Anda di halaman 1dari 106

SKRIPSI

KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DAN ASAM SITRAT TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN

Oleh DEBBI PURNAMAWATI

F34101033

MUTU SABUN TRANSPARAN Oleh DEBBI PURNAMAWATI F34101033 2006 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2006

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

DEBBI PURNAMAWATI. F34101033. Kajian Pengaruh Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap Mutu Sabun Transparan. Di bawah bimbingan Erliza Hambali. 2006.

Sabun Transparan. Di bawah bimbingan Erliza Hambali. 2006. RINGKASAN Sukrosa, atau sering disebut gula, merupakan
Sabun Transparan. Di bawah bimbingan Erliza Hambali. 2006. RINGKASAN Sukrosa, atau sering disebut gula, merupakan

RINGKASAN

Sukrosa, atau sering disebut gula, merupakan disakarida dengan rumus kimia C 12 H 22 O 11 (ß-D-fructofuranosyl-α-D-glucopyranoside). Secara komersial sukrosa umumnya diperoleh dari tebu (Saccharum officinarum) yang merupakan tanaman daerah tropis dan beet (beta vulgaris) yang merupakan tanaman sub- tropis. Sukrosa merupakan senyawa nonionik dalam bentuk bebas dan mempunyai sifat pengemulsi (emusifying), pembusaan (foaming), deterjensi (detergency) dan pelarutan (solubizing) yang sangat baik. Asam sitrat adalah asam hidroksi trikarboksilat (2-hidroksi–1,2,3–propana trikarboksilat) yang diperoleh dari ekstraksi buah-buahan atau hasil proses fermentasi. Keasaman asam sitrat disebabkan oleh adanya tiga gugus karboksil (COOH), dimana dalam bentuk larutan masing-masing gugus akan melepaskan ion protonnya sehingga terbentuk ion sitrat. Sitrat membuat penyangga yang sangat baik untuk mengendalikan pH. Asam sitrat merupakan senyawa organik yang bermanfaat sebagai penyapu logam-logam berat karena dapat membentuk suatu kompleks tidak aktif dengan besi dan logam-logam berat lainnya Sabun merupakan produk perawatan tubuh sehari-hari yang berfungsi sebagai pembersih tubuh dari kotoran yang melekat pada kulit. Sabun dengan air dapat membersihkan kotoran dari permukaan kulit seperti kotoran minyak, keringat, sel-sel kulit yang telah mati dan sisa kosmetik. Sabun transparan merupakan sabun mandi berbentuk batang dan memiliki tingkat transparansi paling tinggi (berkilau). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi sukrosa dan asam sitrat terbaik serta mengetahui karakteristik dan penerimaan konsumen terhadap produk sabun transparan yang dihasilkan. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini terdiri dari pembuatan sabun transparan, analisis produk, uji organoleptik berupa uji kesukaan (uji hedonik) dan analisis finansial. Uji kesukaan dilakukan oleh 30 orang panelis agak terlatih. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial (3 x 2) dengan dua kali ulangan. Faktor yang digunakan adalah konsentrasi sukrosa dan konsentrasi asam sitrat. Konsentrasi sukrosa yang digunakan terdiri dari tiga taraf yaitu : 8, 11 dan 13%, sedangkan konsentrasi asam sitrat yang digunakan terdiri atas tiga taraf yaitu : 1, 3 dan 5%. Hasil analisa keragaman sifat fisiko kimia sabun transparan pada tingkat kepercayaan 95% (α=0,05) menunjukkan bahwa faktor konsentrasi sukrosa berpengaruh terhadap analisa kadar air dan zat menguap sabun, jumlah asam lemak, kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH, nilai pH, kekerasan dan daya bersih, sedangkan faktor konsentrasi asam sitat berpengaruh terhadap kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH, nilai pH, kekerasan dan daya bersih. Untuk analisa terhadap alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH, kekerasan dan daya bersih menunjukkan bahwa faktor konsentrasi sukrosa dan asam sitrat berpengaruh nyata, sedangkan untuk analisa kadar fraksi tak tersabunkan, bagian tak larut dalam alkohol, stabilisasi emulsi dan stabilisasi busa tidak berpengaruh

nyata. Interaksi antara faktor konsentasi sukrosa dan asam sitrat berpengaruh nyata pada kekerasan. Pada uji kesukaan (uji hedonik), hasil uji Friedman menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi sukrosa dan asam sitrat di dalam formulasi sabun transparan berpengaruh nyata terhadap parameter transparansi, tekstur dan kesan kesat pada kulit setelah pemakaian sabun transparan, sedangkan untuk parameter banyak busa menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi sukrosa dan asam sitrat pada formulasi sabun transparan tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan konsumen atau dengan kata lain panelis memberikan respon yang sama untuk setiap perlakuan terhadap kedua parameter tersebut. Berdasarkan penilaian dengan menggunakan teknik pembobotan, konsesntrasi sukrosa 13% dan asam sitrat 5% merupakan konsentrasi terbaik untuk pembuatan sabun transparan dengan kadar air dan zat menguap sabun 24,81%; jumlah asam lemak 33,81%; fraksi tak tersabunkan 5,00%; bagian tak

larut dalam alkohol 2,90%; alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH 0,11%; nilai pH 9,51; stabilitas emulsi 97,95%; stabilitas busa 0,59%; kekerasan produk 3,12

mm dan daya bersih 118 ftu turbidity. Hasil uji kesukaan pada formulasi sabun transparan terbaik menunjukkan bahwa mayoritas panelis menyukai transpansi dengan persentase panelis sebesar

70%. Mayoritas panelis agak menyukai tekstur dengan persentase panelis sebesar 36,67%, dan mayoritas panelis memberikan penilaian biasa terhadap banyak busa

dan kesan kesat dengan persentase panelis masing-masing sebesar 26,67% dan

33,33%.

DEBBI PURNAMAWATI. F34101033. The Effect of Sucrose and Citric Acid on The Quality of Transparent Soap. Under Erliza Hambali supervision. 2006.

of Transparent Soap. Under Erliza Hambali supervision. 2006. SUMMARY Sucrose, or also is known sugar, is
of Transparent Soap. Under Erliza Hambali supervision. 2006. SUMMARY Sucrose, or also is known sugar, is

SUMMARY

Sucrose, or also is known sugar, is dissacharide with chemical formula C 12 H 22 O 11 (ß-D-fructofuranosyl-α-D-glucopyranoside). Commercially sucrose is produced in tropics and semitropics from the juice of sugar cane (Saccharum officinarum) and sugar beet (beta vulgaris). Sucrose is an anionic compound in free form and have good function in emulsifying, foaming, detergency and solubilizing. Citric acid is tricarboxylic hydroxyl (2-hydroxy-1,2,3-propane tricarboxylic) that is produced from fruits extracts or fermentation process. Acidity of citric acid is caused by three carboxyl unit (COOH), where in a solution form, each unit will release proton ion to form citrate ion. Citrate is the best buffer to controlling pH. Citric acid is an organic compound that is good as chelating agent because can form an inactive complex with iron and other heavy metals.

Soap is daily personal care product to clean body. Together with water, the soap can remove sweat, oil, damage skin cell, and cosmetic residue from the skin. Transparent soap is a bar soap with the highest transparency (shiny). The research is conducted to obtain the best concentration of sucrose and citric acid, according to the characteristics and the consumer preference of that soap. The steps of the research are producing the transparent soap, product analysis, organoleptic tests and financial analysis. The organoleptic tests are done by 30 panelist. The experiment design of the research is factorial random design (3 x 2) with two replications. The sucrose concentrations are three degrees, they are 8, 11 and 13%. The citric acid concentrations are also three degrees, 1, 3 and

5%.

The analysis variant for transparent soap at confidence level of 95% (α=0,05) has shown that concentration of sucrose has significant effects to moisture content, total fatty acid, free alkali degree which counted as NaOH degree, pH, hardness and detergency while concentration of citric acid has significant effects to free alkali degree which counted as NaOH, pH, hardness and detergency. The analysis result of free alkali degree which counted as NaOH, hardness and detergency have shown that concentration of sucrose and citric acid have a significant effect, while unsaponifiables fraction degree, insoluble matter in alcohol, emulsion stability and foam stability have no significant effect. Interaction between concentration of sucrose and citric acid has significant effect to hardness analysis. At hedonic trial, the Friedman test has shown that sucrose and citric acid concentration in the transparent soap formula has significant effects to the panelist acceptance for parameter of transparency, texture and roughness impression after using it, while no significant effect for foam quantity. The best transparent soap is made from the sucrose concentration of 13% and citric acid of 5%. This soap has moisture content obout 24,81%; total fatty acid 33,81%; degree of unsaponifiables fraction 5,00%; insoluble matters in alcohol 2,90%; the degree of free alkali as sodium hydroxide (NaOH) 0,11%; pH

9,51; emulsion stability 97,95%; foam stability 0,59%; hardness 3,12 mm and detergency 118 ftu turbidity. The result of organoleptic tests on the best transparent soap showed that majority of panelist like the soap for transparency with percentage 70%. Majority of panelist almost like texture with percentage 36,67%, and majority of panelist neutral to the foam quantity and roughness impression with each panelist percentage at about 26,67 and 33,33%.

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi dengan judul :

’KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DAN ASAM SITRAT TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN’ adalah hasil karya saya sendiri, dengan arahan dosen pembimbing akademik, kecuali yang dengan jelas ditunjuk rujukannya.

2006

Yang membuat pernyataan,

Bogor,

Nama : Debbi Purnamawati

NRP

: F34101033

KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DAN ASAM SITRAT TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN pada Departemen Teknologi Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh DEBBI PURNAMAWATI

F34101033

2006

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DAN ASAM SITRAT TERHADAP MUTU
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA DAN ASAM SITRAT TERHADAP MUTU

KAJIAN PENGARUH KONSENTRASI SUKROSA

DAN ASAM SITRAT TERHADAP MUTU SABUN TRANSPARAN

SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN

pada Departemen Teknologi Industri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian

Institut Pertanian Bogor

Oleh

DEBBI PURNAMAWATI

F34101033

Dilahirkan pada tanggal 26 Januari 1984

Tanggal lulus :

Disetujui,

Bogor,

Dr. Ir. Erliza Hambali, MSi

Dosen Pembimbing

RIWAYAT HIDUP

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Kepulauan Riau pada tanggal 26 Januari 1984 sebagai putri kedua dari

Penulis dilahirkan di Kepulauan Riau pada tanggal 26 Januari 1984 sebagai putri kedua dari Kamal Satria dengan Rahmawati. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Setelah menyelesaikan sekolah di bangku taman kanak-kanak tepatnya di TK Pertiwi pada tahun 1989, penulis kemudian melanjutkan sekolah ke sekolah dasar di SDN 014. Pada tahun 1995, penulis melanjutkan ke SLTPN 1 Tanjung Pinang, pada saat kelas tiga penulis pindah sekolah ke SLTPN 1 Rengat. Setelah itu penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Umum di SMUN 8 Pekanbaru pada tahun 1998. setelah lulus SMU pada tahun 2001, penulis melanjutkan studi ke Institut Pertanian Bogor, Departemen Teknologi Industri Pertanian melalui jalur USMI. Selama kuliah di IPB penulis pernah melakukan praktek lapangan di PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang, dengan topik ’Aspek Manajeman Pemasaran pada PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang’ selain itu penulis juga aktif pada beberapa kegiatan antara lain sebagai seksi acara dalam temu alumni TIN dan seksi dekorasi dalam acara TIN Speaks Out tahun 2002, seksi dana dan usaha sekaligus tata tertib Hagatri Reloaded tahun 2003.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil ‘aalamiin. Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayat-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian dan menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-

baiknya. Dengan segala ketulusan hati penulis menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT dan ucapan terima kasih kepada :

1. Papa, Mama dan Bang Dino atas perhatian, pengorbanan, dukungan dan do’a yang telah diberikan selama ini.

2. Dr. Ir. Erliza Hambali, MSi selaku Dosen Pembimbing atas pertimbangan dan pengarahan selama penelitian dan penulisan skripsi.

3. Dr. Ir. Dwi Setyaningsih, MSi dan Dr. Ir. Endang Warsiki, MT selaku dosen penguji atas koreksi dan masukannya.

4. PT. ADEV Prima Mandiri sebagai konsultan agroindustri dan LPPM - IPB SBRC yang telah memberikan bantuannya.

5. Semua laboran dan staff TIN atas bantuan dan informasi yang telah diberikan.

6. All my beloved friends, thanks for all your kindness, dan kepada seluruh teman-teman TIN ’38 atas bantuan, motivasi dan kebersamaannya. selama masa kuliah sampai penelitian dan penyusunan skripsi. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, saran dan kritik yang membangun akan sangat membantu dalam penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat di kemudian hari. Amiin ya robbal ‘aalamiin.

Bogor,

Desember 2006

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR………………………………………………….

i

DAFTAR TABEL………………………………………………………

iv

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………

v

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………

vii

I. PENDAHULUAN……………………………………………………

1

A. Latar Belakang…………………………………………………….

1

B. Tujua Penelitian…

…………………………………

…………

3

II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………

4

A. Sabun………………………………………………………………

4

B. Sabun Transparan………………………………………………….

6

C. Sukrosa…………………………………………………………….

9

D. Asam Sitrat…………………………………………………………

11

E. Mutu Sabun………………………………………………………

13

F. Uji Organoleptik……………………………………………………

13

III.

METODOLOGI PENELITIAN….…………………………………

18

A. Bahan dan Alat……………………………………………………

18

B. Metode Penelitian…………………………………………………

18

1. Persiapan Bahan……………………………………………

18

2. Pembuatan Sabun Transparan…………………………………… 18

 

3. Analisa Produk Akhir……………………………………………

19

C. Rancangan Percobaan………………………………………………

21

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………

22

A.

Analisis Pengaruh Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap Parameter Mutu Sabun………………………………………………………

22

1. Kadar Air dan Zat Menguap Sabun……………………………

23

2. Jumlah Asam Lemak………………………………………….

24

3. Kadar Fraksi Tak Tersabunkan……………………………….

26

5.

Kadar Alkali Babas yang Dihitung sebagai NaOH………

28

6. pH Larutan Sabun………………………………………….

30

7. Stabilitas Emulsi…………………………………………

31

8. Stabilitas Busa……………………………………………

32

9. Kekerasan Produk…………………………………………

33

10. Daya Bersih………………………………………………

34

B. Uji Organoleptik……………………………………………….

36

1. Transparansi………………………………………………

37

2. Tekstur……………………………………………………

38

3. Banyak Busa……………………………………………….

40

4. Kesan Kesat………………………………………………

41

C. Pembobotan Hasil Pengamatan…………………………………

43

D. Analisa Kelayakan Usaha Sabun Transparan Konsentrasi Sukrosa 13% dan Asam Sitrat 5%

44

1. Biaya Investasi………………………………………………

46

2. Biaya Operasional……………………………………………

46

3. Perhitungan Modal…………………………………………

47

4. Harga Pokok Penjualan (HPP)………………………………

47

5. Perhitungan Usaha……………………………………………

48

6. Analisa Kelayakan……………………………………………

49

V. KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………

53

A. Kesimpulan……………………………………………………

53

B. Saran…………………………………………………………….

54

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….

