Anda di halaman 1dari 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Status Gizi II.1. Definisi Status Gizi Status gizi merupakan kondisi kesehatan seseorang atau sekelompok orang karena konsumsi, menyerap dan memanfaatkan nutrisi.Dengan mengevaluasi status seseorang gizi, kita tahu seberapa baik atau buruk status gizi.Menurut Tarwojo dan Soekirman status gizi merupakan indikasi keseimbangan antara asupan nutrisi dan ekskresi. Dengan kata lain, bahwa status gizi adalah refleksi dari konsumsi makanan dan yang pemanfaatannya.13 II.1.2. Pengukuran status gizi Status gizi anak diukur berdasarkan umur, berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Variabel BB dan TB anak ini disajikan dalam bentuk tiga indikator antropometri, yaitu: berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).13 II.1.3. Klasifikasi status gizi Untuk menilai status gizi anak, maka angka berat badan dan tinggi badan setiap anak dikonversikan ke dalam bentuk nilai terstandar (Z-score) dengan menggunakan baku antropometri WHO 2006. Selanjutnya berdasarkan nilai Z-score masing-masing indikator tersebut ditentukan status gizi anak dengan batasan sebagai berikut :13 a. Berdasarkan indikator BB/U :

Kategori Gizi Buruk Z-score < -3,0 Kategori Gizi Kurang Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0 Kategori Gizi Baik Z-score >=-2,0 s/d Z-score <=2,0 Kategori Gizi Lebih Z-score >2,0
Berat badan menurut umur (BB/U). Berat badan merupakan salah satu parameter yang

memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan yang mendadak seperti terserang penyakit, infeksi, menurunnya nafsu makan, atau menurunnya jumlah makanan yang di konsumsi. Kelebihan indeks BB/U antara lain mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat umum, baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis, berat badan dapat berfluktuasi, sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil. Disamping mempunyai kelebihan, indeks BB/U juga mempunyai beberapa kekurangan antara lain dapat mengakibatkan interpretasi status gizi yang keliru bila terdapat edema dan asites, di daerah pedesaan yang masih terpencil data umur yang akurat, sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, secara operasional. Sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat.

b. Berdasarkan indikator TB/U: Kategori Sangat Pendek Z-score < -3,0 Kategori Pendek Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0 Kategori Normal Z-score >=-2,0

Tinggi badan menurut umur (TB/U). Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur, pengaruh defesiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan tampak dalam waktu yang relatif lama. Disamping memberikan gambaran status gizi masa lampau, indeks TB/U juga lebih erat kaitannya dengan status ekonomi. Keuntungan indeks TB/U antara lain, baik untuk menilai status gizi masa lampau, ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa, dapat dijadikan indikator keadaan sosial ekonomi penduduk. Adapun kelemahan indeks TB/U antara lain: tinggi badan tidak cepat naik bahkan tidak mungkin turun, pengukuran relatif sulit dilakukan karena anda harus berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk mengukurnya, ketepatan umur sulit didapat, tidak dapat digambarkan keadaan gizi saat ini, dan dapat terjadi masalah dalam pembaaan skala.

c. Berdasarkan indikator BB/TB: Kategori Sangat Kurus Z-score < -3,0 Kategori Kurus Z-score >=-3,0 s/d Z-score <-2,0 Kategori Normal Z-score >=-2,0 s/d Z-score <=2,0 Kategori Gemuk Z-score >2,0
Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Berat badan memiliki hubungan yang linier dengan tinggi badan dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.

Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini. Terutama bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Keuntungan indeks BB/TB antara lain independen terhadap umur dan ras dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus). Kelemahan indeks BB/TB ini adalah tidak dapat memberikan gambaran apakah anak tersebut pendek, normal, tinggi. Sulit untuk melakukan pengukuran tinggi badan, menggunakan dua buah alat ukur, pengukuran relative lama, membutuhkan dua orang untuk melakukannya.

II.2.

II.3.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi

II.3.1 Pendidikan Formal Ibu Pendidikan ibu merupakan faktor yang sangat penting. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan ibu erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan terhadap perawatan kesehatan, higiene, pemeriksaan kehamilan dan pasca persalinan, serta kesadaran terhadap kesehatan dan gizi anakanak dan keluarganya. Disamping itu pendidikan berpengaruh pula pada faktor sosial ekonomi lainya seperti pendapatan, pekerjaan, kebiasaan hidup, makanan, perumahan dan tempat tinggal. Tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal seorang ibu maka semakin tinggi pula pengetahuan ibu tentang gizi dan variasi makanan, sehingga ibu dapat memberikan variasi makanan yang dapat meningkatkan status gizi anak.

