Anda di halaman 1dari 4

NAMA : DEWI FEBRIANI FAKULTAS : FISIP

NIM : 1042500858 KELOMPOK : HI

DOSEN : HIZKIA YOSIE P

TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL

Linguistic Turn: Constructivism and


Postmodernism

Sumber :

 An Introduction to International Relations .. Australian Perspectives - (eds)


Richard Devetak, Anthony Burke and Jim George.
 International Relations Theory for the Twenty-First Century .. An introduction -
(Eds.) Martin Griffiths.
 International Relations Theory .. A critical introduction, 3rd edition - Cynthia
Weber [2010].
KONSTRUKTIVISIME

Hubungan internasional merupakan disiplin abad kedua puluh dalam era


munculnya konflik-konflik antar negara dengan perbedaan ideologi sistemik. Lalu
konstruktivisme berkembang sebagai hal yang khas terhadap studi politik global.
Konstruktivisme diartikan dalam penekanan karakter sosial yang dibangun dari
kepentingan aktor dan identitas, dan terhadap kerentanan perubahan dalam politik
dunia. Konstruktivisme berkembang sebagai kerangka alternatif untuk berfikir dan
teorisasi hubungan internasional di dunia politik sebagai tanggapan terhadap
kekurangan yang dominan pada tahun 1970-an dan 1980-an, yaitu neorealisme dan
neoliberalisme. Dimana neoliberal dan neorealis telah menekankan kemampuan negara
dalam menganalisis gangguan internasional dalam kondisi anarkis.

Konstruktivis normatif dan perspektif tentang politik dunia yang tidak mungkin
muncul sebagai pesaing yang sepadan dengan teori hubungan internasional seperti
realisme, liberalisme, marxisme, dan teori kritis. Konstruktivisme berpendapat bahwa
identitas dan kepentingan dalam politik internasional tidak stabil. Kemungkinan bahwa
kepentingan negara-negara memutuskan apa yang anarki akan menjadi konfliktual atau

1
kerjasama. Konstruktivisme juga sangat berpengaruh karena mitosnya “anarki adalah
apa yang dibuat oleh negara itu”.

Konstruktivisme melihat dunia sebagai sebuah proyek yang sedang dikerjakan.


Konstruktivisme menjauhkan diri dari individualisme metodologis untuk politik yang
berbasis misalnya untuk pilihan rasional, birokrasi, politik, keputusan sosial-psikologis.
Konstruktivisme menetapkan bahwa negara memiliki peranan penting untuk
berinteraksi dalam urusan internasional, dan bagaimana negara tersebut bertindak atas
masalah seperti tantangan keamanan atau tujuan ekonomi.

Ketika datang ke masalah yang lebih tradisional, konstruktivis berhasil


menekankan peran gagasan dan norma sebagai konstitutif dan membatasi tindakan
negara yang sering menggunakan metode yang tidak konvensional.

Konstruktivis fokus pada idealis filosofis daripada materialis. Maksudnya bahwa


konstruktivis tidak menyangkal realitas fenomenal proses, tetapi menyarankan bahwa
seseorang hanya dapat memahami respon perilaku aktor melalui proses-proses
tersebut dan dipahami apakah itu menjadi sebuah ancaman stabilitas internasional,
meningkatkan atau bahkan memberi efek netral terhadap kepentingan pelaku tersebut.
Lalu konstruktivis mengandaikan suatu hubungan yang saling konstitutif antara agen
dan struktur. Dari wawasan sosiologi, konstruktivis berasumsi pada pertanyaan tentang
“siapa aku?” baik logis dan ontologis daripada pertanyaan “apa yang saya inginkan?”.
Dari hal tersebut konstruktivis menerangkan bahwa identitas agen diatur oleh normatif
dan ideologis struktur yang mereka tempati.

Konstruktivis mendukung sebuah postpositivistic pendekatan ilmu-ilmu sosial


dengan alasan bahwa karakter sosial dibangun dari agen kepentingan dan identitas
serta keanekaragaman struktur dimana kepentingan-kepentingan dan identitas tersebut
mungkin menghalangi pengembangan klaim tentang politik internasional. Namun, pada
pertengahan 1990-an, banyak konstruktivis yang dimoderasi bermusuhan terhadap
positivisme dengan mengejar kontingen daripada generalisasi universal tentang
fenomena internasional dalam proses penelitian empiris mereka.