55

LAMPIRAN………………………………………………………….

58

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Formulasi dasar sabun transparan………………………………

7

Tabel 2. Spesifikasi mutu sabun (SNI 06-3532-1994)……………………

23

Tabel 3. Penilaian kepentingan setiap parameter fisikokimia dan uji hedonik………………………………………………………….

44

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Halaman Reaksi saponifikasi trigliserida………………………………

4

4

Gambar 2.

Reaksi netralisasi asam lemak………………………………

Gambar 3.

Pembentukan lapisan tipis di atas permukaan air…………… 5

Gambar 4.

Struktur kimia sukrosa………………………………………

9

11

Gambar 5.

Struktur kimia asam sitrat

Gambar 6

Macam-masam skala hedonik dengan skala numeriknya…… 17

Gambar 7

Diagram alir proses pembuatan sabun transparan…………

19

Gambar 8.

Produk sabun transparan yang dihasilkan…………………… 22

Gambar 9.

Histogram hubungan antara konsentrasi sukrosa dan

asam sitrat terhadap kadar air dan zat menguap sabun

24

Gambar 10. Histogram hubungan antara konsentrasi sukrosa dan asam sitrat terhadap jumlah asam lemak

26

Gambar 11. Histogram hubungan antara konsentrasi sukrosa dan asam sitrat terhadap kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH

30

Gambar 12. Histogram Hubungan antara Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap pH

32

Gambar 13. Histogram hubungan antara konsentrasi sukrosa dan asam sitrat terhadap penetrasi jarum penetrometer

34

Gambar 14.Histogram hubungan antara konsentrasi sukrosa dan asam sitrat terahadap kekeruhan

35

Gambar 15. Grafik persentase jumlah panelis berdasarkan skala penilaian terhadap transparansi……………………….

38

Gambar 16. Grafik persentase jumlah panelis berdasarkan skala penilaian terhadap tekstur…………………………….

39

Gambar 17. Grafik persentase jumlah panelis berdasarkan skala Penilaian terhadap banyak busa……………………….

41

Gambar 18. Grafik persentase jumlah panelis berdasarkan skala penilaian terhadap kesan kesat………………

42

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1.

Formulasi Sabun Ttransparan……………………………

59

Lampiran 2.

Neraca Massa Pembuatan Sabun Transparan…………….

60

Lampiran 3.

Analisa Karakteristik Sifat Fisiko Kimia Sabun…………

61

Lampiran 4.

Lembar Uj Kesukaan………………………………………. 65

Lampiran 5a.

Rekapitulasi Data Hasil Analisis Kadar Air dan Zat

Menguap Sabun Transparan (%)…………………………

66

Lampiran 5b.

Hasil Analisis Keragaman Kadar Air dan Zat

Menguap Sabun Transparan……………………………

66

Lampiran 5c.

Hasil Uji Lanjut Duncan Kadar Air dan Zat

Menguap Sabun Transparan……………………………

67

Lampiran 6a.

Rekapitulasi Data Hasil Analisis Jumlah Asam

Lemak Sabun Transparan (%)……………………………

68

Lampiran 6b.

Hasil Analisis Keragaman Jumlah Asam Lemak Sabun

Lampiran 6c.

Transparan………………………………………………… 68 Hasil Uji Lanjut Duncan Jumlah Asam Lemak Sabun

Lampiran 7a.

Transparan………………………………………………… 68 Rekapitulasi Data Hasil Analisis Fraksi Tak

Tersabunkan Sabun Transparan (%)……………………

69

Lampiran 7b.

Hasil Analisis Keragaman Fraksi Tak

Tersabunkan SabunTransparan…………………………

69

Lampiran 8a.

Rekapitulasi Data Hasil Analisis Bagian Tak Larut

dalam Alkohol Sabun

Transparan (%)…………………

70

Lampiran 8b.

Hasil Analisis Keragaman Bagian Tak Larut dalam

Alkohol Sabun Transparan………………………………

70

Lampiran 9a.

Rekapitulasi Data Hasil Analisis Alkali Bebas

yang Dihitung sebagai NaOH Sabun Transparan (%)…

71

Lampiran 9b.

Hasil Analisis Keragaman Alkali Bebas yang

Dihitung sebagai NaOH Sabun Transparan…………….

71

Lampiran 9c.

Hasil Uji Lanjut Duncan Alkali Bebas yang

Lampiran 9d.

Dihitung sebagai NaOH Sabun Transparan……………. Hasil Uji Lanjut Duncan Alkali Bebas yang

72

Dihitung sebagai NaOH Sabun Transparan……………

72

Lampiran 10a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis pH Sabun Transparan……………………………………………

73

Lampiran 10b. Hasil Analisis Keragaman pH Sabun Transparan……

73

Lampiran 10c. Hasil Uji Lanjut Duncan pH Sabun Transparan……….

73

Lampiran 11a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Stabilisasi Emulsi Sabun Transparan (%)………………………

74

Lampiran 11b. Hasil Analisis Keragaman Stabilisasi Emulsi Sabun Transparan…………………………………….

74

Lampiran 12a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Stabilisasi Busa Sabun Transparan (%)…………………………

75

Lampiran 12b. Hasil Analisis Keragaman Stabilisasi Busa Sabun Transparan…………………………………………

75

Lampiran 13a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Kekerasan Sabun Transparan (mm)……………………………

76

Lampiran 13b. Hasil Analisis Keragaman Kekerasan Sabun Transparan…………………………………………

76

Lampiran 13c. Hasil Uji Lanjut Duncan Kekerasan Sabun

76

Lampiran 13d. Hasil Uji Lanjut Duncan Kekerasan Sabun Transparan…………………………………………

77

Lampiran 14a. Rekapitulasi Data Hasil Analisis Daya Bersih Sabun Transparan (ftu turbidity)…………………….

78

Lampiran 14b Hasil Analisis Keragaman Daya Bersih Sabun Transparan…………………………………………

78

Lampiran 14c. Hasil Uji Lanjut Duncan Kekerasan Sabun Transparan…………………………………………

78

Lampiran 14d. Hasil Uji Lanjut Duncan Kekerasan Sabun Transparan………………………………………… Lampiran 15a. Hasil Analisa Fisiko Kimia pada Kontrol Sabun

79

Transparan…………………………………………….

80

Lampiran 15b. Hasil Perhitungan Uji T antara Kontrol dengan Perlakuan Sabun Transparan………………………

80

Lampiran 16a. Hasil Uji Kesukaan Panelis terhadap Transparansi Sabun Transparan……………………………………

81

Lampiran 16b. Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Transparansi Sabun Transparan

82

Lampiran 16c. Hasil Perhitungan Uji Friedman Respon Panelis terhadap Transparansi Sabun Transparan……………

82

Lampiran 17a. Hasil Uji Kesukaan Panelis terhadap Tekstur Sabun Transparan…………………………………

84

Lampiran 17b. Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Tekstur Sabun Transparan………

85

Lampiran 17c. Hasil Perhitungan Uji Friedman Respon Panelis terhadap Tekstur Sabun Transparan…………………

85

Lampiran 18a. Hasil Uji Kesukaan Panelis terhadap Banyak Busa Sabun Transparan……………………………

87

Lampiran 18b. Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Banyak Busa Sabun Transparan……………………………………………

88

Lampiran 18c. Hasil Perhitungan Uji Friedman Respon Panelis terhadap Banyak Busa Sabun Transparan…………

88

Lampiran 19a. Hasil Uji Kesukaan Panelis terhadap Kesan Kesat Sabun Transparan…………………………….…

90

Lampiran 19b. Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Kesan Kesat Sabun Transparan………………………………………

91

Lampiran 19c. Hasil Perhitungan Uji Friedman Respon Panelis terhadap Kesan Kesat Sabun Transparan…………

91

Lampiran 20. Hasil Pembobotan Nilai Kepentingan Parameter Fisiko Kimia dan Uji Hedonik………………………

93

Lampiran 21a. Investasi Sabun Transparan…………………………….

94

Lampiran 21b. Biaya Penyusutan Sabun Transparan…………………

95

Lampiran 22a. Biaya Operasional Sabun Transparan………………….

97

Lampiran 22b. Hitungan Operasional Sabun Transparan………………

100

Lampiran 23.

Perhitungan Modal Usaha Sabun Transparan………….

102

Lampiran 24.

Perhitungan Penentuan Harga Sabun Transparan………

103

Lampiran 25a. Perhitungan Laba-Rugi………………………………

104

Lampiran 25b. Perhitungan Aliran Kas

106

Lampiran 26a. Perhitungan BEP………………………………………

108

Lampiran 26b. Perhitungan Net B/C…………………………………

110

Lampiran 26c. Perhitungan NPV dan Analisa Kelayakan……………

111

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat yang ditunjukkan dengan angka pertumbuhan penduduk yang tinggi akan berdampak pada peningkatan permintan bahan kebutuhan sehari-hari. Salah satu kebutuhan hidup yang cukup penting adalah produk perawatan tubuh, seperti sabun mandi. Sabun mandi menjadi perhatian semua pihak karena sabun mandi berhubungan langsung dengan kulit tubuh, sehingga sangat mempengaruhi kesehatan kulit. Fungsi kulit sangat penting, sebagai pembungkus tubuh yang dipengaruhi lingkungan luar, misalnya debu, sinar matahari, suhu panas atau dingin dan zat kimia yang menempel pada kulit. Kotoran yang menempel pada kulit harus dibersihkan agar kulit tetap sehat dan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Cara yang paling mudah untuk menjaga kebersihan kulit yaitu mandi secara teratur dengan menggunakan sabun mandi. Sabun dapat membersihkan kotoran minyak, keringat, sel-sel kulit mati dan sisa kosmetik. Sabun mandi terdiri dari cold-made, opaque dan sabun transparan. Sabun mandi cold-made kurang terkenal, tetapi sabun ini mempunyai kemampuan busa baik dalam air garam. Sabun mandi ini biasanya banyak digunakan oleh para pelaut. Sabun opaque adalah jenis sabun mandi yang biasa digunakan sehari-hari. Sabun transparan atau disebut juga sabun gliserin mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan jenis sabun lain, yaitu mempunyai tampilan yang lebih menarik (berkilau) jika dibandingkan dengan jenis sabun lain serta dapat menghasilkan busa lebih lembut di kulit (Jungermann, 1979). Sabun jenis ini mempunyai harga yang sangat mahal dan hanya dapat dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas. Sifat dari sabun tergantung pada jumlah dan komposisi bahan baku yang digunakan. Asam lemak berpengaruh signifikan pada warna produk

akhir. Komposisi asam lemak yang baik untuk pembuatan sabun adalah rantai panjang (C 12 – C 18 ). Rantai C 12 – C 14 memberikan fungsi yang baik untuk pembusaan, sedangkan C 16 – C 18 baik untuk kekerasan dan deterjensi (Aine, 1996). Pada penelitian ini digunakan asam stearat (C 18 ) dan minyak kelapa, karena minyak kelapa banyak mengandung asam laurat (C 12 ). Kriteria minyak/lemak yang baik untuk bahan baku sabun mandi antara lain minyak/lemak tersebut tidak berbau tengik serta memiliki warna cerah yang jernih. Sifat sabun juga dipengaruhi oleh bahan baku pendukung, antara lain gliserin, yang berperan sebagai humektan. Etanol sebagai pelarut dapat membuat sabun menjadi lebih transparan. Dietanolamin (DEA) berfungsi untuk menstabilkan busa dan membuat sabun menjadi lebih lembut. Asam sitrat termasuk bahan baku sabun transparan yang penting karena dapat mengikat logam-logam yang dapat menimbulkan bau tengik pada sabun. Selain itu dapat berfungsi mengatur pH dan sebagai bahan pengawet. Pada penelitian-penelitian sebelumnya, tidak adanya asam sitrat sebagai komposisi bahan baku sabun transparan menyebabkan sabun memiliki pH tinggi dan bersifat basa. Oleh karena itu, pada penelitian ini digunakan variasi konsentrasi asam sitrat yang diharapkan dapat menurunkan alkalinitas sabun transparan yang dihasilkan.

Demikian halnya dengan sukrosa, sukrosa befungsi untuk menambah kekerasan dan transparasi sabun. Pada penelitian ini digunakan variasi konsentrasi sukrosa untuk mengetahui bagaimana kecenderungan kekerasan dan transparansi sabun transparan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini berusaha menemukan komposisi terbaik di antara beberapa kombinasi komposisi asam sitrat dan sukrosa sebagai bahan baku pembuatan sabun transparan.

B. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dari penelitian ini adalah :

2.

Mengetahui karakteristik sabun transparan yang dihasilkan.

3. Mengetahui respon panelis terhadap sabun transparan yang dihasilkan.

4. Menganalisa kelayakan usaha sabun transparan kombinasi konsentrasi terbaik sukrosa dan asam sitrat.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. SABUN

Sabun adalah pembersih yang dibuat dengan reaksi kimia antara basa

Natrium atau Kalium dengan asam lemak dari minyak nabati atau lemak

hewani (SNI, 1994). Ditambahkan pula oleh Kirk et al. (1954), komponen

utama pembuatan sabun terdiri dari asam lemak rantai C 12 – C 18 dan garam

sodium atau potassium. Asam lemak yang berikatan dengan garam sodium

(NaOH) dikenal dengan nama hard soaps, sedangkan asam lemak yang

berikatan dengan garam potassium (KOH) dikenal dengan nama soft

soaps.

Sabun dapat dibuat dengan dua cara yaitu proses saponifikasi dan

proses netralisasi minyak. Pada proses saponifikasi minyak akan diperoleh

produk sampingan yaitu gliserol, sedangkan sabun yang diperoleh dengan

proses netralisasi tidak menghasilkan gliserol. Proses saponifikasi terjadi

karena reaksi antara trigliserida dengan alkali, sedangkan proses netralisasi

terjadi karena reaksi antara asam lemak dengan alkali (Kirk et al, 1954).

Reaksi kimia pada proses saponifikasi trigliserida dapat dilihat pada

Gambar 1.

CH 2 – COOR CH 2 – OH CH – COOR + 3NaOH 3 R
CH 2 – COOR
CH 2 – OH
CH – COOR +
3NaOH
3 R - COONa
+
CH – OH
CH 2 – COOR
CH 2 – OH
Trigliserida
Alkali
Sabun
Gliserol

Gambar 1. Reaksi Saponifikasi Trigliserida

Reaksi kimia pada proses netralisasi asam lemak dapat dilihat pada

Gambar 2.

