Anda di halaman 1dari 17

TUGAS 7 TEKNIK PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR (TPPA)

STRATEGI PENGOLAHAN LIMBAH di PROVINSI JAWA BARAT (DAS CITARUM)

Disusun oleh :
Cyrilla Oktaviananda
14/376450/PTK/10153

MAGISTER TEKNIK PENGENDALIAN PENCEMARAN LINGKUNGAN


JURUSAN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
I.

INDONESIA

Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai letak strategis. Ini bisa kita ketahui
dengan mempelajari letak Indonesia dari sudut letak geografis dan astronomisnya.
a. Letak Geografis
1. Indonesia terletak di antara dua benua yakni Asia dan Australia, sehingga di Indonesia
terjadi dua musim, kemarau dan penghujan. Selain itu, dengan berada di antara
perbatasan dua benua, menyebabkan Indonesia mempunyai koleksi flora dan fauna yang
bersifat Asiatis, peralihan dan Australis.
2. Indonesia terletak di antara dua samudera, yaitu Hindia dan Pasifik.
3. Indonesia terletak di jalur lalu lintas dunia, baik jalur pelayaran maupun penerbangan.
Jalur pelayaran merupakan jalur lalu lintas perdagangan dunia.
b. Letak Astronomis
Letak astronomis Indonesia di antara 6 LU 11 LS dan 95 BT 141 BT.
Dilihat dari garis lintangnya, kondisi geografis Indonesia antara lain :
1. Wilayah Indonesia sebagian besar terletak di bagian selatan bumi.
2. Indoneisa dilewati garis equator.
3. Indonesia memiliki iklim tropis.
Sedangkan kondisi Indonesia dilihat dari garis bujurnya antara lain :
1. Indonesia terletak di belahan bumi timur.
2. Karena panjang garis bujur Indonesia 46, maka Indonesia terbagi menjadi 3 wilayah
waktu, yaitu WIB, WITA, WIT. Hal ini berdasarkan kesepakatan internasional bahwa
tiap 15 terjadi selisih waktu 1 jam.

c. Luas dan Batas Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.500 pulau, yang
membentang dari barat ke timur sepanjang 5.110 km dan dari utara ke selatan sejauh
1.886 km. Sedangkan garis pantai Indonesia mempunyai panjang 81.497 km yang setar
dengan dua kali keliling bumi di garis khatulistiwa.
Luas seluruh wilayah Indonesia adalah 5.193.252 km2. Di mana luas lautnya mencapai
3.288.683 km2, sedang luas daratannya 1.904.569 km2, jadi jika dibandingkan antara
laut dan daratnya adalah 3 : 2. Kemudian, jika wilayah laut yang menjadi Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia dimasukkan, luas perairan lautnya mencapai 7,9 juta km2 atau
mencapai 83% dari luas Indonesia. Sedangkan luas daratan Indonesia sekitar 1.922.570
km2.
Batas wilayah Indonesia:
1.

Sebelah utara berbatasan dengan Laut Andaman, Selat Malaka, Laut Cina Selatan,

2.

dan Samudra Pasifik, serta berbatasan darat dengan Malaysia Timur di Kalimantan.
Sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia, Timor Leste, Laut Timor, dan

3.
4.

Laut Arafuru.
Sebelah timur berbatasan dengan negara Papua Nuginie dan Samudra Pasifik.
Sebelah barat berbatasan dengan Samudra Hindia.

