Anda di halaman 1dari 16

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

TEORI SEJARAH

KERJASAMA ANTAR BANGSA Kegagalan LBB yang dibentuk akhir Perang Dunia I memicu terjadinya Perang Dunia II Tahun 1939 – 1945. Akibat negara-negara pendiri LBB lebih memetingkan kepentingan negaranya daripada kepentingan Perdamaian Dunia. Sebagai contoh waktu Jerman tidak membayar silihan perang sebesar 13 milyard Mark, daerah Jerman Lur dan Lotaringen diambil oleh Inggris dan Perancis, hal seperti ini menimbulkan PD II, sedang berlangsungnya Perang Dunia II. Pada tanggal 14 Agustus 1941 lewat Atlantic Charters. Diproses selama 4 tahun dari tahun 1941 s.d. tahun 1945. pada tanggal 24 Oktober 1945 terbentuklah kerjasama PBB pelopornya yaitu Perdana Mentri Inggris dan Presiden Amerika Serikat Winston Churchil dan FD. Roosevelt.

Tujuan PBB adalah :

a. Memelihara perdamaian dan keamanan international

b. Mengembangkan hubungan-hubungan persaudaraan diantara bangsa-bangsa.

c. Menciptakan kerjasama untuk memecahkan masalah-masalah international diberbagai bidang dan mengembangkan rasa hormat terhadap hak-hak manusia.

d. Menjadikan PBB sebagai pusat kegiatan yang harmonis bagi bangsa-bangsa dalam mencapai tujuan bersama

Alat Kelengkapan PBB :

a. Majelis Umum (General Assembly)

b. Dewan Keamanan (Security Council)

c. Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC)

d. Dewan Perwalian (Trunteeship Council)

e. Mahkamah International (International Court Of Justice)

f. Sekretariat (Secretary)

g. Badan-badan Khusus PBB.

MASUKNYA BANGSA BARAT KE INDONESIA DAN UPAYA UNTUK MENENTANG BANGSA BARAT DI INDONESIA

A. LATAR BELAKANG KEDATANGAN BANGSA BARAT KE DUNIA TIMUR

Latar belakang kedatangan bangsa barat ke Indonesia adalah untuk berdagang rempah- rempah. Hal ini dikarenakan rempah-rempah di Eropa sangat mahal akibat jatuhnya Konstantinopel (1543) ke tangan Turki (Islam). Bangsa Barat yang mempelopori penjelajahan samudera ini adalah Spanyol dan Portugal. Untuk mengatasi terjadinya persaingan diantara dua bangsa maka diadakan Perjanjian Tordesilas tahun 1493, yang menetapkan “ Kepulauan Verdi dijadikan batas pelayaran, Portugis diperbolehkan berlayar ke timur dan Spanyol ke Barat. Gambaran Pelayaran sebelum dan sesudah Perjanjian Tordesillas adalah sebagai berikut :

a.

Sebelum Perjanjian Tordesillas.

Pada tahun 1486-1487 Bartholomeuz Diaz (Portugis) berlayar sampai di Tanjung Harapan ujung selatan Benua Afrika.

Pada tahun 1492 Christoporus Columbus (spanyol) berlayar sampai di Kepulauan Bahama, Amerika Tengah.

b.

Sesudah Perjanjian Tordesillas Pada tahun 1498 Vasco da Gama (Portugis) berlayar sampai di Calcuta, pantai barat India. Pelayaran ini merupakan bibit lahirnya kolonialisme yaitu hasrat menguasai wilayah lain untuk dijadikan sebagai koloni atau jajahan. Pelayaran yang dilakukan oleh bangsa Portugis dan Spanyol melahirkan imperialisme kuno yang bertujuan untuk mencari gold, gospel dan glory. Sejak, setelah terjadi Revolusi Industri muncul imperialisme dengan pola baru yang dinamakan imperialisme modern.

B.

KEDATANGAN BANGSA BARAT DI INDONESIA

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

Kedatangan

bangsa

Eropa

ini

pada

akhirnya

mengakibatkan

munculnya

kolonialisme

di

Indonesia.