R – COOH

+

NaOH

R – COOH + NaOH R – COONa + H 2 O

R – COONa

+

H 2 O

Asam lemak bebas

Alkali

Sabun

Air

Gambar 2. Reaksi Netralisasi Asam Lemak

Menurut SNI (1994), sabun mandi merupakan sabun natrium yang

umumnya ditambahkan zat pewangi dan digunakan untuk membersihkan

tubuh manusia dan tidak membahayakan kesehatan. Sabun mandi terdiri

atas berbagai bentuk seperti berbentuk padat (batang), cair dan gel.

Menurut Jungermann et al. (1979), sabun mandi batang terdiri dari cold-

made, opaque dan sabun transparan. Sabun mandi cold-made mempunyai

kemampuan berbusa dengan baik di dalam air yang mengandung garam

(air sadah). Sabun opaque adalah jenis sabun mandi biasa yang berbentuk

batang dan tidak transparan. Sabun transparan atau disebut juga sabun

gliserin mempunyai tampilan yang lebih menarik karena transparansinya

dan menghasilkan busa lebih lembut di kulit.

Menurut Cavith (2001), molekul sabun terdiri dari rantai karbon,

hidrogen dan oksigen yang disusun dalam bagian kepala dan ekor. Bagian

kepala merupakan gugus hidrofilik (rantai karboksil) yang berfungsi untuk

mengikat air, sedangkan bagian ekor merupakan gugus hidrofobik (rantai

hidrokarbon) yang berfungsi untuk mengikat kotoran dan minyak.

O

CH 2 CH 2 CH 2 CH 2 CH 2 CH 2 CH 2 C
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
C
CH 3
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
CH 2
O -
Na+
Gugus hidrofobik (lipofilik)
gugus
Hidrofilik
(lipofobik)
Gugus
CH 3
CH 3
CH 3
CH 3
hidrofobik
(CH 2 ) 17
(CH 2 ) 17
(CH 2 ) 17
(CH 2 ) 17
--------------------------------------------------------------------------------------
Gugus
C
C
C
C
hidrofilik
O
O -
O
O -
O
O -
O
O -
air
-----------------------------------------------------------------------

Gambar 3. Pembentukan lapisan tipis di atas permukaan air

Jika sabun dilarutkan di dalam air, ujung hidrofilik dari molekulnya ditarik ke dalam air dan melarutkannya, tetapi bagian hidrofobik ditolak oleh molekul air. Akibatnya, suatu lapisan tipis terbentuk di atas permukaan air, dan secara drastis menurunkan tegangan permukaan air (Gambar 2). Jika larutan sabun tersebut mengenai sesuatu yang berlemak atau berminyak, maka bagian molekul sabun langsung terorientasi. Bagian hidrofobik membalut kotoran yang bersifat minyak, sedang bagian hidrofilik tetap larut dalam fase air. Dengan gerakan mekanis membilas maka minyak dan lemak terdispersi menjadi tetesan-tetesan kecil dan molekul sabun tersusun sendiri mengelilingi permukaannya. Tetesan lemak atau minyak yang dikelilingi oleh molekul sabun tersebut disebut misela. Karena gugus karboksilat dari molekul sabun terproyeksi ke luar, permukaan misela menjadi bermuatan negatif. Seluruh misela menjadi larut dalam air dan terbuang bersama air pencuci. Proses pembersihan berlangsung dengan menurunkan tegangan permukaan air dan mengemulsikan kotoran (Tarigan, 1983).

B. SABUN TRANSPARAN Sabun transparan merupakan sabun yang memilki tingkat transparansi paling tinggi. Ia memancarkan cahaya yang menyebar dalam bentuk partikel-partikel yang kecil, sehingga obyek yang berada di luar sabun akan kelihatan jelas. Obyek dapat terlihat hingga berjarak sampai panjang 6 cm (Cavith, 2001). Sabun transparan dapat dihasilkan dengan sejumlah cara berbeda. Salah satu metode tertua adalah dengan cara melarutkan sabun dalam alkohol dengan pemanasan lembut untuk membentuk larutan jernih, yang kemudian diberi pewarna dan pewangi. Warna dari sabun batangan akhir tergantung pada pilihan bahan awal dan bila tidak digunakan bahan yang berkualitas baik, kemungkinan sabun yang dihasilkan akan berwarna sangat kuning (Williams dan Schmitt, 2002). Proses tradisional mencakup penghilangan sebagian alkohol dengan destilasi dan pencetakan dari sabun cair menjadi blok. Blok tersebut

dibiarkan hingga tiga bulan sebelum dicetak dan dikemas ke dalam penampilan akhirnya. Proses ini dengan sifat alaminya merupakan proses yang mahal dan terbatas pada beberapa produk yang sudah dikenal dan ada di pasar selama beberapa tahun. Formula dasar untuk tipe sabun transparan ditunjukkan Tabel 1.

Tabel 1. Formulasi Dasar Sabun Transparan

Bahan

Komposisi (% berat)

Asam stearat

8

Minyak kelapa

20

Natrium hidroksida 30%

22

Gliserin

13

Ethanol

15

Sukrosa

11

DEA

3

Natrium klorida

0,2

Asam sitrat

3

Air

4,5

Sumber : Cognis (2003)

Metode produksi sabun transparan melibatkan pelelehan fase lemak dan persiapan air utuk melarutkan sukrosa, gliserin dan pengawet. Kedua fase ini bereaksi dengan larutan beralkohol dari kaustik soda dibawah pemanasan terkontrol. Setelah reaksi selesai, sabun ini kemudian siap untuk diberi warna dan wewangian. Setelah pewarnaan dan pewangian,

sabun akhir dituangkan ke dalam cetakan atau gelas terpisah dan dibiarkan mengeras sebelum dikemas (Williams dan Schmitt, 2002). Berikut penjelasan mengenai bahan baku yang digunakan pada pembuatan sabun transparan :

1. Asam stearat Asam stearat berbentuk padatan berwarna putih kekuningan (Wade dan Weller, 1994). Asam stearat memilki atom karbon C 18 yang merupakan asam lemak jenuh dan berperan dalam memberikan

konsistensi dan kekerasan pada produk (Mitsui, 1997). Asam stearat mempunyai titik cair pada suhu 69,4 0 C (Ketaren, 1986).

2. Minyak kelapa Menurut Cavith (2001), minyak kelapa diperoleh dari kopra yaitu daging buah kelapa yang sudah dikeringkan. Minyak kelapa mengandung asam laurat C 12 yang berperan dalam proses pembentukan sabun dan pembusaan (Mitsui, 1997).

3. Natrium hidroksida (NaOH) NaOH merupakan salah satu jenis alkali (basa) kuat yang bersifat korosif serta mudah menghancurkan jaringan organik yang halus. NaOH berbentuk butiran padat berwarna putih dan memilki sifat higroskopis (Wade dan Weller, 1994). Ion Na + dari NaOH bereaksi dengan asam lemak membentuk sabun (Cavith, 2001).

4. Gliserin Gliserin berbentuk cairan jernih, tidak berbau dan memiliki rasa manis. Gliserin diperoleh dari hasil samping proses pembuatan sabun atau dari asam lemak tumbuhan dan hewan. Pada pembuatan sabun transparan, gliserin bersama dengan sukrosa dan alkohol berfungsi dalam pembentukan struktur transparan (Mitsui, 1997).

5. Asam sitrat Asam sitrat adalah asam hidroksi trikarboksilat yang diperoleh dari ekstraksi buah-buahan atau hasil proses fermentasi. (Wertheim dan Jeskey, 1956). Asam sitrat berfungsi untuk menurunkan nilai pH (Kirk et al., 1954).

6. Dietanolamida (DEA) DEA berbasis minyak kelapa merupakan DEA terpopuler walaupun efek pengentalannya berkurang dengan adanya gliserol. Harganya relatif murah dan mudah ditangani dibandingkan dengan amida-amida murni berbasis metil ester (William san Schmitt, 2002). DEA dalam statu formula sedían kosmetika berfungsi sebagai surfaktan dan sebagai zat penstabil busa (Wade dan Weller, 1994).

7. Natrium klorida (NaCl) NaCl berbentuk butiran berwarna putih (Wade dan Weller, 1994). Pada formulasi sabun transparan, NaCl berfungsi sebagai elektrolit (Cognis, 2003).

C. SUKROSA Sukrosa merupakan senyawa nonionik dan mempunyai sifat pengemulsi (emusifying), pembusaan (foaming), deterjensi (detergency), dan pelarutan (solubizing) yang sangat baik (Gupta et al., 1985). Sukrosa, atau sering disebut gula, merupakan disakarida dengan rumus kimia C 12 H 22 O 11 (ß-D-fructofuranosyl-α-D-glucopyranoside) yang mempunyai berat molekul 342,3. Sukrosa merupakan salah satu disakarida yang ditemukan dalam bentuk bebas (tidak berikatan dengan senyawa lain) di dalam tanaman. Secara komersial, sukrosa umumnya diperoleh dari tebu (Saccharum officinarum) yang nerupakan tanaman daerah tropis dan beet (beta vulgaris yang merupakan tanaman sub-tropis (Paryanto, 1999). Gula tebu (cane sugar) merupakan nama lain non teknik untuk sukrosa. Sukrosa termasuk gula non reduksi, sehingga tidak mereduksi larutan Fehling menjadi Cu(I)O atau larutan perak nitrat menjadi perak. Sukrosa tersusun dari dua molekul monosakarida, yaitu glukosa dan fruktosa.

dari dua molekul monosakarida, yaitu glukosa dan fruktosa. Gambar 4. Struktur kimia sukrosa ( www.wikipedia.org )

Gambar 4. Struktur kimia sukrosa (www.wikipedia.org) Purwono (2003) menjelaskan bahwa tujuan utama penanaman tebu adalah untuk memperoleh hasil hablur yang tinggi. Hablur adalah gula sukrosa yang dikristalkan. Dalam sistem produksi gula, pembentukan gula

terjadi di dalam proses metabolisme tanaman dan proses ini terjadi di lapangan (on farm).

Sukrosa mempunyai nilai ekonomis karena rasa manis dan kemurniannya. Di samping untuk dikonsumsi langsung, sukrosa mempunyai potensi menjadi bahan baku untuk produksi bahan kimia lainnnya (Paryanto, 1999). Menurut Nuryanto (1997), sukrosa mempunyai sifat non-toksik, tidak berbau dan tidak berasa, tidak menimbulkan iritasi pada kulit dan apabila dicampurkan dengan bahan lain akan terhidrolisa ke dalam bentuk normal produk makanan. Tidak seperti kebanyakan surfaktan, sukrosa juga merupakan emulsifier yang baik dan mempunyai performa yang baik sebagai deterjen bila digunakan secara sendirian atau dicampur dengan surfaktan anionik. Pada umumnya sukrosa diaplikasikan sebagai surfaktan untuk produk-produk kosmetika seperti cream, lotion, sabun dan sebagainya. Karena karakteristik sabun transparan yang hampir mirip dengan sabun konvensional, kecuali berbeda pada tingkat transparasinya, maka sukrosa bisa dipakai sebagai bahan aktif pada pembuatan sabun trasparan. Ditambahkan pula oleh Mitsui (1997), sukrosa berfungsi sebagai humektan, sehingga dengan adanya sukrosa akan membuat sabun transparan tidak hanya tampak menarik, tetapi juga dapat merawat kulit dengan baik dan sangat lembut.

D. ASAM SITRAT Asam sitrat adalah asam hidroksi trikarboksilat (2 hidroksi – 1, 2, 3 – propana trikarboksilat) yang diperoleh dari ekstraksi buah-buahan atau hasil proses fermentasi. Asam sitrat merupakan senyawa organik yang pertama kali diisolasi dan dikristalkan oleh Scheele pada tahun 1784 dari sari buah jeruk kemudian dibuat secara komersial pada tahun 1860 di Inggris (Wertheim dan Jeskey, 1956). Struktur kimia asam sitrat seperti terlihat pada Gambar 6 berikut ini:

Gambar 5. Struktur kimia asam sitrat ( www.wikipedia.com ) Keasaman asam sitrat disebabkan oleh adanya

Gambar 5. Struktur kimia asam sitrat (www.wikipedia.com)

Keasaman asam sitrat disebabkan oleh adanya tiga gugus karboksil (COOH), dimana dalam bentuk larutan masing-masing gugus akan melepaskan ion protonnya. Jika ini terjadi maka akan terbentuk ion sitrat. Sitrat membuat penyangga yang sangat baik untuk mengendalikan pH. Pada suhu kamar, asam sitrat berbentuk bubuk kristal putih terdiri dari asam sitrat yang tidak berair (anhydrous) atau sebagai monohydrate (satu molekul air dalam setiap molekul asam sitrat). Asam sitrat anhydrous mengkristal dari air panas sedangkan monohydrate dikristalkan dari air dingin. Asam sitrat monohydrate dapat dikonversi menjadi anhydrous melalui pemanasan di atas 74 0 C (www.wikipedia.org). Asam sitrat (C 6 H 8 O 7 ) memiliki kelarutan dalam air 163 gram dalam 199 ml air (Kirk et al., 1954). Dalam industri, asam sitrat paling banyak digunakan dalam industri pangan (60%), farmasi (16%), kulit dan industri sejenisnya (5%), kosmetika (3%), serta industri lainnya (1%). Menurut Swern (1982), kontaminasi logam dalam lemak dan minyak diduga berada di dalam bentuk sabun logam. Metode yang umum dipakai untuk menyingkirkan kontaminasi logam, yang khususnya bermanfaat sebagai proses tambahan pada deodorisasi adalah dengan memanfaatkan senyawa yang disebut penyapu logam yang dapat membentuk suatu kompleks tidak aktif dengan besi dan logam-logam berat lainnya. Senyawa yang dikenal di mancanegara selama bertahun-tahun sebagai penyapu logam tersebut adalah senyawa-senyawa asam seperti asam fosfat dan asam organik (sitrat dan tartarat).

Penggunaan lain dari asam sitrat dalam sabun atau deterjen adalah kemampuannya sebagai penyapu logam-logam berat dalam air sadah. Menurut Winarno dan Laksmi (1974), asam sitrat berfungsi sebagai chelating agent, yaitu senyawa yang dapat mengikat logam-logam divalen seperti Mn, Mg dan Fe yang sangat diperlukan sebagai katalisator dalam reaksi-reaksi biologis. Karena itu, reaksi biologis dapat dihambat dengan penambahan asam sitrat (www.wikipedia.org).