2
POSTMODERN

postmodern terhadap hubungan internasional telah mencoba untuk membuka


berbagai kemungkinan untuk memikirkan kembali tidak hanya teori dan bukti, fakta dan
nilai, tetapi juga sifat dan dilema yang menghantui dunia politik.

Sifatnya tidak mudah, karena ketika menyatukan sebuah titik persoalan justru
timbul banyak perbedaan atau penolakan untuk menegakkan satu posisi sebagai yang
benar atau diinginkan. Visinya adalah pluralitas, upaya positif untuk mengamankan dan
menjelajahi dimensi-dimensi proses yang melegitimasi tanah sosial dan praktek politik.

Dua pendekatan luas, yakni postmodernitas (sejarah baru periode) dan


postmodernisme (cara baru pemahaman praktek-praktek modern tentang pengetahuan
dan politik).

Postmodernitas sebagai periode sejarah baru menjadi istilah yang membentang


dan sangat kontroversial. Gianni Vattimo, Jean-Francois Lyotard, Franc (1979), Jean
Baudrillard (1983), David Harvey (1989) dan Fredric Jameson (1984) memandang
postmodern baik sebagai perubahan sikap dan kondisi sejarah yang fundamental.
Mereka fokus pada transformasi budaya yang telah terjadi di dunia. Andreas Huyssen
(1984) berpendapat bahwa kita sedang menyaksikan perubahan nyata dalam
sensibilitas, praktek dan formasi yang membedakan asumsi postmodern, pengalaman
dan proposisi dari masa sebelumnya. Hal itu disebabkan kecendrungan globalisasi,
seperti perubahan cepat dan kecanggihan media massa, informasi dan alat komunikasi.

Modernitas dipahami sebagai periode sejarah yang mengikuti era. Sebelumnya


muncul di abad ke-15 membawa perubahan yang lebih radikal dan jauh daripada yang
telah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya. Mereka sadar akan industrialisasi,
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologiatau penyebaran senjata pemusnah massal.

Kunci utama postmodern terkait dengan proses globalisasi, penyebaran media


massa, komputer, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan masyarakat transparan dalam
hal ekstasi komunikasi, industri dan yang lebih utama pengetahuan produksi atau untuk

3
kemajuan teknologi baru dan demokrasi konsumen yang menyediakan kapitalisme
dengan inheren logika budaya baru.

Periode postmodern lebih optimis. Mereka menunjukkan bahwa peluang


peningkatan perdagangan membawa kesejahteraan bagi banyak bagian dunia.
Postmodernisme sebagai cara kritisdalam memahami modernitas bukan
mengidentifikasikan sebuah sejarah baru tetapi akan mencari bagaimana cara untuk
dapat memahami modernitas lebih inklusif dengan cara-cara dialogis.

Postmodern mengadakan hubungan selama pertengahan sampai akhir 1980-an


dalam konteks yang disebut dengan istilah ‘debat ketiga’. Perdebatan besar pertama
adalah selama periode perang, liberalisme dan realisme tidak setuju dengan cara
menentang momok Nazi Jerman. Perdebatan besar kedua diikuti oleh sengketa pasca
perang metodologi antara behaviouralisme dan tradisionalisme. Lalu, perdebatan besar
ketiga dilancarkan secara epistemologi bagaimana cara mengetahui realitas politik
dunia.

Pendekatan postmodern dalam karya Richard Devetak (2005) memberikan 4


ringkasan dengan mengidentifikasikan empat fitur umum. Pertama, hubungan antara
kekuasaan dan pengetahuan. Kedua, kerja secara metodologis pasca-positivis, seperti
dekonstruksi dan silsilah. Ketiga, keterlibatan kritis peran negara dan terkait batas,
kekerasan dan identitas. Keempat, hubungan fundamental antar politik dan etika.

Tujuan postmodern bukanlah untuk mencapai suatu kebenaran obyektif tentang


peristiwa politik atau fenomena tetapi untuk meningkatkan pemahaman tentang
bagaimana kekuasaan dan pengetahuan yang terjalin dalam representasi politik.

Tiga hal penting terkait politik dalam postmodern. Pertama, pendekatan


postmodern menekankan kepada ketertiban, keamanan, perdamaian, dan keadilan
tidak dapat dikenalkan secara universal. Kedua, mencari perdamaian, keamanan dan
keadilan harus memperhatikan kunci inklusi dan eksklusi. Ketiga, keamanan dan
keadilan hanya dapat dibentuk dan dipelihara melalui keterlibatan empati dengan
menghormati perbedaan, baik berhubungan dengan ras, etnis, agama, politik atau
identitas lainnya.