Anda di halaman 1dari 49

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

OSTEOSARCOMA

KELOMPOK 11

SITI ANISA ZAKIYYA NORDIN 220110080145

SALAS AULADI 220110080138

SRI HANDINI PERTIWI 220110080105

SILVIA JUNIANTY 220110080097

SRI MELFA DAMANIK 220110080079

SELLA GITA ADITI 220110080052

SUSI HANIFAH 220110080035

SARAH RIDHASA F. 220110080013

TIARA RACHMAWATI 220110080118

TIARA TRI 220110080108

TRIANDINI 220110080095

TAMMY KUSMAYANTI 220110080053

TIARA ARUM KESUMA 220110080050

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

JATINANGOR

2009
KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah mengenai penyakit
Osteosarcoma.

Makalah ini disusun dalam rangka pendokumentasian dari aplikasi pembelajaran


mata kuliah Sistem Muskuloskeletal. Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak.Untuk itu,pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya terutama kepada tutor kelompok 11 dalam penyusunan mata kuliah ini.

Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan .olehkarena itu,penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun
demi kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.

Pada akhirnya,penyusun mengharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi


penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.

Jatinangor,desember 2009

Penulis
LATAR BELAKANG

Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang


sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering
terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price, 1962:1213 )

Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah
penderita kanker ± 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker
diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat
sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan
jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per
tahun.

Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy
Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor
tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang
jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering
didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas.
Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka
harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-
paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis.
Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga
penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar
ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang
memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy.

Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun


( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada
umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi
pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai
sekarang penyebab pasti belum diketahui.

Melihat jumlah kejadian diatas serta kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian
dan penanganan sejak dini, penulis tertarik untuk menulis makalah “ Asuhan Keperawatan
Osteosarkoma “

Sumber: http://adelinecalonperawat.blogspot.com/2009/03/askep-osteosarkoma.html
ANATOMI FISIOLOGI TULANG EKSTREMITAS ATAS & BAWAH

Tulang penyusun anggota gerak atas tersusun atas:

sumber:
http://prestasiherfen.blogspot.com/2008/10/sistem-rangka-manusia.html

1. Humerus / tulang lengan atas. Termasuk kelompok tulang panjang


/pipa, ujung atasnya besar, halus, dan dikelilingi oleh tulang belikat.
pada bagian bawah memiliki dua lekukan merupakan tempat melekatnya
tulang radius dan ulna
2. Radius dan ulna / pengumpil dan hasta. Tulang ulna berukuran lebih
besar dibandingkan radius, dan melekat dengan kuat di humerus. Tulang
radius memiliki kontribusi yang besar untuk gerakan lengan bawah
dibandingkan ulna.
3. karpal / pergelangan tangan. tersusun atas 8 buah tulang yang saling
dihubungkan oleh ligamen
4. metakarpal / telapak tangan. Tersusun atas lima buah tangan. Pada
bagian atas berhubungan dengan tulang pergelangan tangan, sedangkan
bagian bawah berhubungan dengan tulang-tulang jari (palanges)
5. Palanges (tulang jari-jari). tersusun atas 14 buah tulang. Setiap jari
tersusun atas tiga buah tulang, kecuali ibu jari yang hanya tersusun atas
2 buah tulang.
Tulang anggota gerak bawah disusun oleh tulang:

1. Femur / tulang paha. Termasuk kelompok tulang panjang, terletak mulai


dari gelang panggul sampai ke lutut.
2. Tibia dan fibula / tulang kering dan tulang betis. Bagian pangkal
berhubungan dengan lutut bagian ujung berhubungan dengan
pergelangan kaki. Ukuran tulang kering lebih besar dinandingkan tulang
betis karena berfungsi untuk menahan beban atau berat tubuh. Tulang
betis merupakan tempat melekatnya beberapa otot
3. Patela / tempurung lutut. terletak antara femur dengan tibia, bentuk
segitiga. patela berfungsi melindungi sendi lutut, dan memberikan
kekuatan pada tendon yang membentuk lutut
4. Tarsal / Tulang pergelangan kaki. Termasuk tulang pendek, dan tersusun
atas 8 tulang dengan salah satunya adalah tulang tumit.
5. Metatarsal / Tulang telapak kaki. Tersusun atas 5 buah tulang yang
tersesun mendatar.
6. Palanges / tulang jari-jari tangan. Tersusun setiap jari tersusun atas 3
tulang kecuali tulang ibu jari atas 14 tualng.
Tulang Pipa atau Tulang Panjang (Long Bone)

Sesuai dengan namanya tulang pipa memiliki bentuk seperti pipa atau tabung dan biasanya
berongga. Diujung tulang pipa terjadi perluasan yang berfungsi untuk berhubungan dengan
tulang lain. Tulang pipa terbagi menjadi tiga bagian yaitu: bagian tengah disebut diafisis, kedua
ujung disebut epifisis dan diantara epifisis dan diafisis disebut cakra epifisis. Beberapa contoh
tulang pipa adalah pada tulang tangan diantaranya tulang hasta (ulna), tulang pengumpil (radius)
serta tulang kaki diantaranya tulang paha (femur), dan tulang kering (tibia).bagian tulang panjang
: epifise (ujung) – diafise (bagian tengah) – cakra epifise ( terletak antara epifise dan diafise yang
banyak mengandung osteosit (sel tulang rawan) dan osteoblas (penghasil osteosit)
di dalam tulang pipa terdapat rongga, rongga ini merupakan aktifitas dari osteoklas yang
berfungsi untuk merombak sel sel tulang. Rongga ini berisi sum sum tulang dan berwarna kuning
(merupakan campuran antara lemak dan sum sum merah)

Gambar bagian-bagian tulang panjang

http://belajarbiologi.rumahilmuindonesia.net/?p=11
 STRUKTUR MAKROSKOPIK

Pada potongan tulang terdapat 2 macam struktur :Substantia spongiosa (berongga)dan

Substantia compacta (padat).Bagian diaphysis tulang panjang yang berbentuk sebagai

pipa dindingnya merupakan tulang padat, sedang ujung-ujungnya sebagian besar

merupakan tulang berongga yang dilapisi oleh tulang padat yang tipis. Ruangan dari

tulang berongga saling berhubungan dan juga dengan rongga sumsum tulang.

JENIS JARINGAN TULANG

Secara histologis tulang dibedakan menjadi 2 komponen utama, yaitu :Tulang

muda/tulang primer dan tulang dewasa/tulang sekunder

Kedua jenis ini memiliki komponen yang sama, tetapi tulang primer mempunyai serabut-

serabut kolagen yang tersusun secara acak, sedang tulang sekunder tersusun secara

teratur.

1.Jaringan Tulang Primer

Dalam pembentukan tulang atau juga dalam proses penyembuhan kerusakan tulang,

maka tulang yang tumbuh tersebut bersifat muda atau tulang primer yang bersifat

sementara karena nantinya akan diganti dengan tulang sekunder

Jaringan tulang ini berupa anyaman, sehingga disebut sebagai woven bone. Merupakan

komponen muda yang tersusun dari serat kolagen yang tidak teratur pada osteoid. Woven

bone terbentuk pada saat osteoblast membentuk osteoid secara cepat seperti pada

pembentukan tulang bayi dan pada dewasa ketika terjadi pembentukan susunan tulang

baru akibat keadaan patologis.

Selain tidak teraturnya serabut-serabut kolagen, terdapat ciri lain untuk jaringan tulang
primer, yaitu sedikitnya kandungan garam mineral sehingga mudah ditembus oleh sinar-

X dan lebih banyak jumlah osteosit kalau dibandingkan dengan jaringan tulang sekunder.

Jaringan tulang primer akhirnya akan mengalami remodeling menjadi tulang sekunder

(lamellar bone) yang secara fisik lebih kuat dan resilien. Karena itu pada tulang orang

dewasa yang sehat itu hanya terdapat lamella saja.

2.Jaringan Tulang Sekunder

Jenis ini biasa terdapat pada kerangka orang dewasa. Dikenal juga sebagai lamellar bone

karena jaringan tulang sekunder terdiri dari ikatan paralel kolagen yang tersusun dalam

lembaran-lembaran lamella. Ciri khasnya : serabut-serabut kolagen yang tersusun dalam

lamellae(lapisan) setebal 3-7µm yang sejajar satu sama lain dan melingkari konsentris

saluran di tengah yang dinamakan Canalis Haversi. Dalam Canalis Haversi ini berjalan

pembuluh darah, serabut saraf dan diisi oleh jaringan pengikat longgar. Keseluruhan

struktur konsentris ini dinamai Systema Haversi atau osteon.

Sel-sel tulang yang dinamakan osteosit berada di antara lamellae atau kadang-kadang di

dalam lamella. Di dalam setiap lamella, serabut-serabut kolagen berjalan sejajar secara

spiral meliliti sumbu osteon, tetapi serabut-serabut kolagen yang berada dalam lamellae

di dekatnya arahnya menyilang.