E. MUTU SABUN Sediaan kosmetik merupakan bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan pada badan atau bagian badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau mengubah rupa dan tidak termasuk obat. Penggolongan kosmetik berdasarkan kegunaannya adalah sebagai hiegene tubuh (sabun dan shampoo), tata rias (pemerah pipi, lipstik), wangi- wangian dan proteksi (sun creen). Tujuan penggunaan sediaan kosmetika mandi antara lain untuk membersihkan tubuh, membantu melunakkan air sadah, memberi keharuman dan rasa segar serta menghaluskan dan melembutkan kulit (Imron, 1985). Contoh dari sediaan kosmetika mandi antara lain minyak mandi, bath capsul, sabun dan sebagainya. Sabun merupakan pembersih tubuh sehari-hari. Sabun dan air dapat menghilangkan berbagai kotoran dari permukaan kulit termasuk bakteri, keringat, sel-sel kulit yang telah mati dan sisa kosmetik. Bentuk sabun secara garis besar dapat terbagi dua yaitu sabun yang berbentuk padat dan sabun yang berbentuk cair. Dalam pembuatan produk sabun, terdapat beberapa spesifikasi persyaratan mutu yang harus dipenuhi agar sabun tersebut layak untuk digunakan dan dipasarkan. Spesifikasi persyaratan mutu yang harus dipenuhi pada produk sabun menurut SNI 06-3532-1994 meliputi beberapa parameter sebagai berikut: kadar air dan zat menguap sabun, jumlah asam lemak, fraksi tak tersabunkam, bagian tak larut alkohol, kadar

alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH dan kadar minyak mineral (SNI,

1994).

F. UJI ORGANOLEPTIK Menurut Soekarto (1981), penilaian dengan indra disebut penilaian organoleptik atau penilaian sensorik merupakan suatu cara penilaian yang paling primitif. Penilaian dengan indra banyak digunakan untuk meneliti mutu komoditi hasil pertanian dan makanan. Penilaian cara ini banyak

disenangi karena dapat dilaksanakan dengan cepat dan langsung. Kadang- kadang penilaian ini dapat memberikan hasil penelitian yang teliti. Dalam beberapa hal penilaian dengan indra bahkan melebihi ketelitian alat yang paling sensitif. Sistem penelitian organoleptik telah dapat dibakukan dan dijadikan alat penilai dalam laboratorium, dunia usaha dan perdagangan. Laboratorium penilaian organoleptik pun telah menjadi umum di industri maupun di lembaga-lembaga penelitian. Penelitian organoleptik telah pula digunakan sebagai metode dalam penelitian dan pengembangan. Untuk melaksanakan suatu penilaian organoleptik diperlukan panel. Panel adalah satu atau sekelompok orang yang bertugas untuk menilai sifat atau mutu benda berdasarkan kesan subjektif. Orang yang menjadi anggota panel disebut panelis. Ada 6 macam panel yang biasa digunakan dalam penilaian organoleptik yaitu :

1. Pencicip perorangan (individual expert) Pencicip perorangan disebut juga pencicip tradisional. Pencicip demikian telah lama digunakan dalam industri-industri makanan seperti pencicip teh, kopi, es krim atau penguji bau pada industri minyak wangi (parfum).

2. Panel pencicip terbatas Untuk menghindari ketergantungan pada seorang pencicip perorangan maka beberapa industri menggunakan 3 – 5 orang penilai yang mempunyai kepekaan tinggi yang disebut panel pencicip terbatas. Biasanya panel ini diambil dari personel laboratorium yang sudah

mempunyai pengalaman luas akan komoditi tertentu. Penggunaan panel pencicip terbatas dapat mengurangi faktor kecenderungan (bias) dalam menilai rasa suatu komoditi. Dalam mengambil keputusan dilakukan secara musyawarah diantara anggota.

3. Panel terlatih Anggota panel terlatih yaitu antara 15 – 25 orang. Tingkat kepekaan yang diharapkan tidak perlu setinggi panel pencicip terbatas. Untuk menjadi anggota panel ini perlu diseleksi dan yang terpilih kemudian dilatih. Panel terlatih ini juga berfungsi sebagai alat analisa, dan pengujian-pengujian yang dilakukan biasanya terbatas pada kemampuan membedakan.

4. Panel tak terlatih Jika panel terlatih biasanya untuk menguji pembedaan (different test), maka panel tak terlatih umumnya untuk menguji kesukaan (preference test). Pemilihan anggota dilakukan bukan terhadap kepekaan calon anggota tetapi pemilihan itu lebih mengutamakan segi sosial seperti latar belakang pendidikan, asal daerah ekonomi, dalam masyarakat dan sebagainya.

5. Panel konsumen Panel ini biasanya mempunyai anggota yang besar jumlahnya dari 30 sampai 1000 orang. Pengujiannya biasanya mengenai uji kesukaan (preference test) dan dilakukan sebelum pengujian pasar. Hasil uji kesukaan dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu jenis komoditi dapat diterima oleh masyarakat.

6. Panel agak terlatih Panel ini tidak dipilih menurut prosedur pemilihan panel terlatih, tetapi juga tidak diambil dari orang-orang awam yang tidak tahu menahu mengenai sifat-sifat sensorik dan penilaian organoleptik. Panelis dalam kategori ini mengetahui sifat-sifat sensorik dari contoh yang dinilai karena mendapat penjelasan atau sekedar latihan. Termasuk dalam kategori panel agak terlatih adalah sekelompok mahasiswa dan atau staf peneliti yang dijadikan panelis secara musiman

atau hanya kadang-kadang. Panelis pada panel agak terlatih dipilih berdasarkan kepekaan dan keandalan penilaian. Jumlahnya berkisar antara 15 – 25 orang. Pengujian organoleptik dapat digolongkan dalam beberapa kelompok. Cara yang paling populer adalah kelompok pengujian pembedaan (different test) dan kelompok pengujian pemilihan (preferance test). Disamping dua kelompok pengujian tersebut dikenal juga pengujian skalar dan pengujian deskripsi. Jika kedua pengujian pertama banyak digunakan dalam penelitian, analisa proses dan penilaian hasil akhir maka dua kelompok pengujian terakhir ini banyak digunakan dalam pengawasan mutu (quality control). Diluar 4 kelompok pengujian itu masih ada uji-uji sensorik lain termasuk disini adalah uji konsumen. Kelompok pengujian pemilihan disebut juga dengan pengujian penerimaan (acceptance test). Uji penerimaan menyangkut penilaian seseorang akan suatu sifat atau kualitas suatu bahan yang menyebabkan orang menyenangi. Dalam kelompok uji penerimaan ini termasuk uji kesukaan (hedonik) dan uji mutu hedonik. Uji kesukaan disebut juga uji hedonik. Dalam uji hedonik panelis diminta untuk memberikan tanggapan pribadinya tentang kesukaan atau sebaliknya ketidaksukaan. Disamping panelis mengemukakan tanggapan senang, suka atau kebalikannya, mereka juga mengemukakan tingkat kesukaannya. Tingkat-tingkat kesukaan ini disebut skala hedonik. Skala hedonik dapat direntangkan atau diciutkan menurut rentangan skala yang dikehendaki. Gambar 6 menunjukkan contoh-contoh skala hedonik dengan berbagai rintangan. Dalam penganalisaan, skala hedonik ditransformasi menjadi skala numerik dengan angka menaik menurut tingkat kesukaan. Dengan data numerik ini dapat dilakukan analisa-analisa statistik. Dengan adanya skala hedonik secara tidak langsung juga dapat digunakan untuk mengetahui perbedaan. Karena hal ini, maka uji hedonik paling sering digunakan untuk menilai secara organoleptik terhadap

komoditi sejenis atau produk pengembangan serta menilai hasil akhir produksi.

Skala hedonik

Skala

Skala hedonik

Skala

Skala hedonik

Skala

numerik

numerik

numerik

Amat sangat

9

Amat sangat

5

Amat sangat

7

suka

8

suka

4

suka

6

Sangat suka

7

Sangat suka

3

Sangat suka

5

Suka

6

Suka

2

Suka

4

Agak suka

5

Agak suka

1

Agak suka

3

Netral

4

Netral

0

Agak tidak

2

Agak tidak

3

Tidak suka

suka

1

suka

2

Tidak suka

Tidak suka

1

Sangat tidak

Sangat tidak

suka

suka

6 SKALA

Amat sangat

HEDONIK

tidak ssuka

7 SKALA

9 SKALA

HEDONIK

HEDONIK

Gambar 6. Macam-macam skala hedonik dengan skala numeriknya (Soewarno,

1981)

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. BAHAN DAN ALAT

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah asam stearat, minyak kelapa, NaOH 30%, gliserin, etanol 70%, sukrosa, Coco DEA, NaCl, asam sitrat, air serta bahan-bahan lain untuk analisis.

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah gelas piala, spatula, pengaduk dan pemanas (hot plate stirrer), timbangan, thermometer, cetakan serta alat-alat lain untuk analisis.

B. METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu (1) persiapan bahan, (2) pembuatan sabun transparan dan (3) analisis produk akhir.

1. Persiapan Bahan

Pada tahap ini dilakukan persiapan bahan untuk proses pembuatan sabun transparan dengan berbagai variasi konsentrasi asam sitrat (1, 3, 5)% dan sukrosa (8, 11, 13)% sebagai bahan baku penyusunnya. Mula-mula dilakukan penimbangan bahan baku berdasarkan formula pembuatan sabun transparan yang digunakan (Lampiran 1).

2. Pembuatan Sabun Transparan

Pada tahap ini sabun dibuat dengan mencairkan asam stearat kemudian dicampurkan dengan minyak kelapa pada suhu 70 - 80 0 C sambil diaduk. Setelah homogen, ditambahkan NaOH 30%, sehingga terbentuk stok sabun. Selanjutnya ditambahkan bahan-bahan pendukung yaitu ethanol, gliserin, sukrosa, asam sitrat, DEA, NaCl dan air sehingga terbentuk sabun transparan. Diagram alir proses pembuatan sabun transparan dapat dilihat pada Gambar 7 dan neraca massa disajikan pada Lampiran 2.

Asam Stearat
Asam Stearat

Pencairan

Asam Stearat Pencairan Pencampuran T = 70 - 80 0 C NaOH Pencampuran 30% T =

Pencampuran

T = 70 - 80 0 C

NaOH Pencampuran 30% T = 70 - 80 0 C Stok sabun
NaOH
Pencampuran
30%
T
= 70 - 80 0 C
Stok sabun
Minyak Kelapa
Minyak
Kelapa
Ethanol Gliserin Sukrosa (8, 11, 13)% Asam sitrat (1, 3, 5)% Coco DEA NaCl
Ethanol
Gliserin
Sukrosa (8, 11, 13)%
Asam sitrat (1, 3, 5)%
Coco DEA
NaCl

Pencampuran

T = 70 - 80 0 C

(1, 3, 5)% Coco DEA NaCl Pencampuran T = 70 - 80 0 C Pencetakan Sabun

Pencetakan

Sabun Transparan
Sabun Transparan

Gambar 7. Diagram Alir Proses Pembuatan Sabun Transparan (Modifikasi

Cognis, 2003)

3. Analisa Produk Akhir

a. Sifat Físiko Kimia

Untuk mengetahui karakteristik produk sabun yang dihasilkan,

dilakukan analisis terhadap sifat fisiko-kimia sabun. Sifat kimia sabun

yang diamati antara lain kadar air, jumlah asam lemak, fraksi tak

tersabunkan, bagian tak larut dalam alkohol, alkali bebas, pH, stabilisasi busa, stabilisasi emulsi, kekerasan dan daya bersih. Sedangkan sifat fisik yang diamati adalah tingkat kekerasan yang diukur dengan menggunakan alat penetrometer.

b. Uji Organoleptik

Uji organoleptik pada produk sabun transparan dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap transparasi, tekstur, banyak busa, dan kesan pada kulit setelah pemakaian sabun transparan. Uji ini menggunakan panelis agak terlatih sebanyak 30 orang dengan skala 1 – 5. Skala penilaian yang diberikan yaitu (1) tidak suka, (2) agak tidak suka, (3) biasa, (4) agak suka, (5) suka. Analisis data untuk uji organoleptik dilakukan dengan metode statistik non parametrik menggunakan uji Friedmann.

c. Analisa Kelayakan Usaha Sabun Transparan

Analisa kelayakan sabun transparan menggunakan indikator kelayakan berupa analisis titik impas (break event point), net B/C (net benefit cash ratio), nilai bersih sekarang (net present value) dan waktu pengembalian modal (payback period).

C. RANCANGAN PERCOBAAN Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian utama adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua perlakuan dan masing-masing terdiri dari tiga taraf yaitu konsentrasi sukrosa (8, 11, dan 13%) dan konsentrasi asam sitrat (1, 3, dan 5%). Model matematis dari rancangan percobaan untuk penelitian utama adalah sebagai berikut.

Y ij = μ + Ai + Bj + ABij + ε k(ij)

Keterangan :

Yijk =

variabel

respon hasil

observasi ke-k

yang

terjadi karena

pengaruh taraf ke-i faktor A dan taraf ke-j faktor B

μ

= rata-rata sebenarnya

A

= konsentrasi sukrosa (8, 11, dan 13%)

B

= konsentrasi asam sitrat (1, 3, dan 5%)

Ai

= efek sebenarnya dari taraf ke-i faktor A

Bi

= efek sebenarnya dari taraf ke-j faktor B

ABij = pengaruh interaksi taraf ke-i faktor A dengan taraf ke-j faktor B

ε = galat

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. ANALSIS PENGARUH SUKROSA DAN ASAM SITRAT TERHADAP PARAMETER MUTU SABUN Produk sabun transparan yang dihasilkan merupakan hasil dari formulasi sabun transparan berdasarkan modifikasi metode Cognis (2003) dengan kombinasi variasi konsentrasi sukrosa (8, 11, dan 13%) dan variasi konsentrasi asam sitrat (1, 3, dan 5%). Produk sabun transparan yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 8.

transparan yang dihasilkan dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 8. Produk sabun transparan yang dihasilkan

Gambar 8. Produk sabun transparan yang dihasilkan

Karakteristik sabun transparan yang dihasilkan disesuaikan menurut spesifikasi mutu yang terdapat dalam SNI 06-3532-1994 dengan parameter kadar air dan zat menguap sabun, jumlah asam lemak, kadar fraksi tak tersabunkan, bagian tak larut dalam alcohol, kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH, pH, stabilitas emulsi, stabilitas busa, kekerasan dan

daya bersih. Karakterisasi ini bertujuan untuk mengetahui sifar fisik dan kimia sabun transparan yang dihasilkan serta untuk mengetahui kesesuaian produk sabun transparan yang dihasilkan dengan Standar Nasional Indonesia Sabun Mandi. Spesifikasi persyaratan mutu sabun mandi menurut SNI 06-3532-1994 dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Spesifikasi Mutu Sabun (SNI 06-3532-1994)

No

Jenis Uji

Persyaratan Mutu

1.

Kadar air dan zat menguap pada 105 0 C (b/b; %)

Maks 15

2.

Jumlah asam lemak (b/b; %)

Min 70

3.

Kadar fraksi tak tersabunkan (b/b; %)

Maks 2,5

4.

Bagian tak larut dalam alkohol (b/b; %)

Maks 2,5

5.

Alkali bebas dihitung sebagai NaOH (b/b; %)

Maks 0,1

6.

