Anda di halaman 1dari 142

Mar 4

Pemeriksaan ECT dan Brain Mapping


PERSIAPAN PEMERIKSAAN ECT DAN PERSIAPAN PEMERIKSAAN BRAIN MAPPING
Oleh : kelompok EVART MANOI DENIS MANANSAL JOANETE KOMALIG YULANDA TUMELENG NORMACHRISTI KOJONGIAN SERNI IRJAYANTI RONGA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNI ERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO !"#!

BAB II LAPORAN PENDA$ULUAN

A% PERSIAPAN PEMERIKSAAN ECT Pada penanganan klien gangguan jiwa di Rumah Sakit baik kronik maupun pasien baru biasanya diberikan psikofarmaka ,psikotherapi, terapi modalitas yang meliputi terapi individu, terapi lingkungan, terapi kognitif, terapi kelompok terapi perilaku dan terapi keluarga. Biasanya pasien menunjukan gejala yang berkurang dan menunjukan penyembuhan, tetapi pada beberapa klien kurang atau bahkan tidak berespon terhadap pengobatan sehingga diberikan terapi tambahan yaitu !" # le$tro !onvulsive "herapy%.

a% Penger&ian "erapi elektrokonvulsif # !"% merupakan suatu jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. &rus tersebut $ukup menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik ter$apai.Mekanisme kerja !" sebenarnya tidak diketahui, tetapi diperkirakan bahwa !" menghasilkan perubahan'perubahan biokimia didalam otak #Peningkatan kadar norepinefrin dan serotinin% mirip dengan obat anti depresan.

'% Indikasi (. )angguan afek yang berat* *pasien dengan depresi berat atau gangguan bipolar, atau depresi menunjukkan respons yang baik pada pemberian !" #+,'-,. membaik versus /,. atau lebih dengan antidepresan%. Pasien dengan gejala vegetatif yang jelas #seperti insomnia, konstipasi0 riwayat bunuh diri, obsesi rasa bersalah, anoreksia, penurunan berat badan, dan retardasi psikomotor% $ukup bersespon.

1. Ski2ofrenia* ski2ofrenia katatonik tipe stupor atau tipe e3$ited memberikan respons yang baik dengan !". "etapi pada keadaan s$hi2ofrenia kronik hal ini tidak teralalu berguna. (% K)n&raindikasi (% "umor intra kranial, karena dapat meningkatkan tekanan intrakranial. 1% 4ehamilan, karena dapat mengakibatkan keguguran

5% 6steoporosis, karena dapat berakibat terjadinya fraktur tulang. 4% 7nfark Miokardium, karena dapat terjadi henti jantung. 8% &sthma bron$hiale, dapat memperberat keadaan penyakit yang diderita d% K)mp*ikasi (% &mnesia #retrograd dan anterograd% bervariasi dimulai setelah 5'4 terapi berakhir semakin banyak, kekuatan listrik yang meningkat dan adanya organik sebelumnya. 1% Sakit kepala, mual, nyeri otot. 5% 4ebingungan. 4% Reserpin dan !" diberikan se$ara bersamaan akan berakibat fatal 8% 9raktur jarang terjadi dengan relaksasi otot yang baik. :% Risiko anestesi pada !", atropin mernperburuk glaukom sudut sempit, kerja Suksinilkolin diperlama pada .keadaan defisiensi hati dan bisa menyebabkan hipotonia. e% Persiapan ECT +Pra,ECT(% ;engkapi anamnesis dan pemeriksaan fisik, konsentrasikan pada peme<riksaan jantung dan status neurologi$, pemeriksaan darah perifer lengkap, 4), gangguan jantung, pernafasan dan persarafan. 1% Siapkan pasien dengan, informasi, dan. dukungan, psikologis. 5% Puasa setelah tengah malam. 4% 4osongkan kandung kemih dan lakukan defekasi 8% Pada keadaan ansietas berikan 8 mg dia2epam ('1 jam sebelumnya :% &ntidepresan, antipsikotik, diberikan sehari sebelumnya /% Sedatif'hipnotik, dan antikonvulsan #dan sejenisnya% harus dihentikan 'sehari sebelumnya. .% Pe*aksanaan ECT (% Buat pasien merasa nyaman. Pindahkan ke tempat dengan permuka<an rata dan $ukup keras. 1% >iperekstensikan punggung dengan bantal. 5% Bila sudah siap, berikan premedikasi dengan atropin #,,:'(,1 mg S!, 7M atau 7?%. &ntikolinergik ini mengendalikan aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal. 4% Sediakan -,'(,,. oksigen dengan kantung oksigen ketika respirasi tidak spontan. 8% Beri natrium metoheksital #Brevital% #4,'(,, mg 7?, dengan $epat%. &nestetik barbiturat kerja ) atau !" S$an jika terdapat gambaran =eurologis tidak abnormal. >al ini penting mengingat terdapat kontraindikasi pada 1'5 bulan #tetapi kadang'.kadang lebih lama dan lebih berat dengan metode bilateral, jumlah terapi yang

singkat ini dipakai untuk menghasilkan koma yang ringan. :% Selanjutnya, dengan $epat berikan pelemas otot suksinilkolin #&ne$tine% #5,'+, mg 7?, se$ara $epat awasi kedalaman relaksasi melalui fasikulasi otot yang dihasilkan% untuk menghindari kemungkinan kejang umum #seperti plantarfleksi% meskipun jarang. /% Setelah lemas, letakkan balok gigi di mulut kemudian berikan stimulus listrik #dapat dilakukan se$ara bilateral pada kedua pelipis ataupun unilateral pada salah satu pelipis otak yang dominan%

g% P)s& ECT (% &wasi pasien dengan hati'hati sampai dengan klien stabil kebingungan biasanya timbul kebingungan pas$a kejang (8'5, menit. 1% Pasien berada pada resiko untuk terjadinya apneu memanjang dan delirium pas$akejang #8 (, mg dia2epam 7? dapat membantu%

B% PERSIAPAN PEMERIKSAAN BRAIN MAPPING Penger&ian 4e$elakaan fisik yang terjadi pada otak seperti gegar otak, radiasi otak, gangguan yang disebabkan oleh ra$un dari luar, sei2ure disorder, &l2heimer , ano3ia dan infeksi pada otak #spt., peradangan selaput otak% yang disertai perubahan aktivitas gelombang otak, &@@, 6!@, an3iety, depresi dan seseorang yang lemah dalam belajar merupakan $iri'$iri adanya permasalahan pada gelombang otak manusia. ) Brain Mapping ) #ele$troen$ephalogram% merupakan sebuah alat untuk men$atat ) #Auantitative )% atau dikenal

aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu. A

pula dengan sebutan Bbrain mappingB, memberikan data yang komprehensif tentang gelombang

otak dan memberikan analisa yang tepat dari data mentah yang diberikan oleh bekerja menyerupai $ara kerja ), akan tetapi data yang diperoleh dari A

). A ) bisa

ditampilkan dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan, bisa dalam bentuk gambar topografi, berupa diagram, atau beropa gambar'gambar yang menunjukkan aktivitas pada bagian $orte3 #luar otak%. Prosedur Prosedur Brain Map meliputi menempatkan elektroda di berbagai area pada kulit kepala sebagai sarana untuk mengukur aktivitas gelombang otak dari klien # )%. Sesuatu berbentuk gel ditempelkan pada setiap elektroda untuk mendapatkan sinyal yang baik. Prosedur yang dilakukan non'invasif dan tidak menimbulkan rasa sakit. "idak ada sesuatu pun yang dimasukkan ke dalam otak. le$troen$ephalogram se$ara murni hanya menggambarkan gelombang listrik di dalam otak. Rekaman ) diambil dalam beberapa kondisi atau tes.

4ondisi yang direkam adalah pada saat a%mata tertutup, b%mata tertutup, $% memba$a untuk memahami atau mengerjakan soal matematika dengan tingkat kesulitan tertentu. &nalisis statistik membandingkan data subjek dengan database normative dari anak maupun orang dewasa lainnya. @ata kemudian dievaluasi berdasarkan persentase yang ada dan kemudian dibandingkan dengan database normatif dari kebervariasian yang ada. Sementara teknik'teknik lain #!", MR7, P ", SP !" dll.% $enderung mengukur aliran darah ke otak, metabolisme otak atau mengamati bagian'bagian otak, A yang dihasilkan oleh otak atau biasa disebut gelombang otak. A ) justru mengukur arus listrik ) menyediakan data analisis

yang sebetulnya sangat kompleks tentang gelombang otak dengan karakteristik khusus baik itu se$ara simetris, tahap'tahap perubahannya, hubungan antara satu dengan lainnya, luas gelombang otak yang dihasilkan, power dan gelombang otak yang dominan. 9aktanya, gangguan ke$il pada gelombang otak bisa jadi adalah pertanda awal dari permasalahan besar yang bisa terjadi pada otak dan tubuh kita. >asil laporan dari alat A ) akan dibandingkan dengan data normatif. @ata normatif ini

merupakan data yang diperoleh dari pen$atatan otak pada kurang lebih ratusan otak pada

manusia yang sehat. Perbandingan tersebut disebut sebagai C s$ores, Dang mana menggambarkan selisih antara data normatif dengan data klien yang bermasalah. Penggunaan utama dari A ) adalah untuk memeriksa pola struktur dan frekwensi gelombang otak serta untuk membantu seseorang yang akan menjalani proses terapi neurotherapy sehingga nantinya memiliki perhitungan yang tepat sehingga bisa seperti gelombang otak yang normal lainnya. A ) bukan merupakan alat yang men$iptakan diagnosa, akan tetapi merupakan alat untuk ) di$iptakan bukan untuk mengganti peran )0 hal itu merupakan dua hal yang berbeda terutama bagi Spesialis 6tak yang menggunakan ) dan bukan A ) dalam bekerja. membantu terapis dalam menentukan diagnosa. A

DAFTAR PUSTAKA

)u2e, B., Ri$heimer, S., dan Siegel, @.E. #(--,%. "he >andbook of Psy$hiatry. !alifornia* Dear Book Medi$al Publishers 4aplan, >.7., Sado$k, B.E., dan )rebb, E.&. #1,,,%. Synopsis of Psy$hiatry. =ew Dork* Filliams and Filkins Stuart, ).F. dan ;araia, M.". #1,,(%. Prin$iples and Pra$ti$e of Psy$hiatri$ =ursing. # d ke'/%. St. ;ouis* Mosby, 7n$. http*GGwww.neurotherapy.asiaGeegHbrainHmapping.htm

