Anda di halaman 1dari 20

BAB I KONSEP DASAR PENYAKIT 1. Definisi Definisi tifoid menurut para ahli adalah sebagai berikut : a.

Tifoid adalah penyakit sistemik akut akibat infeksi Salmonela typhi (Harison, 1991) b. Tofoid danp parutifoid (selanjutnya disebut tofoid) adalah infeksi akut usus halus (Sarwono, 1996) c. Typus aedoninalis adalah penyakit yang biasanya terdapat pada saluran cerna dengan diagnosa demam yang lebih dari 1 minggu dan terdapat gangguan kesadaran. Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa tifoid adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Salmonela typhi ditandai dengan demam satu minggu dan disertai gangguan saluran pencernaan serta gangguan kesadaran. 2. Etiologi dan Predisposisi a. Etiologi Etiologi / penyebab dari tiphoid menurut Sarwono (1996) adalah karena kuman Salmonella. Adapun kuman Salmonella penyebab typhoid adalah : 1) Salmonela typhi 2) Salmonela pra typhi A 3) Salmonela pra typhi B 4) Salmonela pra typhi C b. Predisposisi Menurut Sarwono (1996) penyebaran tifoid tidak bergantung pada iklim, tetapi banyak di jumlah di negara yang beriklim tropis. Hal ini disebabkan

karena penyediaan bersih, sanitasi lingkungan dan kebersihan individu dan lingkungan. 3. Manifestasi Klinik Gejala dapat timbul secara tiba-tiba / bersangsur-angsur yaitu antara 10 sampai 14 hari. Mulainya samar-samar bersama nyeri kepala, malaise, anoreksia dan demam, rasa tidak enak di perut dan nyeri di seluruh baban. Minggu pertama keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu : demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, konstipasi /diare, perasaan tidak enak pada perut, batuk dan epistaaksis. Pada minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas yaitu : demam, bradikardi relatif, lidah yang khas (kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splevomegali, meteorismus, gangguan mental (Sommnoleh, Stupor, Koma, Delisium) (Sarwono, 1996). 4. Patofisiologi Kuman Salmonella typosa masuk melalui mulut, setelah melewati aliran selanjutnya akan kedinding usus halus melalui aliran linfa ke kelenjar mesentrium mengadakan multipikasi (bakteremia). Biasanya pasien belum tempak adanya gejala klinik (asimtomatik) seperti mual, muntah, tak enak badan, nafsu makan menurun, pusing karena segera diserbu sel sistem retikulo endotesual. Tetapi kuman masih hidup, selanjutnya melalui duktus toraksikus masuk ke dalam peredaran darah mengalami bakteremia sehingga tubuh merangsang untuk mengeluarkan sel plogan akibatnya terjadi lekositopenia. Dari sel plogan inilah yang mempengaruhi pusat termoregulasi dihipotalamus sehingga timbul gejala demam dan apabila demam tinggi tidak segera diatasi maka dapat terjadi gangguan kesadaran dalam berbagai tingkat. Setelah dari peredaran darah, kuman menuju ke organ-organ tersebut (hati, limfa, empedu), sehingga timbul peradangan yang menyebabkan membesarnya organ tersebut dan nyeri tekan,

terutama pada folikel limfosial dan apabiloi kuman tersebut dihancurkan oleh selsel tersebut maka penyakit berangangsur-angsur mengalami perbaikan dan apabila tidak dihancurkan akan menyebar keseluruh organ sehingga timbul komplikasi dapat memperburuk kondisi pasien (Rahmat Juwono, 1994). 5. Anatomi dan Fisiologi a. Usus Halus Istestinum minor (usus halus) adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum panjangnya 6 m, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari : lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (m.sirkulasi), lapisan otot memanjang (m.longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar). Usus halus besar dibagi dalam beberapa bagian : 1. Duodenum Disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang membukit disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledoktus dan saluran pankreas (dukus wirsungi / pankreatikus). Dinding doedenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar-kelenjar brunner, berfungsi untuk memproduksi getah intestinum. 2. Yeyunum dan Ileum Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 m. dua per lima bagian atas adalah (yeyenum) dan panjangnya 2-3 meter. Dan ileum dengan panjang 4-5 m. Lekukan yeyunum dan ileum melekat pada dinding aedomen posterior dengan perantarandan lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesentrium. Akar mesentrium

memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang dan vena mesentrika superior, pembuluh limfe dan syaraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang membentuk mesentrium. Sambungan antara yeyunum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas. Ujung bawah ileum berhubungan dengan selkum dengan parantaraan lubang yang bernama Orifisium tleosekalis, orifisium ini diperkuat oleh spinteeer ileosekalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula selkalis / valvula baukini yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam kolon asendens tidak masuk kembali keadaan ileum. 3. Mukosa usus halus b. Usus Besar Panjangnya 1 m, lebarnya 5-6 cm. Lapisan-lapisan usus besar dari dalam keluar : selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, jaringan ikat. Bagian-bagian usus besar adalah: 1. Seikum Dibawah seikum terdapat apendiks vermiformis yang berbentuk seperti coaling sehingga disebut juga limba coding, panjangnya 6 cm. Seluruhnya ditutupi peritonium mudah bergerak walaupun tidak mempunyai mesentrium dan dapat diraba melalui dinding abdomen pada orang yang masih hidup. 2. Kolon Asendens Panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdomen sebelah kanan membujur ke atas dari ileeum ke bawah hati. Di bawah hati membengkok ke kiri. Lengkungan ini disebut fleksura hepatika, dilanjut sebagai kolon transversum

3. Kolon transversum Panjangnya 38 cm dari kolon asendus sampai ke kolon desendens berada di bawah abdomen, sebelah kanan terdapat flexura hepatika dan sebelah kiri terdapat fleksura uenalis. 4. Apendiks Bagian dari usus besar yang muncul seperti corong dari akhir selkum mempunyai pintu keluar yang sempit tapi masih memungkinkan dapat dilewati isi usus. 5. Kolon pesendevis Panjangnya 25 cm, terletak di bawah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dari fleksura uenalis sampai ke depan ileum kiri, bersambung dengan kolon signoid. 6. Kolon sigmoid Merupakan lanjutan dari kolon disendens terletak miring, dalam rongga pelvis sebelah kiri, bentuknya menyerupai huruf S. ujung bawahnya berhubungan dengan rektum. c. Rektum dan Anus Terletak dibawah kolon signoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sakrum dan os koksigis. Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar (udara luar) terletak di dasar pelvis dindingnya diperkuat oleh 3 spincter : 1. Spincter ani internus, bekerja tidak menurut kehendak 2. Spincter levator ani, bekerja tidak menurut kehendak 3. Spincter ani eksterunus, bekerja menurut kehendak

6. Sirkulasi Pasokan darah kolon berasal dari arteri mesenterika superior dan luferior : a. Caecum, kolon asendens dan transversum proksimal dipasok oleh cabang arteri mesenterika superior b. Kolon transversum distal, desendon, sigmoid, dan rektum bagian atas dipasok oleh cabang arteri pudenda interna Pola pasokan darah sangat penting dalam menentukan daerah yang memungkinkan terkena iskemia (contohnya daerah watershed sekitar flexura ilen sangat rawan terkena) dan karena drainase limfatik mengikuti pola yang sama, sangat bermanfaat meramalkan distribusi metastasis kelenjar limfe dari lokasi tumor (Underwood, 1996). 7. Persyaratan Usus mempunyai jaringan syaraf yang kompleks terdiri atas neuron otonom motorik dan sensorik serta sistem saraf enterik yang terpisah. Pasokan simpatis berasal dari gangilon diluar usus difleksus seilaka dan masenterika. Gangila parasimpatis ditemukan seilaka dan mesenterika. Gangila parasimpatis ditemukan dalam dinding halus dan ini bersama neuron yang berhubungan membentuk dua anyaman saraf, plektus submukosa (meisner) dan pleksus mesenterikus (awerbach). Pleksus saraf menciptakan dna mengkonduksi irama elektrik dasar pada usus. Rangsangan saraf parasimpatis meningkatkan kontraksi muskular (terutama pada lapisan sirkulasi bagian bawah dalam). Pasokan darah dan aktivitas sekresi, merangsang pasokan sistem yang mempunyai efek berlawanan. Sistem saraf enterik mempunyai reseptor sensor pada mukosa dan dinding usus besar, yang akan merespon volume dan komposisi usus, dan melalui hubungan dengan neuron yang menimbulkan respon yang cepat pada sistem reseptor.

