Anda di halaman 1dari 2

Berbagai Peristiwa di Bulan

Ramadhan
Di bulan Ramadhan Al Qur’an di turunkan. Dialah wahyu Allah yang menjadi
petunjuk hidup manusia. Dialah mu’jizat yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

Tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah, hari Jum’at pagi, terjadi peperangan Badr al-
Kubra. Sebuah perang besar terbuka yang pertama kalinya terjadi antara kaum Muslimin
melawan kaum musyrik. Pertempuran terjadi di sebuah lembah di dekat kota Madinah,
yaitu di Badr. Kekuatan kaum Muslimin waktu itu, sekitar 300 orang, setiap dua orang
satu unta. Sedangkan kekuatan kaum kafir sekitar 1000 orang dengan perincian 700
orang naik unta dan lebih dari 100 orang adalah pasukan berkuda. Berarti satu orang
Muslim harus menghadapi 3 lawan. Pertempuran dimenangkan oleh kaum Muslimin
dengan gilang-gemilang.

Tanggal 18 Ramadhan tahun ke-8 Hijrah Rasulullah bersama 12 000 kaum Muslimin
bertolak dari Madinah menuju Makkah untuk membebaskan Makkah. Peristiwa bebasnya
kota Makkah terkenal dengan sebutan Futuh Makkah. Pembukaan kota Makkah
menandai sebuah era baru di dalam Islam, setelah sebelumnya kaum Muslimin selalu
disiksa, ditindas, bahkan terakhir dikepung oleh pasukan Ahzab (sekutu) selama
berminggu-minggu di Madinah. Era baru yang dibangkitkan oleh Rasulullah dengan
perang Ahzab dengan sabdanya,“Kaum Quraisy tidak akan berani mendatangi
(menyerang) kamu sesudah tahun ini, telah lenyap musnah kekuatan mereka, dan mereka
tidak akan memerangi kita sesudah hari ini, dan sekarang giliran kita akan memerangi
mereka, Insya Allah.“

Bulan Ramadhan tahun ke-91 Hijrah, kaum Muslimin di bawah pimpinan panglima
Thariq bin Ziad membuka Andalusia(Spanyol). Peristiwa ini dikenal dengan sebutan
Futuh Andalusia. Thariq bin Ziyad menyeberangi selat antara Afrika dan Eropah atas
perintah Musa bin Nushair penguasa Islam kala itu. Ketika pasukan Islam sudah sampai
di seberang, diperintahkannya agar kapal-kapal perang Islam dibakar. Kemudian ia
berpidato didepan pasukannya :„Musuh di depan kalian. Apabila kalian mundur, maka
lautan dibelakang kalian..“ Agaknya langkah yang beliau ambil dalam membangkitkan
semangat kaum muslimin sangat tepat. Tidak ada lagi jalan untuk mundur. Yang ada
hanyalah berjuang sekuat tenaga dan mengharap pertolongan Allah. Berturut-turut kota
demi kota jatuh ke tangan kaum Muslimin. Akhirnya pada bulan Ramadhan jatuhlah
Andalusia ke tangan kaum Muslimin. Sejarah mencatat bahwa di kemudian hari
Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan dan menjadi mercu peradaban manusia di
zamannya. Kemajuan teknologi yang diperoleh orang-orang Eropah zaman sekarang
hanyalah merupakan perpanjangan teknologi umat Islam masa silam.
Futuh bilaad Al-Ghaal (dibukanya daerah „Ghaal“ atau dalam bahasa Perancis pays
des Gualles). Jatuhnya daerah Ghaal yang sekarang letaknya di Perancis juga terjadi di
bulan Ramadhan. Peristiwa ini terjadi di zaman Islam di Andalusia.

Ma’rakah ‘Ainu Jaaluut (perang ‘ainu jaaluut). Peperangan ini terjadi dengan latar
belakang jatuhnya Daulah Abbasiyyah. Kala itu pasukan Tartar (Mongol) yang ganas
mengirim ekspedisi ke arah barat. Ketika sampai di daerah kekhalifahan Abbasiyyah
terjadilah pengacauan-pengacauan sampai akhirnya mereka bergerak menuju Baghdad.
Baghdad yang kala itu merupakan pusat intelek berhasil mereka hancurkan. Khalifah
beserta segenap keluarganya mereka bunuh. Buku-buku perpustakaan di Baghdad mereka
tenggelamkan di Sungai Tigris untuk membuat jembatan penyeberangan. Dalam sejarah
digambarkan betapa air sungai Tigris kala itu berwarna kehitam-hitaman karena terlalu
banyaknya tinta yang larut. Demikianlah akhir dari sebuah peradaban modern Islam di
Baghdad. Pasukan Mongol terus bergerak ke barat menuju Syams (sekarang meliputi
Syria, Palestina, Yordania, Libanon). Umat Islam tidaklah tinggal diam membiarkan
orang-orang kafir merobek-robek kemuliaan umat. Penguasa Mesir kala itu Sa ifuddin
Quths menggerakkan pasukan Islam menuju Syams untuk menghalang orang-orang
Mongol. Seorang tokoh penting yang sangat berpengaruh membentuk kepribadian Quths
adalah seorang ulama yang bernama Al-’Izz bin ‘abdis Salaam. Beliaulah yang
mentarbiyyah (membina) Saifuddin Quths menjadi seorang berkepribadian islami. Dua
buah pasukan besar tersebut akhirnya bertemu di sebuah tempat yang bernama ‘Ainul
Jaaluut (letaknya di Palestina). Sejarah akhirnya mencatat bahwa di‘ainul Jaaluut-lah
akhirnya ekspansi pasukan Tartar dipatahkan oleh kaum Muslimin.