Portugis Bangsa portugis pertama tiba di Selat Malaka dibawah pimpinan Alfonso de Albuquerque pada tahun 1511. Dan pada 1512 Portugis dapat menguasai pusat rempah-rempah yaitu Maluku. Tindakan yang dilakukan oleh Portugis di Indonesia adalah :

a. Monopoli perdagangan, yang memaksa rakyat Indonesia untuk menjual barang dengan harga murah kepada Portugis.

b. Penyebaran Agama, dalam menyebarkan agama Katolik, Portugis menugaskan kepada missionaris agama, seperti Fransiscus averius yang dianggap paling berhasil menyebarkan agama nasrani ke Indonesia Timur.

c. Campur tangan terhadap pemerintah,

Belanda Bangsa Belanda pertama kali tiba di Indonesia adalah di Banten pada 1596 di bawah pimpinan Cornellis de Houtman. Karena sikap sombong yang ditunjukkan oleh para pedagang Belanda mengakibatkan rakyat Banten tidak mau menjalin hubungan dagang. Hal ini mengakibatkan bangsa Belanda meninggalkan Banten dan pergi mencari pusat rempah- rempah sehingga pada tahun 1600 tibalah di Maluku. Setelah para pedagang Belanda dapat mengalahkan Portugis maka tahun 1602 untuk mengadakan monopoli dagang di Indonesia didirikan VOC, hal ini atas saran yang diberikan oleh Johan van Oldenbarnevelt. Tujuan VOC adalah :

a. Menghindarkan persaingan antar pengusaha Belanda.

b. Mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

c. Mampu bersaing dengan bangsa-bangsa Inggris.

Barat yang lainnya seperti Perancis dan

Agar mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya VOC memiliki hak istimewa (hak octrooi) diantaranya adalah :

a. Memonopoli perdagangan.

b. Mengadakan perjanjian dengan raja.

c. Mengangkat dan memberhentikan pegawai.

d. Membentuk tentara.

e. Mendirikan benteng

f. Mengeluarkan uang.

g. Menyatakan perang atau perdamaian.

Untuk memonopoli perdagangan VOC melaksanakan :

a. Mengadakan pelayaran hongi, yaitu pelayaran untuk mengawasi terjadinya perdagangan gelap yang dilakukan oleh bangsa Indonesia.

b. Ekstirpasi, yaitu penebangan pohon rempah-rempah apabila dianggap telah terjadi over produksi.

c. Verplichte leverentie (upeti), kewajiban bagi raja-raja pribumi yang telah ditaklukkan untuk menyerahkan pajak atau upeti kepda VOC.

d. Contingenten, suatu kewajiban membayar pajak dalam bentuk hasil bumi.

Kemunduran VOC yang mengakibatkan pada 31 Desember 1799 dibubarkan dikarenakan :

Pegawai korupsi banyak yang korupsi.

Wilayah kekuasaan yang sangat luas sehingga sulit untuk mengendalikan

Peperangan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia menguras kas VOC.

Adanya saingan dengan bangsa lain, misalnya :

Perancis dengan Compagnie des Indies. Inggris dengan East Indian Company.

Perubahan politik yang terjadi di dunia sebagai akibat terjadinya Revolusi Perancis menyebabkan monopoli perdagangan tidak sesuai dengan sistem pemerintahan yang demokratis.

Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda Terbentuknya kolonialisme di Indonesia setelah VOC bubar. Pada awalnya kolonialisme ini ditandai dengan jatuhnya Kerajaan Belanda ke tangan Perancis (Napoleon), sehingga Indonesia dijadikan sebagai daerah kolonialisme dan Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal. Usaha yang dilaksanakan Daendels di Indonesia adalah :

a. Dalam bidang pemerintahan :

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

Membentuk kantor-kantor peradilan.

Membentuk sekretariat negara.

Daerah dipimpin oleh kepala daerah.

b. Dalam bidang pertahanan

Menambah jumlah angkatan perang

Meningkatkan kesejahteraan prajurit

Membangun benteng-benteng baru

Membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan

Membangun kembali armada laut

c. Dalam bidang perekonomian

mengeluarkan uang kertas

mengadakan penyerahan wajib

mengadakan Preanger Stelsel

membentuk dewan pengawasan keuangan negara

menjual tanah kepada pihak swasta

d. Dalam bidang sosial

Rakyat dipaksa untuk melaksanakan sistem rodi

Perbudakan dibiarkan berkembang

Menghapus upacara penghormatan residen dan Sultan

Pada tahun 1811 Daendels digantikan oleh Jansens tetapi akhirnya dapat dikalahkan oleh Inggris. Dan melalui Kapitulasi Tuntang Jansens menyerahkan Indonesia kepada Inggris pada tahun 1811, setelah itu diangkatlah Rafles sebagai Gubernur Jenderal. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Raffles adalah :

a. Dalam bidang pemerintahan .

