Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KESEHATAN REPRODUKSI
HIV AIDS

Disusun oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ferditasus Maesaroh
Fifin Maya KM
Ghinaa Kholidaziyyah
Indah sulistiyowati
Intan Artiningtyas
Jedha Berlina L
Lilis Indrayati

(17424309018)
(17424309019)
(17424309020)
(17424309021)
(17424309022)
(17424309023)
(17424309024)

POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG


PRODI DIII KEBIDANAN PURWOKERTO
TAHUN AKADEMIK 2009/2010

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang selalu melimpahkan
rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang
kami beri judul HIV AIDS
Kami mengucapkan terimakasih kepada Ibu walin S.Si,M.Kes selaku dosen
pembimbing kami yang dengan sabar memberikan pengarahan dan masukan demi
tersusunnya makalah ini.Tak lupa kami juga mengucapkan beribu terimakasih kepada
rekan-rekan prodi D III kebidanan Purwokerto dan kepada semua pihak yang telah
mendukung dan membantu kami.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan,maka dari itu
kami memohon maaf yang seikhlasnya.Tak lupa kami juga terus mengharapkan kritik
dan saran untuk meningkatkan kualitas makalah ini.Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.

Baturaden,

maret 2010

Penulis

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian.
AIDS adalah terminologi sindroma penyakit yang pertama kali digunakan
oleh para ahli epidemiologi terhadap sekelompok orang dewasa yang kehilangan
imunitas seluler tanpa sebab yang jelas pada tahun 1981. Sindrom ini
menggambarkan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi
oleh HIV. Kasus AIDS mencerminkan infeksi HIV yang sudah berlangsung lama.
Saat ini, AIDS dijumpai pada hampir semua negara dan merupakan suatu
pandemic di seluruh dunia.
B. Etiologi
HIV yang dulu disebut virus limfotrofik sel T manusia tipe III ( HTLV- III
) atau virus Limfadenopati ( LAV ), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari
famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam Ribonukleatnya ( RNA) menjadi
asam Deoksiribonukleat ( DNA ) setelah masuk kedalam sel pejamu. Ada dua tipe
dari virus ini yaitu, tipe 1 ( HIV 1 ) dan tipe 2 ( HIV 2 ). HIV I menjadi
penyebab utama AIDS di seluruh dunia, karena patogenisitas dari HIV 2 lebih
rendah dari HIV 1.
C. Gejala Klinis
1. Saluran pernafasan
Penderrita mengalami nafas pendek, henti nafas sejenak, batuk, nyeri dada
dan demam seperti terserang infeksi virus lainnya (pneumonia).Tidak
jarang diagnosa pada stadium awal penyakit HIV AIDS diduga sebagai
TBC.
2. Saluran Pencernaan.
Penderita penyakit AIDS menampakkantanda dan gejala seperti hilangnya
nafsu makan , mual, dan muntah, kerap mengalami penyakit jamur pada
rongga mulut dan kerongkongan, serta mengalami diarhea yang kronik.
3. Berat badan tubuh.
Penderita mengalami hal yang disebut juga wasting syndrome, yaitu
kehilangan berat badan tubuh hingga 10% dibawah normal karena

gangguan pada sistem protein energy didalam tubuh seperti yang dikenal
sebagai Malnutrisi termasuk juga karena gangguan absorbsi/penyerapan
makanan pada sistem pencernaan yang mengakibatkan diarhea kronik,
kondisi letih dan lemah kurang bertenaga.
4. System Persyarafan.
Terjadinya gangguan pada persyarafan central yang mengakibatkan kurang
ingatan, sakit kepala, susah berkonsentrasi, sering tampak kebingungan
dan respon anggota gerak melambat. Pada system persyarafan ujung
(Peripheral) akan menimbulkan nyeri dan kesemutan pada telapak tangan
dan kaki, reflek tendon yang kurang, selalu mengalami tensi darah rendah
dan Impoten.
5. System Integument (Jaringan kulit).
Penderita mengalami serangan virus cacar air (herpes simplex) atau carar
api (herpes zoster) dan berbagai macam penyakit kulit yang menimbulkan
rasa nyeri pada jaringan kulit. Lainnya adalah mengalami infeksi jaringan
rambut pada kulit (Folliculities), kulit kering berbercak (kulit lapisan luar
retak-retak) serta Eczema atau psoriasis.
6. Saluran kemih dan Reproduksi pada wanita.
Penderita seringkali mengalami penyakit jamur pada vagina, hal ini
sebagai tanda awal terinfeksi virus HIV. Luka pada saluran kemih,
menderita penyakit syphillis dan dibandingkan Pria maka wanita lebih
banyak jumlahnya yang menderita penyakit cacar. Lainnya adalah
penderita AIDS wanita banyak yang mengalami peradangan rongga
(tulang) pelvic dikenal sebagai istilah pelvic inflammatory disease (PID)
dan mengalami masa haid yang tidak teratur (abnormal).

