Anda di halaman 1dari 34

life love and spirit

Oktober 27, 2010

OTONOMI DAERAH SEBELUM AMANDEMEN UUD 1945


By igunn OTONOMI DAERAH SEBELUM AMANDEMEN UUD 1945 1. 1. Otonomi Daerah Menurut UUD 1945 dan UUDS 1950 Gagasan untuk menerapkan sistem otonomi daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dibicarakan oleh PPKI disetujui antara lain oleh Supomo bahwa pengaturan lebih lanjut mengenai desentralisasi akan di atur di dalam undang-undang. Gagasan-gagasan ini yang kemudian dituangkan di dalam Pasal 18 UUD 1945 yang memuat : 1. Seluruh daerah Indonesia akan dibagi atas daerah besar dan kecil yang akan diatur dengan undang-undang. 2. Pengaturan tersebut harus : 1. Memperhatikan dasar-dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara 2. Memperhatikan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa Dalam penjelasan Pasal 18 UUD 1945 ditambahkan empat hal pokok lagi, yaitu : 1. daerah besar dan kecil bukanlah A negara bagian karena daerah tersebut dibentuk dalam kerangkan negara kesatuan (eenheidsstaat). 2. Daerah besar dan kecil ada yang bersifat otonom dan ada yang bersifat administratif 3. Daerah yang mempunyai hak asal-usul yang bersifat istimewa adakah Swapraja dan desa atau nama lain semacam itu yang disebut Volksgemeenschappen. 4. Republik Indonesia akan menghormati kedudukan daerah yg mempunyai hak asal-usul yg bersifat istimewa itu. UUDS 1950 mengatur otonomi daerah di dalam Pasal 131, 132, dan 133. Pasal 131 memuat empat hal sebagai berikut : 1. Pembagian daerah Indonesia aras daerah besar dan kecil akan merupakan daerah-daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (otonom).

2. Bentuk susunan pemerintahan daerah otonom akan diatur dengan undang-undang. Bentuk dan susunan itu ditetapkan dengan memperhatikan dasar permusyawaratan dan dasar perwakilan. 3. Kepada daerah-daerah akan diberikan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur rumah tangganya. 4. Dengan undang-undang dapat diserahkan penyelenggaraan tugas-tugas kepada daerahdaerah yang tidak termasuk dalam urusan rumah tangganya Jika dibandingkan pengaturan otonomi di dalam UUD 1945 dan UUDS 1950, tampak bahwa pengaturan di dalam UUDS 1950 lebih jelas dan tegas daripada di dalam UUD 1945. UUD 1945 tidak jelas menegaskan bentuk susunan pemerintahan di daerah, demikian juga sifat otonom. Penjelasan UUD 1945 menjelaskan bahwa di daerah akan dikenal susunan pemerintahan administratif disamping yang bersifat otonom hal ini merupakan ketidakjelasan. Susunan pemerintahan administrartif merupakan ciri susunan pemerintahan menurut sendi konstentrasi dan dekonsentrasi, sedangkan peemrintahan yang bersifat otonom merupakan ciri susunan pemerintahan menurut sendi sentralisasi dan desentralisasi. 1. 1. Otonomi Daerah Menurut UU No.1 Tahun 1945 UU No.1 Tahun 1945 yang ditetapkan pada 23 November 1945, tiga bulan setelah proklamasi adalah undang-undang tentang Kedudukan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). KNID merupakan mata rantai dari Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Pada saat UUD 1945 disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945, PPKI juga menetapkan bahwa pekerjaan Presiden untuk sementara waktu dibantu oleh sebuah Komite Nasional, tanpa dibatasi pada tingkat nasional saja atau tingkat daerah. Dalam sidangnya tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan pembagian daerah Indonesia, bahwa Daerah Provinsi yang dikepalai oleh seorang Gubernur, dibagi dalam Karedidenan yang dikenpalai oleh seorang Residen. Gubernur dan Residen dibantu oleh Komite Nasional Daerah. Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945 menetapkan bahwa sebelum MPR, DPR, dan DPA dibentuk menurut UUD 1945, segala kekuasaannya dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional. Dalam sidangnya pada tanggal 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan pembagian daerah Indonesia, antara lain bahwa Daerah Provinsi yang dikepalai oleh seorang Gubernur, dibagi dalam keresidenan yang dikepalai oleh seorang Residen. Tentang KNIP diatur pula mengenai KNID, antara lain bahwa KNID dibentuk di seluruh Indonesia dengan pusatnya di Jakarta. Usaha Komite Nasional adalah membantu pemimpin dalam membantu Pemerintah Daerah untuk kesejahteraan umum. Adapun beberapa alasan yang menjadi latar belakang pembentukan UU No.1 Tahun 1945 adalah : 1. 2. 3. 4. Secara umum untuk menertibkan KNID Untuk memberikan jalan kepada Pemerintah Pusat mengawasi KNID Untuk menjamin keserasian (keharmonisan) kegiatan KNID dengan Pemerintah Pusat. Untuk mengurangi unsur-unsur kekuatan KNID yang menentang Pemerintah Pusat

