Anda di halaman 1dari 26

PERAWATAN LUKA SEKSIO

SESAREA

DINDING ABDOMEN ANTERIOR


Dapat meregang dan merupakan akses operasi
Kulit

Subkutan

Garis-garis Langer -> menggambarkan arah serat


dermal
Dibagi menjadi lapisan superfisial, fascia camper
(lemak), dan fascia scarpa (membranosa)

Rectus sheath

Aponeurosis fibrosa m. oblikus eksternus, oblikus


internus, dan transversus abdominis yang bersatu di
midline membentuk linea arkuata

Priyatini T, Ocviyanti D, Harzif AK. Ilmu Bedah Dasar Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo; 2015.

Garis-garis Langer
(bawah) dan fascia
pada abdomen
(kanan)

FASE PENYEMBUHAN LUKA

Stage I: Fase Inflamasi (0-3 hari)


Stage II: Fase Proliferasi (3-24 hari)
Stage III: Fase maturasi (24 hari-2 tahun)

FASE INFLAMASI (0-3 HARI)

Vasokonstriksi hemostasis
(epinefrin dan tromboxan)

Terbentuk trombus rangkaian


pembekuan darah di aktifkan.
Platelet Derived Growth Factor
(PDGF) dan Transforming
Growth Factor Beta (TGF-)
menarik sel-sel inflamasi,
terutama makrofag.
Vasodilatasi infiltrasi sel-sel
inflamasi ke daerah luka.
Makrofag menghasilkan PDGF
dan TGF-, yang menarik
fibroblas dan merangsang
pembentukan kolagen.

np: PMN Neutrofil Leucocyte


er: Erithrocyte
f: Fibrin Coagulum

FASE PROLIFERASI
Dimulai

pada hari ke 3
setelah fibroblas datang,
hingga minggu ke-3.
Fibroblas mencapai jumlah
terbanyak pada hari ke-7
Terjadi sintesis kolagen
(terutama tipe III),
angiogenesis dan
epitelisasi.
4 hari setelah luka
8 hari setelah luka
Jumlah kolagen meningkat
eb: Endhotelial Buds
Mp: Macrophages
hinggapemecahan kolagen
Fi: Fibroblasts
Co: Collagen Fibrils
mencapai keseimbangan.
Cp: Formasi kapiler baru
Kekuatan 25% kulit normal

FASE REMODELLING
Berlangsung selama 6 bulan
sampai 2 tahun.
Peningkatan produksi
maupun penyerapan kolagen
Kolagen tipe III digantikan
oleh kolagen tipe I
Penurunan vaskularisasi
Kontraksi luka oleh
fibroblas dan miofibroblas.
Kekuatan luka meningkat
menjadi 50% hingga 80% dari
kulit normal pada akhir fase
remodelling.

Co: Collagen
rC: round Cell
GC: Giant Cell

WOUND HEALING PHASES

GANGGUAN
PENYEMBUHAN LUKA
Faktor sistemik

Penyakit kronis
Diabetes Mellitus
Malnutrisi
Defisiensi vitamin dan
mineral
Kemoterapi
Merokok
Penuaan
Glukokortikoid

Faktor lokal

Insufisiensi arteri
Insufisiensi vena
Edema
Infeksi

SECTIO CAESAREA
Cesarean delivery defines the birth of a fetus via
laparotomy
and then hysterotomy. (Cunningham, 2014)

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Williams obstetrics. 24
rd Edition. New York: McGraw-Hill Medical; 2014.

INDIKASI DILAKUKAN SC

Kategori 1: solusio plasenta, prolapse tali pusat, bradikardi janin/ibu, asidosis


bayi dengan pemeriksaan scalp pH blood testing
Kategori 2: kegagalan kemajuan persalinan dengan CTG patologis
Kategori 3: PEB, gagal induksi
Kategori 4: ibu HIV, presentasi bokong yang tidak memungkinan lahir per
vaginam, kembar dengan letak lintang, plasenta previa, riwayat SC sebelumnya

https://www.rcog.org.uk/globalassets/documents/guidelines/goodpractice11classificationofurgency.pdf

SESAR VS LAHIR
NORMAL?
morbiditas lebih rendah pada
bayi.
Trauma pada bayi lebih
rendah
Trauma fetal +1% (utamanya
laserasi kulit)
Morbiditas maternal lebih tinggi
Morbiditas maternal
meningkat 2x dibanding
persalinan per vaginam
(infeksi, perdarahan, dan
tromboemboli)
Morbiditas pada organ
sekitar seperti uretra dan
saluran cerna
Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY.
Williams obstetrics. 24
rd Edition. New York: McGraw-Hill Medical; 2014.

CAESARIAN DELIVERY ON
MATERNAL REQUEST
Cesarean delivery on maternal request should not
be performed before 39 weeks gestation unless
there is evidence
of fetal lung maturity. It should be avoided in
women desiring several children because of the
risk of placental implantation
abnormalities and cesarean hysterectomy. Finally,
it should not
be motivated by the unavailability of effective
pain management. (Cunningham 2014)

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Williams obstetrics. 24
rd Edition. New York: McGraw-Hill Medical; 2014.