Tahapan HIV menjadi AIDS:

Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala
AIDS:
1) Tahap 1: Periode Jendela

HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV


dalam darah

Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat

Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini

Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan

2) Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:

HIV berkembang biak dalam tubuh

Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa
sehat

Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah
terbentuk antibody terhadap HIV

Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan
tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

3) Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)

Sistem kekebalan tubuh semakin turun

Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan


kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll

Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan


tubuhnya

4) Tahap 4: AIDS

Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah

berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

D. Epidemiologi
HIV 2 lebih prevalen di banyak Negara di Afrika Barat, tetapi HIV 1
merupakan virus pre dominan di Afrika bagian tengah dan timur, dan bagian
dunia lainnnya. Menurut the Joint United Nations Program on HIV / AIDS
(2000), diperkirakan bahwa 36,1 juta oran gterinfeksi oleh HIV dan AIDS pada
akhir tahun 2000. Dari 36,1 juta kasus, 16,4 juta adalah perempuan dan 600 ribu
adalah anak anak berusia kuran gdari 15 tahun. Infeksi HIV telah menyebabkan
kematian pada sekitar 21,8 juta orang sejak permulaan epidemic pada akhir tahun
1970 an sampai awal tahun 1980 an. Belahan dunia yang paling parah terjangkit
HIV dan AIDS adalah Afrika Sub Sahara, di daerah tersebut diperkirakan 25,3
juta orang dewasa dan anak anak hidup dengan infeksi dan penyakit pada akhir
tahun 2000. Daerah lain di dunia yang mengkhawatirkan adalah Asia Selatan dan
Tenggara, diperkirakan 5,8 juta oran ghidup dengan HIV dan AIDS pada periode
yang sama.
Sejak tahun 1995, definisi kasusu surveilans AIDS dari US Center for
Disease Control and Prevention ( CDC ) telah direvisi 3 kali untuk mencerminkan
pemahaman baru tentang penyakit HIV dan perubahan dalam penanganan medis.
Pada tahun 1987, sindrom pengurusan dan keadaan lain ditambahkan ke daftar
penyakit penyakit indikator yang didiagniosis secara definitife dengan bikti
laboratorium infeksi HIV.
Perluasan definisi kasusu surveilans untuk AIDS pada awalanya
menyebabkan peningkatan pesat kasus AIDS yang dilaporkan untuk tahun 1993.
Peningkatan ini disebabkan oleh disertakannya pesien pasien yang didiagnosis
mengidap imunosupresik berat, yna gbiasanya terjadi sebelum awitan infeksi
oportunistik yan gberkaitan dengan AIDS. Pada tahun 1997, CDC melaporlkan

penurunan pertama kali jumlah kasusu baru AIDS yang disebabklan oleh
penggunaan terapi anti retrovirus yang sangat aktif ( HAART ) pada tahu 1996.
Jumlah kumulatif kasus AIDS pediatric (anak berusia kurang dari 13
tahun) yang dilaporkan ke CDC, sampai Desember 2000 adalah 8908. Karena
AIDS pediatric terutama mencerminkan infeksi pra natal atau perinatal maka
seiring dengan meningkatnya angka HIV pada perempuan, semakin banyak bayi
yang terjangkit HIV. Jumlah kasus AIDS yang ditularkan pada masa perinatal
memuncak pada tahun 1992 dan kemudian menurun sampai tahun 1999.
Penurunan ini berkaitan dengan petunjuk petnjuk dari Poublic Health Service
untuk konseling universal dan uji HIV sukarela terhadap perempuan hamil serta
pemakaian sidofudin sebagai terapi untuk perempuan yang terinfeksi HIV dan
bayinya yang baru lahir. AIDS diantara perempuan ditularkan terutama melalui
hubungan heteroseks, diikuti oleh pemakaian obat suntik ( CDC, 1999 ).
E. Patofisiologi

Patogenesis
HIV dapat diisolasi dari darah, cairan cerebrospinalis, semen, air mata,

sekresi vagina atau servik, urine, ASI, dan air liur. Penularan terjadi paling sfisien
melalui darah dan semen. HIV juga dapat ditularkan melalui ASI dan sekresi
vagina atau serviks. Tiga cara utama penularan adalah kontak dengan darah,
kontak seksual dan kontak ibu - bayi. Setelah virus ditularkan akan terjadi
serangkaian proses yang kemudian menyebabkan infeksi.
HIV dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak seksual yang
tidak dilindungi ( baik homo maupun heteroseksual ), penggunaan jarum dan
syringes yang terkontaminasi kontak dengan kulit yang lecet dengan sekret atau
bahan infeksius, tranfusi darah, atau komponen-komponennya yang terinfeksi;
transplantasi dari organ dari organ dan jaringan yang terinfeksi HIV. Sementara
virus kadang-kadang ditemukan di air liur, air mata, urin, dan sekret bronkial,
penularan sesudah kontak dengan secret ini belum pernah dilaporkan. Resiko dari
penularan HIV melalui hubungan seks lebih rendah dibandingkan dengan PMS
lainnya. Namun adanya penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual
terutama penyakit seksual dengan luka seperti chancroid, besar kemungkinan
dapat menjadi pencetus penularan HIV. Determinan utama dari penularan melalui