1.1.Tata Susunan Teritorial Pemerintah Daerah Pada 19 Agustus 1945, PPKI menetapkan pembagian wilayah pemerintahan Republik Indonesia di daerah dalam susunan teritorial : Provinsi, Keresidenan, Kooti (Swapraja) dan Kota (Gemeente). Pembagian daerah-daerah tersebut belum dilakukan dalam rangka desentralisasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 UUD 1945. Pemerintah daerah dibentuk dengan tujuan mengisi kekosongan pemerintahan yang ditinggalkan pendudukan tentara Jepang, artinya pemerintahan tentara Jepang sudah tidak dipatuhi lagi oleh Rakyat Indonesia yang merdeka dan berdaulat, selain itu juga bertujuan untuk sesegera mungkin melengkapi susunan pemerintahan RI sampai ke daerah-daerah, sehingga kehadiran Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat menjadi tampak nyata sampai ke daerah-daerah. Kenyataannya pemerintahan tingkat daerah tidak terbatas pada Provinsi, Karesidenan, Kota dan Kooti (Swapraja) saja yang ada, melainkan juga Kawedanaan, Kecamatan, dan Desa. Susunan baru ini diatur kembali di dalam UU No.1 Tahun 1945. Akibat perubahan kedudukan KNID, maka dihidupkan kembali pemerintahan daerah otonom yang terhapus selama pendudukan tentara Jepang. Provinsi, Kawedanaan, dan Kecamatan tidak dilengkapi dengan KNID, karena itu tetap semata-mata sebagai unsur dekonsetrasi yang menjalankan pemerintahan umum atau kepamongprajaan di daerah, sebagai wakil pemerintah pusat atau aparat pemerintah daerah atasannya. 1.2.Tata Susunan Kekuasaan Pemerintahan di Daerah Ada tiga alat kelengkapan pemerintahan daerah yang dapat disimak dari UU No.1 Tahun 1945, yaitu : 1. KNID sebagai DPRDS (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara) yang bersamasama di bawah pimpinan Kepala Daerah menjalankan funsgi legislatif. 2. Badan (maksimal terdiri atas 5 orang) yang dipilih dari dan oleh KNID sebagai badan eksekutif bersama-sama di bawah pimpinan Kepala Daerah menjalankan fungsi pemerintahan sehari-hari termasuk dalam bidang otonomi dan tugas pembantuan 1. Kepala Daerah yang diangkat oleh Pemerintah Pusat menjalankan urusan Pemerintah Pusat di daerah, kecuali urusan-urusan yang dijalankan oleh Kantorkantor Departemen di daerah. Akibat dari dualisme kekuasaan pemerintahan daerah tersebut, maka UU No.1 Tahun 1945 diganti dengan UU No.22 Tahun 1948. Otonomi Daerah Menurut UU No. 22 Tahun 1948 Sejak semula Badan pekerja KNIP dan Pemerintah Pusat menyadari bahwa UU No.1 tahun 1945 belum memadai sebagai dasar pengaturan dan pelaksanaan pemerintahan. Oleh karena itu hasrat untuk menetapkan undang-undang baru guna memperbaiki kekurangan-kekurangan itu kemudian dituangkan dalam UU No.22 tahun 1948. Hal ini dapat dibaca pada penjelasan umum UU N0.22 Tahun 1948 sebagai berikut: Baik pemerintah, maupun badan pekerja komite nasional indonesia pusat merasa akan pentingnya untuk dengan segera memperbaiki pemerintahan daerah yang

dapat memenuhi harapan rakyat, ialah Pemerintahan Daerah yang kolegial berdasarkan kedaulatan rakyat (demokrasi) dengan ditentukan batas-batas kekuasaanya Hasrat Pemberian Otonomi yang luas Dasar kebijakan baru yang diatur di dalam UU No.22 Tahun 1948 adalah hasrat Pemerintah pusat untuk memberikan otonomi yang luas kepada daerah. Undang-undang ini tidak menggunakan istilah Luas atau Seluas-luasnya melainkan istilah Sebanyak-banyaknya. Adapun tiga cara yang dapat digunakan untuk mewujudkan Otonomi daerah yang sebanyakbanyaknya berdasarkan UU No.22 Tahun1948 adalah: 1. Melalui Pasal 23 ayat (2) yang menentukan bahwa urusan rumah tangga ditetapkan dalam undang-undang pembentukan bagi tiap-tiap daerah. Ketentuan ini berartti UU No.22 Tahun 1948 mengatur segala wewenang otonomi daerah berdasarkan prinsip zakelik taakafbakening. 2. Melalui Pasal 28 yang memberikan peluang kepada daerah untuk mengambil inisiatif sendiri dalam mengatur dan mengurus urusan Pemerintah sebagai urusan rumah tangga daerah, dengan ketentuan: (a) tidak mengatur dan mengurus segala sesuatu yang telah diatur dalam UU, Peraturan Pemerintah (PP), atau Peraturan Daerah (Perda) yang lebih tinggi tingkatannya; (b) tidak mengatur dan mengurus hal-hal yang menjadi urusan rumah tangga daerah yang lebih rendah tingkatannya; (c) tidak bertentangan dengan UU, PP, Perda yang lebih tingkatannya; (d) hak mengatur dan mengurus tersebut menjadi tidak berlaku jika dikemudian hari ha;-hal tersebut diatur dan diurus dengan peraturan yang lebih tinggi tingkatannya. 3. Melalui tugas pembantuan (medebewind) yang meskipun tidak sepenuh prinsip otonomi yang luas, tetapi di dalam tugas pembantuan terdapat otonomi untuk menerjemahkan kebijakan Pusat/Pemda yang lebih tinggi tingkatannya di dalam daerah otonom yang bersangkutan. Berdasarkan penjelasan UU No.22 Tahun 1948, tidak dibedakan secara tegas antara otonomi dan tugas pembantuan, bahkan tugas pembantuan dipandang sebagai dati otonomi. Titik Berat Otonomi Suatu daerah otonom dapat terselenggara dengan baik, membutuhkan persyaratan-persyaratan tertentu antara lain: 1. Sumber daya alam seperti luas wilayah yang memadai untuk mendukung berbagai kegiatan perekonomian dan kegiatan lain yang dapat menunjang pertumbuhan daerah dan masyarakatnya. 2. Sumber daya manusia, baik kuantitas maupun kualitas yang mampu berpartisipasi untuk menyelenggarakan pemerintahan desa yang berkedaulatan rakyat dan modern. 3. Sumber keuangan untuk menunjang pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan. Susunan Pemerintahan Daerah

