Anda di halaman 1dari 10

Demam dan Hubungannya Dengan Pembesaran Kelenjar Parotis

Steven Adiwinata*
NIM 102011354
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA, Jakarta
Pendahuluan
Mumps atau gondongan merupakan penyakit pembesaran kelenjar parotis
yang disebabkan oleh infeksi virus. Penyakit ini pada awalnya menyebabkan wabah, namun
setelah ditemukannya vaksinasi pada virus ini, maka penyebaran penyakit dapat ditekan.
Penyakit ini ditandai dengan adanya gejala seperti demam, anoreksia, sakit kepala, muntah
dan nyeri otot, malaise, mialgia, dan peradangan kelenjar parotis.
Pada kasus ini seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ibunya ke
puskesmas karena demam sejak 3 hari yang lalu disertai dengan pembesaran kelenjar parotis
unilateral.

Alamat Korespondensi:

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510
Telephone: (021) 5694-2061 (hunting),
Fax: (021) 563-1731
Email: Steven_santai@yahoo.co.id

Anamnesa
Pada anamnesa, dapat ditanyakan keluhan utama pasien yang menyebabkan pasien
datang. Riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat keluarga. Pada
anamnesis kasus dapat ditanyakan seputar pembesaran kelenjar parotis unilateral , seperti
sejak kapan pembengkakan terjadi, konsistensinya, ada nyeri tekan atau tidak, mobile atau
tidak, dan adakah rasa nyeri apabila menelan. Sebaiknya juga ditanyakan gejala-gejala lain
selain demam sejak 3 hari yang lalu.
Pemeriksaan Fisik
Tanda-Tanda Vital
Pada pemeriksaan tanda-tanda vital dapat dilakukan pengukuran suhu tubuh, denyut
nadi, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan.
Inspeksi
Inspeksi leher untuk melihat adanya benjolan yang nyata. Benjolan ini kadang-kadang
lebih baik dilihat daripada diraba.1 Pada inspeksi ini juga dapat dilihat warna kulit dan ukuran
benjolan yang ada.
Palpasi
Palpasi suatu massa untuk menentukan letak, konsistensi, ukuran dan mobilitasnya. 1
Selain itu, pada palpasi dapat kita periksa permukaan kulitnya, dan ada atau tidaknya nyeri
tekan.
Pemeriksaan Penunjang
Pada kasus klasik pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan. Pada keadaan tanpa
parotitis

menyebabkan

kesulitan

mendiagnosis,

sehingga

diperlukan

pemeriksaan

laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan adalah: 2,3


1. Pemeriksaan laboratorium rutin, yang memberikan hasil tidak spesifik dan sering
menunjukkan adanya leucopenia dengan limfositis relative atau kadang normal.
2. Tes serologi, dimana didapatkan kenaikan antibody spesifik terhadap parotitis
epidemika seperti complement fixation test (CF), hemagglutionation-inhibition (HI),
enzyme

linked

immunosorbent

eassay

(ELISA)

dan

virus

neutralization.

Ditemukannya IgM, dapat membantu menegakkan diagnosis pada kasus sulit yang
dapat dideteksi pada minggu pertama sakit.
3. Isolasi virus penyebab dari saliva dan urin selama masa akut penyakit. Virus masih
dapat ditemukan dari urin 2 minggu setelah onset penyakit. Isolasi virus dilakukan
2

dengan membuat biakan. Biakan dinyatakan positif bila terdapat hemadsorpsi dalam
biakan yang diberi cairan fosfat-NaCl dan tidak ada pada biakan yang diberi serum
hiperimun.
4. Peningkatan amylase serum pada parotitis epidemika dan pancreatitis parotitis
epidemika mencapai puncaknya pada minggu pertama dan menurun pada minggu ke
dua dan ke tiga. Peningkatan serum amylase terjadi pada 70% parotitis epidemika
dengan parotitis.

