Anda di halaman 1dari 11

A.

PENDAHULUAN

Basalioma atau Karsinoma Sel Basal (KSB) dikenal juga dengan : ulcus rodent, ulcus jacobi, basal cell epithelioma (BCE), komprecher tumor, basal cell carcinoma (BCC), rodent carcinoma dan ephitelioma basocellulare. Basalioma merupakan kanker kulit yang paling sering ditemukan. Berasal dari lapisan epidermis paling bawah, sepanjang lapisan basal. Biasanya tidak bermatastasis, berkembang lambat, invasif dan mengadakan destruksi lokal. Basalioma tumbuh di kulit yang secara rutin terpapar sinar matahari atau penyinaran sinar ultraviolet lainnya. Makin tinggi paparan sinar matahari, makin besar peluang sel-sel tumor menyerang. Penyakit ini lebih kerap menyerang kelompok usia produktif, yakni antara 30-60 tahun di mana seseorang lebih banyak beraktifitas di luar ruangan, dengan perbandingan yang lebih besar pada laki-laki dari perempuan yaitu 3 : 2. Selain itu, orang kuit putih memilki resiko lebih besar terkena tumor kulit di banding orang kulit berwarna. Ini karena orang kulit putih memiliki pigmen melanin yang lebih sedikit. Sekitar 80 % dari kanker sel basal terjadi pada daerah terbuka yang biasanya terpapar sinar matahari seperti : wajah, kepala, dan leher. Akan tetapi tak lazim pada telapak tangan sebagai daerah yang sering terpapar sinar matahari.

Karsinoma sel basal tumbuh lambat tapi hampir selalu terus menerus. Mungkin telah tumbuh selama beberapa bulan atau tahun sebelum pasien menyadarinya. Tanpa terapi dapat terjadi invasi yang meluas dan kerusakan pada jaringan sekitarnya, yang menimbulkan ulserasi. Pada daerah kepala dapat terjadi penetrasi ke dalam jaringan-jaringan yang lebih dalam, bahkan ke dalam tulang-tulang wajah dan otak. Karsinoma Sel Basal jarang bermetastasis tetapi dapat menyebabkan kematian oleh karena perluasan langsung ke dalam tengkorak atau erosi pembuluh-pembuluh darah besar.

B. ANATOMI KULIT Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas 3 lapisan utama yaitu : 1. Lapisan epidermis Terdiri atas : stratum korneum, stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basal. Stratum basal terdiri atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade), dan merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif. 2. Lapisan dermis Adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal dari pada epidermis. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, yaitu: a. Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol melewati epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah. b. b. Pars retikulare, yaitu bagian di bawahnya yang menonjol ke arah subkutan, bagian ini terdiri dari serabut kolagen, elastin, dan retikulin. 3. Lapisan subkutis Kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. C. ETIOPATOGENESIS Tumor ini berasal dari sel basal epidermis atau adneksanya. Faktor predisposisinya ialah faktor lingkungan dan genetik. Faktor lingkungan ialah radiasi ultraviolet, radiasi yang lain (sinar x), bahan kimia (misalnya Arsen), pekerjaan tertentu yang banyak terkena sinar matahari (misalnya nelayan, petani), adanya trauma (luka bakar), ulkus sikatriks, dan pengobatan dengan imunosupresan jangka panjang juga meningkatkan resiko basalioma. Faktor genetik misalnya tampak pada xeroderma pigmentosum, sindrom nevoid Karsinoma Sel Basal, albino dan adanya riwayat kanker kulit non melanoma sebelumnya.
2

D.HISTOPATOLOGI Secara histologi, sel tumor ini membentuk sarang, tali dan pulau di dalam dermis. Sel-sel ini kecil dan menyerupai sel basal normal dari epidermis. Pada tepi sarang, sel basal cenderung membentuk pagar, suatu gambaran khas dan diagnostik. Gambaran mitosis jarang ditemukan. Degenerasi musinosa dan differensiasi ke arah struktur alat tambahan dapat timbul. Hubungan karsinoma sel basal dengan stroma sekelilingnya tampak penting, karena ada jaringan musinosa fibrovaskuler khas yang mengelilingi sarang tumor.

