Anda di halaman 1dari 2

MEMBANGUN MAHASISWA BERMENTAL WIRAUSAHA

Sering saya bertanya kepada mahasiswa, baik yang sudah lulus S1 dan S-
2 maupun yang sedang studi, tentang masa depan mereka. Pertanyaan
yang saya kemukakan adalah mau kemana kamu setelah lulus? Jawaban
yang paling banyak saya terima dari mereka adalah akan “mencari
pekerjaan di kantor, mengajar di sekolah atau magang di perusahaan”.
Jawaban seperti ini kelihatannya sepele dan tidak ada problem, tetapi
sebenarnya menimbulkan problem yang cukup kompleks bila kita mau
melihatnya pada dataran yang lebih jauh.

Dilihat dari statistik, angka pengangguran sarjana di Indonesia sangat


tinggi, bahkan bisa dibilang paling tinggi di belahan Asia khususnya dan di
dunia pada umumnya. Banyak sumber memberi prediksi akan naiknya
angka pengangguran di Indonesia pada tahun 2009 sekitar 9%. Angka
pengangguran terbuka di Indonesia per Agustus 2008 mencapai 9,39 juta
jiwa atau 8,39 persen dari total angkatan kerja. Angka pengangguran
turun dibandingkan posisi Februari 2008 sebesar 9,43 juta jiwa(8,46
persen). Badan Pusat Statistik melakukan survei tenaga kerja setiap
Februari dan Agustus setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut,
pengangguran dengan gelar sarjana sekitar 12,59%. Jadi bisa dibayangkan
berapa jumlahnya bila angka tersebut naik sekitar 9%.Dari data di atas,
sudah sangat jelas Indonesia mempunyai permasalahan yang tidak ringan
dalam mengatasi pengangguran, utamanya yang bergelar sarjana. Sudah
kuliah bayar mahal, ujung-ujungnya menganggur juga. Bila tidak segera
diatasi, angka ini bukannya semakin turun tapi akan melonjak naik.
Apalagi bila mengingat tiap tahun ada dua gelombang wisuda di tiap
Perguruan Tinggi (PT), maka tinggal mengalikan saja jumlah tersebut
dengan jumlah PT di Indonesia.

Sebenarnya, para sarjana yang menganggur itu, tidak sepenuhnya bisa


disalahkan. Mungkin semua itu terjadi karena kesalahan sistem
pendidikan kita yang mengajarkan bahwa setelah selesai kuliah mereka
harus mencari pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan, bukan
menciptakan lapangan pekerjaan. Sehingga sudah terinstal di dalam
pikiran para mahasiswa bahwa setelah selesai kuliah, mereka harus
mendapatkan pekerjaan dengan cara melamar pekerjaan kesana kemari.
Karena jumlah pelamar pekerjaan sangat banyak, sementara jumlah
pekerjaan yang disediakan hanya sedikit, sehingga setiap kali dibuka
lamaran pekerjaan, mereka rela berjubel-jubel untuk antri mengambil
formulir pendaftaran seperti yang terjadi akhir-akhir ini, pada setiap kali
ada pendaftaran CPNS. Bila tidak diterima menjadi CPNS, mereka
menunggu lagi pendaftaran pada tahun berikutnya dan seterusnya.

Pertanyaannya adalah bagaimana membangun jiwa mahasiswa agar


mereka memiliki jiwa wirausaha dan tidak selalu bergantung kepada
orang lain? Jiwa wirausaha dan pantang menyerah, memang tidak dimiliki
oleh semua orang. Ada orang-orang yang sejak kecil memiliki jiwa yang
kuat dan pantang menyerah menghadapi permasalahan yang
dihadapinya, tetapi ada pula orang-orang yang jika tidak disuruh atau
ditunjukkan secara jelas, tidak bisa berbuat apa-apa alias pasif dalam
menghadapi kehidupan. Namun bukan berarti jiwa itu tidak bisa
dibangkitkan. Menurut teori yang sekarang dianut oleh banyak
pengembang bahwa jiwa kewirausahaan itu bisa dibangkitkan melalui
pembelajaran dan pelatihan. Orang-orang yang tadinya tidak memiliki
jiwa wirausaha, setelah melalui pendidikan dan pelatihan bisa menjadi
orang-orang yang hebat dan tangguh. Karena itu, jika para mahasiswa,
setelah keluar dari perguruan tinggi tidak memiliki jiwa wirausaha itu,
mungkin karena pendidikan yang dikembangkan perguruan tinggi, tidak
mengajarkan bagaimana cara membangkitkan jiwa wirausaha dalam diri
mereka, sehingga mereka pasif dalam menghadapi masa depan mereka.

Salah satu alternatif untuk membangkitkan jiwa wirausaha mahasiswa


adalah dengan memberikan pendidikan dan pelatihan tentang
kewirausahaan. Mungkin setiap mahasiswa yang akan lulus dari perguruan
tinggi, perlu dikasih wawasan dan bekal tentang kewirausahaan.
Pembekalan secara teoritis tentang kewirausahaan bisa dilakukan secara
bersama-sama dalam satu gedung pertemuan selama beberapa hari, lalu
dilanjutkan dengan survey ke beberapa perusahaan atau tempat usaha
yang mungkin bisa diaplikasikan oleh para mahasiswa.

Ada satu pengalaman menarik ketika saya dulu duduk di kelas VI di KMI
Gontor Ponorogo, yaitu kegiatan rihlah iqtishadiyah. Setelah para santri
menyelesaikan studinya dan sambil menunggu kelulusan, mereka dibekali
dengan teori-teori tentang kewirausahaan. Setelah itu, mereka diajak
keliling Indonesia, ada di antara mereka yang dikirim ke Jawa Timur, Jawa
Tengah dan bahkan Jawa Barat, untuk melakukan studi ke beberapa
tempat usaha yang berkembang, mulai dari perusahaan kecil, menengah
hingga besar. Dari studi tour itu, mereka disuruh untuk membuat laporan
tentang studi toour tersebut, lalu disuruh untuk membuat rencana
kegiatan usaha yang akan dilakukan oleh mereka setelah kembali ke
rumah masing-masing. Dari situ ternyata berdampak sangat luar biasa
dalam membangun jiwa wirausaha para lulusan gontor. Banyak di antara
mereka yang setelah pulang dari pondok, langsung merintis usaha sesuai
dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Paling tidak 2% dari
mereka, berhasil menjadi wirausahawan yang sukses di masyarakat.

Cara-cara semacam ini, mungkin perlu ditradisikan di perguruan tinggi


termasuk di UIN Maliki Malang. Semua mahasiswa, setelah menyelesaikan
skripsi, diwajibkan untuk mengikuti pelatihan wirausaha dan studi tour ke
tempat-tempat usaha, yang bisa membangkitkan jiwa kewirausahaan
mereka sehingga setelah lulus, mereka terinspirasi untuk menciptakan
pekerjaan dan tidak hanya menggantungkan nasib mereka kepada
pemerintah atau lembaga-lembaga lain yang mereka harapkan. Wallahu
a’lam bi shawab.