Working Diagnosis
Diagnosis parotitis epidemika mudah ditegakkan berdasarkan gejala klinik, namun jika
manifestasi klinik yang kurang lazim ditemukan, maka diagnosis menjadi tidak jelas. Faktorfaktor yang harus diperhatikan dalam menegakkan diagnosis parotitis epidemika adalah:2
1. Riwayat kontak dengan penderita parotitis epidemika 2-3 minggu sebelum onset
penyakit
2. Adanya parotitis dan keterlibatan kelenjar yang lain
Diagnosis dibuat secara klinis. Peningkatan amylase serum khas dan onsetnya parallel
dengan pembengkakan parotis. Diagnosis spesifik dapat dipastikan dengan isolasi virus dari
saliva, urine, CSS, atau darah melalui biakan virus rutin. Peningkatan antibody serum
terhadap mumps juga bersifat diagnostic. Antibodi serum terhadap antigen S mencapai
puncaknya pada sekitar 75% penderita dan dapat dideteksi pada saat gejala-gejala muncul. 4,5

Differential Diagnosis
Diagnosis banding parotitis epidemika adalah:2,4,5
1. Parotitis supratifa, yaitu infeksi bakteri pada kelenjar parotis dan paling sering
disebabkan Staphylococcus aureus. Nanah dapat dilihat keluar dari duktus Stensoni
jika dilakukan penekanan pada kelenjar dan ditemukan peningkatan polimorfonuklear
leukosit pada pemeriksaan darah rutin. Kulit diatas kelenjar panas, memerah dan nyeri
tekan.
2. Parotitis berulang, berupa peradangan pada kelenjar parotis yang sering tidak
diketahui penyebabkan. Ditandai oleh pembengkakan frekuen dari kelenjar parotis.
Infeksi dan hipersensitifitas terhadap iodide dan phenotiazine sering dihubungkan
dengan keadaan ini. Pembengkakan kelenjar sublingual dan submaksila tidak terjadi
3

pada keadaan ini. Bersifat alergi yang sering berulang.


3. Sindroma Mikuliczs adalah pembesaran kelenjar parotis dan kelenjar lakrimalis
kronis bilateral yang diserta dengan mulut kering dan tidak adanya air mata.
4. Infesi virus parainfluenza dan coxsakie pernah dilaporkan sebagai penyebab
pembengkakan kelenjar limfe.

Etiologi
Virus yang menyebabkan parotitis epidemika adalah virus RNA untai-negatif,
berukuran 100 sampai 600 nm, dengan panjang 15.000 nukleotida termasuk dalam genus
Rubulavirus, subfamily Paramyxoviridae dan family Paramyxoviridae. Virus ini adalah
anggota kelompok paramiksovirus, yang juga mencakup parainfluenza, campak, dan virus
penyakit Newcastle. Manusia adalah satu-satunya hospes yang diketahui. Virus parotitis
epidemika dapat ditemukan pada saliva, cairan serebrospinal, urin, darah, jaringan yang
terinfeksi dari penderita parotitis epidemika serta dapat dikultur pada jaringan manusia atau
kera. 2-5
Epidemiologi
Penyakit tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau epidemic.
Parotitis epidemika menyerang kedua jenis kelamin secara seimbang terutama menyerang
anak berumur antara 5-10 tahun. Delapan puluh lima persen ditemukan pada anak-anak yang
berumur di bawah 15 tahun. Infeksi biasanya muncul pada masa anak-anak, tetapi banyak
orang dewasa rentan dengan angka serangan yang lebih rendah daripada masa anak-anak
lainnya. Mumps terjadi di seluruh dunia dan menyebar melalui kontak langsung, aerosolisasi
sekresi pernapasan, percikan ludah, bahan muntah, mungkin dengan urin.
Sebelum era vaksinasi, parotitis epidemika merupakan penyakit endemis hampir di
seluruh daerah di dunia dengan puncak insiden terjadi pada usia 5-9 tahun, namun setelah era
vaksinasi insiden parotitis epidemika bergeser ke usia dewasa muda. Di Amerika Serikat
sebelum era vaksinasi, sekitar 50% anak pernah terinfeksi dan sekitar 1.500 kasus dilaporkan
tiap tahunnya. Setelah era vaksinasi terjadi penurunan sebanyak 99% dari tahun 1969 sampai
1998. Saat ini di Amerika Serikat diperkirakan terjadi 1.000 kasus tiap tahunnya. Walaupun
terjadi penurunan insiden pada semua kelompok umur tetapi penurunan yang paling tinggi
terjadi pada anak di atas 10 tahun. Kematian karena parotitis epidemika sangat jarang dan
lebih sering terjadi pada anak diatas 19 tahun. 2
Di daerah dengan empat musim, parotitis epidemika terutama terjadi pada musim
4