E. GAMBARAN KLINIK Tumor ini umumnya ditemukan di daerah berambut, bersifat invasif, jarang bermetastase. Dapat merusak jaringan di sekitarnya, malah dapat sampai ke tulang, serta sering cenderung untuk residif lebih-lebih bila pengobatan tidak adekuat. Penderita biasanya datang dengan luka yang tidak sembuh. Predileksi pada daerah muka, telinga, kulit kepala, leher dan tubuh bagian atas. Trauma yang sangat ringan seperti mencuci muka atau mengeringkannya dengan handuk bisa menyebabkan perdarahan biasanya ditemukan. Pada permulaan berbentuk nodulus kecil pada kulit yang sklerotik. Kelainan ini secara lambat meluas dan cenderung bertukak, pinggirnya mirip bekas gigitan tikus karena itu diberi nama ulkus rodens. Kelainan ini menyebabkan destruksi setempat. Penetrasi pada tulang tulang tengkorak merupakan kasus yang lanjut. Basalioma sangat jarang bermetastasis, tapi dapat menyebabkan kematian karena ekstensi atau erosi secara langsung pada pembuluh darah intrakranial. Beberapa subtype dari Basalioma yaitu : 1. Karsinoma Sel Basal tipe nodular Karsinoma sel basal tipa nodular merupakan bnetuk paling umum. Sering terdapat pada kepala, leher, dan punggung, memiliki beberapa tanda, yaitu : papul yang rnengkilat dengan
3

cekungan pada tengahnya, seperti mutiara, erosi atau ulserasi, pendarahan, krusta, tepi meninggi, translusen, telangiektasis di permukaannya, riwayat berdarah oleh trauma ringan. Biasanya berwarna pink, merah atau putih. 2. Karsinoma Sel Basal tipe pigmentasi Karsinoma sel basal tipe pigmentasi merupakan KSB nodular dengan peningkatan proses melanisasi. Memiliki tanda yang sama dengan bentuk nodular tapi memiliki pigmen coklat atau hitam yang lebih banyak, sering terdapat pada individu kulit hitam. 3. Karsinoma Sel Basal tipe kistik Bentuk kista, lesinya berupa nodul kista translusen berwarna biru keabu-abuan, menyerupai bentuk kista jinak. Biasanya terdapat pada daerah kelopak mata atau pipi bagian atas. Tumor ini relatif lunak, dengan permukaan kulit di sekitarnya teregang, dan bentuknya bulat atau oval. 4. Karsinoma Sel Basal tipe siperfisial Bentuk superfisial, tampak sebagai bagian bersisik atau papul yang berwarna merah jambu sampai merah kecoklatan, sering dengan tengah yang jelas, dengan pinggiran yang beralur. Erosinya lebih sedikit dibanding bentuk nodular. Sering tampak pada badan dan bertendensi rendah untuk invasif. Papulnya menyerupai psoriasis atau eksim tapi progresifitasnya rendah dan tidak berfluktuasi. Adanya bentuk superfisial ini mungkin mengindikasikan seringnya terpapar arsen. 5. Karsinoma Sel Basal bentuk mikronodular Bentuk mikronodular, merupakan bentuk yang agresif, jarang berulserasi, dapat tampak kuning putih bila digaruk. Mempunyai batas yang tegas. 6. Karsinoma Sel Basal tipe morfea dan infiltrasi

Bentuk morfea, merupakan varian KSB yang pertumbuhannya agresif dengan gambaran klinis dan histologis yang jelas. Gambaran lesi dari KSB tipe morfea tampak seperti putih gading yang menyerupai jaringan parut. Oleh karena itu, jika terdapat gambaran jaringan parut tanpa trauma atau prosedur pembedahan sebelumnya atau gambaran jaringan parut yang sebelumnya terdapat lesi harus dicurigai kemungkinan KSB morfea dan segera dilakukan biopsi. Bentuk infiltrasi merupakan bentuk yang agresif dengan plak sklerotik atau papul. Batas sering tidak tegas dan sering memiliki pinggir yang melebar. Jarang terjadi ulserasi, perdarahan, dan krusta.

