Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN REFLEKSI KASUS STASE ILMU FORENSIK

Disusun Oleh : Aulya Adha Dini Idhar Trisna Damayanti Kania Anindita Bustam Jhon elfran Sihombing Muhammad Dzikrifishofa

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG 2013 1

BAB I Pendahuluan

Perkembangan dunia yang semakin maju dan peradaban manusia yang gemilang sebagai refleksi dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, persoalan-persoalan norma dan hukum kemasyarakatan dunia bisa bergeser sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat yang bersangkutan. Kebutuhan dan aspirasi masyarakat menempati kedudukan yang tinggi. Apabila terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat, interpretasi terhadap hukum juga bisa berubah. Akibat gerakan kebebasan, masyarakat barat yang menganut sistem demokrasi liberal dimana hak individu sangat dijunjung tinggi dan nilai-nilai moral telah terlepas dari poros agama (gereja), ditandai dengan berkembangnya paham sekularisme. Siapapun (termasuk pemerintah) tidak boleh mencampuri dan mengganggu hak individu.

Masalah euthanasia sudah ada sejak kalangan kesehatan menghadapi penyakit yang tidak dapat diembuhkan, sementara pasien sudah dalam keadaan merana dan sekarat. Dalam keadaan demikian tidak jarang pasien memohon agar dibebaskan dari penderitaan dan tidak ingin diperpanjang hidupnya lagi atau di lain kasus keadaan pada pasien yang sudah tidak sadar, keluarga pesakit tidak tega melihat pasien penuh penderitaan menjelang ajalnya dan minta kepada dokter untuk tidak meneruskan pengobatan atau bila perlu memberikan obat yang mempercepat kematian. 2

Euthanasia berasal dari kata Yunani Euthanathos. Eu = baik. Tanpa penderitaan; sedang tanathos = mati. Dengan demikian euthanasia dapat diartikan mati dengan baik tanpa penderitaan. Ada yang menerjemahkan mati cepat tanpa derita. Belanda, salah satu Negara di Eropa yang maju dalam pengetahuan hukum kesehatan mendefinisikan euthanasia sesuai dengan rumusan yang dibuat oleh Euthanasia Study Group dari KNMG (Ikatan Dokter Belanda) Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk memperpendek hidup atau mengakhiri hidup seorang pasien dan ini dilakukan untuk kepentingan pasien sendiri.Sedangkan menurut Commisie dari Gezondheidsraad (Belanda) euthanasia adalah perbuatan yang dengan sengaja memperpendek hidup ataupun dengan sengaja tidak memperpanjang hidup demi kepentingan si pasien oleh seorang dokter ataupun bawahan yang bertanggung jawab kepadanya .Euthanasia dalam Oxford English Dictionary dirumuskan sebagai kematian yang lembut dan nyaman, dilakukan terutama dalam kasus penyakit yang penuh penderitaan dan tak tersembuhkan. Istilah yang sangat populer untuk menyebut jenis pembunuhan ini adalah mercy killing. Sementara itu menurut Kamus Kedokteran Dorland euthanasia mengandung dua pengertian. Pertama, suatu kematian yang mudah atau tanpa rasa sakit. Kedua,pembunuhan dengan kemurahan hati, pengakhiran kehidupan seseorang yang menderita penyakit yang tak dapat disembuhkan dan sangat menyakitkan secara hati-hati dan disengaja. Secara konseptual dikenal tiga bentuk euthanasia, yaitu voluntary euthanasia (euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien itu sendiri karena penyakitnya tidak dapat disembuhkan dan dia tidak sanggup menahan rasa sakit yang diakibatkannya). Non voluntary euthanasia (di sini orang lain, bukan pasien, mengandaikan,

bahwa euthanasia adalah pilihan yang akan diambil oleh pasien yang berada dalam keadaan tidak sadar tersebut jika si pasien dapat menyatakan permintaannya). Involuntary euthanasia (merupakan pengakhiran kehidupan pada pasien tanpa persetujuannya). Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari perkembangan konsep tentang kematian. Usaha manusia untuk memperpanjang kehidupan dan menghindari kematian dengan mempergunakan kemajuan ipetek kedokterantelah membawa masalah baru dalam euthanasia, terutama berkenaan dengan penentuan kapan sesorang dinyatakan telah mati.