dingin dan musim semi. Namun penyakit ini tetap dapat ditemukan sepanjang tahun. Virus
menyebar dari reservoir manusia melalui kontak langsung lewat droplet dan masuk ke host
yang baru lewat saluran pernapasan. Penularan agaknya tidak terjadi lebih lama daripada 24
jam sebelum munculnya pembengkakan atau lebih lambat dari 3 hari sesudah menyembuh.
Virus telah diisolasi dari urin dari hari pertama sampai ke 14 sesudah mulainya
pembengkakan kelenjar ludah. Baik infeksi klinis maupun subklinis menyebabkan imunitas
seumur hidup. Bayi sampai umur 6-8 bulan tidak dapat terjangkit penyakit parotitis
epidemika karena dilindungi oleh antibody yang dialirkan secara transplasental dari ibunya.
Virus menyerang kelenjar saliva, testis, ovarium, system saraf pusat, dan pancreas. Epidemi
muncul kembali jika cakupan vaksinasi menurun. 2,3,5,6
Patofisiologi
Virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut. Virus bereplikasi pada
mukosa saluran napas atas kemudian menyebar ke kelenjar limfe local dan diikuti viremia
umum setelah 12-25 hari yang berlangsung selama 3-5 hari. Selanjutnya lokasi yang dituju
virus adalah kelenjar yang paling rentan yaitu kelenjar parotis, ovarium, pancreas, tiroid,
ginjal, jantung, atau otak. Pada kelenjar parotis terutama pada saluran ludah terdapat kelainan
berupa pembengkakan sel epitel, pelebaran dan penyumbatan saluran. Virus masuk ke system
saraf pusat melalui pleksus koroideus lewat infeksi pada sel mononuclear. Bila testis terkena
infeksi maka terdapat perdarahan kecil dan nekrosis sel epitel tubuli seminiferus. Pada
pancreas kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan.2,3,5
Berbagai mekanisme pathogenesis diperkirakan terjadi pada jaringan yang terinfeksi
virus parotitis epidemika. Parotitis epidemika menyebabkan peningkatan IgG dan IgM yang
dapat terdeteksi dengan ELISA. IgM meningkat pada stadium awal infeksi (hari kedua sakit),
mencapai puncaknya dalam minggu pertama dan bertahan selama 5-6 bulan. Immunoglobulin
G muncul pada akhir minggu pertama, mencapai puncaknya 3 minggu kemudian dan
bertahan seumur hidup. Immunoglobulin A juga meningkat saat infeksi. 2
Gejala Klinis
Setelah melewati masa inkubasi selama 14-24 hari, 30-40% penderita tidak
menunjukkan gejala klinik dan sisanya 60-70% akan menunjukkan gejala klinik dengan
berbagai tingkatan. Dimulai dengan stadium prodromal, lamanya 1-2 hari dengan gejala
demam, anoreksia, sakit kepala, muntah dan nyeri otot, malaise, mialgia, dan peradangan
kelenjar parotis. Suhu tubuh biasanya naik sampai 38.5-39 oC, kemudian timbul
5

pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral tetapi kemudian dapat menjadi
bilateral. Di daerah parotis, kulit tampak berwarna merah kecoklatan, nyeri pada tekanan.
Jika kelenjar liur disentuh, akan timbul nyeri. Pembengkakan terjadi pada hari kedua.
Pembangkakan kelenjar berlangsung 3 -7 hari tetapi kadang-kadang berakhir lebih lama.
Pembesaran kelenjar unilateral terjadi pada 25% kasus sedangkan pembengkakan kelenjar
bilateral terjadi pada 70-80% kasus. 2,3,5-7
Gejala klasis yang timbul dalam 24 jam adalah anak akan mengeluh sakit telinga dan
diperberat jika mengunyah makanan. Pada anak yang lebih besar mengeluh pembengkakan
dan nyeri rahang pada stadium awal penyakit, terutama saat makan makanan asam seperti jus
lemon atau cuka. Pembengkakan dapat maju dengan sangat cepatnya, mencapai maksimum
dalam beberapa jam, walaupun biasanya berpuncak pada 1-3 hari.sehingga aurikula akan
terangkat dan terdorong ke lateral. Selama masa pembesaran kelenjar, rasa nyeri dan nyeri
tekan sangatlah hebat. Keluhan akan berkurang saat pembesaran kelenjar mencapai ukuran
maksimum. Daerah yang mengalami pembengkakan terasa lunak dan nyeri. 2,5
Bersamaan dengan pembengkakan kelenjar dapat terjadi edema laring dan palatum
mole sehingga mendorong tonsil ke tengah. Tidak terdapat hubungan antara luasnya
pembengkakan dengan derajat demam yang diderita. Demam akan turun dalam 1-6 hari,
dimana suuhu tubuh kembali normal sebelum pembengkakan kelenjar hilang. Pembengkakan
kelenjar menghilang dalam 3-7 hari.2
Pembesaran kelenjar sublingual sering bilateral dan dimulai dari pembengkakan
kelenjar di region submental dan dasar mulut. Dari 3 kelenjar ludah maka keterlibatan
kelenjar sublingual yang paling jarang terjadi.2
Parotitis epidemika yang diderita selama kehamilan menyebabkan peningkatakan
kematian fetus terutama pada trimester pertama. Kematian diduga karena infeksi pada gonad
ibu sehingga terjadi perubahan hormonal. Tidak ada bukti infeksi virus parotitis epidemika
selama kehamilan menyebabkan malformasi pada fetus.2
Penatalaksanaan
Gondongan tidak memerlukan pengobatan yang spesifik. Parotitis epidemika adalah
penyakit yang dapat sembuh sendiri setelah 3 atau 4 hari. Terapi konservatif diberikan berupa
hidrasi yang adekuat dan nutrisi yang cukup untuk membantu penyembuhan. Pengobatan
ditujukan untuk mengurangi keluhan (simptomatis) dan istirahat selama penderita panas dan
kelenjar (parotis) membengkak. Keluhan demam dapat dikurangi dengan memberikan
parasetamol. Pada penderita yang mengalami pembengkakan testis, sebaiknya penderita
6

menjalani istirahat tirah baring di tempat tidur. Tirah baring harus diatur menurut kebutuhan
penderita, tetapi tidak ada bukti statistic yang menunjukkan bahwa tirah baring ini mencegah
komplikasi. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan melakukan kompres es pada area testis (buah
zakar) yang membengkak tersebut. Terapi cairan intravena diindikasikan untuk penderita
meningoensefalitis dan muntah-muntah yang persisten.

