Anda di halaman 1dari 61

Teknologi Penjernihan Oli Bekas

Acid clay treatment


Water surfactant treatment

Duraposita chemical
Kata Pengantar

Berdasarkan pancasila dan UUD 1945, kemudian Peraturan Pemerintah Republik


Indonesia Nomor 18 tahun 1999, tentang limbah dan pengolahan limbah. Pemanfaatan
limbah dan pengolahan limbah untuk dijadikan barang yang lebih berharga dan
bermanfaat, sebagai salah satu contoh adalah pengolahan minyak pelumas bekas yang
dapat diolah manjadi bahan bakar dan minyak pelumas.

Perkembangan industri dan transportasi akan membawa dampak secara langsung kepada
naiknya kebutuhan pelumas dan berkibat bertambahnya stok minyak pelumas bekas.
Proses daur ulang minyak pelumas bekas menjadi minyak yang lebih baik secara
langsung akan menyerap kebutuhan tenaga kerja masyarakat sekitarnya.

Sesuai dengan peraturan pemerintah tentang pengolahan limbah pelumas bekas agar
menggunakan teknologi yang ramah lingkungan, maka pengolahan limbah pelumas ini
diusahakan semaksimal mungkin ramah lingkungan.

Penggunaan teknologi yang ramah lingkungan untuk mengolah minyak pelumas bekas
membutuhkan investasi yang sangat besar, proses daur ulang dengan teknologi distilasi
vaccum, hydrotreating akan sulit untuk dijadikan model teknologi investasi rendah
apalagi industri skala kecil.Penggunaan teknologi acid clay yang berinvestasi rendah
sangat tidak ramah lingkungan walaupun dapat dilakukan untuk industri skala kecil.
Adanya produk sampingan pada proses acid clay yaitu tar ( sludge ) yang sangat
berbahaya pada lingkungan dan mengandung asam sulfat.

Teknologi pengolahan limbah pelumas untuk skala kecil dengan resiko pencemaran
lingkunagn yang kecil untuk proses daur ulang pelumas bekas dapat memanfaatkan
metode ekstraksi detergen, yaitu memberikan perlakuan awal terhadap limbah pelumas
sehingga kandungan logam baik organik maupun anorganik dalam limbah dapat
diturunkan, sehingga kebutuhan asam sulfat menjadi lebih minim atau ditiadakan.
Beberapa penelitian untuk menurunkan kandungan logam dalam limbah pelumas bekas
dengan pelarut air atau pelarut aktif permukaan menunjukkan adanya pengaruh yang
positif. Untuk limbah yang kandungan tar masih banyak maka penggunaan asam sulfat
adalah suatu kepastian.
Teknologi ini belum populer tetapi dapat dicoba sebagai titik awal untuk daur ulang
pelumas bekas yang berinvestasi skala kecil dengan visi ramah lingkungan.

Pakde jongko
08176540345
Daftar isi
1. Definisi limbah
2. Latar belakang
i. Potensi Minyak pelumas bekas
ii. Karateristik minyak pelumas
iii. Metode rerefining minyak pelumas bekas
3. Minyak pelumas
i. Asal muasal
ii. Tipe dan jenis minyak pelumas
iii. Aplikasi minyak pelumas
4. Teknologi penjernihan minyak pelumas
i. Acid clay treatment
ii. Ekstraksi detergen
5. Aplikasi produk
i. konversi ke bahan bakar cair
ii. minyak bakar
iii. bahan bakar emulsified
6. Quality kontrol
Daftar pustaka
Lampiran
1. Istilah
2. Glossary
1. Definisi limbah
1. Limbah
Pengertian limbah menurut PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1999 :
a. Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan
b. Limbah bahan berbahaya dan beracun, disingkat limbah B3,
adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung
bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau
konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan
lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan
hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk
hidup lain.

2. Proses daur ulang

a. Recycling (daur ulang) ; dalam teknologi penjernihan


perolehan kembali oli (minyak lumas) yang sudah tidak dapat /
sesuai dengan kegunaannya untruk diproses agar dapat kembali
menjadi oli yang bermanfaat. ASTM 1988
b. Reclaiming ; penggunaan metode pembersihan selama proses
daur ulang khususnya untuk menghilangkan kotoran yang tidak
larut yang akan membuat oli sesuai untuk penggunaan dan
selanjutnya metode tersebut meliputi settling, heating,
dehydration, filtrator dan certifuging.
c. Re-Refinig (penjernihan) ; penggunaan proses penjernihan
selama recycling (daur ulang) untuk mendapatkan base stock yang
kualitas tinggi untuk pelumas Re-refining meliputi distilasi,
hydrotreating, lempung dan atau bahan kimia lain.
2. Minyak pelumas

1.Asal muasal minyak pelumas

Minyak bumi (bahasa Inggris: petroleum, dari bahasa Latin petrus – karang dan
oleum – minyak), dijuluki juga sebagai emas hitam, adalah cairan kental,
coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar, yang berada di lapisan atas
dari beberapa area di kerak Bumi. Minyak bumi terdiri dari campuran kompleks
dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar seri alkana, tetapi bervariasi dalam
penampilan, komposisi, dan kemurniannya.

Gambar 1.1 flow diagram pengolahan bahan bakar minyak

Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang
kemudian, setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll.
Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawaan hidrogen dan karbon.
Empat alkana teringan- CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10
(butana) - semuanya adalah gas yang mendidih pada -161.6°C, -88.6°C, -42°C,
dan -0.5°C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1° F).

Rantai dalam wilayah C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih.
Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry
clean), dan produk cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26
dicampur bersama dan digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari
rantai di wilayah C10

Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat (termasuk Vaseline®) berada di


antara C16 sampai ke C20. Rantai di atas C20 berwujud padat, dimulai dari "lilin,
kemudian tar, dan bitumen aspal. Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer
fraksi distilasi dalam derajat Celcius:

Gambar 1.2 flow diagram asal minyak pelumas

• minyak eter: 40 - 70 °C (digunakan sebagai pelarut)


• minyak ringan: 60 - 100 °C (bahan bakar mobil)
• minyak berat: 100 - 150 °C (bahan bakar mobil)
• minyak tanah ringan: 120 - 150 °C (pelarut dan bahan bakar untuk rumah
tangga)
• kerosene: 150 - 300 °C (bahan bakar mesin jet)
• minyak gas: 250 - 350 °C (minyak diesel/pemanas)
• minyak pelumas: > 300 °C (minyak mesin)
• sisanya: tar, aspal, bahan bakar residu

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak adalah zat abiotik, yang berarti
zat ini tidak berasal dari fosil tetapi berasal dari zat anorganik yang dihasilkan
secara alami dalam perut bumi. Namun, pandangan ini diragukan dalam
lingkungan ilmiah.

2.Tipe dan jenis minyak pelumas

Gambar 1.3 berbagai macam minyak pelumas yang beredar dipasaran

Saat ini banyak dijumpai beragam jenis pelumas yang semuanya didasarkan
atas penggunaan dan klasifikasi. Jenis-jenis pelumas tersebut dibedakan
menurut sifat-sifat fisika maupun kimia dari komponen penyusunnya baik
minyak dasar (base oil) ataupun aditif. Sifat fisika dan kimia dari campuran
kedua komponen inilah yang akan menentukan unjuk kerja pelumas secara
keseluruhan. Dengan demikian keragaman jenis pelumas ditentukan dari
komponen-komponen penyusun pelumas sesuai dengan spesifikasi kegunaan
pelumas tersebut. Berdasarkan jenis base oilnya minyak pelumas
diklasifikasikan menjadi 3 yaitu :
• Minyak pelumas mineral
• Minyak pelumas sintetis
• Minyak pelumas semisintetis

Sebenarnya base oil ini mempunyai segala kemampuan dasar yang dibutuhkan
dalam pelumasan. Tanpa aditifpun, sebenarnya minyak dasar sudah mampu
menjalankan tugas-tugas pelumasan. Namun unjuk kerjanya belum begitu
sempurna dan tidak dapat digunakan dalam waktu lama.

1. PELUMAS MINERAL

Pelumas mineral adalah semua pelumas yang dihasilkan dari refinery minyak
bumi. Yaitu dari pengolahan lanjut long residue yang merupakan fraksi berat
hasil destilasi minyak mentah jenis parafinik ataupun naphtenik. Disebut long
residue karena residu ini masih dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan
base oil. Pengolahan long residue menjadi base oil yang populer dilakukan
adalah melalui proses Solvent Refining. Tahapannya adalah sebagai berikut :

a. High Vacuum Distillation

Dalam proses ini, fraksi long residue di destilasi di dalam kolom yang
bertekanan rendah atau vakum. Tujuan dari proses ini adalah untuk
memisahkan fraksi minyak pelumasnya. Fraksi-fraksi lanjutan yang dihasilkan
dalam distilasi vakum ini berturut-turut adalah :
• SPO (Spindle Oil)
• LMO (Light Machine Oil)
• MMO (Medium Machine Oil)
• BO (Black Oil) atau Short Residue (SR)

Unit yang melaksanakan proses ini disebut High Vacuum Unit (HVU). Pada
prinsipnya HMU tidak berbeda dengan proses distilasi biasa, dimana pemisahan
fraksi demi fraksi dilakukan berdasarkan titik didih masing-masing hidrokarbon
dalam fraksi tersebut. Karena long residue memiliki titik didih tinggi maka
pelaksanaannya harus dilakukan dengan tekanan hampa (vakum).

b. Furfural Extraction

Furfural adalah solven yang berfungsi memisahkan komponen base oil dari
komponen yang tidak dikehendaki berdasarkan perbedaan kelarutan tiap-tiap
komponen tersebut. Pemisahan dengan solven furfural inilah yang
menyebabkan keseluruhan proses pengolahan ini disebut Solvent Refining.
Proses ini bertujuan untuk menaikkan indeks viskositas dari destilat pada HVU
melalui penghilangan senyawa aromat yang memiliki indeks viskositas rendah,
peningkatan mutu dan kestabilan terhadap oksidasi sekaligus mengurangi
kemungkinan terbentuknya lumpur (sludge), deposit karbon, dan varnish. Unit
yang melaksanakan proses ini disebut FEU (Furfural Extraction Unit).

c. Prophane Deasphalting

Proses ini dimaksudkan untuk mengambil senyawa-senyawa yang tidak


dikehendaki dalam black oil atau short residue, fraksi terberat pada HVU.
Proses yang digunakan adalah ekstraksi menggunakan propane dan akan
menghasilkan residu dengan BM besar seperti Asphalt dan Resin. Kandungan
asphalt ini perlu dipisahkan agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan asphalt
dan fraksi minyak pelumasnya sebagai Deasphalted Oil (DAO). Ekstrak yang
terjadi akan dimasukkan ke FEU. Unit yang melaksanakan proses ini adalah
Propane Deasphalting Unit (PDU).
d. Dewaxing

Digunakan untuk menghilangkan wax, sehingga pour point dari base oil yang
dihasilkan dapat diturunkan hingga 5 – 15°F. Pelarut yang digunakan dalam
proses ini adalah MEK (Metil Etil Keton). Proses dewaxing dilakukan pada suhu
10 – 25°C sehingga lilin akan mengkristal dan dapat dipisahkan dengan
penyaringan biasa. Filtrat yang diperoleh adalah produk akhir dari base oil.

e. Finishing

Tahap ini dilakukan untuk memperbaiki warna minyak pelumas dan stabilitas
pelumas.