Membagi Pulau Jawa menjadi 18 karesidenan

Bupati dijadikan sebagai pegawai negeri

Mengurangi kekuasaan raja

b. Dalam bidang ekonomi

Landrente (sewa tanah), hal ini atas dasar bahwa semua tanah adalah milik Inggris, maka penduduk yang menempati suatu tanah harus membayar pajak.

Monopoli garam.

Rakyat diikut sertakan dalam perdagangan beras.

c. Dalam bidang sosial

penghapusan perbudakan.

Mengurangi pengaruh penguasa tradisional.

Masa pemerintahan Raffles di Indonesia banyak memberikan peninggalan yang dapat digunakan untuk penelitian ilmu pengetahuan, seperti :

Ditulisnya buku History of Java.

Ditemukannya bunga Raflesia Arnoldi.

Dirintisnya pembangunan Kebun Raya Bogor.

Pada tahun 1814 Belanda dan Inggris mengadakan perjanjian Konvensi London mengenai pengembalian wilayah Indonesia ke Belanda. Tetapi pada tahun 1816 Raffles ditunjukkan kembali sebagai Gubernur Jenderal yang berkedudukan di Bengkulu dan Raffles mampu menguasai Singapura. Belanda menganggap hal ini sebagai ancaman, sehingga pada tahun 1824 diadakan Treaty of London, isinya:

Belanda berkuasa di garis paralel Singapura sebelah Selatan dan Inggris di sebelah Utara.

Belanda menyerahkan Malaka dan memperoleh Bengkulu.

Aceh sebagai bufferstaat antara Inggris di Singapura dan Belanda di Indonesia.

Inggris dan Belanda bertanggungjawab atas keamanan Selat Malaka.

Indonesia kembali dikuasai Belanda

Bangsa Indonesia menentang hal ini, dan berusaha untuk mengusir bangsa Belanda. Dalam menghadapai serangan dari bangsa Indonesia inilah maka Belanda banyak kehabisan kas negara. Untuk menutupi kas yang kosong itulah maka Belanda di bawah pimpinan Van den Bosch melaksanakan sistem Tanam Paksa. Latar belakang pelaksanaan tanam paksa adalah :

hutang yang ditanggung Belanda cukup berat.

Kas negara Belanda kosong.

Pemasukan uang dari penanaman kopi tidak banyak.

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

Perang menguras biaya yang cukup besar.

Tujuan pelaksanaan tanam paksa adalah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya guna menutup kas negara yang kosong dan untuk membayar hutang-hutang Belanda. Aturan pelaksanaan tanam paksa adalah :

Pemerintah mengadakan kontrak dengan desa mengenai penyerahan sebagian tanah pertanian desa untuk dijadikan tempat tanam paksa.

Rakyat menyediakan seperlima dari tanah miliknya untuk dijadikan tempat menanam tanaman eksport.

Waktu yang digunakan untuk menanam tidak boleh melebihi waktu tanam padi.

Tanah yang digunakan untuk menanam tanaman eksport bebas dari pajak.

Hasil penanaman diserahkan kepada pemerintah dengan harga yang telah ditentukan oleh pemerintah.

kepada

Kelebihan

hasil

setelah

diperhitungkan

dengan

pajak

akan

diserahkan

pemerintah.

Kerusakan bukan yang diakibatkan oleh kesalahan petani akan ditanggung pemerintah.

Bagi yang tidak memiliki tanah akan dipekerjakan pada perkebunan atau pabrik milik pemerintah selama 66 hari.

Pelaksanaan tanam paksa akan diserahkan kepada pimpinan tradisional, Belanda bertindak sebagai pengawas secara umum.