Diet harus disesuaikan dengan

kemampuan penderita untuk mengunyah. Tidak ada antivirus yang tepat digunakan untuk
parotitis epidemika.2,4-6
Komplikasi
Meningo-ensefalitis
Dapat terjadi sebelum, sesudah atau tanpa pembengkakan kelenjar parotis. Orang lakilaki terkena tiga sampai lima kali lebih sering daripada wanita. Penderita mula-mula
menunjukkan gejala nyeri kepala ringan, yang kemudian disusul oleh demam, kaku duduk,
mual, gangguan kesadaran, screaming attack dan kejang, muntah-muntah, gelisah dan suhu
tubuh yang tinggi (hiperpireksia). Pemeriksaan pungsi lumbal menunjukkan tekanan yang
meninggi, jumlah sel terutama limfosit meningkat, kadar protein meninggi, glukosa dan
klorida normal. Virus parotitis dapat diisolasi dari cairan serebrospinal pada awal penyakit.
Gejala klinik akan menghilang seiring turunnya demam. 2,3,5
Orkitis
Orkitis, epididimitis. Komplikasi ini jarang terjadi pada anak laki-laki prapubertas
tetapi sering (14-35%) pada remaja dan orang dewasa yang biasanya muncul pada minggu
pertama, namun dapat pula muncul pada minggu ke dua atau ke tiga. Sepertiga pasien
parotitis epidemika laki-laki yang telah pubertas dapat mengalami orkitis. Anak laki-laki yang
belum pubertas dapat menderita orkitis, tapi orkitis jarang terjadi pada anak laki di bawah 10
tahun. 2,5
Testes paling sering terinfeksi dengan atau tanpa epididimitis; epididimitis dapat juga
terjadi sendirian. Dapat timbul pada minggu pertama. Mulainya biasanya mendadak, dengan
kenaikan suhu, mengigil, nyeri kepala, mual, dan menderita nyeri tekan di daerah testis kanan
atau kiri. Kemandulan total jarang terjadi, tetapi mungkin didapatkan perubahan fertilitas.
Lama demam jarang melebihi 1 minggu. Demam dapat bertahan sampai 3 hari pada 20%
kasus, 4 hari pada 50% kasus dan 5 hari pada 80% kasus. 2,3,5
Pengobatan dengan memberikan kompres dingin dan penunjangan testis. Setelah
sembuh, testis yang terkena mungkin akan menciut. Jarang terjadi kerusakan testis yang
permanen sehingga terjadi kemandulan. 3,7
7

Ooforitis
Ooforitis peradangan pada salah satu atau kedua indung telur. Timbul nyeri perut yang
ringan ditemukan pada insiden oovoritis adalah 5% perempuan yang telah menstruasi dan
7% perempuan prapubertas. Tidak ada bukti adanya gangguan fertilitas.2,5,7
Miokarditis
Miokarditis. Manifestasi jantung yang serius sangat jarang, tetapi infeksi ringan
miokardium mungkin lebih sering dari pada yang diketahui. Rekaman EKG menunjukkan
perubahan-perubahan, kebanyak segmen ST, perubahan gelombang T dan pemanjangan
interval PR dapat mengarahkan diagnosis pada miokarditis. 2,5
Pankreatitis
Pankreatitis. Keterlibatkan berat pancreas jarang, tetapi infeksi ringan atau subklinis
mungkin lebih sering daripada yang diketahui. Pankreatitis mungkin tidak terkait dengan
manifestasi kelenjar ludah dan diagnosis mungkin dikelirukan dengan gastroenteritis. Nyeri
dan sakit epigastrium, yang mana memberi kesan, dapat disertai dengan demam, menggigil,
muntah, dan tidak berdaya. Kenaikan nilai amylase serum adalah khas ada pada parotitis,
dengan atau tanpa manifestasi klinis pancreatitis.5
Nefritis
Nefritis. Pada satu penelitian orang dewasa, kelainan fungsi ginjal terjadi kadangkadang pada setiap penderita, dan viruria terdeteksi pada 75%. Nefritis yang mematikan,
terjadi 10-14 hari sesudah parotitis.5
Tiroiditis
Tiroiditis. Walaupun tidak biasa pada anak, pembengkakan tiroid yang nyeri dan difus
dapat terjadi pada sekitar 1 minggu sesudah mulai parotitis dengan perkembangan
selanjutnya antibody antitiroid.5
Ketulian
Ketulian. Tuli saraf dapat terjadi unilateral, jarang bilateral. Parotitis adalah penyebab
utama tuli saraf unilateral. Kehilangan pendengaran mungkin sementara atau permanen.5
Artritis
Artritis. Artritis sangat jarang ditemukan pada anak-anak . Lutut, pergelangan kaki
dan tangan serta bahu adalah sendi yang paling sering dikeluhkan nyeri. Gejala akan
menghilang dalam beberapa hari sampai 3 bulan dengan median 2 minggu dan biasanya
penyembuhannya sempurna.2,5
Prognosis
Secara umum prognosis parotitis epidemika baik, kecuali pada keadaan tertentu yang
8