2. PELUMAS SINTETIS

Minyak pelumas sintetis dibuat dari hidrokarbon yang telah mengalami proses
khusus. Khusus yang dimaksud adalah bahwa minyak ini dibuat tidak hanya
sama dengan minyak mineral akan tetapi melebihi kemampuan minyak mineral.
Melalui proses kimia dihasilkan molekul baru yang memiliki stabilitas termal,
oksidasi dan kinerja yang optimal. Sehingga harga minyak sintetis lebih mahal
daripada minyak mineral. Pada kenyataannya minyak pelumas sintetis memang
lebih unggul dalam unjuk kerja, baik respon terhadap mesinnya maupun umur
pemakaiannya. Hal ini dikarenakan pembuatan minyak pelumas sintetis
dirancang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Untuk itu pemilihan minyak
pelumas yang tepat sangatlah penting. Dalam pembuatannya minyak pelumas
sintetis dikontrol struktur molekulnya dengan sifat-sifat yang dapat diprediksi.
Adapun jenis minyak sintetis yang banyak digunakan adalah sebagai berikut :

a. Diester

Diester merupakan salah satu bahan yang menonjol dari minyak pelumas
sintetis. Diester mempunyai struktur yang paling sederhana untuk digunakan
sebagai minyak pelumas. Bahan ini banyak digunakan sebagai minyak pelumas
atau pelumas gemuk yang mempunyai titik penguapan rendah pada mesin gas
turbin. Diester diperoleh dari reaksi sintesa produk minyak bumi, dan sebagian
dari lemak binatang dan minyak tumbuh-tumbuhan. Keuntungan diester adalah
mempunyai viskositas yang relatif konstan terhadap suhu yang cukup baik,
penguapannya sangat rendah, dan mempunyai stabilitas thermal yang bagus.
Biasanya bahan ini tidak korosif terhadap logam, tidak beracun dan stabil
terhadap hidrolisa. Sifat yang merugikan dari bahan ini adalah dapat bereaksi
terhadap karet. Karena sifat fire-resistant dan stabilitas oksidasinya, maka
pelumas diester banyak dipakai untuk kompresor udara.

b. Fosfat Ester

Fosfat ester telah lama digunakan sebagai aditif di dalam minyak pelumas
mineral sebagai pelindung terhadap terjadinya pelumasan batas. Fosfat ester
merupakan senyawa biodegradable yang disintesa dari komponen yang didapat
dari coal tar. Karena natural ester merupakan campuran yang komplek dan
sering mengandung ortho cresol yang beracun, maka diupayakan untuk
mensintesa ester dengan bahan kimia murni untuk membentuk minyak dasar
sintetis yang tidak mengandung cresol yang beracun. Sehingga natural ester
dikombinasikan dengan fosfat. Fosfat ester memberikan ikatan yang cukup
mantap dan stabil secara kimia yang memungkinkan untuk digunakan sebagai
komponen utama dari minyak pelumas sintetis. Disamping itu fosfat ester biasa
digunakan sebagai aditif EP. Stabilitas terhadap oksidasi dari bahan ini cukup
baik yaitu sampai dengan F. Penggunaannya yang utama adalah sebagai minyak
hidrolik di dalam pesawat°300 udara karena memberikan sifat anti api yang
baik.

c. Ester Silikat

Mempunyai IV yang tinggi yaitu 150 – 200 dan mempunyai penguapan yang
rendah. Ketahanan terhadap oksidasi pada suhu tinggi tidak begitu baik, tetapi
hal ini dapat diperbaiki dengan penambahan aditif. Ester silikat tidak korosif
terhadap logam, plastik maupun karet. Tetapi pada suhu yang tinggi akan
mengeraskan karet.

d. Glikol Polialkilena Dan Turunannya

Aplikasi dari glikol polialkilena (polieter) sangat luas yaitu sebagai pelumas
pada motor bakar, roda gigi, kompressor, pompa. Bahan ini tidak begitu mahal
dan mudah diperoleh di pasaran.

e. Silikon

Silikon merupakan minyak pelumas sintetis yang mempunyai bermacam-macam


tingkat viskositas, yang tergantung pada panjang pendeknya rantai dari ikatan
molekulnya. Silikon disintesa dari pasir (SiO2). Sifat yang paling menonjol dari
silikon ini adalah memberikan kurva viskositas dengan suhu yang mendatar.
Silikon memberikan ketahanan oksidasi yang baik pada suhu biasa, tetapi
cenderung membentuk gel pada saat mengoksidasi sehingga tidak tepat
digunakan sebagai minyak pelumas mesin turbin pesawat udara.

f. Khlor Dan Fluor Hidrokarbon

Sifat utama dari senyawa ini adalah dapat memberikan respon yang baik
sebagai aditif EP dan low flammability. Aktifitas yang tinggi dari atom khlor
dapat terbebaskan pada kondisi beban yang berat dan suhu tinggi. Dan hal ini
menghasilkan produk yang korosifitasnya tinggi dan beracun sehingga
penggunaannya dalam industri dibatasi.

g. Poly Alkyl Glykol

Produksi komersialnya dibuat sekitar tahun 1930 an sebagai penganti castor oil
pada rem mobil. Polyalkylglycol dibuat dengan reaksi polimerisasi
menggunakan katalis. Reaksi dapat dikontrol untuk mendapatkan range
viskositas 8 – 19000 cSt. Biasa digunakan di industri baja dan tekstil. Semua
polyalkylglycol dapat menyerap air dari atmosfer sehingga harus dijaga dari
kemungkinan kontaminasi. Akan tetapi kandungan air sampai 5% masih dapat
ditoleransi. Pada temperatur rendah polyalkylglycol mempunyai karakteristik
yang bagus, tetapi C membutuhkan aditif untuk meningkatkan°pada temperatur
tinggi sampai 250 stabilitas thermalnya. Pelumas sintetis ini tidak dapat
digunakan di atas temperatur tersebut. Polyalkylglycol mempunyai
karakteristik yang bagus sekali pada viskositas 160 – 400 yang tergantung sekali
pada cara memproduksinya. Polyalkylglycol sangat rentan terhadap oksidasi
sehingga perlu ditambahkan aditif antioksidan. Umur pemakaian aditif pada
polyalkylglycol lebih lama bila dibandingkan dengan mineral oil pada kondisi
yang sama. Polyalkylglycol lebih polar sintetis ini tidak dapat digunakan di atas
temperatur tersebut. Polyalkylglycol mempunyai karakteristik yang bagus sekali
pada viskositas 160 – 400 yang tergantung sekali pada cara memproduksinya.
Polyalkylglycol sangat rentan terhadap oksidasi sehingga perlu ditambahkan
aditif antioksidan. Umur pemakaian aditif pada polyalkylglycol lebih lama bila
dibandingkan dengan mineral oil pada kondisi yang sama. Polyalkylglycol lebih
polar dibandingkan dengan senyawa ester, dan cocok sekali untuk seal dan
plastik. Tetapi tidak untuk cat.

h. Poly Alpha Olefin

Polyalphaolefin dibuat pertama kali di Jerman pada masa Perang Dunia Kedua
untuk menghemat pemakaian minyak mineral. Dan ternyata memberikan unjuk
kerja pada range temperatur yang luas. Polyalphaolefin merupakan hidrokarbon
sintetis, tidak seperti hidrokarbon pada minyak pelumas mineral. Karena
polyalphaolefin merupakan cairan kimia murni yang dibuat dari polimerisasi
katalitik ethylene. Produk yang dihasilkan dipisahkan dari komponen yang
reaktif dan selanjutnya dipisahkan sesuai dengan viskositasnya. Dengan
penambahan sedikit aditif antioksidan, polyalphaolefin menjadi lebih stabil bila
dibandingkan dengan minyak mineral pada temperatur yang sama.
Polyalphaolefin menunjukkan lebih tahan bereaksi dengan air bila dibandingkan
dengan minyak mineral dan minyak sintetis yang lain. Polyalphaolefin juga
sangat cocok bila diblending dengan minyak mineral. Sifat PAO yang menonjol
adalah sebagai berikut :
- Titik tuangnya rendah
- Volatilitasnya rendah
- Good software compatibility
- Stabilitas thermalnya bagus
- Hidrolytic stability
- Merupakan bahan kimia yang inert
- Daya pelumasannya bagus

Karenan PAO mempunyai titik tuang yang rendah, maka PAO digunakan pada
kompressor pendingin, kompressor amonia dan kompressor fluorokarbon.

i. Polyolester

Sangat cocok digunakan untuk pelumasan batas. Mempunyai IV yang tinggi bila
dibandingkan dengan minyak mineral. Mempunyai stabilitas thermal dan
membuat mesin menjadi lebih bersih dan lebih sedikit depositnya.
Volatilitasnya paling rendah dibandingkan dengan minyak pelumas sintetis yang
lain. Polyolester dengan C hanya menguap sekitar 2 %. Polyolester
relatif°viskositas 4,4 cSt pada 100 biodegradable tetapi prosesnya sangat
lambat dibawah kondisi normal. Produk yang dihasilkan tidak beracun.
Keuntungan polyolester adalah dapat digunakan dengan nitril rubber, yaitu tipe
yang paling umum digunakan dengan minyak mineral. Juga sangat compatible
apabila dicampur dengan minyak pelumas mineral. Banyak digunakan di
berbagai industri. Hampir semua aditif larut dalam polyolester (POE). Dapat
digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan minyak pelumas sintetis lain
atau minyak pelumas mineral. POE mempunyai high temperatur properties yang
sangat bagus dan mampu meningkatkan properties pelumas melebihi diester.

Aplikasi penggunaan POE :


- Minyak kompresor
- Minyak turbin dan minyak hidrolik
- Minyak gear
- Pelumas bearing
- Pelumas EP (Extreme Pressure) untuk boundary lubrication

Keuntungan Miyak Pelumas Sintetis

Meskipun harganya relatif lebih mahal, namun minyak pelumas sintetis dewasa
ini lebih banyak digunakan. Hal ini disebabkan karena :

a. Umur pemakaiannya lebih lama karena meningkatkan stabilitas thermal (VI


tinggi) dan tahan oksidasi. Keuntungannya : oli yang digunakan lebih sedikit,
pemakaian filter awet, mengurangi pengeluaran.

b. Mengurangi konsumsi oli karena volatilitasnya lebih rendah dan densitas


lebih tinggi.

c. Mempunyai spesifikasi yang dibutuhkan pemakai.

d. Pengoperasiannya lebih aman karena flash pointnya lebih tinggi. Sehingga


ongkos perawatan lebih rendah, penggantian spare part lebih sedikit.

e. Sifat-sifatnya dapat diprediksi karena karakteristik produknya uniform.

3. PELUMAS SEMI SINTETIS

Diperoleh dengan cara mencampur (blending) antara pelumas sintetis dengan


pelumas mineral. Sehingga diperoleh kombinasi dari 2 sifat komponen
penyusunnya. Dari unjuk kerja jelas lebih baik dari pelumas mineral. Namun
harganya juga jauh lebih kompromi dengan keuangan kita daripada harga
pelumas sintetis yang sangat mahal.
3.Aplikasi dan fungsi minyak pelumas

Minyak pelumas mesin atau yang lebih dikenal dengan nama oli atau oli mesin
memang banyak ragam dan macamnya. Bergantung jenis penggunaan mesin itu
sendiri yang membutuhkan oli yang tepat untuk menambah atau mengawetkan
usia pakai (life time) mesin.

