Anda di halaman 1dari 3

KHOTBAH 139

Tentang Menggunjing dan Membicarakan Keburukan Orang Lain[1]

Orang-orang yang tidak berbuat dosa dan telah dianugerahi keselamatan (dari dosa)
harus menaruh belas kasihan pada pendosa dan orang yang tak taat lainnya. Rasa
syukur harus selalu menjadi kegemaran mereka yang paling besar, dan (hal) itu
harus mencegah mereka dari (mencari-cari ke-salahan) orang lain. Bagaimana tentang
si penggunjing yang menyalahkan saudaranya dan mencari-cari kesalahannya? Apakah
ia tidak mengingat bahwa Allah telah menyembunyikan dosa-dosa yang dilakukannya
padahal dosa-dosa itu lebih besar dari dosa-dosa saudaranya yang ditunjukkannya?
Bagaimana ia dapat menjelek-jelekkannya tentang dosa-dosanya padahal ia sendiri
telah berbuat dosa yang seperti itu? Sekalipun ia tidak berbuat dosa yang serupa
itu, tentulah ia telah berbuat dosa-dosa yang lebih besar. Demi Allah, sekalipun
ia tidak melakukan dosa-dosa besar tetapi me-lakukan dosa-dosa kecil,
pembeberannya atas dosa-dosa orang itu sendiri merupakan dosa besar.

Wahai hamba Allah, jangan cepat membeberkan dosa seseorang karena ia mungkin
dimaafkan atasnya, dan janganlah Anda merasa aman sekalipun atas suatu dosa kecil
karena mungkin Anda dihukum karenanya. Oleh karena itu, setiap orang dari Anda
sekalian yang mengetahui tentang kesalahan-kesalahan orang lain hendaklah ia tidak
membeberkannya mengingat apa yang diketahuinya tentang kesalahan-kesalahannya
sendiri, dan hendaklah ia tetap sibuk dalam bersyukur bahwa ia telah selamat dari
hal di mana orang lain terjerumus. �

[1] Kebiasaan mencari-cari kesalahan orang dan menggunjing telah menjadi demikian
lumrah sekarang sehingga bahkan perasaan akan keburukannya telah lenyap. Dan
sekarang kalangan tinggi tnaupun rendah tidak berpantang darinya. Dan kedudukan
tinggi mimbar serta kesucian mesjid tidak mencegahnya. Bilamana beberapa orang
teman berkumpul maka pokok percakapan dan perhatian tertuju kepada pembicaraan
tentang kesalahan-kesalahan lawan mereka disertai bumbu-bumbunya, dan orang
mendengarkannya dengan penuh perhatian. Walaupun si pencari kesalahan itu sendiri
terlibat dalam kesalahan-kesalahan yang dilihatnya pada orang lain, namun ia tak
mau kesalahananya sendiri dibeberkan. Dalam kasus semacam itu, harusnya ia
bertenggang rasa dan menjauhkan diri dari mencari-cari kesalahan orang lain dan
melukai perasaannya. la harus bertindak sesuai dengan peribahasa, "Jangan Anda
lakukan terhadap orang lain apa yang Anda tak mau diperlakukan kepada Anda".

Menggunjing didefmisikan sebagai membeberkan kesalahan sesama mukmin dengan niat


untuk mencemarkannya sedemikian rupa sehingga merangsang kemarahannya, baik dengan
kata-kata, tindakan, siratan atau saran. Sebagian orang menganggap gunjingan hanya
meliputi yang palsu atau yang bertentangan dengan kenyataan. Menurut mereka itu,
menceritakan apa yang telah dilihat atau didengar secara tepat sebagaimana adanya,
bukanlah menggunjing. Tetapi sebenarnya menggunjing adalah justru mcnyampaikan
fakta-fakta; apabila tidak benar menurut fakta maka hal itu berarti menuduh secara
batil dan menyalahkan secara lalim, fitnah. Diriwayatkan dari Nabi saw kata-kata
berikut,

Nabi berkata, "Tahukah Anda apa menggunjing itu?" Orang berkata, "Allah dan Rasul-
Nya lebih mengetahui." Kemudian beliau berkata, "Menggunjing berarti bahwa Anda
berkata tentang saudara Anda suatu hal yang menyakiti-nya." Seseorang berkata,
"Tetapi bagaimana kalau yang saya katakan tentang dia itu memang benar?" Nabi
menjawab, "(Dinamakan) menggunjing hanya bilamana hal itu sesungguhnya benar; bila
tidak maka Anda memfitnahnya."