Dikenal beberapa konsep tentang mati seperti: 1.Mati sebagai berhentinya darah mengalir 2. Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh 3. Hilangnya kemmapuan tubuh secara permanen 4. Hilangnya manusia secar permanen untuk kembali sadar dan melakukan interaksi social

Konsep mati dan berhentinya darah mengalir seperti dianut selama ini dan yang juga diatur dalam PP 18 tahun 1981 menyatakan bahwa mati adalah berhentinya fungsi jantung dan paruparu, tidak bisa dipergunakan lagi karena teknologi resusitasi telah memungkinkan jantung dan paru-paru yang semua terhenti kini dapat dipacu untuk berdenyut kembali dan paru-paru dapat dipompa untuk berkembang kempis kembali. Konsep mati dari terlepasnya dari tubuh sering menimbulkan keraguan karena misalnya pada atindakan resusitasi yan gberhasil, keadaan demikian menimbulkan kesan seakan-akan nyawa dapat ditarik kembali. Mengenai konsep mati dari hilangnya kembali kemampuan tubuh secara permanen untuk menjalankan fungsinya secar terpadu juga dipertanyakan karena organ-organ berfungsi sendiri- sendiri tanpa terkendali

karenaotak telah mati. Untuk kepentingan transplantasi konsep ini menguntungkan tetapi secar moral tidak dapat diterima karena kenyataannya organ-organ masih berfungsi meskipun tidak terpadu lagi.

Bila dibandingkan dengan manusia sebagi mahluk social yaitu individu yang mempunyai kepribadian, menyadari kehidupannyam kekhususannya, kemampuannya mengingat,

menentukan sikap dan mengambil keputusan, mengajukan alas an yang masuk akal, mampu berbuat, mampu menikmati, mengalami kecemasan dan sebagainya, maka penggerak dari otak baik secara fisik amupun social makin banyak dipergunakan. Pusat pengendali ini terdapat dalam batang otak. Oleh Karen aitu jika batang otak telah mati (brain system death) dapat diyakini bahwa manusia itu secara fisik dan social telah mati. Dalam keadaan demikian, kalangan medis sering menempuh pilihan tidak meneruskan resusitasi (DNR, do not resuscitation) Penentuan saat mati ini juga dibahas dan ditetapkan dalam worldMedical Assembly tahun 1968 yang dikenal dengan Deklarasi Sydney. Disini dinyatakan penentuan saat kematian di kebanyakn Negara merupakan tanggung jawab sah dokter. Dokter dapat menentukan sesorang sudah mati dengan menggunakan criteria yang lazim tanpa bantuan alat khusus yang telah diketahui oleh semua dokter.

Yang penting dalam penentuan saat mati disini adalah proses kematian tersebut sudah tidak dapat dikemabalikan lagi (irreversible) meski menggunakan teknik penghidupan kembali apapun. Walaupun sampai sekarang tidak ada alat yang sungguh-sungguh memuaskan dapat digunakan untuk penentuan saat mati ini, alat elektroensefalograf dapat diandalkan untuk maksud tersebut. Jika penentuan saat mati berhubungan dengan kpentingan transplantasi organ,

keputusan mati harus dilakukan oleh2 orang dokter atau lebih dan dokter yang menentukan saat mati itu tidak boleh ada kaitannya langsung dengan pelaksanaan euthanasia. Euthanasia bisa ditinjau dari beberapa sudut. Menurut Frans Magnis Suseno , dari cara dilaksanakannya, euthanasia dibedakan atas: 1. Euthanasia pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia 2. Euthanasia aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakuykan secar medic melalui intervensi aktif oleh seorang dokter engan tujuan untuk mengakhiri hidup manusia. Euthanasia aktif dapat dibedakan menjadi :

1) Euthanasia aktif langsung (direct) Adalah dilakukannya tindakan medic secara terarah yang diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien atau memperpendek hidup pasien. Jenis euthanasia ini dikenal juga sebagaiMercy Killing. 2) Euthanasia aktif tidak langsung (indirect) Adalah dimana dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medic untuk meringankan penderitaan pasien namun mengetahui adanya resiko tersebut dapat memperpendek atau mengakhiri hidup pasien.

Ditinjau dari permintaan, euthanasia dibedakan atas: 1. Euthanasia volunteer /m euthanasia sukarela/ euthanasia atas permintaan pasien Adalah euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien secar asadar dan diminta berulang-ulang

2. Euthanasia involuntir (tidak atas permintaan pasien) Adalah euthanasia yang dilakukan pada pasien yang sudah tidak sadar dan biasanya keluarga pasien yang meminta

Kedua jenis euthanasia ini dapat digabung.Misalnya euthanasia pasif volunteer, euthanasia aktif involunteer, euthanasia aktif langsung involuntir dan sebagainya. Ada yang melihat pelaksanaan euthanasia dari sudut lain dan membaginya atas 4 kategori, yaitu:

1. Tidak ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud memperpendek hidup pasien. 2. Ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud memperpendek hidup pasien 3. Tidak ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan memperpendek hidup pasien. 4. Ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan memperpendek hidup pasien.