Semua jenis oli pada dasarnya sama. Yakni sebagai bahan pelumas agar mesin
berjalan mulus dan bebas gangguan. Sekaligus berfungsi sebagai pendingin dan
penyekat. Oli mengandung lapisan-lapisan halus, berfungsi mencegah
terjadinya benturan antar logam dengan logam komponen mesin seminimal
mungkin, mencegah goresan atau keausan. Untuk beberapa keperluan tertentu,
aplikasi khusus pada fungsi tertentu, oli dituntut memiliki sejumlah fungsi-
fungsi tambahan. Mesin diesel misalnya, secara normal beroperasi pada
kecepatan rendah tetapi memiliki temperatur yang lebih tinggi dibandingkan
dengan Mesin bensin. Mesin diesel juga memiliki kondisi kondusif yang lebih
besar yang dapat menimbulkan oksidasi oli, penumpukan deposit dan
perkaratan logam-logam bearing.

Fungsi-fungsi dasar pelumas tentu saja adalah mengurangi gesekan dan


mencegah wear. Dalam realitanya, pelumas harus juga dapat memenuhi faktor
lainnya yang juga vital dalam pengoperasian peralatan. Mercedes-Benz sebagai
manufaktur otomobil dan engine telah membuat list, lebih dari 40 sifat-sifat
yang diperlukan agar dapat memenuhi
persyaratan sebagai engine oil. Minyak pelumas yang khusus seperti minyak
hidrolik dan minyak transmisi juga mempunyai persyaratan lainnya yang harus
dipertimbangkan, sedangkan produk padatan atau semi-padatan seperti gemuk
juga mempunyai persyaratan khusus dan diukur dengan cara yang lain pula.
Sifat-sifat pelumas yang diharapkan yaitu dapat menimbulkan aspek positif
(seperti mencegah wear dll.) sedangkan sifat yang tidak diharapkan yaitu
menimbulkan aspek negatif (seperti minyak menyebabkan bagian-bagian engine
terkorosi dll.). Sifat-sifat positif pelumas secara praktis untuk pelumasan
kendaraan adalah sebagai berikut:
Mengurangi gesekan - Dengan mengurangi gesekan berarti akan mengurangi
juga energy dan juga mengurangi pemanasan lokal. Mengurangi wear - Adalah
suatu kebutuhan menjaga peralatan agar tetap bisa beroperasi untuk periode
yang lama dan bekerja secara efisien. Pendingin - Di dalam engine, pelumas
juga berfungsi sebagai zat penukar panas antara bagian-bagian yang terpanasi
akibat pembakaran (misal: piston) dan sistem pelepas panas (misal: jacket
pendingin dll.). Pada sistem yang lain, pelumas sebagai pelepas panas dari hasil
gesekan atau kerja mekanik lainnya.
Anti korosi - Baik dari hasil degradasi pelumas atau akibat kontaminasi hasil
pembakaran, pelumas bisa bersifat asam dan menjadikan korosi pada logam.
Adanya uap air dapat juga menyebabkan karat pada besi. Oleh sebab itu
pelumas harus bisa menanggulangi efek-efek tersebut.
Pembersih - Pelumas juga sebaiknya bisa mencegah terjadinya fouling
serpihan-serpihan yang dihasilkan dari proses mekanis, dari hasil degradasi
pelumas itu sendiri maupun dari hasil proses pembakaran. Apa yang disebut
deposit adalah seperti karbon padat, varnish atau endapan. Ini dapat
mengganggu pengoperasian alat. Kasus ekstrem adalah ring piston tidak bisa
bergerak, dan aliran minyak tersumbat, hal ini bisa terjadi jika minyak pelumas
tidak mampu mencegah hal ini. Pencegahan deposit dan juga dispersi
kontaminan termasuk dalam kategori ini.
Seal - Minyak pelumas seharusnya dapat juga menjadi seal antara piston dan
silinder (piston ke ring dan ring ke dinding silinder). Untuk mendapatkan fungsi-
fungsi tersebut di atas berdasarkan tinjauan ekonomi, pelumas haruslah
mempunyai sifat-sifat tertentu sesuai dengan alat dimana pelumas itu
digunakan. Perlu ada kesesuaian antara persyaratan-persyaratan yang saling
bertentangan, beberapa batasan negatif terangkum sebagai berikut dibawah
ini, pelumas tidak boleh: Mempunyai viskositas yang terlalu rendah. Hal ini
akan memungkinkan kontak antara logam dengan logam menyebabkan
terjadinya wear serta dapat meningkatkan lepasnya/hilangnya pelumas.
Mempunyai viskositas yang terlalu tinggi. Hal ini akan meningkatkan tenaga
dan, dalam kasus engine, dapat menyulitkan pada saat start. Mempunyai indeks
viskositas yang terlalu rendah. Hal ini berarti bahwa lapisan film pelumas tidak
terlalu tipis pada saat temperatur tinggi
(atau tidak terlalu tebal pada saat temperatur rendah). Terlalu mudah
menguap. Tingkat penguapan tinggi (high volatility) akan menyebabkan tingkat
konsumsi pelumas naik akibat teruapkannya kandungan ringan dari pelumas
tersebut. Berbusa saat digunakan. Jika berbusa, minyak akan kehilangan sifat
pelumasannya, dan/atau berkurangnya minyak itu sendiri dari engine. Menjadi
tidak stabil karena terhadap oksidasi ataupun reaksi kimia. Pelumas engine
ditujukan untuk temperatur tinggi dan juga mencegah
kontaminasi asam atau zat kimia lainnya. Minyak pelumas haruslah tahan
terhadap hal ini agar pelumas tersebut tetap awet. Merusak komponen sistem
emisi, coating ataupun seal. Unjuk kerja konverter katalis dapat terdegradasi
oleh pelumas yang tidak stabil atau menggunakan additive yang tidak sesuai.
Beberapa peralatan menggunakan cat atau coating dan kebanyakan mempunyai
sifat sebagai seal. Bahan-bahan ini dapat terdegradasi secara serius oleh
pelumas. Menghasilkan deposit dari residu. Jika minyak pelumas mengalami
dekomposisi karena adanya logam yang padas (misalnya; ring dalam suatu
zona). Kondisi seperti ini dapat menghasilkan produk-produk oksidasi yang
berpolimerisasi membentuk lapisan kuning atau cokelat yang diketahui sebagai
"varnish" atau "lacquer". Ini lama-lama akan bertambah terus dan kemudian
terjadi karbonisasi sehingga menjadi Carbon padat. Deposit ini akan menggangu
gerak pada bagian yang
seharusnya bisa secara bebas gerakannnya (misal, ring piston). Selain tidak
memproduksi deposit pada bagian yang bergerak engine, pelumas juga
sebaiknya tidak menghasilkan deposit di ruang pembakaran. Ini mendorong
terjadinya penyulutan awal (pre-ignition).
Beracun atau bau tak sedap. Hal ini diperlukan untuk kenyamanan dan
kesehatan pengguna
3. Minyak pelumas bekas

1.Potensi Minyak pelumas bekas


Minyak pelumas berfungsi sebagai pencegah keausan akibat gesekan komponen
mesin, pendingin, perapat, peredam suara dan mencegah korosi. Dalam
menjalankan fungsinya setelah jangka waktu tertentu minyak pelumas harus
diganti karena tidak lagi memenuhi spesifikasi yang diperlukan oleh mesin.
Sejalan dengan lajunyan pembangunan, makin banyak diperlukan alat
transportasi dan mesin-mesin yang membutuhkan minyak pelumas. Hal ini
berarti pula makin banyaknya jumlah minyak pelumas bekas yang dihasilkan.
Apabila minyak pelumas bekas tersebut langsung dibuang, tentu saja akan
mencemari lingkungan karena dalam minyak pelumas bekas terkandung
kotoran-kotoran logam, aditif, sisa bahan bakar dan kotoran yang lain. Jika
minyak pelumas bekas dipakai dalam pembakaran langsung akan mencemari
lingkungan karena bau dan sisa karbonnya.

Gambar 1. Proses Minyak Pelumas Bekas sampai Produk Akhir

Dalam perkembangan masyarakat juga dibidang kendaraan dan industri


masalah minyak pelumas bekas tidak dapat dianggap masalah yang ringan.
Sebelum mengulas beberapa teknik dalam produksi pelumas dari oli bekas,
adalah sangat baik apabila memahami manfaat dari penjernihan kembali oli
bekas sampai produk akhir.
Sesuai dengan prosedur standart setiap tahun berton-ton oli bekas terkumpul.
Prosedur yang baik dan profesional dalam mengolah oli bekas, yaitu dengan
memilih antara lain :
1. Meninggalkan oli bekas dalam lingkungan kita apa adanya.
2. Membuat oli bekas sebagai bahan bakar.
3. Penjernihan kembali oli bekas dan memproduksi base oli.

2.Karateristik minyak pelumas bekas


Membuang oli bekas dalam sekejap akan mempolusi lingkungan kita. Polutan
dalam oli yang tak larut akan sangat merusak. Adalah sangat bijak apabila kita
menjernihkan kembali oli bekas agar tidak merusak lingkungan. Oli bekas dapat
diubah menjadi base oli dengan menghilangkan subtansi seperti air, senyawa
hidrokarbon ringan, abu dan asphalt. Setelah filtrasi pertama penyesuaian yang
kedua adalah penentuan nilai.
1. Viskositas yang sesuai
2. Viskositas indek yang sesuai
3. Low dropping point
4. pH
5. Colour (warna)

Secara teknis minyak pelumas yang diperoleh dari proses penjernihan kembali
lebih superior daripada oli yang berasal dari base oli. Dengan penjelasan
bahwa dalam base oli orisinil ada banyak ikatan molekul yang lemah. Dalam
mesin dengan temperatur tinggi dapat memutuskan ikatan molekul tersebut.
Oli penjernihan kembali akan mempunyai molekul yang lebih kuat karena telah
lolos melewati proses break down dalam mesin tersebut.

Kontaminasi
Kontaminasi terjadi dengan adanya benda-benda asing atau partikel pencemar
di dalam oli. Terdapat delapan macam benda pencemar biasa terdapat dalam
oli yakni

1. Keausan elemen. Ini menunjukkan beberapa elemen biasanya terdiri dari


tembaga, besi, chrominium, aluminium, timah, molybdenum, silikon, nikel
atau magnesium.
2. Kotoran atau jelaga. Kotoran dapat masuk kedalam oli melalui embusan
udara lewat sela-sela ring dan melaui sela lapisan oli tipis kemudian merambat
menuruni dinding selinder. Jelaga timbul dari bahan bakar yang tidak habis.
Kepulan asam hitam dan kotornya filter udara menandai terjadinya jelaga.
3. Bahan Bakar
4. Air. Ini merupakan produk sampingan pembakaran dan biasanya terjadi
melalui timbunan gas buang. Air dapat memadat di crankcase ketika
temperatur operasional mesin kurang memadai.
5. Ethylene gycol (anti beku)
6. Produk-produk belerang/asam.
7. Produuk-produk oksidasi Mengakibatkan oli bertambah kental. Daya oksidasi
meningkat oleh tingginya temperatur udara masuk.
8. Produk-produk Nitrasi. Nitrasi nampak pada mesin berbahan bakar gas alam

Tabel 3. 1Kadar logam dalam minyak pelumas menurut sumber


asalnya.

