Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

REKAYASA GEMPA
PENGERTIAN GEMPA

SRI WAHYUNINGSIH D 111 11 602



JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

DAFTAR ISI

DAFTAR ISIi BAB 1 Pendahuluan 1.1 Pengertian Gempa Bumi.1 BAB 2 Studi Mengenai Gempa Bumi 2.1 Penyebab Terjadinya Gempa Bumi3 2.2 Skala dan Magnitude Gempa Bumi4 2.3 Klasifikasi Gempa Bumi.....5 2.4 Parameter Gempa Bumi..7 2.5 Zonasi Wilayah Gempa Bumi Indonesia....8 2.6 Pengukuran Gempa Bumi...8 2.7 Studi Mekanik Gempa Bumi dengan Menggunakan GLOBAL POSITIONING SYSTEM ( GPS )...9 2.8 Prediksi Gempa Bumi....13 2.9 Alat Pendeteksi Gempa Bumi....13 BAB 3 Penutup 3.1 Kesimpulan....16

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Gempa Bumi Gempa bumi merupakan fenomena alam yang sudah tidak asing lagi bagi kita semua, karena seringkali diberitakan adanya suatu wilayah dilanda gempa bumi, baik yang ringan maupun yang sangat dahsyat, menelan banyak korban jiwa dan harta, meruntuhkan bangunan2 dan fasilitas umum lainnya. Gempa bumi disebabkan oleh adanya pelepasan energi regangan elastis batuan pada litosfir. Semakin besar energi yang dilepas semakin kuat gempa yang terjadi. Terdapat dua teori yang menyatakan proses terjadinya atau asal mula gempa yaitu pergeseran sesar dan teori kekenyalan elastis. Gerak tiba2 sepanjang sesar merupakan penyebab yang sering terjadi. Klasifikasi gempa bumi secara umum berdasarkan sumber kejadian gempa (R.Hoernes, 1878). Setiap bencana alam selalu mengakibatkan penderitaan bagi masyarakat, korban jiwa dan harta benda kerap melanda masyarakat yang berada di sekitar lokasi bencana. Gempa bumi didefinisikan sebagai getaran yang bersifat alamiah, yang terjadi pada lokasi tertentu, dan sifatnya tidak berkelanjutan. Getaran pada bumi terjadi akibat dari adanya proses pergeseran secara tiba-tiba (sudden slip) pada kerak bumi. Pergeseran secara tiba-tiba terjadi karena adanya sumber gaya (force) sebagai penyebabnya, baik bersumber dari alam maupun dari bantuan manusia (artificial earthquakes). Selain disebabkan oleh sudden slip, getaran pada bumi juga bisa disebabkan oleh gejala lain yang sifatnya lebih halus atau berupa getaran kecil-kecil yang sulit dirasakan manusia. Getaran tersebut misalnya yang disebabkan oleh lalu-lintas, mobil, kereta api, tiupan angin pada pohon dan lainlain. Getaran seperti ini dikelompokan sebagai mikroseismisitas (getaran sangat kecil). Dimana tempat biasa terjadinya gempa bumi alamiah yang cukup besar, berdasarkan hasil penelitian, para peneliti kebumian menyimpulkan bahwa hampir 95 persen lebih gempa bumi terjadi di daerah batas pertemuan antar lempeng yang menyusun kerak bumi dan di daerah sesar atau fault.

Para peneliti kebumian berkesimpulan bahwa penyebab utama terjadinya gempa bumi berawal dari adanya gaya pergerakan di dalam interior bumi (gaya konveksi mantel) yang menekan kerak bumi (outer layer) yang bersifat rapuh, sehingga ketika kerak bumi tidak lagi kuat dalam merespon gaya gerak dari dalam bumi tersebut maka akan membuat sesar dan menghasilkan gempa bumi. Akibat gaya gerak dari dalam bumi ini maka kerak bumi telah terbagi-bagi menjadi beberapa fragmen yang di sebut lempeng (Plate). Gaya gerak penyebab gempa bumi ini selanjutnya disebut gaya sumber tektonik (tectonic source).