Hal lain yang menunjukan perbedaan antara UU No.22 Tahun 1948 dengan UU No.1 Tahun 1945 adalah mengenai susunan pemerintahan daerah. UU No.1 Tahun1945 membedakan dua macam satuan pemerintahan tingkat daerah, yaitu satuan pemerintahan otonom dan satuan pemerintahan administratif. Sementara UU No.22 Tahun 1948 hanya mengatur satu macam satuan pemerintahan tingkat daerah, yaitu otonom. Otonomi Daerah Menurut UU NIT No. 44 Tahun 1950 UU NIT (Undang-undang Negara Indonesia Timur) No.44 Tahun 1950 tentang pemerintah daerah timur ditetapkan pada 15 Mei 1950, yaitu pada masa susunan Negara Republik Indonesia sebagai negara federal dibawah konstitusi RIS sejak 27 Desember 1949. Sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Belanda dan Indonesia di Den Haag tanggal 23 Agustus 2 November 1949, Kerajaan Belanda terpaksa memulihkan kedaulatan atas wilayah Indonesia kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada 14 Desember 1949 wakil Pemerintah Republik Indonesia dan Wakil Pemerintah Daerah Bagian dalam Bijeenkomst Federal Overleg menandatangani persetujuan Undang-undang Dasar Sementara, yang kemudian dinamakan Konstitusi Republik Indonesia Serikat, mulai berlaku pada 27 Desember 1949. Dengan berlakunya konstitusi RIS maka Negara Kesatuan Republik Indonesia berubah menjadi Negara Republik Indonesia Serikat, yang terdiri atas 16 negara bagian yang disebut Daerah Bagian. Semua Daerah Bagian dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang disebut Negara dan kelompok yang disebut satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri. Berdasarkan Pasal 127 Konstitusi RIS, pembuatab Undang-undang diserahkan kepada: 1. Pemerintaha bersama-sama dengan DPR dan Senat, dalam hal peraturan-peraturan mengenai satu atau lebih daerah-daerah bagian, atau mengenai hubungan Republik Indonesia Serikat dan daerah-daerah yang tersebut pada Pasal . 2. Pemerintah bersama-sama DPR dalam seluruh lapangan pengaturan selebihnya. UU NIT (Undang-undang Negara Indonesia Timur) No.44 Tahun 1950 tentang Pemerintah Daerah Indonesia Timur ditetapkan pada 15 Mei 1950. Secara sengaja UU NIT No. 44 Tahun 1950 ditetapkan dalam rangka menyongsong pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan maksud menyesuaikan susunan ketatatnegaraan pemerintahan daerah dalam lingkungan wilayah Indonesia Timur dengan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan latar belakang tujuan tersebut, pwmbwntukN UU NIT NO. 44 Tahun 1950 dengan segala materi muatannya hanya mengambil oper dari UU. No 22 tahun 1948 dengan segala penyesuainnya. Praktis bahwa isi UU NIT tersebut sama dengan UU No. 22 Tahun 1948, kecuali hal-hal seperti: 1. susunan dan penamaan daerah. UU NIT No. 44 Tahun 1950 memungkinkan susunan terdiri atas 2 atau 3 tingkatan (tidak harus 3 tingkatan) dengan nama-nama: Daerah, Daerah Bagian, dan Daerah Anak Bagian. 2. Sebutan resmi untuk DPD adalah Dewan Pemerintahan dan keanggotaanya diambil dari bukan anggota DPRD, demi memperoleh tenaga-tenaga ahli.

3. Jumlah anggota DPRD tidak semata-mata berdasarkan jumlah penduduk (UU No. 22 Tahun 1948), tetapi juga mempertimbangkan luasnya otonomi kekuatan keuangan, dan suasana politik. Masa jabatan anggota DPRD 3 Tahun (UU No. 22 Tahun 1948 menetapkan 5 Tahun). Memperhatikan prinsip-prinsp yang terkandung di dalam UU No. 22 Tahun 1948, yang diambil oper ke dalam UU NIT No. 44 Tahun 1950, beberapa prinsip dapat dicatat sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. upaya menghilangkan sifat dualistik di dalam UU No. 1 Tahun 1945 hanya ada satu pemerintahan di daerah, yaitu daerah otonom titik berat otonomi pada desa keinginan menghaouskan lembaga dan fungsi pamongpraja penyerahan urusan pemerintahan sebanyak-banyaknya kepada daerah

Otonomi Daerah Menurut UU No. 1 Tahun 1957 Sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari pasal 131-133 UUDS 1950, pada hakikatnya UU No. 1 Tahun 1957 memuat hal pokok, yaitu: 1. di daerah-daerah (besar dan kecil) hanya akan ada satu bentuk susunan pemerintahan, yaitu yang berhak mengatur dan megurus rumah tangga daerah sendiri sebagai daerah otonom 2. kepada daerah-daerah akan diberikan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. UUDS 1950 sebagamana juga UUD 1945, telah meletakan suatu prinp bahwa Pemerintah Daerah harus disusun dengan memperhatikan dasar permusyawaratan dan perwakilan dalam sistem pemerintahan negara. Pemerintah Daerah harus harus disusun dengan memperhatikan demokrasi, artinya membuka kemungkinan seluas mungkin bagi partisipasi rakyat daerah dalam membangun daerahnya. Mengenai pemberian otonomi seluas-luasnya adalah tetap dalam kerangka kesatuan republik Indonesia, maka walaupun seluas-luasnya tetap dalam pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh pusat demi keutuhan Negara Kesatuan. Dari sudut pandang hukum, pembatasan otonomi seluas-luasnya akan menjelma dalam rumusan peraturab yang: 1. Memberikan wewenang kepada Pusat untuk setiao saat menentukan urusan-urusan Pemerintah yang menjadi wewenangnya. 2. Memberikan wewenang kepada Pusat untuk menarik kembali atau mengalihkan urusan rumah tangga daerah menjadi urusan Pusat. 3. Memberikan wewenang untuk menolak hasrat suatu Pemerintah Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus urusan Pemerintahan tertentu 4. Memberikan wewenang kepada pusat untuk melakukan pengawasan terhadap jalnnya pemerintahan daerah baik preventif, represif, maupun dalam bentuk-bentuk pengawasan lainnya.