No Sumber Asalnya Unsur Logam Simbol


1 Piston Aluminium, copper dan iron Al, Cu, Fe.
2. Ring Piston Chromium, Nickel, Cr, Ni, Mb

Molybdenum
3. Bantalan Aluminium, Antimon, Al, Sb, Cd, Co, Cu, Pb,

Cadmium, Cobal, Copper, Mg, Ag, Sn, Zn.

Lead, Magnesium, Silver,

Tin, Zinc
4. Silinder Liner Chromium, Iron Cr, Fe
3.Metode rerefining minyak pelumas bekas
Beberapa cara pemulihan kembali minyak pelumas bekas yang digunakan
untuk industri , antara lain ;
1. Acid clay treating.
Minyak pelumas bekas ditreating dengan asam sulfat pekat yang
berguna untuk mengendapkan kotoran yang ada sehingga kotoran
tersebut dapat dibuang. Selanjutnya di treating dengan clay yang
berguna untuk menyerap aroma yang masih tertinggal didalam
minyak oli bekas. Proses ini sederhana dengan biaya relatif murah.
Kelebihan ;

a) Sudah sejak lama dan sangat populer proses acid clay digunakan
untuk recycling oli bekas, merupakan teknologi yang sudah
terbukti dipakai bertahun tahun diseluruh dunia. Dapat diset up
untuk kapasitas yang kecil.
b) Modal investasinya rendah, membuatnya menjadi sangat efektif
untuk plant skala kecil dan menengah.
c) Prosesnya sangat sederhana, mudah dioperasikan, tidak ada
peralatan yang rumit dan tidak membutuhkan operator ahli.

Kekurangan

a) Menyebabkan polusi lingkungan disebabkan munculnya acid


sludge ( lumpur asam ) dan emisi gas asam. Buangan lumpur
asam adalah masalah.
b) Menyebabkan korosi peralatan akibatnya mengurangi umur
pakainya.
c) Hasilnya lebih sedikit. Disebabkan hilangnya oli dalam lumpur,
apalagi jika dibutuhkan lumpur yang lebih banyak.
d) Kebanyakan pemerintahan sudah membuat peraturan melarang
proses tersebut untuk mengontrol polusi lingkungan. Oleh karena
itu proses ini tidak dipakai lagi.

2. Detergent Extraction.
Mengunakan konsumsi air yang sangat banyak untuk mencuci pelumas
bekas sehingga kandungan kontaminan yang berujud logam dapat
dipisahkan. Penambahan surfaktan atau detergen agar diperoleh
bentuk emulsi yang stabil. Emulsifier yang digunakan ABS, texafon,
tepool dan lain lain. Untuk memecah emulsi digunakan CaCl.
Proses ini serupa dengan memecah santan kelapa menjadi minyak
dan blondo, untuk memecah emulsi disamping digunakan bahan kimia
digunakan proses fisika juga, yaitu dengan mengalirkan sejumlah
minyak yang teremulsi melewati sepasang logam yang bermuatan
listrik maka akan terpisahkan dua komponen minya yang jernih dan
air yang sudah mengandung kotoran.

3. Clay Distillation
Minyak pelumas bekas didestilasi vacum sehingga diperoleh lumpur,
lube oil distillate, light oil, air. Lube oil distillate diproses lagi
dengan clay treating agar diperoleh lube oil stock (base oil).
Kelebihan

a) Sangat sesuai digunakan untuk plant kapasitas tinggi


b) Layak dioperasikan pada vakum tinggi dan biasanya digunakan
untuk produk yang berharga dan sensitif terhadap panas.
c) Tidak menyebabkan polusi.
d) Sophisticated Equipments & Process
e) Menghasilkan base oil kualitas tinggi.

kekurangan:
a) Pengoperasian pada temperatur dan vakum yang tinggi
membutuhkan sistem pemanasan dan fluida pemanas yang
khusus.
b) Membutuhkan investasi modal yang sangat tinggi.
c) Plant harus yang berkapasitas sangat besar agar bisa
mendapatkan keuntungan.
d) Membutuhkan operator dan staf ahli yang sangat
berpengalaman.
e) Beaya bahan bakar yang lebih mahal. Disebabkan multiple
stage distilasi yang meliputi pemanasan dan pendinginan.
4. Hydrotreating

Prinsipnya sama dengan clay distillation, hanya setelah distilasi


vacum lube oil distillate diproses lagi dengan proses hydrotreating.

4. Teknologi penjernihan minyak pelumas

A. Acid clay treatment


Oli bekas dilewatkan dalam suatu suatu filter untuk memisahkan partikel-
partikel yang besar dari oli bekas. Kemudian oli dilewatkan dalam filter magnit
yang dapat menghilangkan partikel-partikel logam. Selanjutnya oli bekas
dimasukkan dalam suatu reaktor untuk memisahkan gas dan air dari oli bekas.

Setelah oli terpisah dari air kemudian oli masuk dalam tahap pengasaman yaitu
oli bekas dicuci dengan asam sulfat pekat, manakala terjadi pemisahan antara
tar (sludge) dan oli bagian atas oli yang mulai jernih ditransfer ke treatment
lempung (clay).

Pada tahap ini lempung (clay) digunakan untuk memudarkan warna minyak dan
menghilangkan kelebihan asam selain itu juga untuk menyerap partikel-partikel
karbon yang ada dalam minyak, kemudian oli dipompa dilewatkan dalam filter
pres yang hasilnya merupakan base oli yang telah jernih dan dapat digunakan
untuk produksi minyak mesin, minyak transmisi, minyak industri serta stempet.

Penambahan asam sulfat dimaksudkan untuk menghilangkan kotoran yang


berupa hasil oksidasi pada temperatur tinggi, hasil cracking dan senyawa
aroamtis lainnya. Kotoran tersebut akan bereaksi dengan asam sulfat dan
membentuk lumpur (sludge) di bagian bawah. Sisa asam dan kotoran akan
diserap pada clay treatment pada proses berikutnya. Faktor-faktor yang
mempengaruhi acid tretment :
1 Jumlah asam sulfat yang dipakai
Pemakaian asam sulfat harus sesuai dengan kebutuhan. Semakin
banyak asam sulfat yang dipakai semakin banyak pula senyawa
aromatis dan hydrokarbon tak jenuh yang dihilangkan.

2 Konsentrasi asam sulfat


Untuk minyak lumas bekas dipakai asam sulfat pekat dengan kadar
kosentrasi 96 % teknis.
3 Temperatur
Untuk minyak pelumas bekas suhu operasi pengendapan sekitar 43 – 82o
C. apabila suhu rendah settling akan lama, tetapi bila suhu tinggi akan
menimbulkan warna lebih gelap.
4 Waktu kontak
Untuk mencari waktu kontak yang baik harus diketahui ukuran dispersi
dari sludge dan waktu yang diperlukan untuk memisahkan sludge dari
minyak.
Untuk minyak pelumas diperluakan waktu 10 menit, jika dilakukan
dengan proses kontinyu. Bila dilakukan dengan secara batch disertai
dengan pengadukan waktu yang dibutuhkan + 90 menit.

1. Diagram Alir Proses Acid Clay.

No Proses Keterangan
1 Penampunagan minyak
pelumas bekas

2 Filter kasar digunakan


untuk memisahkan minyak
pelumas bekas dari
pengotor yang besar, plastik
, kayu, batu dll
3 Dewatering untuk
memisahkan minyak
pelumas bekas dari dari air
yang ada didalamnya.
Pemanasan sampai 120 der
celsius

4 Cooling, untuk
mendinginkan minyak
pelumas sampai suhu
kamar. Jika masih panas
masuk proses acid treatment
bisa meledak.

Acid treatment, asam sulfat


ditambahkan kedalam
tempat pencampuran.
Oli 1 drum, 10 sd 20 kg
asam sulfat, diputar selama
1 jam, 500 rpm

Decantasi, pengendapan.
Penambahan asam sulfat
digunakan untuk
mengendapkan kandungan
logam yang ada dalam
minyak pelumas bekas,
bagian atas yang jernih
diambil untuk proses
berikutnya.
Bagian bawah tempat
pengendapan dijadikan satu,
untuk dikumpulkan
lumpurnya ( sludge ).
Sludge sangat berbahaya
karena mengandung asam
sulfat pekat. Dadap diproses
menjadi aspalt asam.

Clay treatment,
Oli 1 drum, bentonite 1 sak
( 25 kg ), diputar selama 1
jam, 500 rpm, tempertur
150 der celsius

Filter press,
Bentonit berguna untuk
mengikat kandungan karbon
( ash ) yang ada dalam oli.
Setelah melalui filter press
oli menjadi sangat jernih
Penampungan sementara,
Dari filter press oli masuk
ke penampunagn sementara

Mixer yang digunakan


untuk mengubah performan
dari oli, penambahan
paerfum aditif, pewarna
dilakukan dlam mixer
tersebut

Packaging
Tambahan
Alat yang digunakan untuk
memperbaiki drum yang
rusak

2. Site Plant (Denah Lokasi)


1.Lay out bangunan pabrik

W C 2 1
3
1 2 9
1 5

A L A T 6
T E K N I K 4
1 4 2 0
1 7
5
7

1 1 8
G U D A N G
B E N T O N I T

1 8

1 9
1 0
1 3

1 2
1 6

Keterangan Gambar :

1.Sampai 3, Settling oil setelah treament H2SO4


4 mixer acid treatment
5 mixer clay treatment 4 drim
6 & 7 tenki pendinginan minyak
8 dewatering
9 genset
10 gudang oli bekas
11 filter pres
12 gudang base oli
13 gudang bentonit
14 gudang alat teknik
15 WC
16 Kantor
17 tanki penyimpan minyak tanah
18 kompresor angin
19 alat pemadam kebakaran
20 mixer clay treatment 40 drim
21 gas purification

2.Lay out bangunan dan areal pabrik

3
5
2

Keterangan Gambar :

1. Pintu pabrik
2. Bangunan pabrik
3. Halaman belakang pabrik
4. Kebun
5. Kebun
6. Kebun pabrik

3. Daftar peralatan yang digunakan.


Pretreatment Alat :
Menghilangkan partikel padat 1. Pompa 350 rpm 3 pk
2. Filter kawat kasa
3. Dinamo 3 pk

Menghilangkan air dalam Alat ;


minyak pelumas bekas 1. Tangki kapasitas 5000 lt
2. Kompor/Burner
3. Thermometer
4. Dinamo 3 pk
5. Pompa 3 pk

Pendinginan oli bekas Alat ;


1. Bak pendingin 2 buah
2. Kipas pendingin 2 buah
3. Dinamo 3 pk
4. Pompa 3 pk
Acid Treatment Alat :
Mixing 1. Tangki acid kap. 10 drum
2. Dinamo 3 Pk

Acid Treatment Alat ;


settling 1. Tangki fiber glass kp. 25 drum 4 buah
2. Pemanas stainless
Clay Treatment Alat :
Mixing 1. Tangki 40 drum
2. tangki 4 drum
3. Dinamo 3 pk 2 buah

Filtering Alat ;
1. Filter press 90 cm
2. Filter press 50 cm
3. Dinamo 3 pk 3 buah
4. Pompa 350 rpm 3 buah
Penampung Alat ;
1.Tangki kap 10 drum.
2.Dinamo 3 pk
3. Pompa 3 pk
Tanki minyak tanah Alat ;
1. Tanki besar kap. 5000 lt
2. tanki kecil kap. 400 lt
Pemadam kebakaran Alat :
2 buah alat peamdam kap. 2 kg
Packaging Alat :
1. Dinamo 2 pk
2. Pompa
3. Drum 200 lt 100 bh
Perawatan tangki Alat ;
1. Press tanki 1 buah
2. Bak pembersih tanki

Laboratorium Alat :
1. Timbangan
2. Gelas ukur
3. Gelas reaksi
4. Tempat sample
5. pH meter
6. Mixer
7. pemanas listrik

Pembangkit sumebr daya Alat ;


listrik 1. Genset 13 pk
2. Genset 90 kva

Kompresor angin Alat ;


Kompresor angin 3 pk
Limbah Alat ;
1. Tanki penampung blotong
2. Mixer

3. Treatment terhadap Sludge

Pada proses acid treatment maka akan dihasilkan tar (sludge), dalam hal ini
sludge merupakan limbah yang sangat berbahaya maka perlu treatment kapur
agar limbah tersebut dapat menjadi padat yang mana selanjutnya dapat
digunakan untuk bahan bakar gamping.