Selain sumber tektonik yang menjadi faktor penyebab terjadinya gempa bumi, terdapat beberapa sumber lainnya yang dikategorikan sebagai penyebab terjadinya gempa bumi, yaitu sumber non-tektonik (non-tectonic source) dan gempa buatan (artificial earthquake).

BAB II STUDI MENGENAI GEMPA BUMI 2.1 Penyebab Gempa Bumi Permasalahan utama dari peristiwa-peristiwa gempa adalah: 1) sangat potensial mengakibatkan kerugian yang besar, 2) merupakan kejadian alam yang belum dapat diperhitungkan dan diperkirakan secara akurat baik kapan dan dimana terjadinya serta magnitudanya, dan 3) gempa tidak dapat dicegah. Karena tidak dapat dicegah dan tidak dapat diperkirakan secara akurat, usaha-usaha yang biasa dilakukan adalah: a) menghindari wilayah dimana terdapat fault rupture, kemungkinan tsunami, dan landslide, serta b) bangunan sipil harus direncanakan dan dibangun tahan gempa. Pengalaman telah membuktikan bahwa sebagian besar korban dan kerugian yang terjadiakibat gempa disebabkan oleh kerusakan dan kegagalan infrastruktur. Kerusakan akibatgempa dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu: 1) kerusakan tidak langsung pada tanah yangmenyebabkan terjadinya likuifaksi, cyclic mobility, lateral spreading, kelongsoran lereng, keretakan tanah, subsidence, dan deformasi yang berlebihan, serta 2) kerusakan struktur sebagai akibat langsung dari gaya inersia yang diterima bangunan selama goncangan. Pencegahan kerusakan struktur sebagai akibat langsung dari gaya inersia akibat gerakan tanah dapat dilakukan melalui proses perencanaan dengan memperhitungkan suatu tingkat beban gempa rencana. Oleh karena itu, dalam perencanaan infrastruktur tahan gempa, analisis dan pemilihan parameter pergerakan tanah mutlak diperlukan untuk mendapatkan beban gempa rencana. Secara umum, dalam perencanaan infrastruktur tahan gempa, terdapat beberapa jenis metoda analisis dengan tingkat kesulitan dan akurasi yang bervariasi. Sesuai dengan metoda analisis yang digunakan, parameter pergerakan tanah yang diperlukan untuk perhitungan dapat diwakili oleh: 1) percepatan tanah maksimum, 2) respon spektra gempa, dan 3) riwayat waktu percepatan gempa (time histories). Percepatan tanah maksimum hanya memberikan informasi kekuatan puncak gempa.Respon spektra gempa memberikan informasi tambahan mengenai frekuensi gempa dan kemungkinan efek amplifikasinya. Riwayat waktu percepatan gempa memberikan informasi terlengkap 4. yaitu berupa variasi besarnya beban gempa untuk setiap waktu selama durasi gempa.

Dalam analisis gempa, semakin sederhana suatu metoda analisis berarti semakin sedikit parameter gempa yang diperlukan. Akan tetapi, semakin banyak parameter yang diperlukan umumnya akan menghasilkan perkiraan hasil yang semakin akurat. 2.2 Skala dan Magnitude Gempa Bumi Data-data kejadian gempa yang dikumpulkan dari berbagai sumber umumny menggunakan skala magnituda yang berbeda-beda. Skala magnituda yang digunakan antara lain adalah suface wave magnituda (ms), Richter local magnitude (ML), body wave magnitude (mb) dan moment magnitude (Mw). Skala-skala magnituda tersebut harus dikonversi terlebih dahulu menjadi satu skala magnituda yang sama sebelum digunakan dalam analisis resiko gempa. Terdapat beberapa usulan formulasi atau persamaan konversi skala magnituda yang diusulkan peneliti seperti Purcaru dan Berckhemer (1978), Tatcher dan Hanks (1973), dimana rumus-rumus tersebut dibuat dengan menggunakan analisis regresi.Selain itu, Idriss (1985) telah membuat grafik korelasi hubungan antara Mw dengan ML, MS, mb, dan MJMA.Analisis konversi pada studi ini menggunakan data-data gempa (katalog gempa) wilayah Indonesia yang dikumpulkan dari berbagai sumber diatas.Hal tersebut disebabkan peneliti tidak memiliki data informasi untuk pembuatan persamaan konversi tersebut.Dari data-data tersebut dengan menggunakan analisis regresi didapat rumusan korelasi konversi magnituda untuk wilayah Indonesia seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1.Korelasi konversi antara beberapa skala magnituda untuk wilayah Indonesia Korelasi Konversi Mw = 0.143Ms 1.051Ms + 7.285 Mw = 0.114mb 0.556mb + 5.560 Mw = 0.787ME + 1.537 mb = 0.125ML - 0.389x + 3.513 ML = 0.717MD + 1.003 Jml Data (Events) 3.173 978 154 722 384 Range Data 4.5 Ms 8.6 4.9 mb 8.2 5.2 ME 7.3 3.0 <ML < 6.2 3.0 MD 5.8 Kesesuaian (R2) 93.9% 72.0% 71.2% 56.1% 29.1%