Di antara masing-masing osteon seringkali terdapat substansi amorf yang merupakan

bahan perekat.

Susunan lamellae dalam diaphysis mempunyai pola sebagai berikut :

Tersusun konsentris membentuk osteon.

Lamellae yang tidak tersusun konsentris membentuk systema interstitialis.


Lamellae yang malingkari pada permukaan luar membentuk lamellae circumferentialis

externa.

Lamellae yang melingkari pada permukaan dalam membentuk lamellae circumferentialis

interna.

PERIOSTEUM

Bagian luar dari jaringan tulang yang diselubungi oleh jaringan pengikat pada fibrosa

yang mengandung sedikit sel. Pembuluh darah yang terdapat di bagian periosteum luar

akan bercabang-cabang dan menembus ke bagian dalam periosteum yang selanjutnya

samapai ke dalam Canalis Volkmanni. Bagian dalam periosteum ini disebut pula lapisan

osteogenik karena memiliki potensi membentuk tulang. Oleh karena itu lapisan

osteogenik sangat penting dalam proses penyembuhan tulang.Periosteum dapat melekat

pada jaringan tulang karena :pembuluh-pembuluh darah yang masuk ke dalam tulang,

terdapat serabut Sharpey ( serat kolagen ) yang masuk ke dalam tulang,serta

terdapat serabut elastis yang tidak sebanyak serabut Sharpey.

ENDOSTEUM

Endosteum merupakan lapisan sel-sel berbentuk gepeng yang membatasi rongga sumsum

tulang dan melanjutkan diri ke seluruh rongga-rongga dalam jaringan tulang termasuk

Canalis Haversi dan Canalis Volkmanni. Sebenarnya endosteum berasal dari jaringan

sumsum tulang yang berubah potensinya menjadi osteogenik.


KOMPONEN JARINGAN TULANG

Sepertinya halnya jaringan pengikat pada umumnya, jaringan tulang juga terdiri atas

unsur-unsur : sel, substansi dasar, dan komponen fibriler. Dalam jaringan tulang yang

sedang tumbuh, seperti telah dijelaskan pada awal pembahasan, dibedakan atas 4 macam

sel :

Osteoblas

Sel ini bertanggung jawab atas pembentukan matriks tulang, oleh karena itu banyak

ditemukan pada tulang yang sedang tumbuh. Selnya berbentuk kuboid atau silindris

pendek, dengan inti terdapat pada bagian puncak sel dengan kompleks Golgi di bagian

basal. Sitoplasma tampak basofil karena banyak mengandung ribonukleoprotein yang

menandakan aktif mensintesis protein.

Pada pengamatan dengan M.E tampak jelas bahwa sel-sel tersebut memang aktif

mensintesis protein, karena banyak terlihat RE dalam sitoplasmanya. Selain itu terlihat

pula adanya lisosom.

Osteosit

Merupakan komponen sel utama dalam jaringan tulang. Pada sediaan gosok terlihat

bahwa bentuk osteosit yang gepeng mempunyai tonjolan-tonjolan yang bercabang-

cabang. Bentuk ini dapat diduga dari bentuk lacuna yang ditempati oleh osteosit bersama

tonjolan-tonjolannya dalam canaliculi. Dari pengamatan dengan M.E dapat diungkapkan

bahwa kompleks Golgi tidak jelas, walaupun masih terlihat adanya aktivitas sintesis

protein dalam sitoplasmanya. Ujung-ujung tonjolan dari osteosit yang berdekatan saling

berhubungan melalui gap junction. Hal-hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan adanya

pertukaran ion-ion di antara osteosit yang berdekatan.


Osteosit yang terlepas dari lacunanya akan mempunyai kemampuan menjadi sel

osteoprogenitor yang pada gilirannya tentu saja dapat berubah menjadi osteosit lagi atau

osteoklas.

Osteoklas

Merupakan sel multinukleat raksasa dengan ukuran berkisar antara 20 µm-100µm dengan

inti sampai mencapai 50 buah. Sel ini ditemukan untuk pertama kali oleh Köllicker dalam

tahun 1873 yang telah menduga bahwa terdapat hubungan sel osteoklas (O) dengan

resorpsi tulang. Hal tersebut misalnya dihubungkan dengan keberadaan sel-sel osteoklas

dalam suatu lekukan jaringan tulang yang dinamakan Lacuna Howship (H). keberadaan

osteoklas ini secara khas terlihat dengan adanya microvilli halus yang membentuk batas

yang berkerut-kerut (ruffled border). Gambaran ini dapat dilihat dengan mroskop

electron. Ruffled border ini dapat mensekresikan beberapa asam organik yang dapat

melarutkan komponen mineral pada enzim proteolitik lisosom untuk kemudian bertugas

menghancurkan matriks organic. Pada proses persiapan dekalsifikasi (a), osteoklas

cenderung menyusut dan memisahkan diri dari permukaan tulang. Relasi yang baik dari

osteoklas dan tulang terlihat pada gambar (b). resorpsi osteoklatik berperan pada proses

remodeling tulang sebagai respon dari pertumbuhan atau perubahan tekanan mekanikal

pada tulang. Osteoklas juga berpartisipasi pada pemeliharaan homeostasis darah jangka

panjang.Selain pendapat di atas, ada sebagian peneliti berpendapat bahwa keberadaan

osteoklas merupakan akibat dari penghancuran tulang. Adanya penghancuran tulang

osteosit yang terlepas akan bergabung menjadi osteoklas. Tetapi akhir-akhir ini pendapat

tersebut sudah banyak ditinggalkan dan beralih pada pendapat bahwa sel-sel osteoklas-

lah yang menyebabkan terjadinya penghancuran jaringan tulang.


Sel Osteoprogenitor

Sel tulang jenis ini bersifat osteogenik, oleh karena itu dinamakan pula sel osteogenik.

Sel-sel tersebut berada pada permukaan jaringan tulang pada periosteum bagian dalam

dan juga endosteum. Selama pertumbuhan tulang, sel-sel ini akan membelah diri dan

mnghasilkan sel osteoblas yang kemudian akan akan membentuk tulang. Sebaliknya pada

permukaan dalam dari jaringan tulang tempat terjadinya pengikisan jaringan tulang, sel-

sel osteogenik menghasilkan osteoklas.

Sel – sel osteogenik selain dapat memberikan osteoblas juga berdiferensiasi menjadi

khondroblas yang selanjutnya menjadi sel cartilago. Kejadian ini, misalnya, dapat diamati

pada proses penyembuhan patah tulang. Menurut penelitian, diferensiasi ini dipengaruhi

oleh lingkungannya, apabila terdapat pembuluh darah maka akan berdiferensiasi menjadi

osteoblas, dan apabila tidak ada pembuluh darah akan menjadi khondroblas. Selain itu,

terdapat pula penelitian yang menyatakan bahwa sel osteoprogenitor dapat berdiferensiasi

menjadi sel osteoklas lebih – lebih pada permukaan dalam dari jaringan tulang.

MATRIKS TULANG

Berdasarkan beratnya, matriks tulang yang merupakan substansi interseluler terdiri dari ±

70% garam anorganik dan 30% matriks organic.

95% komponen organic dibentuk dari kolagen, sisanya terdiri dari substansi dasar

proteoglycan dan molekul-molekul non kolagen yang tampaknya terlibat dalam

pengaturan mineralisasi tulang. Kolagen yang dimiliki oleh tulang adalah kurang lebih

setengah dari total kolagen tubuh, strukturnya pun sama dengan kolagen pada jaringan

pengikat lainnya. Hampir seluruhnya adalah fiber tipe I. Ruang pada struktur tiga
dimensinya yang disebut sebagai hole zones, merupakan tempat bagi deposit mineral.

Kontribusi substansi dasar proteoglycan pada tulang memiliki proporsi yang jauh lebih

kecil dibandingkan pada kartilago, terutama terdiri atas chondroitin sulphate dan asam

hyaluronic. Substansi dasar mengontrol kandungan air dalam tulang, dan kemungkinan

terlibat dalam pengaturan pembentukan fiber kolagen.

Materi organik non kolagen terdiri dari osteocalcin (Osla protein) yang terlibat dalam

pengikatan kalsium selama proses mineralisasi, osteonectin yang berfungsi sebagai

jembatan antara kolagen dan komponen mineral, sialoprotein (kaya akan asam salisilat)

dan beberapa protein.

Matriks anorganik merupakan bahan mineral yang sebagian besar terdiri dari kalsium dan

fosfat dalam bentuk kristal-kristal hydroxyapatite. Kristal –kristal tersebut tersusun

sepanjang serabut kolagen. Bahan mineral lain : ion sitrat, karbonat, magnesium, natrium,

dan potassium.