8. Fisiologi a. Usus Halus Fungsi usus halus antara lain : 1. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapilet-kapiler darah dan saluran-saluran limfe. 2. Menyerap protein dalam bentuk asam amino 3. Karbohidrat diserap dalam bentuk emulsi, lemak Di dalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan : 1. Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik 2. Eripsin menyempurnakan penceranaan protein menjadi asam amino : a. Laktose mengubah latase menjadi monosokarida b. Maltosa mengubah maltosa menjadi monosakarida c. Sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosakarida (Syafudin, 1992) Usus halus mempunyai epitel khusus yang mempunyai daerah permukaan yang luas, struktur seperti viii pada mukosa dapat mengoptimalkan absorbsi baik di bawah kendali aktif maupun pasif. a. Sel endokren Sel gobelt yang mensekresi muklus dan sel endokrin tersebar diantara selsel absortif. Sel endokrin memproduksi hormon usus yang sangat bervariasi. Sel endokrin juga ditemukan diantara sel-sel proliferasi (enteroblas) dari kripta intestinum. Di sini, banyak-banyak sel endokrin berupa enterokromafin dan memproduksi serotonin (5-HT) yang mempunyai peranan penting dalam pengendalian usus dan pasokan darah. b. Sel paneth Mengandung granula yang kaya ilsozim, peranan sel ini belum diketahui, tetapi agaknya berhubungan erat dengan sel stem. Keberadaannya pada

epitel metaplastik memberi petunjuk kemungkinan memproduksi faktor lokal yang meregulasi sel proliferasi dan berdiferensiasi. c. Kelenjar biunner Submukosa duodenum mengandung kelenjar biunner, berupa kumpulan asinus yang mensekresi banyak mukus. Disamping memproduksi banyak mukus alkailu yang penting untuk melindungi mukosa terhadap serangan asam pada duodenum proksimal. d. Jaringan Limfoid Jaringan ikat mukosa (lamina propia) mengandung banyak limfatik (laktasol). kapiler darah, sel limfosit yang infiltratif, sel plasma, eosinofil dan sel mast sel limfoid membentuk lengan imunitas mukosa yang penting, dikenal sebagai mukosa assoceiated lymphoid tissue (MALT). b. Usus Besar Menurut Syaifudin, 1992, usus besar mempunyai beberapa fungsi : 1. Menyerap air dan makanan 2. Tempat tinggal bakteri koli 3. Tempat feces Banyak bakteri yang terdapat dalam usus besar berfungsi mencerna bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting seperti vitamin K. bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan bakteri di dalam usus besar. akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air dan terjadilah diare. jenis pergerakan pada saluran pencernaan, gerakan mencampur yang membuat isi usus terus menerus tercampur setiap saat dan gearkan propulsive (mendorong) yang menyebabkan makanan bergerak ke depan sepanjang saluran pencernaan dengan kecepatan sesuai untuk pencernaan dan obsorbsi. Menurut Underwood, 1996, usus besar mempunyai beberapa fungsi-fungsi:

a. Sebagai tempat pengimbunan dan eliminasi mempunyai sisa-sisa makanan. b. Berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan air dan elektrolit c. Berperan penting dalam degradasi kompleks karbohidrat dan nutrien bakteri lainnya. c. Rektum dan Ancis Rektum adalah sebuah yang beraal dari ujung usus besar dan berakhir dianus. biasnaya ructum ini kosong karena disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rectum, maka timbul keinginan untuk BAB. Anus merupakan lubang diujung saluan pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh / kulit dan sebagian lainnya dari usus. Suatu cinoin berotot (spincer ahl) menjaga dari tetap tertutup. 9. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi dari tifoid menurut Rahmat Juwono ( a. Komplikasi intestinal, meliputi : 1) Perdarahan usus 2) Perforasi usus 3) Ileus paralitik b. Komplikasi ekstra intestinal 1) Komplikasi kardiovaskuler Kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis dan tromboflebitis. 2) Komplikasi darah Anemia hemolitik, tromeostopenia dan sindrom urenia hemolitik. 3) Komplikasi paru Pneumonia, emplema dan pleuritis ) adalah :

4) Komplikasi hepar dan kandung empedu Hepatitis dan kolesistitis 5) Komplikasi ginjal Glomnerulonefritis, plelonefritis dan peringfritis 6) Komplikasi tulang Osteomielitis, periostitis, sponalitis dna artiltis 7) Komplikasi neuropsikiatrik Delirium, meningismus, meningitis, polineuritis, perifer, sindrom guillain-barre, psikosis dan sindrom ketatonia. 10. Penatalaksanaan Menurut Rahmat Juwono penalaksanaan tifoid terdiri dari 3 bagian yaitu : a. Perawatan Penderita tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan. Pendeita harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari. Besar demam / kurang lebih selama 14 hari. Maksud tirah baring adalah untuk mencegah komplikasi perdarahan / perforasi usus. Penderita dengan kesadaran menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu tertentu utnuk menghindrai komplikasi pneumonia hipostaltik dan dektubitas. b. Diet Dimasa lalu penderita tifoid diberi dubur sarving, kemudian dubur kasar dan akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan penderita. Pemberian dubur saring ini dimaksudkan untuk menghindari komplikasi perdarahan usus, karena ada pendapat bahwa lukus-lukus perlu diistirahatkan. Banyak penderita tidak menyukai dubur saring karena tidak sesuai dengan selera mereka. Karena mereka hanya makan sediti dan ini berakibat keadaan umum dan gizi penderita semakin mundur dan masa penyembuhan menjadi lama.