2.3 Klasifikasi Gempa Bumi Kejadian bencana alam tidak dapat dicegah dan ditentukan kapan dan dimana lokasinya, akan tetapi pencegahan jatuhnya korban akibat bencana ini dapat dilakukan bila terdapat cukup pengetahuan mengenai sifat-sifat bencana tersebut. Klasifikasi gempa, antara lain: Berdasarkan penyebabnya : batuan pada daerah patahan. vulkanisme. bagian gua. n, yaitu gempa yang disebabkan oleh meteor besar yang jatuh ke bumi. Berdasarkan bentuk episentrum : yang episentrumnya garis. Berdasarkan kedalaman hiposentrum -300 km

Berdasarkan jarak episentrum

ari 10000 km. Data dalam ilmu kebumian selalu berkaitan dengan kedalaman dan ketebalan. Oleh karena itu, seorang ahli ilmu kebumian harus mempunyai kemampuan untuk menentukan kedalaman dan ketebalan. Kedalaman sendiri sebebarnya adalah lokasi sebuah titik, yang diukur secara vertikal terhadap ketinggian titik acuan. Dalam ilmu Geofisika misalnya. Dikenal klasifikasi

gempa berdasarkan kedalaman. Menurut Fowler, 1990, klasifikasi gempa berdasarkan kedalaman fokus adalah : 1.Gempa dangkal : kedalaman fokus gempa kurang dari 70 km 2.Gempa sedang : kedalamanan fokus gempa kurang dari 300 km 3.Gempa dalam : kedalaman fokus gempa lebih dari 300 km (kadang-kadang lebih dari 450 km) Seperti halnya kedalaman, kemampuan untuk menentukan ketebalan juga sangat diperlukan dalam ilmu kebumian. Dengan mengetahui cara menghitung ketebalan, ahli kebumian bisa menyelidiki ketebalan lapisanlapisan penyusun bumi sehingga kita bisa mengetahui bahwa ketebalan kerak bumi mencapai 100 km, ketebalan matel adalah sekitar 2900 km, liquid outer core sekitar 2200 km, dan solid inner core sekitar 1250 km

picture by wikipedia Analisis geometri akifer (aquifer : lapisan yang dapat menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah yang ekonomis. Contoh : pasir, kerikil, batupasir, batugamping rekahan.) juga melibatkan analisis kedalaman dan ketebalan. Selain klasifikasi gempa di atas dikenal juga gempa laut, yaitu gempa yang episentrumnya terdapat di bawah permukan laut. Gempa ini menyebabkan terjadinya gelombang pasang yang dahsyat, disebut tsunami. Seismograf adalah alat pencatat gempa, sedang seismogram adalah rekaman atau hasil catatan seismograf.

2.4

Parameter Gempa Bumi a. Gelombang Gempa bumi Secara sederhana dapat diartikan sebagai merambatnya energi dari pusat gempa atau hiposentrum (fokus) ke tempat lain di bumi. Gelombang ini terdiri dari gelombang badan dan gelombang permukaan. Gelombang badan adalah gelombang gempa yang dapat merambat di lapisan bumi, sedangkan gelombang permukaan adalah gelombang gempa yang merambat dipermukaanbumi.