Minyak mineral

- (negatif)

Sumber : BSN (1994)

1. Kadar Air dan Zat Menguap Sabun Analisis ini dilakukan untuk mengetahui banyaknya kadar air dan zat yang menguap dalam sabun. Banyaknya air yang ditambahkan pada produk sabun akan mempengaruhi kelarutan sabun dalam air pada saat digunakan. Semakin banyak air yang terkandung dalam sabun maka sabun akan semakin mudah menyusut atau habis pada saat digunakan (Spitz, 1996). Kandungan zat menguap dalam produk sabun transparan berasal dari bahan penyusunnya yang bersifat volatile atau mudah menguap, dapat pula berasal dari hasil lanjut reaksi oksidasi asam lemak yang terdapat dalam sabun transparan. Menurut Ketaren (1986), proses oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan minyak atau lemak. Oksidasi biasanya dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Tingkat selanjutnya ialah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam-asam lemak bebas. Senyawa aldehid dan keton yang dihasilkan dari lanjutan reaksi oksidasi ini memiliki sifat mudah menguap seperti alkohol.

35.00 30.00 25.00 20.00 15.00 10.00 5.00 3 0.00 1 8 11 13 Kadar Air
35.00
30.00
25.00
20.00
15.00
10.00
5.00
3
0.00
1
8
11
13
Kadar Air dan Zat
Menguap Sabun (%)

Konsentrasi Sukrosa (%)

5

Konsentrasi

Asam Sitrat

(%)

Gambar 9. Histogram Hubungan antara Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap Kadar Air dan Zat Menguap Sabun

Pada Gambar 9 dapat dilihat bahwa kadar air dan zat menguap sabun

transparan menunjukkan nilai yang berbeda-beda. Nilai kadar air sabun

transparan tertinggi diperoleh dari perlakuan konsentrasi sukrosa 8% dan

konsentrasi asam sitrat 1% sebesar 32,48%, dan kadar air terendah pada

perlakuan konsentrasi sukrosa 13% dan konsentrasi asam sitrat 5% sebesar

24,81%. Nilai kadar air yang diperoleh berada diatas batas maksimum kadar

air menurut SNI. Hal ini berarti sabun transparan yang dihasilkan cukup lunak.

Meskipun kurang efisien dalam penggunaannya karena sabun lebih mudah

larut dalam air sehingga cepat habis, namun dengan kondisi batang sabun

yang cukup lunak memberikan kemudahan dalam proses pembuatan dan

pengemasan sabun karena tidak mudah patah atau hancur. Analisa kadar air

dan zat menguap sabun juga dilakukan pada sabun komersial merk Deo

sebagai pembanding, yaitu sebesar 22,42%.

Hasil analisis keragaman terhadap kadar air menunjukkan bahwa

faktor konsentrasi sukrosa berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95%

(α = 0,05), sedangkan faktor konsentrasi asam sitrat dan interaksi antara

konsentrasi sukrosa dan asam sitrat menunjukkan tidak berbeda nyata.

Uji lanjut Duncan memperlihatkan bahwa pengaruh perlakuan antara

konsentrasi sukrosa 13 dan 11% tidak berbeda nyata dan kedua konsentrasi

tersebut berbeda nyata terhadap konsentrasi sukrosa 8%. Sukrosa mudah larut

dalam air. Semakin tinggi suhu maka makin tinggi daya larutnya. Kelarutan

sukrosa juga dipengaruhi oleh zat lain yang terlarut dalam air, serta sifat zat tersebut. Berdasarkan formulasi sabun transparan yang dihasilkan, jumlah air yang ditambahkan semakin sedikit seiring dengan semakin tinggi konsentrasi sukrosa yang digunakan, karena itu jumlah air dan zat menguap yang terkandung dalam sabun transparan semakin rendah. Hasil analisa keragaman dan uji lanjut Duncan dapat dilihat pada Lampiran 5.

2. Jumlah Asam Lemak Asam lemak diperoleh secara alami melalui hidrolisis trigliserida

(William dan Schmitt, 2002). Pengukuran jumlah asam lemak dilakukan untuk mengetahui jumlah asam lemak yang terdapat dalam sabun dengan memutus ikatan antara asam lemak dengan Na pada sabun menggunakan asam kuat HCl:

RCOONa

Sabun Natrium

+

HCl

Asam Klorida

asam kuat HCl: RCOONa Sabun Natrium + HCl Asam Klorida RCOOH Asam Lemak + NaCl Garam

RCOOH

Asam Lemak

+

NaCl

Garam

Banyaknya ml asam lemak diketahui dengan membaca skala yang tertera pada labu cassia. Jumlah asam lemak ditetapkan dengan membagi ml asam lemak yang sebelumnya dikalikan dengan 0,84 (BD asam lemak pada 100 0 C) dengan banyaknya sampel yang digunakan. Asam lemak yang terkandung oleh sabun transparan ini berasal dari asam stearat dan asam laurat yang merupakan asam lemak dominan yang terdapat dalam minyak kelapa. Baik asam stearat maupun laurat merupakan asam lemak jenuh yaitu asam lemak yang tidak mengandung ikatan rangkap. Asam lemak yang tidak memilki ikatan rangkap memiliki titik cair yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam lemak yang mengandung banyak ikatan rangkap sehingga asam lemak jenuh biasanya berbentuk padat pada suhu ruang. Berdasarkan hal tersebut maka asam lemak jenuh dapat digunakan pada pembuatan sabun batang.

34 33 32 31 30 29 28 27 26 3 25 1 8 11 13
34
33
32
31
30
29
28
27
26
3
25
1
8
11
13
Jumlah Asam Lemak (%)

5

Konsentrasi Sukrosa (%)

Konsentrasi

Asam Sitrat

(%)

Gambar 10. Histogram Hubungan antara Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap Jumlah Asam Lemak

Menurut SNI (1994), jumlah asam lemak sabun minimal sebesar 70%.

Berdasarkan hasil analisis, rata-rata jumlah asam lemak pada sabun transparan

berkisar antara 28,38 – 38,81%. Data hasil analisis jumlah asam lemak dapat

dilihat pada Gambar 10. Berdasarkan hasil analisa keragaman jumlah asam

lemak (Lampiran 6b) menunjukkan bahwa faktor konsentrasi sukrosa

berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05), sedangkan faktor

konsentrasi asam sitrat dan interaksi antara konsentrasi sukrosa dan asam sitrat

menunjukkan tidak berbeda nyata.

Uji lanjut Duncan (Lampiran 6c) memperlihatkan bahwa pengaruh

perlakuan antara konsentrasi sukrosa 8 dan 11% tidak berbeda nyata dan

kedua konsentrasi tersebut berbeda nyata terhadap konsentrasi sukrosa 13%.

Semakin tinggi konsentrasi sukrosa maka semakin besar jumlah asam lemak

yang terdapat dalam sabun transparan.

Bila larutan disakarida dipanaskan dengan larutan asam kuat maka

akan terjadi hidrolisis yang mengakibatkan disakarida membentuk dua

molekul monosakarida (heksosa). Menurut Tjokroadikoesoemo (1986),

setelah dihidrolisis maka sifat-sifat gula perduksi dari masing-masing

komponen monosakarida tersebut timbul kembali. Gula pereduksi bersifat

aktif sehingga dapat menghambat terjadinya pembentukan sabun dari asam

lemak. Hal ini mengakibatkan jumlah asam lemak semakin meningkat.

Analisa jumlah asam lemak juga dilakukan pada sabun komersial merk Deo sebagai pembanding, yaitu sebesar 52,08%.

3. Kadar Fraksi Tak Tersabunkan Kadar fraksi tak tersabunkan merupakan jumlah komponen yang tidak tersabunkan karena tidak bereaksi dengan senyawa alkali (Natrium) namun dapat larut dalam minyak pada saat pembuatan sabun. Adanya fraksi tak tersabunkan dapat menurunkan kemampuan membersihkan (deterjensi) pada sabun (Spitz, 1996). Ketaren (1986) menambahkan bahwa senyawa-senyawa yang larut dalam minyak dan tidak dapat disabunkan dengan soda alkali termasuk di dalamnya yaitu sterol, zat warna dan hidrokarbon. Menurut SNI (1994), kadar fraksi tak tersabunkan yang terdapat pada sabun maksimum sebesar 2,5%. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kadar fraksi tak tersabunkan pada sabun transparan berkisar antara 0,46 – 8,72%. Kadar fraksi tak tersabunkan sabun transparan sebagian besar belum memenuhi kriteria mutu kadar fraksi tak tersabunkan sabun menurut SNI. Analisa kadar fraksi tak tersabunkan juga dilakukan pada sabun komersial merk Deo sebagai pembanding, yaitu sebesar 0,78%. Hasil analisa keragaman (Lampiran 7) terhadap kadar fraksi tak tersabunkan menunjukkan bahwa faktor konsentrasi sukrosa, konsentrasi asam sitrat dan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Pada proses pembuatan sabun, penambahan NaOH (soda alkali) harus dilakukan dengan jumlah yang tepat. Apabila NaOH yang ditambahkan terlalu pekat atau jumlahnya berlebih, maka alkali bebas yang tidak berikatan dengan trigliserida atau asam lemak akan terlalu tinggi mamberikan pengaruh negatif yaitu iritasi pada kulit. Sebaliknya, apabila NaOH yang ditambahkan terlalu encer atau jumlahnya terlalu sedikit, maka sabun yang dihasilkan akan mengandung asam lemak bebas yang tinggi. Asam lemak bebas pada sabun mengganggu proses emulsi dan kotoran pada saat sabun digunakan (Kamikaze,

2002).

4. Bagian Tak Larut dalam Alkohol Suatu larutan adalah campuran homogen dari molekul, atom maupun ion dari dua zat atau lebih. Suatu larutan disebut suatu campuran karena susunannya begitu seragam sehingga tak dapat diamati adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Biasanya dengan larutan dimaksudkan fase cair. Lazimnya salah satu komponen (penyusun) larutan semacam itu adalah suatu cairan sebelum campuran itu dibuat. Cairan ini disebut medium pelarut atau pelarut (solvent). Komponen lain, yang dapat berbentuk gas, cairan ataupun zat padat dibayangkan sebagai terlarut ke dalam komponen pertama. Zat yang terlarut disebut zat terlarut (solute). Terdapat kecenderungan bagi senyawa non-polar untuk larut ke dalam pelarut non-polar dan bagi senyawa kovalen polar atau senyawa ion untuk larut ke dalam pelarut polar. Lapisan molekul pelarut yang terikat pada permukaan partikel zat terlarut membantu menjaga ion-on atau molekul-molekul itu agar dalam larutan tetap terpisah. Pemisahan ini menghalangi rekristalisasi (pengkristalan kembali) dan karena itu membantu dalam proses pelarutan. Jika suatu zat larut sangat sedikit, katakan kurang dari 0,1 g zat terlarut dalam 1000 g pelarut, maka zat itu disebut tak larut (insoluble) (Pudjaatmaka, 1984). Menurut SNI (1994), bagian tak larut dalam alkohol yang terdapat pada sabun maksimum sebesar 2,5%. Bahan tak larut dalam alkohol meliputi garam alkali seperti karbonat, silikat, fosfat dan sulfat serta pati (ATSM, 2001). Berdasarkan data hasil analisis seperti terlihat pada Lampiran 8 .menunjukkan bahwa bagian tak larut dalam alkohol pada sabun transparan berkisar antara 1,23 – 3,02%. Analisa bagian tak larut dalam alkohol juga dilakukan pada sabun komersial merk Deo sebagai pembanding, yaitu sebesar 0,44%. Hasil analisa keragaman (Lampiran 8) terhadap bagian tak larut dalam alkohol menunjukkan bahwa faktor konsentrasi sukrosa, konsentrasi asam sitrat dan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05).

5. Kadar Alkali Bebas yang Dihitung sebagai Kadar NaOH

Alkali bebas merupakan alkali yang tidak terikat sebagai senyawa pada

saat pembuatan sabun. Hal ini disebabkan karena adanya penambahan alkali

yang berlebihan pada saat proses penyabunan. Menurut SNI (1994), kelebihan

alkali dalam sabun natrium tidak boleh melebihi 0,1% karena alkali bersifat

keras dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit.

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa

kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH berada dalam kisaran

0,11 – 0,70%. Pada perlakuan sukrosa 11 dan 8% dengan asam sitrat 5%

memilki kadar alkali bebas yang negatif, artinya sabun transparan yang

dihasilkan tidak kelebihan basa, melainkan memiliki asam lemak yang

berlebihan. Hal ini juga dapat dilihat pada saat melakukan analisis awal, dimana

sabun yang berubah warna menjadi merah muda setelah ditetesi phenolphtalein

menandakan bahwa sabun tersebut kelebihan basa, maka dilakukan pengujian

alkali bebas. Namun apabila tidak terjadi perubahan warna berarti sabun

kelebihan asam maka dilakukan pengujian asam lemak bebas. Asam lemak

bebas sabun transparan pada perlakuan sukrosa 8% dengan asam sitrat 5%

sebesar 0,27% dan pada perlakuan sukrosa 11% dengan asam sitrat 5% sebesar

0,135%

0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 3 0 1 8 11 13 Kadar Alkali
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
3
0
1
8
11
13
Kadar Alkali Bebas yang
Dihitung sebagai NaOH (%)

Konsentrasi Sukrosa (%)

5

Konsentrasi

Asam Sitrat

(%)

Gambar 11. Histogram Hubungan antara Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap Kadar Alkali Bebas yang Dihitung sebagai NaOH

Berdasarkan hasil analisa keragaman kadar alkali bebas yang dihitung sebagai NaOH terhadap sabun transparan dapat diketahui bahwa konsentrasi sukrosa dan konsentrasi asam sitrat berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05), sedangkan interaksi kedua faktor tersebut tidak berbeda nyata. Uji Lanjut Duncan pada faktor konsentrasi sukrosa menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan antara konsentrasi sukrosa 8 dan 11% tidak berbeda nyata dan kedua konsentrasi tersebut berbeda nyata terhadap konsentrasi sukrosa 13% dengan kecenderungan kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi sukrosa. Pada saat pembentukan sabun, alkali yang tidak terikat sebagai senyawa dapat bereaksi dengan sukrosa. Sukrosa dengan adanya ion OH - dari alkali NaOH akan mengalami dekomposisi (Goutara, 1985). Hasil dekomposisi ini menyebabkan sukrosa berada dalam suasana asam dan bersifat lebih aktif sehingga terjadi kecenderungan sukrosa untuk menarik ion OH - dari alkali NaOH. Semakin tinggi konsentrasi sukrosa maka makin banyak pula kecenderungan sukrosa menarik alkali sehingga kadar alkali bebasnya semakin menurun. Uji lanjut Duncan pada faktor konsentrasi asam sitrat mnunjukkan bahwa pengaruh perlakuan antara konsentrasi asam sitrat 3 dan 5% tidak berbeda nyata dan kedua konsentrasi tersebut berbeda nyata terhadap konsentrasi asam sitrat 1% dengan kecenderungan kadar alkali bebas yang dihitung sebagai kadar NaOH menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi asam sitrat. Konsentrasi asam sitrat yang semakin tinggi akan menyebabkan sabun berada dalam suasana semakin asam dan akan kembali menjadi asam karboksilat. Dapat dikatakan bahwa sabun akan memiliki kelebihan asam sehingga kadar alkali bebas semakin menurun. Hasil analisa keragaman dan uji lanjut Duncan dapat dilihat pada Lampiran 9.