Lima tanda bahaya dari basalioma : 1. Luka terbuka yang berdarah, kotor, atau berkrusta, dan masih terbuka selama lebih 3 minggu. Luka yang tidak sembuh sembuh merupakan tanda paling sering dari basalioma dini. 2. Bagian yang merah atau area yang teiritasi sering terdapat pada dada, bahu, lengan, atau tungkai. Seringkali berkrusta. Ini juga dapat gatal dan sakit. Kadang kadang juga tidak ada keluhan. 3. Nodul atau benjolan yang mengkilat yang tampak seperti mutiara atau translusen, dan sering berwarna merah jambu, merah, atau putih. Benjolan juga dapat berwarna coklat kemerahan, hitam, atau coklat, terutama pada orang orang berambut hitam dan dapat timbul bersamaan dengan tahi lalat. 4. Pertumbuhan yang kemerahan dengan tepi yang meninggi dan indentasi krusta di tengahnya. Sebagai pertumbuhan yang lambat membesar, pembuluh darah yang kecil dapat timbul pada permukaannya. 5. Daerah bekas luka yang berwarna putih, kuning, atau licin, dan sering terdapat tepi yang sedikit tegas. Kulitnya sendiri terlihat mengkilat dan tegang. Meskipun merupakan tanda yang jarang, dapat mengindikasikan adanya tumor yang agresif.

F. DIAGNOSIS Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang dapat ditegakkan diagnosis basalioma. Biopsi kulit diperlukan untuk menentukan diagnosis pasti dan identifikasi secara histologik bentuk dari basalioma. Karena itu sebaiknya biopsi dilakukan secara tajam.

G. DIAGNOSIS BANDING - Karsinoma sel gepeng - Hiperplasie sebasea - Penyakit Bowen - Karsinoma Sel Squamosa

H. PENENTUAN STADIUM Untuk Basalioma/Karsinoma Sel Basal seperti halnya pada karsinoma kulit lainnya, penentuan stadium tumor berdasarkan klasifikasi AJCC (American Joint Committe on Cancer) masih dapat digunakan. Akan tetapi, secara klinis tidak berguna karena untuk penentuan T (besarnya tumor primer) sukar dilakukan dan untuk N (keadaan kelenjar getah bening regional) dan M (ada atau tidaknya metastasis) secara praktis tidak ada. Jadi, untuk menentukan stadium tumor dipakai :

1. Ukuran atau diameter horisontal tumor 2. Lokasi tumor. 3. Tipe Karsinoma Sel Basal
6

4. Penyebaran histologik ke jaringan yang lebih dalam (diameter vertikal). 5. Batas keamanan terapi. 6. Batas reseksi operasi mikroskopis. Basalioma sangat jarang bermetastasis dan sering tidak diperlukan penilaian stadium sampai kanker ini menjadi sangat besar sehingga suspek terjadi penyebaran ke bagian lain dari tubuh. I. PENATALAKSANAAN Idealnya semua basalioma harus di biopsi sebelum menentukan tindakan terapi yang paling tepat. Bila biopsi preoperatif tidak dapat dilakukan, dianjurkan pada saat tindakan operatif dilakukan. Dalam memilih penatalaksanaan yang tepat harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : ukuran, lokasi, lesi, umur penderita, dapat memberikan hasil kosmetik yang baik, tipe histologik, bentuk tumor, dan kemampuan penderita untuk mentoleransi tindakan operasi. 1. Terapi Non Bedah Terapi dari basalioma sangat bervariasi tergantung dari ukuran kanker, kedalaman, dan lokasi. Krioterapi : Terapi ini menggunakan nitrogen cair untuk membekukan lesi superfisial yang kecil, dengan menyisakan sedikit jaringan parut. Banyak pasien yang merasa kesakitan dan bengkak pada area yang diterapi. Secara umum cara ini tidak direkomendasikan untuk basalioma, khususnya untuk bentuk morfea, invasif dalam, dan lesi ulserasi, atau pada tumor yang berbatas jelek. 5-Fluorouracil (5-FU) : Penggunaan fluorouracil secara lokal dapat menolong para ahli untuk penanganan basalioma pada pasien selektif (seperti pada kanker yang terbatas pada lapisan superfisial kulit dari pasien yang berumur lanjut yang tidak bisa menjalani perawatan agresif lainnya). Penggunaannya dua kali sehari selama beberapa minggu. Selama pengobatan, pasien dapat mengalami peradangan tetapi jaringan parut kurang. Angka rekurensi sangat tinggi.
7