BAB I PENDA$ULUAN La&ar 'e*akang Salah satu terapi pada psikiatri atau dunia kedokteran jiwa yang tidak banyakdiketahui oleh banyak masyarakat adalah suatu terapi kejut dengan menggunakansebuah instrumen khusus yang

dinamakan sebagai !" # le$tro !onvulsion"herapy%. Caman dahulu penanganan pasien gangguan jiwa adalah dengandipasung, dirantai, atau diikat, lalu ditempatkan di rumah atau hutan jika gangguan jiwa berat. "etapi bila pasien tersebut tidak berbahaya, dibiarkan berkeliaran di desa,sambil men$ari makanan dan menjadi tontonan masyarakat. "erapi dalam gangguan jiwa bukan hanya meliputi pengobatan dengan farmakologi tetapi juga denganpsikoterapi, serta terapi modalitas yang sesuai dengan gejala atau penyakit pasienyang akan mendukung penyembuhan pasien jiwa. "erapi kejang listrik merupakan salah satu terapi dalam kelompok terapitotal."erapi ini berupa terapi fisik dengan pasien'pasien psikiatri dengan indikasi dan$ara tertentu. "erapi kejang listrik adalah suatu pengobatan untuk menimbulkankejang grand mal se$ara artifi$ial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrodayang dipasang pada satu atau dua ItemplesJ#Stuard,1,,/%. Pada pelaksanaanpengobatan !", mekanismenya sebenarnya tidak diketahui, tapi diperkirakanbahwa !" menghasilkan perubahan'perubahan biokimia dalam otak. Suatupeningkatan kadar norefinefrin dan serotonin, mirip efek obat antidepresan.4ehilangan memori dan keka$auan mental sementara merupakan efek sampingyang paling umum dimana perawat merupakan hal yang penting hadir pada saatpasien sadar setelah !", supaya dapat mengurangi ketakutan'ketakutan yangdisertai dengan kehilangan memori # rlinafsiah, 1,(,%. ) Brain Mapping ) #ele$troen$ephalogram% merupakan sebuah alat untuk men$atat aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu. A ) #Auantitative )% atau dikenal pula dengan sebutan Bbrain mappingB, memberikan data yang komprehensif tentang gelombang otak dan memberikan analisa yang tepat dari data mentah yang diberikan oleh ). A ) bekerja menyerupai $ara kerja ), akan tetapi data yang diperoleh dari A ) bisa ditampilkan dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan, bisa dalam bentuk gambar topografi, berupa diagram, atau beropa gambar'gambar yang menunjukkan aktivitas pada bagian $orte3 #luar otak%.

T/0/an Um/m (. Penulis dapat memahami dan mengerti tentang persiapan pemeriksaan !". 1. Penulis dapat memahami dan mengerti tentang persiapan pemeriksaan brain mapping T/0/an K1/s/s (. penulis mampu melakukan intervensi peda pemmeriksaan !" dan Brain mapping Man.aa& Pen/*isan Kntuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang persiapan pemeriksaan !" dan persiapan pemeriksaan brain mapping Sis&ema&ika Pen/*isan B&B 7 * Pendahuluan, "ujuan Kmum, "ujuan 4husus, Manfaat Penelitian,Sistematika Penulisan.B&B 77 * &.Pengertian, 7ndikasi, 4ontraindikasi,4omplikasi, Persiapan !"#pra !"%, Penatalaksanaan !", Post !". B.Pengertian, Prosedur .B&B 777 * 4esimpulan.

BAB III KESIMPULAN &. !" adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik danmenimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. "indakan ini adalahbentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yangditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall. "herapi !"merupakan peubahan untuk penderita psikiatrik berat, dimana pemberian arus listriksingkat dikepala digunakan untuk menghasilkan kejang tonik klonik umum.Padaterapi !" ini,ada efek samping yang di hasilkan.6leh karena itu perawat harusmemperhatikan efek samping yang akan terjadi.@an peran perawat dalam terapi !" yaitu perawat sebelum melakukan terapi !", harus mempersiapkan alat danmengantisipasi ke$emasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akandilakukan. B. ) Brain Mapping ) #ele$troen$ephalogram% merupakan sebuah alat untuk men$atat aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu. A ) #Auantitative )% atau dikenal pula dengan sebutan Bbrain mappingB, memberikan data yang komprehensif tentang gelombang otak dan memberikan analisa yang tepat dari data mentah yang diberikan oleh ).

DAFTAR ISI

C)2er Da.&ar Isi

# !

BAB # Penda1/*/an a% La&ar 'e*akang '% T/0/an Um/m (% T/0/an K1/s/s d% Man.aa& pen/*isan e% Sis&ema&ika pen/*isan BAB II Lap)ran Penda1/*/an A% Penger&ian Indikasi K)n&raindikasi K)mp*ikasi Persiapan ECT+pra ECTPena&a*aksanaan ECT P)s& ECT B%Penger&ian Pr)sed/r BAB ### Kesimp/*an Da.&ar P/s&aka

3 3 4 4 4 4 5 5 5 6 6 6 7 7 8 89: #" ##

@iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar

Sis&em Ne/r)'e1a2i)r
(. Mar 4

Ke0ang Demam
BAB I PENDA$ULUAN A% La&ar Be*akang

4ejang demam merupakan kejang yang $ukup sering dijumpai pada anak' anak yang berusia : bulan L 8 tahun, gejalah'gejalah yang timbul dapat berma$am'ma$am tergantung di bagian otak mana yang terpengaruh, tetapi kejang demam yang terjadi pada anak adalah kejang demam umum. 9aktor resiko utama yang umum menimpa anak di usia : bulanL 8 tahun adalah demam tinggi yang bisa disebabkan oleh infeksi ekstrakarnial seperti 7SP&, radang telinga, $ampak, $a$ar air. @alam keadaan demam, kenaikan suhu tubuh sebesar (,! pun bisa mengakibatkan kenaikan metabolisme basal yang mengakibatkan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan sebesar (, L (8 . dan otak sebesar 1, .. &pabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi maka anak tersebut akan mengalami kejang. Kmumnya kejang tidak akan menimbulkan dampak sisa jika kejang tersebut berlangsung kurang dari 8 menit tetapi anak harus tetap mendapat penanganan agar tidak terjadi kejang ulang yang biasanya lebih lama frekuensinya dari kejang pertama. "immbulnya kejang pada anak akan menimbulkan berbagai masalah seperti resiko $idera, resiko terjadinya respirasi atau yang lebih fatal adalah lidah jatuh kebelakang yang mengakibatkan obstruksi pada jalan napas.

B% T/0/an Pen/*isan "ujuan Kmum Kntuk mengetahui masalah'masalah yang terkait pada anak, yang berhubungan dengan masalah kejang dan demam "ujuan 4husus Kntuk mengetahui masalah'masalah yang terkait dengan penanganan kejang dan demam pada anak.

C% Man.aa& Pen/*isan Bagi Mahasiswa Mahasiswa dapat mengetahui masalah'masalah se$ara jelas tentang penanganan kejang dan demam pada anak Bagi Masyarakat Masyarakat mampu mengatasi akan terjadinya kejang dan demam pada anak

D% Sis&ema&ika Pen/*isan

Pada Bab 7 makalah ini membahas tentang latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan. Pada Bab 77 membahas tentang pengertian kejang demam, etiologi kejang demam, klasifikasi kejang demam, patofisiologi, prognosis, faktor resiko yang berulangnya kejang demam dan terjadinya epilepsi, pemeriksaan dan penatalaksanaan. Pada Bab 777 yaitu penutup yang berisi kesimpulan dari isi makalah dan saran bagi pemba$a.

BAB II TIN;AUAN PUSTAKA

A% Penger&ian 4ejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh #suhu rektal di atas 5+,!% yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakarnium. 4ejang demam pada anak berumur : bulan sampai 8 tahun, dan banyak terjadi pada usia (/'15 bulan. &nak yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. 4ejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam. Bila anak berumur kurang dari : bulan atau lebih dari 8 tahun mengalami kejang didahului dengan demam, kemungkinan lainn harus dipertimbangkan misalnya infeksi sistem saluran pernapasann atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. @efinisi ini menyingkirkan kejang yang disebabkan penyakit saraf seperti meningitis. 4ejang pada keadaan ini mempunyai prognosis berbeda dengan kejang demam karena keadaan yang mendasarinya mengenai sistem susunan saraf pusat.

B% E&i)*)gi

4ejang demam terjadi karena aktivitas listrik di otak terganggu oleh demam. 4ejang demam dapat merupakan tanda pertama penyakit. Sebagian beesar kejang demam terjadi dalam 14 jam pertama penyakit dan tidak selalu saat demam tertinggi. Penyakit yang dapat menyebabkan kejang demam adalah flu, pilek, infeksi telinga dan infeksi lai yang biasanya tidak serius. =amun, penyakit serius seperti pneumonia dan meningitis juga dapat menjadi penyebabnya. 4e$enderungan untuk mendapatkan kejang demam diwariskan dalam keluarga. Resiko anak memiliki kejang demam adalah (,'1,. bila salah satu orang tuanya pernah menndapatkannya. Resiko meninngkat menjadi sekitar 5,. jika kedua orang tua dan saudara kandung pernah mendapatkannya.

C% K*asi.ikasi Ke0ang Demam a% Ke0ang Demam Seder1ana 4ejang demam yang berlangsung singkat, kurang dari (8 menit dan umumnya akan berhenti sendiri. 4ejang berbentuk umum tonik atau klonik, tanpa gerakan fokal. 4ejang tidak berulang dalam waktu 14 jam. 4ejang demam sederhana merupakan +,. diantara seluruh kejang demam. Suhu yang tinggi merupakan keharusan pada kejang demam sederhana, kejang timbul bukan karena infeksi sendiri, akan tetapi oleh kenaikan suhu yang tinggi akibat infeksi di tempat lain, misalnya pada radang telinga tengah yang akut dan sebagainya. Bila dalam riwayat penderita pada umur'umur sebelumnya terdapat periode'periode dimana anak menderita suhu yang sangat tinggi akan tetapi tidak mengalami kejang, maka pada kejang yang terjadi kemudian harus berhati'hati, mungkin kejang yang ini ada penyebabnya.

Pada kejang demam sederhana kejang biasanya timbul ketika suhu sedang meningkat dengan mendadak, sehingga seringkali orang tua tidak mengetahui sebelumnya bahwa anak menderita demam. 4enaikan suhu yang tiba'tiba merupakan faktor yang penting unntuk menimbulkan kejang. 4ejang pada kejang demam sederhana selalu berbentuk umum biasanya bersifat tonik'klonik. 4ejang dapat juga berulang tapi hanya sebentar saja, dan masih dalam waktu (: jam meningkatnya suhu, umumnya pada kenaikan suhu yang mendadak, dalam hal ini juga kejang demam sederhana masih mungkin.

'% Ke0ang Demam K)mp*eks !iri'$irinya adalah sebagai berikut * (% 4ejang lama lebih dari (8 menit 1% 4ejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial 5% Berulang atau lebih dari ( kali dalam 14 jam 4ejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari (8 menit atau kejang berulang lebih dari 1 kali dan diantara bangkitan kejang anak tidak sadar, serta kejang berulang terjadi pada (:. diantara anak yang mengalami kejang demam.

(%

Ke0ang T)nik

4ejang inni biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan masa kehamilan kurang dari 54 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat. Bentuk klinnis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstremitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrassi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus dibedakan dengan sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsangan meningkat karena infeksi selaput otak.

d% Ke0ang K*)nik 4ejang ini dapt berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal berpinndah'pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung ('5 detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio serebri akibat trauma fokal pada bayi besar dan $ukup bulan atau oleh ensapalopati metabolik.

e%

Ke0ang Mi)k*)nik )ambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya $epat. )erakan tersebut menyerupai reflek moro. 4ejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan hebat. )ambaran ) pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.