Gambar 1. Letak Geografis dan Letak Astronomis Indonesia


d. Bentang Alam, Flora dan Fauna Indonesia
Indonesia dilihat dari letak geologisnya merupakan negara pegunungan, yang terletak di
pertemuan Pegunungan Sirkum Mediterania dan Pegunungan Muda Sirkum Pasifik.Hal
ini menyebabkan banyaknya gunung berapi dan juga pusat gempa di Indonesia. Akibat
dari banyaknya aktivitas vulkanisme tersebut, maka di Indonesia banyak ditemukan
sumber daya bahan galian, seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, timahdan lain-lain
yang bisa sangat bermanfaat secara ekonomi.
Barisan pegunungan Sirkum Mediterania membentang dari pegunungan di Asia Selatan
ke Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Maluku. Sedang barisan pegunungan Sirkum
Pasifik membentang melalui Jepang, Taiwan, dan Filipina. Dari Filipina, rangkaian
pegunungan tersebut ada yang bersambung ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Barisan pegunungan Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik bertemu di daerah Maluku,
tepatnya di Laut Banda (Indonesia).
Selain itu Indonesia terbagi ke dalam tiga daerah, yaitu daerah Dangkalan Sunda,
Dangkalan Laut Dalam dan Dangkalan Sahul
a. Dangkalan Sunda meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil
diseputarnya. Sedang untuk perairannya terdiri dari Selat Malaka, Selat Sunda, dan
Laut Jawa.
b. Dangkalan Laut Dalam meliputi Sulawesi dan pulau-pulau disekitarnya, sedang
perairannya meliputi Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Maluku, Laut Seram, Laut
Flores, Selat Bali dan Laut Banda.
c. Dangkalan Sahul meliputi Kep. Aru, Pulau Irian, dan pulau-pulau disekitarnya, sedang
perairannya yaitu Laut Arafuru.
II. PROVINSI JAWA BARAT

Gambar 2. Penampang Provinsi Jawa Barat Melalui Google Earth

Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5o50 7o50 Lintang Selatan dan
104o48 Bujur Timur dengan batas-batas wilayahnya:
(1)
(2)
(3)
(4)

Sebelah utara, berbatasan dengan Laut Jawa dan DKI Jakarta


Sebelah timur, berbatasan dengan Propinsi Jawa Tengah
Sebelah selatan, berbatasan dengan Samudra Indonesia
Sebelah barat, berbatasan dengan Propinsi Banten

Gambar 3. Peta Provinsi Jawa Barat


Kondisi geografis Jawa Barat yang strategis merupakan keuntungan bagi daerah Jawa Barat
terutama dari segi komunikasi dan perhubungan. Kawasan Utara merupakan daerah berdataran
rendah, sedangkan kawasan selatan berbukit-bukit dengan sedikit pantai serta dataran tinggi
bergunung-gunung ada di kawasan tengah.
Selain itu, Jawa Barat memiliki lahan yang subur yang berasal dari endapan vulkanis serta
banyaknya aliran sungai menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya digunakan untuk
pertanian. Hal ini menyebabkan propinsi Jawa Barat ditetapkan sebagai lumbung pangan
nasional. Jawa Barat yang beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata 161,0 mm sedangkan
rata-rata hari hujan untuk tahun 2004 adalah 16 hari.

III. Sekilas Citarum


Strategi pengolahan limbah cair di Provinsi Jawa Barat dapat disederhanakan menjadi
strategi pengolahan limbah cair di Daerah Aliran Sungai Citarum karena DAS Citarum adalah
DAS terbesar di Provinsi Jawa Barat. Selain itu DAS Citarum sangat bermanfaat sebagai sumber
air baik untuk kepentingan industri, sumber air domestik, perikanan, peternakan, dan lain-lain.
Fungsi ini terjadi disepanjang aliran DAS Citarum baik dari hilir hingga hulu.
3.1 Sungai Citarum dan Potensinya

Gambar 4. Peta Aliran Sungai Citarum di Provinsi Jawa Barat

Gambat 5. Peta Aliran Sungai Citarum dari Hulu ke Hilir


Citarum merupakan sungai terpanjang dan terbesar di Provinsi Jawa Barat. Berawal dari Situ
Cisanti yang terletak di kaki Gunung Wayang mengalir sejauh 269 km. dan terdapat Mengalir