6. pH Larutan Sabun Derajat keasaman (pH) kosmetik sebaiknya disesuaikan dengan pH kulit, yaitu sebesar 4,5 – 7. Nilai pH kosmetik yang terlalu tinggi atau rendah

dapat menyebabkan iritasi pada kulit (Wasitaatmadja, 1997). Ditambahkan oleh

Jellinek (1970), mencuci tangan dengan sabun akan membuat nilai kulit pH

meningkat untuk sementara, tetapi kenaikan pH pada kulit tidak akan melebihi

7.

Kriteria mutu nilai pH menurut ASTM (2001) berkisar antara 9 – 11.

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan seperti terlihat pada Gambar 12,

nilai pH sabun transparan yang dihasilkan berkisar antara 9,53 – 10,24. Nilai

pH ini telah memenuhi kriteria mutu ASTM. Analisa nilai pH juga dilakukan

pada sabun komersial merk Deo sebagai pembanding, yaitu sebesar 10,01.

Hasil analisa keragaman terhadap nilai pH larutan sabun transparan

(Lampiran 10b) menunjukkan bahwa faktor konsentrasi asam sitrat

berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05), sedangkan faktor

konsentrasi sukrosa dan interaksi antara konsentrasi sukrosa dan asam sitrat

menunjukkan tidak berbeda nyata.

10.4 10.2 10 9.8 9.6 9.4 9.2 3 9 1 8 11 13 pH Larutan
10.4
10.2
10
9.8
9.6
9.4
9.2
3
9
1
8
11
13
pH Larutan Sabun

Konsentasi Sukrosa (%)

5

Konsentrasi

Asam Sitrat (%)

Gambar 12. Histogram Hubungan antara Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap pH

Uji lanjut Duncan (Lampiran 10c) memperlihatkan bahwa antar

konsentrasi asam sitrat menunjukkan berbeda nyata. Asam sitrat merupakan

asam karboksilat dan bersifat asam karena asam sitrat mengandung gugus

karboksil yang dapat mengion dalam larutan, menghasilkan ion karboksilat

dan proton. sehingga asam sitrat mampu mennurunkan nilai pH suatu zat.

Semakin tinggi konsentrasi asam sitrat maka semakin rendah nilai pH karutan sabun.

7. Stabilitas Emulsi Stabilitas atau kestabilan emulsi merupakan salah satu parameter penting terhadap mutu sabun transparan. Stabilitas emulsi sabun merupakan kekuatan sistem emulsi sabun dalam mempertahankan kestabilannya dalam berbagai kondisi. Stabilitas emulsi dapat diamati dari perubahan fisik sabun selama disimpan dalam jangka waktu dan kondisi tertentu. Menurut Suryani, et al. (2002), sabun padat termasuk dalam tipe w/o. Emulsi yang baik tidak membentuk lapisan-lapisan, tidak terjadi perubahan warna dan memiliki konsistensi tetap. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa stabilitas emulsi sabun transparan yang dihasilkan berada dalam kisaran 96,68 – 98,06%. Data hasil analisis stabilitas emulsi dapat dilihat pada Lampiran 11a. Berdasarkan hasil analisa keragaman (Lampiran 11b) terhadap sabun transparan menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa dan asam sitrat tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Asam sitrat tidak memiliki tegangan permukaan yang aktif. Stabilitas emulsi dalam sabun transparan dipengaruhi oleh banyaknya jumlah asam lemak yang terkandung dalam sabun. Stabilitas amulsi sabun transparan juga dipengaruhi oleh banyaknya kadar air dan adanya bahan dasar yang bersifat higroskopis, seperti gliserin dan sukrosa. Konsentrasi sukrosa yang tidak terlalu tinggi tidak memberikan banyak pengaruh terhadap stabilitas emulsi.

8. Stabilitas Busa Hasil analisis stabilisasi busa sabun transparan menunjukkan kisaran 0,34 – 0,87% (Lampiran 12a). Berdasarkan hasil analisa keragaman terhadap stabilitas busa sabun transparan menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa dan konsentrasi asam sitrat tidak berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil analisa keragaman dapat dilihat pada Lampiran 12b. Busa dapat stabil dengan adanya zat pembusa. Zat pembusa bekerja untuk menjaga agar busa tetap terbungkus dalam lapisan-lapisan tipis, dimana

molekul gas terdispersi dalam cairan. Larutan-larutan yang mengandung bahan aktif permukaan akan menghasilkan busa yang stabil bila dicampur dengan air. Sukrosa maupun asam sitrat tidak mengandung bahan-bahan aktif permukaan sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap kestabilan busa.

9. Kekerasan Produk Kekerasan didefinisikan sebagai kekuatan per gaya yang diperlukan untuk mencapai perubahan bentuk. Pengukuran tingkat kekerasan terhadap sabun transparan yang dihasilkan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut penetrometer. Kekerasan suatu bahan diukur dengan menjatuhkan sebuah jarum ke dalam benda tersebut (www.yourdictionary.com, 2004). Hasil pengukuran kekerasan bahan didapat dengan membaca skala penetrometer yang dinyatakan dalam sepersepuluh milimeter. Semakin dalam penetrasi jarum maka hasil pengukuran semakin besar, berarti sampel tersebut semakin lunak. Kekerasan sabun transparan dipengaruhi oleh asam lemak jenuh yang digunakan pada pembuatan sabun transparan. Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap tetapi memiliki titik cair yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam lemak yang memiliki ikatan rangkap. Asam lemak jenuh biasanya berbentuk padat pada suhu ruang sehingga baik digunakan pada pambuatan sabun transparan.

6 5 4 3 2 1 3 0 1 8 11 13 Penetrasi Jarum Penetrometer
6
5
4
3
2
1
3
0
1
8
11
13
Penetrasi Jarum
Penetrometer (mm)

Konsentrasi Sukrosa (%)

5

Konsentrasi

Asam Sitrat (%)

Gambar 13. Histogram Hubungan antara Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap Penetrasi Jarum Penetrometer

Pada Gambar 13 dapat dilihat bahwa nilai rata-rata penetrasi jarum

penetrometer sabun transparan berkisar antara 1,71 – 4,48 mm. Hasil analisa

keragaman menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa, konsentrasi asam sitrat

dan interaksi kedua faktor tersebut berpengaruh nyata pada tingkat

kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil analisa keragaman dapat dilihat pada

Lampiran 13b.

Uji Lanjut Duncan pada faktor konsentrasi sukrosa menunjukkan bahwa

setiap taraf konsentrasi menghasilkan pengaruh yang berbeda nyata terhadap

kekerasan sabun transparan dengan kecenderungan kemampuan jarum

melakukan penetrasi ke dalam sampel semakin menurun seiring dengan

peningkatan konsentrasi sukrosa. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak

konsentrasi sukrosa yang ditambahkan maka sabun transparan yang dihasilkan

semakin keras. Titik cair sukrosa sekitar 185 – 186 o C. Pada proses

pembentukan sabun transparan dari bentuk cairan stok sabun menjadi hard

soap maka dilakukan penurunan suhu. Apabila penurunan suhu tersebut sampai

di bawah titik cair sukrosa, maka mula-mula terbentuk keadaan amorph (tidak

berbentuk) kemudian viskositas makin kecil dan terbentuk benda seperti gelas.

Uji lanjut Duncan untuk faktor konsentrasi asam sitrat terhadap

kekerasan sabun transparan menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan antara

konsentrasi asam sitrat 1 dan 3% tidak berbeda nyata dan kedua konsentrasi

tersebut berbeda nyata terhadap konsentrasi asam sitrat 5%. Semakin tinggi

konsentrasi asam sitrat maka semakin besar nilai penetrasi jarum penetrometer

sehingga sabun yang dihasilkan semakin lunak. Asam sitrat merupakan asam

karboksilat jenuh yang tidak memiliki ikatan rangkap sehingga titik cairnya

rendah. Pada proses pembuatan sabun, peningkatan suhu menyebabkan

semakin cepat pencairan asam sitrat sehingga sabun yang dihasilkan semakin

lunak.

Pengaruh perlakuan faktor konsentrasi sukrosa dan asam sitrat

mengalami kecenderungan yang berkebalikan. Hal ini disebabkan karena

perbedaan sifat titik cair antara kedua senyawa tersebut.

10. Daya Bersih

Daya bersih merupakan analisis untuk mengetahui kemampuan sabun

transparan dalam mengangkat kotoran, sebagaimana fungsi sabun transparan itu

sendiri yaitu untuk membesihkan kulit dari kotoran, debu dan minyak. Analisa

ini dilakukan dengan cara mencelupkan kain yang telah diolesi margarin

sebagai kotoran berminyak kedalam larutan sabun. Kekeruhan yang didapat

diasumsikan sebagai kotoran yang dapat diangkat oleh sabun transparan

tersebut. Nilai kekeruhan dinyatakan dalam satuan FTU Turbidity.

120.00 100.00 80.00 60.00 40.00 20.00 3 0.00 1 8 11 13 Kekeruhan (FTU Turbidity)
120.00
100.00
80.00
60.00
40.00
20.00
3
0.00
1
8
11
13
Kekeruhan (FTU Turbidity)

Konsentrasi Sukrosa (%)

5

Konsentrasi

Asam Sitrat

(%)

Gambar 14. Histogram Hubungan antara Konsentrasi Sukrosa dan Asam Sitrat terhadap Kekeruhan

Kekeruhan air sabun berkisar antara 15 – 118 ftu turbidity. Hasil analisa

keragaman (Lampiran 14b) menunjukkan bahwa konsentrasi sukrosa dan

konsentrasi asam sitrat berpengaruh nyata pada tingkat kepercayaan 95% (α =

0,05).

Uji lanjut Duncan (Lampiran 14c) memperlihatkan bahwa antar

konsentrasi sukrosa berbeda nyata. Semakin tinggi konsentrasi sukrosa maka

semakin tinggi tingkat kekeruhan air sabun. Hal ini berarti semakin tinggi pula

daya bersih sabun transparan tersebut.

Uji lanjut Duncan untuk faktor konsentrasi asam sitrat terhadap daya

bersih sabun transparan menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan antara

konsentrasi asam sitrat 1 dan 3% tidak berbeda nyata dan kedua konsentrasi tersebut berbeda nyata terhadap konsentrasi asam sitrat 5%. Semakin tinggi konsentrasi asam sitrat maka semakin besar nilai kekeruhan pada sabun transparan yang dihasilkan. Sabun transparan mengandung sukrosa yang merupakan senyawa karbohidat dan bersifat polar, demikian juga dengan asam sitrat. Asam sitrat mengandung gugus karboksil yang bersifat polar. Pada saat terjadi mekanisme pembersihan sabun, ujung molekul yang bersifat polar ini akan berikatan dengan air. Bagian ini berperan mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak kembali menempel pada kain. Akibatnya warna air menjadi keruh. Berdasarkan uji T terhadap sifat fisiko kimia pada kontrol menunjukkan bahwa faktor konsentrasi sukrosa dan asam sitrat berpengaruh nyata terhadap semua analisa. Pada pembuatan sabun transparan, sukrosa berfungsi untuk mengatur transparansi sabun transparan yang dihasilkan. Begitu juga dengan penggunaan asam sitrat. Asam sitrat berfungsi sebagai pengatur pH. Kedua parameter ini merupakan parameter yang cukup penting dalam menentukan kualitas sabun transparan. Karena itu penggunaan sukrosa dan asam sitrat berpengaruh nyata terhadap sabun transparan yang dihasikan.

B. UJI ORGANOLEPTIK Uji organoleptik yang dilakukan merupakan uji kesukaan atau uji hedonik. Uji hedonik atau uji kesukaan merupakan salah satu uji peneriman yang menyangkut penilaian sesorang terhadap kesukaan atau ketidaksukaan suatu produk. Uji kesukaan dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan konsumen terhadap produk sabun transparan yang dihasilkan dari semua perlakuan dengan menggunakan sukrosa (A1=13%, A2=11%, A3=8%) dan asam sitrat (B1=1%, B2=3%, B3=5%). Uji organoleptik ini meliputi uji kesukaan panelis terhadap transparansi, tekstur, banyaknya busa sabun transparan dan kesan kesat pada kulit setelah pemakaian sabun transparan. Panelis yang digunakan dalam uji ini merupakan panelis agak terlatih berjumlah 30 orang.

1. Transparansi Pemilihan bahan baku khususnya asam lemak akan memberikan pengaruh yang signifikan pada warna produk akhir sabun transparan. Penampakan transparan juga dipengaruhi oleh sukrosa dan ethanol. Penilaian kesukaan terhadap transparansi merupakan penilaian secara visual dengan cara menilai tingkat transparansi dari sabun transparan yang dihasilkan. Panelis memberikan respon terhadap transparansi sabun transparan yang dihasilkan dengan nilai rata-rata tertinggi pada penggunaan sukrosa 13% dan asam sitrat 5% (A3B3) yaitu sebesar 4,63 (antara agak suka hingga suka). Nilai rata-rata penilaian panelis terendah terhadap transparansi sabun transparan yaitu sebesar 2,17 (antara.agak tidak suka hingga biasa) pada penggunaan sukrosa.8% dan 11% dan asam sitrat 1% (A1B1 dan A2B1). Data penilaian panelis terhadap hasil uji hedonic transparansi dapat dilihat pada Lampiran 16a. Berdasarkan uji Friedman terhadap transparansi menunjukkan bahwa faktor konsentrasi sukrosa dan asam sitrat di dalam formulsi sabun transparan berpengaruh nyata pada kesukaan panelis terhadap transparansi sabun transparan yang dihasilkan, dengan kata lain panelis memberikan respon yang berbeda untuk setiap perlakuan. Hal ini disebabkan karena sukrosa berfungsi untuk menambah transparasi sabun. Transparansi sabun meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi sukrosa yang digunakan seperti terlihat pada Gambar 16. Hasil perhitungan uji Friedman dapat dilihat pada Lampiran 16c. Berdasarkan persentase penilaian kesukaan panelis terhadap transparansi menunjukkan bahwa panelis memberikan respon paling banyak pada skala penilaian 5 (suka) untuk A1B3, A2B3 dan A3B3, sedangkan untuk perlakuan A1B2 dan A2B2 mendapatkan respon paling banyak pada skala penilaian 4 (agak suka), untuk perlakuan A2B1 dan A3B2 mendapatkan respon paling banyak pada skala penilaian 3 (biasa) dan untuk perlakuan A1B1 dan A3B1 mendapatkan respon paling banyak pada skala penilaian 2 (agak tidak suka). Persentase jumlah panelis terbesar yang memberikan respon penilaian terhadap transparansi pada skala penilaian 5 (suka) yaitu sebesar 70% pada

penggunaan sukrosa 13% dan asam sitrat 5% (A3B3) seperti terlihat pada

Gambar 15.