b. Ukuran besar Gempa bumi Magnitudo gempa merupakan karakteristik gempa yang berhubungan dengan jumlah energi total seismic yang dilepaskan sumber gempa. Magnitude ialah skala besaran gempa pada sumbernya. Jenismagnitude/ besaran gempa bumi. Magnitude gelombang badan, mb, ditentukan berdasarkan jumlah total energi gelombang elastis yang ditransfer dalam bentuk gelombang P dan S Magnitude gelombang permukaan: Ms ditentukan berdasarkan berdasarkan jumlah total energi gelombang love (L) dan gelombang Rayleigh (R) dengan asumsi hyposenter dangkal (30 km) dan amplitude maksimum terjadi pada periode 20 detik. Moment gempa seismic moment : Mo merupakan skala yang menentukan magnitude suatu gempa bumi menurut momen gempa, sehingga dapat merupakan gambaran deformasi yang disebabkan oleh suatu gempa.

c. Intensitas Intensitas adalah besaran yang dipakai untuk mengukur suatu gempa selain dengan magnitude. Intensitas dapat didefenisikan sebagai suatu besarnya kerusakan disuatu tempat akibat gempa bumi yang diukur berdasarkan kerusakan yang terjadi. Harga intensitas merupakan fungsi dari magnitude.jarak ke episenter, lama getaran, kedalaman gempa, kondisi tanah dan keadaan bangunan. Skala Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI)

merupakan skala intensitas yang lebih umum dipakai. Dibawah ini akan diuraikan pembagian intensitas serta efek yang diakibatkan oleh besarnya intensitas tersebut dan nilai intensitas dalam satuan skala richter.

2.5

Zonasi Wilayah Gempa Bumi Indonesia Berdasarkan sejarah kekuatan sumber gempa, aktifitas gempa bumi di Indonesia bisa dibagi dalam 6 daerah aktifitas : Daerah sangat aktif, magnitude lebih dari 8 mungkin terjadi di daerah ini yaitu di Halmahera, pantai utara Irian. 1. Daerah aktif, magnitude 8 mungkin terjadi dan magnitude 7 sering terjadi yaitu di lepas pantai barat Sumatra, kepulauan Sunda dan Sulawesi tengah. 2. Daerah Lipatan dengan atau tanpa retakan, magnitude kurang dari tujuh bisa terjadi yaitu di Sumatra, kepulauan Sunda, Sulawesi tengah. 3. Daerah lipatan dengan atau tanpa retakan, magnitude kurang dari 7 mungkin terjadi, yaitu di pantai barat Sumatra, jawa bagian utara, Kalimantan bagian timur. 4. Daerah gempa kecil, magnitude kurang dari 5 jarang terjadi, yaitu di daerah pantai timur Sumatra, Kalimantan tengah 5. Daerah stabil, tak ada catatan sejarah gempa, yaitu daerah pantai selatan Irian,Kalimantanbagianbarat.

2.6

Pengukuran Gempa Bumi Aktifitas kerak bumi dapat diukur dengan berbagai cara yaitu * Seismometer, pendeteksi getaran bumi * Scintilation Counter, pengukur gas radon yg aktif * Tiltmeter, pengukur pengangkatan atau penurunan permukaan bumi * Magnetometer, pengukur perubahan local medan magnit bumi * Pengukuran geodesi, baik dengan penggunaan GPS maupun Theodolit yg digunakan untuk mengukur perubahan titik-titik triangulasi suatu patahan * Alat-alat laser, pengukur round trip travel time * Resistivity gauge, digunakan untuk mengungkapkan variasi konduktivitas

batuan * Creep meter, alat untuk mengukur gerak horizontal semua patahan * Gravimeter, pengukur gaya berat bumi * St raimeter, pengukur ekspansi dan konstraksi kerak bumi.