D% Pa&).isi)*)gi Peningkatan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran selneuron adn dalam waktu singkat terjadi difusi ion kalium dan natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. ;epasnya muatan listrik ini demikian besarnya sehinngga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmiter dan terjadi kejang. 4ejang demam yang terjadi singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa. "etapi kejang yang berlangsung lama #lebih dari (8 menit% biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot seklet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat yang disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi alterial disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat yang disebabkan oleh makin meningkatnya aktivitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. 9aktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbulnya edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak. 4erusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang dikemudian hari sehingga terjadi serangan epilepsi spontan, karena itu kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis diotak hingga terjadi epilepsi. E% Pr)gn)sis

a.

4emungkinan mengalami ke$a$atan atau kelainan neurologis. 4ejadian ke$a$atan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien. Penelitian lain melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang berulang. 4ejang yang lebih dari (8 menit diduga biasanya menimbulkan kelainan saraf yang menetap. &pabila tidak diterapi dengan baik kejang demam dapat berkembang menjadi kejang demam berulang dengan frekuensi berkisar antara 18.'8,., epilepsi, kelainan motorik, serta gangguan mental dan belajar.

b. 4emungkinan mengalami kematian. F% Fak&)r Resik) Ber/*angn<a Ke0ang Demam dan Ter0adin<a Epi*epsi 9aktor resiko berulangnya kejang demam adalah * (% Riwayat kejang demam dalam keluarga 1% Ksia kurang dari (1 bulan 5% "emperatur yang rendah saat kejang 4% !epatnya kejang setelah demam Bila seluruh faktor ini ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah +,., sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya (,.'(8.. 9aktor resiko terjadinya epilepsi adalah * (% 4elainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama.

1% 4ejang demam kompleks. 5% Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung.

G% Pemeriksaan Pen/n0ang (. ) * dipakai untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.

1. Pemindaian !" * menggunnakan kajian sinar'M yang lebih sensitif dari biasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan. 5. MR7 * menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik dengan gelombang radio berguna untu memperlihatkan daerah'daerah otak yang tidak jelas terlihat bila menggunakan pemindaian !". 4. P " * untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, pperubahan metabolik atau aliran darah dalam otak. 8. Kji laboratorium

$% Pena&a*aksanaan (. Penatalaksanaan Saat 4ejang Biasanya kejang demam berlangsung singkat. &pabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling $epat untuk menghentikan kejang adalah dia2epam yang diberikan se$ara intravena. @osis dia2epam intravena adalah ,,5',,8 mgGkgBB perlahan'lahan dengan ke$epatan ('1 mgGmenit atau dalam waktu 5'8 menit, dengan dosis maksimal 1,mg.

6bat yang praktis yang dapat diberikan oleh orang tua di rumah adalah dia2epam rektal. @osis dia2epam rektal adalah ,,8' ,,/mgGkgBB atau dia2epam rektal 8mg untuk anak dengan berat badan kurang dari (,kg dan (,mg untuk berat badan lebih dari (,kg. &tau dia2epam rektal dengan dosis 8mg untuk anak dibawah usia 5 tahun atau /,8mg untuk anak diatas usia 5 tahun. Bila setelah pemberian dia2epam rektal kejang belum berhenti dapat diulangi lagi dengan $ara dan dosis yang sama dengan interval waktu 8 menit. Bila setelah pemberian di2epam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit karena di rumah sakit dapat diberikan dia2epam intravena dengan dosis ,,5',,8 mgGkgBB. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin se$ara intravena dengan dosis awal (, N 1,mgGkgBBGkali dengan ke$epatan ( mgGkgBBGmenit atau kurang dari 8, mgGmenit. Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4 N + mgGkgBBGhari, dimulai (1 jam setelah dosis awal.Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang rawat intensif. Bila kejang telah berhenti, pemberian resikonya. obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demamapakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor

1. Pemberian 6bat Pada Saat @emam a. &ntipiretik "idak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejangdemam, namun para ahli di 7ndonesia sepakat bahwa antipiretik tetap dapat diberikan. @osis parasetamol yang digunakan adalah (, N (8 mgGkgBBGkali diberikan 4 kali

sehari dan tidak lebihdari 8 kali. @osis ibuprofen 8 N (, mgGkgBBGkali, 5 N 4 kali sehari. Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat menyebabkan sindrom Reye terutama pada anak kurang dari (+ bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan. b. &ntikonvulsan Pemakaian dia2epam oral dosis ,,5 mgGkgBB setiap + jam pada saat demam menurunkan resiko berulangnya kejang pada 5, . ' :, . kasus, begitu pula dengan dia2epam rektal dosis ,,8mgGkgBB setiap + jam pada suhu O 5+,8 o !. @osis tersebut $ukup tinggi dan menyebabkanataksia, iritabel dan sedasi yang $ukup berat pada 18 . ' 5- . kasus.9enobarbital, karbama2epin dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk men$egah kejangdemam.

5. Pemberiaan 6bat Rumah a. 7ndikasi Pemberian 6bat Rumah Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam

menunjukkan $iri sebagai berikut* (%. 4ejang lama O (8 menit. 1%. &danya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya hemiparesis, paresis todd, $erebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus. 5%. 4ejang fokal.

4%. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila * 4ejang berulang dua kali atau lebih dalam 14 jam. 4ejang demam terjadi pada bayi kurang dari (1 bulan. 4ejang demam O 4 kali per tahun. Sebagian besar peneliti setuju bahwa kejang demam O (8 menit merupakan indikasi pengobatanrumat.4elainan neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan bukan merupakanindikasi pengobatan rumat.4ejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukkan bahwa anak mempunyai fokus organik. b. Eenis &ntikonvulsan untuk Pengobatan Rumah Pemberian obat fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan resiko berulangnya kejang.Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan obat dapatmenyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat hanya diberikan terhadap kasus selektif dandalam jangka pendek.Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 4, . ' 8, . kasus. 6bat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian ke$il kasus,terutama yang berumur kurang dari 1 tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsihati. @osis asam valproat (8 N 4, mgGkgBBGhari dalam 1 N 5 dosis, dan fenobarbital 5 N 4mgGkgBBGhari dalam ( N 1 dosis.

4.

dukasi Pada 6rang "ua 4ejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian besar orang tua beranggapan bahwa

anaknya telah meninggal. 4e$emasan ini harus dikurangidengan $ara yang diantaranya* o Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik. o Memberitahukan $ara penanganan kejang. o Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali. o Pemberian obat untuk men$egah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya efek samping obat. o 8. Beberapa >al Dang >arus @ikerjakan Bila 4embali "erjadi 4ejang o "etap tenang dan tidak panik. o 4endorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher. o Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan ataulendir di mulut atau hidung. Falaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan memasukkan sesuatuke dalam mulut. o Kkur suhu, observasi dan $atat lama dan bentuk kejang. o "etap bersama pasien selama kejang. o Berikan dia2epam rektal dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti.

o Bawa ke dokter atau ke rumah sakit bila kejang berlangsung 8 menit atau lebih. BAB III PENUTUP A% Kesimp/*an 4ejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh #suhu rektaldiatas 5+ o !% yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. 4ejang demam ini terjadi pada anak yang berumur : bulan ' 8 tahun. 9aktor resiko kejang demam pertama yang penting adalah demam. &da riwayat kejang demamkeluarga yang kuat pada saudara kandung dan orang tua, menunjukkan ke$enderungan genetik.Selain itu terdapat faktor perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus dan kadar natrium rendah. 4ejang demam sederhana #simple febrile sei2ure% berlangsung singkat, kurang dari (8 menit dan umumnya akan berhenti sendiri. 4ejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpagerakan fokal. 4ejang tidak berulang dalam waktu 14 jam. 4ejang demam sederhana merupakan+, . diantara seluruh kejang demam. 4ejang demam kompleks #$omple3 febrile sei2ure% adalah kejang dengan salah satu $iri berikut *a. 4ejang lama lebih dari (8 menit. b. 4ejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.$. Berulang atau lebih dari ( kali dalam 14 jam.8. Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan se$ara rutin pada kejang demam, tetapi dapatdikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam. Pemeriksaan laboratoriumyang dapat dikerjakan misalnya darah perifer, elektrolit dan gula darah.:. Pemeriksaan $airan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkankemungkinan meningitis.

B% Saran

Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat memanfaakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang penanganan kejang demam pada anak dan dewasa yang berguna bagi profesinya dan dirinya sendiri. Bagi masyarakat diharapkan dapat memanfaakan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang penanganan kejang demam pada anak dan dewasa yang berguna bagi kesahatan .

DAFTAR PUSTAKA

(. >aslam Robert >. &. Sistem Saraf, dalam 7lmu 4esehatan &nak =elson, ?ol. 5, disi (8.Penerbit Buku 4edokteran )!, Eakarta. 1,,,0 MM?77 * 1,8- N 1,:,. 1. >endarto S. 4. 4ejang @emam. Subbagian Saraf &nak, Bagian 7lmu 4esehatan &nak,9akultas 4edokteran Kniversitas 7ndonesia, RS!M, Eakarta. !ermin @unia 4edokteran =o. 1/.(-+1 * : N +. 5. Mansjoer &rif, Suprohaita, Fardhani Fahyu 7ka, et al. =eurologi &nak, dalam 4apita Selekta4edokteran, disi 4etiga Eilid 4edua. Media &es$ulapius 94 Kniversitas 7ndonesia, Eakarta.1,,, * 4+, 454 N 45/. 4. Pusponegoro >ardiono @, Fidodo @wi Putro, 7smael Sofyan. 4onsensus Penatalaksanaan4ejang @emam. Knit 4erja 4oordinasi =eurologi 7katan @okter &nak 7ndonesia, Eakarta. 1,,: *( N (4.

5%

Saharso @arto. 4ejang @emam, dalam Pedoman @iagnosis dan "erapi Bag.GSM9 7lmu4esehatan &nak RSK dr. Soetomo, Surabaya. 1,,: * 1/( N 1/5.:. Staf Pengajar 7lmu 4esehatan &nak 94K7. 7lmu 4esehatan &nak. Bagian 7lmu 4esehatan&nak 94K7 Eakarta. (-+8 * 18, +4/ N +88.

@iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar 1. Mar 4

Tekanan In&rakrania* BAB I

PENDA$ULUAN

A% LATAR BELAKANG
Peninggian tekanan intrakranial #"74G7!P, 7ntra$ranial Pressure% merupakan ben$ana sejak masa awal bedah saraf, dan tetap merupakan penyebab kematian paling sering pada penderita bedah saraf. 7ni terjadi pada penderita $edera kepala, stroke hemorrhagi$ dan trombotik, serta lesi desak ruang seperti tumor otak. Massa intra$ranial bersama pembengkakkan otak meninggikan "74 dan mendistorsikan otak. !ara untuk mengurangi "74 dengan $airan hipertonik yang mendehidrasi otak, menjadi bagian penting pada tindakan bedah saraf. Beberapa proses patologi yang mengenai otak dapat menimbulkan peninggian tekanan intrakranial. Sebaliknya hipertensi intrakranial mempunyai konsekuensi yang buruk terhadap out$ome pasien. Eadi peninggian "74 tidak hanya menunjukkan adanya masalah, namun sering bertanggung'jawab terhadapnya Falau hubungan antara pembengkakan otak dengan hipertensi. intrakranial dan tanda'tanda neurologi yang umum terjadi pada herniasi tentorial, hingga saat ini sedikit informasi direk tentang kejadian, derajat dan tanda klinik yang jelas dari peninggian "74. Sebabnya adalah bahwa tekanan jarang yang langsung diukur intrakranial. Kntuk itu, pengukuran dilakukan pada rongga subarakhnoid lumbar dan hanya kadang' kadang di$atat serta pada waktu yang singkat pula. Pungsi lumbar tidak hanya mema$u herniasi tentorial atau tonsilar, namun juga tekanan yang terba$a lebih rendah dari yang sebenarnya. Sejak ;undberg memperkenalkan pemantauan yang sinambung terhadap "74 dalam praktek bedah saraf tahun (-:,, telah banyak peningkatan pengetahuan atas "74 dan pengelolaannya. Pada saat yang sama timbul kontroversi atas pemantauan "74. Sebagian menganggap teknik ini merupakan bagian dari perawatan intensif dan berperan dalam pengelolaan setiap pasien koma. ;ainnya mengatakan bahwa tidak

ada hubungan bahwa pemantauan "74 mempengaruhi out$ome dan hanya menambah risiko karena tindakan yang invasif tersebut. Pemantauan sinambung sebenarnya sudah dikenalkan oleh )uillaume dan Eanny (-8(. Sejak awal (-/, lebih mendapat perhatian seiring dengan majunya tehnologi yang bersangkutan. =amun tidak dapat dipungkiri bahwa pemantauan "74 merupakan satu'satunya $ara untuk memastikan dan menyingkirkan hipertensi intrakranial. Bila hipertensi terjadi, pemantauan "74 merupakan satu'satunya $ara yang dapat diper$aya untuk menilai tentang kerja pengobatan dan memberikan kesempatan dini untuk mengubah pilihan terapi bila tampak kegagalan. Bila tak terdapat peninggian "74, pengobatan yang potensial berbahaya dapat dihindari. Bila pasien dalam keadaan paralisa atau tidur dalam, pengamatan neurologis konvensional tidak ada gunanya dan pemantauan "74 dapat memberikan nilai tekanan perfusi serebral dan indeks dari fungsi serebral.

B% TU;UAN
a. "ujuan Kmum

'

mahasiswa mampu memahami dan mengerti asuhan keperawatan pada pasien yang menderita tekenen intra kranial

b. "ujuan 4husus

'

Menjelaskan pengertian dari tekenen intra kranial

' ' ' ' ' '

Menyebutkan dan menjelaskan etiologi dari tekenen intra kranial Menyebutkan manifestasi klinis dari tekenen intra kranial Menjelaskan patofisiologi dari tekenen intra kranial Menyebutkan dan menjelaskan penatalaksanaan dari tekenen intra kranial Menyebutkan komplikasi dari tekenen intra kranial Membuat dan melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien penderita tekenen intra kranial

$.

Metode penulisan (. Bab 7 terdiri dari latarbelakang yang menjelaskan tentang enekanan intrakarnial 1. Bab 9isiolog 77 terdiri dari Pengertian, "anda @an )ejala Spesifik

Peningkatanantekananintrakranial, tiologi,Pathofisiol'6gi Manifestasi 4linik, 4omplikasi, Pengkajian, @iagnosa 4eperawatan

&natomi @an @iagnostik,

Pemeriksaan

BAB II
TIN;AUAN PUSTAKA

A% PENGERTIAN
"ekanan intrakranial adalah tekanan yang diakibatkan $airan $erebrospinal dalam ventrikel otak. Se$ara umum istilah Penekanan tekanan intrakarnial adalah fenomena dinamik yang berfluktuasi sebagai respon dari berbagai faktor penyebab. @alam keadaan normal Penekanan tekanan intrakarnial harus kurang dari (, mm>g, bila diukur dengan alat pengukur yang dipasang setinggi foramen Monro dalam posisi bwebaring. Beberapa pakar menganggap nilai normal antara, L (, mm>g. Meninggikan letak kepala atau berdiri akan menurunkan Penekanan tekanan intrakarnial, sedangkan batuk, bersin, atau mengeden #manuver ?aisava% akan meningkatkan Penekanan tekanan intrakarnial. 7stilah Penekanan tekanan intrakarnial jangan dianggap sebagai peninggian menyeluruh di dalam kranial. 4arena tekanan sebenarnya berbeda'beda didalam otak. Sebagai $ontoh, tekanan pada jaringan otak yang berdekatan dengan suatu tumor mungkin dapat meningkat, tetapi tekanan di dalam ventrikel beluym tentu. Penekanan tekanan intrakarnial juga tidak selalu dapat disamakan dengan adanya meninggian tekanan dispinal saat melakukan punksi lumbal. Berarti dikenal adanya istilah Penekanan tekanan intrakarnial Regional #Penekanan tekanan intrakarnial pada suatu daerah tertentu diotak%. A% TANDA DAN GE;ALA SPESIFIK PENINGKATANAN TEKANAN INTRA KRANIAL "anda dan gejala spesifik Penekanan tekanan intrakarnial adalah sebagai berikut * (. &wal

' ' ' ' ' ' ' 1. ;anjut ' ' ' ' ' ' '

Penurunan derajat kesadaran #mis * delirium, gelisah, letargi% @isfungsi pupil 4elemahan motorik #mono atau hemiparesis% @efisit sensorik Paresis nervus kranial 4adang'kadang disertai nyeri kepala 4adang'kadang disertai bangkitan G kejang

;ebih memburuknya derajat kesadaran #mis * stupor, soporokomatus, koma% Mungkin disertai muntah =yeri kepala >emiplegia, dekortiasi, atau deserebasi Pemburukan tanda vital Pola pernafasan ireguler )angguanreflek batang otak #mis * gangguan reflrks kornea, refleks muntah%

Perwujudan klinis gejala dan tanda klinik Penekanan tekanan intrakarnial tergantung dari * (. ;okasi kompartemen mana terdapatnya kelainan

1. ;okasi spesifik dari massa # hemisfer $erebral, batang otak atau $erebelum, 5. @erajat kemampuan kompensasi bagian otak yersebut. 4arena pentingnya mengenali gejala'gejala tersebut diatas, maka perlu sekali mengetahui $ara pemeriksaan neurologik. Kntuk memudahkan akan diuraikan se$ara singkat temuan L temuan diatas. (. Pemburukan derajat kesadaran Pemburukan derajat kesadarn tak selalu memperburuknya umum bagian otak, tetapi merupakan peringkat sensitif dan dapat diper$aya untuk mengenali adanya kemungkinan memburukkan kondisi neurologik. Penurunan derajat kesadaran dikarenakan * a. Sebagian besar otak terbenrtuk dari sel L sel tubuh yang sangat khusus, tetapi sensitif terhadap perubahan 4adar oksigen. Respon otak terhadap tidak men$ukupinya kebutuhan oksigen terlihat sebagai somnolen dan gangguan daya nalar #kognisi% b. 9luktuasi tekanan intrakarnial akibat perubahan fisikpembuluh darah terminal. 6leh karena itu gejala awal dari penurunan derajat kesadaran adalah somnolen, delirium dan letargi. Penderita menjadi disorientasi, mula L mula terhadap waktu, lalu tempat, dan akhirnya dalam hal memgenali seseorang, @engan semakin meningginya "74, derajat kesadaran semakin rendah , dimana rangsang nyeri mulai memberi reaksi adePuat, hingga akhirnya komplikasi. 1. @isfungsi pupil &kibat peninggian tekanan intrakarnial supratentorial atau oedema otak, perubahan ukuran pupil terjadi. "idak saja ukuran pupil yang berubah, tetapi dapat juga bentuk dan reaksi terhadap $ahaya. Pada tahap awal ukuran pupil menjadi berdiameter 5,8 mm atau disebut sebagaui ukuran tengah. ;alu makin melebar #dilatasi% se$ara bertahap.

Bewntuknya dapat berubah menjadi =melonjong dan reaksi tyerhadap $ahaya menjadi lamban. Perlambatan reaksi $ahaya dan tau perubahan melonjong, merupakan gejala awal dari penekanan pada syaraf okulomotor. 4arena sumber Penekanan tekanan intrakarnial $enderung berdampak sesuai kompartemen pada tahap awal, disfungsi pupil masih ipsilateral #pada sisi yang yang sam,a terhadap penyebabnya%. Pada tahap lanjut Penekanan tekanan intrakarnial, pupil ipsilateral berdilatasi bilateral dan non reaktif terhadap $ahaya. Pupil menjadi berdilatasi bilateral dan non reaktif pada fase terminal, karena Ptik menyebabkan proses herniasi.

5. &bnormalitas visual @evisit visual dapat terjadi sejak gejala masih awal. )angguan tersebut dapat berupa * ketajaman visus, kabur dan diplopia. Menurutnya ketajaman penglihatan dan penglihatan kabur adalah keluhan yang sering terjadi, karena diperkirakan akibat penekanan syaraf L syaraf nervus optikus #=. ((% melintasi hemisfer $erebri. @iplopia berkaitan dengan kelumpuhan dari satu atau lerbih syaraf L syaraf penggerak bola mata ekstra' okuler #=. 777, 7?, ?7% Sehingga pasien melihat dobel pada posisi tertentu. )ejala L gejala visual semakin menonjol seiring semakin m,eningkatnya "74.Pemburukan fungsi motori. Pada tahap awal, monoparesis stau hemiparesis terjadi akibat penekanan traktus piramidalis kontra lateral pada massa. Pada tahapQ selanjutnya hemiplegia, dekortikasi dan deserebrasi dapat terjadi unilateral atau bilateral. Pada tahap akhir #terminal menjelang mati% penderita menjadi flasid bilateral.Se$ara klinis sering terjadi kera$unan dengan respon primitif perkembangan manusia, yaitu reflek fleksi yang disebut trifleksi #triple fleksion%. "rifleklsi terjadi akibat aktivasi motoneuron difus dengan hasil berupa aktivasi otot L otot fleksosr menjauhi rangsang nyeri #otot L otot fleksor dipergelangan lutut, kaki, dan panggul me' ngkontraksikankeempatanggota badan kearah badan%. "rirefleks ini merupakan bentuk primitif refleks spinal.