4. Konversi acid sludge menjadi acid asphalt

A process for converting acid sludge to un-oxidized asphalt, comprising:


altering the pH of the acid sludge by adding a pH elevating agent to said acid
sludge, said pH elevating agent having a pH ranging from 3-14, said volume and
pH of said pH elevating agent being sufficient to raise the pH of said acid
sludge to from approximately 3 to approximately 7 such that the acid sludge
does not become sandy and un-meltable at temperatures from room
temperature up to approximately 275 degrees centigrade, thereby creating an
intermediate mixture comprising a layer of liquid and a layer of intermediate
sludge having a pH in the range from 3-7, and;
separating said liquid layer from said layer of intermediate sludge; and
heating said intermediate sludge to a temperature sufficient to evaporate the
water content of said intermediate sludge and holding said intermediate sludge
at an elevated temperature above the boiling point of water for a time
sufficient to evaporate substantially all the water content of said intermediate
sludge thereby converting the intermediate sludge to a soft, un-oxidized
asphalt. ( US patents 5470455 )
Berikut adalah kumpulan patent dari USPTO ( united state patent office )
merubah acid sludge menjadi bahan lain;

3971713 Process for removing sulfur from crude oil Jul 27, 1976
4029569 Process for reclaiming spent motor oil Jun 14, 1977
4238241 Acidic asphaltic composition and method Dec 9, 1980
4331481 Acidic asphaltic composition and method May 25, 1982
4559128 Method for producing industrial asphalts Dec 17, 1985
5049256 Recovery of hydrocarbons from acid sludge Sep 17, 1991
5288392 Process for converting acid sludge to intermediate Feb 22, 1994
sludge

B. Ekstraksi detergen
1. Kandungan logam dalam minyak pelumas bekas
Pengolahan minyak pelumas biasanya mencakup beberapa tahap dan setiap
tahap bertujuan untuk menghilangkan komponen tertentu yang tidak
diinginkan agar didapat bahan minyak pelumas yang memenuhi syarat
utama. Persyaratan utama yang harus dipenuhi sebagian bahan dasar
minyak pelumas adalah indeks viskositas yang cukup tinggi, titik tuang yang
cukup rendah dan stabilitas terhadap oksidasi. Jenis hydrokarbon yang
mempunyai sifat-sifat tersebut terutama jenis karbon parafinik, dan dari
jenis isoparifinik atau berikatan naften atau aromat yang memiliki rantai
panjang parafin.

Hydrokarbon aromat, resin dan aspal dipisahkan dari bahan baku minyak
pelumas tersebut dengan ekstrasi pelarut, misalnya furfural untuk
mengeluarkan aromatnya dan menghilangkan aspal dengan pelarut propanal
agar terpisah produk aspal dari resin.
Senyawa logam-logam dalam produk berat bahan baku minyak pelumas
merupakan senyawa logam organik dan anorganik. Logam organik biasanya
terikat pada ikatan yang komplek seperti senyawa porfirin, sedangkan
logam anorganik dapat berupa garam atau senyawa. Biasanya bahan minyak
pelumas ini memerlukan peningkatan kwalitasnya yaitu dengan
menambahkan zat tambahan (aditif) sebelum minyak tersebut siap pakai.

2. Ekstraksi.
Proses ekstraksi dengan larutan detergent sebagai pelarut dapat
menurunkan kandungan logam dalam minyak pelumas bekas. Ekstrasi
dilakukan dengan mendispersikan pelarut dalam minyak pelumas bekas,
dengan pengadukan dan pemanasan.
Kandungan logam dalam minyak lumas bekas bukan berasal dari bahan dasar
minyak pelumas, melainkan berasal dari aditif yang ditambahkan, logam
ausan, kontaminasi dari bahan bakar bensin yang memgandung logam timah
hitam, debu atau kotoran dari udara, zat pendingin serta air pendingin yang
dipakai untuk mendinginkan mesin. Daftar berikut ini merupakan sumber
asal unsur logam yang terdapat dalam minyak lumas bekas.
Tabel. Sumber asal unsur logam dalam minyak lumas bekas mesin
diesel dan mesin bensin.

UNSUR
No SIMBU SUMBER ASAL
LOGAM L
1. Aluminium A1 Piston, bantalan, kotoran dari udara
Bantalan
2. Antimony Sb Aditif, air pendingin
3. Barium Ba Aditif, zat pendingin
4. Boron Bo Bantalan
5. Cadmium Cd Aditif, air pendingin
6. Calsium Ca Liner silinder, ring piston, poros
7. Chromium Cr engkol, zat pendinginan
Bantalan
8. Cobalt Co Bantalan
9. Copper Cu
Liner silinder, poros engkol karat
10. Iron Fe Bantalan bahan bakar
Aditif, bantalan
11. Lead Pb Aditif, ring piston
12. Magnesium Mg Poros, ring piston
13. Molybednum Mo Aditif, zat pendingin
14. Nickel Ni Aditif, zat pendingin
15. Phosphorous P Kotoran dari udara
16. Potasium K Bantalan
17. Silicon Si Aditif, zat pendingin
18. Silver Ag Bantalan, zat pendingin
19. Sodium Na Aditif, bantalan
20. Tin Sn
21. Zinc Zn

Untuk menurunkan kandungan logam dalam minyak lumas bekas dilakukan


dengan proses ekstrasi menggunakan pelarut yang bersifat aktif permukaan.
Senyawa-senyawa logam anorganik yang terdapat dalam minyak lumas bekas
mudah dilarutkan oleh air, sedangkan senyawa logam organik menunjukkan
sifat aktif permukaan karena dalam molekul yang sama mengandung gugus
hydrofob dan hydrofil.
Ekstrasi dengan menggunakan air kurang dapat menurun logam organik dalam
minyak lumas bekas. Penggunaan pelarut yang bersifat aktif permukaan akan
dapat membantu menurunkan kandungan logam organik dalam minyak lumas
bekas.
Proses penurunan kandungan logam-logam dalam minyak lumas bekas pada
prinsipnya aalah pencucian dengan mengunakan suatu zat yang bersifat aktif
permukaan. Zat dengan aktif permukaan berfungsi sebagai zat pengemulsi
yang akan menurunkan tegangan antar muka.
Dengan turunkan tegangan antar muka antara minyak lumas bekas dengan
pelarut kaka kotoran-kotoran dalam minyak lumas bekas akan tertarik
kelapisan antara muka dan terselubungi oleh pelarut membentuk sistem
emulsi.

Sistim emulsi yang terbentuk dapat berjenis air dalam minyak atau minyak
dalam air, tergantung perbandingan minyak - air dan jenis emulsifying agent
yang digunakan. Sabun logam alkali, misalnya natrium oleat lebih larut dalam
air dari pada benzene, sehingga akan membentuk emulsi dengan jenis minyak
dalam air. Sedangkan sabun logam yang bermartabat dua lebih larut dalam
minyak daripada dalam air, sehingga emulsi yang distabilisasi dengan calsium
oleat akan berjenis air dalam minyak.

Kestabilan sistim emulsi yang diperoleh tergantung pada volume pelarut yang
digunakan. Makin sedikit jumlah pelarut yang digunakan maka emulsi yang
diperoleh makin stabil, ini disebabkan karena fase terdispersi akan tersebar
dalam fase kontinyunya sehingga mempersukar terjadinya penggumpalan fase
terdispersi.

Setelah terjadi kesetimbangan akan terbentuk sistem emulsi yang stabil,


dimana zat terlarut didesak dari lapisan minyak dan terardsorpsi pada lapisan
antara permukaan, sistim emulsi dipecah dengan menggunakan zat pemecah
emulsi. Prinsip pemecah emulsi yang digunakan adalah membalik jenis emulsi
stabil yang sudah terbentuk, yaitu dengan mereaksikannya dengan garam.
Misalnya pengemulsi Natrium oleat dapat direaksikan dengan garam alkali
tanah sehingga berubah menjadi sabun bermartabat dua atau tiga yang
berhasrat untuk membalik jenis emulsi.
Pemecahan emulsi ini berfungsi untuk membuat tetes terdispersinya
bergabung kembali. Dengan bergabungnya tetes terdispersinya maka logam-
logam dan kotoran yang terdapat dalam minyak lumas bekas baik yang
organik maupun anorganik akan turun kelapisan bawah. Dengan demikian
maka logam-logam dan kotoran yang terdapat dalam minyak lumas bekas
dapat diturunkan.

Penambahan pelarut akan lebih menguntungkan jika dilakukan secara


bertahap. Sebagai contoh, jika v ml larutan 1 yang mengandung w gram zat
yang akan dipisahkan oleh s ml pelarut (larutan 2) dimana kedua larutan tak
saling melarut. Sesudah proses pemisahan zat yang tertinggal dalam larutan 1
adalah sebanyak w1 gram dan bila d adalah koefisien distribusi, maka dalam
larutan 1 kepekatannya adalah w1/v dan dalam larutan 2 kepekatannya
adalah ( w – w1) / s.

D = [ (w – w1) / s] (w1 – v)
W1 = w / [v/(Ds + v)]

Jika fraksi yang tertinggal ini dikontakkan lagi dengan s ml pelarut yang sama
maka jumlah yang tertinggal larutan 1 adalah :
W2 = w1 [v/(Ds + v)]
= w [v/(Ds + v)]2
Demikian seterusnya, bila yang ke-n kali maka ;
Wn = w [v/(Ds + v)]n

Detergent ekstran yang digunakan merupakan bahan pembersih yang


mengandung fosfat, kaustic soda, dan garam alkali.

4. Adsorpsi
Treatment dengan lempung ini dimaksudkan untuk menyerap kotoran yang
masih tertinggal misalnya zat-zat karbon, air dan sisa asam. Selain itu juga
dimaksudkan untuk memperbaiki warna minyak dan menghilangkan bau.
Dengan menggunakan adsorbent dalam bentuk tepung yang halus yang
dicampurkan dalam cairan minyak pelumas bekas yang sudah melalui proses
acid treatment, campuran diagitasi dengan kecepatan dan dipanasi pada suhu
tertentu. Kemudian adsorbent dihilangkan dari cairan dengan penyaringan
dengan menggunakan filter press. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada
proses kontak adalah ;
1. Lama waktu kontak antara bleaching earth dengan cairan yang
dijernihkan.
2. Kecepatan putaran agitasi.
3. Konsentrasi bleching earth.
4. Suhu operasi proses kontak.

