Anda di halaman 1dari 3

Nama : Dewi Febriani Fakultas : FISIP

NIM : 1042500858 Jurusan : Hub. Internasional

Dosen : Hizkia Yosi P

CRITICAL THEORY, FEMINISM, AND GREEN THEORY

Sumber :
• Devetak, Richard, Burke, Anthony & George, Jim, peny., An Introduction to
International Relations: Australian Perspectives, Cambridge: Cambridge Uni Press,
2007.
• Dunne, tim, dkk. International relations theories 2nd Editions. Oxford.

Teori Kritis
Muncul sebagai kritik atas neo-liberal dan neo-realis yang dinilai bahwa keduanya
adalah memperalat negara sebagai kesatuan rasional dan kepentingan nasional negaranya. Teori
kritik tersebut muncul atas pemikiran Aristoteles, Montesque dan john Locke. Tujuan teori kritis
adalah untuk mencapai kebebasan dan keadilan. Pengaruh pemikiran utama oleh Frankfurt
School yang memfokuskan pada teori normatif serta Antonio Gramsci pada Ekonomi politik
dalam kerangka kapitalis.
Dasar dari teori kritis menurut Martin Weber adalah konstruktivisme, maksudnya
memahami struktur sosial dan politik yang terkait kehidupan tersebut sebagai oposisi dari
neoliberal dan neorealis. Teori kritis berupaya untuk membebaskan manusia dari struktur dunia
yang menekan. Mereka berupaya mendobrak nilai-nilai buruk untuk memperbaikinya serta
mewujudkan pelaksanaan emansipasi.

Feminisme

Paham ini muncul di Eropa dipicu akibat para perempuan yang menuntut adanya
kesamaan hak (emansipasi). Mereka menuntut karena kedudukan mereka tidak sama dengan
laki-laki. Ada dua hal yang menimbulkan diskriminasi para kaum feminism yaitu dalam urusan
berpolitik serta pengambilan keputusan dan dalam hal mendapatkan pendidikan. Penyebab lain
adalah pada saat itu perempuan hanya dijadikan sebagai buruh eksploitasi dan budak seksual
yang memuaskan keinginan para pria selama perang.

Mary Wollstonecraft dalam bukunya “vindication of the right of woman” tentang prinsip-
prinsip feminisme dasar yang digunakan di kemudian hari. Tokoh lain pendukung gerakan ini
diantaranya J. Ann Tickner dan Jan Jindy Pettman yg berpendapat bahwa segala hal yang
menyangkut kekuasaan, agresif dan suka perang tidak berbicara atas nama perempuan melainkan
atas nama laki-laki. Mereka membantah bahwa internasional realis bukanlah hubungan obyektif
tetapi lebih pada hak nilai jantan. Sehingga laki-laki mendominasi hubungan internasional.

Gelombang pertama gerakan feminisme muncul di tahun 1800an. Saat itu dalam
masyarakat patriarki, para perempuan merasa dirugikan di segala bidang dan selalu dinomor
duakan. Gerakan ini mendapat perhatian para perempuan di Eropa yang disebut universal
sisterhood. Keterpurukan para kaum perempuan saat itu mulai mendapatkan kebebasan terhadap
pemberantasan perbudakan, pekerjaan dan gaji yang diperbaiki serta diberi hak pilih setingkat
dengan kaum laki-laki.

Gelombang kedua gerakan ini pada tahun 1950an dengan masuknya perempuan dalam
hak pilih parlemen. Keberhasilan dalam gelombang kedua ini membuat para feminis mengamati
perempuan-perempuan dunia ketiga untuk menyelamatkan mereka dan mendapatkan
kebebasannya sebagai perempuan.

Teori feminisme:

1. Feminisme liberal, yaitu secara central mengenai persamaan diantara laki-laki


dan perempuan bahwa perempuan juga memiliki potensi yang sama seperti pria.
Mereka mengejar minat mereka sendiri agar sama dimata hukum. Mary
Wollstonecraft membantah tanggapan tentang diskriminatif. Menurutnya
perempuan berhak atas pendidikannya dan kewarganegaraan penuh, memberi
peluang dan potensi karena mereka manusia.

2. Feminisme Marxis, yaitu feminis membantah bahwa pembebasan perempuan


dapat dicapai melalui kapitalisme dan penindasan.
3. Feminisme radikal, yaitu penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sikap
patriarki (kekuasaan laki-laki).

4. Feminisme kebudayaan, yaitu perempuan mempunyai potensi besar di bidang


politik.

5. Feminisme post-colonial, yaitu pembebasan perempuan.

6. Feminisme kritis dan postmodern, yaitu hak emansipasi bagi perempuan. Para
perempuan membuat keutusan sendiri daripada bergantung di atas keputusan
universal yang menjatuhkan semua perempuan.

Green Theory

Masalah lingkungan tidak pernah menjadi pusat perbincangan dalam hubungan


internasional. Namun terkait dengan kerjasama lingkungan internasional berpusat pada sungai
utama serta samudera yang mencakup masalah ekologis. Dalam teori neoliberalisme, lingkungan
hanya sebagai isu area atau masalah politis baru.

Akibat ulah para neoliberal atas kebebasan dalam perdagangan khususnya segi
industralisasi dan para neorealis atas kekuasaan yang menyebabkan perang atau konflik
membuat lingkungan menjadi tidak ramah. Industralisasi yang kian banyak serta konflik yang
menggunakan senjata yang dapat mengeksploitasi lingkungan menyebabkan pemanasan global
(peningkatan suhu bumi).

Green theory memusatkan pada nature dan culture. Nature adalah lingkungan alam
sedangkan culture merupakan lingkungan manusia. Green theory mencakup kesepakatan
tradisonal keamanan, pengembangan, keadilan internasional dalam keamanan ekologis, dan
keadilan lingkungan. Degradasi lingkungan disebabkan oleh kegiatan manusia yang sewenang-
wenang. Untuk bertindak perlu dilakukannya win win solution bagi alam untuk mencapai tujuan
politis.