakukan untuk


menentukan persalinan yang terjadi merupakan partus prematur atau bukan.
Perhitungan dapat berdasarkan dari hari pertama haid terakhir atau berdasarkan
gambaran USG janin.
Bila usia kehamilan antara 20 37 minggu, maka tanda-tanda persalinan harus
diperhatikan untuk mengetahui apakah ibu hamil sudah inpartu atau belum.
Kontraksi uterus merupakan hal yang cukup menentukan apakah persalinan akan
berlangsung atau tidak. Kontraksi harus dihitung interval, lama, dan dinilai
kekuatannya. Perhitungan dapat dinilai dengan tokometer atau melalui palpasi uterus.
Apabila kontraksi uterus sudah lebih dari 2x dalam 1 jam, maka pengawasan harus
diperketat untuk mempersiapkan bila ibu sudah inpartu.
Penilaian dilatasi serviks atau pembukaan melalui pemeriksaan dalam harus
dilakukan secara berkala. Apabila terjadi dilatasi serviks bertambah 1 cm dalam 1 2
jam, maka harus dipersiapkan untuk proses persalinan.
Adanya bloody show yang merupakan tanda inpartu harus dibedakan dari terjadinya
perdarahan yang mungkin disebabkan oleh solusio plasenta atau plasenta previa.

II.6 Pemeriksaan penunjang


Seperti pemeriksaan penunjang yang rutin dilakukan dalam setiap proses persalinan,
pemeriksaan hematologi dan urinalisa lengkap harus dilakukan untuk mengetahui
adanya anemia, infeksi, atau proteinuria.
Pemeriksaan USG juga perlu dilakukan untuk mengetahui ukuran dan posisi janin,
serta letak plasenta. Apabila letak janin atau plasenta tidak memungkinkan untuk
dilakukan partus per vaginam, maka perlu dilakukan persiapan untuk sectio caesarea.
Amniosentesis mungkin berguna untuk menilai kematangan paru janin apabila usia
kehamilan tidak dapat ditentukan secara pasti karena ketidaksesuaian ukuran janin
dengan usia kehamilan. Cairan amnion diperiksa rasio lesitin sfingomielin, adanya
kandungan fosfatidilgliserol, dan perhitungan lamellar body. Apabila dicurigai adanya

korioamnionitis, maka perlu dilakukan pemeriksaan mikrobiologi dengan pewarnaan


gram, kultur bakteri, kadar glukosa, hitung sel, dan kadar interleukin 6.
Apabila dicurigai adanya infeksi genitalia, maka perlu dilakukan kultur terhadap
jaringan serviks untuk pemeriksaan terhadap gonorrhea, chlamydia, dan kemungkinan
penyebab vaginosis bakterial lainnya. Sementara sediaan kultur untuk Streptococcus
grup B diambil dari mukosa vagina dan rektum.
Food and Drug Administration menyarankan pemeriksaan fetal fibronectin enzyme
immunoassay untuk memprediksi persalinan preterm. Bahan diambil dari sediaan hapus
serviks. Hasil negatif menandakan persalinan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu,
sementara hasil positif kurang memiliki makna untuk memprediksi partus preterm.

II.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada kehamilan yang belum mencapai cukup bulan tergantung
pada usia kehamilan, perkiraan berat badan janin, dan ada tidaknya kontraindikasi untuk
mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan cukup bulan. Kondisi yang
mengharuskan terminasi kehamilan antara lain :
Maternal

Fetal

Hipertensi berat

Kematian janin

Preeklampsia berat

Anomali kongenital berat

Eklampsia

Korioamnionitis

Eksaserbasi hipertensi kronis

TBJ > 2500 gram

Penyakit paru dan jantung


Udem pulmonary
Adult respiratory distress syndrome
Kelainan katup jantung
Takiaritmia

Erythroblastosis fetalis
IUGR

Perdarahan
Solusio plasenta
Plasenta previa
DIC
Dilatasi serviks > 4 cm
Tabel 2. Indikasi terminasi kehamilan prematur

Pada usia kehamilan 24 34 minggu atau taksiran berat janin 600 2500 gram,
maka kehamilan diusahakan untuk dipertahankan sampai keadaan janin lebih
memungkinkan untuk hidup di luar kandungan. Tirah baring sangat dianjurkan pada ibu
hamil yang memiliki risiko untuk mengalami persalinan preterm.
Pemberian kortikosteroid bermanfaat untuk mempercepat proses pematangan paru
janin sehingga dapat mengurangi insiden neonatal respiratory distress syndrome,
perdarahan intraventrikular, dan kematian neonatal. Ada 2 protokol pemberian
kortikosteroid pada ibu hamil dengan risiko persalinan preterm :
1. Betametason 12 mg/24 jam IM hingga 2x pemberian
2. Deksametason 6 mg/12 jam IM hingga 4x pemberian
Manfaat pemberian kortikosteroid mulai tampak 24 jam setelah pemberian,
kemudian kerja obat mencapai puncak setelah 48 jam dan akan bertahan selama 7 hari.
Apabila setelah pemberian kortikosteroid berhasil dan kehamilan dapat dipertahankan
hingga 1 minggu, maka tidak perlu diberikan kortikosteroid ulang karena pemberian
yang berlebihan dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan dan keterlambatan
perkembangan psikomotor pada janin.
Pada kehamilan 34 37 minggu atau taksiran berat janin sudah lebih dari 2500
gram, maka morbiditas janin akan lebih rendah dan pemberian kortikosteroid untuk
membantu pematangan paru janin sudah kurang efektif.
Bila pasien tetap mengalami kontraksi serta pada pemeriksaan didapati serviks yang
memendek dan mengalami dilatasi, maka dapat diberikan tokolitik. Tujuan jangka
pendek pemberian tokolitik adalah mempertahankan kehamilan minimal 48 jam
sesudah pemberian kortikosteroid di mana kerja kortikosteroid sudah mencapai