Bermuara di Laut Jawa. Citarum memiliki 12.000 km2, mengalir dan menjadi sumber air di 10
Kabupaten yaitu:
1. Kabupaten Bandung
2. Kabupaten Bandung Barat
3. Kabupaten Bogor
4. Kabuaten Bekasi
5. Kabupaten Cianjur
6. Kabupaten Karawang
7. Kabuaten Purwakarta
8. Kabupaten Subang
9. Kabupaten Sumedang
10. Kabupaten Indramayu
serta 3 Kota Besar yang mencangkup Kota Bandung, Kota Bekasi, dan Kota Cimahi dengan
beberapa Anak Sungai seperti Sungai Citarik, Sungai Cikapundung, Sungai Citepus, Sungai
Cisokan, dan Sungai Cisangkuy serta beberapa saluran buatan Kanal Tarum Timur, Kanal Tarum
Barat, dan Kanal Tarum Utama.
Berbagai manfaat Citarum dinikmati oleh 25.000 warga Jawa Barat dan DKI di Kawasan
Bandung dan Bekasi. Sungai Citarum mengaliri dan menjadi sumber air baku penduduk
Bandung, Bekasi, Karawang, Cimahi dan menjadi 80% sumber air baku di DKI Jakarta.
Sungai Citarum melewati 3 bendungan yaitu Jatiluhur, Cirata menghasilkan tenaga
listik sebesar 1400MW yang dapat memenuhi kebutuhan listik Jawa dan Pulau Bali.
3.2 Pemetaan masalah di DAS Citarum
3.2.1 Sumber permasalahan di Hulu Sungai Citarum
-

Penebangan dan penggundulan hutan, menyebabkan kadar erosi 31,4% dari luas

wilayah Sungai Citarum


- Penggunaan lahan yang kurang tepat
- Eksploitasi air tanah menyebabkan penurunan air tanah
- Penurunan kualitas air yang disebabkan oleh pencemaran kotoran
- Pencemaran akibat pembuangan limbah industri tanpa pengelohan
- Pencemaran limbah rumah tangga
3.2.2 Sumber permasalahan di Tengah Sungai Citarum
7

Sedimentasi pada dasar waduk akibat perlakuan-perlakuan berikut:


1. Pemberian pakan ikan yang berlebihan hingga membentuk sedimen
2. Sampah padat yang mengendap di dasar sungai akibat kebiasaan buruk warga
membuang sampah di sungai
3.2.3 Sumber permasalahan di Hilir Sungai Citarum
- Pesatnya urbanisasi dan pertumbuhan penduduk
- Perlakuan negatif pada sungai dan curah hujan yang tinggi menyebabkan debit air
sungai meningkat.
IV.
Teknik Pengolahan Limbah di DAS Citarum
IV.1 Strategi Pengolahan Limbah Cair di Citarum Hulu
Salah satu permasalahan yang terjadi di DAS Citarum hulu adalah tercemarnya air akibat
kegiatan industri. Kesalahan yang mendasar adalah bahwa industri yang notabene menghasilkan
banyak sekali limbah cair dengan kandungan polutan-polutan baik polutan kimia maupun
polutan organik, dibangun di daerah hulu. Limbah industri yang dibuang di hulu DAS Citarum
akan mencemari seluruh aliran DAS Citarum. Hal ini tentu saja menyebabkan kerugian karena
DAS yang tercemar akan berdampak buruk bagi kesehatan makhluk hidup yang tinggal disekitar
DAS dan mengkonsumsi air yang bersumber dari DAS tersebut.
Di hulu Sungai Citarum tepatnya di area sekitar Kecamatan Majalaya, dimana terdapat
kurang lebih sekitar 800 pabrik tekstil beroperasi di kedua wilayah tersebut, dan tingkatan
konsentrasi bahan pencemar dari berbagai jenis polutan nilainya lebih tinggi dari standar normal
(ambang batas pencemaran).

