Anda di halaman 1dari 54

MAKALA SISTEM ENDOKRIN PENCERNAAN

Disusun Oleh Kelompok 1A : 1.

S1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SANTA ELISABETH SEMARANG 2012/2013

KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkat dan campur tangan-Nyalah, maka kami dapat menyelesaikan makalah sistem Pencernaan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan apendiksitis peritonitis ini dengan baik. Semoga apa yang kami tulis dan kami paparkan dalam makalah ini dapat dimengerti dan di pahami dengan baik oleh pembaca sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca dalam menjaga dan meningkatkan status kesehatan dalam kehidupan sehari hari. Penulis menyadari bahwa makalah asuhan keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 10 Juni 2013

Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Tujuan BAB II PENYAKIT APENDIKSITIS 2.1 Struktur organ saluran cerna dewasa (khususnya usus) 2.2 Fisiologi saluran cerna dewasa 2.3 Proses penyerapan makanan pada orang dewasa 2.4 Patofisiologi apendiksitis dengan peritonitis 2.5 Farmakologi pasien dengan apendiksitis peritonitis dan implikasi keperawatan : Analgetik (anti inflamasi), Antiemetik, Antibiotic, vitamin (daya tahan tubuh, supleman), Antiseptik 2.6 Gizi yang tepat pada apendiksitis peritonitis serta post laparotomy serta implikasi keperawatan 2.7 Penatalaksanaan medik apendisitis dan apendiksitis peritonitis 2.8 Askep klien dengan apendisitis dengan peritonitis 2.9 Keterampilan Pemeriksaan fisik system pencernaan 2.10 2.11 Keterampilan Persiapan operasi apendiktomi dan laparotomy Keterampilan tindakan huknah, semprot gliserin dan pemberian obat supositoria

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Apendisitis adalah peradangan pada apendix vermiformis (Pierce dan Neil, 2007). Apendisitis merupakan kasus laporotomi tersering pada anak dan juga pada orang dewasa (Ahmadsyah dan Kartono, 1995). Hampir 7% orang barat mengalami apendisitis dan sekitar 200.000 apendiktomi dilakukan di Amerika Serikat tiap tahunnya. Insidens semakin menurun pada 25 tahun terakhir, namun di negara berkembang justru semakin meningkat, kemungkinan disebabkan perubahan ekonomi dan gaya hidup (Lawrence, 2006). Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding kecuali padaumur 20-30 tahun, insidens laki-laki lebih tinggi, sedangkan pada bayi dan anak sampai berumur 1-2 tahun jarang ditemukan (Syamsuhidajat, 1997). Diagnosis harus ditegakkan dini dan tindakan harus segera dilakukam, keterlambatan penanganan menyebabkan penyulit perforasi dan berbagai akibatnya (Ahmadsyah dan Kartono, 1995).

1.2 Manfaat 1.2.1 Mahasiswa mampu memahami tentang sistem apendiksitis pada dewasa 1.2.2 Mahasiswa mampu mengerti tentang sistem apendiksitis 1.2.3 Mahasiswa dapat mengimplementasikan tatalaksana dengan apendiksitis

1.3 Tujuan Agar mahasiswa dapat lebih mengetahui lebih jauh tentang apendiksitis, dan dapat melakukan asuhan keperawatan yang benar untuk pasien apendiksitis.

BAB II ISI 2.1 Struktur organ saluran cerna dewasa (khususnya usus) Sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus) berfungsi sebagai berikut: - Menerima makanan - Memecah makanan menjadi zat-zat gizi (suatu proses yang disebut pencernaan) - Menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah - Membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

a) Mulut, Tenggorokan & Kerongkongan Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan dan sistem pernafasan. Bagian dalamdari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Saluran dari kelenjar liur di pipi, dibawah lidah dan dibawah rahang mengalirkan isinya ke dalam mulut. Di dasar mulut terdapat lidah, yangberfungsi untuk merasakan dan mencampur makanan. Di belakang dan dibawah mulut terdapat tenggorokan (faring). Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan dikunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Pada saat makan, aliran dari ludah membersihkan bakteri yang bisa menyebabkan pembusukan gigi dan kelainan lainnya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis. Epiglotis akan tertutup agar makanan tidak masuk ke dalam pipa udara (trakea) dan ke paru-paru, sedangkan bagian atap mulut sebelah belakang (palatum mole, langit-langit lunak) terangkat agar makanan tidak masuk ke dalam hidung. Kerongkongan (esofagus) merupakan saluran berotot yang berdinding tipis dan dilapisi oleh selaput lendir.

Kerongkongan menghubungkan tenggorokan dengan lambung. Makanan didorong melalui kerongkongan bukan oleh gaya tarik bumi, tetapi oleh gelombang kontraksi dan relaksasi otot ritmik yang disebut dengan peristaltik.

b) Lambung Lambung merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai, terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan antrum. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfingter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfingter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting: - lender - asam klorida - prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein). Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung dan enzim. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini (apakah karena infeksi oleh bakteri Helicobacter pylori atau karena aspirin), bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung. Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. Pelepasan asam dirangsang oleh: - Saraf yang menuju ke lambung - Gastrin (hormon yang dilepaskan oleh lambung) - Histamin (zat yang dilepaskan oleh lambung). Pepsin bertanggungjawab atas pemecahan sekitar 10% protein. Pepsin merupakan satu-satunya enzim yang mencerna kolagen, yang merupakan suatu protein dan kandungan utama dari daging. Hanya beberapa zat yang bisa diserap langsung dari lambung (misalnya alkohol dan aspirin) dan itupun hanya dalam jumlah yang sangat kecil.

c) Usus halus Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Duodenum menerima enzim pankreatik dari pankreas dan empedu dari hati. Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum melalui lubang yang disebut sfingter Oddi) merupakan bagian yang penting dari proses pencernaan dan penyerapan. Gerakan peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan dengan cara mengaduk dan mencampurnya dengan zat yang dihasilkan oleh usus. Beberapa senti pertama dari lapisan duodenum adalah licin, tetapi sisanya memiliki lipatanlipatan, tonjolan-tonjolan kecil (vili) dan tonjolan yang lebih kecil (mikrovili). Vili dan mikrovili menyebabkan bertambahnya permukaan dari lapisan duodenum, sehingga menambah jumlah zat gizi yang diserap. Sisa dari usus halus, yang terletak dibawah duodenum, terdiri dari jejunum dan ileum. Bagian ini terutama bertanggungjawab atas penyerapan lemak dan zat gizi lainnya. Penyerapan ini diperbesar oleh permukaannya yang luas karena terdiri dari lipatan-lipatan, vili dan mikrovili. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.

Kepadatan dari isi usus berubah secara bertahap, seiring dengan perjalanannya melalui usus halus. Di dalam duodenum, air dengan cepat dipompa ke dalam isi usus untuk melarutkan keasaman lambung. Ketika melewati usus halus bagian bawah, isi usus menjadi lebih cair karena mengandung air, lendir dan enzim-enzim pankreatik.

d) Pankreas Pankreas merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar:

- Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan - Pulau pankreas, menghasilkan hormon. Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim-enzim pencernaan dihasilkan oleh sel-sel asini dan mengalir melalui berbagai saluran ke dalam duktus pankreatikus. Duktus pankreatikus akan bergabung dengan saluran empedu pada sfingter Oddi, dimana keduanya akan masuk ke dalam duodenum. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan

dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung. 3 hormon yang dihasilkan oleh pankreas adalah: - Insulin, yang berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah - Glukagon, yang berfungsi menaikkan kadar gula dalam darah - Somatostatin, yang berfungsi menghalangi pelepasan kedua hormon lainnya (insulin dan glukagon).

e) Hati Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa diantaranya berhubungan dengan pencernaan. Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh darah yang kecil-kecil (kapiler).

Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluhpembuluh kecil di dalam hati, dimana darah yang masuk diolah.

Darah diolah dalam 2 cara: - Bakteri dan partikel asing lainnya yang diserap dari usus dibuang - Berbagai zat gizi yang diserap dari usus selanjutnya dipecah sehingga dapat digunakan oleh tubuh. Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum. Hati menghasilkan sekitar separuh dari seluruh kolesterol dalam tubuh, sisanya berasal dari makanan. Sekitar 80% kolesterol yang dihasilkan di hati digunakan untuk membuat empedu. Hati juga menghasilkan empedu, yang disimpan di dalam kandung empedu. Kandung empedu & Saluran empedu.

Empedu mengalir dari hati melalui duktus hepatikus kiri dan kanan, yang selanjutnya bergabung membentuk duktus hepatikus umum. Saluran ini kemudian bergabung dengan sebuah saluran yang berasal dari kandung empedu (duktus sistikus) untuk membentuk saluran empedu umum. Duktus pankreatikus bergabung dengan saluran empedu umum dan masuk ke dalam duodenum. Sebelum makan, garam-garam empedu menumpuk di dalam kandung empedu dan hanya sedikit empedu yang mengalir dari hati. Makanan di dalam duodenum memicu serangkaian sinyal hormonal dan sinyal saraf sehingga kandung empedu berkontraksi. Sebagai akibatnya, empedu mengalir ke dalam duodenum dan bercampur dengan makanan. Empedu memiliki 2 fungsi penting: - Membantu pencernaan dan penyerapan lemak - Berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol. Secara spesifik empedu berperan dalam berbagai proses berikut: - Garam empedu meningkatkan kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak untuk membantu proses penyerapan - Garam empedu merangsang pelepasan air oleh usus besar untuk membantu menggerakkan isinya - Bilirubin (pigmen utama dari empedu) dibuang ke dalam empedu sebagai limbah dari sel darah merah yang dihancurkan - Obat dan limbah lainnya dibuang dalam empedu dan selanjutnya dibuang dari tubuh - Berbagai protein yang berperan dalam fungsi empedu dibuang di dalam empedu. Garam empedu kembali diserap ke dalam usus halus, disuling oleh hati dan dialirkan kembali ke dalam empedu. Sirkulasi ini dikenal sebagai sirkulasi enterohepatik.

Seluruh garam empedu di dalam tubuh mengalami sirkulasi sebanyak 10-12 kali/hari. Dalam setiap sirkulasi, sejumlah kecil garam empedu masuk ke dalam usus besar (kolon). Di dalam

kolon, bakteri memecah garam empedu menjadi berbagai unsur pokok. Beberapa dari unsur pokok ini diserap kembali dan sisanya dibuang bersama tinja.

f) Usus besar Anatomi dan fisiologi Usus Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa dicerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan mengirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan. Duodenum menerima enzim pankreatik dari pankreas dan empedu dari hati. Cairan tersebut (yang masuk ke dalam duodenum melalui lubang yang disebut sfingter Oddi) merupakan bagian yang penting dari proses pencernaan dan penyerapan. Gerakan peristaltik juga membantu pencernaan dan penyerapan dengan cara mengaduk dan mencampurnya dengan zat yang dihasilkan oleh usus. Beberapa senti pertama dari lapisan duodenum adalah licin, tetapi sisanya memiliki lipatan-lipatan, tonjolan-tonjolan kecil (vili) dan tonjolan yang lebih `kecil (mikrovili). Vili dan mikrovili menyebabkan bertambahnya permukaan dari lapisan duodenum, sehingga menambah jumlah zat gizi yang diserap. Sisa dari usus halus, yang terletak dibawah duodenum, terdiri dari jejunum dan ileum.Bagian ini terutama bertanggungjawab atas penyerapan lemak dan zat gizi lainnya. Penyerapan ini diperbesar oleh permukaannya yang luas karena terdiri dari lipatan-lipatan, vili dan mikrovili. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.Kepadatan dari isi usus berubah secara bertahap, seiring dengan perjalanannya melalui usus halus.

Di dalam duodenum, air dengan cepat dipompa ke dalam isi usus untuk melarutkan keasaman lambung.Ketika melewati usus halus bagian bawah, isi usus menjadi lebih cair karena mengandung air, lendir dan enzim-enzim pankreatik.

Usus Halus Usus halus merupakan kelanjutan dari lambung. Usus halus memiliki panjang sekitar 6-8 meter. Usus halus terbagi menjadi 3 bagian yaitu duodenum ( 25 cm), jejunum ( 2,5 m), serta ileum ( 3,6 m). Pada usus halus hanya terjadi pencernaan secara kimiawi saja, dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan oleh usus halus serta senyawa kimia dari kelenjar pankreas yang dilepaskan ke usus halus.

Senyawa yang dihasilkan oleh usus halus adalah : Senyawa Kimia Fungsi Disakaridase : Menguraikan disakarida menjadi monosakarida

Erepsinogen :

Erepsin yang belum aktif yang akan diubah menjadi erepsin. Erepsin mengubah

pepton menjadi asam amino. Hormon SekretinMerangsang kelenjar pancreas mengeluarkan senyawa kimia yang dihasilkan ke usus : halus

HormonCCK (Kolesistokinin)

:Merangsang hati untuk mengeluarkan cairan empedu ke dalam usus halus.

Selain itu, senyawa kimia yang dihasilkan kelenjar pankreas adalah : Senyawa Kimia Fungsi Bikarbonat : Enterokinase : Menetralkan suasana asam dari makanan yang berasal dari lambung Mengaktifkan erepsinogen menjadi erepsin serta mengaktifkan tripsinogen menjadi tripsin. Tripsin mengubah pepton menjadi asam amino. Amilase : Lipase : Tripsinogen : Kimotripsin : Nuklease : Mengubah amilum menjadi disakarida Mencerna lemak menjadi asam lemak dan gliserol Tripsin yang belum aktif. Mengubah peptone menjadi asam amino Menguraikan nukleotida menjadi nukleosida dan gugus pospat

Hormon Insulin Menurunkan kadar gula dalam darah sampai menjadi kadar normal Hormon Glukagon :Menaikkan kadar gula darah sampai menjadi kadar normal

Usus Besar (Kolon) Merupakan usus yang memiliki diameter lebih besar dari usus halus. Memiliki panjang 1,5 meter, dan berbentuk seperti huruf U terbalik. Usus besar dibagi menjadi 3 daerah, yaitu : Kolon asenden, Kolon Transversum, dan Kolon desenden. Fungsi kolon adalah : a. Menyerap air selama proses pencernaan. b. Tempat dihasilkannya vitamin K, dan vitamin H (Biotin) sebagai hasil simbiosis dengan bakteri usus, misalnya E.coli. c. Membentuk massa feses d. Mendorong sisa makanan hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh. Pengeluaran feses dari tubuh ddefekasi.

Usus buntu

Usus buntu atau appendix adalah organ yang letaknya disisi posteromedial dari sekum (bagian dari usus besar), kurang lebih 2,5 cm dibawah katup ileosekum. Panjangnya bervariasi, rata-rata 5-10 cm. Karena posisi-nya yang bervariasi, jika usus buntu mengalami peradangan (selanjutnya disebut apendisitis) sering mengakibatkan keluhan yang berbeda-beda. Dan karena posisinya berdekatan dengan banyak organ, jika terjadi apendisitis sering menampakkan gejala yang mirip dengan peradangan pada organ sekitarnya. Infeksi saluran kencing, batu pada saluran kencing, radang pada organ reproduksi wanita adalah salah satu dari kasus yang gejalanya hampir mirip dengan apendisitis. Pemeriksaan fisik yang baik dan atau disertai dengan pemeriksaan penunjang dapat menetapkan diagnosa apendisitis dengan baik.