Kekerasan tulang tergantung dari kadar bahan anorganik dalam matriks, sedangkan

dalam kekuatannya tergantung dari bahan-bahan organik khususnya serabut kolagen.


ANALISIS KASUS

Anak BO 17 tahun merupakan anak yang aktif ekskul di sekolah.kurang lebih 3 bulan yang lalu

klien mengeluh ada benjolan di tungkai kananya tersa panas dan nyeri. Klien ke RS dan

dilakukan biopsy pada benjolan di kaki kanannya. Dengan hasil T1N3M3 dan sekarang klien

dirawat diruang orthopedic dengan keluhan tungkai bawah kanan yang mengalami

pembengkakan , klien mengatakan nyeri pada kaki dirasakan terus menerus pada skala 9 (0-10)

Klien tampak menggigit sarung bantal dan sesekli menangis. Tampak massa sebesar bola tenis di

tungkai kanan,kemerahan, mengkilap. Kulit sekitar benjolan tampak merah di bagian puncak

benjolan tampak luka terbuka berukuran 2x3 cm yang mengeluarkan pus berwarna hijau dan bau.

Klien mengatakan disentuh dan bergesekan dengan kain saja dapat menyebabkan nyeri

bertambah. Klien saat ini dipersiapkan untuk dilakukan tindakan amputasi.

Keluarga klien belum memberitahukan penyakit klien.

STEP I

T3N3M1?

T3:tumornya sudah meluas

N3 : nodulnya tidak hanya di satu tempat

M1 : ada metastase jauh

< Tiara Rachmawati >

STEP II

1. Diagnose medis kasus di atas? <tiara rachmawati>


2. Bagaimana manajemen nyeri? <Sarah>

3. Manifestasi klinis ? < Tiara tri >

4. Bagaimana prosedur tindakan operasi ? < Tiara arum kesuma >

5. Bagaimana indikasi dan kontraindikasi dilakukanny amputasi ? < Tiara rachmawati >

6. Apa kandungan dari massa benjolan? < Silvia>

7. Terapi farmako? < Sella >

8. Aspek psikologis dan psikososial? < Tiara Arum>

9. Health education bagi pasien ? < Sri handini>

10. Bagaimana pengaruh ADL pasien? < Salas Auladi >

11. Tindakan dan tenaga medis di ruang orthopedic? <siti annisa >

12. Factor yang menurunkan nyeri ? <Tiara Rachmawati>

13. Apakah ada kemungkinan munculnya benjolan kembali setelah amputasi? <sarah>

14. Penyebab penyakit? < susi>

15. Tindakan medis selain amputasi? < Tiara .R>

16. Sendi dan otot-otot yang kemungkinan rusak di kasus ini? <Silvia>

17. Nutrisi yang dibutuhkan klien? < Silvia>

18. Efek samping prosedur amputasi? < Susi >

19. Diagnose banding penyakit ini? <Sri melfa>

20. Perawatan pasca operasi? < Tiara .R>

21. Jenis perawatan luka yang diberikan? < Tiara arum>


STEP III

1. Tumor tulang.< Tiara Arum >

2. a.Morfin intra vena <Silvia>

b.Gate control theory < Tiara .R>

3. LO

4. LO

5. LO

6. LO

7. LO

8. Anger denial bargaining accepting . <Silvia, Tiara.R, Susi>

9. LO

10. Setelah pasca amputasi klien menggunakan alat bantu untuk berjalan,dan kemungkinan

tidak bisa beraktivitas seperti sebelumnya. <Tiara.R , Salas >

11. LO

12. Yang dapat meningkatkan : gesekan< Sella > ; stressor <Silvia> ; suhu <Susi>

Yang dapat menurunkan : istirahat dan pemberian obat analgesic <Silvia>

13. Kemungkina ada karena tumor penyebarannya cepat. <Tiara.R , silvia>

14. Mutasi imun <Tiara.R> ; factor genetic <Sri melfa> ; Radiasi <Silvia>

15. Pembedahan <Tiara.R>

16. LO

17. LO

18. LO

19. LO
20. LO

21. LO

STEP IV

“Mind Map”

Penatalaksanaan
askep
medis

patofisologi
Aspek legal etis

OSTEOSARKOMA

Klasifikasi
Anfis ekstremitas
stadium

Pemeriksaan Konsep penyakit

diagnostik Etiologi,factor

resiko,manifesta

si klinis
STEP V

Mind map, dan LO (di step III)

JAWABAN “LEARNING OBJECTION”

1. management nyeri

a.Tekhnik manajemen nyeri secara psikologik ( teknik relakasi napas dalam,visualisasi, dan
bimbingan imajinasi) dan farmakologi. ;Mengajarkan mekanisme koping efektif,motivasi klien
dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka dan berikan dukungan secara moril serta
anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologo atau rohaniawan, ;Memberikan nutrisi
yang adekuat .<Sarah>
sumber: http://adelinecalonperawat.blogspot.com/2009/03/askep-osteosarkoma.html

b. relaksasi napas dalam : tindakan ini dapat dipandang sebagai upaya pembebasan mental dan
fisik dari tekanan dan stress,teknik yang dilakukan terdiri atas napas abdomen dengan frekuensi
lambat dan berirama.

Bimbingan imajinasi :kegiatan klien membuat suatu bayangan yang menyenangkan dan
mengonsentrasikan diri pada bayangan tersebut serta berangsur-angsur membebaskan diri dari
perhatian terhadap nyeri. <Triandini>

c. memberikan terapi peredaan farmakologi dimana klien diberikan analgesic golongan narkotik
seperti morfin sulfat,metimorfin,,dan memiliki karakteristik efek analgesic antaa lain :
menurunkan persepsi nyeri,mengurangi kecemasan dan ketakutan yang merupakan komponen
reaksi nyeri,,dan menyebabkan orang tertidur walaupun sedang mengalami nyeri hebat.
<Srihandini> sumber: FON 2,Potter Perry,hal:1535-1536.

2. prosedur tindakan amputasi? <Tiara Arum>


a. Pre Operatif
Pada tahap praoperatif, tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk
mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi.
Pada tahap ini, perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik, khususnya
yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi.
Pengkajian Riwayat Kesehatan.
Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi
resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal
dan penyakit paru. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan.
Pengkajian Fisik
Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh
untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan
tindakan terencana/selektif, dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala
merupakan trauma/ tindakan darurat.
• Mengatasi nyeri
- Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik dalam mengatsi nyeri.
- Menginformasikan tersdianya obat untuk mengatasi nyeri.
- Menerangkan pada klien bahwa klien akan “merasakan” adanya kaki untuk beberapa waktu
lamanya, sensasi ini membantu dalam menggunakan kaki protese atau ketika belajar
mengenakan kaki protese.
• Mengupayakan pengubahan posisi tubuh efektif
- Menganjurkan klien untuk mengubah posisi sendiri setiap 1 – 2 jam untuk mencegah
kontraktur.
- Membantu klien mempertahankan kekuatan otot kaki ( yang sehat ), perut dan dada sebagai
persiapan untuk penggunaan alat penyangga/kruk.
- Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ambulasi preoperasi, untuk membantu
meningkatkan kemampuan mobilitas posoperasi, memprtahankan fungsi dan kemampuan dari
organ tubuh lain.
• Mempersiapkan kebutuhan untuk penyembuhan
- Mengklarifikasi rencana pembedahan yang akan dilaksanakan kepada tim bedah.
- Meyakinkan bahwa klien mendapatkan protese/alat bantu ( karena tidak semua klien yang
mengalami operasi amputasi mendapatkan protese seperti pada penyakit DM, penyakit jantung,
CVA, infeksi, dan penyakit vaskuler perifer, luka yang terbuka ).
- Semangati klien dalam persiapan mental dan fisik dalam penggunaan protese.
- Ajarkan tindakan-tindakan rutin postoperatif : batuk, nafas dalam.
b. Intra Operatif
Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klie. Tujuan utama
dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi opyimal klien dan
menghindari komplikasi pembedahan.
Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan, pemasukan oksigen yang
adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas, pencegahan injuri selama operasi dan
dimasa pemulihan kesadaran. Khusus untuktindakan perawatan luka, perawat membuat catatan
tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka, posisi jahitan dan pemasangan
drainage. Hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa postoperatif.
Sumber: http://www.rafani.co.cc/2009/08/amputasi.html)

3. Indikasi kontraindikasi prosedur amputasi?


a.<Sella>indikasi: kehancuran jaringan, kontraindikasi: kondisi umum yang buruk, sarcoma
sumber: http://adelinecalonperawat.blogspot.com/2009/03/askep-osteosarkoma.html
b.<Triandini>
indikasi amputasi: live saving menyelamatkan jiwa (contohnya infeksi dan perdarahan.) dan limb
saving memanfaatkan kembali kegagalan fungsi ekstremitas secara maksimal.
Sumber:http;// pustaka.unpad.ac.id/reabilitasi pasien amputasi bawah lutut.pdf

4.Kandungan massa benjolan? Massa-massa tulang osteoblast, fibroblast,dan kondeoblast.