PERSIAPAN SC
Anastesi spinal (diutamakan)
Antiseptik
Universal precaution
Fasilitas (monitor TTV)
Pencatatan

PROSEDURAL SC

1.Insisi perut
2.Insisi uterus
3.Melahirkan
bayi dan
plasenta
4.Menjahit
insisi

LUKA SC
Angka infeksi post-SC yaitu 3-15%.1

Mereka yang berisiko tinggi, yaitu:1,2


1. Obesitas
2. Diabetes atau penyakit imunosupresif (HIV)
3. Korioamnionitis selama persalinan
4. Sedang dalam terapi steroid
5. Riwayat melahirkan SC sebelumnya
6. SC darurat
7. Tidak mendapatkan antibiotik profilaksis
8. Operasi SC yang lama

1.Kofman NS, Sheiner E, Levy A, Holcberg G. Risk factors for wound infection following cesarean deliveries.
International Journal of Gynecology and Obstetrics. 2005; 90: 10-15.
2.Krucik G. Post-Cesarean Wound Infection: How Did This Happen? [Internet]. San Fransisco: Healthline; 15
March 2012 [cited 24 August 2015]. Availavle from: http://www.healthline.com/health/pregnancy/postcesarean-wound-infection#RiskFactors2

PERAWATAN LUKA SC
Inspeksi insisi setiap hari
Mengganti dressing sehari sekali
Melepas benang jahit atau klip 4 hari pasca
operasi (7-10 hari pada wanita obes)
Mobilisasi secepat mungkin (12-18 jam pasca
operasi)
Tidur cukup
Tidak memakai pakaian ketat yang dapat
menekan insisi

PERAWATAN LUKA
Memajankan luka terhadap udara luar setelah
24 jam pasca operasi sebanyak mungkin
Mandi diperbolehkan 3 hari pasca operasi
Membersihkan luka dengan sabun dan air
Mengeringkan luka setelah mandi
Tidak menggunakan krim atau salep hingga luka
sembuh (sekitar 6 minggu)

EDUKASI BAGI PASIEN


Hingga 6 minggu, batas aktivitas berat:
Tidak mengemudi
Tidak mengangkat beban berat (>6 kg)
Tidak Berenang
Tidak senggama
Tidak menggunakan tampon
Olahraga berlebih

PENCEGAHAN INFEKSI

PRINSIP PEMBERIAN
ANTIBIOTIK PROFILAKSIS
Tujuan: mengurangi kolonisasi mikroorganisme
di tingkat di mana sistem imun tubuh seseorang
dapat mengendalikannya mencegah infeksi
Antibiotik profilaksis tidak mencegah infeksi
yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri
postoperasi terapi antibiotik

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, et al. Williams Obstetrics. 24th ed. Philadelphia:
McGraw-Hill; 2014.
2. SOGC Clinical Practice Guideline. Antibioric Prophylaxis in Obstetric Procedures. 247; Sep 2010.

PRINSIP PEMBERIAN
ANTIBIOTIK PROFILAKSIS (2)
Syarat: efektif, aman, tidak mahal
Mayoritas studi mengatakan dosis tunggal sudah
efektif tetapi pada operasi yang lama (>3 jam)
perlu diulang
Bila kehilangan darah banyak (>1500 mL)
diperlukan dosis kedua

1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, et al. Williams Obstetrics. 24th ed. Philadelphia:
McGraw-Hill; 2014.
2. SOGC Clinical Practice Guideline. Antibioric Prophylaxis in Obstetric Procedures. 247; Sep 2010.

REKOMENDASI
Semua wanita yang akan menjalani operasi SC
elektif atau emergensi sebaiknya menerima
antibiotik profilaksis (IA)
Pilihan antibiotik sebaiknya dengan
cephalosporin generasi 1 single dose (Cefazolin
1g). Jika pasien alergi penisilin, dapat digunakan
klindamisin atau eritromisin (600 mg
klindamisin) (IA)

SOGC Clinical Practice Guideline. Antibioric Prophylaxis in Obstetric Procedures. 247; Sep 2010.

Waktu pemberian antibiotik profilaksis pada SC


sebaiknya 15-60 menit sebelum insisi kulit. Pemberian
dosis tambahan tidak direkomendasikan (IA)
Jika prosedur lama (>3 jam) atau perkiraan darah
yang keluar >1500 mL, dosis antibiotik profilaksis
tambahan mungkin diperlukan 3-4 jam setelah dosis
inisial (III-L)
Pada pasien dengan obesitas morbid (IMT >35),
mungkin diperlukan penggandaan dosis (III-B)
Antibiotik tidak seharusnya diberikan hanya untuk
mencegah endokarditis pada pasien yang akan
menjalani prosedur obstetrik apapun (III-E)

SOGC Clinical Practice Guideline. Antibioric Prophylaxis in Obstetric Procedures. 247; Sep 2010.