Kolon Transverum

Kolon asenden Usus halus

Kolon desenden

Sekum Rektum

Kolon sigmoid

Gbr. Usus Besar Manusia dan bagiannya

g) Rektum & Anus Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar.Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda buang air besar. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh.

Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

2.2 Fisiologi saluran cerna dewasa

Setiap manusia memerlukan makanan untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sari makanan dapat diangkut oleh darah dalam bentuk molekul-molekul yang kecil dan sederhana. Oleh karenanya, makanan yang dimakan dihancurkan terlebih dahulu sebelum diangkut. Proses ini disebut proses pencernaan. Pencernaan dilakukan oleh sistem pencernaan. Sistem pencernaan meliputi saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan merupakan alat yang dilalui makanan seperti mulut, kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Saluran pencernaan berfungsi memecahkan makanan yang besar menjadi berukuran lebih kecil dan halus. Kerja saluran pencernaan dibantu dengan adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar pencernaan. Fungsi utama sistem pencernaan adalah memindahkan nutrient, air dan elektrolit dari makanan yang kita makan ke dalam lingkungan internal tubuh. Manusia menggunakan molekulmolekul organic yang terkandung dalam makanan dan O2 untuk menghasilkan energi.

Makanan harus dicerna agar menjadi molekul-molekul sederhana yang siap diserap dari saluran pencernaan ke dalam sistem sirkulasi untuk didistribusikan ke dalam sel. Secara umum sistem pencernaan melakukan empat proses pencernaan dasar, yaitu: 1. Motilitas Motilitas mengacu pada kontraksi otot yang mencampur dan mendorong isi saluran pencernaan. Otot polos di saluran pencernaan terus menerus berkontraksi dengan kekuatan rendah yang disebut tonus. Terhadap aktivitas tonus yang terus menerus terdapat dua jenis dasar motilitas pencernaan:

Gerakan propulsif (mendorong) yaitu gerakan memajukan isi saluran pencernaan ke depan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Kecepatan propulsif bergantung pada fungsi yang dilaksanakan oleh setiap organ pencernaan.

Gerakan mencampur memiliki fungsi ganda. Pertama, mencampur makanan dengan getah pencernaan. Kedua, mempermudah penyerapan dengan memajankan semua bagian isi usus ke permukaan penyerapan saluran pencernaan.

2. Sekresi Sejumlah getah pencernaan disekresikan ke dalam lumen saluran pencernaan oleh kelenjarkelenjar eksokrin. Setiap sekresi pencernaan terdiri dari air, elektrolit, dan konstituen organik spesifik yang penting dalam proses pencernaan (misalnya enzim, garam empedu, dan mukus). Sekresi tersebut dikeluarkan ke dalam lumen saluran pencernaan karena adanya rangsangan saraf dan hormon sesuai.

3. Pencernaan Pencernaan merupakan proses penguraian makanan dari struktur yang kompleks menjad struktur yang lebih sederhana yang dapat diserap oleh enzim. Manusia mengonsumsi tiga komponen makanan utama, yaitu:

Karbohidrat

Kebanyakan makanan yang kita makan adalah karbohidrat dalam bentuk polisakarida, misalnya tepung kanji , daging (glikogen), atau tumbuhan (selulosa) .Bentuk karbohidrat yang paling sederhana adalah monosakarida seperti glukosa, fruktosa, dan galaktosa.

Lemak

Protein terdiri dari kombinasi asam amino yang disatukan oleh ikatan peptida. Protein akan diuraikan menjadi asam amino serta beberapa polipeptida kecil yang dapat diserap dalam saluran pencernaan.

Protein

Sebagian besar lemak dalam makanan berada dalam bentuk trigelsida. Produk akhir pencernaan lemak adalah monogliserida dan asam lemak. Proses pencernaan dilakukan melalui proses hidrolisis enzimatik. Dengan menambahkan H2O di tempat ikatan, lalu enzim akan memutuskan ikatan tersebut sehinggan molekul-molekul kecil menjadi bebas. 4. Penyerapan Proses penyerapan dilakukan di usus halus. Proses penyerapan memindahkan molekulmolekul dan vitamin yang dihasilkan setelah proses pencernaan berhenti dari lumen saluran pencernaan ke dalam darah atau limfe. Saluran pencernaan (traktus digestivus) merupakan saluran dengan panjang sekitar 30 kaki (9 m) yang berjalan melalui bagian tengaj tubuh menuju ke anus. Pengaturan fungsi saluran pencernaan bersifat kompleks dan sinergistik. Terdapat empat faktor yang berperan dalam pengaturan fungsi pencernaan, yaitu: 1. Fungsi otonom otot polos 2. Pleksus saraf intrinsik

3. Saraf ekstrinsik 4. Hormon saluran pencernaan

2.3 Proses penyerapan makanan pada orang dewasa Proses pencernaan dimulai ketika makanan masuk ke dalam organ pencernaan dan berakhir sampai sisa-sisa zat makanan dikeluarkan dari organ pencernaan melalui proses defekasi. Makanan masuk melalui rongga oral (mulut). Langkah awal adalah proses mestikasi (mengunyah). Terjadi proses pemotongan, perobekan, penggilingan, dan pencampuran makanan yang dilakukan oleh gigi. Tujuan mengunyah adalah (1) menggiling dan memecah makanan; (2) mencampur makanan dengan air liur; dan (3) merangsang papil pengecap. Ketika merangsang papil pengecap maka akan menimbulkan sensasi rasa dan secara refleks akan memicu sekresi saliva. Di dalam saliva terkandung protein air liur seperti amilase, mukus, dan lisozim. Fungsi saliva dalam proses pencernaan adalah: 1. Memulai pencernaan karbohidrat di mulut melalui kerja enzim amilase. 2. Mempermudah proses menelan dengan membasahi partikel-partikel makanan dengan adanya mukus sebagai pelumas. 3. Memiliki efek antibakteri oleh lisozim. 4. Pelarut untuk molekul-molekul yang merangsang pupil pengecap. 5. Penyangga bikarbonat di air liur menetralkan asam di makanan serta asam yang dihasilkan bakteri di mulut sehingga membantu mencegah karies. Selanjutnya adalah proses deglutition (menelan). Menelan dimulai ketika bolus di dorong oleh lidah menuju faring. Tekanan bolus di faring merangsang reseptor tekanan yang kemudian mengirim impuls aferen ke pusat menelan di medula. Pusat menelan secara refleks akan mengaktifkan otot-otot yang berperan dalam proses menelan. Tahap menelan dapat dibagi menjadi 2, yaitu: 1. Tahap orofaring: berlangsung sekitar satu detik. Pada tahap ini bolusdiarahkan ke dalam esofagus dan dicegah untuk masuk ke saluran lain yang berhubungan dengan faring.

2. Tahap esofagus: pada tahap ini, pusat menelan memulai gerakan peristaltik primer yang mendorong bolus menuju lambung. Gelombang peristaltik berlangsung sekitar 5-9 detik untuk mencapai ujung esofagus. Selanjutnya, makanan akan mengalami pencernaan di lambung. Di lambung terjadi proses motilita. Terdapat empat aspek proses motilitas di lambung, yaitu: 1. Pengisian lambung (gastric filling): volume lambung kosong adalah 50 ml sedangkan lambung dapat mengembang hingga kapasitasnya 1 liter 2. Penyimpanan lambung (gastric storage): pada bagian fundus dan korpus lambung, makanan yang masuk tersimpan relatif tenang tanpa adanya pencampuran. Makanan secara bertahap akan disalurkan dari korpus ke antrum. 3. Pencampuran lambung (gastric mixing): kontraksi peristaltik yang kuat merupakan penyebab makanan bercampur dengan sekresi lambung dan menghasilkan kimus. Dengan gerakan retropulsi menyebankan kimus bercampur dengan rata di antrum. Gelombang peristaltik di antrum akan mendorong kimus menuju sfingter pilorus. 4. Pengosongan lambung (gastric emptying): kontraksi peristaltik antrum menyebabkan juga gaya pendorong untuk mengosongkan lambung. Selain melaksanakan proses motilitas, lambung juga mensekresi getah lambung. Beberapa sekret lambung diantaranya:

HCL: sel-sel partikel secara aktif mengeluarkan HCL ke dalam lumen lambung. Fungsi HCL dalam proses pencernaan adalah (1) mengaktifkan prekusor enzim pepsinogen menjadi pepsin dan membentuk lingkungan asam untuk aktivitas pepsin; (2) membantu penguraian serat otot dan jaringan ikat; (3) bersama dengan lisozim bertugas mematikan mikroorganisme dalam makanan.

Pepsinogen: pada saat di ekresikan ke dalam lambiung, pepsinogen mengalami penguraian oleh HCL menjadi bentuk aktif, pepsin. Pepsin berfungsi dalam pencernaan protein untuk menghasilkan fragmen-fragmen peptida. Karena fungsinya memecah protein, maka peptin dalam lambung harus disimpan dan disekresikan dalam bentuk inaktif (pepsinogen) agar tidak mencerna sendiri sel-sel tempat ia terbentuk.

Sekresi mukus: Mukus berfungsi sebagai sawar protektif untuk mengatasi beberapa cedera pada mukosa lambung.

Faktor intrinsik: faktor intrinsik sangat penting dalam penyerapan vitamin B12. vitamin B12 penting dalam pembentukan eritrosit. Apabila tidak ada faktor intrinsik, maka vitamin B12 tidak dapat diserap.

Sekresi Gastrin: Di daerah kelenjar pilorus (PGA) lambung terdapat sel G yang mensekresikan gastrin.

Aliran sekresi getah lambung akan dihentikan secara bertahap seiring dengan mengalirnya makanan ke dalam usus. Di dalam lambung telah terjadi pencernaan karbohidrat dan mulai tejadi pencernaan protein. Makanan tidak diserap di lambung. Zat yang diserap di lambung adalah etil alkohol dan aspirin. Makanan selanjutnya memasuki usus halus. Usus halus merupakan tempat berlangsungnya pencernaan dan penyerapan. Usus halus di bagi menjadi tiga segmen, yaitu: 1. Duodenum (20 cm/ 8 inci): pencernaan di lumen duodenum di bantu oleh enzim-enzim pankreas. Garam-garam empedu mempermudah pencernaan dan penyerapan lemak. 2. Jejenum (2,5 m/ 8 kaki) 3. Ileum (3,6 m/12 kaki) Proses motalitas yang terjadi di dalam usus halus mencakup: 1. Segmentasi: merupakan proses mencampur dan mendorong secara perlahan kimus. Kontraksi segmental mendorong kimus ke depan dan ke belakang. Kimus akan berjalan ke depan karena frekuensi segmentasi berkurang seiring dengan panjang usus halus. Kecepatan segmentasi di duodenum adalah 12 kontraksi/menit, sedangkan kecepatan segmentasi di ileum adalah 9 kontraksi/menit. Segmentasi lebih sering terjadi di bagian awal usus halus daripada di bagian akhir, maka lebih banyak kimus yang terdorong ke depan daripada ke belakang. Akibatnya, kimussecara perlahan bergerak maju ke bagian belakang usus halus dan selama proses ini kimus mengalami proses maju mundur sehingga terjadi pencampuran dan penyerapan yang optimal.

2. Komplek motilitas migratif: jika sebagian makanan sudah diserap maka proses segmentasi akan berhenti dan digantikan oleh komplek motilitas migratif yang akan menyapu bersih usus diantara waktu makan. Usus halus mensekresikan 1,5 liter larutan garam dan mukus cair yang disebut sukus enterikus ke dalam lumen yang fungsinya adalah (1) mukus menghasilkan proteksi dan limbrikasi; (2) sekresi encer ini menghasilkan H2O untuk ikut serta dalam pencernaan makanan secara enzimatik. Proses pencernaan di usus halus dilakukan oleh enzim-enzim pankreas. Dalam keadaan normal, semua produk pencernaan karbohidrat, protein dan lemak serta sebagian besar elektrolit, vitamin, dan air diserap oleh usus halus. Sebagian besar penyerapan terjadi di duodenum dan jejenum. Organ pencernaan yang terakhir adalah usus besar yang terdiri dari kolon, sekum, apendiks, dan rektum. Dalam keadaan normal kolon menerima 500 ml kimus dari usus halus setiap hari. Isi usus yang disalurkan ke kolon terdiri dari residu makanan yang tidak dapat dicerna, komponen empedu yang tidak diserap, dan sisa cairan. Zat-zat yang tersisa untuk dieliminasi merupakan feses. Fungsi utama usus besar adalah untuk menyimpan feses sebelum defekasi. Feses akan dikeluarkan oleh refleks defekasi yang disebabkan oleh sfingter anus internus (terdiri dari otot polos) untuk melemas dan rektum serta kolon sigmoid untuk berkontraksi lebih kuat. Apabila sfingter anus eksternus (terdiri dari otot rangka) juga melemas maka akan terjadi defekasi. Peregangan awal di dinding rektum menimbulkan rasa ingin buang air besar. Ketika terjaid defekasi biasanya dibantu oleh mengejan volunter yang melibatkan kontraksi simultan otot-otot abdomen dan ekspirasi paksa dengan glotis dalam posisi tertutup sehingga meningkatkan tekanan intra-abdomen yang membantu pengeluaran feses.

2.4 Patofisiologi apendiksitis dengan peritonitis Definisi

Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu (apendiks).

Usus buntu merupakan penonjolan kecil yang berbentuk seperti jari, yang terdapat di usus besar, tepatnya di daerah perbatasan dengan usus halus. Usus buntu mungkin memiliki beberapa fungsi pertahanan tubuh, tapi bukan merupakan organ yang penting.

Apendisitis sering terjadi pada usia antara 10-30 tahun. Peritonitis Peritonitis adalah peradangan peritoneum (membrane serosa yang melapisi rongga abdomen dan menutupi visera abdomen) yang biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ abdomen (e.g. appendicitis, salpingitis), perforasi saluran cerna, atau dari luka tembusa abdomen. Organism yang sering menginfeksi adalah organism yang hidup dalan

colon (pada kasus rupture app) yang mencakup E.coli atau bacteroides, sedangkan stafilokokus dan streptokokus seringkali masuk dari luar. Oc, sebelum kita lanjut ke peritonitis, kita resapi dulu anatomi peritoneum : Peritoneum Merupakan membrana Serosa tipis yang terdiri atas satu lapis sel mesothelium yang melapisi dinding dalam abdomen dan organ intra abdomen dengan luas 1,8 M Peritoneum yg melapisi dinding dalam abdomen disebut Peritoneum parietal sedangkan yg melapisi organ intra peritoneum disebut peritoneum visceral Ruang diantara peritoneum disebut cavum peritonii Cavum peritonii terbagi atas: Cavum Peritonii Major Cavum Peritonii Minor(bursa Omentalis) Omentum Major adalah duplikatur peritoneum visceral dari curvatura major sampai diafragma

Inervasi Peritoneum A. Peritoneum parietal mendapat inervasi dari N. intercostalis 8-11, N.subcostal,dan peritoneum parietal yg melapisi sisi kaudal diafragma diinervasi oleh N. Phrenicus (v.c 35) B. peritoneum viscerale mendapat inervasi sesuai organ yg ditutupinya

Vascularisasi Peritoneum : vascularisasi peritoneum mengikuti inervasinya Fisiologi Peritoneum

Peritoneum berfungsi untuk mengurangi gesekan antara organ intraabdomen agar dapat bergerak bebas Peritoneum menghasilkan cairan peritoneum sekitar 100 cc berwarna kuning jernih Jika terjadi cedera peritoneum daerah defect mesothelium akan segera ditutupi oleh mesothelium sekitarnya dan sembuh dalam waktu 3-5 hari Jika cedera cukup luas dan,membrana basalis terpapar cairan peritonii maka ekan memacu timbulnya jaringan fibrosis sehingga timbul adhesi yang akan mencapai maksimal 2-3 minggu setelah cedera Etiologi Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya. Diantaranya adalah obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks. Obstruksi ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit), hiperplasia jaringan limfoid, tumor apendiks, striktur, benda asing dalam tubuh, dan cacing askaris dapat pula menyebabkan terjadinya sumbatan. Namun, diantara penyebab obstruksi lumen yang telah disebutkan di atas, fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid merupakan penyebab obstruksi yang paling sering terjadi. Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks oleh parasit E. histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peranan kebiasaan mengkonsumsi

makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya penyakit apendisitis. Tinja yang keras dapat menyebabkan terjadinya konstipasi. Kemudian konstipasi akan menyebabkan meningkatnya tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semua ini akan mempermudah timbulnya apendisitis. GEJALA KLINIS APENDISITIS

Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya disertai dengan rasa mual muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat. Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 38,5 derajat celcius Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang timbul tersebut. 1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari dorsal. 2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis

Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).

Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya. Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan

diagnosis, dan akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan tidak khas

1. Pada anak-anak Gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntahmuntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering apendisitis diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui setelah terjadi perforasi. 2. Pada orang tua berusia lanjut Gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi. 3. Pada wanita Gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester, gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.

KLASIFIKASI APENDISITIS Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni : 1. Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah. Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua. PATOFISOLOGI APENDISITIS Patologi apendisitis berawal di jaringan mukosa dan kemudian menyebar ke seluruh lapisan dinding apendiks. Jaringan mukosa pada apendiks menghasilkan mukus (lendir) setiap harinya. Terjadinya obstruksi menyebabkan pengaliran mukus dari lumen apendiks ke sekum menjadi terhambat. Makin lama mukus makin bertambah banyak dan kemudian terbentuklah bendungan mukus di dalam lumen. Namun, karena keterbatasan elastisitas dinding apendiks, sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan terhambatnya aliran limfe, sehingga mengakibatkan timbulnya edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri di daerah epigastrium di sekitar umbilikus.

Jika sekresi mukus terus berlanjut, tekanan intralumen akan terus meningkat. Hal ini akan menyebabkan terjadinya obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding apendiks. Peradangan yang timbul pun semakin meluas dan mengenai peritoneum setempat, sehingga menimbulkan nyeri di daerah perut kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut.

Bila kemudian aliran arteri terganggu, maka akan terjadi infark dinding apendiks yang disusul dengan terjadinya gangren. Keadaan ini disebut dengan apendisitis ganggrenosa. Jika dinding apendiks yang telah mengalami ganggren ini pecah, itu berarti apendisitis berada dalam keadaan perforasi.

Sebenarnya tubuh juga melakukan usaha pertahanan untuk membatasi proses peradangan ini. Caranya adalah dengan menutup apendiks dengan omentum, dan usus halus, sehingga terbentuk massa periapendikuler yang secara salah dikenal dengan istilah infiltrat apendiks. Di dalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Namun, jika tidak terbentuk abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikuler akan menjadi tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.

Pada anak-anak, dengan omentum yang lebih pendek, apendiks yang lebih panjang, dan dinding apendiks yang lebih tipis, serta daya tahan tubuh yang masih kurang, memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena adanya gangguan pembuluh darah.

Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh dengan sempurna, tetapi akan membentuk jaringan parut. Jaringan ini menyebabkan terjadinya perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan tersebut dapat kembali menimbulkan keluhan pada perut kanan bawah. Pada suatu saat organ ini dapat mengalami peradangan kembali dan dinyatakan mengalami eksaserbasi

2.5 Farmakologi pasien dengan apendiksitis peritonitis dan implikasi keperawatan : Analgetik (anti inflamasi), Antiemetik, Antibiotic, vitamin (daya tahan tubuh, supleman), Antiseptik

Antibiotika Jenis antibiotika yang digunakan pasien apendisitis akut adalah : - sefalosporin generasi III (sefotaksim dan seftriakson) - sefalosporin generasi IV (sefpirom), metronidazol - aminoglikosida (gentamisin) - penisilin (ampisilin), dan karbapenem (meropenem). Analgetika Jenis analgetika yang digunakan adalah :

- ketorolak trometamin, metamizol Na, dan tramadol HCl. Terapi Cairan Antiulser Antiemetika Efektivitas obat pada kasus apendsitis akut ditunjukkan dengan penurunan leukosit, LED, dan intensitas nyeri serta tidak didapatkan infeksi luka operasi (ILO). Problem obat pada kasus apendisitis akut hanya ditemukan pada satu pasien yaitu reaksi alergi (hipersensitifitas) terhadap sefotaksim. Antiemitik Jenis antiemitik yang di gunakan adalah : Ranitidin Rantin Nerfoz Ranivel

Vitamin Vitamin c 1000mg

Curvit

2.6 Gizi yang tepat pada apendiksitis peritonitis serta post laparotomy serta implikasi keperawatan A. Diet ini Pascabedah Diet diberikan kecil: Pascabedah kepada setelah sadar I semua atau (DPB pasien rasa 1) pascabedah: mual hilang

Pascabedah besar: setelah sadar dan rasa mual hilang serta ada tanda-tanda usus sudah mulai bekerja.

Cara Memberikan Makanan yaitu selama 6 jam sesudah pembedahan, makanan yang diberikan berupa air putih, teh manis, atau cairan lain seperti pada Makanan Cair Jernih. Makanan ini diberikan dalam waktu sesingkat mungkin, karena kurang dalam semua zat gizi. Selain itu diberikan Makanan Parenteral sesuai kebutuhan. Makanan berupa makanan cair jernih. Makanan diberikan secara bertahap sesuai kemampuan dan kondisi pasien, mulai dari 30 ml/jam.

B.

Diet

Pascabedah

II

(DPB

II)

Diet pascabedah II diberikan kepada pasien pascabedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan dari DPB I. Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa kaldu jernih, sirup, sari buah, sup, susu, dan pudding rata-rata 8-10 kali sehari selama pasien tidak tidur. Jumlah cairan yang diberikan tergantung keadaan dan kondisi pasien. Selain itu dapat diberikan Makanan Parenteral bila diperlukan. DPB II diberikan untuk waktu sesingkat mungkin karena zat gizinya kurang. Jenis makanan berupa makanan cair kental dengan pemberian secara berangsur dimulai 50 ml/jam. Makanan yang tidak diperbolehkan pada diet pascabedah II adalah air jeruk dan minuman yang mengandung karbondioksida.

C.

Diet

Pascabedah

III

(DPB

III)

DPB III diberikan kepada pasien pascabedah besar saluran cerna atau sebagai

perpindahan dari DPB II. Makanan yang diberikan berupa makanan saring ditambah susu dan biskuit. Cairan hendaknya tidak melebihi 2000 ml sehari. Selain dapat diberikan Makanan Parenteral bila diperlukan. Makanan yang tidak dianjurkan untuk DPB III adalah makanan dengan bumbu tajam dan minuman yang mengandung karbondioksida.

D. Diet

Diet ini Pascabedah Pascabedah

pascabedah diberikan kecil, besar,

IV kepada setelah setelah

(DPB DPB DPB

IV) pasien: I III

Makanan diberikan berupa Makanan Lunak yang dibagi dalam 3 kali makanan lengkap dan 1 kali makanan selingan. Makanan yang diberikan berupa Makanan Lunak. Apabila makanan pokok dalam bentuk bubur atau tim tidak habis, sebagai pengganti diberikan makanan selingan pukul 16.00 dan 22.00 berupa 2 buah biskuit atau 1 porsi pudding dan 1 gelas susu.Makanan yang tidak dianjurkan untu DPB IV adalah makanan dengan bumbu tajam dan minuman yang mengandung karbondioksida (CO2).

Luka bekas operasi, terutama operasi caesar, kadang menimbulkan rasa gatal. Apalagi jika luka tersebut tidak lekas kering pasti sangat menganggu aktivitas. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memperbanyak konsumsi bahan pangan yang sarat akan kandungan asam askorbat atau vitamin C. Vitamin yang juga dikenal sebagai sumber antioksidan ini berkhasiat memproduksi kolagen yang sangat diperlukan untuk mempercepat penyembuhan luka.

Sumber asam askorbat yang terbaik adalah paprika merah, tomat merah, jeruk, apel, sayuran hijau, kiwi, jambu biji. Bahan pangan ini dapat disajikan dalam bentuk jus. Sebaiknya jus buah dan sayur ini segera diminum. Jika jus dibiarkan terbuka dan terkena udara terlalu lama, kandungan vitamin C-nya akan berkurang hingga 30 %.

2.7 Penatalaksanaan medik apendisitis dan apendiksitis peritonitis 1. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus

appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam

urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendicitis. 2. Abdominal X-Ray Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendicitis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis apendisitis. 3. USG Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya 4. Barium enema Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. 5. CT-Scan Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses. 6.Laparoscopi

Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung. Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendix. 2.8 Askep klien dengan apendisitis dengan peritonitis

2.9 Keterampilan Pemeriksaan fisik system pencernaan 1. Inspeksi Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendiculer. 2. Palpasi

Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu: Nyeri tekan di Mc. Burney. Nyeri lepas.

Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan

peritoneum parietal.. Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang

ada nyeri pinggang. 3. Auskultasi Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendicitis perforate. Pemeriksaan Colok Dubur Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Tanda-Tanda Khusus 1. Psoas Sign Dilakukan dengan rangsangan m.psoas dengan cara penderita dalam posisi terlentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa, penderita disuruh hiperekstensi atau fleksi aktif. Psoas sign (+) bila terasa nyeri di abdomen kanan bawah. 2. Rovsing Sign Perut kiri bawah ditekan, akan terasa sakit pada perut kanan 3. Obturator Sign Dilakukan dengan menyuruh penderita tidur terlentang, lalu dilakukan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul. Obturator sign (+) bila terasa nyeri di perut kanan bawah. bawah

2.10

Keterampilan Persiapan operasi apendiktomi dan laparotomy

1. Persiapan umum operasi apendiktomi Hal yang bisa dilakukan oleh perawat ketika klien masuk ruang perawat sebelum operasi : a. Memperkenalkan klien dan kerabat dekatnya tentang fasilitas rumah sakit untuk mengurangi rasa cemas klien dan kerabatnya (orientasi lingkungan). b. Mengukur tanda-tanda vital. c. Mengukur berat badan dan tinggi badan. d. Kolaborasi pemeriksaan laboratorium yang penting (Ht, Serum Glukosa, Urinalisa). e. Wawancara. 2. Persiapan klien malam sebelum operasi Empat hal yang perlu diperhatikan pada malam hari sebelum operasi : a. Persiapan kulit Kulit merupakan pertahanan pertama terhadap masuknya bibit penyakit. Karena operasi merusak integritas kulit maka akan menyebabkan resiko terjadinya ifeksi. Beberapa ahli bedah lebih menyukai mencukur rambut karena bisa mengganggu prosedur operasi. b. Persiapan saluran cerna Persiapan kasus yang dilakukan pada saluran cerna berguna untuk : 1. Mengurangi kemungkinan bentuk dan aspirasi selama anestasi. 2. Mengurangi kemungkinan obstruksi usus. 3. Mencegah infeksi faeses saat operasi. Untuk mencegah tiga hal tersebut dilakukan :

1. Puasa dan pembatasan makan dan minum. 2. Pemberian enema jika perlu. 3. Memasang tube intestine atau gaster jika perlu. 4. Jika klien menerimaanastesi umum tidak boleh makan dan minum selama 8 - 10 jam sebelum operasi : mencegah aspirasi gaster. Selang gastro intestinal diberikan malam sebelum atau pagi sebelum operasi untuk mengeluarkan cairan intestinal atau gester. c. Persiapan untuk anastesi Ahli anastesi selalu berkunjung pada pasien pada malam sebelum operasi untuk melakukan pemeriksaan lengkap kardiovaskuler dan neurologis. Hal ini akan menunjukkan tipe anastesi yang akan digunakan selama operasi. d. Meningkatkan istirahat dan tidur Klien pre operasi akan istirahat cukup sebelum operasi bila tidak ada gangguan fisik, tenaga mentalnya dan diberi sedasi yang cukup. 3. Persiapan pagi hari sebelum operasi klien dibangunkan 1 (satu) jam sebelum obat-obatan pre operasi : 1. Catat tanda-tanda vital 2. Cek gelang identitas klien 3. Cek persiapan kulit dilaksanakan dengan baik 4. Cek kembali instruksi khusus seperti pemasangan infuse 5. Yakinkan bahwa klien tidak makan dalam 8 jam terakhir 6. Anjurkan klien untuk buang air kecil 7. Perawatan mulut jika perlu 8. Bantu klien menggunakan baju RS dan penutup kepala

9. Hilangkan cat kuku agar mudah dalam mengecek tanda-tanda hipoksia lebih mudah.

2.11

Keterampilan tindakan huknah, semprot gliserin dan pemberian obat

supositoria

Keterampilan tindakan Huknah Memberikan Huknah Rendah Memberikan huknah rendah merupakan tindakan memasukkan cairan hangat ke dalam kolon desenden dengan menggunakan kanula rekti melalui anus. Tindakan tersebut bertujuan mengosongkan usus pada prapembedahan agar dapat mencegah terjadinya obstruksi makanan sebagai dampak dari pascaoperasi dan merangsang buang air besar bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam buang air besar. Persiapan alat dan bahan : 1. Pengalas 2. Irigator lengkap dengan kanula rekti 3. Cairan hangat 700-1000 mL. Dengan suhu 40,5-430C pada orang dewasa 4. Bengkok 5. Jelly 6. Pispot 7. Sampiran 8. Sarung Tangan 9. Tisu Cara Pelaksanaan : 1. Cuci tangan 2. Jelaskan pada pasien prosedur yang akan dilakukan 3. Atur ruangan dengan meletakkan sampiran apabila di bangsal umum atau menutup pintu apabila di ruang sendiri

4. Atur posisi sim miring ke kiri pada pasien 5. Pasang pengalas di bawah glutea 6. Irigator diisi cairan hangat sesuai dengan suhu badan (40,5-430C) dan hubungkan kanula rekti. Kemudian aliran dengan membuka kanula dan keluarkan air ke bengkok serta berikan jelly pada ujung kanula. 7. Gunakan sarung tangan dan masukkan kanula kira-kira 15cm ke dalam rektum ke arah kolon desenden sambil pasien di suruh nafas panjang dan pegang irigator setinggi 50cm dari tempat tidur. Buka klemnya dan air dialirkan sampai pasien menunjukan keinginan untuk buang air besar. 8. Anjurkan pasien untuk menahan sebentar bila mau buang air besar dan pasang pispot atau anjurkan ke toilet. Kalau pasien tidak mampu mobilisasi jalan, bersihkan daerah sekitar rektum hingga bersih. 9. Cuci Tangan 10. Catat jumlah feses yang keluar,warna,konsistensi,dan respon pasien Sikap : 1. Tidak menampakkan sikap jijik 2. Hati-hati 3. Peka terhadap respon pasien 4. Menjaga privasi pasien Memberikan Huknah Tinggi Memberikan huknah tinggi merupakan tindakan memasukkan cairan hangat ke dalam kolon asenden dengan menggunakan kanula usus. Hal tersebut dilakukan untuk mengosongkan usus pada pasien prapembedahan atau untuk prosedur diagnostik. Persiapan Alat dan Bahan : 1. Pengalas 2. Irigator lengkap dengan Kanula Usus 3. Cairan Hangat (seperti huknah rendah) 4. Bengkok

5. Jelly 6. Pispot 7. Sampiran 8. Sarung Tangan 9. Tisu Cara Pelaksanaan : 1. Cuci tangan 2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan 3. Atur ruangan dengan menggunakan sampiran apabila pasien berada di ruang bangsal umum atau tutup pintu apabila di ruang sendiri. 4. Atur posisi sim miring ke kanan pada pasien 5. Gunakan sarung tangan 6. Irigator diisi cairan hangat yang sesuai dengan suhu badan dan hubungkan kanula usus. Kemudian cek aliran dengan membuka kanula dan keluarkan air ke bengkok,lalu berikan jelly pada ujung kanula. 7. Masukkan kanula ke dalam rektum ke arah kolon asenden 15-20 cm sambil pasien disuruh nafas panjang dan pegang irigator setinggi 30 cm dari tempat tidur. Buka klem sehingga air mengalir pada rektum sampai pasien menunjukkan ingin buang air besar. 8. Anjurkan pasien untuk menahan sebentar bila mau buang air besar dan pasang pispot atau anjurkan ke toilet. Kalau tidak mampu ke toilet, besihkan dengan air sampai bersih lalu keringkan dengan tisu. 9. Buka sarung tangan dan catat jumlah,warna,konsistensi,dan respon pasien. 10. Cuci tangan Sikap : 1. Tidak menampakkan sikap jijik 2. Hati-hati 3. Peka terhadap respon pasien 4. Menjaga privasi pasien

Keterampilan melakukan pemberian obat gliserin Memberikan Gliserin Memberikan gliserin merupakan tindakan memasukkan cairan gliserin ke dalam poros usus dengan menggunakan spuit gliserin. Hal ini dilakukan untuk merangsang peristaltik usus, sehingga pasien dapat buang air besar (khususnya pada orang yang mengalami sembelit). Selain itu,tindakan ini juga dapat digunakan untuk persiapan operasi.

Persiapan Alat dan Bahan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Spuit Gliserin Gliserin dalam tempatnya Bengkok Pengalas Sampiran Sarung Tangan Tisu

Cara Pelaksanaan : 1. Cuci tangan 2. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilaksanakan 3. Atur ruangan,apabila pasien sendiri,maka tutup pintu. Namun bila pasien di ruang bangsal umum,maka digunakan sampiran. 4. Atur posisi pasien (miringkan ke kiri),dan berikan pengalas di bawah glutea,serta buka pakaian bawah pasien. 5. Gunakan sarung tangan,kemudian spuit diisi gliserin 10-20 cc dan cek kehangatan cairan gliserin. 6. Masukkan gliserin perlahan-lahan ke dalam anus dengan tangan kiri mendorong perenggangan daerah rektum,sedangkan tangan kanan memasukkan spuit ke dalam anus sampai pangkal kanul dengan ujung spuit di arahkan ke depan. Anjurkan pasien nafas dalam.

7. Setelah selesai,cabut dan masukkan ke dalam bengkok. Anjurkan pasien untuk menahan sebentar rasa ingin defekasi dan pasang pispot apabila pasien tidak mampu ke toilet,bersihkan dengan air hingga bersih lalu keringkan dengan tisu. 8. Pasang pispot atau anjurkan ke toilet 9. Lepaskan sarung tangan,catat jumlah feses yang keluar,warna,konsistensi,dan repon pasien. 10. Cuci tangan Sikap : 1. Tidak menampakkan sikap jijik 2. Hati-hati 3. Peka terhadap respon pasien 4. Menjaga privasi pasien

Keterampilan melakukan pemberian obat suppositoria 1. Definisi Supositoria adalah suatu bentuk pengobatan yang di desain untuk administrasi via rektal (Galbraith et al 2007 dalam pregram at al 2008). Supositoria adalah tehnik pemberian obat berbentuk solid melalui insersi pada rektum yang mulai popular di abad 19 (radshaw at al,2009). 2. Tujuan Pemberian obat via rektum akan diabsorbsi melalui mukosa rektum dan dapat menghindari absorbsi saluran cerna atas. Medikasi secara rektal dapat memberikan efek secara lokal maupun sistemik seperti mengatasi konstipasi dan wasir. 3. 1. Kompetensi yang Diperlukan Mengevakuasi fekal: stimulasi laksative memberikan stimulasi berupa peningkatan

motilitas usus; glyserol, bisacodyl, phospate 2. Digital Rectal Examination

1.

Indikasi

kontraindikasi pengobatan lewat jalan oral yang disebabkan oleh obstruksi saluran cerna atas atau ketidakmampuan menelan

2.

saat bahan obat yang diberikan dapat mengiritasi mukosa saluran cerna klien yang mengalami mual, muntah, dan ketidakmampuan untuk makan dan minum klien yang puasa atau yang terpasangan alat in situ klien dengan tingkat kesadaran rendah klien dengan konstipasi Kontra Indikasi Klien dengan nyeri di rektum, perdarahan, riwayat oprasi anorektal atau anal stenosis, Klien yang mengalami masalah dengan curah jantung.

3.

KOMPLIKASI

PADA KLIEN YANG MEMILIKI MASALAH PADA KARDIAK OUTPUT, MAKA pemasukan supositoria dapat menstimulasi syaraf vagus yang menyebabkan disritmia jantung

4. A.

Trauma pada Jaringan rektum, dan resiko infeksi luka oprasi area rektum Efek samping dari obat Tanda dan gejala yang dikeluhkan sebelumnya tidak juga hilang Klien mengeluh nyeri saat insersi supositoria rektal
ALAT YANG DIPERLUKAN MEDICATION ADMINISTRATION RECORD(MAR) RESEP OBAT SUPOSITORIA AIR PELUMAS (K-Y JELLY) SARUNG TANGAN BERSIH TISSUE BED PAN (OPSIONAL)

Bentuk obat yang dimasukan melalui rektum

1.

HAL KHUSUS

Rektal supositoria kontra indikasi apabila terjadi perdarahan rektum yang aktif. Menempatkan obat kedalan fese membuat penyerapan kurang maksimal dan memungkinkan obat akan keluar kembali saat defekasi Klian dengan mobilitas baik, maka posisinya haruas sims. Bila klien imobilitas, maka diperbolehkan posisi lateral dengan menepatkan bantal pada tangan dan kaki bagian atas untuk memebrikan kenyamanan.

2.

Jangan mempalpasi rektum jika klien barus menjalani oprasi rektum Supositoria dapat dimasukan melalu jalan kolostomi, bukan ileostomi.
PROTOKOL PROSEDUR

DIAGNOSA KEPERAWATAN Konstipasi Sikap mencari perawatan (self care/ health seeking behavior) Nyeri (akut dan kronik) Kurang pengetahuan b.d. administrasi supositoria

Lemah mobilitas fisik No. LANGKAH Pengkajian 1. Review order yang mencakup nama klien, nama obat, dosis, bentuk obat, rute, dan waktu pemberian 2. Review informasi yang brehubungan dengan pengibatan, meliputi efek saat diberikan kepada tubuh, tujuan, efek samping, dan implikasi keperwatannya 3. Reviw medikal Record untuk tindakan oprasi pada rectum 4. Reviw berbagai tanda dan gejala dari masalah perut (konstipasi atau diare) Kondisi yang menjadi kontra indikasi supositoria Kondisi tersebut mungkin menjadi indikasi penggunaan supositoria 5. Kaji kemampuan klien untuk melakukan posisi saat pemberian supositoria dan memertahankan obat Keterbatasan gerak mengindikasikan ketidakmampuan memberikan obat sendiri 6. Review pengetahuan klien pada tujuan terapi supositoria dan ketertarikannya untuk melakukan administrasi sendiri Indikasi pemberian pendidikan kesehatan. Level motivasi berefek pada pendekantan pembelajaran Perencanaan 1. Hasil yang diinginkan: Klien melaporkan tanda dan gejala hilang setelah obat diberikan Klien menjelaskan tujuan pengobatan Klien melakukan administrasi pupositoria Feedback proses belajar klien Mendemonstrasikan pembelajaran Obat efektif Menjamin keamanan dan ketepatan administrasi obat peda klien Mengizinkan perawat untuk memberikan pengobatan dan memonitor RASIONAL

2.

Cek kelengkapan dan keakuratan MAR dengan catatan order obat, cek nama klien, nama obat, rute pemberian, dosis, dan waktu pemberian. Bandingkan MAR dengan label obat 3 klai selama persiapan

Lembar order merupakan sumber terpercaya dan satusatunya catatan legal obat. Pastiak kebenaran medikasi

3.

Cek gelang identitas klien dan tanyakan namanya

Memastikan benar pasien

4.

Terangkan prosedur pada klien, lakuakn secara spesifik jika klien mengininkan melakukannya sendiri

Memberikan kepahaman pada klien dan meningkatkan keja sama. Klien mungkin untuk melakukan sendiri medikasi supositoria

Implementasi 1. Tutup pintu atau batasi dengan pembatas Memberikan privasi dan meminimalisasi rasa malu 2. Lakukan cuci tangan, rapika alat sesuai urutan, dan gunakan sarung tangan Mengirasi transfer mikroorganisme. Membantu perawat dalam tindakan yang cekatan 3. Bantu klien mencapai posisi Sims dengan kaki bagian atas fleksi mengarah ke kepala Posisi tersebut mengekspose anus dan memebnatu klien merelaksasikan spingter eksternal. Posisi miring kiri meminimalisasi kemungkinan supositoeia dan feses keluar 4. Pastikan hanya area anal yang terbuka Memberikan privasi dan rasa relax 5. Periksa kondisi anus eksternal, dan palapasi dinding rektum jika perlu. Buka sarung tangan Meastikan tidak terjadi perdarahan pada rektum,

dengan aman dan buang ke tenpat sampah infeksius

palapasi memastikan rektum tidak berisi feses yang mengkin menggangu penempatan supositoria. Mengirang transmisi mikroorganisme

6.

Gunakan sarung tangan baru

Minimalisasi kontak dengan material feses dan mengurangi transmisi mikroorganisme

7.

Keluarkan supositoria dari kemasan, berkan lubrikan pada ujungnya. Lubrikasi juga jari tengah dari tangan dominan, jika klien punya hemoragi, berikan lubrikan yang lebih banyak dan lakukan secara lembut

Lubrikan mengurang gesekan saat supositoria memasuki rektum

8.

Minta klien untuk tarik napas dala lewat mulut dan merilekskan spingter eksterna

Mengurang nyeri dan memuluskan pemasukan Supositoria harus menempel di mukosa anus untuk absorbsi dan aksi obat yang lebih efektif

9.

Pisahkan bokong klien dengan tangan nondominan. Dengan jari tengah tangan nondominan masukan supositoria secara halus ke dalam anus, melewati spingter internal, menempel di dinding anus sedalam 10 cm (4 inchi)

10. 11.

Tarik jari, dan bersihkan area anal Lepaskan sarung tangan dengan aman dan masukan ke tempat sampah tertentu

Meberikan rasa nyaman Mengurangi transmisi mikroorganisme Menghindari keluarnya supositoria Kontrol eliminsi berlebih

12.

Minta klien untuk tidur terlentang atau tetap pada satu sisi selama 5 menit

13.

Bila supositoria mengandung laksatif atau detergen fekal, sipakan bedpen yang mudah dijangkau klien

14.

Bila supositoria dierikan untuk konstipasi, ingatkan klien untuk tidak mengguyur toilt setelah defekasi

Memberikan kesempatan kepada staff untuk mengevaluasi hasil dari supositoria

15.

Lakukan cuci tangan, dan buang sarung tangan, bersihkan alat Evaluasi

Menurunkan resiko transmisi mikroorganisme

1.

Kembali 5 menit kemudian untuk memestikan supositoria tidak keluar

Memastikan jika obat terdistribusi dengan baik, pemasukan kembali mengkin perlu

2.

Tanyakan apakah klien mengalami ketidaknyamanan selama pemasukan

Memastikan apakah pemasukan supositoria mengiritasi

3.

Evaluasi apakah sanda dan gejala hilang pada masalah eliminasi

Memastikan efektifitas obat

4.

Minta klien untuk menjelaskan kembali tujuan dari medikasi

Mencerminkan kepahaman klien tentang tujuan pengibatan

5.

Izinkan klien untuk melakukan redemonstrasi untuk pengobatan berikutnya

Demonstrasi adalah alat ukur pembelajaran

3. 4.

KEAMANAN

sarung tangan tempat sampah infeksius restrain tempat tidur bad pan
PENDOKUMENTASIAN

catat waktu aktual pemberian, nama obat, dosis, dan rute pada medical administration record seketika setelah tindakan termasuk inisial dan tanda tangan

jika obat diberikan nanti, catat alasan pada catatan perawat, pada MAR lingkari waktu kapan obat akan diberikan (sesuai institusi)

catat respon klien termasuk reaksi tidak biasa yang terjadi.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007) Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus. Tidak semua apendiksitis dioperasi karena apendiksistis biasa hanya diberikan obat analgetik sementara terjadi peradangan yang mengakibatkan nyeri. Namun jika sudah terjadi apendiksitis yang sudah berperforasi maka harus di apendiktomi.

3.2 Saran Apendiksitis merupakan penyakit yang sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan perawatan yang intensif dari rumah sakit. Dengan terapi farmasi dan pembedahan maka diharapkan apendiksitis dapat membaik.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, alih bahasa Kariasa, M,. Sumarwati, M., Edisi 3, Jakarta: EGC Guyton, Arthur C dan John E Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, E/11. Jakarta: EGC. Prince S.A, Wilson L.M. 2006, Patofisologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta :EGC Sjamsuhidajat, R., Jong, W.D., editor., Usus Halus, Apendiks, Kolon, Dan Anorektum, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. EGC, Jakarta, 2005,hlm.639-645.

Ahmadsyah dan Kartono. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. http://books.google.co.id/books?id=jgYYUGytPQAC&pg=PA65&lpg=PA65&dq=keterampilan +tindakan+huknah&source=bl&ots=0EB8Rl79Ls&sig=QoTwAzYqkxtXCmMRR_hUeHeCyW k&hl=en&sa=X&ei=4Eu1UdSxDIjTrQeikoCQAg&redir_esc=y#v=onepage&q=keterampilan% 20tindakan%20huknah&f=false