hubungan seksual adalah pola dan prevalensi dari orang-orang dengan sexual
risk behavior seperti melakukan hubungan seksual yang tidak terlindungi
dengan banyak pasangan. Carries sering tanpa gejala, mereka tidak sadar akan
status mereka. Tidak ada bukti epidemiologis atau laboratorium yang menyatakan
bahwa gigitan serangga bisa menularkan infeksi HIV.
Dari 15 35% bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV ( + ) terinfeksi
melalui plasenta: pengobatan wanita hamil dengan antivirus seperti Zidovudine
mengurangi kejadian penularan kepada bayi secara bermakna. Sampai dengan
tahun 1999 satu-satunya obat yang dapat mencegah infeksi perinatal adalah
Azidothimidine, diberikan peroral pada kehamilan usia 14 minggu dan diteruskan
sampai menjelang kelahiran; diberikan secara intravena pada saat melahirkan;
diberikan secara oral pada bayi baru lahir pada 6 minggu pertama. Cara ini
menurunkan transmisi perinatal sebesar 66%. Sedangkan pemberian AZT jangka
pendek menurunkan angka tansmisi 40%. Hampir 50% dari bayi yang disusui
oleh ibu dengan HIV ( + ) dapat tertular infeksi HIV. Petugas kesehatan yang
terluka oleh jarum suntik atau benda tajam lainnya yang engandung darah yang
terinfeksi virus HIV, angka serokonversi mereka < 0,5%, lebih rendah dari
risikoterkena virus hepatitis B ( 25% ) sesudah terpajan dengan cara yang sama.
Penggunaan alat suntik yang tidak aman menyebabkan terjadinya penularan
sekitar 5%.

Perlekatan Virus
Virion HIV matang memiliki bentuk hampir bulat.Selubung luarnya

terdiri dari lemak lapis ganda yang mengandung banyak tonjolan protein.Duriduri ini terdiri dari dua glikoprotein: gp120 dan gp41.gp mengacu kepada
glikoprotein, dan angka mengacu pada massa protein dalam ribuan dalton.
Inti virion dikelilingi oleh suatu protein kapsid.Didalam kapsidterdapat
dua untai RNA identik dan molekul performed reverse transcriptase, integrase
dan protease.HIV adalah suatu retro virus,sehingga materi genetik berada dalam
bentuk

RNA

bukan

DNA.Reverse

transcriptase

adalah

enzim

ynag

menstranskripsikan RNA virus menjadi DNA setelah virus masuk ke sel sasaran.

Respon Imun terhadap infeksi HIV


Setelah terserang HIV, individu akan melakukan perlawanan imun yang

intensif.Sel-sel B menghasilkan antibodi-antibodi spesifik terhadap berbagai

protein virus.Ditemukan antibodi netralisasi terhadap regio-regio di gp120


selubung virus dan bagian eksternal gp41.Diteksi antibodi adalah dasar bagi
berbagai uji HIV.Antibodi terhadap HIV dapat mucul dalam 1 bulan setelah
infeksi awal dan pada sebagian besar orang yang terinfeksi HIV dalam 6 bulan
setelah serangan.Namun antibodi HIV tidak menetralisasikan HIV atau
menimbulakan perlindungan terhadap infeksi lebih lanjut.
F. Perkembangan Klinis

Fase infeksi
Perjalanan penyakit dimulai saat terajdi penularan dan pasien terinfeksi.Tidak

semua orang yang terpajan akn terinfeksi.Mungkin terdapat kofaktor lain dalam
akui sisi yang perlu diidentifikasi lebih lanjut,setelah infeksi awal oleh HIV
pasien mungkin tetap sero negatif selama beberapa bulan.Namun, pasien ini
bersifat menular selama periode ini dan dapat memindahkan virus ke orang
lain.fase ini disebut window periode (masa jendela).Manifestasi klinik pada orang
yang terinfeksi dapat timbul sedini 1 4 minggu setelah pajanan.
Infeksi akut terjadi pada tahap serokonvensi dari status antibodi negatif
menjadi positif.Gejala mungkin berupa malaise,demam., diare, limfedenopati dan
ruam makulopapular.Beberapa oramg mengalami gejala yang lebih akut seperti
meningitis, dan peneumonitis.
Dalam beberapa minggu setelah fase infekis akut, paien masuk ke fase
asimtomatik.selama fase ini baik virus maupun antibodi virus dapat ditemukan
didalam darah.Fase ini dapat berlangsung beberapa tahun dengan sistem imun
yang relatif utuh.Namun replikasi HIV terus berlangsung terutama dijaringan
limfoid.
Fase simtomatik dini ditandai oleh limfadenopati.Generalisata persisten
(PGL), dengan gejala konstitusi yang signifikan (misalnya demam menetap,
keringan malam, diare, dan penurunan berat badan)dan mencerminkan
dimulainya dekompensasi sistem imun, peningkatan replikasi virus dan awitan
penyakit AIDS yang lengkap.