4. =yeri kepala

Pada tahap paling awal Penekanan tekanan intrakarnial, beberapa penderita mengeluh nyeri kepala ringan atau samar L samar. Se$ara umum, nyeri kepala sebenarnya tidak terlalu sering terjkadi seperti diperkirakan banyak orang. Bnyeri kepala terjadi akibat pereganggan struktur intrakranial yang peka nyeri #duramater, pembuluh darah besar basis kranji, sinus nervus dan bridging veins,. =yeri terjadiakibat penekanan langsung akibat pelebaran pebuluh darah saat kompensasi. =yeri kepala 7 pada kelainan ini sering dilaporkan sebagi nyeri yang bertambah hebat saat bangkit dari tidur di pagi hari. >ari ini dikarenakan se$ara normal terjadi peningkatan aktivitas metabolisme yang paling tinggi saat pagi harii, ,dimana pada saat tidur menjelang bangun pagi fase R M mengaktifkan metabolisme dan produksi !61. @engan peningkatan kadar !61 terjadilah vasodilatasi.

8. Muntah Muntah akibat Penekanan tekanan intrakarnial tidak selalu sering dijumpai pada orang dewasa. Muntah disebabkan adanya kelainan di infratentorial atau akibat penekanan langsung pada pusat muntah. 4ita belum mengerti se$ara lengkap bagaimana mekanisme refleks muntah terjadi. Muntah dapat didahului oleh mual G dispepsia atau tidak. Seandainya didahului oleh perasaan mual G dispepesia, berarti terjadi aktivasi saraf L saraf ke otot Bantu pernafasan akibat kontraksi mendadak otot Lotot abdomen dan thorak.

:. Perubahan tekanan darah dan denyut nadi Pada tahap awal tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil pada tahap selanjutnya karena penekanan ke batang otak terjadi perubahan tekanan darah. Penekanan ke batang otak menyebabkan susasana iskemik di pusat vasomotorik di batang otak. Seiring dengan meningkatnya "74, refleks rtespon !husing teraktivasi agar tetap menjaga tekanan didalam pembuluh darah serebral tetap lebih tinggi daripada "74. @engan meningginya tekanan darah, $urah jantunmgpun bertambah dengan meningkatnya kegiatan pompa jantung yang ter$ermin dengan semakin memburuknya kondisi penderita akan terjadi

penurunan tekanan darah. Pada tahap awal denyut nadi masih relatif stabil dengan semakin meningkatnya "74, denyut nadi akan semakin menurun kearah :, kali permenit sebagai usaha kompensasi. Menurunnya denyut nadi dan I isi I denyut terjadi sebagai upayta jatung untuk memompa akan ireguler, $epat, I halus I dan akhirnya menghilang.

/. Perubahan pola pernafasan Perubahan pola pernafasan merupakan pen$erminan sampai tingkat mana "74. Bila terjadi P"74 akut sering terjadi oedema pulmoner akut tanpadistress syndrome #&R@S% atau dissminated intravaskular $oangulopathy #@7!%

+. Perubahn suhu badan Peningkatansuhu badan biasanya berhubungan dengan disfungsi hipothalamus. Pada fase kompensasi, suhu badan mungkin masih dalam batas normal. Pada fase dekompensasi akan terjadi peningkatan suhu badan sangat $epat dan sangat tinggi. Menaioknya suhu badan dapat juga terjadiakibat infeksi sekunder, tetapi jarang yang men$apai sangat tinggi sebagaiman halnya akibat gangguan fungsi hipothalamus. >ilangnya reflek L reflek batang otak. Pada tahap lanjut P"74 terjadi penekanan kebatang otak yang berakibat hilangnya atau disfungsi reflek L reflek batang otak. Refleks L refleks ini diantaranya * refleks kornea, oukosefalik, dan aukulovestibuler. Prognosis penderita akan menjadi buruk bila terjadi refleks L refleks tersebut.

-. Papiludema "ergantung keadaan yang ada, pail oedema dapat terjadi akibat P"74, atau memang sudah ada sejak awal. Papiloedema akibat P"74 tak akan tyerjadi seandainya belum menjadi ingkat yang sangat tinggi. "etapi perlu diingat bahwa tak adanya papiloedema

tak beraarti tak ada P"74. Pada beberapa orang dapat ada jika P"74 terjadi se$ara bertahap.

a.

9leksi, ekstensi atau rotasi leher akan meningkatkan "74 karena obstruksi venous outflow.

b. Penumpukan se$ret atau kerusakan kulit mungkin terjadi bila posisi pasien tidak di rubah setiap 1 jam. $. =yeri atau kegelisahan akan meningkatkan "74.

d. >erniasi batang otak di akibatkan dari peningkatan "74 yang berlebihan, bila tekanan bertambah di dalam ruang $ranial dan penekanan jaringan otak ke arah batang otak. "ingginya tekanan pada batang otak menyebabkan penghentian aliran darah ke otak dan menyebabkan penghentian aliran darah ke otak dan menyebabkan anoksia otak yang dapat pulih dan mati'otak. e. @iabetes insipidus #@7% merupakan hasil dari penurunan sekresi hormone anti'diuretik. Krine pasien berlebihan. "erapi yang diberikan terdiri dari volume $airan, elektrolit pengganti dan terapi vasopressin #desmopresin, @@&?P%. f. Sindrom 4etidaktepatan >ormon &nti'@iuretik #S7&@>% adalah akibat dari peningkatan sekresi hormon anti'diuretik. Pasien mengalami volume berlebihan dan menurunnya jumlah urine yang keluar. Pengobatan S7&@> berupa pembatasan $airan dan pemberian fenitoin untuk menurunkan pengeluaran &@> atau dengan litium untuk meningkatkan pengeluaran air.

B% ETIOLOGI

Pnekanan intrakarnial se$ara umum dapat disebabkan oleh 4 faktor, yaitu * a. Peninggian $erebral blood volume.

>al ini dapat disebabkan karena peninggian $entral venous pressure dan vasodilatasi serebral.

b.

dema serebri.

>al ini dapat disebabkan karena penurunan tekanan sistemik yang akan menimbulkan penurunan $erebral perfusion pressure, selanjutnya akan menurunkan $erebral blood flow sehingga menimbulkan hipoksia jaringan otak. Eika hal ini berlanjut akan terjadi kerusakan otak kemudian kerusakan blood brain barrier sehingga edema serebri. $. 6bstruksi aliran !SS # $airan serebro spinal %.

>al ini dapat disebabkan karena efek massa, infeksi, perdarahan trauma, dan lain'lain. d. fek massa.

>al ini dapat menimbulkan desakan dan peregangan mikrovaskuler akibatnya terjadi pergeseran jaringan otak dan kerusakan jaringan.

Penyebab yang lainnya adalah * a. neurisma pe$ah dan pendarahan subara$hnoid

b. "umor otak

$.

Pendarahan otak hipertensi

d. Pendarahan e. !edera kepala parah

C% PAT$OFISIOLOGI
Ruang intra$ranial ditempati oleh jaringan otak, darah, dan $airan serebrospinal. Setiap bagian menempati suatu volume tertentu yang menghasilkan suatu tekanan intra$ranial normal sebesar 8, sampai 1,, mm>16 atau 4 sampai (8 mm>g. @alam keadaan normal, tekanan intra$ranial dipengaruhi oleh aktivitas sehari'hari dan dapat meningkat sementara waktu sampai tingkat yang jauh lebih tinggi dari pada normal. Beberapa aktivitas tersebut adalah pernapasan abdominal dalam, batuk, dan mengedan atau valsalva maneuver. 4enaikan sementara "74 tidak menimbulkan kesukaran, tetapi kenaikan tekanan yang menetap mengakibatkan rusaknya kehidupan jaringan otak. Ruang intra$ranial adalah suatu ruangan kaku yang terisi penuh sesuai kapasitasnya dengan unsure yang tidak dapat ditekan* otak #(4,, g%, $airan serebrospinal #sekitar /8 ml%, dan darah #sekitar /8 ml%. Peningkatan volume pada salah satu dari ketiga unsur utama ini mengakibatkan desakan ruang yang ditempati oleh unsure lainnya dan menaikan tekanan intra$ranial. >ipotesis Monro'4ellie memberikan suatu $ontoh konsep pemahaman peningkatan "74. "eori ini menyatakan bahwa tulang tengkorak tidak dapat meluas sehingga bila salah satu dari ketiga ruangannya meluas, dua ruang lainnya harus mengkompensasi dengan mengurangi volumenya #apabila "74 masih konstan%. Mekanisme kompensasi intra$ranial ini terbatas, tetapi terhentinya fungsi neural ini dapat menjadi parah bila mekanisme ini gagal. 4ompensasi terdiri dari meningkatnya aliran !S9 ke dalam kanalis spinalis dan adaptasi otak terhadap peningkatan tekanan tanpa meningkatkan "74. Mekanisme kompensasi yang berpotensi mengakibatkan kematian adalah penurunan aliran darah ke otak dan pergeseran otak kearah bawah atau hori2ontal

#herniasi% bila "74 makin meningkat. @ua mekanisme terakhir dapat berakibat langsung pada fungsi syaraf. &pabila peningkatan "74 berat dan menetap, mekanisme kompensasi tidak efektif dan peningkatan tekanan dapat menyebabkan kematian neuronal. "umor otak, $edera otak, edema otak, dan obstruksi aliran darah !S9 berperan dalam peningkatan "74. dema otak #mungkin penyebab tersering peningkatan "74% disebabkan oleh banyak hal #termasuk peningkatan $airan intrasel, hipoksia, iskemia otak, meningitis, dan $edera%. Pada dasarnya efeknya sama tanpa melihat fa$tor penyebabnya. "74 pada umumnya meningkat se$ara bertahap. Setelah $edera kepala, edema terjadi dalam 5: hingga 4+ jam hingga men$apai maksimum. Peningkatan "74 hingga 55 mm>g #48, mm>16% menurunkan se$ara bermakna aliran darah ke otak #$erebral blood flow, !B9%. 7skemia yang terjadi merangsang pusat vasomotor, dan tekanan darah sistemik meningkat. Rangsangan pada pusat inhibisi jantung mengakibatkan bradikardia dan pernapasan menjadi lebih lambat. Mekanisme kompensasi ini dikenal sebagai reflek $ushing, membantu mempertahankan aliran darah otak. #akan tetapi, menurunnya pernapasan

mengakibatkan retensi !61 dan mengakibatkan vasodilatasi otak yang membantu menaikan tekanan intra$ranial%. "ekanan darah sistemik akan terus meningkat sebanding dengan peningkatan "74, walaupun akhirnya di$apai suatu titik ketika "74 melebihi tekanan arteria dan sirkulasi otak berhenti yang mengakibatkan kematian otak. Pada umumnya, kejadian ini didahului oleh tekanan darah arteria yang $epat menurun. Siklus defi$it neurologik progresif yang menyertai kontusio dan edema otak #atau setiap lesi massa intra$ranial yang membesar%. Seperti pada gambar dibawah peningkatan tekanan pada jaringan dan akhirnya meningkatkan "74, yang pada gilirannya akan menurunkan !B9, iskemia, hipoksia, asidosis #penurunan p> dan peningkatan Pa!61%, dan kerusakan BBB lebih lanjut. Siklus ini akan terus berlanjut sehingga terjadi kematian sel dan bertambahnya edema se$ara progresif ke$uali bila dilakukan intervensi.