Makanan padat dini, yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman pada penderita tifoid. c. Obat Obat-obatan antimikroba yang sering dipergunakan ialah : kloromfenikol, tiamfenikol, ko trimoksozol, ampisilin dan amoksilin.

BAB II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Riwayat Penyakit Dahulu Adakah riwayat penyakit tifoid sebelumnya. 2. Demografi a. Jenis Kelamin Tidaka da perbedaan resiko terjadi tifoid antara laki-laki dan perempuan. b. Umur Di daerah endemik tofoid, insiden tertinggi didapat pada anak-anak. Orang dewasa sering mengalami infeksi ringan yang sembuh sendiri dan menjadi kebal. Insiden pada penderita yang berumur 12 tahun ke atas adalah 7080%, penderita berumur 12-30 tahun adalah 10-20%, penderita berumur 30-40 tahun adalah 5-10%. c. Lingkungan tempat tinggal Lingkungan daerah yang kumuh, seperti daerah yang dekat dengan TPA atau bisa terjadi pada rumah yang tempat pembuangan sampahnya, jaraknya terlalu dekat dengan rumah. d. Gaya hidup Kebiasaan / gaya hidup yang dapat mempengaruhi terjadinya tifoid adalah gaya hidup / kebiasaan yang kurang sehat. Misalnya kebiasaan tidak cuci tangan baik sebelum maupun sesudah makan, tidak menutup makanan. e. Pekerjaan Adapun pekerjaan yang beresiko terjadi tofoid misalnya pemulung, penjual pedagang kaki lima.

3. Pola Pengkajian Fokus a. Aktifitas / istirahat Gejala : kelemahan, kelelahan, merasa gelisah dan ansietas, pembatasan aktifitas / kerja sehubungan dengan efek proses penyakit. b. Sirkulasi Tanda : Takikardi (respon terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi dan nyeri) Kemerahan, area ekimosis Kulit / membran mukosa turgor buruk, kering, lidah pecah-pecah (dehidrasi / malnutrisi). c. Itegritas ego Gejala : Ansietas, ketakutan, emosi kesal misal perasaan tak berdaya / tak ada harapan. Stres akut / kronis, misal hubungan dengan keluarga / pekerjaan, pengobatan yang mahal. Tanda : Menolak, perhatian menyempit dan depresi. d. Eliminasi Gejala : Episode diare yang tidak dapat diperkirakan, hilang timbul, sering, tak kontrol, flatus lembut dan semi cair, bau busuk dan berlemak (steatorea) melena. Konstipasi hilang timbul. Tanda : Menurunnya bising usus, tak ada peristaltik / adanya peristaltik yang dapat dilihat. Hemoroid, fisura anal, oligouria. e. Makanan / cairan Gejala : Anoreksia, muak muntah Penurunan berat badan Tidak toleran pada diet / sensitif, misal susu, dan makanan berlemak.

Tanda : Penurunan lemak subkutan / masa otot Tonus otot buruk dan turgor kulit buruk Membran mukosa pucat. f. Higiene Gejala : Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri. Bau badan. Tanda : Menolak, perhatian menyempit dan depresi. g. Nyeri / kenyamanan Gejala : Nyeri tekan abdomen dan nyeri kram pada kuadran kanan bawah, nyeri abdomen tengah bawah (keterlibatan jejunum). Nyeri tekan menyebar ke bagian periumbilikal Nyeri mata, fotofobia Tanda : Nyeri tekan abdomen / distensi. h. Keamanan Gejala : Riwayat lupus eritematosis, anemia hemolitik, vaskuiltis Peningkatan suhu 39,6-40oC Penglihatan kabur Tanda : Lesi kulit mungkin ada, misal aritemia nodusum (meningkat, nyeri tekan, kemerahan dan membengkak) pada tangan, muka, pioderma gangienosa (lesi tekan pukulan / lepuh dengan batas keunguan) pada paha, kaki dan mata kaki. Aukilesa spondilitis. i. Seksualitas Gejala : Frekuensi menurun / menghindari akfititas seksual j. Interaksi sosial Gejala : Masalah hubungan / peran sehubungan dengan kondisi ketidakmampuan aktif dalam sosial.

4. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan feses Darah samar mungkin positif (erosi mukosa), steatorea dan garam empedu dapat ditemukan. b. Foto Menekan barium dapat menunjukkan penyempitan lumen pada ileum terminal, kekakuan dinding usus, mukosa mudah terangsang / lukus. c. Pemeriksaan sigmoideskopi Dapat menunjukkan edema hiperemik mukosa kolon, celah transversal / lukus longitudinal. d. Darah lengkap Anemia (hipokromik, kadang-kadang makrositik) dapat terjadi karena malnutrisi / malabsorbsi / tekanan fungsi sumsum tulang (proses inflamasi usus), peningkatan sel darah putih. e. Kolonoskopi Mengidentifikasi adanya perubahan lumen dinding (menyempit/tidak teratur), menunjukkan obstruksi usus.

B. Pathway

C. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. 2. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan. 3. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan nyeri tekan (peradangan pada usus). 4. Gangguan eliminasi BAB : diare / kaonstipasi berhubungan dengan perubahan peristaltik usus. 5. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan output yang berlebihan. 6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik. D. Fokus Intervensi dan Rasional 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kriteria Hasil : BB stabil / peningaktan BB, tidak ada tanda malnutrisi, kebutuhan nutrisi terpenuhi. Intervensi : Timbang berat badan tiap hari Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet / kefektifan therapi. Dorong tirah baring / pembatasan aktivitas selama fase sakit akut. Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi. Anjurkan klien istirahat sebelum makan Rasional : Menandakan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.

Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru. Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet / kefektifan therapi.

Dorong tirah baring / pembatasan aktifitas selama fase sakit akut. Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik untuk mencegah penurunan kalori dan simpanan energi.

Anjurkan klien istirahat sebelum makan. Rasional : Menenangkan peristaltik dan meningkatkan energi untuk makan.

Sediakan makanan dalam ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru. Rasional : Lingkungan yang menyenangkan menurunkan stres dan lebih kondusif untuk makan.

Catat masukan dan perubahan symtomologi Rasional : Memberikan rasa kontrol pada klien dan memberikan kesempatan untuk memilih makanan yang diinginkan, dinikmati, dapat meningkat masukan.

Kolaborasi : Pertahankan puasa sesuai indikasi Rasional : Istirahat usus menurunkan peristaltik usus dan diare dimana menyebabkan malaesorbsi / kehilangan nutriel. Berikan nutrisi parental total, tetapi IV sesuai indikasi. Rasional : Dapat mengistirahatkan saluran G1 sementara memberikan nutrisi penting.

2. Defisit volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan cairan terpenuhi. Kriteria Hasil : Mempertahankan volume cairan adekuat. Intervensi dan Rasional : Kaji tanda-tanda vital Rasional : Hipotensi, takikardi, demam, dapat menunjukkan respon terahdap efek kehilangan cairan. Observasi kulit kering berlebihan dan membran mukosa, penurunan turgor kulit. Rasional : Dapat mengetahui kehilangan cairan berlebihan atau dehidrasi. Pertahankan pembatasan per oral, tirah baring, hindari kerja / batasi aktifitas. Rasional : Kolon diistirahatkan untuk penyembuhan dan untuk menurunkan kehilangan cairan usus. Observasi perdarahan dan tes feses tiap hari untuk adanya darah samar. Rasional : Diet tak adekuat dan penurunan absorbsi dapat memasukan defisiensi vitamin K dan merusak koagulasi, potensial resiko perdarahan. Kolaborasi : Berikan caioran parenteral, tranfusi darah sesuai indikasi. Rasional : Mempertahankan istirahat usus akan memerlukan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan / anemia.

3. Gangguan rasa nyaman, nyeri berhubungan dengan nyeri tekan (peradangan pada usus). Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri hilang / berkurang. Kriteria Hasil : Klien hilang / berkurang Klien tampak rileks Intervensi dan Rasional : Dorong klien untuk melaporkan nyeri Rasional : Untuk dapat mentoleransi nyeri Kaji laporan kram abdomen / nyeri, catat lokasi, lamanya intensitas (skala 0-10). Selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri. Rasional : Nyeri selama defekasi seiring terjadi pada klien dengan tibatiba dimana dapat berat dan tidak dimana dapat berat dan terus menerus. Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan penyebaran penyakit / terjadi komplikasi. 4. Gangguan eliminasi BAB : diare / kaonstipasi berhubungan dengan perubahan peristaltik usus. 5. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan output yang berlebihan. 6. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 1. s