Pelaksanaan tanam paksa dengan aturan yang cukup berat, akan tetapi masih banyak penyelewengannya. Dilain pihak adanya cultuur procent yang menyangkut upah yang diberikan kepada penguasa pribumi berdasarkan besar kecilnya setoran cukup memberatkan para rakyat . Untuk mengejar upah yang tinggi penguasa pribumi berusaha memperbesar setoran, hal itu mengakibatkan beban rakyat bertambah berat. Akibat pelaksanaan tanam paksa :

Bagi Belanda :

1. Kas Belanda yang kosong dapat dipenuhi kembali

2. Penerimaan pendapatan melebihi anggaran belanja

3. Belanda tidak mengalami kesulitan keuangan

4. Hutang-hutang Belanda padat dilunasi

5. Mendatangkan kemakmuran bagi rakyat Belanda

6.

Asmterdam sebagai pusat perdagangan tanaman tropis semakin berkembang

Bagi bangsa Indonesia :

1. Tekanan phisik maupun mental menyebabkan penderitaan yang berkepanjangan

2. Rakyat tidak mampu membayar pajak yang tinggi

3. Pertanian terutama tanaman padi banyak yang mengalami kegagalan

4. Kelaparan dan kematian terjadi di mana-mana

5. Timbulnya berbagai macam penyakit yang dapat merenggut jiwa seseorang

6. Jumlah penduduk Pulau Jawa mengalami penurunan

Pelaksanaan tanam paksa yang merugikan bangsa Indonesia mendapat reaksi yang cukup keras dari berbagai golongan, diantaranya :

prinsip

Golongan

liberalisme perekonomian.

pengusaha,

yang

menilai

tanam

paksa

tidak

sesuai

dengan

Baron van Hoevel, seorang missionaris yang pernah menyaksikan secara langsung akibat tanam paksa di Indonesia.

Eduard Douewes Dekker, melalui tulisan Max Havelaar.

Sistem tanam paksa ini mengakibatkan bangsa Indonesia sangat menderita untuk membalas budi kebaikan bangsa Indonesia itulah maka golongan liberal di negeri Belanda mengusulkan agar dilaksanakan balas budi. Atas usul dari Van de Venter akhirnya muncullah Politik Etis (Politik Balas Budi). Setelah golongan liberal mengalami kemenangan dalam parlemen Belanda, maka pelaksanaan tanam paksa dihapus dan digantikan dengan Pelaksanaan Politik Liberal. Hal ini ditandai dengan munculnya pelaksanaan :

De Wet Indische Staarsinrichting, yaitu berisi tentang cara-cara pemerintahan di Indonesia

Indische Comptabiliteit Wet, yaitu tentang perbendaharaan negara Hindia-Belanda yang menyebutkan bahwa anggaran belanja Hindia-Belanda harus ditetapkan melalui undang-undang yang disetujui oleh parlemen Belanda.

Suiker Wet, yaitu undang-undang gula yang menetapkan bahwa tanaman tebu adalah monopoli pemerintah yang secara berangsur-angsur akan dialihkan kepada pihak swasta.

Agrarische Wet (Undang Undang Pokok Agraria), yang menetapkan :

tanah di Indonesia dibedakan atas tanah penduduk dan tanah pemerintah.

tanah rakyat dibedakan atas tanah milik yang sifatnya bebas dan tanah desa yang sifatnya tidak bebas

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

tanah rakyat tidak boleh diperjualbelikan kepada bangsa asing

tanah pemerintah boleh dijual kepada pihak swasta

Poenale Sanctie, aturan yang memuat tentang sanksi hukum terhadap para pelanggar ketentuan.

Akibat pelaksanaan politik liberal kolonial adalah :

Bagi Bangsa Belanda :

1. memberikan keuntungan yang besar bagi pihak swasta di Indonesia

2. produksi perkebunan Indonesia mengalir ke Belanda

3. negeri Belanda sebagai pusat perdagangan tanaman perkebunan

Bagi Bangsa Indonesia :

1. tingkat kesejahteraan merosot

2. produksi menurun

3. hasil kerajinan rakyat menurun akibat masuknya barang-barang import

4. pekerja yang melarikan diri dari perkebunan Belanda memperoleh hukum barat

C. PERLAWANAN RAKYAT INDONESIA MENENTANG DOMINASI ASING

a. Perlawanan terhadap Portugis

Perlawanan Demak Demak melawan Portugis di Selat Malaka pada tahun 1512 dan 1513 dibawah pimpinan Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor. Tetapi gagal, lalu dilanjutkan pada tahun 1551 dan 1574 oleh Ratu Kalinyamat, juga mengalami kegagalan.