BAB II Kasus

seorang pasien, bapak B, berusia 59 tahun datang ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Muluk, pada tanggal 28 Maret 2013 dengan diagnosa karsinoma kolon yang stadium 4. Pasien masih cukup sadar dan berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita, dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaanya saja. Oleh karena itu ia meminta kepada dokter apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU,dll), dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.

Jenis Refleksi: a. Ke-Islaman* b. Etika/ moral c. Medikolegal* d. Sosial Ekonomi e. Aspek lain 8

BAB III Prinsip-Prinsip Tentang Etika Kedokteran

Jenis hubungan dokter - pasien sangat dipengaruhi oleh etika profesi kedokteran, sebagai konsekuensi dari kewajiban- kewajiban profesi yang memberikan batasan atau rambu-rambu hubungan tersebut. Kewajiban-kewajiban tersebut tertuang di dalam prinsip-prinsip moral profesi, yaitu autonomy (menghormah hak-hak pasien), beneficence (berorientasi kepada kebaikan pasien), non maleficence (tidak mencelakakan atau memperburuk keadaan pasien) clan justice ustice (meniadakan diskriminasi) yang disebut sebagai prinsip utama; dan veracity (kebenaran = truthfull inforniation), ,fidelity(kesetiaan), privacy, dan confidentiality (menjaga kerahasiaan) sebagai prinsip turunannya.

Sebagaimana layaknya hubungan antara profesional dengan klien pada umumnya, maka hubungan antara dokter dengan pasien juga mengikuti alternatif jenis hubungan yang sama. Pada awalnya hubungan dokter - pasien adalah hubungan yang bersifat paternalistik, dengan prinsip moral utama adalah beneficence. Beauchamp and Childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral (moral principle) dan beberapa rules dibawahnya. Ke-4 kaidah dasar moral tersebut adalah :

1.

Prinsip otonomi, yaitu prinsip moral yang menghormati hak-hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination). Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin informed consent;

2.

Princip beneficence, yaitu prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. Dalam beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya (mudharat);

3.

Prinsip non-maleficence, yaitu prinsip moral yang melarang tindakan yang memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai "primum non nocere" atau "above all do no harm".

4.

Prinsip justice, yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya (distributive justice).

Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka), privacy (menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) dan fidelity (loyalitas dan promise keeping). Selain prinsip atau kaidah dasar moral di atas yang harus dijadikan pedoman dalam mengambil keputusan klinis, profesional kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan dalam bersikap dan berperilaku (code of ethical conduct).

Sebagaimana diuraikan pada pendahuluan, nilainilai dalam etika profesi tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Sumpah dokter berisikan suatu "kontrak moral" antara dokter dengan Tuhan sang penciptanya, sedangkan kode etik kedokteran berisikan "kontrak kewajiban moral" antara dokter dengan peergroupnya, yaitu masyarakat profesinya. Baik

10

sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban moral yang melekat kepada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum, namun kewajiban moral tersebut haruslah menjadi "pemimpin" dari kewajiban dalam hukum kedokteran. Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis. Persoalan yang dihadapi para profesional kesehatan pada akhir kehidupan tidak kalah pelik dibanding dengan persoalan di awal kehidupan. Persoalan dapat berupa masalah sederhana seperti "bolehkah kita menghentikan terapi cairan dan nutrisi pada pasien?" hingga ke persoalan yang lebih rumit, seperti "seberapa jauh pecan keluarga dalam membuat keputusan medis terhadap pasien?","apa sikap dokter bila pasien meminta terapi minimal?" yang kemudian dihubungkan dengan isu tentang letting die naturally, physician assisted suicide, physician assisted death, euthanasia, masalah futility dan brain death.