Ada banyak penyebab orang terjerumus ke dalam perbuatan menggunjing. Kadang-kadang


orang melakukannya dengan sadar dan kadang-kadang secara tidak sengaja. Abu Hamid
al-Ghazali telah menguraikan penyebab-penyebab itu secara mendetail dalam bukunya
Ihya' 'Ulumud-D�n. Beberapa penyebab penting adalah sebagai berikut:
1) Untuk mengolok-olok seseorang atau membuatnya nampak terhina.

2) Untuk membuat orang tertawa dan memamerkan kegembiraannya sendiri.

3) Mengungkapkan perasaan seseorang karena pengaruh marah dan berang.

4) Mengukuhkan keunggulan diri dengan berbicara buruk tentang orang lain.

5) Menyalahkan hubungan atau keterlibatan seseorang dalam suatu hal; yakni, bahwa
suatu keburukan tertentu tidak dilakukannya tetapi dilakukan oleh orang lain.

6) Untuk menyesuaikan diri dengan suatu kelompok ketika dalam kumpulan mereka
supaya tidak merasa terasing.

7) Melecehkan seseorang yang dikhawatirkan akan membeberkan kesalahannya sendiri.

8) Untuk mengalahkan pesaing dalam perilaku yang serupa.

9) Untuk mencari kedudukan di hadapan seseorang yang berkuasa.

10) Untuk mengungkapkan kesedihan bahwa si Anu telah jatuh ke dalam dosa seperti
itu.

11) Untuk mengungkapkan keheranan, misalnya, sungguh mengherankan bahwa si Anu


telah melakukannya.

12); Untuk mencerca si pelaku suatu perbuatan ketika mengungkapkan kemarahan


atasnya.

Namun, dalam beberapa hal, mengungkapkan kesalahan atau mengritik tidak termasuk
pada golongan menggunjing:

1) Apabila orang tertindas mengadu tentang si penindas untuk mendapatkan


perbaikan, hal itu bukan menggunjing.

Allah tidak menyukai ucapan buruk lyang diucapkan) dengan terus terang, kecuali
oleh nrang vang teraniaya ...." (QS. 4:148)

2) Untuk menccritakan kesalahan seseorang sementara memberi nasihat bukanlah


menggunjing, karena kecurangan dan sikap bermuka dua tidak diizinkan dalam memberi
nasihat.

3) Apabila dalam hubungan dengan mencari persyaratan atas perintah agama


penyebutan nama seseorang tertentu tak terelakkan, maka menyebutkan kesalahan
orang semacam itu sekadar perlunya bukanlah menggunjing.

4) Untuk menyampaikan penyelewengan atau kecurangan yang dilakukan oleh seseorang


dengan maksud untuk menyelamatkan seorang Muslim dari bahaya, bukanlah
menggunjing.

5) Menceritakan kesalahan seseorang di hadapan orang yang dapat mencegahnya


melakukan perbuatan itu, bukanlah menggunjing.

6) Kritik dan ungkapan pendapat tentang periwayat hadits bukanlah menggunjing.

7) Apabila seseorang mengetahui benar tentang kekurangan sesorang lain, kemudian


ia mcnceritakan kesalahan itu untuk rnendefinisikan kepribadiannya; misalnya,
menggambarkan orang tuli, bisu, pincang atau buntung
sebagaimana adanya, bukanlah menggunjing.

8) Menggambarkan kekurangan seorang pasien kepada seorang dokter dengan tujuan


bagi perawatan, bukanlah menggunjing.

9) Apabila ada orang mengakui silsilah secara batil lalu seseorang membeberkan
silsilahnya yang sesungguhnya, bukanlah menggunjing.

10) Apabila nyawa, harla atau kehormatan seseorang hanya dapat dilindungi dengan
membcritahukan kcpadanya tentang suatu kesalahan orang, hal itu bukan menggunjing.

11) Apabila dua orang membicarakan suatu kesalahan orang lain yang sudah diketahui
oleh keduanya, bukanlah menggunjing, walaupun mengelakkan diri dari
membicarakannya itu lebih baik, karena mungkin salah satu dari
keduanya telah melupakannya.

12) Membeberkan keburukan orang yang secara terbuka melakukan keburukan, bukanlah
menggunjing, sebagaimana dikatakan oleh sebuah hadis, "tak ada gunjingan dalam hal
orang yang telah merobek-robek tirai
malu".