5. terapi farmako (jawaban di mind map)
6. health education ? persiapan dan koordinasi untuk perawatan kesehatan dimulai sejak dini
sebagai suatu usaha multidisplin. Pendidikan pasien ditujukan pada pengobatan, pembalutan, dan
program terapi,selain program terapi fisik dan okupasi. Penggunaan peralatan khusus secara
aman harus dijelaskan, pasien dan keluarga harus mempelajari tanda dan gejala kemnugkinan
terjadi komplikasi.
Pasca amputasi klien pasti akan mengalami perubahan konsep diri,flam hal ini perawat harus
mampu menjelaskan penampilan klien dan cara menghindarkan ekspresi nonverbal atau rasa
terkejut klien. Keluarga perlu menerima kebutuhan klien dan tetap mendukung klien untuk
mandiri. <Srihandini> sumber: FON 2 hal.1846-1847\

7. Tindakan dan tenaga medis di runag orthopedic


8. Sendi otot yang kemungkinan rusak? .<silvia>
Massa tulang osteoblas,neuroblas,dan osteoklas serta bahan penyusun otot di daerah yang
terkena osteosarkoma
9. Nutrisi yang dibutuhkan klien? ,<Triandini>
terapi gizi berupa diet TKTP oleh dokter. TKTP singkatan dari Tinggi Kalori Tinggi
Protein. Tinggi Kalori maksudnya bisa diberikan 35 - 40 Kalori / Kg BB sedangkan
Tinggi Protein maksudnya bisa diberikan 1.5 - 2 gr Protein /Kg BB. Bentuknya bisa
berupa nasi biasa, lunak, lumat, cair maupun sonde. Untuk bentuk nasi biasa maupun
lunak pada dasarnya hampir sama dengan makanan biasa hanya saja terdapat
penambahan susu dan telur pada waktu jam snack pagi. Untuk bentuk lunak diberikan
kacang ijo blender sedangkan untuk bentuk sonde terdapat saribuah.<
sumber:http://gizisoetomo.blogspot.com/2009_05_01_archive.html21
10. Efek samping amputasi<Triandini> :infeksi,pasien yang telah menjalani amputasi
sering memiliki peredaran darah yang buruk,lukanya terkontaminasi atau menderita
masalah kesehatan lain yang dapat memengaruhi terjadinya infeksi.
Kerusakan kulit dapat terjadi akibat imobilisasi dan tekanan dari berbagai sumber.
Prosthesis dapat menimbulkan tekanan sehingga perawat perlu mengkaji kulit bila ada
kerusakan. sumber: KMB vol.3 hal 2396 .
11. Yang membedakan dgn penyakit lain?
Tumor dalam arti sempit adalah benjolan, sedangkan setiap pertumbuhan yang baru dan

abnormal disebut neoplasma. Yang membedakannya adalah mengenai loksi tumor

tersebut berada. Tumor tulang merupakan kelainan pada system musculoskeletal yang

bersifat neoplastik.
Tumor tulang mudah dikenali dengan adanya massa pada jaringan lunak di sekitar tulang,

deformitas tulang, nyeri dan nyeri tekan, atau fraktur patologis. <Susi>

12. Perawatan pasca operasi? 1. Rigid dressing,Yaitu dengan menggunakan plaster of


paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu memasang harus
direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Bila tidak diperlukan
pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi
stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang
menonjol. Keuntungan cara ini bisa mencegah oedema, mengurangi nyeri dan
mempercepat posisi berdiri.

Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi
setelah 7 – 10 hari post operasi setelah luka sembuh, setelah 2 – 3 minggu, setelah stump
sembuh dan mature. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini dipertimbangkan
juga faktor usia, kekuatan, kecerdasan penderita, tersedianya perawat yang terampil,
therapist dan prosthetist serta kerelaan dan kemauan dokter bedah untuk melakukan
supervisi program perawatan. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7 – 10 post operasi
untuk melihat luka operasi atau bila ditemukan cast yang kendor atau tanda-tanda infeksi
lokal atau sistemik.

2. Soft dressing,Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan
pembalut steril yang rapi dan semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang
cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastik verban jangan sampai menyebabkan
konstriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur,
melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik sebab akan
menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah
48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat
mungkin untuk berdiri setelah kondisinya mengizinkan. Biasanya jahitan dibuka pada
hari ke 10 – 14 post operasi. Pada amputasi diatas lutut, penderita diperingatkan untuk
tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah
terjadinya kontraktur. <Tiara.R> sumber: www.pdfsearchengine.com

13. Jenis perawatan luka? <Sri melfa>

Ada dua prinsip utama dalam perawatan luka kronis semacam ini. Prinsip pertama
menyangkut pembersihan/pencucian luka. Luka kering (tidak mengeluarkan cairan)
dibersihkan dengan teknik swabbing, yaitu ditekan dan digosok pelan-pelan
menggunakan kasa steril atau kain bersih yang dibasahi dengan air steril atau NaCl 0,9%.
Sedang luka basah dan mudah berdarah dibersihkan dengan teknik irrigasi, yaitu
disemprot lembut dengan air steril (kalau tidak ada bisa diganti air matang) atau NaCl 0,9
%. Jika memungkinkan bisa direndam selama 10 menit dalam larutan kalium
permanganat (PK) 1:10.000 (1 gram bubuk PK dilarutkan dalam 10 liter air), atau
dikompres larutan kalium permanganat 1:10.000 atau rivanol 1:1000 menggunakan kain
kasa.

Cairan antiseptik sebaiknya tidak digunakan, kecuali jika terdapat infeksi, karena dapat
merusak fibriblast yang sangat penting dalam proses penyembuhan luka, menimbulkan
alergi, bahkan menimbulkan luka di kulit sekitarnya. Jika dibutuhkan antiseptik, yang
cukup aman adalah feracrylum 1% karena tidak menimbulkan bekas warna, bau, dan
tidak menimbulkan reaksi alergi.

Norit juga sering dianjurkan untuk ditaburkan di luka kronis basah, mengandung nanah,
dan sulit sembuh. Untuk ini sebaiknya dipakai bubuk norit halus bersih dari botol, bukan
dari gerusan tablet. Dokter akan memberi petunjuk lebih jauh tentang hal ini, atau
memberi resep tersendiri sesuai kondisi luka.

Prinsip kedua menyangkut pemilihan balutan. Pembalut luka merupakan sarana vital
untuk mengatur kelembaban kulit, menyerap cairan yang berlebih, mencegah infeksi, dan
membuang jaringan mati.

Memilih pembalut

Saat ini ada berbagai macam pembalut luka modern yang bisa dipakai sesuai
kondisi/kebutuhan luka masing-masing. Di antaranya, pembalut yang mengandung
calsium alginate, hydroactive gel, hydrocoloid, nystatin, dan metronidazole. Dengan
pembalut semacam ini, luka tidak perlu dibuka dan dibersihkan setiap hari, cukup
beberapa hari sekali.

Calsium alginate yang berbahan rumput laut, berubah menjadi gel jika bercampur dengan
cairan luka. Karenanya dapat menyerap cukup banyak cairan luka, merangsang proses
pembekuan darah, dan mencegah kontaminasi bakteri pseudomonas.
Hydroactive gel dapat membantu proses pelepasan jaringan mati (nekrotik). Sedang
hydrocoloid yang berbentuk lembaran tebal/tipis atau pasta dapat mempertahankan
kelembaban luka, menyerap cairan, menghindari infeksi. Cocok untuk luka yang merah,
bengkak, atau mengalami infeksi.

Nystatin yang dikombinasikan dengan metronidazole dan tepung maizena digunakan


untuk mengurangi iritasi/lecet, menyerap cairan yang tidak terlalu berlebihan, dan
mengurangi bau tidak sedap. Tidak beda dengan campuran calsium alginate dan karbon
yang juga berfungsi menyerap cairan dan mengontrol bau tidak sedap.

Ada juga pembalut yang mengandung aquacel, yang terbuat dari selulosa berdaya serap
sangat tinggi; atau pembalut mengandung campuran zinc dan metronidazole yang dapat
membantu pelepasan jaringan mati, menjaga kelembaban, mengurangi bau, dan mudah
dibuka. Tetapi pembalut jenis ini tidak boleh digunakan pada saat radiasi.

Tanpa pembalut-pembalut modern itu, kasa steril dan obat luka yang diberikan dokter
sudah cukup. Yang penting bersihkan luka, keringkan (termasuk kalau berdarah,
bersihkan dulu darahnya), obati, kemudian tutup dengan kasa steril dan perekat.