Manifestasi klinis
Aids memiliki beragam manifestasi klinis dalam bentuk keganasan dan

infeksi oportunistik yang khas.

Sarkoma kaposi (SK) adalah jenis keganasan yang sering dijumpai pada
laki- laki homoseks atau biseks yang terinfeksi oleh HIV (26 %) tetapi jarang
pada orang dewasa lain (<2%) dan sangat jarang pada anak.Bukti kuat
mengisyaratkan bhawa SK disebabkan oleh suatu mikroorganisme menular
seksual, virus herpes manusia tipe 8 (HHV 8)

atau virus herpes terkait

sarkoma kaposi, dan bukan HIV.HHV 8 menyebabkan orang yang terinfeksi


rentan mengalami SK (serupa dengan virus papyloma manusia yang
mempermudah timbulnya kanker serviks pada orang yang terinfeksi).
Kanker serviks invasif adalh suatu keganasan ginekologik yang berkaitan
dengan penyakit HIV kronik yang dimasukan dalam definisi kasus sejak
1993.displasia serviks mengenai 40% perempuan yang terinfeksi HIV.Displasia
serviks disebabkan ileh virus papyloma manusia yang berkorelasi dengan
timbulnya kanker invsif dikemudian hari.Dengan demikian pada perempuan yang
terinfeksi oleh HIV harus dilakukan pemeriksaan kolposkopik setiap 6 bulan
untuk mendeteksi kanker serviks pada stadium dini.Pada perempuan dengan
AIDS kanker serviks menjadi sangat agresif.
G. Upaya Pencegahan
Program pencegahan HIV / AIDS hanya dapat efektif bila dilakukan dengan
komitmen masyarakat dan komitmen politik yang tinggi untuk mencegah dan
mengurangi perilaku risiko tinggi terhadap penularan HIV. Upaya tersebut
meliputi :
1. Pemberian penyuluhan kesehatan di sekolah dan di masyarakat harus
menekankan bahwa mempunyai pasangan seks yang berganti-ganti serta
penggunaan alat suntik bergantian dapat meningkatkan risiko terkena infeksi
HIV.
2. Satu-satunya jalan agar tidak terinfeksi adalah dengan tidak melakukan
hubungan seks atau hanya berhubungan seks dengan satu orang yang diketahui
tidak mengidap infeksi.
3. Mempebanyak fasilitas pengobatan bagi pecandu obat terlarang akan
mengurangi penularan HIV. Begtu pula Program Harm Reduction yang
menganjurkan para pengguna jarum suntik untuk menggunakan metode
dekontaminasi dan menghentikan penggunaan jarum bersama telah terbukti
efektif menurunkan penularan HIV.

4. Setiap wanita hamil sebaiknya sejak awal kehamilan disarankan untuk


dilakukan tes HIV sebagai kegiatan rutin dari standar perawatan kehamilan.
Ibu dengan HIV positif harus dievaluasi untuk memperkirakan kebutuhan
mereka terhadap terapi ARV seperti Zidovudine (ZDV) untuk mencegah
penularan HIV melalui uterus dan perinatal.
5. Sikap hati-hati harus dilakukan pada waktu penangan, pemakaian dan
pembuangan jarum suntik atau semua jenis alat-alat yang berujung tajam
lainnya agar tidak tertusuk.
H. Pengawasa penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1. Disinfeksi serentak; dilakukan terhadap alat-alat yang terkontaminasi dengan
darah atau cairan tubuh dengan menggunakan larutan pemutih (chlorine) atau
germisida tuberkulosidal yang efektif terhadap M. tuberculosis
2. Pengobatan spesifik: disarankan untuk melakukan diagnosa dini dan
melakukan rujukan untuk evaluasi medis.

DAFTAR PUSTAKA
http://aids-ina.org/modules.php?name=FAQ&myfaq=yes&id_cat=1&categories=HIVAIDS
http://id.wikipedia.org/wiki/AIDS
Chin, James.2006.Manual Pemberantasan Penyakit Menular.Jakarta: Infomedika