Perlawanan Aceh

Aceh menentang Portugis dibawah pimpinan Alaudin Ryat Syah pada tahun 1537, 1539 dan 1547, juga mengalami kegagalan.

Perlawanan Fatahillah Demak menyerang Portugis kembali di Sunda Kelapa pada masa Sultan Trenggono. Serangan Demak ini dipimpin oleh Faletehan atau Fatahilah dan berhasil mengusir Portugis di Sunda Kelapa. Fatahilah akhinya merubah nama menjadi Jayakarta. Kemenangan pada tanggal 22 Juni 1527 ini sekaligus diperingati sebagi berdirinya Kota Jakarta.

Perlawanan Baabullah Pada tahun 1512 Portugis tiba di Maluku dan mendirikan Benteng Sao Paulo dengan alasan untuk melindungi Ternate dari Tidore. Akan tetapi Portugis sangat merugikan rakyat akibat terjadinya monopoli perdagangan. Akhirnya rakyat Ternate dibawah pimpinan Baabullah bangkit mengusir Portugis dari Maluku.

b. Perlawanan terhadap penjajahan Belanda

Perlawanan Sultan Agung Perlawanan Sultan Agung terhadap VOCdi Batavia dilakukan pada tahun 1628 dan 1629, tetapi mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh :

Jarak antar Mataram dan Batavia sangat jauh yang ditempuh dengan jalan kaki

Kekurangan bahan makanan

Persenjataan yang kurang memadai

Munculnya wabah penyakit malaria

Perlawanan Sultan Hasanudin

Latar belakang terjadinya perlawanan oleh Sultan Hasanudin di Makasar adalah :

Belanda menganggap Makasar sebagai pelabuhan gelap

Belanda mengadakan blokade terhadap Makasar

Akibat tekanan Belanda, Hitu dan Kambelo meminta bantuan Makasar

Aru Palaka dimanfaatkan oleh Belanda

Sultan Hasanudin menolok monopoli perdagangan oleh Belanda.

Setelah Hasanudin tidak mampu menghadapi serangan Aru Palaka dan Belanda, maka pada tahun 1667 Sultan Hasanudin dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya, yang isinya :

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

VOC memperoleh monopoli perdagangan di Makasar

VOC boleh mendirikan benteng di Makasar

Hasanudin harus melepas daerah jajahannya

Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.

Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa

Sebab-sebab terjadinya perang :

Penangkapan orang Banten oleh Belanda

Monopoli perdagangan Belanda dengan mengadakan kekerasan

Adu domba VOC atas Banten

Perlawanan ini dimenangkan oleh Belanda setelah berhasil mengadu domba antara Sultan Ageng dan anaknya Sultan Haji.

Perlawanan Sultan Nuku Sebab-sebab perlawanan rakyat Tidore pada Belanda di bawah pimpinan Sultan Nuku adalah :

VOC melakukan monopoli perdagangan di Maluku

Untuk membayar hutang yang menjerat, Sultan Jamaludin menyerahkan Pulau Seram kepada Belanda

Penangkapan Sultan Jamaludin dan pengangkatan putra mahkota Kaicil Badrus Zaman

Pengangkatan Putra Alam sebagai sultan, yang sebenarnya tidak berhak

Perlawanan oleh Pangeran Nuku dilakukan pada 1870, dan pada 1797 rakyat Tidore dapat mengusir Belanda. Setelah Pangeran Nuku wafat perjuangan dilanjutkan oleh Sultan Zaenal Abidin.

Perlawanan Patih Jelantik Sebab umum perlawanan Patih Jelantik dari Kerajaan Buleleng melawan Belanda adalah :

Kerajaan Buleleng melaksanakan Hukum Tawan Karang

Belanda ingin monopoli perdagangan di Bali

Belanda memaksa raja-raja untuk mengakui kedaulatannya

Sebab khusus adalah :

Hak Tawan karang dihapuskan

Raja diharuskan memberi perlindungan terhadap perdagangan Belanda di Bali

Belanda minta diijinkan mengibarkan Benderanya di Bali

Pertempuran ini berlangsung mulai tahun 1846, dan berakhir tahun 1849 ditandai dengan kekalahan Kerajaan Buleleng.

