Anda di halaman 1dari 4

TEKNIK KONSERVASI ENERGI

UJIAN TENGAH SEMESTER

NAMA : TRI SUTRISNO


KELAS: 6 Eg.A
NIM

: 0613 4041 1521

1. Renewable energy merupakan energy yang dihasilkan dari sumber


energi alam yang dimanfaatkan dengan bantuan terknologi
instumentasi secara berkesinambungan dapat terus diproduksi
tanpa harus menunggu waktu jutaan tahun layaknya energi
berbasis fosil yang di konversi menjadi eneergi lain yang mudah
digunakan dan di simpan, Sumber alam yang dimaksud dapat
berasal dari matahari, panas bumi (geothermal), angin, air
(hydropower) dan berbagai bentuk dari biomassa. Sumber energi
tersebut tidak dapat habis dan dapat terus diperbarukan.
Sumber:
http://www.indoenergi.com/2012/04/pengertian-energiterbarukan.html

Hambatan-hambatan dalam pengembangan Renewable


energy
1. Harga jual energi fosil seperti minyak bumi,solar dan
batubata di indonesia masih sangat rendah.
2. Rekayasa dan teknologi masih harus diimpor sebab
pembuatan sebagian besat komponen utamanya belumdapat
dilakukan di indonesia.
3. Biaya pembangunan yang tinggi mengakibatkan timbulnya
masalah finansial pada penyediaan modal.
4. belum tersedia data potensi sumberdaya yang lengkap,
karena terbatasnya studi yang dilakukan.
5. kontinuitas penyediaan energi listrik rendah, karena
sumberdaya energinya sangat bergantung pada kondisi alam
yang perubahannya tidak menentu.

2. Green building merupakan bangunan yang di rancang sejak awal


yang meliputi perencanaan, pembangunan, dan pengoperasian
dalam opersional untuk memelihara dan memperhatikan aspekaspek untuk menghemat, mengurangi penggunaan sumber daya
alam, menjaga mutu dari kualitas udara di dalam ruangan, dan
memperhatikan kesehatan penghuninya yang semuanya berpegang
kepada kaidah bersinambungan.

Sedangkan Zero energy building bangunan yang dibuat


dengan penggunaan energi yang tidak terlalu banyak sehingga
tidak mencemarkan lingkungan seperti air, udara, dan tanah. Zero
energy building membantu kita untuk mengurangi biaya,
meningkatkan kepedulian atas lingkungan, keamanan negara atas
globlaisasi, keamanan dan kenyamanan kita dalam menghuni suatu
bangunan yang akan dihuni.
SUMBER:
http://qotadahamran.blogspot.co.id/2014/10/greenbuilding.html
https://aditharachman.wordpress.com/2012/09/21/
3. CDM (Clean Development Mechanism) merupakan Mekanisme
Pembangunan Bersih seharusnya untuk menstimulasi pembangunan
dan pengurangan emisi berkelanjutan dengan memfasilitasi
pengembangan teknologi bersih untuk menggantikan yang kotor
yang memiliki menyebabkan krisis iklim. Isu yang terkait dengan
Clean Development Mechanism pemanasaan global yang terjadi
akibat terlalu banyak emisi yang di lepaskan ke atmosfir sehingga
pembangunan bersih (clean development mechanism atau CDM)
diyakini akan menciptakan win-win solution karena dirancang untuk
tiga kepentingan. Pertama, CDM membantu negara berkembang
mencapai pembangunan berkelanjutan; kedua, CDM menyumbang
pencapaian tujuan akhir Konvensi; dan akhirnya, CDM membantu
negara maju mencapai pelaksanaan kewajiban membatasi dan
mengurangi emisi secara kuantitatif.
Contoh terkait dengan Clean Development Mechanism: Di Indonesia
sendiri telah mendapatkan bantuan CDM untuk proyek PLTA dan industri. Tapi kita kalah
gesit dengan India, yang mendapatkan lebih dari 200 proyek CDM pada tahun lalu. Padahal
Indonesia, sebagai negara pemilik dua pertiga dari hutan dunia, seharusnya mendapatkan
porsi yang lebih banyak. Dalam rangka memenuhi target tersebut negara-negara penanda
tangan bersama-sama menurunkan kadar-emisi gas-gas rumah kaca. Negara maju bisa
melakukan program mitigasi dengan cara Join Implemantation (JI), atau Emission Trade,
namun untuk negara berkembang proyek yang dilaksanakan untuk menurunkan jumlah emisi
adalah dengan Mekanisme Pembangunan Bersih Clean Development Mechanism (CDM).
Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia diharapkan memperoleh keuntungan dalam
penurunan gas-emisi global.