Tetapi ada juga luka kanker yang tidak perlu ditutup pembalut. Misalnya luka di dalam
mulut dan tenggorokan akibat kanker nasofaring, atau akibat kemoterapi dan radiasi di
area kepala-leher-dada. Untuk mencegah infeksi Anda bisa menggunakan obat kumur
yang mengandung mycostatin dan garam, atau membuat sendiri obat kumur dari
campuran ½ sendok teh baking soda dan ½ sendok teh garam dilarutkan dalam segelas
besar air hangat.

Prinsip perawatan luka yang lain adalah tidak boleh membuat sebuah luka menjadi luka
baru (berdarah) lagi, karena itu berarti harus memulai perawatan dari awal lagi. Juga,
harus bisa mengontrol bau tidak sedap, mengatasi cairan yang berlebih, mengontrol
perdarahan, mencegah infeksi, mengurangi nyeri , dan merawat kulit di sekitar luka.

yang penting diperhatikan dalam merawat luka adalah selalu menjaga kebersihan. Selalu
mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah merawat luka, selalu menjaga
kebersihan luka, menjaga agar pembalut/penutup luka selalu bersih dan kering. Hindari
tindakan menggaruk luka atau kulit di sekitar luka.Segeralah berkonsultasi ke dokter jika
ada tanda-tanda infeksi, yaitu kulit di sekitar luka berwarna merah, bengkak, suhu tubuh
meningkat, nyeri, mengeluarkan bau tidak sedap (yang berbeda dari biasanya),
mengeluarkan cairan berwarna kekuningan atau kehijauan, atau mengalami perdarahan
yang sulit dihentikan.

sumber: http://rumahkanker.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=36
JAWABAN “MIND MAP”

KONSEP PENYAKIT

Definisi

1. Osteosarkoma adalah tumor tulang ganas yang berasal

dari sel primitif pada regio metafisis tulang panjang

orang berusia muda

2. (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor tulang ganas,

yang biasanya berhubungan dengan periode kecepatan pertumbuhan pada masa remaja.

Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada anak-anak. Rata-

rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun.

Angka kejadian pada anak laki-laki dan anak perempuan adalah sama, tetapi pada akhir

masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki.

Penyebab yang pasti tidak diketahui. Bukti-bukti mendukung bahwa osteosarkoma

merupakan penyakit yang diturunkan.

Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah), tulang lengan atas (ujung

atas) dan tulang kering (ujung atas).

Ujung tulang-tulang tersebut merupakan daerah dimana terjadi perubahan dan kecepatan

pertumbuhan yang terbesar. Meskipun demikian, osteosarkoma juga bisa tumbuh di tulang

lainnya.

3. Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle. 1999: 244 ).

Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi

jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.( Wong. 2003:
595 )

Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim

pembentuk tulang. ( Wong. 2003: 616 )

Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat

ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang

tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 )

Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering

dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini

menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika

pasien pertama kali berobat.( Smeltzer. 2001: 2347 )

Manifestasi Klinis

Gejala yang paling sering ditemukan

adalah nyeri. Sejalan dengan

pertumbuhan tumor, juga bisa terjadi

pembengkakan dan pergerakan yang

terbatas.

Tumor di tungkai menyebabkan penderita berjalan timpang, sedangkan tumor di lengan

menimbulkan nyeri ketika lengan dipakai untuk mengangkat sesuatu benda.

Pembengkakan pada tumor mungkin teraba hangat dan agak memerah.

Tanda awal dari penyakit ini bisa merupakan patah tulang karena tumor bisa menyebabkan

tulang menjadi lemah. Patah tulang di tempat tumbuhnya tumor disebut fraktur patologis

dan seringkali terjadi setelah suatu gerakan rutin.


• Gejala klinis yang paling utama adalah nyeri, yang pada awalnya ringan dan tidak sering,
namun seiring dengan waktu akan menjadi sangat nyer dan menetap
• Dapat menimbulkan gangguan pada sendi
• Tumor berkembang secara cepat
• Karena tumor ini banyak pembuluh darahnya, maka permukaannya hangat
• Dapat terlihat adanya pembuluh darah yang melebar di permukaan tumor

Gambar. Lutut kiri mengalami osteosarkoma

Gejala biasanya telah ada selama beberapa minggu atau bulan sebelum pasien
didiagnosa.Tidak jarang terdapat riwayat trauma, meskipun peran trauma pada
osteosarkoma tidaklah jelas. Fraktur patologis sangat jarang terjadi, terkecuali pada
osteosarkoma telangiectatic yang lebih sering terjadi fraktur patologis. Nyeri pada
ekstrimitas dapat menyebabkan kekakuan. Riwayat pembengkakan dapat ada atau tidak,
tergantung dari lokasi dan besar dari lesi. Gejala sistemik, seperti demam atau keringat
malam sangat jarang. Penyebaran tumor pada paru-paru sangat jarang menyebabkan gejala
respiratorik dan biasanya menandakan keterlibatan paru yang luas.

Etiologi

1. Penyebab pasti terjadinya osteosarkoma tidak diketahui. Akhir-akhir ini, penelitian


menunjukkan bahwa peningkatan suatu zat dalam tubuh yaitu c-Fos dapat meningkatkan
kejadian osteosarkoma.
2. Faktor lingkungan: satu satunya faktor lingkungan yang diketahui adalah paparan
terhadap radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
3. Keturunan ( genetik )
4. Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit.
5. Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat. pertumbuhan tulang yang cepat terlihat sebagai
predisposisi osteosarkoma, seperti yang terlihat bahwa insidennya meningkat pada saat
pertumbuhan remaja. Lokasi osteosarkoma paling sering pada metafisis, dimana area ini
merupakan area pertumbuhan dari tulang panjang.
6. Sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet, merokok
dan lain-lain

Predisposisi

Displasia tulang, termasuk penyakit paget, fibrous dysplasia, enchondromatosis, dan


hereditary multiple exostoses and retinoblastoma (germ-line form).

Kombinasi dari mutasi RB gene (germline retinoblastoma) dan terapi radiasi berhubungan
dengan resiko tinggi untuk osteosarkoma, Li-Fraumeni syndrome (germline p53
mutation), dan Rothmund-Thomson syndrome (autosomal resesif yang berhubungan
dengan defek tulang kongenital, displasia rambut dan tulang, hypogonadism, dan katarak).

Klasifikasi dan Stadium

Klasifikasi

Osteosarkoma dibagi menjadi dua tipe :

1. Tipe sentral yaitu tumor yang tumbuhnya di dalam tulang.

2. Tipe perifer yaitu tumor yang tumbuhnya di permukaan tulang.

Dari osteosarkoma merupakan hal yang kompleks, namun 75% dari osteosarkoma masuk
kedalam kategori “klasik” atau konvensional, yang termasuk osteosarkoma osteoblastic,
chondroblastic, dan fibroblastic. Sedangkan sisanya sebesar 25% diklasifikasikan sebagai
“varian” berdasarkan

a. karakteristik klinik seperti pada kasus osteosarkoma rahang, osteosarkoma postradiasi,


atau osteosarkoma paget;

b. karakteristik morfologi, seperti pada osteosarkoma telangiectatic, osteosarkoma small-


cell, atau osteosarkoma epithelioid;

c. lokasi, seperti pada osteosarkoma parosteal dan periosteal.

Osteosarkoma dibagi atas beberapa klasifikasi atau variasi yaitu


1. Osteosarkoma klasik.

2. Osteosarkoma hemoragi atau telangektasis.

3. Parosteal osteosarkoma.

4. Periosteal osteosarkoma.

5. Osteosarkoma sekunder.

6. Osteosarkoma intrameduler derajat rendah.

7. Osteosarkoma akibat radiasi.

8. Multifokal osteosarkoma.

Stadium

Berdasarkan penilaian klinis, radiologis dan histopatologis yang cermat dari masing-

masing tumor tulang, maka dapat ditentukan staging tumor tersebut. Staging berlaku untuk

tumor jinak dan tumor ganas tulang. Sistem staging yang dipakai untuk tumor tulang ialah

Surgical Staging System dari Enneking.

Untuk tumor ganas ada 3 tingkat stadium, yaitu:

1. Stadium I, bila derajat keganasannya rendah.

2. Stadium II, artinya tumor mempunyai derajat keganasan tinggi.

3. Stadium III, yang berarti tumor sudah menyebar.

Stadium konvensional yang biasa digunakan untuk tumor keras lainnya tidak tepat untuk
digunakan pada tumor skeletal, karena tumor ini sangat jarang untuk bermetastase ke
kelenjar limfa. Pada tahun 1980 Enneking memperkenalkan sistem stadium berdasarkan
derajat, penyebaran ekstrakompartemen, dan ada tidaknya metastase. Sistem ini dapat
digunakan pada semua tumor muskuloskeletal (tumor tulang dan jaringan lunak).
Komponen utama dari sistem stadium berdasarkan derajat histologi (derajat tinggi atau
rendah), lokasi anatomi dari tumor (intrakompartemen dan ekstrakompartemen), dan
adanya metastase.