Gambar 6. Peta Industri Tekstil di Kecamatan Majalaya (

Industri Teksti)

sumber: Bappeda Provinsi Jawa Barat (2012)


Hasil Investigasi terdahulu di Waduk Saguling pada tahun 1997 mengungkapkan fakta
bahwa konsentrasi logam berat seperti kadmium (Cd), tembaga (Cu), nikel (Ni), dan timbal (Pb)
ditemukan berada dalam konsentrasi yang tinggi dalam dua spesies ikan yang biasa dikonsumsi
masyarakat, yakni spesies Oreochromis nilotica dan Hampala macrolepidota (Salim, 1997).
Pada tahun 2004, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh PT Indonesia Power dan
Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran (sekarang PPSDAL Unpad) di Waduk Saguling,
terungkap fakta bahwa kualitas air Sungai Citarum sudah tidak memenuhi standar kualitas
normal (Institute of Ecology, 2004).
Studi yang baru-baru ini dilakukan memperkuat studi yang telah dilakukan sebelumnya.
Studi ini menganalisis kontaminasi logam berat dalam sedimen sungai. Berdasarkan hasil studi
diketahui bahwa konsentrasi logam berat seperti Cd, Cr dan Pb di daerah hilir terdeteksi lebih
tinggi jika dibandingkan dengan daerah hulu (Sunardi, 2009).
Dalam pengelolaan limbah cair untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien perlu
dilakukan langkah-langkah pengelolaan yang dilaksanakan secara terpadu dengan dimulai upaya

minimisasi limbah (waste minimization), pengolahan limbah (waste treatment), dan pembuangan
limbah (disposal). Cara pengolahan limbah cair ada dua, yaitu :
4.1.1 Cara Kimia
Cara ini dilakukan dengan koagulasi menggunakan bahan kimia dan banyak digunakan.
Koagulasi merupakan metode untuk menghilangkan bahan-bahan limbah dalam bentuk koloid
dengan menambahkan koagulan. Dengan koagulasi, partikel-partikel koloid akan saling menarik
dan menggumpal membentuk flok. Bahan kimia yang banyak digunakan adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Ferosulfat
Kapur
Alum
PAC
Polielektrolit
Pada cara ini, koagulan digunakan untuk menggumpalkan bahan-bahan yang ada dalam air

limbah menjadi flok yang mudah untuk dipisahkan yaitu dengan cara diendapkan, diapungkan
dan disaring. Pada beberapa pabrik cara ini dilanjutkan dengan melewatkan air limbah melalui
Zeolit (suatu batuan alam) dan arang aktif (karbon aktif). Lumpur yang dihasilkan pengolahan
limbah secara kimia adalah sumber utama limbah pada pabrik tekstil.

Gambar 7. Beberapa Jenis Tangki Pengendap


Limbah lain yang mungkin perlu ditangani adalah sisa kain, sisa minyak dan lateks.
Alternatif pemanfaatan sisa kain dapat digunakan sebagai bahan tas kain yang terdiri dari
10

potongan kain-kain yang tidak terpakai, dapat juga digunakan sebagai isi bantal dan boneka
sebagai pengganti dakron.
Lumpur dari pengolahan fisik atau kimia harus dihilangkan airnya dengan saringan plat
atau saringan sabuk (belt filter). Jika pewarna yang dipakai tidak mengandung krom atau logam
lain, lumpur dapat ditebarkan diatas tanah. Lumpur yang mengandung logam harus disimpan
ditempat yang aman, sampai ada suatu tempat pengolahan limbah berbahaya yang dikembangkan
diIndonesia, dan yang ada pada saat ini adalah pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B-3) di Cilengsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
4.1.2