puncaknya. Sementara tujuan jangka panjangnya adalah mempertahankan kehamilan


hingga usia 34 36 minggu sehingga risiko morbiditas dan mortalitas janin dapat
dikurangi.
Tokolitik bekerja secara efektif apabila diberikan pada pasien yang mengalami
kontraksi dengan frekuensi 4 6 kali dalam 1 jam tanpa adanya dilatasi serviks. Pilihan
jenis tokolitik berdasarkan pertimbangan adanya kontraindikasi dan efek samping yang
mungkin terjadi. Ada beberapa jenis obat tokolitik, antara lain :
1.

Beta mimetik adrenergik


Obat golongan ini berkerja secara langsung pada reseptor 2 sehingga
menyebabkan relaksasi uterus. Contoh obat golongan ini yang sering digunakan
adalah ritodrin dan terbutalin.
Kontraindikasi pemberian obat beta mimetik adrenergik pada ibu adalah adanya
penyakit jantung, hepar, dan ginjal, hipertiroid, hipertensi dan diabetes yang tidak
terkontrol, serta adanya riwayat asma.
Pemberian obat ini harus berhati-hati mengingat adanya efek samping terhadap
sistem kardiovaskular termasuk udem pulmonar, adult respiratory distress
syndrome, peningkatan tekanan darah sistolik dengan penurunan tekanan diastolik,
serta kemungkinan takikardi pada ibu maupun janin. Efek samping lain yang dapat
terjadi adalah penurunan kadar kalium serum, peningkatan kadar gula darah, dan
asidosis laktat.
Pemberian obat secara intravena dapat meningkatkan risiko terjadinya efek
samping berupa palpitasi, tremor, rasa gugup, dan insomnia. Untuk mengurangi efek
tersebut maka pemberian obat sebaiknya dilakukan melalui injeksi subktan secara
intermiten.

Nama generik

Nama dagang

Dosis i.v

Dosis oral

(ug/menit)

(mg/hari)

Isoxuprine

Duvadilan

50 200

4 8 x 10

Salbutamol

Ventolin

20 50

24x4

Terbutalin

Brikasma

10 20

3x5

Hexoprenalin

Ipradol

0,075 0,3

8 x 0,5

e
Tabel 3. Contoh obat golongan beta mimetik

2.

Magnesium sulfat
Magnesium sulfat bekerja menghambat pengambilan kalsium oleh sel-sel otot
halus sehingga mengurangi kontraktilitas, termasuk kontraksi uterus.
Obat pada awalnya diberikan sebanyak 4 gram melalui infus, yaitu sebanyak 40
mL larutan 10%. Dosis lanjutan sebanyak 2 gram/jam berupa infus 200 mL larutan
10% kalsium glukonas dalam 800 mL dextrose 5%. Pemberian tokolitik dihentikan
bila kontraksi uterus berkurang hingga kurang dari 4 6 kali/jam atau bila
dinyatakan gagal, yaitu dilatasi serviks sudah mencapai 5 cm.
Magnesium sulfat memberikan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan
dengan obat beta mimetik adrenergik. Namun dosis terapeutiknya sangat sempit dan
hanya berbeda sedikit dengan dosis yang dapat menimbulkan depresi pernapasan
dan kardiovaskular.
Pasien yang diberikan magnesium sulfat harus dulakukan observasi untuk
mencegah terjadinya toksisitas melalui pemeriksaan refleks tendon dalam,
pemeriksaan paru, dan perhitungan balans cairan. Bila pemberian magnesium sulfat
telah melewati dosis terapeutik, maka dapat diberikan antidotum berupa kalsium
glukonas 10% sebanyak 10 mL secara intravena untuk mencegah terjadinya efek
samping yang berbahaya.

3.

Nifedipin
Nifedipin sebagai calcium channel blockers bekerja menghambat pengambilan
kalsium oleh sel otot halus uterus sehingga mengurangi kontraktilitas uterus.
Beberapa hasil studi menyatakan nifedipin lebih efektif sebagai tokolitik
dibandingkan beta mimetik adrenergik dan memiliki efek samping yang lebih
sedikit.
Efek samping yang dapat terjadi antara lain hipotensi, takikardi, sakit kepala,
mual, dan muntah.

Dosis awal biasanya diberikan sebanyak 20 mg per oral dan kemudian


dilanjutkan 10 20 mg setiap 6 jam sampai kontraksi uterus berkurang secara
bermakna.

4.

Indometasin
Indometasin bekerja menghambat sintesis prostaglandin yang merupakan
mediator penting untuk kontraksi otot uterus. Indometasin memiliki efektivitas yang
sama seperti ritodrine namun memiliki efek samping terhadap janin yang jauh lebih
besar seperti disfungsi ginjal yang menyebabkan oligohidramnion, hipertensi
pulmonal,

penutupan

duktus

arteriosus

intraventrikular, dan enterokolitis nekrotikans.

sebelum

waktunya,

perdarahan