2.7

Studi Mekanik Gempa Bumi Dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) Dengan adanya fakta, maka langkah pemantauan potensi dan usaha mitigasi bencana jelas penting sekali untuk dilakukan, sehingga diharapkan efek negatif yang dapat ditinggalkan oleh bencana tersebut dapat direduksi. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pemantauan potensi dan mitigasi bencana alam gempa bumi yaitu melalui penelitian serta analisis mekanisme siklus dan tahapan gempa bumi. Siklus gempa bumi (earthquake cycle) didefinisikan sebagai perulangan gempa. Satu siklus dari gempa bumi ini biasanya berlangsung dalam kurun waktu puluhan sampai ratusan tahun. Dalam satu siklus gempa bumi terdapat beberapa mekanisme tahapan terjadinya gempa bumi, diantaranya yaitu tahapan interseismic, pre-seismic, co-seismic, dan post-seismic [Mori (2004), Vigny (2004), Ando (2005), Natawidjaja (2004)] Bentuk analisis siklus gempa bumi dilakukan dengan cara meneliti dokumen sejarah kejadian gempa bumi, dan penelitian-penelitian geologi, geofisika seperti stratigrafi batuan, terumbu karang (coral microattols), paleotsunami, paleo-likuifaksi, dan lain-lain. Sementara itu bentuk analisis tahapan gempa bumi dilakukan dengan cara melihat dan meneliti fenomena-fenomena yang menyertai tahapan gempa bumi seperti deformasi, seismisitas, informasi pengukuran geofisika (reseistivitas elektik, pengamatan muka dan temperatur air tanah), dan lain-lain. [Mori (2004), Vigny (2004; 2005), Ando (2005), Natawidjaja (2004)].

Studi

Mekanisme

Gempa

Bumi

Aceh

2004

dengan

GPS.

Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi Aceh 2004 dapat dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System (GPS). Data GPS dapat dengan baik melihat deformasi yang mengiringi tahapan mekanisme terjadinya Gempa Bumi. Studi mengenai tahapan mekanisme gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi Bencana Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi dimasadatang. Data GPS yang digunakan dalam penelitian mekanisme gempa Aceh ini diantaranya yaitu data GPS hasil dari program SEAMERGES yang telah mengumpulkan data-data GPS dari lebih 60 stasiun titik pengamatan yang berkaitan dengan pergerakan lempeng di Asia Tenggara dan data-data GPS yang berkaitan dengan gempa Aceh 2004 dan Gempa Nias 2005. Sebagian data berupa data kontinyu, dan sebagian lagi berupa data campaign. Kemudian pada bulan Februari dan Maret 2005, ITB bekerjasama dengan Nagoya Univerisity, BPPT, LIPI, dan Universitas Syiah Kuala mengadakan kerjasama penelitian Near field co-seismic dan post-seismic gempa yang terjadi di Aceh, dan Near Field co-sesimic gempa Nias dengan menggunakan teknologi GPS. Pekerjaan survai dilakukan masing-masing selama kurang lebih 10 hari dengan memantau titik-titik benchmark yang dulu di bangun oleh BPN dan BAKOSURTANAL. Selain itu pada survei lapangan juga di pasang titik-titik baru guna pemantauan pergerakan tanah di sekitar Aceh pasca gempa bumi 2004. Di bawah ini diberikan foto-foto yang diambil dari kegiatan survey lapangan di daerah Lok Nga di Pantai Barat Aceh, dan Sigli di pantai Utara Aceh.

10

Analisis tahapan Interseismic Dari hasil pengolahan data interseismic dapat disimpulkan bahwa akumulasi deformasi pada tahapan interseismic di sekitar wilayah Aceh ternyata cukup besar sebelum terjadinya gempa bumi di akhir tahun 2004, dan apabila kita sebelumnya menyadari akan hal tersebut maka bukan tidak mungkin kita dapat melakukan bentuk mitigasi bencana yang lebih baik lagi. Kemudian apabila kita tengok hasil pemodelan block rotation (solusi geodessya 1999 dalam vigny 2005) di daerah Sumatera, kita bisa melihat indikasi deformasi yang cukup besar di daerah Sumatera bagian utara apabila Indikasi high deformasi dimungkinkan karena terdapatnya area wide coupling di sekitar zona subduksi tersebut. Area wide coupling ini dimungkinkan oleh pola sudut kemiringan dangkal yang menyusun zona subduksi Sumatera bagian utara. Sementara itu makin ke selatan sudut kemiringan-nya membesar.