D% ANATOMI DAN FISIOLOGI

4ranium merupakan kerangka kaku yang berisi tiga komponen* otak, $airan serebrospinal #!SS% dan darah yang masing'masing tidak dapat diperas. 4ranium hanya mempunyai sebuah lubang keluar utama yaitu foramen magnum. 7a juga memiliki tentorium yang kaku yang memisahkan hemisfer serebral dari serebelum. 6tak tengah terletak pada hiatus dari tentorium. SIRKULASI CAIRAN SEREBROSPINA a. Produksi !SS diproduksi terutama oleh pleksus khoroid ventrikel lateral, tiga dan empat, dimana ventrikel lateral merupakan bagian terpenting. /, . !SS diproduksi disini dan 5, . sisanya berasal dari struktur ekstrakhoroidal seperti ependima dan parenkhima otak. Pleksus khoroid dibentuk oleh invaginasi piamatervaskuler #tela khoroidea% yang membawa lapisan epitel pembungkus dari lapis ependima ventrikel. Pleksus khoroid mempunyai permukaan yang berupa lipatan'lipatan halus hingga kedua ventrikel lateral memiliki permukaan 4, sm1. Mereka terdiri dari jaringan ikat pada pusatnya yang mengandung beberapa jaringan kapiler yang luas dengan lapisan epitel permukaan sel kuboid atau kolumner pendek. Produksi !SS merupakan proses yang kompleks. Beberapa komponen plasma darah melewati dinding kapiler dan epitel khoroid dengan susah payah, lainnya masuk !SS se$ara difusi dan lainnya melalui bantuan aktifitas metabolik pada sel epitel khoroid. "ransport aktif ion ion tertentu #terutama ion sodium% melalui sel epitel, diikuti gerakan pasif air untuk mempertahankan keseimbangan osmotik antara !SS dan plasma darah. b. Sirkulasi ?entrikuler Setelah dibentuk oleh pleksus khoroid, $airan bersirkulasi pada sistem ventrikuler, dari ventrikel lateral melalui foramen Monro #foramen interventrikuler% keventrikel tiga, akuaduktus dan ventrikel keempat. @ari sini keluar melalui foramina diatap ventrikel keempat kesisterna magna.

$.

Sirkulasi Subarakhnoid Sebagian $airan menuju rongga subarakhnoid spinal, namun kebanyakan melalui pintu tentorial #pada sisterna ambien% sekeliling otak tengah untuk men$apai rongga subarakhnoid diatas konveksitas hemisfer serebral.

d. &bsorpsi !airan selanjutnya diabsorpsi kesistem vena melalui villi arakhnoid. ?illa arakhnoid adalah evaginasi penting rongga subarakhnoid kesinus venosus dural dan vena epidural0 mereka berbentuk tubuli mikro, jadi tidak ada membran yang terletaka antara !SS dan darah vena pada villi. ?illi merupakan katup yang sensitif tekanan hingga aliran padanya adalah satu arah. Bila tekanan !SS melebihi tekanan vena, katup terbuka, sedang bila lebih rendah dari tekanan vena maka katup akan menutup sehingga men$egah berbaliknya darah dari sinus kerongga subarakhnoid. Se$ara keseluruhan, kebanyakan !SS dibentuk di ventrikel lateral dan ventrikel keempat dan kebanyakan diabsorpsi di sinus sagittal. @alam keadaan normal, terdapat keseimbangan antara pembentukan dan absorpsi !SS. @erajat absorpsi adalah tergantung tekanan dan bertambah bila tekanan !SS meningkat. Sebagai tambahan, tahanan terhadap aliran tampaknya berkurang pada tekanan !SS yang lebih tinggi dibanding tekanan normal. 7ni membantu untuk mengkompensasi peninggian "74 dengan meningkatkan aliran dan absorpsi !SS. >ampir dapat dipastikan bahwa jalur absorptif adalah bagian dari villi arakhnoid, seperti juga lapisan ependima ventrikel dan selaput saraf spinal0 dan kepentingan relatifnya mungkin bervariasi tergantung pada "74 dan patensi dari jalur !SS se$ara keseluruhan. Sebagai tambahan atas jalur utama aliran !SS, terdapat aliran !SS melalui otak, mirip dengan $ara $airan limfe. !ara ini kompleks dan mungkin berperan dalam pergerakan dan pembuangan $airan edem serebral pada keadaan patologis.

e.

4omposisi !SS !SS merupakan $airan jernih tak berwarna dengan tampilan seperti air. 6tak dan $ord spinal terapung pada medium ini dan karena efek mengambang, otak yang beratnya (4,, g akan mempunyai berat netto 8,'(,, g. 4arenanya otak dilindungi terhadap gon$angan oleh !SS dan mampu meredam kekuatan yang terjadi pada gerak kepala normal. 6tak mempunyai kapasitas gerakan terbatas terhadap gerakan tengkorak karena terpaku pada pembuluh darah dan saraf otak. Pada dewasa terdapat (,,'(8, ml !SS pada aksis kraniospinal, sekitar 18 ml pada ventrikel dan /8 ml pada rongga subarakhnoid. Pen$itraan Resonansi Magnetik telah digunakan untuk mengukur isi !SS intrakranial. 7si !SS kranial total meningkat bertahap sesuai usia pada tiap jenis kelamin. "ingkat rata'rata pembentukan !SS sekitar ,.58 mlGmenit, atau 1, mlGjam atau sekitar 8,, mlGhari. !SS terdiri dari air, sejumlah ke$il protein, 61 dan !61 dalam bentuk larutan, ion sodium, potasium dan klorida, glukosa dan sedikit limfosit. !SS adalah isotonik terhadap plasma darah dan sesungguhnya mungkin dianggap sebagai ultrafiltrat darah yang hampir bebas sel dan bebas protein. 4onsentrasi protein berbeda se$ara bertingkat sepanjang neuraksis. Pada ventrikel nilai rata'rata protein adalah ,.18:, dan pada sisterna magna ,.5(:. @alam keadaan normal, "74 ditentukan oleh dua faktor. Pertama, hubungan antara tingkat pembentukan !SS dan tahanan aliran antara vena serebral. 4edua, tekanan sinus venosus dural, yang dalam kenyataannya merupakan tekanan untuk membuka system aliran. 4arenanya tekanan !SS R #tingkat pembentukan M tahanan aliran% S tekanan sinus venosus "ingkat pembentukan !SS hampir konstan pada daerah yang luas dari "74 namun mungkin jatuh pada tingkat "74 yang sangat tinggi. @ilain fihak, absorpsi tergantung pada perbedaan tekanan antara !SS dan sinus venosus besar, karenanya makin tinggi tingkat absorpsi bila "74 makin melebihi tekanan vena.

f.

?olume @arah Serebral Bagian yang paling labil pada peninggian "74 dan yang mempunyai hubungan yang besar dengan klinis adalah peningkatan volume darah serebral #?@SG!B?, !erebral Blood ?olume%. 7ni mungkin akibat dilatasi arterial yang berhubungan dengan peningkatan aliran darah serebral, atau karena obstruksi aliran vena dari rongga kranial sehubungan dengan pengurangan aliran darah serebral #&@SG!B9,!erebral Blood 9low%. ?olume darah serebral normal sekitar (,, ml. Pada per$obaan binatang dengan menggunakan sel darah merah yang dilabel dengan fosfor'51, khromium'8( dan albumin yang dilabel dengan iodin'(5( didapatkan volume darah serebral sekitar 1 . dari seluruh isi intra$ranial. Pengukuran langsung ?@S, &@S regional dan ekstraksi oksigen kini dapat diukur pada manusia dengan menggunakan tomografi emisi positron #P " s$anning%. Sekitar /, . volume darah intrakranial terdapat pada pembuluh kapasitans, yaitu bagian vena dari sistem vaskular. Pada berbagai volume intrakranial, hanya volume darah yang dapat berubah $epat sebagai respons terhadap perubahan "74 atau perubahan pada volume in' trakranial lainnya. 7ni adalah hubungan langsung antara vena serebral, sinus venosus dural dan vena besar dleher. Eadi tak ada yang menghalangi transmisi peninggian tekanan vena dari dada dan leher ke isi intrakranial. 9enomena ini mempunyai kegunaan terapeutik yang penting. Perubahan ?@S bergantung pada mekanisme yang kompleks yang bertanggung' jawab untuk mengatur sirkulasi serebral.

g. @ioksida 4arbon, &@S dan ?@S Pembuluh yang fisiologis paling aktif adalah arteriola serebral. 7a sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan metabolik. &rtinya &@S regional bereaksi atas kebutuhan metabolik jaringan. Cat vasodilator yang paling kuat adalah !610 &@S berubah 1'4 . untuk tiap mm>g perubahan tekanan arterial dioksida karbon, Pa!61. &@S akan mengganda pada

peninggian Pa!61 4,'+, mm>g dan akan tinggal setengahnya bila Pa!61 turun ke 1, mm>g. @ibawah 1, mm>g, perubahan Pa!61 hanya sedikit berpengaruh pada &@S karena aliran sangat lambat dimana terjadi hipoksia jaringan. 4arenanya vasokonstriksi hipokapnik mungkin tidak menyebabkan hipoksia hingga derajat yang menyebabkan kerusakan struktur otak. >ubungan ini pada manusia telah dipastikan menggunakan sidik P " dengan mengukur reaksi ?@S atas perubahan Pa!61. h. 6ksigen, &@S dan ?@S Penurunan tekanan arterial oksigen #Pa61% berakibat peninggian &@S. &da ambang rangsang untuk fenomena ini dan hanya bila Pa61 dibawah 8, mm>g yang jelas menaikkan.

E% MANIFESTASI KLINIK
Prinsip penangganan yang harus dilakukan adalah prinsip super akut yang dilakukan oleh multidisipilin terutama kerjasama yang baik antara perawat dan tenaga medis #dokter%. @iagnosa keperawatan yang dapat ditagakkan pada kasus seperti ini adalah gangguan perfusi $erebral berhubungan dengan adanya oedema, pembengkakkan atau hemoragik intra$erebral. @an lalu dikembangkan penatalaksanaan dalan upaya L upaya untuk mengatasi masalah tersebut.

"ujuan penatalaksanan dari "74 tersebut adalah * (. @eteksi dini dari tanda L tanda peningkatan "74 akut. 1. Mengurangi mun$ulnya oedema 5. Men$egah formasi oedema $erebral selanjutnya

F% KOMPLIKASI
Berdasarkan data pengkajian, komplikasi potensial meliputi* (. >erniasi batang otak diakibatkan dari peningkatan tekanan intra$ranial yang berlebihan, bila tekanan bertambah di dalam ruang $ranial dan penekanan jaringan otak kearah batang otak. "ingginya tekanan pada batang otak menyebabkan penghentian aliran darah ke otak dan menyebabkan anoksia otak yang tidak dapat pulih dan mati otak. 1. @iabetes insipidus merupakan hasil dari penurunan sekresi hormone antidiuretik. Krine pasien berlebihan. "erapi yang diberikan terdiri dari volume $airan, elektrolit pengganti dan terapi vasopressin. 5. Sindrom ketidaktepatan hormone antidiuretik #S7&@>%, adalah akibat dari peningkatan sekresi hormone antidiuretik. Pasien mengalami volume berlebihan dan menurunnya jumlah urin yang keluar. Pengobatan S7&@> berupa pembatasan $airan dan pemberian feniotoin untuk menurunkan pengeluaran &@> atau dengan litium untuk meningkatkan pengeluaran air. 4. 9leksi, ekstensi atau rotasi leher akan meningkatkan "74 karena obstruksi venous outflow.

G% PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. S$an otak. Meningkatt isotop pada tumor.

b. &ngiografi serebral. @eviasi pembuluh darah. $. M'ray tengkorak. rosi posterior atau adanya kalsifikasi intra$ranial.

d. M'ray dada. @eteksi tumor paru primer atau penyakit metastase. e. !" s$an atau MR7. 7dentfikasi vaskuler tumor, perubahan ukuran ventrikel serebral.

f.

koensefalogram. Peningkatan pada struktur midline.

$% PENGKA;IAN
a. Pemeriksaan )!S. )!S adalah pengkajian neurologi yang paling umum dan terdapat tiga komponen pemeriksaan yaitu membuka mata, respon verbal dan respon motorik. =ilai tertinggi (8 dan nilai terendah 5. pemeriksaan )!S tidak dapat dilakukan jika klien diintubasi sehingga tidak bisa berbi$ara, mata bengkakTtertutup, tidak bisa berkomunikasi, buta, afasia, kehilangan pendengaran, dan mengalami paraplegiGparalysis. Pemeriksaan )!S pertama kali menjadi nilai dasar yang akan dibandingkan dengan nilai hasil pemeriksaan selanjutnya untuk melihat indikasi keparahan. Penurunan nilai 1 poin dengan )!S - atau kurang menunjukkan injuri yang serius #Bla$kT>awks, 1,,8%. b. "ingkat kesadaran pasien dikaji sebagai dasar dalam mengidentifikasi $riteria Skala 4oma )lasgow. Pasien dengan peningkatan "74 memperlihatkan perubahan lain yang dapat mengarah pada peningkatan "74 berat. >al ini termasuk perubahan yang tidak terlihat, perubahan tanda vital, sakit kepala, perubahan pupil, dan muntah. $. Perubahan samar. )elisah, sakit kepala, pernapasan $epat, gerakan tidak tertuju dan mental berkabut dapat merupakan indikasi klinis dini dari peningkatan "74. 7ndi$ator pertama "74 adalah perubahan tingkat kesadaran. d. Perubahan tanda vital.

Perubahan tanda vital mungkin tanda akhir dari peningkatan "74. Pada peningkatan "74, frekuensi nadi dan pernapasan menurun dan tekanan darah serta suhu meningkat. "anda'tanda spesifik yang diobservasi termasuk adanya tekanan tinggi pada arteri, bradikardia dan respirasi tidak teratur serta adanya tanda lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pernapasan tidak teratur yangdikaji termasuk pernapasan $heyne stokes #frekuensi dan kedalaman pernapasan bergantian dengan periode singkat apnea% dan pernapasan ataksia #pernapasan tidak teratur dengan urutan kedalaman yang a$ak dan pernapasan dangkal%. "anda vital pasien berkompensasi selama sirkulasi otak dipertahankan. Bila, sebagai akibat dari kompresi , sirkulasi utama mulai gagal, nadi dan pernapasan mulai $epat dan suhu biasanya meningkat tetapi tidak diikuti pola yang konsisten. "ekanan nadi #perbedaan antara tekanan sistolik dan diastoli$% melebar, keadaan ini berkembang serius. Perubahan $epat pada respons klinik sebelumnya selalu berada pada periode di mana fluktuasi nadi menjadi $epat, dengan ke$epatan yang bervariasi dari lambat sampai $epat. 7ntervensi pembedahan adalah penting untuk men$egah kematian. "anda vital tidak selalu berubah, pada keadaan peningkatan "74. Pasien dikaji terhadap perubahan dalam tingkat responsivitas dan adanya syok, manifestasi ini membantu dalam evaluasi. e. Sakit kepala. Sakit kepala konstan, yang meningkat intensitasnya, dan diperberat oleh gerakan atau mengejan. f. Perubahan pupil dan o$ular Peningkatan tekanan atau menyebarnya bekuan darah pada otak dapat mendesak otak pada saraf okulomotorius dan optikal, yang menimbulkan perubahan pupil. g. Muntah.

Muntah berulang dapat terjadi pada peningkatan tekanan pada pusat refleks muntah di medulla. Pengkajian klinis tidak selalu diandalkan dalam menentukan peningkatan "74, terutama pasien koma. Pada situasi tertentu, pemantauan "74 adalah bagian esensial dari penatalaksanaan.

I% DIAGNOSA KEPERAWATAN
@iagnosa keperawatan yang mungkin mun$ul pada klien dengan peningkatan "74 antara lain #Bla$kT>awks, 1,,8% a. )angguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial. 7ntervensi keperawatan yang dapat dilakukan berupa * (. Posisikan klien terlentang dengan posisi kepala lebih tinggi 5, derajat jika tidak ada kontraindikasi 1. Eaga posisi kepala tetap netral untuk memfasilitasi venous return dari otak lan$ar. 5. >indari rotasi dan fleksi pada leher karena dapat menghambat venous return dan meningkatkan "74. 4. >indari fleksi berlebihan pada pinggang karena dapat meningkatkan tekanan intra'abdomen dan intratoraks yang dapat meningkatkan "74. 8. >indari valsava maneuver, minta klien ekshalasi ketika berputar atau pindah posisi. :. Beri obat'obatan untuk menurunkan edema serebral

sesuai instruksi, seperti osmotik diuretik dan obat untuk menurunkan risiko kejang seperti antikonvulsan. 4onsul dengan tim medis uG membantu evakuasi bowel tanpa pengikatan karena dapat meningkatkan "74. b. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran, gangguan saraf pusat pernafasan 7ntervensi keperawatan yang dapat dilakukan berupa * (. ;akukan suctioning untuk men$egah penumpukan sekret dan !61 yang dapat meningkatkan "74. 1. Beri oksigen yang $ukup sebelum, antara dan sesudah melakukan suctioning. 5. >indari suction nasal jika terdapat drainase nasal, karena drainase nasal mengindikasikan robekan di dural, sehingga berisiko terjadinya meningitis. 4. &uskultasi daerah paru 8. Monitor hasil &)@ dan pulse oksimetri :. "inggikan posisi kepala klien dengan posisi netral. /. 4olaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi medis. $. Risti gangguan keseimbangan $airan berhubungan dengan restriksi $airan untuk menurunkan edema serebral. Pada masa lampau, pembatasan $airan dilakukan untuk mengurangi edema serebral. =amun data terbaru

menunjukkan pembatasan $airan

menurunkan volume darah

dan

menurunkan sirkulasi serebral. Penurunan volume darah menyebabkan darah mengental dan menurunkan mobilisasi nutrisi dan toksin masukGkeluar dari sirkulasi. Pembatasan $airan hanya $o$ok untuk klien dengan S7&@>. 4lien sebaiknya dipertahankan pada keadaan euvolemik daripada membatasi $airan #Bla$kT>awks, 1,,8%. 7ntervensi keperawatan yang dapat dilakukan berupa * (. Monitor turgor kulit, membrane mukosa, serum dan osmolalitas urin. 1. Monitor tanda'tanda vital 5. Monitor ketat intake dan output $airan 4. 6bservasi tanda !>9 dan edema paru jika memberi manitol

BAB III
P =K"KP

A% KESIMPULAN
"ekanan intrakranial adalah tekanan yang diakibatkan $airan $erebrospinal dalam ventrikel otak. Se$ara umum istilah Penekanan tekanan intrakarnial adalah fenomena dinamik yang berfluktuasi sebagai respon dari berbagai faktor penyebab. @alam keadaan normal Penekanan tekanan intrakarnial harus kurang dari (, mm>g, bila diukur dengan alat pengukur yang dipasang setinggi foramen Monro dalam posisi bwebaring. Beberapa pakar menganggap nilai normal antara, L (, mm>g. Memiliki gejala'gejala awal seperti Penurunan derajat kesadaran, 4elemahan motorik, 4adang' kadang disertai nyeri kepala. Eika tidak ditanganni maka akan berakibat gejala seperti =yeri kepala, Mungkin disertai muntah >emiplegia, dekortiasi, atau deserebasi Pemburukan tanda vital Pola pernafasan ireguler.

B% SARAN
(. Sebagai seorang perawat dan $alon perawat hendaknya kita perlu memiliki pengetahuan yang lebih mengenai penekanan intrakarnial. 1. Sebagai masyarakat, kita perlu mengetahui gejala awal penekanan intrakarnial dan gejala lanjutan

DAFTAR PUSTAKA
;ewis, >eitkemper, @irksen #1,,,%. Medi$al Surgi$al =ursing &ssessment and management of $lini$al problems. St ;ouis, Mosby !omp Monahan @ 9, =eighbors M #(--+%. Medi$al Surgi$al =ursing, foundations for $lini$al pra$ti$e.#8th ed%. Philadelphia ,F.B Saunders $ompany Fhite ;ois, @un$an )ena #1,,1%. Medi$al Surgi$al =ursing an 7ntegrated &pproa$h #1nd ed%.KS& ;yke, Mer$hant velyn, (--1, &ssesing for =ursing @iagnosis 0 & >uman =eeds

&pproa$h,E.B. ;ippin$ott !ompany, ;ondon. Phipps, Filma. et al, (--(, Medi$al Surgi$al =ursing * !on$epts and !lini$al Pra$ti$e, 4th edition, Mosby Dear Book, "oronto @oengoes, Marilynn, dkk, 1,,,, Ren$ana &suhan 4eperawatan 0 Pedoman untuk Peren$anaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 5, alih bahasa * 7 Made 4ariasa dan =i Made S, )!, Eakarta Smelt2er, Bare, 1,,1, Buku &jar 4eperawatan Medikal Bedah Bruner T Suddart ?ol 5 G+, )!, Eakarta

@iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar 5. Mar 4

Pemeriksaan La')ra&)ri/m

BAB I PENDA$ULUAN A% La&ar Be*akang Prosedur dan pemeriksaan khusus dalam dunia kesehatan merupakan bagian dari tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dilaksanakan se$ara tim, dimana perawat melakukan fungsi kolaboratif dalam memberikan tindakan. Salah satu penyakit yang memerlukan pemeriksaan khusus yakni penyakit saraf. Pemeriksaan khusus pada penyakit saraf meliputi pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan mental dan pemeriksaan laboratorium.dari beberapa pemeriksaan yang dilaksanakan, pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu pemeriksaan yang memiliki peran sangat penting, dimana pemeriksaan laboratorium berfungsi dalam membantu untuk menegakkan diagnosis, memantau perjalanan penyakit serta serta menentukan prognosis. @alam pemeriksaan ada beberapa faktor yang memegang peran penting dalam mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.