II.3.2. Pengetahuan Ibu Tentang Variasi Makanan Gizi berasal dari kata Al Gizzai, yang berarti adalah sari makanan yang diperlukan tubuh. Gizi yang adekuat sangat dibutuhkan setiap anak agar dapat menjadi manusia yang berpotensi. Sekarang ini gizi semakin dipandang sebagai faktor penentu yang penting dalam upaya mempertahankan kesehatan dan mencegah penyakit.8 Telah diketahui bahwa periode lahir hinngga usia lima tahun adalah masa emas terbentuknya dasar-dasar kepribadian manusia, kemampuan pengindraan, kemampuan berpikir, keterampilan berbahasa dan berbicara bertingkah laku sosial dan lainnya. Namun, penelitian juga menyebutkan bahwa periode tersebut adalah masa kritis dimana anak rentan sekali mengalami masalah gizi. Oleh karena itu pada anak seharusnya memperoleh zat gizi yang cukup dan seimbang.9 Gizi diperoleh anak melalui konsumsi makanan setiap hari. Makanan harus mengandung zat-zat gizi tertentu sehingga memenuhi dapat mencukupi kebutuhan gizi anak. Makanan harus mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral.10 a) Karbohidrat Berfungsi sebagai salah satu pembentuk energi oleh karena itu karbohidrat sering disebut sebagai zat tenaga. Pada umumnya sumber karbohidrat ini berasal dari tumbuh- tumbuhan seperti beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, yang merupakan bahan makanan pokok. b) Protein Protein diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang disebut protein nabati dan dari hewan disebut protein hewani. Fungsi protein bagi tubuh sebagai pembangun sel-

sel yang rusak, oleh karena itu protein sering disebut sebagai zat pembangun. Selain itu, protein juga berfungsi untuk membentuk zat-zat pengatur seperti enzim dan hormon. c) Lemak Berasal dari minyak goreng, daging, margarine, dan sebagainya. Fungsi pokok lemak bagi tubuh ialah menghasilkan kalori terbesar dalam tubuh manusia. Selain itu lemak juga berfungsi sebagai pelarut vitamin A, D, E, K. d) Vitamin Vitamin merupakan molekul organik yang terdapat didalam makanan. Fungsi vitamin berlainan satu sama lain tetapi secara umum fungsinya adalah mengatur metabolisme tubuh. e) Mineral Berfungsi sebagai bagian dari zat yang aktif dalam metabolisme atau sebagai bagian penting dari struktur sel dan jaringan. Menurut WHO dalam Guiding Principles For Feeding Non-Breastfed Children 6-24 Months Of Age (2005) setiap bahan makanan dari masing-masing kelompok makanan memiliki kandungan gizi yang berbeda.9 Oleh karena itu, pemberian makanan untuk anak harus bervariasi agar kebutuhan gizi dapat terpenuhi. Variasi makanan mengacu pada konsumsi dari campuran makanan dari seluruh rentang kelompok makanan (yaitu, sayuran, buah, biji-bijan, daging, dan produk susu). Kata variasi menunjukkan bahwa berbagai jenis makanan dari setiap kelompok makanan harus dikonsumsi setiap harinya dan dalam satu minggu idealnya harus memenuhi 20-30 jenis bahan makanan.11,12 Kelompok bahan makanan :

1. Daging, telur, ikan Makanan yang berasal dari hewan yaitu ikan merupakan sumber protein, zat besi dan seng yang baik. Kuning telur merupakan sumber protein yang baik tetapi bukan sumber zat besi yang baik. 2. Produk susu Produk susu, seperti susu, keju dan yoghurt, merupakan sumber kalsium, lemak, energi, protein, dan vitamin B yang baik. 3. Sayur-sayuran Sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam, kaya akan karoten, vitamin A dan juga vitamin C. 4. Buah-buahan Buah-buahan berwarna jingga seperti mangga, tomat dan pepaya juga kaya akan karoten, vitamin A dan juga vitamin C. 5. Biji-bijian Seperti beras, jagung, gandum merupakan sumber karbohidrat yang baik, namun bukan sumber protein yang baik. Pengetahuan tentang variasi makanan yang baik akan menyebabkan seseorang mampu menyusun menu yang baik untuk dikonsumsi. Semakin baik pengetahuan ibu tentang variasi makanan, maka ia akan semakin memperhitungkan jenis makanan yang akan dikonsumsi keluarganya dalam setiap hari. Apabila seorang anak diberi makanan yang bervariasi maka kemungkinan besar hal ini akan berdampak positif pada status anak tersebut.