Perlawanan Sultan Badarudin Sebab-sebab terjadinya perang adalah :

Penyerahan kembali wilayah Indonesia dari Inggris kepada Belanda

Belanda melaksanakan peraturan-peraturannya kembali di Sumatera

Sultan Najamudin merasa keberatan menyerahkan daerah

Pemicu terjadinya perang adalah penangkapan Sultan Najamudin yan dianggap menentang Belanda. Hal ini mengakibatkan Sultan Badarudin perang menentang Belanda. Perang akhirnya dimenangkan oleh Belanda, dan Kesultanan Palembang dihapus.

Perang Paderi (1821-1838) Perang Paderi pada awalnya merupakan perang saudara antara golongan paderi dan golongan adat, tetapi akhirnya Belanda ikut campur. Sebab-sebab umum terjadinya perang :

Berkembangnya ajaran wahabi yang ingin melaksanakan ajaran Islam secara benar

Adanya kebiasaan golongan Adat yang bertentangan dengan ajaran Islam

Hukum adat Matrilineal tidak sesuai dengan hukum agama yang mengenal patrilineal

Perebutan pengaruh antara golongan adat dan agama

Campur tangan Belanda dalam perebutan pengaruh untuk menguasai Sumatera Barat

Sebab khususnya adalah penyerengan kaum ulama terhadap kaum adat, dimana kaum adat akhirnya meminta bantuan kepada Belanda. Perang dapat dibagi dalam 3 periode yaitu :

1821-1825

Periode ini merupakan masa permulaan perang, diawali dengan serangan kaum paderi yang mengakibatkan golongan adat meminta bantuan Belanda. Belanda akhirnya terpaksa mengadakan Perjanjian Padang.

1826-1830

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

Perjanjian Padang ternyata tidak dapat mengakhiri perang. Belanda terpaksa mendirikan benteng Ford di Bukit Tinggi

1831-1836

Setelah Perang Diponegoro di Pulau Jawa selesai, Belanda menginginkan Perang Paderi juga segera selesai. Seluruh rakyat Minangkabau mengangkat senjata dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Setelah bertahan sekian lama akhirnya tahun 1837 Imam Bonjol dapat ditangkap oleh Belanda. Setelah itu wilayah Minangkabau jatuh ke tangan Belanda.

Perang Diponegoro (1825-1830) Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda dibantu oleh Sentot Ali Basah dan Kyai Mojo. Sebab-sebab umum terjadinya perang :

Wilayah Kerajaan Mataram menciut karena diberikan kepada Belanda sebagai imbalan atas bantuannya pada Mataram.

Aktivitas perdagangan Mataram merosot karena pelabuhan-pelabuhan pantai utara Jawa telah diberikan kepada Belanda

Kekuasaan raja Mataram mengecil dan penghasilan kerajaan juga menurun

Meningkatnya pajak yang dibebankan kepada rakyat

Timbulnya rasa tidak puas di kalangan bangsawan karena hak mereka banyak yang berkurang

Campur tangan Belanda dalam negeri Kerajaan Mataram

Sebab khususnya adalah pembuatan jalan yang akan melalui makam leluhur Diponegoro. Untuk menghadapai Diponegoro Belanda mengadakan siasat :

Membentuk pasukan kontra gerilya

Mengangkat kembali Sultan Sepuh sebagai Sultan Yogyakarta

Memecah belah pengikut Diponegoro

Mendirikan benteng-benteng guna memperkecil ruang gerak Diponegoro.

Perang Diponegoro berlangsung selama 5 tahun dan membawa akibat :

Kekuasaan wilayah Yogyakarta dan Surakarta berkurang

Belanda mendapatkan beberapa daerah Yogyakarta dan Surakarta

Banyak menguras kas Belanda

Perang Sisingamangaraja XII (1878-1907)

Sebab-sebab umum terjadinya perang :

Adanya Kristen Zending di Sumatera Utara

Kekuasaan Sisingamangaraja menjadi kecil

Perluasan Belanda dalam pelaksanaan Pax Netherlandica

Sebab khususnya adalah :

Penguasaan Belanda atas daerah-daerah di Tapanuli

Belanda menempatkan pasukan di Tarutung dengan dalaih melindungi penyebaran Agama Kristen

Perang dimenangkan oleh Belanda dan diakhiri oleh gugurnya Si Singamangaraja XII.