Tindakan medis yang diketahui sebagai tindakan sia-sia (futile) saat ini dipertimbangkan untuk tidak lagi dilanjutkan dan secara moral dapat dibenarkan apabila tindakan tersebut dihentikan. Pertimbangan ini sebenarnya bukan pertimbangan barn, melainkan pertimbangan yang telah ada pada jaman Hippocrates, yang dikenal sebagai anjuran "to refuse to treat those who ar overmastered by their diseases, realizing that in such cases medicine is powerless". Namun demikian keputusan bahwa sesuatu tindakan medis adalah tindakan sia-sia haruslah diambil dengan melalui pertimbangan yang ketat.

11

BAB IV

Refleksi Kasus

A. Medikolegal

Pasal 304 KUHP Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan, sedang ia wajib memberikan kehidupan,perawatan, kepada orang itu,karena hukum yang berlaku baginya atau karena perjanjian,dipidana dengan pidana penjara selama- lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak banyaknya empat ribu limaratus rupiah.

Pasal 338 KUHP Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain dihukum karena menyebabkan mati, dengan penjara selama-lamanya lima belas tahun.

Pasal 340 KUHP Barang siapa dengan sengaja dan direncankan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain, dihukum Karen apembunuhan direncankan (moord) dengan hukuman mati atau penjara selama-lamanya seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh tahun.

Pasal 359 KUHP Barang siapa karena salahnya menyebabkan matinya orang, dihukum penjara selama12

lamnya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.

Selanjutnya di bawah ini dikemukakan sebuah ketentuan hokum yang mengingatkan kalangan kesehatan untuk berhati-hati menghadapi kasus euthanasia.

Euthanasia Dan Bunuh Diri

Pasal 344 KUHP Barang siapa merampas nyawa orang lain alas permintaan orang itu sendiri yg jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pasal 345 KUHP Barang siapa dengan sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun kalau orang itu jadi bunuh diri.

Salah satu hak pasien yang disahkan dalam Declaration of Lisbon dari World Medical Association (WMA) adalah "the rights to accept or to refuse treatment after receiving adequate information"'. Secara implicit amandemen UUD 45 pasal 28G ayat (1) juga menyebutnya demikian "Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, dst. Selanjutnya UU No 23 / 1992 tentang Kesehatan juga memberikan hak kepada pasien untuk memberikan

13

persetujuan atas tindakan medis yang akan dilakukan terhadapnya. Hak ini kemudian diuraikan di dalam Permenkes tentang Persetujuan Tindakan Medis.

B. Keislaman

Secara umum ajaran Islam diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan hidup dan kehidupan manusia, sehingga aturannya diberikan secara lengkap, baik yang berkaitan dengan masalah keperdataan maupun pidana. Khusus yang berkaitan dengan keselamatan dan perihal hidup manusia, dalam hukum pidana Islam (jinayat) ditetapkan aturan yang ketat, seperti adanya hukuman qishash, hadd, dan diat.

Dalam Islam prinsipnya segala upaya atau perbuatan yang berakibat matinya seseorang, baik disengaja atau tidak sengaja, tidak dapat dibenarkan, kecuali dengan tiga alasan; sebagaimana disebutkan dalam hadits: Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga alasan, yaitu: pezina mukhshan (sudah berkeluarga), maka ia harus dirajam (sampai mati); seseorang yang membunuh seorang muslim lainnya dengan sengaja, maka ia harus dibunuh juga. Dan seorang yang keluar dari Islam (murtad), kemudian memerangi Allah dan Rasulnya, maka ia harus dibunuh, disalib dan diasingkan dari tempat kediamannya (HR Abu Dawud dan An-Nasai)

Selain alasan-alasan diatas, segala perbuatan yang berakibat kematian orang lain dimasukkan dalam kategori perbuatan jarimah/tindak pidana (jinayat), yang mendapat sanksi hukum. Dengan demikian euthanasia karena termasuk salah satu dari jarimah dilarang oleh agama dan 14

merupakan tindakan yang diancam dengan hukuman pidana. Dalil syariah yang menyatakan pelarangan terhadap pembunuhan antara lain Al-Quran surat Al-Isra:33, An-Nisa:92, AlAnam:151. Sedangkan dari hadits Nabi saw, selain hadits diatas, juga hadits tentang keharaman membunuh orang kafir yang sudah minta suaka (muahad).(HR.Bukhari).