II.3.3. Penyakit Infeksi Gangguan gizi dan infeksi sering saling bekerja sama, dan bila bekerja bersama-sama akan memberikan prognosis yang lebih buruk dibandingkan bila kedua faktor tersebut masing-masing bekerja sendiri-sendiri. Infeksi memperburuk taraf gizi dan sebaliknya, gangguan gizi memperburuk kemampuan anak untuk mengatasi penyakit infeksi. Kuman-kuman yang tidak terlalu berbahaya pada anak-anak dengan gizi baik, akan dapat menyebabkan kematian pada anakanak dengan gizi buruk. Status gizi atau tingkat konsumsi pangan maupun bagian penting dari status kesehatan seseorang. Tidak hanyastatus gizi yang mempengaruhi kesehatan, tetapi status kesehatan juga mempengaruhi status gizi. Gangguan gizi dan rawan infeksi merupakan suatu pasangan yang erat. Infeksi dapat berhubungan dengan gangguan gizi melalui beberapa cara yaitu: mempengaruhi nafsu makan, dapat juga menyebabkan kehilangan bahan makanan karena diare atau muntah-muntah, atau mempengaruhi metabolisme dan banyak cara lagi. Secara umum defisiensi gizi sering merupakan awal dari gangguan dari defisiensi sistem kekebalan. Infeksi memperburuk taraf gizi dan sebaliknya, gangguan gangguan gizi memperburuk kemampuan anak untuk mengatasi penyakit infeksi. Puffer dan Serranomelaporkan bahwa gizi kurang dan infeksi merupakan masalah kesehatan yang penting pada anak-anak Infeksi dan demam dapatmenyebabkan merosotnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencernakan makanan. Parasit dalam usus, seperti cacing gelang dan cacing pita bersaing dengan tubuh dalam memperoleh makanan dan dengan demikian menghalangi zat gizi kedalam arus darah. Keadaan seperti ini sangat mempengaruhi terjangkitnya kekurangan gizi.14

II.3.4 Asupan Makan Anak ( apa yang dimaksud dengan asupan makanan anak dan patfisnya) Pengetahuan ibu tentang variasi makanan mempengaruhi Status gizi anak namun status gizi anak juga dipengaruhi oleh asupan makan yang diinginkan anak. Apabila anak hanya makan makanan yang menjadi kesukaannya, maka akan mempengaruhi variasi makanan yang dia konsumsi setiap hari sehingga dapat mempengaruhi status gizi anaknya. II.3.5 Penghasilan Besarnya pendapatan atau penghasilan yang diperoleh anggota keluarga setiap bulan akan menentukan tinggi rendahnya daya beli keluarga dalam memenuhi segala kebutuhan keluarga, termasuk diantaranya kebutuhan pangan dalam pemenuhan gizi setiap anggota keluarga. Daya beli merupakan parameter untuk menentukan status keadaan ekonomi keluarga. Semakin tinggi daya beli maka pemenuhan kebutuhan pangan akan semakin tercukupi, akibatnya keadaan gizi tiap-tiap anggota keluarga akan semakin baik, begitu pula sebaliknya. Rendahnya sebagian besar tingkat penghasilan keluarga untuk mampu mencukupi kebutuhan seluruh anggota keluarganya menyebabkan mereka lebih mementingkan membeli beras sebagai kebutuhan pokok daripada membeli lauk pauk seperti daging, ikan, telur, tahu, tempe, susu, yang merupakan sumber protein tinggi namun harganya relatif mahal dalam hal pemenuhan gizi. Sehingga dengan tingkat penghasilan yang rendah kurang dapat memberikan variasi makanan kepada anaknya yang akan mempengaruhi status gizi anak.

II.4.

Kerangka Teori

ASUPAN MAKAN ANAK

PENGHASILAN KELUARGA

PENYAKIT INFEKSI

STATU S GIZI ANAK


TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL IBU PENGETAHUAN, TERHADAP VARIASI MAKANAN

Keterangan:

Hubungan timbal balik Hubungan Langsung