Analisis tahapan Pre-seismic Pengolahan data pre-seismic signal, dilakukan dengan menggunakan data GPS kontinyu yang terletak di daerah paling dekat dengan episenter gempa, yaitu GPS di stasiun Sampali Sumatera Utara, dan stasiun Phuket Thailand. Sinyal yang dicoba dilihat adalah sinyal pre-seismic deformasi, dan karakteristik ionosfer pada gempa Aceh 2004. Berdasarkan hasil penelitian pre-seismic signal deformasi dari gempa Aceh- 2004 ternyata tidak ditemukan adanya bentuk anomali deformasi berupa akselerasi deformasi. Hasil pengolahan data GPS daily solution di stasiun Sampali selama 15 hari sebelum terjadinya gempa di Aceh tidak menunjukkan adanya akselerasi deformasi. Kumpulan nilai koordinat daily solution hanya berubah dalam fraksi mili saja. Sementara itu hasil pengolahan data GPS daily solution di stasiun Phuket selama 15 hari sebelum terjadinya gempa di Aceh juga tidak menunjukkan adanya akselerasi deformasi. Kumpulan nilai koordinat daily solution di titik Phuket juga hanya berubah dalam fraksi mili saja. Berbeda halnya kalau kita lihat hasil pengolahan data 15 hari setelah gempa di titik

11

Sampali dan Phuket, masing-masing dengan jelas menunjukkan sinyal deformasi post-seismic. Analisis tahapan Coseismic Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya co-seismic deformation akibat gempa Aceh 2004 di beberapa titik pantau near field adalah sebagai berikut: titik Banda Aceh terdeformasi 2.4 meter, titik pulau Sabang telah terdeformasi 1.8 meter, Sigli mengalami deformasi 70 centimeter, titik Meulaboh terdeformasi 1.9 meter dan Lok Nga terdeformasi sebesar 2.7 meter. Sementara itu co-seismic deformation di beberapa titik pantau far field adalah sebagai berikut: titik Phuket Thailand terdeformasi sebesar 27 sentimeter, titik Langkawi Malaysia terdeformasi sebesar 17 sentimeter, dan titik Sampali Sumatera Utara terdeformasi 15 sentimeter. Dari hasil co-seismic deformation gempa Aceh 2004, kita kemudian membuat model co-seismic slip (pergeseran pada bidang sesar) dengan menggunakan formula elastic half space modeling (Okada 1999). Input parameter utama yaitu vektor co-seismic deformation, parameter sekundernya diantaranya konstanta rigiditas, kemudian beberapa parameter untuk pendekatan model (apriori model) yaitu geometri bidang sesar (panjang dan lebar bidang sesar), serta informasi sudut kemiringan bidang sesar. Pendekatan nilai sudut kemiringan diperoleh dari plotting vertikal gempa susulan (aftershock). Informasi co-seismic slip gempa Aceh yang dibuat, dapat digunakan dalam melihat mekanisme release energi, kemudian perhitungan besar energi, serta mekanisme transfer energy (stress transfer) yang berguna dalam hal evaluasi potensi gempa. Analisis Post-Seismic Post-seismic pada gempa Aceh 2004 dimulai tepat setelah berakhirnya deformasi elastis pada tahapan co-seismic. Nilai deformasi bertambah sebesar 4 sentimeter dalam kurun waktu 15 hari di stasiun PHKT (Phuket Thailand). Rekaman sinyal post-seismic menunjukan pola eksponensial sesuai dengan hukum omori mengenai tahapan ini. Nilai deformasi di stasiun PHKT (Phuket

12

Thailand) setelah 50 hari dari waktu kejadian gempa mencapai 34 cm, dan nilai ini cukup signifikan, mencapai 1.25 kali nilai deformasi yang diberikan tahapan co-seismic. Sementara itu stasiun GPS yang dipasang kontinyu di Universitas Syah Kuala Banda Aceh menunjukkan nilai deformasi postseismic sebesar 15 sentimeter setelah 90 hari pengamatan. Deformasi postseismic ini dapat terjadi bertahun-tahun lamanya. Seperti telah disebutkan di atas bahwa studi mengenai tahapan mekanisme gempa ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi Bencana Alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi di masa datang. Setelah melihat mekanisme fase gempa bumi di Aceh 26 Desember 2004 ditambah dengan informasi penelitian siklus gempa bumi, dan penelitian lainnya, maka kita dapat melakukan evaluasi potensi gempa bumi di masa yang akan datang di sekitar zona subduksi Sumatera pasca terjadinya gempa besar tersebut.