Jadi mekanisme CDM memberikan kesempatan bagi negara maju (Annex I) dalam
memenuhi target penurunan emisi secara fleksibel dan dengan biaya yang tidak terlalu mahal.
Tentunya kegiatan CDM memungkinkan pemerintah dan pihak swasta di negara Annex I
untuk bisa mengembangkan proyek yang dapat menurunkan emisi gas rumah kaca di negara
berkembang.
CER atau "certified emissions reduction" akan didapatkan oleh negara maju sebagai
sebuah kredit apabila proyek yang dilakukan di negara berkembang telah terbukti
menurunkan emisi gas rumah kaca. Kredit yang dihasilkan dari CER ini kemudian akan
dihitung sebagai emisi yang berhasil diturunkan oleh negara Annex I melalui mekanisme
CDM, yang dapat digunakan untuk memenuhi target mereka di dalam Protokol Kyoto.
Perhatian terhadap isu perubahan iklim juga ikut mendorong
pemanfaatan energi terbarukan dan konservasi energi yang digolongkan
sebagai energi bersih dalam upaya-upaya mitigasi melalui mekanisme
perdagangan karbon (Carbon Trade). Salah satu mekanisme perdagangan
karbon yang diperkenalkan oleh Protokol Kyoto adalah Clean Development
Mechanism (CDM). CDM adalah satu-satunya mekanisme di bawah
Protokol Kyoto yang melibatkan negara-negara berkembang dalam
penerapannya. Bentuk kerja sama CDM ini antara lain berupa :

Negara maju menanamkan investasinya pada proyek-proyek di


negara berkembang untuk menurunkan emisi gas rumah kaca
Di bawah Protokol Kyoto, negara maju harus menurunkan
emisinya sebesar 5% dibawah level tahun 1990, untuk
kewajiban periode 2008-2012
Prinsip kerjasama win-win solution
Negara maju mendapatkan CER (Certified Emission Reduction)

Sumber: http://sjaira.blogspot.co.id/2011/12/efisiensi-mekanisme-protokolkyoto-bagi.html

4. Konservasi energi merujuk pada pengurangan pemakaian energi untuk


berbagai tujuan dan kegiatan industri. Tujuan utama dari konservasi
energi adalah untuk menghemat energi. Penghematan energi juga
berarti menghemat uang serta mengurangi ketergantungan kita pada
bahan bakar fosil karena mereka masih merupakan bahan bakar yang
dominan.
Konservasi energi juga dapat membantu lingkungan kita.
Menghemat energi berarti mengurangi penggunaan bahan bakar fosil

dan ini berarti mengurangi emisi CO2. Selama ini, peningkatan emisi
CO2 dianggap oleh banyak ilmuwan sebagai penyebab utama di balik
meningkatnya dampak perubahan iklim.
Dengan demikian konservasi energi dapat mendukung ketahanan
energi dengan cara mengurangi penggunaan bahan bakar serta energi
lainnya dan dapat menghemat biaya kost dalam pemakaian energi
yang menyebabkan ketahanan ekomoni dapat meningkat serta dapat
mengurangi emisi yang terjadi, sehingga dapat meningkatkan potensi
penghematan energy yang cukup besar.