Keempat hal itu adalah pembatasan eksterb yang datang dari pemerinath pusat, sedangkan pembatasan intern yang datang dari Pemerintah Otonom itu sendiri (self restraint) sekurangkurangnya ada dua macam, yaitu: 1. Kemampuan ekonomi daerah, khusunya keuangan daerah. 2. Kemampuan sumber daya manusia (tenaga) baik Pemerintah Daerah maupun rakyat di daerah yang bersangkutan. Semua pembatasan otonomi seluas-luasnya itu tentu saja mempunyai nilai spiritual dibaliknya sebagai makna pemberian otonomi seluas-luasnya. Sekurang-kurangnya ada tiga nilai spiritual (makna) yang terkandung di balik pemberian otonomi seluas-luasnya adalah: 1. Dari aspek historis pemerintahan Indonesia, dasar dan kebijakan pemberian otonomi seluas-luasnya kepada daerah dipandang sebagai reaksi terhadap otonomi yang sangat sempit pada masa penjajahan. 2. Dari aspek paham kerakyatan, otonomi seluas-luasnya adalah cara untuk memberi kesempatan seluang mungkin bagi rakyat setampat mengatur dan mengurus kepentingankepentingannya, yang sudah dapat diduga bahwa kepentingan yang bercorak lokal cukup luas, sehingga harus diberi otonomi yang luas, atau bahkan seluas-luasnya. 3. Dari aspek kebhinekaan, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia bersifat pluralistik dalam berbagai segi (keyakinan, budaya, kemasyarakatan) yang menampilkan perbedaan kepentingan, kebutuhan, dan cara pemuasannya. Perbedaan-perbedaan itu hanya dapat dilayani melalui otonomi yang luas atau seluas-luasnya. Sistem Rumah Tangga Daerah UU No. 1 Tahun 1945 menggunakan sistem rumah tangga formal, UU No. 22 Tahun 1948 menggunakan sistem rumah tangga materiil, maka UU No. 1 Tahun 1957 menggunakan sistem rumah tangga nyata. Sistem ini dipandang lebih sesuai untuk mewujudan ketentua-ketentuan UUDS 1950. Dalam hal ini pembentukan Undang-undang meberikan beberapa pertimbangan sebagai berikut: 1. Sebagai perbaikan terhadap sistem rumah tangga yang pernah dipergunakan oleh Undang-undang yang lalu. 2. Sistem rumah tangga nyata meberikan peluang pelaksanaan otonomi luas untuk Negara Indonesia yang majemuk karena isi otonomi daerah didasarkan pad kenyataan yang ada. 3. Sistem rumah tangga nyata mengandung di dalamnya kelenturan terkendali. Daerahdaerah dapat mengembangkan otonomi seluas-luasnya tanpa mengurangi pengendalian baik dalam rangka bimbingan maupun untuk menjaga keutuhan Negara kesatuan. Otonomi Daerah Menurut Penpres No. 6 Tahun 1959 dan Penpres No. 5 Tahun 1960 Akibat dekrit Presiden 5 Juli 1959 untuk kembali ke UUD 1945, maka diadakan pula penyesuain susunan pemerintahan daerah dengan susunan menrut UUD 1945. Dalam rangka itu, sekaligus dilakukan pula penyempurnaan terhadap UU No. 1 Tahun 1957, melaluia Penetapan Presiden

No. 6 Tahun 1959 tamggal 7 November 1959 tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan Penpres tersebut, penyempurnaan dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua hal, yaitu: 1. Menghilangkan dualisme pemerintahan di daerah antara aparatur dan fungsi otonomi serta aparatur dan fungsi kepamongprajaan. 2. Memperbesar pengendalian Pusat terhadap Daerah Mengenai pengendalian, atau campur tangan pusat terhadap Daerah, dilakukan melalui hal-hal berikut: 1. Melakukan pengawasan atas jalannya Pemerintahan Daerah. 2. Kepala Daerah sebagai alat pusat diberi wewenang untuk menangguhkan keputusan DPRD jika dipandang bertentangan dengan GBHN, kepentingan umum, dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatbya. 3. Kepala daerah diangkat oleh Presiden untuk Daerah Tingkat I dan Menteri Tingkat II. Presiden atau Menteri Dalam Negeri atas persetujuan Presiden dapat juga mengangkat Kepala Daerah diluar calon-calon yang diajukan oleh DPRD. Otonomi Daerah Menurut UU No. 18 Tahun 1965 UU No. 18 Tahun 1965 hampir seluruhnya meneruskan ketentuan-ketentuan yang terdapat didalam Penpres No. ^ Tahun 1959 dan Penpres No. 5 Tahun 1960. Kepala Daerah menurut UU No. 18 Tahun 1965 tidak lagi karena jabatannya adalah ketua DPRD. Sebgai gantinya ditentukan bahwa Pimpinan DPRD dalam menjalankan tugas mempertanggung jawabkannya kepada Kepala Negara (Pasal 8). Kepala Daerah dalam hal ini adalah sebagai alat pusat. Dengan demikian Pusat sepenuhnya mengendalikan Daerah. Selain itu, terdapat juga persamaan antara UU No. 1 Tahun 1957 dengan UU No. 18 Tahun 1965, antara lain: 1. Pemberian otonomi seluas-luasnya kepada Daerah 2. Sistem rumah tangga nyata. UU No. 18 Tahun 1965 tetap menghendaki otonomi Daerah dilaksankan dengan sistem rumah tangga nyata, oleh karena itu hampir seluruh penjelasan UU No. 1 Tahun1957 tentang otonomi nyata dipindahkan menjadi penjelasan UU No. 18 Tahun 1965. 3. Hanya ada satu macam susunan pemerintahan di daerah, yaitu daerah otonom. Bahkan ditegaskan pula bahwa sebutan provinsi, kabupaten, kecamatan, kotapraja, kotaraja, kotamdya bukan merupakan perwujudan suatu wilayah administratif. Ini berart UU No. 18 Tahun 1965 hanya menghendaki satu susunan pemerintah daerah, yaitu hanya daerah otonom, tidak ada wilayah adminitratif, Otonomi Daerah Menuru UU No. 5 Tahun 1974 Gagasan Melaksankan UUD 1945 Secara Murni dan Konsekuen