Radioterapi : Basalioma selalu radiosensitif, dan radioterapi dapat digunakan untuk tingkat lanjut dan lesi yang luas dimana pembedahan tidak cocok (seperti pada pasien yang alergi sama obat anestesi, pada terapi antikoagulan, bertendensi jadi bentuk keloid). Tipe terapi ini merupakan kontra indikasi pada pasien muda, oleh karena resiko tinggi menjadi jaringan parut, lesi pada tubuh dan anggota gerak, atau kanker yang rekuren. Retinoid sistemik : Beberapa laporan menunjukkan efektifitas dari pengobatan retinoid sistemik, tapi daya toksik dari penggunaan yang lama membatasi penggunaannya pada banyak pasien. 2. Terapi Bedah Terapi operatif dikombinasi dengan konfirmasi histologis merupakan prosedur standar penanganan basalioma. Operasi tujuannya untuk membuang tumor sehingga tidak bisa lagi berfloriferasi. Pengetahuan tentang sifat dan perbedaan bentuk klinik dan patologi dari berbagai sub tipe basalioma sangat diperlukan untuk pemilihan jenis terapi yang tepat. Dikenal dua macam operasi yaitu : 1. Operasi Mikrografi (pemotongan kompilt), ada 2 metode yaitu Frozen section contohnya tekhnik Mohs dan Parafin Section. Prosedur ini memilki tingkat akurasi diagnostic yang tinggi, sehingga kulit yang sehat bisa diselamatkan dan hanya mengeksisi tumornya saja sehingga teknik ini aman serta bagus dari segimkosmetik. Operasi mikrografi ini diperlukan untuk basalioma yang kurang potensial untuk mengalami rekurensi, yaitu : Tipe infiltrate, yang ada di kepala dan bagian distal ekstremitas.

- KSB dengan diameter >5 mm dan berlokasi di hidung, mata dan daerah telinga, dan tumor yang berdiameter >20 mm di daerah lain selain yang disebut di atas. - Tumor yang rekuren. 2. Operasi Konvensional. Tingkat rekurensinya 5-10%. Untuk meminimalisir tingkat rekurensinya maka harus digunakan batas eksisi 0,3-1,2 cm di luar tumor bahkan pada penderita dengan tumor yang kecil. Operasi ini untuk tumor yang berukuran 3-10 mm.

Selain operasi, terapi yang lain yaitu :

Eksisi : Memotong keluar lesi dan menjahit kulit. Prosedur ini secara normal dinamakan biopsi kulit, dimana diambil sedikitnya 4 mm jaringan sehat di sekitar tepi tumor. Eksisi merupakan penanganan terbaik Kuret / kauterisasi : Seorang ahli dapat menggabungkan teknik ini, dengan cara mengorek tumor untuk dibuang. Lesi di garuk dengan kuret dan dasarnya dikauter dengan aliran listrik untuk menghentikan perdarahan. Prosedur ini sering digunakan pada pasien dengan lesi nodular yang diameternya kurang dari 2 cm dengan tepi yang tegas. Luka biasanya menyembuh dengan cepat tanpa dijahit, sering dengan jaringan parut yang nonestetik. Prosedur kuret dan kauterisasi tidak cocok untuk lesi morfea, pasien dengan pacemaker jantung, pengobatan invasif yang dalam, atau pasien dengan tumor rekuren yang tepinya tidak tegas. Bedah plastik : Prosedur ini sangat berguna untuk penanganan lesi yang lebih besar dari 3 mm atau untuk lokasi tumor yang sulit. Biasanya, ahli bedah menggunakan prosedur ini sesudah suatu eksisi simple untuk hasil yang estetik. Untuk melakukan prosedur ini, digunakan skin graft atau skin flap untuk memperbaiki defek sesudah eksisi. Teknik ini digunakan khusus untuk mengurangi jaringan parut atau untuk penutupan luka yang cepat. Bedah laser : Prosedur ini membuang lesi dengan menggunakan laser karbon dioksida yang menggunakan sinar energi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya. Teknik rutin tidak berguna pada pasien dengan resiko tinggi perdarahan. Sesudah pengobatan, beberapa perubahan di kulit dapat terjadi, yang akan menjadi nyata setelah beberapa tahun kemudian. J. PROGNOSIS Basalioma yang ditangani secara inkomplit dapat rekuren, sehingga semua penanganan harus diikuti dengan follow-up, mengingat 20% dari kekambuhan yang ada biasanya terjadi antara 6-10 tahun pasca operasi. Jika diterapi dengan tepat maka prognosis pasian dengan KSB rekuren masih cukup baik, walaupun tumor yang rekuren memilki kecenderungan untuk kambuh lagi dan menjadi agresif. Pasien dengan riwayat penyakit yang rekuren harus dimonitor lebih sering terhadap perkembangan rekurensinya dan timbulnya tumor primer.
9