Pada prinispnya pembunuhan secara sengaja terhadap orang yang sedang sakit berarti mendahului takdir. Allah telah menentukan batas akhir usia manusia. Dengan mempercepat kematiannya, pasien tidak mendapatkan manfaat dari ujian yang diberikan Allah Swt kepadanya, yakni berupa ketawakalan kepada-Nya Raulullah saw bersabda: Tidaklah menimpa kepada seseorang muslim suatu musibah, baik kesulitan, sakit, kesedihan, kesusahan maupun penyakit, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapuskan kesalahan atau dosanya dengan musibah yang dicobakannya itu. (HR Bukhari dan Muslim). Hal itu karena yang berhak mematikan dan menghidupkan manusia hanyalah Allah dan oleh karenanya manusia dalam hal ini tidak mempunyai hak atau kewenangan untuk memberi hidup dan atau mematikannya. (QS.Yunus:56, Al-Mulk:1-2).

Berkaitan dengan permasalahan tersebut muncul persoalan fikih yaitu apakah memudahkan proses kematian secara aktif ditolerir oleh Islam? Apakah memudahkan proses kematian secara pasif juga diperbolehkan?

Dengan demikian melalui euthanasia aktif berarti manusia mengambil hak Allah Swt yang sudah menjadi ketetapanNya. Memudahkan proses kematian secara aktif seperti pada contoh pertama tidak diperkenankan oleh syariah. Sebab yang demikian itu berarti dokter melakukan

15

tindakan aktif dengan tujuan membunuh si sakit dan mempercepat kematiannya melalui pemberian obat secara overdosis atau cara lainnya.

Dalam hal ini dokter telah melakukan pembunuhan yang haram hukumnya, bahkan termasuk dosa besar. Perbuatan demikian itu tidak dapat lepas dari kategori pembunuhan meskipun yanng mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang dari pada Allah AlKhaliq. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah, karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah di tetapkan-Nya.

Eutanasia demikian juga menandakan bahwa manusia terlalu cepat menyerah pada keadaan (fatalis), padahal Allah swt menyuruh manusia untuk selalu berusaha atau berikhtiar sampai akhir hayatnya. Bagi manusia tidak ada alasan untuk berputus asa atas suatu penyakit selama masih ada harapan, sebab kepadanya masih ada kewajiban untuk berikhtiar. Dalam hadits Nabi sw disebutkan betapapun beratnya penyakit itu, tetap ada obat penyembuhnya.(HR Ahmad dan Muslim)

Adapun memudahkan proses kematian dengan cara euthanasia pasif sebagaimana dikemukakan dalam pertanyaan, maka semua itutermasuk dalam kategori praktik penghentian pengobatan. Hal ini didasarkan pada keyakinan dokter bahwa pengobatan yang dilakukan itu tidak ada gunanya dan tidak memberikan harapan kepada si sakit, sesuai dengan sunnatullah (hukum Allah terhadap alam semesta) dan hukum sebab-akibat. Masalah ini terkait dengan

16

hukum melakukan pengobatan yang diperselisihkan oleh para ulama fikih apakh wajib atau sekedar sunnah.

Menurut jumhur ulama mengobati atau berobat dari penyakit hukumnya sunnah dan tidak wajib. Meskipun segolongan kecil ulama ada yang mewajibkannya, seperti kalangan ulama syafiiyah dan hanbali sebagaimana dikemukakan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah.

Para ulama bahkan berbeda pendapat mengenai mana yang lebih utama: berobat ataukah bersabar? Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa bersabar (tidak berobat) itu lebih utama, berdasarkan hadist Abbas yang diriwayatkan dalam kitab shahih dari seorang wanita yang menderita epilepsi. Wanita itu meminta kepada Nabi agar mendoakannya, lalu beliau menjawab: Jika engkau mau bersabar (maka bersabarlah), engkau akan mendapatkan surga, dan jika engkau mau, akan saya doakan kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu. Wanita itu menjawab akan bersabar dan memohon kepada Nabi untuk medoakan kepada Allah agar ia tidak minta dihilangkan penyakitnya namun tetap terjaga auratnya sehingga tidak tersingkap ketika kambuh.

Disamping itu, terdapat banyak contoh dari kalangan sahabat dan tabiin yang tidak berobat ketika mereka sakit, bahkan di antara mereka ada yang memilih sakit, seperti Ubay bin Kaab dan Abu Dzar Al-Ghifari. Sikap demikian tidak ditegur ataupun diprotes oleh kalangan sahabat ataupun generasi tabaiin lainnya sebagaimana dikupas oleh Imam Al-Ghazali dalam satu bab tersendiri yang berjudul Kitab at-Tawakal dalam kitab Ihya Ulumuddinnya.