Cara Biologi
Cara ini mulai banyak dilakukan dan memanfaatkan aktifitas mikroba biologi untuk

menghancurkan bahan-bahan yang ada dalam air limbah menjadi bahan yang mudah dipisahkan
atau yang memberi efek pencemaran rendah. Beberapa pabrik tekstil terutama pabrik besar telah
melakukan pengolahan dengan gabungan cara kimia (koagulasi), cara fisik (penyerapan) dan
cara biologi (lumpur aktif).
Cara biologi yang banyak dilakukan adalah cara aerobik metode lumpur aktif. Dengan cara
tersebut air limbah dengan lumpur aktif yang mengandung mikroba diaerasi untuk memasukkan
oksigen.
Cara lumpur aktif dapat menurunkan COD dan BOD hingga 30 70 %, tergantung pada
karakateristik limbah cair yang diolah dan kondisi proses lumpur aktif yang dilakukan.
Pengolahan limbah cair memerlukan biaya investasi dan biaya operasi yang tidak sedikit, oleh
karena itu, pengolahan limbah cair harus :
1. Melakukan perencanaan yang tepat dan teliti.
2. Pelaksanaan pembangunan fasilitas Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau Unit
Pengolahan Limbah (UPL) yang benar.
11

3. Pengoperasian IPAL dan UPL yang cermat.


Dalam perencanaan desain IPAL terhadap air limbah yang akan diolah sebaiknya
diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Zat pencemar dalam air limbah industri teksil terdiri dari bahan organik dan anorganik yang
mempunyai sifat terlarut atau terdispersi dalam air serta padatan kasar, seperti sisa serat dan
benang.
2. Jumlah air limbah (debit) yang harus diolah perhari, serta fluktuasi jumlah air limbah dalam 1
hari, 1 minggu, dan 1 bulan.
3. Jenis bahan yang terkandung dalam air limbah, yaitu bahan yang di lepas dari serat serta
bahan kimia yang di bubuhkan dalam suatu proses, dan karakteristik (sifat) kimia dari setiap
jenis bahan-bahan tersebut, misalnya sifat toksitasnya dan lain-lain.
4. Karakterstik kimia dan karakterstik fisik dari air limbah.
Selanjutnya dalam menentukan atau menilai suatu desain Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL) hendaknya diperhitungakan faktor-faktor berikut:
1. Jaminan kemampuan menghilangkan atau menurunkan bahan pencemar yang terkandung
2.
3.
4.
5.

dalam air limbah.


Ketersediaan lahan.
Kemudahan pengoperasian.
Perimbangan biaya investasi dan biaya operasi.
Produk samping yang dihasilkan, misalnya lumpur, gas-gas dan sebagainya, serta cara
pengelolaannya.

4.2 Contoh pengolahan limbah cair domestik


Sistem Pengolahan Limbah Cair Domestik berdasakan Tempat Pengolahan:
4.2.1

Centralized System/Sistem Pengolahan Terpusat/Off site system


Sistem pengolahan air limbah dari seluruh daerah pelayanan dikumpulkan melalui riol

pengumpul, kemudian dialirkan ke dalam rial kota menuju ke tempat instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) dan atau dengan pengenceran tertentu (intersepting sewer), yang selanjutnya bila
telah memenuhi standar baku mutu dapat dibuang ke badan air.

12

Sistem ini juga disebut sistem konvensional. Hanya sebagian kecil air bersih yang di
distribusikan ke suatu daerah perkotaan dan dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum dan
masak. Sebagian besar air bersih di manfaatkan untuk membersihkan pengglontoran (flushing),
menyiram tanaman, dan lain-lain. Jadi terdapat jumlah air yang banyak akan mengalirkan dengan
mentransport poluan ke IPAL.
Dalam sistem tercampur, terdapat juga air hujan, kemudian beban polutan yang tinggi,
juga fluktuasi air limbah, kadar polutan yang tinggi dan sangat kompleks, sehingga untuk
menyisihkan poluttan secara efektif tidaklah mudah.
Air limbah dan lumpur yang disisihkan pada umumnya mengandung kadar fosfat yang
dapat dimanfaatkan sebagai bahan pupuk tetapi pada kenyataannya juga ditemui logam berat.
Hal ini juga menjadi masalah bila dimanfaatkan sebagai pupuk untuk tanaman pertanian.
Sistem terpusat juga merupakan potensi investasi yang cukup besar. Investasi yang tinggi
diperlukan untuk saluran pengumpul air limbah, dibandingkan untuk kebutuhan IPAL. Oleh
sebab itu, sering terjadi penundaan pada proyek pengelolaan air limbah secara terpusat.
Biaya operasi dan pemeliharaan yang tinggi, terutama untuk daerah perkotaan yang relatif
datar, misalnya kota yang terletak di dekat pantai, sehingga diperlukan sistem pemompaan.