UU No. 5 Tahun 1974 adalah undang-undang tentang pemerintahan Daerah yang pertama lahir setelah ada konsensus nasional untuk melaksanakan UUD secara murni dan konsekuen. Pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen yang bertalian dengan Pemerintahan daerah adalah pelaksanaan Pasal 18 Uud 1945. Dari rumusan Pasal 18 UUD 1945 mengandung tiga prinsip dasar, yaitu: 1. Prinsip desentralisai teritorial, yaitu wilayah Negara Republik Indonesia akan dibagi-bagi dalam satuan-satuan pemerintahan yang tersusun dalam daerah besar dan kecil (grondgebied). Dengan demikian UUD 1945 tidak mengatur mengenai desentralisai fungsional. 2. Perintah kepada pembentuk undang-undang (Presiden dan DPR) untuk mengatur desentralisasi teritorial tersebut dalam bentuk undang-undang (undang-undang organik) 3. Perintah kepad pembentuk undang-undang dalam menyusun undang-undang tentang desentralisasi teritorial tersebut, harus: 1. memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara 2. memandang dan mengingati hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa. Ruang Lingkup UU No. 5 Tahun 1974 Secara resmi UU No. 5 Tahun 1974 bernama Undang-undang tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Penambahan kata penghubung di pada nama undang-undang ini mempunyai makna terhadap ruang lingkupnya, yaitu mencakup semua Pemerintahan di Daerah. Ada dua Pemerintahan di daerah, yaitu Pemerintahan Daerah itu sendiri dan Pemerintahan Pusat yang ada di daerah yang bersangkutan. Pemerintahan dilaksanakan menurut asa desentralisasi yang disebut daerah otonom, sedangkan pemerintahan Pusat di Daerah dilaksankan menurut asa dekonsentrasi yang disebut Wilayah Administratif. Pemerintahan wilayah administratif, tidak mempunyai dasar konstitusional, melainkan dasar extra-konstitusional. Sistem Rumah Tangga Daerah Berdasarkan penjelasan umum butir 1.e UU No. 5 Tahun 1974, sistem rumah tangga daerah yang digunakan adalah otonomi yang nyata tentu sama saja dengan sistem otonomi riil yaang dipergunakan pada UU No. 1 Tahun 1957 dan UU No. 18 Tahun 1965. Ada pertimbangan utama utama untuk meninggalkan prinsip otonomi seluas-luasnya, yaitu: 1. pertimbangan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. pertimbangan otonomi seluas-luasnya tidak sesuai dengan tujuan pemberian otonomi dan prinsip-prinsip yang digariskan di dalam GBHN. Otonomi daerah menurut UU No. 22 Tahun 1999 Pengaruh Perkembangan Keadaan Globalisasi

UU No. 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah yang hanya mengatur mengenai Daerah Otonom dan Wilayah Administratif dipandang tidak dapat menampung perkembangan keadaan. Oleh karena itu, di dalam menghapadi perkembangan keadaan, baik di dalam maupun diluar negeri serta tantangan persaingan Global yang semakin ketat, dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata, danbertanggung jawab kepada Daerah. Ruang Lingkup UU No. 22 Tahun 1999 Di dalam penjelsan umum 1.c UU No. 22 Tahun1999 diterangkan bahwa Undang-undang ini disebut Udang-undang tentang Pemerintahan Daerah karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan atas Desentralisai. Penjelasan ini berarti bahwa pembagian kewenangan secara vertikal yang bertalian dengan sendi negara sentralisasi dan desentralisasi, khususnya desentralisasi. Sistem Rumah Tangga Daerah Pada daerah kabupaten dan daerah kota didasarkan hanya pada asa desentralisasi, dalam wujud otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab: 1. Otonomi yang luas maksudnya adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan, kecuali kewenangan di bidang politik. 2. 2. Otonomi yang nyata maksudnya adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan dibidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh, hidup, dan berkembang di Daerah. 3. 3. Otonomi yang bertanggung jawab maksudnya adalah perwujudan pertanggung jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan wewenang kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban.

Sejarah Undang-undang Pemerintahan Daerah

Ditulis oleh Remaja

BAB I

PENDAHULUAN

1. Permasalahan

Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945, Pemerintah Daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Disamping itu melalui otonomi luas, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintah Daerah dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, perlu memperhatikan hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah. Aspek hubungan wewenang memperhatikan kekhususan dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aspek hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya

dilaksanakan secara adil dan selaras. Disamping itu, perlu diperhatikan pula peluang dan tantangan dalam persaingan global dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar mampu menjalankan perannya tersebut, daerah diberikan kewenangan yang seluas-luasnya disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyenggaraan pemerintahan negara.

Namun

seiring

dengan

adanya

perubahan

undang-undang

mengenai

pemerintahan daerah maka kewenangan penyelenggaraan daerah juga berbeda dari masing-masing perubahan tersebut. Dari semenjak kemerdekaan sampai dengan sekarang sudah terjadi sembilan kali (9x) perubahan perundang-undangan yang mengatur tentang pemerintahan daerah. Perubahan tersebut terjadi karena adanya berbagai perubahan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang disesuaikan dengan perubahan zaman.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk membuat makalah dengan judul Pengaturan Kewenangan Pemerintah Daerah sebagai Akibat Perubahan Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang penulis angkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1.2.1 Bagaimana sejarah perubahan Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah dari tahun 1957 sampai dengan sekarang ?

1.2.2. Bagaimana pengaturan Kewenangan Pemerintah Daerah terkait dengan perubahan undang-undang tentang Pemerintahan Daerah ?

2. Tujuan Penulisan

Tujuan Umum.

Secara umum, penulisan ini bertujuan untuk mengembangkan ilmu hukum, utamanya sejarah hukum mengenai perubahan perundang-undangan di Indonesia.

Tujuan Khusus

Tujuan khusus ini dibagi menjadi dua, yaitu :

2.2.1. Untuk mengetahui sejarah perubahan Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah dari tahun 1957 sampai dengan sekarang.

2.2.2. Untuk mengetahui pengaturan Kewenangan Pemerintah Daerah terkait dengan perubahan undang-undang tentang Pemerintahan Daerah.

3. Metode Penelitian

Metode adalah Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah sistematis [1]. Dalam Penelitian ini metode yang digunakan adalah sebagai berikut :

Jenis Penelitian

Penulis menggunakan Metode Penelitian Hukum Normatif, dimana penulis ingin menganalisis permasalahan berdasarkan urutan perundang-undangan yang pernah dan sedang berlaku.

Metode Pendekatan

Pendekatan yang penulis gunakan adalah pendekatan perundang-undangan (Statute Approach) dan Pendekatan Sejarah Hukum (Historical Approach). Pendekatan perundang-undangan digunakan karena yang akan diteliti adalah berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral dalam penelitian ini[2]. Pendekatan Sejarah Hukum digunakan karena setiap aturan perundang-undangan pasti memiliki latar belakang sejarah yang berbeda[3]

Sumber Bahan Hukum

Sumber Bahan Hukum diperoleh dari :

Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat[4]. Dalam makalah ini yang digunakan adalah undang-undang tentang Pemerintahan Daerah baik yang pernah berlaku maupun yang sedang berlaku.

Bahan Hukum Skunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer[5]. Dalam makalah ini yang digunakan adalah buku-buku dan pendapat pakar hukum yang ada kaitannya dengan permasalahan yang dibahas.