Faktor Resiko

Penyebab pasti dari osteosarkoma tidak diketahui, namun terdapat berbagai faktor resiko
untuk terjadinya osteosarkoma yaitu:
• Pertumbuhan tulang yang cepat : pertumbuhan tulang yang cepat terlihat sebagai
predisposisi osteosarkoma, seperti yang terlihat bahwa insidennya meningkat pada saat
pertumbuhan remaja. Lokasi osteosarkoma paling sering pada metafisis, dimana area ini
merupakan area pertumbuhan dari tulang panjang.
• Faktor lingkungan: satu satunya faktor lingkungan yang diketahui adalah paparan
terhadap radiasi.

PENATALAKSANAAN MEDIS

1. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat vital pada osteosarkoma, Kemoterapi

juga mengurangi metastase ke paru-paru dan sekalipun ada, mempermudah melakukan

eksisi pada metastase tersebut. Keoterapi diberikan pre operatif dan post operatif Obat-

obat kemoterapi yang mempunyai hasil cukup efektif untuk osteosarkoma adalah:

doxorubicin (Adriamycin¨), cisplatin (Platinol¨), ifosfamide (Ifex¨), mesna (Mesnex¨), dan

methotrexate dosis tinggi (Rheumatrex¨). Protokol standar yang digunakan adalah

doxorubicin dan cisplatin dengan atau tanpa methotrexate dosis tinggi, baik sebagai terapi

induksi (neoadjuvant) atau terapi adjuvant. Kadang-kadang dapat ditambah dengan


ifosfamide. Dengan menggunakan pengobatan multi-agent ini, dengan dosis yang intensif,

terbukti memberikan perbaikan terhadap survival rate sampai 60 Ð 80%.

2. Operasi
Saat ini prosedur Limb Salvage merupakan tujuan yang diharapkan dalam operasi suatu

osteosarkoma.Maka dari itu melakukan reseksi tumor dan melakukan rekonstrusinya

kembali dan mendapatkan fungsi yang memuaskan dari ektermitas merupakan salah satu

keberhasilan dalam melakukan operasi. Dengan memberikan kemoterapi preoperative

(induction = neoadjuvant chemotherpy) melakukan operasi mempertahankan ekstremitas

(limb-sparing resection) dan sekaligus melakukan rekonstruksi akan lebih aman dan

mudah, sehingga amputasi tidak perlu dilakukan pada 90 sampai 95% dari penderita

osteosarkoma.7 Dalam penelitian terbukti tidak terdapat perbedaan survival rate antara

operasi amputasi dengan limb-sparing

resection.17 Amputasi terpaksa dikerjakan apabila prosedur limb-salvage tidak dapat atau

tidak memungkinkan lagi dikerjakan. Setelah melakukan reseksi tumor, terjadi kehilangan

cukup banyak dari tulang dan jaringan lunaknya, sehingga memerlukan kecakapan untuk

merekonstruksi kembali dari ekstremitas tersebut.Biasanya untuk rekonstruksi digunakan

endo-prostesis dari methal.18-20 Prostesis ini memberikan stabilitas fiksasi yang baik

sehingga penderita dapat menginjak (weight-bearing) dan mobilisasi secara cepat,

memberikan stabilitas sendi yang baik, dan fungsi dari ekstremitas yang baik dan

memuaskan. Begitu juga endoprostesis methal meminimalisasi komplikasi postoperasinya

dibanding dengan menggunakan bone graft

3. FOLLOW-UP POST-OPERASI
Post operasi dilanjutkan pemberian kemoterapi obat multiagent seperti pada sebelum

operasi. Setelah pemberian kemoterapinya selesai maka dilakukan pengawasan terhadap


kekambuhan tumor secara local maupun adanya metastase, dan komplikasi terhadap

proses rekonstruksinya. Biasanya komplikasi yang terjadi terhadap rekonstruksinya

adalah: longgarnya prostesis, infeksi, kegagalan mekanik. Pemeriksaan fisik secara rutin

pada tempat operasinya maupun secara sistemik terhadap terjadinya kekambuhan maupun

adanya metastase. Pembuatan plain-foto dan CT scan dari lokal ekstremitasnya maupun

pada paru-paru merupakan hal yang harus dikerjakan. Pemeriksaan ini dilakukan setiap 3

bulan dalam 2 tahun pertama post opersinya, dan setiap 6 bulan pada 5 tahun

berikutnya.7hjgj

sumber:Wittig, James C, Bickels J, Priebat D, et al.Osteosarcoma: a multidisciplinary

approach to diagnosis and treatment. A peer reviewed Journal of American Academic of

Family Physicians 2002.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK (askep muskuloskeletal arif mutaqin, hal. 390-392)

1. Pemeriksaan Radiologi
Biasanya gambaran radiogram dapat membantu untuk menentukan keganasan relatif dari
tumor tulang. Sebagai contoh, suatu lesi bertepi bulat dan berbatas tegas cenderung bersifat
jinak. Lesi seperti itu sering kali memiliki tepi yang sklerotik, menunjukkan bahwa tulang
yang terserang memiliki cukup waktu dan kemampuan untuk memberikan respon terhadap
massa yang tumbuh. Gambaran tepi lesi yang tidak tegas menandakan bahwa proses invasi
tumor ke jaringan tulang yang berada di sekitarnya.
Lesi ini tumbuh dengan cepat dan tulang tidak mempunyai cukup waktu guna mengadakan
respon pembelahan untuk bereaksi melawan massa tersebut. Perluasan lesi melalui korteks
tulang merupakan cirri khas suatu keganasan. Kalau tumor menembus korteks, periosteumnya
mungkin akan terkelupas. Mungkin periosteumnya akan mengadakan respon dengan
menimbun suatu lapisan tipis tulang yang reaktif, lalu tulang akan terangkat, dan reaksi
periosteal tersebut berulang kembali. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosis meliputi foto sinar-x lokal pada lokasi lesi atau foto survei seluruh
tulang (bone survey) apabila ada gambaran klinis yang mendukung adanya tumor ganas/
metastasis. Foto polos tulang dapat memberikan gambaran tentang:
 Lokasi lesi yang lebih akurat, apakah pada daerah epifisis, metafisis, diafisis, atau
pada organ-organ tertentu.
 Apakah tumor bersifat soliter atau multiple.
 Jenis tulang yang terkena.
 Dapat memberikan gambaran sifat tumor, yaitu:
 Batas, apakah berbatas tegas atau tidak, mengandung kalsifikasi atau tidak.
 Sifat tumor, apakah bersifat uniform atau bervariasi, apakah memberikan
reaksi pada periosteum, apakah jaringan lunak di sekitarnya terinfiltrasi.
 Sifat lesi, apakah berbentuk kistik atau seperti gelembung sabun.

Pemeriksaan radiologi lain yang dapat dilakukan, yaitu:


 Pemindaian radionuklida. Pemeriksaan ini biasanya dipergunakan pada lesi yang
kecil seperti osteoma.
 CT-scan. Pemeriksaan CT-scan dapat memberikan informasi tentang keberadaan
tumor, apakah intraoseus atau ekstraoseus.
 MRI. MRI dapat memberika informasi tentang apakah tumor berada dalam tulang,
apakah tumor berekspansi ke dalam sendi atau ke jaringan lunak.
2. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksan laboratorium merupakan pemeriksaan tambahan/ penunjang dalam membantu
menegakkan diagnosis tumor. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan meliputi:
 Darah. Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan laju endap darah, haemoglobin,
fosfatase alkali serum, elektroforesis protein serum, fosfatase asam serum yang
memberikan nilai diagnostik pada tumor ganas tulang.
 Urine. Pemeriksaan urine yang penting adalah pemeriksaan protein Bence-Jones.
3. Biopsi
Tujuan pengambilan biopsi adalah memperoleh material yang cukup untuk pemeriksaan
histologist, untuk membantu menetapkan diagnosis serta grading tumor. Waktu pelaksanaan
biopsi sangat penting sebab dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan radiologi yang
dipergunakan pada grading. Apabila pemeriksaan CT-scan dilakukan setelah biopsi, akan
tampak perdarahan pada jaringan lunak yang memberikan kesan gambaran suatu keganasan
pada jaringan lunak. Ada dua metode pemeriksaan biopsi, yaitu biopsi secara tertutup dan
secara terbuka.
 Biopsi tertutup dengan menggunakan jarum halus (fine needle aspiration, FNA)
dengan menggunakan sitodiagnosis, merupakan salah satu biopsi untuk melakukan
diagnosis pada tumor. Keuntungan dari FNA adalah sebagai berikut.
 Tidak perlu perawatan klien.
 Resiko komplikasi seperti perdarahan dan infeksi, dapat dihindarkan.
 Mencegaj penyebaran tumor.
 Dibandingkan dengan biopsi terbuka, biopsi jarum dapat mengambil material
dari beberapa bagian tumor.
 Hasil awal dapat diketahui dalam 15-20 menit setelah biopsi.
 Dapat ditentukan rencana pemeriksaan selanjutnya serta anjuran terapi sesaat
setelah hasil biopsi yang diketahui dengan cepat.