100% 80% 60% 40% 20% 0% A1B1 A1B2 A1B3 A2B1 A2B2 A2B3 A3B1 A3B2 A3B3
100%
80%
60%
40%
20%
0%
A1B1
A1B2
A1B3
A2B1
A2B2
A2B3
A3B1
A3B2
A3B3
Persentase Jumlah Panelis (%)

Perlakuan

Skala Penilaian 5Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 4Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 3Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 2Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 1Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2

Keterangan :

A1 : Sukrosa 8% A2 : Sukrosa 11% A3 : Sukrosa 13%

B1 : Asam sitrat 1% B2 : Asam sitrat 3% B3 : Asam sitrat 5%

Gambar 15. Grafik Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Transparansi

2. Tekstur

Kelembutan/kekerasan sabun sangat dipengaruhi oleh adanya

penggunaan dietanolamin (DEA) dan sukrosa. Pemilihan rantai C dari

komposisi asam lemak bahan baku yang digunakan juga mempengaruhi

kelembutan/kekerasan sabun. Rantai C yang baik untuk fungsi kekerasan yaitu

rantai C 16 – C 18 .

Penilaian kesukaan terhadap tekstur dilakukan dengan cara melihat dan

merasakan tekstur atau tampilan sabun transparan yang dihasilkan kemudian

menilainya berdasarkan skala kesukaan. Panelis memberikan respon terhadap

tekstur sabun transparan yang dihasilkan dengan nilai rata-rata tertinggi pada

penggunaan sukrosa 11% dan asam sitrat 5% (A2B3) yaitu sebesar 4,17 (antara

agak suka hingga suka). Nilai rata-rata penilaian panelis terendah terhadap

tekstur sabun transparan yaitu sebesar 2,73 (antara agak tidak suka hingga

biasa) pada penggunaan sukrosa 8% dan asam sitrat 1% (A1B1). Data penilaian

panelis terhadap hasil uji hedonik tekstur sabun transparan dapat dilihat pada

Lampiran 17a.

Berdasarkan uji Friedman terhadap tekstur menunjukkan bahwa faktor

konsentrasi sukrosa dan asam sitrat di dalam formulasi sabun berpengaruh

nyata pada kesukaan panelis terhadap tekstur sabun transparan yang dihasilkan,

dengan kata lain panelis memberikan respon yang berbeda untuk setiap

perlakuan. Hal ini disebabkan karena sukrosa juga berfungsi sebagai pengeras

pada pembuatan sabun transparan.

100% 80% 60% 40% 20% 0% A1B1 A1B2 A1B3 A2B1 A2B2 A2B3 A3B1 A3B2 A3B3
100%
80%
60%
40%
20%
0%
A1B1
A1B2
A1B3
A2B1
A2B2
A2B3
A3B1
A3B2
A3B3
Persentase JUmlah Panelis (%)

Perlakuan

Skala Penilaian 5Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 4Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 3Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 2Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 1Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2

Keterangan :

A1 : Sukrosa 8% A2 : Sukrosa 11% A3 : Sukrosa 13%

B1 : Asam sitrat 1% B2 : Asam sitrat 3% B3 : Asam sitrat 5%

Gambar 16. Grafik Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Tekstur

Dari Gambar 16 dapat dilihat bahwa panelis memberikan respon paling

banyak pada skala penilaian 3 (biasa) untuk semua perlakuan kecuali untuk

perlakuan A1B2, A1B3 dan A3B3 memberikan respon paling banyak pada

skala penilaian 4 (agak suka) dan untuk perlakuan A2B3 memberikan respon

paling banyak pada skala penilaian 5 (suka). Persentase jumlah panelis terbesar

(biasa) yaitu sebesar 50% pada penggunaan sukrosa 8% dan asam sitrat 1%

(A1B1).

3. Banyak Busa Pada umumnya konsumen beranggapan bahwa sabun yang baik

adalah sabun yang menghasilkan banyak busa, padahal banyaknya busa tidak

selalu sebanding dengan kemampuan daya bersih sabun. Karakteristik busa

sendiri dipengaruhi oleh adanya bahan aktif sabun atau surfaktan, penstabil

busa, serta komposisi asam lemak yang digunakan.

Penilaian kesukaan terhadap banyak busa dilakukan dengan cara

membasuh tangan dengan sabun transparan yang dihasilkan kemudian menilai

banyaknya busa yang dihasilkan berdasarkan skala kesukaan. Panelis

memberikan respon terhadap banyak busa sabun transparan yang dihasilkan

dengan nilai rata-rata tertinggi pada penggunaan sukrosa 11% dan asam sitrat

5% (A2B3) yaitu sebesar 3,60 (antara biasa hingga agak suka). Nilai rata-rata

penilaian panelis terendah terhadap banyak busa sabun transparan yaitu sebesar

2,87 (antara agak tidak suka hingga biasa) pada penggunaan sukrosa 8% dan

asam sitrat 1% (A1B1). Data penilaian panelis terhadap hasil uji hedonik

banyak busa dapat dilihat pada Lampiran 18a.

Berdasarkan uji Friedman terhadap banyak busa menunjukkan bahwa

faktor konsentrasi sukrosa dan asam sitrat di dalam formulasi sabun transparan

tidak berpengaruh nyata terhadap kesukaan panelis pada banyaknya busa sabun

yang dihasilkan, dengan kata lain panelis memberikan respon yang sama untuk

setiap perlakuan.

Berdasarkan persentase penilaian kesukaan panelis terhadap banyak

busa menunjukkan bahwa panelis memberikan respon paling banyak pada

skala penilaian 3 (biasa) untuk semua perlakuan kecuali untuk perlakuan A1B2

dan A3B3 memberikan respon paling banyak pada skala penilaian 4 (agak

suka). Persentase jumlah panelis terbesar yang memberikan respon penilaian

terhadap banyak busa pada skala penilaian 3 (biasa) yaitu sebesar 43,33% pada

penggunaan sukrosa 11% dan asam sitrat 5% (A2B3) seperti terlihat pada

100% 80% 60% 40% 20% 0% A1B1 A1B2 A1B3 A2B1 A2B2 A2B3 A3B1 A3B2 A3B3
100%
80%
60%
40%
20%
0%
A1B1
A1B2
A1B3
A2B1
A2B2
A2B3
A3B1
A3B2
A3B3
Persentase Jumlah Panelis (%)

Perlakuan

Skala Penilaian 5Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 4Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 3Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 2Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 1Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2

Keterangan :

A1 : Sukrosa 8% A2 : Sukrosa 11% A3 : Sukrosa 13%

B1 : Asam sitrat 1% B2 : Asam sitrat 3% B3 : Asam sitrat 5%

Gambar 17. Grafik Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Banyak Busa

4. Kesan Kesat

Sabun merupakan produk perawatan diri yang berfungsi untuk

membersihkan kotoran sehingga kesan kesat/bersih setelah pemakaian sabun

menjadi faktor yang cukup penting dalam penilaian kesukaan terhadap sabun

transparan yang dihasilkan.

Penilaian kesukaan terhadap kesan kesat dilakukan dengan cara terlebih

dahulu mencuci tangan dengan sabun kemudian menyeka air yang menempel

pada kulit. Panelis memberikan respon terhadap kesan kesat sabun transparan

yang dihasilkan dengan nilai rata-rata tertinggi pada penggunaan sukrosa 8%

dan asam sitrat 5% (A1B3) yaitu sebesar 3,50 (antara biasa hingga agak suka).

Nilai rata-rata penilaian panelis terendah terhadap transparansi sabun transparan

yaitu sebesar 2,47 (antara agak tidak suka hingga biasa.) pada penggunaan

sukrosa 13% dan asam sitrat 1% (A3B1). Data penilaian panelis terhadap hasil

Berdasarkan uji Friedman terhadap kesan kesat menunjukkan bahwa

faktor konsentrasi sukrosa dan asam sitrat di dalam formulasi sabun

berpengaruh nyata pada kesukaan panelis terhadap kesan kesat sabun

transparan yang dihasilkan, dengan kata lain panelis memberikan respon yang

berbeda untuk setiap perlakuan.

100% 80% 60% 40% 20% 0% A1B1 A1B2 A1B3 A2B1 A2B2 A2B3 A3B1 A3B2 A3B3
100%
80%
60%
40%
20%
0%
A1B1
A1B2
A1B3
A2B1
A2B2
A2B3
A3B1
A3B2
A3B3
Persentase Jumlah Panelis (%)

Perlakuan

Skala Penilaian 5Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 4Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 3Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 2 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 2Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 1

Skala Penilaian 1Skala Penilaian 5 Skala Penilaian 4 Skala Penilaian 3 Skala Penilaian 2

Keterangan :

A1 : Sukrosa 8% A2 : Sukrosa 11% A3 : Sukrosa 13%

B1 : Asam sitrat 1% B2 : Asam sitrat 3% B3 : Asam sitrat 5%

Gambar 18. Grafik Persentase Jumlah Panelis Berdasarkan Skala Penilaian terhadap Kesan Kesat

Pada Gambar 18 terlihat bahwa panelis memberikan respon paling

banyak pada skala penilaian 3 (biasa) untuk semua perlakuan kecuali untuk

perlakuan A3B2 memberikan respon paling banyak pada skala penilaian 2

(agak tidak suka) dan 5 (suka). Persentase jumlah panelis terbesar yang

memberikan respon penilaian terhadap tekstur pada skala penilaian 3 (biasa)

yaitu sebesar 36,67% pada penggunaan sukrosa 11% dan asam sitrat 3%

(A2B2).

C. PEMBOBOTAN HASIL PENGAMATAN Pembobotan yang dihasilkan berdasarkan penilaian tingkat kepentingan semua parameter hasil analisa karakteristik fisiko kimia (bersifat obyektif) dan uji hedonik (bersifat subyektif). Penilaian berdasarkan tingkat kepentingan menggunakan nilai numerik seperti : 1 mewakili nilai sangat tidak penting; 2 mewakili nilai tidak penting; 3 mewakili nilai biasa; 4 mewakili nilai penting; dan 5 mewakili nilai sangat penting. Teknik pembobotan dilakukan dengan menentukan nilai score (N) pada semua parameter obyektif dan subyektif. Nilai score merupakan nilai rangking dari hasil pengujian dengan skala 1 – 9. Nilai score ini dikalikan dengan masing-masing bobot. Total hasil perkalian antara nilai bobot dengan nilai rangking (score) ini kemudian dirangking. Jumlah yang paling besar merupakan sabun transparan dengan rangking terbaik. Dari hasil pembobotan didapatkan formulasi sabun transparan terbaik yaitu pada perlakuan konsentrasi sukrosa 13% dan asam sitrat 5%. Hasil pembobotan nilai kepentingan parameter fisiko kimia dan uji hedonik sabun transparan dapat dilihat pada Lampiran 20.

Tabel 3. Penilaian kepentingan setiap parameter fisikokimia dan uji hedonik

Parameter

Dasar Pertimbangan Kepentingan

Nilai

Analisis

Kepentingan

Kadar air

Kadar air merupakan salah satu parameter mutu sabun.

5

Jumlah asam

Jumlah asam lemak yang terkandung akan berpengaruh pada sabun yang dihasilkan.

5

lemak

Alkali bebas

Kelebihan alkali dapat menyebabkan iritasi pada kulit.

5

pH

Nilai pH merupakan parameter yang penting karena berhubungan dengan pH kulit.

4

Kekerasan

Kekerasan merupakan parameter yang penting karena berhubungan dengan ketahanan pemakaian sabun.

4

Daya bersih

Daya bersih untuk mengetahui kemampuan sabun dalam mengangkat kotoran.

3

Transparansi

Transparansi merupakan kesan pertama dari penampilan menarik sabun.

5

Tekstur

Kesukaan terhadap tekstur merupakan parameter organoleptik yang cukup penting.

4

Banyak busa

Banyak busa tidak berhubungan dengan daya bersih sabun.

3

Kesan kesat

Menurut konsumen, parameter kesan kesat menunjukkan daya bersih sabun.

2

D. ANALISA KELAYAKAN USAHA SABUN TRANSPARAN KONSENTRASI SUKROSA 13% DAN ASAM SITRAT 5% Analisa kelayakan usaha bertujuan untuk menentukan kelayakan usaha sabun transparan baik dari segi teknis, ekonomis maupun finansial. Analisa ini memberikan gambaran bahwa usaha sabun transparan ini layak dijalankan dan mendapat keuntungan serta manfaat. Pengertian menguntungkan bagi perorangan atau swasta adalah keuntungan finansial, sedang pengertian keuntungan pada proyek pemerintah adalah manfaat yang mungkin berupa keuntungan ekonomi, sosial, keamanan atau politis. Analisa finansial menitikberatkan kepada aspek keuangan berupa lalu- lintas uang yang terjadi selama usaha dijalankan. Indikator yang dipilih untuk menilai kalayakan suatu usaha disesuaikan menurut jenis usaha maupun skala

usaha. Skala usaha yang dijalankan pada sabun transparan adalah skala menengah. Analisa kelayakan usaha sabun transparan menggunakan indikator kelayakan berupa analisis titik impas (break event point), net benefit cost ratio, nilai bersih sekarang (net present value), dan waktu pengembalian modal (pay back period).

Asumsi mengenai produksi adalah sebagai berikut.

Kebutuhan bahan baku (per hari)

: 400 kg

Rendemen yang dihasilkan

: 320 kg

Jumlah hari produksi (per bulan)

: 20 hari

Jumlah jam kerja (per hari)

: 8 jam

Umur ekonomi (tahun)

: 10

Tingkat bunga

: 16%

Secara umum, perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi sabun transparan skala menengah sampai akhir proses kurang lebih 8 jam. Perhitungan tersebut diasumsikan bahwa target sabun transparan yang dihasilkan adalah 400 kg per hari dengan peralatan pancampur berupa tangki berpengaduk berkapasitas 100 kg per batch (batch dapat diterjemahkan sebagai adonan). Jadi, tangki berpengaduk digunakan sebanyak 4 kali dengan rendemen sebanyak 80% sehingga dihasilkan sabun sebanyak 320 kg per hari.

Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sabun transparan sebanyak 80 kg dengan tangki berpengaduk kurang lebih 60 menit, sedangkan persiapan bahan baku sekitar 30 menit per 2 batch. Jadi, total waktu proses yang dibutuhkan adalah 300 menit atau 4,5 jam. Tangki pengaduk yang digunakan sebanyak 1 buah dengan kapasitas 100 kg. Produk yang telah terbentuk langsung dikemas. Pengemasan produk menggunakan mesin packaging khusus yang berkapaitas 22 kemasan/menit. Apabila jumlah produksi yang terbentuk sebanyak 320 kg per hari (setara 3200 kemasan ukuran 100 gram) maka waktu yang dibutuhkan untuk pengemasan adalah 145 menit atau kurang lebih 2,5 jam.