menyebabkan terjadinya ketulian, strerilitas karena atrofi testis dan sekuele karena
meningoensefalitis. 2,3
Pencegahan
Vaksinasi gondongan merupakan bagian dari imunisasi rutin pada masa kanak-kanak.
Vaksin gondongan biasanya terdapat dalam bentuk kombinasi dengan campak dan rubella
(MMR) yang disuntikkan melalui otot paha atau lengan atas. Pemberian vaksin MMR
biasanya dilakukan pada usia anak 16 bulan. Imunisasi MMR dapat juga diberikan kepada
remaja dan orang dewasa yang belum menderita gondong. Pemberian imunisasi ini tidak
menimbulkan efek panas atau gejala lainnya. Anak yang divaksinasi biasanya tidak
mengalami demam atau reaksi klinis lain yang dapat dideteksi, tidak mengeksekresi virus,
dan tidak menular terhadap kontak yang rentan. Jarang parotitis dapat berkembang 7-19 hari
sesudah vaksinasi. Parotitis dan meningoensefalitis merupakan komplikasi yang jarang dari
vaksinasi mumps yang sangat protektif.4,5,7,8
Kesimpulan
Parotitis epidemika disebabkan oleh virus RNA paramyxoviridae. Pada penderita
parotitis epidemika biasanya pembesaran unilateral, tetapi lama kelamaan dapat menjadi
bilateral. Parotitis epidemika menyerang kedua jenis kelamin secara seimbang terutama
menyerang anak berumur antara 5-10 tahun. Gejala yang disebabkan oleh penyakit parotitis
epidemika ditandai dengan gejala demam, anoreksia, sakit kepala, muntah dan nyeri otot,
malaise, mialgia, dan peradangan kelenjar parotis. Hipotesis terbukti bahwa anak laki-laki
usia 5 tahun demam sejak 3 hari yang lalu dengan pembesaran kelenjar parotis unilateral
menderita mumps (parotitis epidemica).

Daftar Pustaka
1. Burnside JW, MycGlynn TJ. Diagnosis Fisik. Jakarta: EGC; 1995.h. 157,159.
2. Lubis, CP. Buku ajar ilmu kesehatan anak, infeksi & penyakit tropis. Ed. 1. Jakarta:
EGC; 2002.h. 195-202.
3. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku kuliah ilmu kesehatan anak 2.
Jakarta: Infomedika jakarta; 2007.h. 629-33.
4. Behrman RE, Kliegman RM. Esensi pediatric Nelson. Ed. 4. Jakarta: EGC; 2010.h.
487-88.
9

5. Behrman RE, Kliegman RM, Arvin AM. Ilmu kesehatan anak Nelson. Vol. 2. Jakarta:
EGC; 2000.h. 1074-77.
6. Gillespie SH, Bamford KB. At a glance mikrobiologi medis dan infeksi. Ed. 3.
Jakarta: Erlangga; 2008.h. 71.
7. Puspitasari I. Jadi dokter untuk diri sendiri. Yogyakarta: B First; 2010.h. 79-84.
8. Cahyono JBSB. Vaksinasi, cara ampuh cegah penyakit infeksi. Yogyakarta: Kanisius;
2010.h. 86-9.

10