Biopsi tertutup dilakukan pada:


 Tumor sumsum tulang, misalnya pada myeloma multiple.
 Untuk konfirmasi metastasis suatu tumor
 Untuk mendiagnosis suatu kista tulang yang sederhana.
 Membedakan infeksi dan penyakit granuloma eosinofilik.
 Konfirmasi penemuan histologist sarcoma.
 Konfirmasi rekurens lokal.

Pemeriksaan biopsi tertutup dengan jarum tidak dianjurkan pada tumor ganas
tulang primer lainnya.
 Biopsi terbuka. Biopsi terbuka adalah metode biopsi melalui tindakan operatif.
Keunggulan biopsi terbuka dibandingkan dengan biopsi tertutup, yaitu dapat
mengambil jaringan yang lebih besar untuk pemeriksaan histologis dan pemeriksaan
ultramikroskopik, mengurangi kesalahan pengambilan jaringan, dan mengurangi
kecenderungan perbedaan diagnostik tumor jinak dan tunor ganas (seperti antara
enkondroma dan kondrosakroma, osteoblastoma dan osteosarkoma).
Biopsi terbuka tidak boleh dilakukan bila dapat menimbulkan kesulitan pada prosedur
operasi berikutnya, misalnya pada reseksi end-block. Untuk itu, biopsi terbuka
dilakukan dengan cara seperti berikut.
 Sekecil mungkin, tetapi jaringan yang diambil tepat.
 Diambil secara longitudinal dan tidak secara horizontal.
 Menghindari struktur neovaskular yang besar.

Biopsi terbuka dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:


 Biopsi insisional. Biopsi insisional dilakukan melalui pengambilan sebagian
jaringan tumor.
 Biopsi eksisional. Dilakukan dengan mengeluarkan seluruh tumor, baik hanya
seluruh jaringan tunor saja ataupun dikeluarkan bersama-sama dengan anggota
gerak (amputasi).

ASPEK LEGAL ETIS


• Beneficence
Segala tindakan keperawatan harus bisa membuat kondisi klien menjadi lebih baik
dari sebelumnya, jangan sampai merugikan klien atau dengan kata lain mendapat
keuntungakn karena dilakukannya tindakan keperawatan. Dari kasusu di atas
tindakan pada pasien osteosaarkoma yaitu amputasi.
• Respek pada Autonomi
Autonomi berarti setiap individu harus memiliki kebebasa untuk memilih rencana
kehidupan dan cara bermoral mereka sendiri.prinsipnya perawat member kebebasan
kepada klien untuk memenuhi kebutuhannya selama tidak melanggar batas-batas
yang ditentukan dalam upaya kesembuhan klien,seperti misalnya klien tidak mau di
amputasi karena takut dan memengaruhi aspek psikosial klien,kita tidak berhak
untuk memaksa,namun kita harus memberikan health education kepada klien dan
keluarga prosedur amputasi.
• Non Malefisien
Prinsip ini dilihat pada kontinum rentang dari bahaya yang berarti sampai
menguntungkan orang lain dengan melakukan yang baik.
• Keadilan
Prinsip keadilan menuntut perlakuan terhadap orang lain yang adil dan memberikan
apa yang menjadi kebutuhan mereka.dalam hal ini perawat tidak boleh
membedakan statud pasien dalam memberikan perawatan sehingga tidak ada lagi
pasien yang mendapatkan bagian yang lebih besar atau lebih sedikit dari yang lain.

Sedangkan prinsip sekunder dari prinsip etis adalah kejujuran, kerahasiaan,dan


kesetiaan.kejujuran berarti kewajiban untuk mengungkapkan kebenaran,dalam
kasus ini tim medis harus transparan dalam mengungkapkan tindakan apa saja yang
akan dilakukan pada pasien,misalnya dampak amputasi,dampak pemberian obat
analgetik harus meminta persetujuan pihak keluarga dalam menentukan tindakan
tersebut. Kerahasiaan berarti kewajiban untuk melindungi informasi
rahasia.kesetiaan juga berarti selalu ada saat pasien membutuhkan bantuan dari tim
medis,khususnya kita sebagai perawat.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN OSTEOSARKOMA

Pengkajian

• Data biografi

Nama :an.BO
Umur :17 tahun
Jenis kelamin :-
Pekerjaan : pelajar

• Anamnesa

Pengkajian berdasarkan karakterisitik nyeri:

P : palliative ;tidak teridentifikasi

Q : quality/quanty ;pada kasus nyeri yang dirasakan klien terus menerus.

R :region ;nyeri terletal pada tungkai bawah kanan.

S :scale ;klien menyatakan bahwa nyerinya ada pada skala 9 (0-10)

T : nyeri terjadi sejak 3bulan yang lalu dan akan bertambah nyeri apabila area bengkaknya

disentuh atau bergesekan dengan kain.

• Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan masa lalu : -

Riwayat kesehatan sekarang : klien dirawat di ruang bedah orthopedic dengan tungkai bawah

kanan mengalami pembengkaka disertaai nyeri sejak sebulan yang lalu.


• Pemeriksaan

o Pemeriksaan fisik

1. Inspeksi :

a. Postur: terlihat massa sebesar bola tenis di tungkai kanan,kemerahan,dan mengkilap

b. Gaya berjalan: nyeri dirasakan klien pada skala9 sehingga dapat dipastikan klien tidak

bisa berjalan dengan baik.

c. ROM : klien tidak dapat bergerak bebas

d. Perubahan warna kulit : terlihat perubahan kulit berupa rubor dan mengkilat pada area

pembengkakan,ditemukan adanya pus berwarna hijau.

2. Palpasi

3. Nyeri tekan

Nyeri bertambah apabila disentuh dan bergesekan dengan kain,sehingga perawat tidak boleh

menekannya.

4. Edema (tempat,ukuran,temperature)

Edema pada tungkai bawah kanan klien sebesar bola tennis dan timbul rubor dan mengkilat.

o Pengkajian psikososialspiritual

 Psikososial : kemungkinan klien mengalami stress emosional, Karen klien merasakan

nyeri hebat pada tungkainya dan tidak dapat melakukan aktifitas rutin yang ia lakukan.

 Spiritual : -

 Sosialculture: kaji normaL, nilai, dan stigma yang berlaku di lingkungan klien untuk
meenentukan intervensi yang berhubungan dengan sosialisasi klien. Perawat sebaiknya

memberitahukan kepada keluarga klien agar selalu memberikan motivasi kepada klien

untuk sembuh apalagi disaat perawatan pasca amputasi

Analisa data

Data Etiologi Masalah keperawatan

menyimpang

Ds:pasien Inflamasi mengeluarkan Zat Nyeri hebat

mengeluh nyeri vasoaktif merangsang reseptor

Do:skala 9 (0- nyeri merangsang sel saraf

10) aferen A delta&C medulla

spinalis

ujung saraf bebas nyeri

hebat

Ds: Hipertropi sel kanker masa Gangguan integritas kulit

Do: selebar bola tenis kerusakan

jaringan kulit terbentuk ulkus

gangguan integritas kulit

Ds: Inflamasi mengeluarkan Zat Gangguan imobilisasi

Do:massa vasoaktif merangsang reseptor

sebesar bola nyeri merangsang sel saraf

tenis di tungkai aferen A delta&C medulla


kanan. spinalis

ujung saraf bebas nyeri

hebat imobilisasi

Ds: osteosarcoma sel perlu nutrisi Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan

Do: yang banyak hipermetabolisme

sel kanker resiko nutrisi kurang

dari kebutuhan

Ds: Nyeri berkelanjutan respon Ansietas

Do: stress saraf simpatis

katekolamin ansietas

Ds: hyperplasia Hipertropi sel Gangguan citra diri

Do:massa tumor kanker

sebesar bola massa sel selebar bola tenis

tenis ganguan citra diri

Ds:nyeri saat Nyeri berkelanjutan respon Gangguan pola tidur

bergesekan stress saraf simpatis

dengan kain katekolamin saraf para

Do: simpatis neurutransmiter

RAS gangguan pola tidur


Diagnosa Keperawatan

1. nyeri hebat yang berhubungan dengan respon inflamasi yang ditandai dengan pasien mengeluh

nyeri pada tungkai bawah kanan dengan skala 9

2.Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan penipisan lapisan kulit sekunder terhadap

penekanan tumor ditandai dengan luka terbuka 2x3 cm

3. gangguan imobilisasi yang berhubungan dengan nyeri akut ditandai dengan klien

mengatakan nyeri bertambah apabila disentuh dan bergesekan dengan kain.

4. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan

hipermetabolik

5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

6.Gangguan citra diri yang berhubungan dengan

7.Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan nyeri yang berkelanjutan


No. Diagnose keperawatan tujuan intervensi rasional

1. nyeri hebat yang Klien akan mengalami mengurangi ukuran meningkatkan rasa

berhubungan dengan pengurangan nyeri b.d atau membuang nyaman klien dan

respon inflamasi yang lesi tulang tumor. mengeliminasi

ditandai dengan pasien komplikasi dari kanker

mengeluh nyeri pada tulang.

tungkai bawah kanan

dengan skala 9

2. Gangguan integritas Tujuan jangka panjang: • Hilangkan • Friksi dan


maserasi
kulit yang Mempertahankan kelembaban dari
memainkan peranan
berhubungan dengan integritas kulit kulit dengan
yang penting dalam
penipisan lapisan kulit Tujuan jangka pendek: penutupan dan
proses terjadinya
sekunder terhadap Integritas kulit tidak rusak menghindari friksi
sebagian kerusakan
penekanan tumor ditandai dengan tidak
kulit
ditandai dengan luka adanya infeksi

terbuka 2x3 cm • Lindungi kulit


• Maserasi pada
yang sehat dari kulit

kemungkinan yang sehat dapat

maserasi (hidrasi menyebabkan

stratum korneum pecahnya kulit dan


perluasan kelainan
yang belebihan)
primer

3. . gangguan Jangka panjang 1. Kaji Dengan mengetahui

imobilisasi yang :mobilisasi fisik terpenuhi ketidakmampuan derajat

berhubungan dengan bergerak klien yang ketidakmampuan


Jangka pendek : klien
nyeri akut ditandai diakibatkan oleh bergerak klien dan
dapat merubah posisi
dengan klien prosedur pengobatan persepsi klien terhadap
tidur ke posisi duduk,
mengatakan nyeri dan catat persepsi imobilisasi akan dapat
tonus dan kekuatan otot
bertambah apabila klien terhadap i menemukan aktivitas
terpelihara
disentuh dan mobilisasi mana saja yang perlu

bergesekan dengan dilakukan

kain.

2.Latih klien untuk Pergerakan dapat

menggerakan meningkatkan aliran

anggota badan darah ke otot,

memelihara

pergerakan sendi, dan

mencegah kontraktur,

serta atropi

3.Tingkatkan
Dengan ambulasi
ambulasi klien
demikian klien dapat
seperti mengajarkan
mengenal dan
menggunakan
menggunakan alat-alat
tongkat dan kursi
yang perlu digunakan
roda
oleh klien dan juga

untuk memenuhi

aktivitas klien

4.Ganti posisi klien Pergantian posisi 3-4

setiap 3-4 jam secara jam dapat mencegah

periodic terjadinya kontraktur

Membantu klien untuk


5. Bantu klien
meningkatkan
mengganti posisi dari
kemampuan dalam
tidur ke duduk dan
duduk dan turun dari
turun dari tempat
tempat tidur
tidur

4. Ansietas berhubungan Hasil yang diharapkan: a. Kaji tingkat a. Membantu dan


ansietas pasien. mengedentifikaikan
dengan perubahan - Tampak rileks dan Tentukan kekuatan dan
bagaimana pasien keterampilan yang
status kesehatan - melaporkan anietas menangani mungkin membantu
maalahnya pasien mengatasi
berkurang pada ingkat dimasa lalu dan keadaannya
bagaimana pasien sekarang dan/atau
dapat diatasi. melakukan kemungkinan lain
koping dengan untuk memberikan
- Mengkaji situasi t masalah yang bantuan yang
dihadapinya sesuai.
- terbaru dengan akurat. sekarang.
Mengembangkan rencana

untuk perubahan gaya b. Berikan b. Memungkinkan


informasi yang pasien untuk
hidup yang perlu. akurat dan jawab membuat keputusan
dengan jujur. yang didasarkan
atas
pengetahuannya.
c. Berikan
kesempatan
pasien untuk c. Kebanyakan pasien
mengungkapkan mengalami masalah
masalah yang yang perlu untuk
dihadapinya, diungkpakan da
seperti diberi respons
kemungkinan dengan informasi
paralisis, yang akurat untuk
perubahan peran meningkatkan
dan tanggung koping terhadap
jawab. situasi yang sedang
dihadapinya.

Catat perilaku dari


Orang
orang
terdekat/keluarga
terdekat/keluarga
mungkin secara tidak
yang meningkatkan
sadar memungkinkan
“peran sakit” pasien.
pasien untuk

mempertahankan

ketergantungannya

dengan melakukan

sesuatu yang pasien

sendiri mampu

melakukannya tanpa
bantuan orang lain.

5. Resiko Kebutuhan nutrisi - Kaji riwayat - Mengidentifikasi


nutrisi atau resiko defisiensi,
ketidakseimbangan terpenuhi secara adekuat penurunan nafsu menentukan
makan intervensi
nutrisi kurang dari Kriteria: selanjutnya
- Nafsu makan - Observasi dan - Mengawasi
kebutuhan yang meningkat catat masukan masukan kalori atau
- Porsi makan makanan pasien kualitas kekurangan
berhubungan dengan konsumsi makanan
dihabiskan - Berikan makanan - Mengurangi
hipermetabolik yang mudah kelelahan klien dan
ditelan, mudah mencegah
dicerna perdarahan
- Berikan makan gastrointestinal
sedikit dan - Makan sedikit dapat
frekuensi sering menurunkan
dan/atau makan di kelemahan dan
antara waktu meningkatkan
makan pemasukan
- Hindari makanan - Mencegah
yang merangsang terjadinya distensi
: pedas, asam pada lambung yang
- Beri makanan dapat menstimulasi
kesukaan klien muntah
- Memungkinkan
- Berikan dan bantu pemasukan yang
higiene mulut lebih banyak
yang baik; - Meningkatkan nafsu
sebelum dan makan dan
sesudah makan, pemasukan oral,
gunakan sikat gigi menurunkan
halus untuk pertumbuhan
penyikatan yang bakteri,
lembut meminimalkan
- Kolaborasi kemampuan infeksi
pemberian cairan
parenteral
- Nutrisi parenteral
- Konsul pada ahli sangat diperlukan
gizi jika intake peroral
sangat kurang

Pantau pemeriksaan - Membantu dalam


membuat rencana
laboratorium seperti diet untuk
memenuhi
Hb, Hct, BUN, kebutuhan
individual
Albumin, Meningkatkan

efektivitas program

pengobatan, termasuk

sumber diet nutrisi

yang dibutuhkan

6. Gangguan citra diri Setelah diberikan Perawat perlu Hubungan saling

yang berhubungan intervensi keperawatan mengenali dan percaya akan

dengan adanya tumor klien akan mengalami menerima pandangan memfasilitasi klien

perbaikan perasaan klien mengenai citra untuk bebas

mengenai citra dirinya diri dan menyatakan perasaan

dan menerima perubahan perubahannya. negatifnya.

fisik yang terjadi

7. Gangguan pola tidur Klien dapat beristirahat/ 1.Hilangkan Suara yang keras

yang berhubungan tidur dengan nyaman. kebisingan / stimulus dapat mengganngu

dengan nyeri yang eksternal yang dan mempengaruhi

berkelanjutan berlebihan istirahat.

2.Bicara yang

tenang,. Perlahan

dengan

menggunakan

kalimat yang pendek


sesuai kebutuhan.

3.Berikan obat sesuai

indikasi ( kolaborasi

KESIMPULAN

Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat


ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini
adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 ).

Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun (


pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur
15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir
masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang
penyebab pasti belum diketahui

Tanda dan gejala dari Osteosarkoma adalah Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas
yang terkena, pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang
terbatas, teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran
vena dan gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan
menurun dan malaise.

SARAN

Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sebagai kelompok
mengharapkan kritikan dan saran dari dosen pembimbing dan teman – teman sesama mahasiswa.
Selain itu penyakit osteosarkoma ini sangat berbahaya dan kita sebagai host harus bisa
menerapkan pola hidup sehat agar kesehatan kita tetap terjaga.
DAFTAR PUSTAKA

Perry,potter .fundamental keperawatan vol 2.2006.EGC: Jakarta

Muttaqin arif.Asuhan keperawtan klien gangguan system musculoskeletal.2008.EGC: Jakarta

Brenda, Suzanne.Keperawatan Medikal Bedah vol 3.2002.EGC: Jakarta.

http://adelinecalonperawat.blogspot.com/2009/03/askep-osteosarkoma.html

http://adelinecalonperawat.blogspot.com/2009/03/askep-osteosarkoma.html

http://adelinecalonperawat.blogspot.com/2009/03/askep-osteosarkoma.html
http://www.rafani.co.cc/2009/08/amputasi.html)