5. Filtrasi
Dimaksudkan untuk memisahkan lempung dan minyak dengan menggunakan
filter press. Penyaringan dengan filter press dilakukan karena dipakai proses
kontak antara lempung dengan minyak lumas bekas dilakukan pada temperatur
120o C agar minyak lebih mudah melewati filter press.

Gambar filter press untuk menyaring dan memisahkan bentonit dari miyak
pelumas bekas.
Untuk minyak pelumas bekas yang lebih kental suhu operasi dapat mendekati
150 derajat. Apabila suhu kurang dari suhu operasi maka minyak akan sulit
untuk keluar dari filter press tetapi jika suhu sangat tiggi maka akan terjadi
reaksi oksidasi menyebabkan berwarna hitam.

6. Blending.

Gambar mixer untuk mencampur pewarna dan parfum

Adalah proses untuk merubah penampilan minyak agar lebih diterima


konsumen khususnya merubah warna, bau dan kekentalan. Penambahan
aditif pada minyak base oil agar sesuai dengan spesifikasi dengan standart
API atau standar SII.
5. Aplikasi produk
Aplikasi dari hasil proses penjernihan minyak pelumas bekas ada berbagai
macam, aplikasi yang disajikan berdasar pada penemuan patent di Amerika
serikat. Paten tersebut sudah menjadi publik domain, oleh karena itu siapapun
bisa menggunakan produk paten tersebut.

Aplikasi meliputi penggunaan untuk pelumas, bahan bakar dan bahan bakar
emulsi. Penggunaan bahan bakar emulsi belum begitu dikenal di indonesia,
padahal bahan bakar emulsi sudah dipakai dan diuji di eropa dan amerika.
Kasus pak joko dari nganjuk yang mencampur bahan bakar diesel dan bensin
dengan air bukan merupakan teknologi baru.

1. Konversi ke bahan bakar cair


A process for converting oils comprising waste oil or fat to fuel, comprising
flowing oil or fat to a primary pool in a thermocracking unit, heating the
primary pool with a primary burner by producing a flame in a fire tube within
the thermocracking unit, vaporizing a part of the oil or fat above the heated
pool, flowing the vapor through a primary distillation tower, maintaining heat
of the vapor by heating the distillation tower, condensing a part of the vapor in
the primary tower and returning the condensed part to the primary pool,
flowing a remainder of the vapor to a first overhead condenser, cooling and
condensing a part of the remainder of the vapor into a liquid, flowing the liquid
downward through a secondary distillation tower into a secondary pool, heating
the secondary pool with flue gases from the fire tube, combusting a fuel gas
proximal the secondary pool for further heating the secondary pool, vaporizing
a part of the liquid in the secondary pool and passing vapor from the secondary
pool through the secondary distillation tower, condensing a portion of the
vapor from the secondary pool in the secondary distillation tower and flowing
the condensed portion downward to the secondary pool, flowing remaining
vapor to a second overhead condenser, cooling the remaining vapor and
condensing a part thereof, transferring the remaining vapor and the condensed
part of the remaining vapor to a light ends flash tank to form liquid and gases,
transferring the liquid from the light ends flash tank to a light ends liquid
storage tank, flowing the gases from the light ends flash tank as fuel gases to
an auxiliary burner, flowing liquid product from the secondary pool to a
product cooler and cooling the liquid product, flowing the cooled liquid
product to a sample point and sampling the cooled liquid product, flowing the
cooled liquid product that is within-specification from the sample point to a
diesel fuel storage tank, flowing off-specification liquid product from the
sample point to a reflux storage tank, flowing the off-specification liquid from
the reflux storage tank through a heater and into the upper end of the primary
distillation tower and down through the primary distillation tower toward the
primary pool, collecting sludge at a bottom of the primary pool and
transferring the sludge from the primary pool to a sludge storage tank, flowing
the sludge as fuel to the primary burner and burning the sludge in the fire tube
for heating the primary pool, further comprising treating the waste oil or the
fat prior to flowing the waste oil or the fat to the primary pool in the
thermocracking unit, said treating allowing for removal of any unrequired
organic compounds from the waste oil or the fat prior to the flowing in the
thermocracking unit. US Patent 5527449
Proses diatas menggambarkan bahwa minyak pelumas bekas, minyak goreng
bekas dan lemak binatang diproses kembali menjadi bahan bakar diesel dan
naphta dengan thermocracking. Lebih jauh lagi dapat dipelajari dari US patent
diatas.

2. Minyak bakar

Method and apparatus for converting residual hydrocarbon oils to a fuel gas
which has essentially the same heating value and density as natural gas and
which may therefore be distribuied through the same lines. The residual
oil containing one or more metallic modifiers as catalysts, which may be
natnrally occurring in the oil or added thereto, is pyrolyzed at low
temperatures (up to 1400" F.) and low pressures (up to about 30 p.s.i.g.); and
from the products of pyrolysis a fuel gas is separated. The fuel gas is a mixture
of methane, hydrogen and ethane/ethylene wherein the molar ratio of
hydrogen to ethane/ethylene is about one-to-one. US Petent 3 712 800

Proses diatas menggambarkan suatu metode dan peralatan untuk memproses


residu hidrokarbon berat dan secara khusus untuk memproduksi bahan bakar
gas yang secara langsung dapat digunakan untuk mengganti gas alam, lebih
lanjut dapat dipelajari di Patent diatas.

3. Bahan bakar emulsified


Stable microemulsion fuel compositions are provided which comprise (a) a
hydrocarbon fuel such as diesel fuel, jet fuel, gasoline, or fuel oil; (b) water
and/or methanol; and (c) a novel cosurfactant combination of tertiary butyl
alcohol and an ionic or nonionic surfactant. The compositions of the invention
exhibit a high degree of phase stability even over wide variations of
temperature, greatly improved salt tolerance and reduce smoke particulate
and NO, emissions. US paten 4 744 796
Penemuan diatas membahas tentang bahan bakar emulsi untuk diesel, jet,
bensin dan minyak bakar dicampur dengan air atau methanol dan berbagai
macam surfaktan untuk mempertahankan kestabilan emulsinya. Baik surfaktan
ionik dan non ionik. Lebih jauh lagi dapat dipelajari dari paten diatas.

Gambar diagram kestabilan emulsi bahan bakar emulsi

Untuk bahan hidrokarbon yang lebih kental paten dibawah ini dapat
dipergunakan sebagai refernsinya.

A method for forming a stable emulsion of a viscous hydrocarbon in an aqueous


buffer solution includes the steps of: providing a viscous hydrocarbon
containing an inactive natural surfactant and having a salt content by weight of
less than or equal to about 15 ppm and having a water content by weight of
less than or equal to about 0.1%; forming a solution of a buffer additive in an
aqueous solution to provide a basic aqueous buffer solution, the buffer additive
being operative to extract and activate the inactive natural surfactant from the
viscous hydrocarbon; and mixing the viscous hydrocarbon with the aqueous
buffer solution at a rate sufficient to provide an emulsion of the viscous
hydrocarbon in the aqueous buffer solution, whereby the buffer additive
extracts the inactive natural surfactant from the viscous hydrocarbon into the
aqueous buffer solution and activates the inactive natural surfactant so as to
stabilize the emulsion. According to the invention, the buffer additive is
a water soluble arnine. The inactive natural surfactant contained in the viscous
hydrocarbon includes carboxylic acids, phenols, esters, and mixtures thereof.
Bimodal emulsions, having two distinct droplet size distributions, are also
formed according to the method of the present invention and have improved
viscosity characteristics. US Patent 5,556,574

Penemuan diatas menjelaskan emulsi bahan hidrokarbon yang kental dalam air
yang dipergunakan sebagai bahan bakar.

4. Gemuk pelumas
Merupakan dispensi dari sabun logam ( metalic soap) dalam minyak pelumas,
dan bervariasi dari yang agak cair sampai padatan yang keras biasanya
menggunakan sabun sodium atau kalsium tetapi untuk tujuan khusus digunakan
sabun aluminium atau lithhium. Gemuk pelumas digunakan untuk melumasi
bearing yang terbuka dan bagian yang bergerak dimana minyak pelumas tidak
dapat digunakan.

Komponen utama dari gemuk pelumas adalah minyak bumi dan sabun. Minyak
bumi mengandung bagian yang bervariasi dari parafinik, naptenik da aromatik.
Sabun yang digunakan untuk gemuk pelumas dapat berasal dari minyak
binatang , tumbuhan dan asam lemak, lemak wool / lanolin vesin atau asam
minyak bumi. Ada juga komponen tertentu yang ditambahkan pada gemuk
pelumas untuk menambahkan sifat-sifat khusus. Komponen tersebut adalah
rust inhibitor, ati oksidas, pacifator, colour stabiliser, VI improver dan agen
penjaga keausan. Gemuk produksi yang dipertebal secara baik agar gemuk
tetap kontak dengan bagian yang bergerak dan tidak bocor karena pengaruh
gravitasi atau oleh gaya sentrifugal, atau terdorong lepas karena tekanan dan
menimbulkan gesekan awal pada bearing.
Gemuk pelumas mempunyai konsistensi yang bermacam-macam dari cairan
yang bergerak bebas sampai yang berbentuk semi padat dengan berbagai
macam variasi derajat viscositasnya ditentukan sesuai dengan metode ASTM.

Penyusun yang ada dalam pelumas gemuk bervariasi sesuai komposisinya.