Perang Aceh (1873-1904 Sebab-sebab terjadinya perang :

Belanda ingin memantapkan pelaksanaan Pax Netherlandica

Aceh merupakan tempat yang strategis setelah dibukanya Terusan Suez

Makin berkembangnya imperialisme modern

Politik ekspansi Belanda akibat Traktat Sumatera (1871) tentang Inggris tidak akan menghalangi ekspansi Belanda ke Sumatera

Sebab khusus terjadinya perang adalah adanya tuntutan Belanda agar Aceh tidak berhubungan dengan pedagang selain Belanda. Perang Aceh ini berlangsung cukup lama karena rakyat Aceh menganggap sebagai perang jihad. Setelah para pemimpinnya tertangkap seperti Teuku Umar dan Cut Nya’Dien akhirnya perang Aceh berakhir. Raja-raja kecil diikat dengan adanya Perjanjian Pendek yang berisi :

Pengakuan kedaulatan Belanda atas daerahnya

Berjanji tidak mengadakan hubungan dengan negara asing

Patuh kepada pemerintahan Belanda

Copyright © 2009 www.usmitb.com

Provide Free Tests and High Quality

PERKEMBANGAN INDONESIA MULAI TAHUN 1945 SAMPAI DENGAN REFORMASI

A. Perkembangan Indonesia setelah Merdeka

Usaha yang dilakuakn oleh bangsa Indonesia untuk menata bidang Politik memalui:

Sidang PPKI I tanggal 18 Agustus 1945 yang mengahsilkan :

Mengangkat Soekarno dan Moh. Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden

Menetapkan UUD 1945

Membentuk KNIP sebagai pembantu presiden untuk menetapkan GBHN sebelum MPR terbentuk

Sidang PPKI II 19 Agustus 1945, yang mengahasilkan :

Pembentukan 8 Provinsi

Pembentukan 12 kementrian negara

Pengumuman Presiden Soekarno pada tanggal 22 Agustus 1945, diantaranya :

Membentuk PNI sebagai partai tunggal

Membentuk Komite Nasional Indonesia

Membentuk BKR

Maklumat No X tanggal 16 oktober 1945 yang memeberi wewenang kepada KNIP untuk menetapkan GBHN bersama-sama dengan presiden.

No X tanggal 3 November 1945 yang merubah sistem partai tunggal menjadi

Maklumat

multi partai

Makluimat No. X tanggal 14 November 1945 perubahan sistem pemerintahan presidensial menjadi parlementer

Pada tahun 1955 melaksanakan pemilihan umum

Usaha untuk menata bidang ekonomi adalah :

berusaha untuk menembus blokade Belanda dengan membentuk Indoof di Singapura

melaksanakan Kasimo Plan

melaksakan Sistem Benteng

melaksanakan Sistem Ali Baba

Nasionalisasi de Javasche Bank menjadi bank Indonesi

B. DEMOKRASI TERPIMPIN

Pelaksanaan Demokrasi Terpimpin diawali dengan munculnya Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959 yang berisi :

Kembali ke UUD 1945

Pembubaran Konstiyuante

Pembentukan MPRS dan DPAS

Pelaksanaan Demokrasi terpimpin ditandai dengan :

kekuasaan yang sangat penuh di tangan presiden

penyelewengan UUD 1945 dan Pancasila

penyelewengan kebijaksanaan Politik Luar Negeri

terkucilnya bangsa Indonesia dari dunia internasional

konfrontasi dengan Malaysia

perebutan kembali Irian Barat dari Belanda

G 30 S/PKI

C. ORDE BARU

Orde Baru ditandai dengan munculnya Surat Perintah 11 Maret 1966 dari Soekarno kepada Soeharto untuk mengembalikan ketertiban dan keamanan ibu kota setelah terjadinya G 30 S/PKI. Tekad yang menjadi Orde Baru adalah melaksanakan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekwen. Keberhasilan ORBA adalah dalam melaksanakan pembangunan dalam segala bidang dan pemulihan hubungan luar negeri ditandai dengan keikut sertaan Indonesia dalam beberapa kerjasama baik regional maupun internasional. Orde Baru berakhir tanggal 21 Mei 1998 diawali dengan terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan terjadinya krisis multidimensional di Indonesia. Dan mengakibatkan Presiden Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun lengser dari jabatannya.