Gambar 8. Penempatan Pengolahan Air Limbah Sistem Terpusat (Off Site)


Unit-unit pengolahan yang dapat digunakan untuk sistem off-site adalah:
a.
b.
c.
d.

Aqua culture
Anaerobic with Biogas Digester
Stabilization Ponds
Small Bore Sewer (Sistem Riol Ukuran Kecil)

13

Sistem penyaluran air effluent tangki septic dan/atau dari limbah cair cucian (grey water).
Keadaan pengaliran bertekanan tetapi gradient hidrolis masih di bawah elevasi tangki septic
dan peralatan saniter, sehingga terjadi aliran balik. Aliran bertekanan tersebut menyebabkan
diameter yang digunakan relatif kecil.
e. Shallow Bore Sewer (Sistem Riol Dangkal)
Sistem riol dengan pembebanan pipa relaif dangkal. Luas max 4 unit luas daerah pelayanan
retikulasi. Sistem unit retikulasi jumlah sambungan rumah max sekitar 800 rumah, dengan
ukuran riol terbesar 225 mm. Jadi terdapat 4 lajur pipa induk dengan D = 225 mm dari 4 x
800 sambungan rumah masuk ke IPAL. Luas max = 4 x 25 ha = 100 ha. Kepadatan penduduk
rerata 160jiwa/ha.
f. Convensional Sewerage System with Centralized Waste Water Treatment
4.2.2 Desentralized system/ Sistem Pengolahan Setempat/ On site System
Sistem pembuangan air limbah dimana air limbah dibuang serta diolah langsung di
tempat tanpa melalui penyaluran terlebih dahulu. Sistem ini dipakai jika syarat-syarat teknis
lokasi dapat dipenuhi dan menggunakan biaya relatif rendah. Sistem dimana pada daerah itu
tidak ada sistem riol kota atau untuk lingkungan kecil yang masih tersedia pekarangannya.

Gambar 9. Penempatan Pengolahan Air Limbah Sistem Setempat (On Site)

Unit-unit pengolahan yang dapat digunakan untuk sistem pengolahan on-site:


a.
b.
c.
d.
e.

Septic Tank
Grease Trap
Pit Latrine Composting
Grey Wate
Beerput (Soewondo, 2009)
14

Data-data yang dibutuhkan dalam memilih teknologi pengolahan:


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Tanah, meliputi karakteristik dan kemampuan menyerap air kedalam bebatuan


Air tanah, yaitu kedalaman muka air tanah
Iklim, yaitu data curah hujan dan suhu
Kepadatan penduduk
Banyaknya penduduk tiap rumah
Pendapatan penduduk
Data penyakit dan kesehatan dari penduduk
Jenis rumah penduduk
Fasilitas sanitasi dan drainase yang telah digunakan
Kebiasaan penduduk dalam menggunakan fasilitas sanitasi
Sumber air bersih
Regulasi atau peraturan yang berlaku

DAFTAR PUSTAKA
http://www.citarum.org/node/35, diakses tanggal 10 Juni 2015
http://citarum.org/upload/upload/Citarum-Leaflet-Bahasa-final%20small.pdf, diakses
tanggal 10 Juni 2015

http://bbwscitarum.com/, diakses tanggal 10 Juni 2015

15

https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1371, diakses pada tanggal 18 Mei 2016


http://jokowid.blogspot.co.id/2015/06/kondisi-geografis-dan-penduduk.html,
tanggal 18 Mei 2016

16

diakses

pada