Penyusun utama gemuk adalah minyak pelumas dari kandungan 50% (sekeras
bata) sampai kandunagan 90% gemuk pelumas yang sangat lunak.
Gemuk mengandung bahan seperti ini :
A. minyak mineral
Adalah produk minyak bumi yang termasuk fraksidistilat berat.
Mempunyai titik diatas 300°C, ditemukan dalam bentuk cair dapat
digunakan untuk berbagai macam tujuan, khususnya untuk melumasi
bagian mesin yang bergerak atau bergesekan. Merupakan komponen
hidrokarbon dengan berat molekul yang tinggi yang mempunyai atom
karbon 20-40 buah dan umumnya mengandung 1-2 inti naptena dan atom
anomatik dengan berantai panjang parafin. Hidrokarbon ini mempunyai
isomen-isomen yang jumlahnya mungkin
B. thicner
Thicner adalah sabun logam ( metal soap) diperoleh dari proses
spontinasi minyak atau asam lemak dengan hidroksida dan kalsium,
sodium, lithium, alumunium dan sebagainya. Kadang kadang juga
digunakan thicner bahan sabun seperti pigment, phtalocyanine, silica
gel, karbon black dan bentonite termodifikasi.
C. Struktur modifer
Struktur modifen merubah solubilitas dari thickener, beberapa modifen
yang sangat dikenal adalah air, asam lemak, glykol dan garam dari asam
yang molekulnya rendah.
D. aditif dan filler
beberapa aditif yang ditambahkan dalam gemuk pelumas mencegah
oksidasi, korosi dan pembentuan nust/kerak, pasivasi logam , menambah
kekuatan film filer
(pengisi) yang digunakan grafit, absestor , talk, nikel, bubuk logam,
logam karbonat dan lain-lain bertambah dengan bertambahnya berat
molekul.
5. Quality kontrol

1. Kekentalan (Viskositas)
Kekentalan merupakan salah satu unsur kandungan oli paling rawan karena
berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya untuk
mengalir. Kekentalan oli langsung berkaitan dengan sejauh mana oli berfungsi
sebagai pelumas sekaligus pelindung benturan antar permukaan logam. Oli
harus mengalir ketika suhu mesin atau temperatur ambient. Mengalir secara
cukup agar terjamin pasokannya ke komponen-komponen yang bergerak.
Semakin kental oli, maka lapisan yang ditimbulkan menjadi lebih kental.
Lapisan halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra menyapu atau
membersihkan permukaan logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang terlalu
tebal akan memberi resitensi berlebih mengalirkan oli pada temperatur rendah
sehingga mengganggu jalannya pelumasan ke komponen yang dibutuhkan.
Untuk itu, oli harus memiliki kekentalan lebih tepat pada temperatur tertinggi
atau temperatur terendah ketika mesin dioperasikan. Dengan demikian, oli
memiliki grade (derajat) tersendiri yang diatur oleh Society of Automotive
Engineers (SAE). Bila pada kemasan oli tersebut tertera angka SAE 5W-30
berarti 5W (Winter) menunjukkan pada suhu dingin oli bekerja pada kekentalan
5 dan pada suhu terpanas akan bekerja pada kekentalan 30. Tetapi yang
terbaik adalah mengikuti viskositas sesuai permintaan mesin. Umumnya, mobil
sekarang punya kekentalan lebih rendah dari 5W-30 . Karena mesin belakangan
lebih sophisticated sehingga kerapatan antar komponen makin tipis dan juga
banyak celah-celah kecil yang hanya bisa dilalui oleh oli encer. Tak baik
menggunakan oli kental (20W-50) pada mesin seperti ini karena akan
mengganggu debit aliran oli pada mesin dan butuh semprotan lebih tinggi.
Untuk mesin lebih tua, clearance bearing lebih besar sehingga mengizinkan
pemakaian oli kental untuk menjaga tekanan oli normal dan menyediakan
lapisan film cukup untuk bearing. Sebagai contoh dibawah ini adalah tipe
Viskositas dan ambien temperatur dalam derajat Celcius yang biasa digunakan
sebagai standar oli di berbagai negara/kawasan.
1. 5W-30 untuk cuaca dingin seperti di Swedia
2. 10W-30 untuk iklim sedang seperti dikawasan Inggris
3. 15W-30 untuk Cuaca panas seperti dikawasan Indonesia

2. Kualitas
Kualitas oli disimbolkan oleh API (American Petroleum Institute). Simbol
terakhir SL mulai diperkenalkan 1 Juli 2001. Walau begitu, simbol makin baru
tetap bisa dipakai untuk katagori sebelumnya. Seperti API SJ baik untuk SH, SG,
SF dan seterusnya. Sebaliknya jika mesin kendaraan menuntut SJ maka tidak
bisa menggunakan tipe SH karena mesin tidak akan mendapatkan proteksi
maksimal sebab oli SH didesain untuk mesin yang lebih lama.

Ada dua tipe API, S (Service) atau bisa juga (S) diartikan Spark-plug ignition
(pakai busi) untuk mobil MPV atau pikap bermesin bensin. C (Commercial)
diaplikasikan pada truk heavy duty dan mesin diesel. Contohnya katagori C
adalah CF, CF-2, CG-4. Bila menggunakan mesin diesel pastikan memakai
katagori yang tepat karena oli mesin diesel berbeda dengan oli mesin bensin
karena karakter diesel yang banyak meng- hasilkan kontaminasi jelaga sisa
pembakaran lebih tinggi. Oli jenis ini memerlukan tambahan aditif dispersant
dan detergent untuk menjaga oli tetap bersih. Sebagai tambahan, bila oli yang
digunakan sudah tipe sintetik maka tidak perlu lagi diberikan bahan aditif lain
karena justru akan mengurangi kireja mesin bahkan merusaknya.

API Service Rating


Untuk rating API service, dapat pula dirunut dari mesin-mesin keluaran lama.
Namun, pada saat ini bisa juga dirunut dari katagori SF mengingat banyaknya
katagori yang akan keluar.

API mesin bensin


* SM (Current)
Diperkenalkan pada 2004. Ditujukan untuk semua jenis mesin bensin yang ada
pada saat ini. Oli ini didesain untuk memberikan resistensi oksidasi yang lebih
baik, menjaga temperatur, perlindungan lebih baik terhadap keausan, dan
mengontrol deposit lebih baik.

* SL (Current)
Merupakan katagori terakhir sampai saat ini. Diperkenalkan pada 1 Juni 2001.
Oli ini didesain untuk menjaga temperatur dan mengontrol deposit lebih baik.
Juga bisa mengkonsumsi oli lebih rendah. Beberapa oli ini juga cocok dengan
spesifikasi terakhir ILSAC sebagai Energy Conserving. Untuk mesin generasi 2004
atau sebelumnya

* SJ (Current) : Diperkenalkan untuk mesin generasi 2001 atau lebih tua


* SH (Obsolete): Untuk mesin generasi 1996 atau sebelumnya
* SG (Obselete): Untuk mesin generasi 1993 atau sebelumnya
* SF (Obsolete): Untuk mesin generasi 1988 atau sebelumnya

API mesin diesel


* CJ-4
Diperkenalkan pada tahun 2006. Untuk mesin high speed, mesin 4-langkah yang
didesain untuk memenuhi memenuhi standar emisi tahun 2007. Oli dengan
kategori API CJ-4 memiliki kriteria performa lebih baik daripada yang dimiliki
oleh oli-oli dengan kategori API CI-4 dengan CI-4 PLUS, CI-4, CH-4, CG-4 dan
CF-4. Oli dengan kategori API CJ-4 juga mampu secara efektif melumasi mesin-
mesin dengan kategori di bawahnya.

* CI-4
Diperkenalkan sejak 5 September 2002. Untuk mesin high speed, four stroke
engines yang didesain untuk memenuhi memenuhi standar emisi tahun 2004.
Oli CI-4 diformulasikan menjaga durabilitas mesin dimana gas buangnya
disirkulasi ulang. Digunakan untuk mesin yang meminta kandungan
belerang/sulfur 0.5%. Bisa dipakai pada oli CD, CE, CF-4, CG-4 dan CH-4.
* CH-4
Diperkenalkan sejak 1998. Untuk mesin high speed, four stroke engines yang
didesain untuk memenuhi memenuhi standar emisi tahun 1998. . Digunakan
untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur lebih besar 0.5%. Bisa
dipakai pada oli CD, CE, CF-4, dan CG-4.

* CG-4
Diperkenalkan sejak 1995. Untuk mesin kinerja sedang, high speed, four stroke
engines. Digunakan untuk mesin yang meminta kandungan belerang/sulfur
kurang 0.5%. Cocok untuk standar emisi 1994 Bisa dipakai pada oli CD, CE, dan
CF-4.

* CF-4
Diperkenalkan sejak 1990. Untuk mesin high speed, four stroke engines,
naturally aspirated dan mesin turbocharger. Bisa dipakai pada oli CD, dan CE.

* CF-2
Diperkenalkan sejak 1994. Untuk mesin kinerja sedang, two stroke engines.
Bisa dipakai pada oli CD-II.

* CF
Diperkenalkan sejak 1994. Untuk mesin off road, indirect injected dan
beberapa mesin yang memakai bahan bakar dengan kandungan belerang/sulfur
diatas 0.5%. Bisa mengganti pada oli CD.
Daftar pustaka
1. http://www.ccitonline.com/mekanikal/
2. Kotawa,A,1986, Studi awal Pengawal
logaman Minyak pelumas Bekas melalui
proses ekstraksi dengan detrgent sitetis
teepol sebagai pelarut. Lembaran
Publukasi Lemigas 4.
3. Yuliyati, Y.B,1992, Pemulihan minyak
pelumas bekas dengan cara ekstraksi dan
adsorbsi oleh zeolit. Lembaga Penelitian
UNPAD.
4. Gupta J.P. & Gupta R.P, Selected
industrial Chemicals, Small Business
Publication, PB No 2131, 4/45, Roop
Naper, Delhi 116007.
5. Andini Sundowo, Siti Yubaidah, 2003, “
Sintesa Polyolester Sebagai Bahan Dasar
Minyak Pelumas, Teknik Kimia, ITI.
6. PT. Hexindo Consult, 2000, “Prospek
Industri dan Pemasaran Pelumas di
Indonesia”, Jakarta.
7. Wartawan, AL, 1983, “ Minyak Pelumas
Pengetahuan Dasar & Cara Penggunaan,
Penerbit Gramedia, Jakarta.
1. appendiks
Karakter aditif dalam minya pelumas
Characteristics of Additives
Additive Name Characteristics
Detergency Interacts with varnish or
Phenaltes, Sulphonates,
& cleaning sludge to neutralise and
Naphthenates
action solubilise.
Dispersants are soluble in
the oil and have a polar end
PBI (Polyisobutylene) which attracts and binds to
Dispersancy
Succinimides contaminants preventing
settling and adhesion to
metal surfaces.
Not really necessary for
diesel engines in properly
Silicone Polymers (very low designed systems, but
Antifoaming
concentrations) provides anti-foam in
gearbox and also at the
refinery during blending.
Used in SAE 30 grades and
Pour Point Polymethylacrylate below to ensure point
criteria are met.
Chemicals react with
Anti-wear ZDTP
surfaces forming films
load (Zincdialkyldithiophosphate)ZDDP
which have a slower shear
carrying (Zincdiethlydithiophosphate)
strength than parent metal.
Increase in relative viscosity
VI Polymers of: Methacrylate
more at high than low
Improvers Acrylate Olefin Styrene-Butadiene
temperature.
Rust and Sulphates, Thiourea type Chemically absorbed onto
corrosion chemicals bare metal surfaces
providing protection and
inhibition
neutralisation.