Sedangkan untuk kasus yang bermetastasis, prognosisnya adalah buruk di mana hanya dapat bertahan sekitar 8-10 bulan setelah di diagnosis. Rekurensi KSB setelah follow up adalah 18% untuk eksisi, 10% untuk radiasi, 40% untuk elektrodesikasi dan kuretasi, dan 12% untuk krioterapi (dengan follow up <5 tahun). Sebaliknya, dengan terapi Mohs tingkat rekurensi untuk KSB setelah follow up 5 tahun adalah 3,4 7,9%. Dengan demikian Mohs mikrografi adalah pengobatan pilihan untuk KSB rekuren. Dengan terapi yang adekuat, angka kesembuhan lebih dari 95 % dapat dicapai. K. PENCEGAHAN lnstruksikan kepada pasien untuk menghindari pemaparan sinar matahari, terutama pada siang hari (antara jam 11.00 15.00) dimana merupakan waktu yang berbahaya. Juga pada sinar matahari di musim panas. Mengajari pasien untuk menggunakan sunscreen (pelindung matahari) yang sangat bermanfaat bagi pencegahan semua jenis kanker kulit. Pencegahan dilakukan dengan cara antara lain dengan menggunakan baju lengan panjang, celana panjang, topi lebar, dan kacamata pelindung sinar UV. Pemeriksaan diri sendiri terhadap perubahan pada kulit

1. Mengajari pasien untuk mengenali perubahan aneh pada kulitnya, terutama perubahan lebih dari 3-4 minggu. Juga mengajari pasien untuk memeriksa kulitnya sendiri.

2. Beritahu pasien untuk melihat bagian depan dan belakang dari tubuh mereka sendiri pada cermin. Kemudian berputar untuk melihat bagian samping badan sambil kedua lengan diangkat. Selanjutnya mengangkat kedua siku untuk melihat lengan bagian depan dan belakang serta pada telapak tangan. 3. Instruksikan pasien untuk duduk kemudian periksa bagian belakang kedua tungkai dan kaki, termasuk sela jari-jari kaki dan bagian bawah kaki. 4. Pasien harus menggunakan cermin tangan untuk memeriksa bagian belakang leher dan kulit kepala serta bagian punggung.

10

Pemeriksaan kulit dianjurkan setiap 3 tahun untuk pasien usia 20-40 tahun dan setiap tahun pada pasien usia diatas 40 tahun. Saat ini para peneliti sedang mencari cara kemopreventif dengan retinoid sistematik sebagai agen pencegah kanker untuk pasien resiko tinggi terkena basalioma. Walaupun begitu, kegunaan dari agen tersebut dibutuhkan evaluasi beberapa tahun lagi. L. KESIMPULAN Basalioma merupakan kanker kulit yang paling banyak terjadi di seluruh dunia. Insidensnya akhir-akhir ini semakin meningkat, mengingat orang semakin banyak menghabiskan waktu di luar rumah sehingga akan terpapar sinar ultraviolet lebih lama yang mana merupakan salah satu penyebab utama dari basalioma. Dengan mengenali secara dini tanda-tanda awal dari suatu basalioma dan terapi segera dengan tepat, maka prognosisnya akan jauh lebih baik.

11