BAB II

PEMBAHASAN

1.1. Sejarah perubahan Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah dari tahun 1957 sampai dengan sekarang.

Kalau kita ingin tahu tentang baik buruknya dan sebab musabab diatur sedemikian dalam suatu peraturan perundang-undangan maka salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah melihat sejarah perubahan dari berlakunya suatu produk perundang-undangan. Dalam hal ini, peran sejarah sangat penting sebagaimana diutarakan oleh sejarawan Polandia B. Miskiewicz, dikatakan bahwa :

Tugas sejarah adalah memeriksa dengan teliti kejadian-kejadian historis, artinya menelusuri otentisitas dan kesungguhan pengetahuan akan fakta-fakta, maupun hubungan satu dengan yang lain di dalam proses sejarah tersebut dan dari sini menurunkan dalil-dalil, hukum-hukum dan kecenderungan-kecenderungan masyarakat. Fakta-fakta tersebut ditentukan berdasarkan bahan-bahan yang digali dari sumber-sumber dan dari sini melalui metode-metode penelitian yang terukur membaca kehidupan individuil dan kemasyarakatan manusia [6]. Dengan melihat sejarah perubahan perundang-undangan yang ada kita dapat mengetahui maksud yang diinginkan dari perubahan tersebut, sehingga dengan demikian kita mudah memahami norma-norma yang ada dalam suatu produk perundang-undangan.

Dengan keterbatasan yang dimiliki penulis, dalam makalah ini penulis ingin menguraikan tentang sejarah perubahan undang-undang tentang Pemerintahan Daerah mulai dari tahun 1957 sampai dengan undang-undang tentang Pemerintahan Daerah yang berlaku sekarang di Indonesia.

a. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957

Ada 4 (empat) persoalan besar yang mau diselesaikan dalam undang-undang ini yang sebelumnya belum dapat diselesaikan, yaitu:

1. Bagaimana seharusnya isi otonomi itu;

2. Berapa selayaknya jumlah tingkat-tingkat yang dapat dibentuk dalam sistem otonomi itu;

3. Bagaimana seharusnya kedudukan Kepala Daerah berhadapan dengan otonomi itu; dan

4. Bagaimana dan apa isi pengawasan yang tak boleh tidak harus dilakukan terhadap daerah-daerah otonomi oleh penguasa pusat.

Secara umum undang-undang ini bermaksud untuk mengatur sebaik-baiknya soal-soal yang semata-mata terletak dalam lapangan otonomi dan medebewind diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia.

Disamping itu, undang-undang ini juga merancang tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. Dimana Kepala Daerah haruslah seorang yang dekat kepada dan dikenal oleh masyarakat daerah yang bersangkutan, oleh karena itu Kepala Daerah haruslah seorang yang mendapat kepercayaan dari rakyat tersebut dan diserahi kekuasaan atas kepercayaan rakyat itu. Akan tetapi meskipun pada azasnya seorang Kepala Daerah harus dipilih secara langsung, namun sementara waktu dipandang perlu memperhatikan pula keadaan yang nyata dan perkembangan masyarakat di daerah-

daerah yang kenyataannya belum bisa sampai ke taraf itu, yang dapat menjamin berlangsungnya pemilihan dengan diperolehnya hasil dari pemilihan itu yang sebaikbaiknya. Untuk sementara waktu Kepala Daerah tetap dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan mmperhatikan syarat-syarat kecakapan dan pengetahuan yang diperlukan bagi jabatan tersebut.

b. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965

Perubahan Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 ke Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 dilatarbelakangi karena perkembangan ketatanegaraan setelah Dekrit Presiden Republik Indonesia tanggal 5 Juli 1959 yang menyatakan berlakukanya kembali Undang-undang Dasar 1945, maka undang-undang ini disusun untuk malaksanakan Pasal 18 UUD dengan berpedoman kepada Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai Garis-garis Besar Haluan Negara yang dipidatokan Presiden pada tanggal 17Agustus 1959 dan telah diperkuat oleh Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) Nomor 1/MPRS/1960 bersama dengan segala pedoman pelaksanaannya.

Sesuai dengan Ketetapan MPRS Nomor: II/MPRS/1960 dan Keputusan Presiden Nomor: 514 tahun 1961, maka undang-undang ini mencakup segala pokokpokok (unsur-unsur) yang progresif dari Undang-undang No. 22 Tahun 1948, Undangundang No. 1 Tahun 1957, Penetapan Presiden No. 6 Tahun 1959 (disempurnakan), Penetapan Presiden No. 2 tahun 1960 dan Penetapan Presiden No. 5 Tahun 1960 (disempurnakan) juncto Penetapan Presiden No. 7 Tahn 1965 dengan maksud dan

tujuan berdasarkan gagasan Demokrasi Terpimpin dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dengan

berlakunya

satu

saja

undang-undang

tentang

Pokok-pokok

Pemerintahan Daerah ini, maka dapatlah diakhiri kesimpangsiuran dibidang hukum yang menjadi landasan bagi pembentukan dan penyusunan Pemerintahan Daerah dan dapat diakhiri pula segala kelemahan demokrasi liberal, sehingga akan terwujudlah pemerintahan daerah yang memenuhi sifat-sifat dan syarat-syarat yang dikehendaki oleh Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 yaitu stabil dan berkewibawaan yang mencerminkan kehendak rakyat, revolusioner dan gotong royong, serta terjaminnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang-undang ini berkehendak membagi habis seluruh Negara Republik Indonesia dalam tiga tingkatan daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri (Otonomi).

c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974

Perubahan ini disebabkan karena Undang-undang sebelumnya sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan pada waktu itu, dimana sesuai dengan sifat Negara Kesatuan Republik Indonesia maka kedudukan Pemerintah Daerah sejauh mungkin diseragamkan. Disamping itu untuk menjamin terselenggaranya tertib pemerintahan, wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu dibagi atas daerah besar dan daerah kecil, baik yang bersifat otonom maupun yang bersifat administratif.

d. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999

Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi, karena Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas Desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Dengan kata lain perubahan Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah dari Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 ke Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah perubahan dari penyerahan urusan ke pengakuan kewenangan kepada daerah untuk mengatur dan menguruh sendiri rumah tangganya.

Hal-hal mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, meningkatkan peran serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi DPRD. Oleh karena itu, undang-undang ini menempatkan otonomi daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, yang dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya daerah Tingkat II. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. Propinsi daaerah Tingkat I menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1974, dalam undang-undang ini dijadikan daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi, yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintahan atasan dari daerah

Kabupaten dan Daerah Kota. Dengan demikian, Daerah Otonomi Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hierarki.

Prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam undang-undang ini adalah sebagai berikut:

1. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi, keadilan, pemerataan, serta potensi dan keanekaragaman daerah;

2. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata, dan bertanggungjawab;

3. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota, sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas;

4. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah;

5. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom, dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi wilayah Administrasi;

6. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi Badan Legislatif Daerah, baik sebagai fungsi legislasi, fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

7. Pelaksanaan Asas Dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Propinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah; dan

8. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari pemerintah kepada daerah, tetapi juga dari pemerintah dan Daerah kepada Desa yang disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan.

e. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004

Perubahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 ke Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, disamping karena adanya perubahan Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, juga memperhatikan beberapa Ketetapan MPR dan Keputusan MPR, seperti; Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah; dan Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2002 tentang Rekomendasi Atas Laporan Pelaksanaan Putusan MPR RI oleh Presiden, DPA, DPR, BPK, dan MA pada sidang tahunan MPR Tahun 2002 dan Keputusan MPR Nomor 5/MPR/2003 tentang Penugasan kepada MPR-RI untuk menyampaikan saran atas laporan pelaksanaan keputusan MPR-RI oleh Presiden, DPR,BPK dan MA pada Sidang Tahunan MPR-RI Tahun 2003.

Perubahan ini juga memperhatikan perubahan Undang-undang terkait dibidang politik, diantaranya ; Undang-undang Nomor 12 tahun 2003 tentang Pemilu, Undangundang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR,DPR DPD dan DPRD, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, dan lain-lain

1.2. Pengaturan kewenangan Pemerintah Daerah terkait dengan perubahan undang-undang tentang Pemerintahan Daerah.

Terkait dengan adanya perubahan undang-undang maka kewenangan Pemerintah Daerah juga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan iklim politik yang ada. Berikut ini akan penulis uraikan sejarah kewenangan Pemerintah Daerah yang diatur pada masing-masing undang-undang yang pernah dan sedang berlaku tentang Pemerintahan Daerah. Kewenangan Pemerintah Daerah berdasarkan :

1.2.1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah.

Yang dianggap sebagai Pemerintah Daerah dalam undang-undang ini adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Dewan Pemerintah Daerah (Pasal 5).

Kewenangan DPRD dinyatakan dalam Pasal 31 ayat (1), 35, dan 36 undangundang ini, diantaranya :

a. Mengatur dan mengurus segala urusan rumah tangga daerahnya kecuali urusan yang oleh undang-undang ini diserahkan kepada penguasa lain.

b. Dapat membela kepentingan daerah dan penduduknya ke hadapan Pemerintah dan Dewan Perwakilan rakyat.

c. Untuk kepentingan daerah atau untuk kepentingan pekerjaan tersebut dapat membuat peraturan-peraturan yang disebut dengan peraturan daerah.

Kewenangan Dewan Pemerintah Daerah dinyatakan dalam Pasal 44, 45, dan 49 undang-undang ini, diantaranya:

a. Menjalankan keputusan-keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

b. Menetapkan peraturan-peraturan penyelenggaraan dari Peraturan Daerah.

c. Mewakili daerahnya di dalam dan diluar pengadilan. Dalam hal-hal yang dipandang perlu Dewan Pemerintah Daerah dapat menunjuk seorang kuasa untuk menggantinya.

1.2.2. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah

Pemerintah Daerah terdiri dari Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Daerah (Pasal 5). Kewenangan Pemerintah Daerah dinyatakan dalam Pasal 39 ayat (1), dan 40 ayat (1), diantaranya :

a. Berhak dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangga daerahnya.

b. Urusan-urusan pemerintahan baik sebagian atau seluruhnya yang telah dipisahkan dari tangan Pemerintah Pusat.

Kepala Daerah dalam undang-undang ini menjalankan 2 (dua) fungsi yaitu sebagai alat Pemerintah Pusat dan sebagai alat Pemerintah Daerah. Sebagai alat Pemerintah Pusat, Kepala Daerah berwenang :

a. Memegang pimpinan kebijaksanaan politik didaerahnya, dengan mengindahkan wewenang-wewenang yang ada pada pejabat-pejabat yang bersangkutan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Menyelenggarakan koordinasi antara jawatan-jawatan Pemerintah Pusat di daerah, antara jawatan-jawatan tersebut dengan Pemerintah Daerah.

c. Melakukan Pengawasan atas jalannya Pemerintahan Daerah.

d. Menjalankan tugas-tugas lain yang diserahkan kepadanya oleh Pemerintah Pusat.

Sebagai alat Pemerintah Daerah, Kepala Daerah memimpin pelaksanaan kekuasaan eksekutif Pemerintah Daerah baik dibidang urusan rumah tangga daerah maupun bidang pembantuan.

Kewenangan Dewan Perwakilan Daerah dinyatakan dalam Pasal 49 dan 55 undang-undang ini, diantaranya:

a. Menetapkan Peraturan-peraturan daerah untuk kepentingan daerah atau untuk melaksanakan peraturan-peraturan yang lebih tinggi tingkatannya yang pelaksanaannya ditugaskan kepada daerah.

b. Dapat membela kepentingan daerah dan penduduknya kepada Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah yang lebih tinggi tingkatannya dengan sepengetahuan Kepala Daerah yang bersangkutan.

1.2.3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah

Dalam rangka otonomi daerah Pasal 7 undang-undang ini menyatakan bahwa: Daerah berhak, berwenang, dan berkewajiban mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang dimaksud dengan Pemerintah Daerah dalam undang-undang ini adalah Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Kewenangan Kepala Daerah dinyatakan dalam Pasal 22 ayat (1), 23 dan 38, diantaranya:

a. Memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

b. Mewakili daerahnya di dalam dan diluar pengadilan, bila dipandang perlu dapat menunjuk seorang kuasa atau lebih untuk mewakilinya.

c. Menetapkan Peraturan Daerah dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Kewenangan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah diatur dalam Pasal 29 undang-undang ini, diantaranya:

a. Mengenai Anggaran

b. Mengajukan pertanyaan bagi masing-masing anggota.

c. Meminta Keterangan

d. Mengadakan perubahan

e. Mengajukan pernyataan pendapat

f. Prakarsa

g. Penyelidikan

1.2.4. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

Kewenangan daerah dalam Pasal 7 undang-undang ini mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, agama, serta kewenangan bidang lain yang meliputi:

a. kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro

b. dana perimbangan keuangan

c. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara

d. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia

e. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan standarisasi nasional. Kalau kita kaitkan dengan Teori Sisa maka secara terperinci mengenai kewenangan daerah adalah selain yang dikecualikan dalam Pasal 7 diatas. Selain itu yang menjadi kewenangan daerah yang diatur dalam Pasal 10 undang-undang ini, yaitu mengelola sumber daya nasional yang tersedia diwilayahnya dan bertanggungjawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dalam Wilayah laut meliputi : eksplorasi, pengaturan tata ruang, penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah, dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara.