Apendiks 2. Viscosity Conversion Tables

Viscosity Conversion Table


Approximate
Equivalents
Kinematic cSt at Redwood 1 seconds Engler degrees at Saybolt Universal
xc
40°C at 100°F 40°C seconds at 100°F
Gas & Diesel
2 31 1.12 33
Oils
3 34 1.22 37

5 39 1.40 44

7 45 1.56 51

9 51 1.75 58

11 57 1.93 65

24 110 3.34 125

Viscosity Conversion Table 2


Approximate
Equivalents
Saybolt
Redwood 1 Engler Saybolt Furol Kinematic cSt
Kinematic cSt Universal
fds seconds at degrees at seconds at at 82.2°C
at 50°C seconds at
100°F 50°C 100°F (180°F)
100°F
Fuel Oils 30 200 4.1 230 26 11

40 280 5.3 320 35 13.5

60 440 7.9 510 53 18

80 610 10.5 700 72 22.5

100 780 13.2 900 93 26.5

120 950 15.8 1120 116 30

150 1,250 19.8 1400 147 35

180 1500 23.7 1750 175 140

240 2200 31.6 2370 257 49


280 2500 36.9 2850 300 55

320 2900 42.1 3300 345 61

380 3600 50.0 4100 420 69

420 4100 55.0 4650 480 74

460 4600 61.0 5200 540 79

Appendix 3: daftar Acronyms


AA
Atomic Absorption

API
American Petroleum Institute

ASTM
American Society for Testing and Material

BDR
Bunker Delivery Receipt

BSI
British Standards Institute

CCAI
Calculated Carbon Aromaticity Index

CCR
Conradson Carbon Residue

CII
Calculated Ignition Index

CIMAC
International Council on Combustion Engines

DM
Distillate Marine (as used in ISO 8217)

DnV
Det Norske Veritas

FOBAS
Fuel Oil Bunker Analysis and Advisory Service

H2S
Hydrogen Sulphide

IATA
International Air Transport Association

IBIA
International Bunker Industry Association

ICP
Inductively Coupled Plasma

IF
Inter Fuel

IMDG
International Maritime Agreement for the Carriage of Dangerous Goods

IMO
International Maritime Organisation

IP
Institute of Petroleum

IPA
Iso Propyl Alcohol

ISO
International Standards Organisation (International Organisation for Standardisation)

KOH
Potassium Hydroxide

LFL
Lower Flammability Limit

m/m
Mass for Mass (by proportion)

MCR
Micro Carbon Residue

MT
Metric Tonne

NOx
Nitrous Oxides

PSA
Port of Singapore Authority (fuel bunkering standard)

RCR
Ramsbottom Carbon Residue

RM
Residue Marine (as used in ISO 8217)

SAE
Society of Automotive Engineers

SAN
Strong Acid Number

SG
Specific Gravity

SI
International System of Units

SOx
Sulphurous Oxides

TAN
Total Acid Number

TBN
Total Base Number

TSA
Total Sediment Accelerated

TSE
Total Sediment Existent

TSP
Total Sediment Potential

V/V
Volume for Volume (by proportion)

VCF
Volume Correction Factor
VI
Viscosity Index

Appendiks 4: daftar istilah


Antioxidant
A substance that retards the process of oxidation.

API Gravity
An arbitrary scale adopted by the American Petroleum Institute (API) for expressing the relative density of oils.
Its relation to relative density is:
141.5

API gravity (degrees) = —————————————— - 131.5

Specific gravity at 60 / 60°F

(The term Relative Density can be substituted for Specific Gravity)

Small quantity of residue, free from carbonaceous matter, remaining after burning in air, of oil fuel at a
prescribed temperature.

Asphaltenes
Those components of asphalt that are insoluble in petroleum naphtha but are soluble in carbon disulphide. (Other
solvents may be stipulated). Hard and brittle compounds, made up largely of high molecular weight polynuclear
hydrocarbon derivatives containing carbon, hydrogen, sulphur, nitrogen, oxygen and usually the three heavy
metals - nickel, iron and vanadium.

Ash
Non-combustible fuel residues usually containing a mixture of aluminium, calcium, iron, nickel, silicon, sodium
and vanadium. Contamination may be derived from the crude oil stock or from catalyst fines, downstream
storage and airborne dirt.

Barrel
Unit of volume measurement used for petroleum and petroleum products.
1 barrel = 42 US gallons, = 35 Imperial gallons, = 159 Litres

Blending
The intimate mixing of various components in the preparation of a product of specified properties.

Blow-by
Passage of combustion gases past the piston rings of an engine.

BN
See TBN.

Boundary Lubrication
Lubrication between 2 rubbing surfaces without development of a full lubricating film. It occurs under high loads
and low speeds.

Bulk Modulus
The reciprocal of compressibility of oil. The higher the BM, the less the fluid can be compressed.

Cams
Eccentric lobes typically used to open valves.

Calorific Value
See Specific Energy.

Carbon Residue
Residue left when an oil is heated under prescribed conditions. Hence carbon residue is an indicator of the coke-
forming tendencies of an oil.

Catalyst
A substance which accelerates or changes the course of a reaction without itself undergoing any chemical
change.

Catalyst Fines
Small (typically less than 50 micron) particles in the form of complex alumino- silicates which may be present in
residues from a catalytic cracking plant.

Catalytic Cracking
Process whereby cracking is accomplished by the use of heat and catalysts. Used primarily to convert high-boiling
distillate to gasoline, gas oil, butanes and lighter gases.

centiPoise (cP)
See Viscosity.

centiStoke (cSt)
See Viscosity.

Cetane Index
A measure of the ignition quality of a distillate fuel, indicating the relative ease with which the fuel will ignite
when injected into the combustion chamber of a compression-ignition engine. Higher cetane indices and numbers
indicate shorter ignition lags and are associated with better all-round performances in most types of
compression-ignition engines. Cetane Index is calculated from the API gravity and the boiling point characteristics
of the fuel.

Cetane Number
Cetane Number is measured from a prescribed engine test.

Cloud Point
The temperature at which a cloud or haze begins to appear when an oil, which has been previously dried, is
cooled under the prescribed conditions. Such cloud or haze is due to the separation of paraffin wax. Since a fuel
must be “clear and bright” for the clouding to be observed, this parameter is only applicable to some distillate
fuels. Clouding may be regarded as an advance warning of the onset of “pour” problems due to either low
temperature or high wax content of a fuel.

Compatibility
When blending two or more fuels of different crude oil origins and/or different refinery processes, the resultant
blend should be an homogeneous mixture in which asphaltenes remain in stable equilibrium. Conversely, when
blending two or more fuels of different crude oil origins and/or different refinery processes, should the resultant
blend precipitate asphaltenes, then the two or more fuels are incompatible.

Corrosion Inhibitor
A substance added to lubricating oil to protect active metal surfaces from corrosion.

Cross Head Engine


Slow-speed diesel engine where the piston rod is confined to move vertically and the piston pin is replaced by a
cross head to transfer thrust to the connecting rod.

Crown
The top of the piston of a diesel engine exposed to the cylinder.

Cylinder Oil
Lube oil used in the cylinders of cross head diesel engines. Usually high viscosity and TBN greater than 70.

Density
Mass per unit volume.

Detergent
The ability of a lubricant to keep oil-wetted parts clean. Commonly metallic soaps with an alkaline reserve.

Dispersant
The ability of an oil to hold debris in suspension and thus prevent deposition on oil-wetted surfaces.

Diesel Oil
Oil used as fuel in diesel and other compression-ignition engines.

Diluent
In fuel oil blending, low viscosity materials having suitably high flash points are used to reduce the viscosity of
residues.
Distillate
Any product obtained by condensing the vapours distilled from petroleum or its products.

Distillation Range
The range of temperature, usually determined at atmospheric (Boiling Range) pressure by means of standard
apparatus, over which boiling or distillation of a liquid proceeds. Only a pure substance has one definite boiling or
distillation temperature at a given pressure. Mixtures of substances such as petroleum distillates have a
distillation temperature range.

Emulsion
An intimate mixture of fine particles of one liquid in another. An emulsion is said to “break” when the particles
join and the liquids become separate.

End Point
The highest temperature is indicated on the distillation (Final Boiling Point) thermometer when a light distillate is
subjected to one of the standard laboratory methods of distillation.

Ester
Compounds of alcohol and fatty acid which form the major constituent of many synthetic oils.

EP additives
Additives provided to limit micro-seizure of contacting surfaces under Extreme Pressure lubricating conditions.

Flash Point, Closed


The lowest temperature at which application of a small flame causes the vapour above a petroleum product to
ignite when the product is heated under prescribed conditions in a ‘closed’ container.

Flash Point, Open


The lowest temperature at which an application of a small flame causes the vapour above a petroleum product to
ignite when the product is heated under prescribed conditions in an ‘open’ container.

Fuels - Residual
The residue remaining after removal of the lighter products.

Fuel Oil
The result of selective blending of various residues and distillate cutter stocks.

Fuels - Marine
A distillate or blended product containing some residue. Diesel Oil.

Fuels - Gas OilA distillate fuel.

Grease
A lubricant composed of oil, thickened with a metallic soap or other compound to produce a semi solid lubricant.

HydrocarbonsCompounds composed entirely of carbon and hydrogen. They form the basic building blocks of
most fuel and lubricating oils.

Inhibitor
A compound added to lubricant to prevent or retard undesirable changes.

Insolubles Contaminants that remain after extraction of the sample with a solvent.

KV
Kinematic Viscosity, measure of resistance to flow under gravity and at a specific temperature.

Lands
The vertical surfaces of a piston between the piston rings and or crown.

Mineral Oil
Lubricant derived from crude oil.

Multigrade
A term used to describe a lubricant where the viscosity temperature relationship has been altered by the addition
of polymers that control viscosity limits at different temperatures.

Nitration
The process whereby nitrous oxides attack petroleum fluids at high temperatures. Common in gas fuelled engines
and often associated with viscosity increase, deposits formation and oxidation.
Oxidation
A process whereby oxygen attacks the lubricant. Oxidation is continuous in the presence of air but greatly
speeded at high temperatures.

inhibitor pH
A measure of acidity or alkalinity expressed as the log of the hydrogen ion concentration. 0-acid, 7-neutral, 14-
alkali.

Petroleum
Crude Oil, i.e. oil in its natural state before it has been refined. Mineral Oil, normally a liquid mixture consisting
essentially of many different hydrocarbons, occurring naturally and having a wide range of colours from yellow to
black and characteristic odours. It is the raw material from which gasoline, kerosene, lubricating oil, fuel oil,
paraffin wax, bitumen, petro-chemical feedstocks, etc. are obtained.

Pour Point
The lowest temperature at which a petroleum oil is found to pour or flow when it has been chilled under
prescribed conditions.

Relative Density
The ratio of mass of a given volume of a substance to that of the same volume of pure water at constant
temperature. Relative density decreases with increase of temperature and increases with decrease of
temperature. It can only be compared at constant temperature. The standard temperature for quoting the
relative density for most petroleum products is 15°C. Density is also referred to in absolute terms in units of
kg/m3 at a particular reference temperature - usually 15°C.

Residue
The material remaining, as an un-evaporated liquid or solid, from a process involving distillation or cracking.

Scuffing
The abnormal wear that occurs due to seizure, micro-welding and subsequent tearing of the sliding surfaces.

Specific Energy
The amount of heat liberated by the combustion of a unit quantity under specified conditions. The gross specific
energy is the sum of the heat produced by the total combustion of the fuel and the heat released by the
condensation of the water formed by such combustion. This is applicable to a boiler. The net specific energy is
the gross value minus the heat released by condensation of the water vapour formed by the combustion. The net
value is applicable to a diesel engine.

Straight Run
Produced by distillation without cracking or alteration to the structure of the constituent hydrocarbons.

Thermal Cracking
A cracking process in which the reaction is prompted purely by the action of heat and pressure.

Viscosity
The measure of a fluid’s resistance to flow. With increasing temperature the viscosity decreases. There are two
types of viscosity: kinematic and dynamic or absolute. The more common is kinematic viscosity, which is
measured by the time taken for a fixed volume of oil to flow through a capillary tube.
The usual unit is the centiStoke (cSt); one cSt = mm2/s

Dynamic (absolute) viscosity is usually measured by a rotating viscometer and is commonly expressed in
centiPoise (cP). 1 cP = 1 mPa.s

Viscosity Index (VI)


An arbitrary scale used to measure a fluid’s change in viscosity with temperature.

VI Improver
A compound used to raise the VI of a mineral oil or other product (see also multigrade).