2.8

Prediksi Gempa Bumi Prediksi dengan peralatan dan metode ilmiah * Pengetahuan tentang zona seismic dan daerah beresiko yang dipelajari lewat studi dampak historis dan lempeng tektonik * Memonitor aktifitas seismikdengan menggunakan seismogram dan instrument lain * Menggunakan observasi ilmiah * Memonitor tingkat seismic global.

2.9

Alat pendeteksi gempa Bumi 1. Earth Queke Alarm

Alarm ini merupakan alat peringatan/penanda adanya getaran (gempa) bumi dengan cara mendeteksi kedatangan gelombang seismik P-Wave sebelum kedatangan S-Wave dan Surface Wave (Q-wave

13

dan R-wave) yang berbahaya dan bersifat merusak, kemudian memicu alarm sebagai peringatan tanda bahaya. Dengan auto-reset speaker alarm yang sangat nyaring, mampu membangunkan orang yang sedang tidur sehingga mendapatkan

kesadarannya untuk cepat tanggap/bereaksi dan segera berlindung ke tempat yang aman sebelum gelombang seismik yang merusak datang. Alat ini mendeteksi P-wave menggunakan Tabung Sensor SMST. Ini sangat compact dan portable. Casing-nya sangat kokoh dengan permukaan casing belakang yang simetris, menjamin kesimetrisan posisi pada dinding bagi kesempurnaan dan keakuratan penerimaan resonansi gelombang seismik. Tempat pemasangan dapat dipindah-pindahkan sesuai keinginan. Cocok dipasang pada semua jenis gedung (bertingkat maupun tidak), baik untuk fasilitas umum atau rumah pribadi. Alat ini bersifat maintenance-free, bebas perawatan. Baterainya mampu bertahan hingga 12 bulan dan mudah untuk diganti, dilengkapi tombol battery-check. Alarm ini menggunakan sensor part teknologi berstandar

internasional yang berkualitas tinggi yang support untuk mendeteksi semua jenis gempa.

2. Jam Pendeteksi Gempa Bagi negara yang posisinya di antara lempeng bumi, seperti Jepang, gempa bumi merupakan suatu gangguan yang hampir setiap hari terjadi. Untuk itu, diperlukan sistem peringatan dini yang bisa diakses semua orang sebelum gempa terjadi. Citizen, produsen jam asal Jepang, menangkap peluang ini dengan menciptakan Seismic Watch. peranti tersebut merupakan alat deteksi gempa bumi berbentuk jam tangan dan jam dinding analog. Di dalamnya, terdapat receiver EEW (early earthquake warning). EEW merupakan sinyal early warning system gempa bumi yang telah lama diterapkan di Jepang. Sistem sinyal itu dikelola Lembaga

14

Meteorologi Nasional. Sinyal tersebut dipancarkan oleh lebih dari seratus stasiun pemantau gempa yang tersebar di seluruh negara tersebut. Dalam keadaan normal, Seismic Watch berfungsi layaknya jam tangan biasa. Namun, ketika tiba-tiba menangkap sinyal EEW, ia akan langsung menghitung besarnya gempa dan interval waktu hingga gempa datang. Perhitungan ini berdasar data lokasi di mana jam sedang dipakai pemiliknya. Setelah menghitung, jam langsung memperingatkan pemiliknya lewat bunyi alarm dan getaran. Putaran jarum jamnya akan makin cepat sesuai dengan intensitas perkiraan gempa. Sementara itu, jarum menit dan jarum detiknya akan memulai countdown hingga gempa benar-benar tiba.

15

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan

Gempa Bumi merupakan fenomena alam yang sudah tidak asing lagi, tidak dapat dicegah dan ditentukan dimana lokasinya. Untuk melihat mekanisme dari gempa bumi dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Global Positioning System ( GPS ). Data GPS dapat dengan baik melihat deformasi yang mengiringi tahapan mekanisme terjadinya gempa bumi. Studi mengenai tahapan mekanisme gempa bumi ini akan sangat berguna dalam melakukan evaluasi potensi bencana alam gempa bumi, untuk memperbaiki upaya mitigasi dimasa depan.

16