Sedangkan yang dimaksud dengan Pemerintah Daerah dalam undangundang ini adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah lainnya (Pasal 14 ayat (2)). Kewenangan Kepala Daerah dinyatakan dalam Pasal 44 ayat (1), 69, diantaranya:

a. memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD

b. menetapkan peraturan daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan otonomi Daerah.

Sedangkan Perangkat Daerah lainnya, diantaranya:

a. Sekretariat Daerah, yang berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas, lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya (Pasal 61 ayat (5)).

b. Dinas

Daerah,

yaitu melaksanakan penyelenggaraan wewenang

yang

dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku wakil pemerintah dalam rangka dekonsentrasi (Pasal 63).

1.2.5. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ini ditentukan menjadi urusan pemerintah, yaitu meliputi: politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional dan agama (Pasal 10 ayat (1) dan (3)). Urusan pemerintahan daerah dibagi menjadi urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan Wajib adalah urusan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar warga negara. Sedangkan Urusan Pilihan adalah urusan yang secara nyata ada didaerah dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah.

Kewenangan Pemerintahan Daerah, diantaranya:

1. Urusan Wajib, dimana urusan dalam skala provinsi dilaksanakan oleh Pemerintahan Provinsi, yang berskala kabupaten/Kota dilaksanakan oleh Pemerintahan Kabupaten/Kota, yang meliputi :

a. perencanaan dan pengendalian pembangunan

b. perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang

c. penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat

d. penyediaan sarana dan prasarana umum

e. penanganan bidang kesehatan

f. penyelenggaraan pendidikan

g. penanggulangan masalah sosial

h. pelayanan bidang ketenagakerjaan

i. fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah

j. pengendalian lingkungan hidup

k. pelayanan pertanahan

l. pelayanan kependudukan dan catatan sipil

m. pelayanan administrasi umum pemerintahan

n. pelaksanaan administrasi penanaman modal

o. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya

p. urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

2. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan, dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.

Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut (Pasal 18 ayat (3)), meliputi:

a. eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut;

b. pengaturan administratif;

c. pengaturan tata ruang;

d. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oelh pemerintah;

e. ikut serta dalam pemeliharaan keamanan; dan

f. ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.

Untuk melaksanakan kewenangannya dalam rangka penyelenggaraan otonomi, daerah mempunyai hak (Pasal 21), yaitu:

a. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya;

b. memilih pimpinan daerah;

c. mengelola aparatur daerah;

d. mengelola kekayaan daerah;

e. memungut pajak daerah dan retribusi daerah;

f. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah;

g. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah; dan

h. mendapatkan hak lainnyayang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Sedangkan yang dimaksud dengan Pemerintah Daerah dalam undangundang ini adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah (Pasal 1 angka 3). Dimana dalam Pasal 24 ayat (2), dinyatakan bahwa: Kepala Daerah untuk provinsi disebut Gubernur, untuk Kabupaten disebut Bupati dan untuk Kota disebut Walikota.

Kepala Daerah mempunyai kewenangan ( Pasal 25), yaitu meliputi:

a. memimpin penyelenggaraan pemerintahan daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan DPRD;

b. mengajukan rancangan Perda;

c. menetapkan Perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD;

d. menyusun dan mengajukan rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD untuk dibahas dan ditetapkan bersama;

e. mengupayakan terlaksananya kewajiban daerah;

f. mewakili daerahnya di dalam dan diluar pengadilan, dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan

g. melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundangundangan.

Perangkat daerah lain, terdiri dari:

a. Sekretariat Daerah, yang mempunyai tugas dan kewajiban membantu kepala daerah dalam menyusun kebijakan dan mengoordinasikan dinas daerah dan lembaga teknis daerah.

b. Dinas Daerah merupakan unsur pelaksana otonomi daerah

c. Lembaga Teknis daerah merupakan unsur pendukung tugas kepala daerah dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik berbentuk badan, kantor, atau rumah sakit umum daerah.

BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan

Dari Pemaparan diatas dapat kami simpulkan bahwa :

1. Sejarah perubahan Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah dari tahun 1957 sampai dengan sekarang dapat digambarkan sebagai berikut :

a. Pada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diterapkan sistem Desentralisasi

b. Pada Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 diterapkan sistem Sentralisasi

c. Pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 diterapkan sistem Sentralisasi

d. Pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 diterapkan sistem Desentralisasi

e. Pada Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 diterapkan sistem Desentraisasi namun dalam pelaksanaannya masih setengah hati.

2. Pengaturan Kewenangan Pemerintah Daerah terkait dengan perubahan undang-undang tentang Pemerintahan Daerah selalu mengalami perubahan sesuai dengan Sistem Pemerintahan yang diterapkan pada saat undang-undang bersangkutan diberlakukan.

3.2. Saran

Kepada Para pengambil kebijakan pemerintahan khususnya dalam hal pembuatan undang-undang yaitu legislatif hendaknya dalam melakukan perubahan terhadap suatu produk perundang-undangan memperhatikan faktor-faktor yuridis, filosofis dan sosiologis dari tujuan perubahan itu, agar produk berikutnya dapat bertahan lebih lama.

DAFTAR PUSATAKA

I. Buku

Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2004, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Emeritus John Gilissen dan Emeritus Frits Gorle, 2007, Sejarah Hukum, Bandung: PT Refika Aditama.

Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, 2004, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Ibrahim, Johnny, 2006, Teori Metodologi & Penelitian Hukum Normatif, Malang: Bayumedia Publishing.

II. Perundang-undangan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah