Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH PRAKTIKUM RADIOLOGI RADIOLOGI KISTA RM (ODONTOGENIK DAN NON-ODONTOGENIK)

Disusunoleh:

Dwi Sri Lestari Cindy Uswatun K. I Putu Erlangga

(111610101094) (111610101095) (111610101096)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS JEMBER 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena tanpa limpahan rahmatnya, kami tidak akan bisa menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas praktikum radiologi pada blok DMF 2.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Drg. Soni S, M.Kes selaku dosen pembimbing kami, teman diskusi, mahasiswa FKG angkatan 2011 serta semua pihak yang telah membantu dan ikut terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa baik dalam proses penyusunan maupun hasil akhir makalah ini masih banyak kekurangann dan kesalahan. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran yang membangun.

Jember, September 2012

Tim penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .....................................................................................................................i DAFTAR ISI...................................................................................................................................ii BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................................................1 BAB II. ISI......................................................................................................................................3 BAB III.PENUTUP.........................................................................................................................5 3.1 MACAM-MCAM KARBOHIDRAT..........................................................................5 3.2 FUNGSI KARBOHIDRAT.........................................................................................11 3.3 METABOLISME KARBOHIDRAT..........................................................................12 3..4 PENYAKIT AKIBAT KEKURANGAN/KELEBIHAN KARBOHIDRAT.............25 BAB IV. KESIMPIULAN.........27 DAFTAR PUSTAKA....28

ii

BAB I PENDAHULUAN
Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, semi cairan ataupun seperti gas dan tidak dibentuk oleh penggumpalan nanah (Kramer, 1974). Menurut WHO (1992) kista rahang terbagi menjadi dua kelompok besar yakni kista odontogen dan kista non-odontogen. Mayoritas kista berukuran kecil dan tidak menyebabkan pembengkakan di permukaan jariangan. Apabila tidak terjadi infeksi, maka secara klinis pembesaranya minimal dan berbatas jelas. Pembesaran kista dapat menyebabkan asimetri wajah, pergeseran gigi dan perubahan oklusi, hilangnya gigi yang berhubungan atau gigi tetangga, serta ppergeseran gigi tiruan. Kista yangterletak di dekat permukaan dan telah meluas ke jaringan lunak, sering terlihat berwarna biru terang dan membrane mukosa yang menutupi sangat tipis. Kista dilihat dari gambaran radiografiknya menunjukan radiolusen yang dikelilingi lapisan tipis radiopak. Namun dapat terjadi kalsifikasi distrofik pada kista yang sudah lama berkembang, sehingga menunjukkan gambaran kista tidak sepenuhnya radiolusen pada struktur internalnya. Dalam makalah ini penulis akan menjelaskan gambaran radiologi pada kista odontogen dan kista non-odontogen.

BAB II ISI

2.1 Kista odontogenik Kista odontogenik adalah kista yang berasal dari sisa-sisa epithelium pembentuk gigi (epithelium odontogenik). Seperti kista lainnya kista odontogenik dapat mengandung cairan, atau material semisolid. Menurut WHO kista odontogenik diklasifikasikan menjadi : I. Kista developmental Kista developmental adalah kista yang tidak diketahui penyebabnya, namun tidak terlihat sebagai hasil reaksi inflamasi.

1. Primordial cyst 2. Keratocyst 3. Follicular cyst 4. Eruption cyst 5. Lateral periodontal cyst Kista developmental adalah sebagai berikut: a. Kista primordial (keratokista) Etiologi dan patologis. Terdapat kesepakatan umu yang mengatakan bajhwa OKCs berkembang dari sisa dental lamina pada mandibula dan maksila. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa pembentukan asli dari kista ini adalah adanya perluasan sel basal pada 2

overlying epitelium oral. Mekanisme phatogenesis menyerupai pertumbuhan dan ekspansi dari OKCs termasuk adanya proliferasi yang tinggi, overekspresi dari antiapoptic protein Bcl-2, dan ekspresidari matriks metalloproteinasis (MMPs 2 dan 9). Gambaran klinis. OKCs merupakan kista yang sering terjadi di rahang. OKCs dapat terjadi pada semua usia dan mencapai puncak pada dekade ke-dua dan ke-tiga. Lesi yang ditemukan pada anak anak seringnya merupakan refleksi dari OKCs multipel sebagai komponen dari NBCCS. OKCs memiliki presentase 5% hingga 15% dari seluruh kista odontogenik. Sekitar 5% pasien dengan OKCs memiliki multipel kista dan yang 5% lainnya merupakan NBCCS. OKCs yang ditemukan di mandibula memilki rasio sekitar 2 hingga 1. Daerah posterior rahang bawah dan ramus merupakan daerah yang paling sering terkena, sedangkan pada maksila daerah molar ketiga merupakan daerah yang paling banyak terkena.

Secara radiologi kista primordial dapat muncul sebagai lesi unilokular, lesi lobulated, dan lesi multilokular. Namun yang sering muncul dalam bentuk unilokular dengan gambaran radiolusen yang dikelilingi lapisan sklerotik berupa radiopak yang sangat tipis. Pada lesi lobulated dan lesi multilokular adanya tulang kortikal yang irregulary dengan bentuk scalloping.

unilokuler

b. Kista gingival pada bayi Kista pada bayi juga di kenal dengan kista dental lamina pada bayi atau Borns nodule. Kista ini menunjukan nodul yang multipel sepanjang alveolarnya pada neonatal. Dipercaya bahwa fragmen pada dental lamina tertinggal pada mukosa alveolar ridge setelah pembentukan gigi proliferal, sehingga menyebabkan terbentuknya kista keratin ini. Pada kebanyakan kasus kista ini akan beregenerasi dan luruh atau terpecah di dalam rongga mulut. c. Kista gingival pada orang dewasa Mungkin tidak ada perubahan radiografi atau hanya bayangan bulat samar-samaryang menunjukkan erosi tulang superfisialis. Dari 46 kasus yang didiagnosa sebagai kista gingivapada penelitian moskow dkk (1970), 19 kasus memperlihatkan radiolusen,tetapi dalam laporan dari Buchner dan Hansen (1979), 2 dari 33 kasus memperlihatkan perubahan ini.

d. Kista periodontal lateralis Kista periodontal lateral merupakan perkembangan kista non-keratin yang terjadi pada perlekatan atau bagian lateral dari akar gigi. Kista ini sama dengan kista gingival pada dewasa akibat histogenetikal dan patologi dan akan di bahas di sini.

Etiologi dan patogenesis. Kista ini dipercaya berhubungan dengan proliferasi dari rest (sisa) dental lamina. Kista periodontal lateral menjadi patogen berhubungan dengan kista gingival pada orang dewasa; pembentukannya dipercaya dari lamina gigi yang tersisa didalam tulang, dan pada gingival kista lamina tertinggal pada jaringan lunak diantara epitelium dan periosteum (restofserres). Hubungan keduanya adalah distribusi yang sama pada kandungan konsentrasi lamina dental, dan keduanya identik secara histologi. Bedanya, kista periapikal biasanya ditemukan pada daerah apikal, dimana yang ditemukan adalah sisa sel malasses yang banyak. Gambaran klinis. Kista periodontal lateral dan kista gingival pada dewasa banyak di temui pada gigi premolar mandibula dan regio cuspid dan juga pada daerah ini. Pada maksila, lesi biasanya ditemukan pada regio insisif. Kista Periodontal lateral biasanya lebih cenderung menyerang laki laki dengan distribusi 2 hinga 1. Kista Gingival pada dewasa tidak menunjukan kecenderungan kelamin. Median usia untuk kedua tipe ini adalah diantara dekade ke-lima dan ke-enam, yaitu berkisar antara 20-85 tahun untuk kista periodonta lateral dan 40-75 tahun untung kista gingiva pada dewasa.

Radiograf kista periodontal lateralis memperlihatkan daerah radiolusen ovoid ataupun bundar yang berbatas tegas dengan tepi sklerotik. Kista terletak di sustu tempat antara apeks dan tepi servikal gigi. Terbanyak berdiameter kurang dari 1 cm, tetapi beberapa lebih besar dan bisa melibatkan seluruh akar.

e. Kista dentigerous (folikuler) Kista dentigerous atau kista folikular adalah tipe kedua dari kista odontodenik yang paling sering di temui, dan merupakan kista yang paling sering sekali ada di rahang. Dari definisinya, kista ini melekat pada cervix gigi (enamel-cemento junction) dan berdekatan dengan mahkota gigi yang unerupsi. Etiologi dan patologi. Kista dentigerous berkembang dari proliferasi enamel yang tersisa atau pembentukan epitelium enamel. Sama seperti kista tipe lain, ekspansi dari kista tipe ini berhubungan dengan proliferasi epitel, menghilangkan tulang- faktor resorbsi, dan meningkatnya cairan osmolalitas kista. Gambaran klinis. Kista dentigerous merupakan kista yang paling sering berhubungan dengan gigi molar ketiga dan kaninus maksila, yang mana merupakan dua gigi yang paling sering mengalami impacted. Paling banyak ditemukan pada usia dekade kedua dan ketiga, lebih banyak pada pria, dengan rasio 1.6 hingga 1. Biasanya asimptomatik, namun terdapat penundaan erupsi yang merupakan indikasi yang paling sering dari adanya pembentukan kista dentigerous. Kista ini memiliki kemampuan untuk mencapai ukuran yang signifikan, biasanya berhubungan dengan perluasan tulang kortikal namun jarang membesar pada pasien dengan predisposisi hingga menyebabkan fraktur pathologi.

Kista dentigerous merupakan kista odontogen yang terjadi akibat pembentukan cairan antara lapisan sisa-sisa sel epitel enamel luar dan dalam atau antara lapisan sisa epitel enamel organ dan mahkota gigi yang terbentuk sempurna. Kista ini menutupi mahkota gigi yang belum erupsi dan melekat pada leher gigi. Tempat predileksi adalah gigi molar ketiga rahang bawah dan kaninus rahang atas. Radiograf memperlihatkan daerah radiolusen unilokular yang berhubungna dengan mahkota gigi yang tidak erupsi. Kista ini mempunyai tepi sklerotik yang berbatas tegas kecuali terinfeksi nyang tepinya berbatas buruk.

Bisa terlihat tiga variasi radiologi kista dentigerous : Tipe sentral

Pada tipe ini, mahkota terbungkus simetris. Pada kasus ini, tekanan diberiakan pada mahkota gigi dan bisa menekannya menjauhi arah erupsinya.

Tipe lateral

Pada tipe inidiakibatkan oleh dilatasi folikel pada salah satu sisi mahkota. Kista ini dapat memiringkan gigi atau menggantikan gigi pada sisi yang terlibat.

Tipe sirkumferensial

Pada tipe ini, terlihat seluruh gigi dibungkus oleh kista dan biasanya sering menyebabkan gigi erupsi melalui kista.

f. Kista erupsi Kista erupsi disebabkan oleh adanya akumulasi cairan di dalam ruangan folikular dari gigi yang erupsi. Epitelium lining dari ruangan ini memproduksi enamel epitelium. Dengan trauma, darah akan muncul pada ruangan ini, membentuk yang biasa disebut dengan eruption hematoma. Tidak

ada perawatan yang di perlukan, karena gigi erupsi melalui lesi tersebut. Akibat penekanan erupsi, kista akan menhilang secara spontan tanpa menimbulkan komplikasi.

10

g. Kista odontogenik berkalsifikasi Kalsifikasi kista odontogenik (COCs) lesi odontogenik yang berkembang dan memiliki kemungkinan rekuren. Variasi yang lebih padat disebut dengan odontogenik ghost cell tumor yang di percaya memiliki sifat klinis lebih agresif. Etiologi dan pathogenesis. COCs dipercaya berasal dari sisa epitelial odontogenik di dalam gingiva atau di dalam mandibula atau maksila. gosht cell kaeratin memiliki karakteristik gambaran mikroskopis yang menyerupai kista ini, dan juga mengambarkan lesi cutaneous yang disebut dengan kalsifikasi epithelioma dari Malherby atau pilomatrixoma. Pada rahang, ghost sel juga terlihat pada beberapa tumor odontogenik lainnya, seperti odontoma, ameloblastoma, adenomatoid odontogenik tumor, ameloblastik fibroodontoma, dan ameloblasik fibroma. Gambaran klinis. Pada kista ini terdapat range usia yang luas, dengan puncak kasus terjadi pada usia dekade ke-dua. Biasanya terjadi pada individu di bawah usia 40 tahun dan lebih banyak menyerang perempuan. Lebih dari 70% COCs menyerang maksila. COCs juga dapat berada di intraosseous masses dari gingiva, walaupun hal ini jarang terjadi kista yang biasanya terjadi pada lokasi ekstraosseous atau peripheral biasanya menyerang pasien usia 50 tahun dan biasanya terletak pada anterior hingga regio molar pertama.

Pada awal pertumbuhan mempunyai gambaran yang sepenuhnya radiolusen. Pada saat mengalami maturasi, akan tumbuh suatu proses kalsifikasi yang akan ditunjukkan dengan gambaran berbatas jelas dan gambaran campuran radiolusen dan radiopak. II. Kista inflammatory Kista inflammatory adalah kista yang terjadi karena inflamasi/keradangan. Kista inflammatory adalah sebagai berikut: a. Kista radikular b. Kista periapikal (radikular atau periodontal apikal) merupakan kista yang paling sering terjadi di rahang. Inflamasi kista berasal dari ephitelial lining yang mengalami poliferasi akibat adanya sedikit residu (sisa) epitel odontogenik (rest malassez) di dalam periodontal ligament.

11

Etiologi dan phatogenisis. Kista periapikal berkembang dari perluasan periapikal granuloma, yang mana merupakan pusat dari inflamasi kronis jaringan granulasi yang berlokasi pada tulang di bagian apeks dari gigi non-vital. Granuloma periapikal terjadi dan terbentuk oleh degradasi produksi dari jaringan pulpa yang nekrose. Stimulasi dari epitelial rest malassez terjadi akibat respon pembentukan inflamasi. Pembentukan kista terjadi akibat adanya poliferasi epithelial, yang akan membantu untuk pemisahan stimulus inflamasi (nekrotik pulpa) dari tulang di sekitarnya. Pemisahan debris sel dari lumen kista akan meningkatkan konsentrasi protein, memproduksi peningkatan tekanan osmotik. Hasilnya adalah cairan berjalan melewati epitel lining menuju lumen dari sisi conective tissue. Cairan berhubungan langsung dengan pertumbuhan dari kista. Dengan adanya resorbsi tulang osteoclastic, terjadi perluasan kista. Faktor resobsi tulang yang lainnya, seperti prostaglandins, interleukins, dan proteinase, dari sel inflamasi dan sel peripheral pada lesi akan menyebabkan pertambahan luas kista. Gambaran klinis. Kista periapikal merupakan kista rahang yang terjadi sebanyak setengah atau tiga perempat dari semua kista rahang yang ada. Distribusi usia terjadi pada dekade ke tiga hingga ke enam. Jarang sekali di temukan kista periapikal pada dekade pertama, walaupun munculnya karies dan gigi non-vital sering terjadi pada usia ini. Kebanyakan kista terjadi pada rahang atas, terutama pada regio anterior, lalu pada regio posterior rahang atas kemudian gigi posterior rahang bawah, terakhir pada regio anterior rahang bawah.

Kista radikular adalah kista yang berasal dari sisa epitel malassez yang berprolifersi. Gambaran radiograf yaitu radiolusen bulat atau ovoid yang dikelilingi oleh radiopak yang sempit yang meluas dari lamina dura gigi yang terlibat.

12

c. Kista residual Kista ini sering pada pasien tidak berigigi. Terjadinya bila gigi dicabut dengan granuloma atau dengan kista yang kecil atau adanya bagian dari membrane periodontal yang mengandung sisa epitel mallasez yang ketinggalan sehingga yang tinggal ini dapat menjadi kista.

d. Kista paradental Gambaran radiograf kista paradental yakni radiolusen berbatas tegas pada distal gigi yang bererupsi sebagian, tetapi sering terdapat tumpang tindih bukal. Kadang-kadang radiolusen meluas ke apical, tetapi ruang ligamentum periodontal membuktikan bahwa lesi tidak berasal dari apeks gigi.

13

2.2 Kista Non-Odntogenik kista non odontogenik adalah menurut WHO kista non-odontogen terdiri dari: a. kista duktus nasopalatinus (kista kanalis insisivus) kista duktus nasopalatinus adalah kista non odontogenik yang berasal dari sisa sisa epitel embrionik duktus nasopalatinus dalam kanalis insisivus.kista ini ditemukan pada region anterior midline di atas ataupun diantara akar gigi insisivus sentralis yang masih vital. Kista duktus nasopalatinus terjadi dalam kanalis insisivus sehingga sulit untuk menentukan apakah radiolusen pada daerah itu merupakan kista atau foramen insisivus yang besar. Untuk memmbedakanya para ahli menyatakan, jika daerah tersebut menunjukan radiolusen yang berdiameter lebih kecil dari 6mm dan tidak terdapat symptom klinik, ini kemungkinan foramen insisivus yang normal. Tapi jika ddiameternya lebih 6 mm maka dapat diduga kista duktus nasopalatinus. Ropper-hallberpendapat radiografi fossa manapun yang bayangan radiolusenya berdiameter kurang dari 6mm bisa dianggap dalam batas normal,asalkan pasien tidak mengalami gejala lain. Kista duktus palatines menunjukkan gambaran radiolusen yang berbatas tegas diantara akar gigi insisivus sentralis atas dan bisa menyebabkan akar-akar gigi tersebut divergen. Bentuknya bervariasi bisa bulat, bentuk hati dan bisa berbentuk seperti jantung tergantung ada tidaknya gigi. Pada rahang yang edentoulus kista tampak bulat seperti bola, bila gigi masih ada biasanya seperti jantung.

14

b. kista globulomaksilaris kista globulomaksilaris adalah kista non odontogenik yang muncul diantara akar gigi insisivus lateralis dan kaninus atas di tempat yang bersesuaian dengan sutura intermaksilaris. Kista ini disebabkan oleh sisa-sisa sel epitel saat penyatuan maksia. Kista ini dapat meluas ke puncak akar salah satu atau kedua gigi yang berdekatan. Namun dalam hal ini kondisi jaringan pulpa gigi tetap vital. Gambaran radiografi tampak radiolusen berbatas tegas seperti buah pear diantara akar gigi insisivus lateralis dan kaninus atas yang masih vital. Kista ini bisa unilateral atau bilateral

c. kista nasolabialis (kista nasoalveolaris) kista nasolabialis adalah kista non-odontogenik yang terjadi pada lipatan nasolabialis di bawah alaenasi. Kista ini tidak melibatkan tulang alveolus.

15

Kista nasolabiialis hanya melibatkan jaringan lunak pada lipatan nasolabial di bawah alaenasi. Karena kista ini hanya semata-mata terjadi pada jaringan lunak, jadi tidak dapat dideteksi dengan pemeriksaan radiologi biasa. Jika kista ini diinjeksi dan dimasukkan bahan kontras (cairan radiopak), maka akan menghasilkan radiopak pada rongtnografi yang memberikan informasi tentang besar dan perluasan kista tersebut.

16

BAB III PENUTUP


Kista adalah rongga patologis yang berisi cairan, semi cairan ataupun seperti gas dan tidak dibentuk oleh penggumpalan nanah (Kramer, 1974).Menurut WHO (1992) kista rahang terbagi menjadi dua kelompok besar yakni kista odontogen dan kista non-odontogen. Kista odontogenik adalah kista yang berasal dari sisa-sisa epithelium pembentuk gigi (epithelium odontogenik). Seperti kista lainnya kista odontogenik dapat mengandung cairan, atau material semisolid.Menurut WHO kista odontogenik diklasifikasikan menjadi : I. Kista developmental a. Kista primordial (keratocyst) b. Kista gingival pada bayi c. Kista gingival pada orang dewasa d. Kista periodontal lateralis e. Kista dentigerous (folikuler) f. Kista erupsi g. Kista odontogenik berkalsifikasi II. Kista inflammatory a. Kista radikular b. Kista residual c. Kista paradental

kista non odontogenik adalah menurut WHO kista non-odontogen terdiri dari: a. kista duktus nasopalatinus (kista kanalis insisivus) b. kista globulomaksilaris c. kista nasolabialis (kista nasoalveolaris)

17

DAFTAR PUSTAKA Shear, M. Kista Rongga Mulut.1998. Jakarta : EGC.

DAFTAR PUSTAKA
Shear M. 1991. Kista Rongga Mulut Edisi 2. Jakarta: EGC.

18