1.

Biaya Investasi

Biaya investasi pembuatan sabun transparan terdiri dari biaya mesin dan peralatan, perlengkapan kantor, instalasi penunjang serta biaya persiapan. Uraian lengkap mengenai biaya investasi dapat dilihat pada Lampiran 21a.

Tangki berpengaduk yang digunakan untuk membuat sabun transparan adalah tipe horizontal yang dilengkapi dengan sistem pemanas. Desain pengaduk atau propeller-nya dibuat melingkar. Tangki berpengaduk ini seharga Rp 100.000.000,00 per mesin.

dan

perlengkapan listrik serta biaya persiapan memiliki nilai penyusutan,

selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 21b.

kantor,

Investasi

berupa

mesin

peralatan,

perlengkapan

2. Biaya Operasional

Biaya operasional dibagi dalam dua golongan yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Yang termasuk dalam biaya tetap antara lain biaya penyusutan, pemeliharaan, administrasi, tenaga kerja tak langsung, sewa kendaraan serta sewa tempat. Sedangkan biaya vaeriabel antara lain biaya bahan baku, kemasan, bahan bakar, utilitas serta biaya tenaga kerja langsung. Biaya-biaya tersebut kemudian diakumulasikan menjadi biaya operasional per tahun.

Sabun mandi transparan yang dihasilkan dikemas dalam plastik wrapping berisi 100 gram sabun mandi transparan. Kemasan plastik kemudian dibungkus dalam karton dan ditempeli stiker. Tiap hari dihasilkan sabun mandi transparan sebanyak 320 kg, sehingga membutuhkan 4 rol plastik wrapping, 4000 buah stiker dan 200 buah karton.

Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan yaitu sekitar 24 orang yang terdiri dari 16 orang karyawan produksi / tenaga kerja langsung dan 8 orang tenaga kerja tak langsung. Karyawan produksi terdiri dari 5 orang untuk unit persiapan bahan baku, 5 orang untuk unit proses dan 6 orang untuk unit

pengemasan. Sedangkan tenaga kerja tak langsung terdiri dari pimpinan uasaha, supervisor, tenaga administrasi, sales dan supir.

Setelah mengelompokkan biaya-biaya operasional ke dalam biaya tetap dan biaya variabel, kemudian dibuat tabel biaya operasional setiap tahunnya dari tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-10. Biaya tetap akan selalu sama tiap tahunnya, sedangkan biaya variabel berubah sesuai dengan kapasitas produksi per tahun. Diasumsikan bahwa tahun ke-1 kapasitas produksi sebanyak 60%, tahun ke-2 sebanyak 70%, tahun ke-3 sebanyak 80%, tahun ke-4 sebanyak 90% dan tahun ke-5 sampai tahun ke-10 sebanyak 100%. Perincian biaya operasional dan perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 22a dan 22b.

3. Perhitungan modal

Modal usaha terdiri dari dua macam, yaitu modal tetap dan modal kerja. Modal tetap merupakan biaya investasi perusahaan sejumlah Rp 195.173.000,00, sedangkan modal kerja merupakan biaya operasional pembuatan sabun transparan per bulan. Biaya operasional terdiri dari biaya tetap sejumlah Rp 26.946.878,00 dan biaya variabel sejumlah Rp 63.968.160,00. Perincian modal dapat dilihat pada Lampiran 23.

4. Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga pokok penjualan adalah suatu metode untuk menentukan harga sabun mandi transparan per 100 gram, dimana hasil perhitungannya adalah pembagian total biaya (biaya tetap + biaya variabel) per tahun dengan kapasitas produksi per tahun, kemudian dibagi lagi dengan 10 untuk mendapatkan harga pokok per 100 gram. Berdasarkan HPP dapat ditentukan harga jual sabun transparan dengan memperhitungkan keuntungan harus berada diatas 0%. Harga pokok sabun transparan per 100 gram sebesar Rp 2.087,00 untuk kapasitas produksi 100%. Perusahaan menetapkan harga jual sabun transparan per 100 gram sebesar Rp 3.000,00 dengan keuntungan

26,71% untuk kapasitas produksi 60% sampai dengan 43,76% untuk kapasitas produksi 100%. Perincian penentuan harga pokok dan harga jual sabun transparan dapat dilihat pada Lampiran 24.

5. Perhitungan Usaha

a. Laba - Rugi

Suatu perusahan dikatakan mengalami keuntungan (mendapat laba) apabila jumlah penerimaan > pengeluaran. Laba yang diperoleh dikurangi lagi dengan pajak penghasilan sehingga diperoleh laba bersih. Sebaliknya apabila jumlah penerimaan < pengeluaran maka preusahaan dikatakan mengalami kerugian.

Penerimaan preusahaan diperoleh dari hasil penjualan sabun transparan tiap tahunnya. Penjualan sabun transparan tergantung dari kapasitas produksi per tahun. Sedangkan pengeluaran perusahaan berasal dari jumlah biaya tetap dan biaya variabel setiap tahunnya.

Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan memperoleh laba sebesar Rp 221.493.681,00 untuk kapasitas produksi 60%; Rp 293.218.257,00 untuk volume produksi 70%; Rp 364.942.833,00 untuk volume produksi 80%; Rp 436.667.409,00 untuk kapasitas produksi 90%.; dan Rp 508.391.985,00 untuk kapasitas produksi 100%. Perincian laba- rugi dapat dilihat pada Lampiran 25a.

b. Aliran Kas

Aliran kas digunakan untuk mengetahui arus kas yang terjadi sepanjang tahun. Aliran kas dihitung mulai dari awal produksi sebelum menghasilkan laba atau tahun ke-0. Pada tahun ke-0 arus kas masuk berasal dari modal dan arus kas keluar berasal dari investasi. Pada tahun ke-1 hingga tahun berikutnya, arus kas hanya berasal dari kas masuk yaitu diperoleh dari penjumlahan laba bersih dan penyusutan. Pada tahun ke-5 ditambahkan dengan nilai sisa investasi yang berumur 5 tahun dan pada

tahun ke-10 nilai sisa investasi yang berumur 10 tahun ditambahkan pada arus kas. Arus kas semakin bertambah setiap tahunnya. Arus kas pada akhir tahun ke-1 sebesar Rp 240.320.481,00 dan arus kas pada akhir tahun ke-10 sebesar Rp 6.456.305.075,00. Perincian aliran kas dapat dilihat pada Lampiran 25b.

6. Analisa Kelayakan

a. Perhitungan break event point (BEP)

Dalam suatu perencanaan ingin juga diketahui hubungan antara biaya, penjualan dan laba. Laba sangat bergantung pada tingkat produksi atau tingkat penjualan yang dicapai dihubungkan dengan besar biaya yang dikeluarkan. Kapan atau pada kapasitas produksi atau pada volume usaha berapa akan dicapai keadaan tidak rugi dan tidak untung dikenal dengan titik impas atau BEP. Rumus untuk menghitung BEP adalah :

Volume penjualan per tahun =

Biya Tetap

Biaya operasional

Harga jual

BEP =

1 -

Biaya variabel

Total penerimaan

Berdasarkan hasil penelitian, BEP sabun transparan sebesar Rp 727.113.532,27 dengan kapasitas BEP sebesar 15.779,37 kg untuk kapasitas produksi 60%; 13.525,18 kg untuk volume produksi 70%; 11.834,53 kg untuk volume produksi 80%; 10.519,58 kg untuk volume produksi 90%; dan 9.467,62 kg untuk volume produksi 100%. Perincian BEP dapat dilihat pada Lampiran 26a.

b. Perhitungan Net B/C

Net benefit cost ratio merupakan perbandingan antara net benefit yang telah di discount positif (+) dengan net benefit yang telah di discount negative (-). Untuk menghitung nilai Net B/C, present value (PV) setiap tahun selama umur proyek harus diketahui. PV merupakan nilai net cash flow (NCF) yang dikalikan dengan discount factor (DF). Dimana net cash flow atau aliran kas bersih merupakan hasil pengurangan nilai manfaat (benefit) dengan nilai biaya (cost). Rumus untuk menghitung DF adalah :

1

DF =

(1 + i) t

+ NPV positif

Keterangan :

i= discount rate (tingkat bunga)

t = tahun yang sedang berjalan

Nilai Net B/C dihitung dari perbandingan jumlah semua PV yang positif (penerimaan) dengan semua PV yang negatif (pengeluaran) . Rumus untuk menghitung nilai Net B/C dapat dinyatakan sebagai berikut :

Net B/C =

- NPV negatif

Apabila Net B/C 1, maka proyek tersebut dianggap layak untuk dilaksanakan, namun apabila net B/C < 1, maka proyek tersebut dianggap tidak layak untuk dilaksanakan.

Berdasarkan hasil penelitian, dengan menggunakan tingkat bunga 16% diperoleh net B/C sebesar 1,39. Hal ini berarti produksi sabun transparan layak untuk dilaksanakan. Perincian net B/C dapat dilihat pada Lampiran 26b.

c.

Perhitungan net present value (NPV)

Net present value (NPV) adalah selisih antara nilai sekarang dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan-penerimaan kas bersih (operasional maupun terminal cash flow) di masa yang akan datang. Untuk menentukan nilai sekarang perlu ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang dianggap relevan. Rumus untuk menghitung NPV adalah sebagai berikut :

At

NPV = -A 0 + n t=1

Keterangan :

(1 + r) t

-A

0 = pengeluaran investasi pada tahun ke-0

At

= aliran kas masuk bersih pada tahun ke-1

r

= tingkat suku bunga pada periode i

 

t

= periode investasi (t = 0, 1, 2,

,

n)

N

= jumlah tahun (usia) proyek

Berdasarkan kriteria finansial bila NPV > 0 maka proyek dinyatakan layak, jika NPV = 0 maka proyek mengembalikan social oppurtinity cost of capital, dan jika NPV < 0 maka proyek tidak layak.

NPV perusahaan sebesar Rp 1.770.897.604,65 maka produksi sabun transparan layak untuk dilaksanakan. Perincian NPV dapat dilihat pada Lampiran 26c.

d. Perhitungan payback period (PBP) Payback period (PBP) merupakan waktu yang diperlukan agar modal investasi dapat kembali. Rumus untuk menghitung PBP adalah :

PBP =

n +

m

(B n + 1 – C n + 1 )

Keterangan :

n= periode investasi pada saat nilai kumulatif B t – C t negatif terakhir m = nilai kumulatif B t – C t negatif terakhir B n + 1 = nilai sekarang penerimaan social bruto pada tahun n+1 C n + 1 = nilai sekarang biaya social bruto pada tahun n+1 Dari hasil penelitian diperoleh nilai PBP sebesar 1,34 tahun, artinya modal investasi sabun transparan dapat kembali setelah produksi berjalan selama 1,34 tahun. Perincian PBP dapat dilihat pada Lampiran

26c.

Lampiran 2. Neraca Massa Pembuatan Sabun Transparan

Basis = 300g

F Asam Stearat

F Minyak kelapa

F = 24 g F = 60 g Pemanasan T=70 0 C Pengadukan F Larutan
F = 24 g
F = 60 g
Pemanasan T=70 0 C
Pengadukan
F
Larutan NaOH
Pengadukan
F = 66 g
T=70 0 C-80 0 C
Lost Weight = 2,43 g
F Sukrosa
Stock Sabun
F Coco DEA
F =24 g
P 1 = 135 7 g
F = 9 g
F
Gliserin
Pengadukan
F Asam
Sitrat
Sampai
F
= 39 g
transparan
F = 15
g
F
NaCl
F Air
F
= 0,6 g
F= 13,5
g
F Etanol
Pengadukan hingga homogen
F = 45 g
Lost Weight = 6,72 g
Pencetakan
Lost Weight = 2,86
g
Sabun transparan
P2 = 262,22 g
Keterangan :
F
: Feed (umpan)
P
: Product (produk)

Lost Weight : Bobot yang hilang

LAMPIRAN

Lampiran 3. Analisa Karakteristik Sifat Fisiko Kimia Sabun

1. Kadar Air dan Zat Menguap Sabun (SNI 06-3532-1994) Timbang 5 ± 0,01 g ke dalam kurs porselen atau piringan gelas yang berdiameter 6 sampai 8 cm, dan tinggi 2 sampai 4 cm. Panaskan dalam oven pada suhu 105 ± 2 o C selama 2 jam, bila timbul gelombang hancurkan dengan batang pengaduk, kemudian panaskan lagi dan ditombang hingga bobot tetap. Kadar air % bobot = Kekurangan Bobot

gram contoh

2. Jumlah Asam Lemak (SNI 06-3532-1994) Timbanglah dengan teliti lebih kurang 5 gram contoh dalam gelas piala dari 100 – 200 ml tambah 25 ml air, panaskan diatas penangas air hingga sabun melarut semuanya. Larutan sabun dimasukkan ke dalam labu cassia berskala minimal 0,1 ml dan piala dibilasi dengan air ditambah beberapa tetes SM dan 10 – 15 HCL 10% (7-10 ml H 2 SO 4 25%). Asam lemak dibebaskan akan mengapung dan larutan berubah menjadi merah. Masukkan dalam penangas air sampai ½ leher labu terendam. Setelah asam lemaknya terpisah dan mengapung kemudian ditambah air panas sampai asam lemaknya berada antara pembagian skala pada leher tabu. Dipanaskan terus lebih kurang ½ jam lalu dibaca 3 kali pada 100 o C dengan memakai loupe (dalam penangas mendidih). Banyaknya asam lemak yang benar adalah hasil dari ketiga pembacaan tersebut.

Kadar asam lemak = ml asam lemak × 0,84

×

100

g zat

0,84 = BD asam lemak pada 100 o C

3. Kadar Fraksi Tak Tersabunkan (SNI 06-3532-1994) Ke dalam larutan bebas penetapan asam lemak dipipetkan 10 ml KOH dalam alkohol dari 0,5 N, panaskan di atas penangas air dengan memakai pendingin tegak selama ± 1 jam. Dinginkan, jangan terlalu dingin, titrasi dengan HCl 0,5 N dengan Phenoiptalein sebagai petunjuk (misalnya dipergunakan a

ml). Kerjakan penetapan blangko : 70 ml alkohol netral dipipetkan 10 ml KOH dalam alkohol 0,5 N, dikerjakan seperti di atas (misalnya dipergunakan b ml).

Kadar lemak tak tersabunkan = (b-a) × N x 0,0561 0,258 × gram zat

56,1 = bobot setara KOH

258 = rata-rata bilangan penyabunan

×

100

4. Bagian Tak Larut dalam Alkohol (SNI 06-3532-1994)

Timbang 5 gram contoh ke dalam 200 ml gelas piala, tambahkan 10 ml

etil alkohol dan uapkan di atas penangas uap sampai kering. Ulangi sampai 3

kali. Akhirnya, larutkan sabun dengan 100 ml etil alkohol yang sebelumnya