17

Dalam hal ini hukum berobat atau mengobati penyakit yang lebih tepat adalah pada dasarnya wajib terutama jika sakitnya parah, obatnya efektif berpengaruh, dan ada harapan untuk sembuh sesuai dengan perintah Allah Swt untuk berobat. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Nabi saw dalam masalah pengobatan sebagaimana yang di kemukakan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Zadul-Maad. Dan paling tidak, petunjuk Nabi saw, tersebut minimal menunjukkan hukum sunnah.

Oleh karena itu, pengobatan atau berobat hukumnya sunnah ataupun wajib apabila penderita dapat diharapkan kesembuhannya. Sedangkan jika secara perhitungan akurat medis yang dapat dipertanggungjhawabkan sudah tidak ada harapan sembuh, sesuai dengan sunnatullah dalam hukum kausalitas yang dikuasai para ahli seperti dokter ahli maka tidak ada seorang pun yang mengatakan sunnah berobat apalagi wajib.

Apabila penderita sakit kelangsungan hidupnya tergantung pada pemberian berbagai macam media pengobatan dengan cara meminum obat, suntikan, infus dan sebagainya, atau menggunakan alat pernapasan buatan dan peralatan medis modern lainnya dalam waktu yang cukup lama, tetapi penyakitnya tetap saja tidak ada perubahan, maka melanjutkan pengobatannya itu tidak wajib dan tidak juga sunnah sebagaimana difatwakan oleh Syeikh Yusuf Al-Qardhawi dalam Fatawa Muashirahnya, bahkan mungkin kebalikannya yakni tidak mengobatinya itulah yang wajib atau sunnah.

Dengan demikian memudahkan proses kematian (taisir al-maut) semacam ini dalam kondisi sudah tidak ada harapan yang sering diistilahkan dengan qatl ar-rahma (membiarkan

18

perjalanan menuju kematian karena belas kasihan), karena dalam kasus ini tidak didapati tindakan aktif dari dokter maupun orang lain. Tetapi dokter ataupun orang terkait lainnya dengan pasien hanya bersikap meninggalkan sesuatu yang hukumnya tidak wajib ataupun tidak sunnah, sehingga tidak dapat dikenai sanksi hukuman menurut syariah maupun hukum positif. Tindakan euthanasia pasif oleh dokter dalam kondisi seperti ini adalah jaiz (boleh) dan dibenarkan syariah apabila keluarga pasien mengizinkannya demi meringankan penderitaan dan beban pasien dan keluarganya.

Hal ini terkait dengan contoh kedua dari eutanasia aktif terdahulu yaitu menghentikan alat pernapasan buatan dari pasien, yang menurut pandangan dokter ahli ia sudah mati atau dikategorikan telah mati karena jaringan otak ataupun fungsi syaraf sebagai media hidup dan merasakan telah rusak. Kalau yang dilakukan dokter tersebut semata-mata menghentikan alat pengobatan, hal ini sama dengan tidak memberikan pengobatan.

Dengan demikian masalahnya sama seperti cara-cara eutanasia pasif lainnya. Karena itu, eutanasia untuk seperti ini adalah bukan termasuk kategori eutanasia aktif yang diharamkan. Dengan demikian, tindakan tersebut dibenarkan syariah dan tidak terlarang terutama bila peralatan bantu medis tersebut hanya dipergunakan pasien sekadar untuk kehidupan lahiriah yang tampak dalam pernapasan dan denyut nadi saja, padahal bila dilihat secara medis dari segi aktivitas maka pasien tersebut sudah seperti orang mati, tidak responsif, tidak dapat mengerti sesuatu dan tidak merasakan apa-apa, karena jaringan otak dan sarafnya sebagai sumber semua aktivitas hidup itu telah rusak.

19

Membiarkan si sakit dalam kondisi seperti itu hanya akan menghabiskan biaya dan tenaga yang banyak serta memperpanjang tanggungan beban. Selain itu juga dapat menghalangi pemanfaatan peralatan tersebut oleh pasien lain yang membutuhkannya. Di sisi lain, penderita yang sudah tidak dapat merasakan apa-apa itu hanya menjadikan sanak keluarganya selalu dalam keadaan sedih dan menderita, yang mungkin sampai puluhan tahun lamanya.

Umpan balik dari pembimbing

20

Bandar Lampung, 16 April 2013 TTD Dokter Pembimbing TTD Dokter Muda Aulya Adha Dini Idhar Trisna Damayanti Kania Anindita Bustam Dr. Handayani Dwi Utami, M. Kes Sp. F Jhon elfran Sihombing Muhammad Dzikrifishofa

21