@alam melakukan pemeriksaan laboratorium, terdapat 5 tahap yang harus dilaksanakan se$ara teliti, guna men$egah kesalahan pada hasil laboratorium pasien. "ahap'tahap tersebut yakni* (. Pra'instrumentasi# sebelum dilakukan pemeriksaan%. Pada tahap ini sangat penting diperlukan kerja sama antara petugas kesehatan,pasien dan dokter seperti pemahaman instruksi, pengisian formulir, persiapan pasien, persiapan alat yang dipakai, $ara pengambilan sampel, penanganan awal sampel#pengawetan% dll. 4arena tanpa kerja sama yang baik dapat memepngaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. 1. 7nstrumentasi. Pada tahap ini petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan atau analisa sampel yang dimiliki oleh pasien. 5. Pas$a instrumentasi. Pada tahap ini dilakukan penulisan hasil pemeriksan dari sampel yang dianalisa @engan berkembangnya teknologi kedokteran yang sangat pesat banyak fasilitas dan alat'alat teknologi yang dapat memberikan bantuan yang sangat penting dalam mendiagnosis penyakit serta menilai perkembangan atau perjalanan penyakit selain pemeriksaan'pemeiksaan khusus yang disebutkan diatas. Saat ini kita dapat dengan mudah mendiagnosis perdarahan diotak atau keganasan di otak melalui pemeriksaan pen$itraan dan kita juga dapat dengan mudah menentukan polineuropati dan perkembangannya melalui pemeriksaan kelistrikan. 6leh karena itu sangatlah penting bagi kita khususnya petugas kesehtan untuk tetap dan harus memupuk kemampuan untuk melihat, mendengar dan meras serta mengobservasi keadaan pasien baik dengan pemeriksaan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan mental, pemeriksaan laboratorium ataupun dengan alat'alat teknologi yang telah maju seiring berkembangnya 2aman.

B% T/0/an Pen/*isan

"ujuan Kmum Kntuk memperoleh informasi tentang pemeriksaan'pemeriksaan yang harus dilakukan guna menegakkan diagnosa "ujuan 4husus Kntuk memahami pemeriksaan'pemeriksaan yang berfungsi sebagai penunjang kesehatan khususnya pemeriksaan laboratorium dalam kasus neurobehaviour

C% Man.aa& Pen/*isan Bagi Mahasiswa Mahasiswa dapat mengetahui mengenai pemeriksaan laboratorium pada pasien dalam kasus neurobehaviour Bagi Masyarakat Masyarakat dapat mengetahui tentang pentingnya melakukan

pemeriksaan laboratorium khususnya dalam kasus neurobehaviour

D% Sis&ema&ika Pen/*isan Pada bab ( dalam makalah ini dibahas tentang latar belakang, tujuan, manfaat serta sistematika penulisan dari makalah ini. Pada bab 1 dibahas definisi dari pemeriksaan laboratorium, fungsi pemeriksaan laboratorium, tahap'tahap pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan laboratorium khususnya dalam kasus neorobehaviour. Pada bab 5 berisi kesimpulan dari isi makalah dan saran bagi pemba$a.

BAB II

TIN;AUAN PUSTAKA

A% De.inisi pemeriksaan *a')ra&)ri/m Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sample dari penderita dimana dapat berupa urine, darah, sputum#dahak% dll. Pemeriksaan ini bertujuan mendukung dan menyingkirkan diagnosis lainnya. Pemeriksaan laboratorium juga sebagai ilmu terapan untuk menganalisa $airan tubuh dan jaringan guna membantu tenaga kesehatan mendiagnosis dan mengobati pasien. Pada umunya diagnosis penyakit dibuat berdasarkan gejala

penyakit#keluhan dan tanda dan gejala ini mengarahkan dokter pada kemungkinan penyebab penyakit. @engan adanya pemeriksaan laboratorium ini sangatlah membantu dokter untuk menetapkan penyakit apa yang dialami oleh seorang pasien. Salah satu $ontoh pemeriksaan laboratorium yakni dalam pemeriksaan demam tifoid, jika positif sangat mendukung diagnosis, tapi bila negatif tak menyingkirkan diagnosis petugas kesehatan. 6leh karena itu menurut henry dan howanit2, para dokter memilih mengevaluasi uji'uji laboratorium dalam perawatn pasien karena beberapa alasan seperti berikut ini* (. Kntuk menunjang diagnosis klinis 1. Kntuk menyingkirkan kemungkinan suatu diagnosis atau penyakit 5. Kntuk digunakan sebagai pedoman terapi 4. Kntuk digunakan sebagai panduan prognosis demam tifoid jika se$ara klinis dan pemeriksaan lain seperti pemeriksaan widal maka hal ini sangat membantu

B% F/ngsi pemeriksaan *a')ra&)ri/m @ari beberapa alasan diatas, dapat ditentukan fungsi dari pemeriksaan laboratorium yakni* (. Skrining atau uji saring adanya penyakit subklinis, dengan tujuan menentukan resiko terhadap suatu penyakit dan mendeteksi dini penyakit terutama bagi individu beresiko tinggi #walaupun tidak ada gejala atau keluhan%. 1. 4onfirmasi pasti diagnosis, yaitu untuk memastikan penyakit yang diderita seseorang, berkaitan dengan penanganan yang akan diberikan dokter serta berkaitan erat dengan komplikasi yang mungkin saja dapat terjadi. 5. klinis 4. 8. Membantu pemantauan pengobatan. Menyediakan informasi prognosis atau perjalanan penyakit, yaitu untuk memprediksi perjalanan penyakit dan berkaitan dengan terapi dan pengelolaan pasien selanjutnya. :. Memantau perkembangan penyakit, yaitu untuk memantau Menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala

perkembangan penyakit dan memantau efektivitas terapi yang

dilakukan agar dapat meminimalkan komplikasi yang dapat terjadi. Pemantauan ini sebaiknya dilakukan se$ara berkala. /. Mengetahui ada tidaknya kelainan atau penyakit yang banyak dijumpai dan potensial membahayakan. +. Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit.

C% Ta1ap,&a1ap pemeriksaan *a')ra&)ri/m @isetiap laboratori untuk mendapatkan hasil yang akurat harus menga$u kepada );P #)ood laboratory Pro$edure% yaitu melalui tahapan*

(. Pre Ana*i&ik. Pada tahap ini dapat dikatakan sebagai tahap persiapan awal, dimana tahap ini sangat menentukan kualitas sampel yang nantinya akan dihasilkan dan mempengaruhi proses kerja berikutnya. Dang termasuk dalam tahap Pra &nalitik meliputi 4ondisi pasien, $ara dan waktu pengambilan sampel, perlakuan terhadap proses persiapan sampel sampai sampel selesai dikerjakan. 1. Ana*i&ik. &dalah tahap pengerjaan pengujian sampel sehingga diperoleh hasil pemeriksaan. 5. Pas(a Ana*i&ik. &dalah tahap akhir pemeriksaan yang dikeluarkan untuk meyakinkan bahwa hasil pemeriksaan yang dikeluarkan benar L benar valid atau benar.

D% Pemeriksaan *a')ra&)ri/m k1/s/sn<a da*am kas/s ne/r)'e1a2i)/r #% Meningi&is

Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meninges, yaitu membrane atau selaput yang melapisi otak dan syaraf tunjang. Meningitis dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah kedalam $airan otak.

Penyebab Penyakit Meningitis Meningitis yang disebabkan oleh virus umumnya tidak berbahaya, akan pulih tanpa pengobatan dan perawatan yang spesifik. =amun Meningitis disebabkan oleh bakteri bisa mengakibatkan kondisi serius, misalnya kerusakan otak, hilangnya pendengaran, kurangnya kemampuan belajar, bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan Meningitis disebabkan oleh jamur sangat jarang, jenis ini umumnya diderita orang yang mengalami kerusakan immun #daya tahan tubuh% seperti pada penderita &7@S. Bakteri diantaranya * (. Strepto$o$$usm pneumoniae#pneumo$o$$us% yang dapat mengakibatkan serangan meningitis

Bakteri ini yang paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak'anak. Eenis bakteri ini juga yang bisa menyebabkan infeksi pneumonia, telinga dan rongga hidung #sinus%. 1. =eisseria meningitidis #meningo$o$$us%.

Bakteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah Strepto$o$$us pneumoniae, Meningitis terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah. 5. >aemophilus influen2ae dapat menyebabkan meningitis. Eenis virus #haemophilus%. ini sebagai

>aemophilus influen2ae type b #>ib% adalah jenis bakteri yang juga penyebabnya infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam

dan sinusitis. Pemberian vaksin #>ib va$$ine% telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini. 4. ;isteria mono$ytogenes #listeria%.

7ni merupakan salah satu jenis bakteri yang juga bisa menyebabkan meningitis. Bakteri ini dapat ditemukan dibanyak tempat, dalam debu dan dalam makanan yang terkontaminasi. Makanan ini biasanya yang berjenis keju, hot dog dan daging sandwi$h yang mana bakteri ini berasal dari hewan lokal #peliharaan%. 8. Bakteri lainnya yang juga dapat menyebabkan meningitis adalah Staphylo$o$$us aureus dan My$oba$terium tuber$ulosis.

"anda dan )ejala Penyakit Meningitis )ejala yang khas dan umum ditampakkan oleh penderita meningitis diatas umur 1 tahun adalah demam, sakit kepala dan kekakuan otot leher yang berlangsung berjam'jam atau dirasakan sampai 1 hari. "anda dan gejala lainnya adalah photophobia #takutGmenghindari sorotan $ahaya terang%, phonophobia #takutGterganggu dengan suara yang keras%, mual, muntah, sering tampak kebingungan, kesusahan untuk bangun dari tidur, bahkan tak sadarkan diri. Pada bayi gejala dan tanda penyakit meningitis mungkin sangatlah sulit diketahui, namun umumnya bayi akan tampak lemah dan pendiam #tidak aktif%, gemetaran, muntah dan enggan menyusui.

Pemeriksaan ;aboratorium )ambaran laboratorium dari infeksi meningo$o$$us adalah seperti umunya infeksi pyogeni$ berupa peningkatan jumlah leukosit sebesar (,.,,, sampai 5,.,,,Gmm5 dan eritrosit sedimentation. Pada

urine dapat ditemukan albuminuria, dan sel darah merah. Pada kebanyakan kasus, meningo$o$$us dapat dikultur dari nasofaring, dari darah ditemukan lebih dari 8,. dari kasus pada stadium awal, serta dari lesi kulit dan !S9. !S9 kultur menjadi steril pada -,'(,,. kasus yang diobati dengan antimikrobal terapi yang apropiate, meskipun tidak terdapat perubahan yang signifikan dari gambaran !S9. Pada pasien meningitis, pemeriksaan !S9 ditemukan pleositosis dan purulen. Falaupun pada fase awal dapat predominan lympho$yti$, dalam waktu yang singkat menjadi granulo$yti$. Eumlah sel bervariasi dari (,, sampai 4,.,,, selGul. "ekanan !S9 meningkat biasanya antara 1,, dan 8,, mm >16. protein sedikit meningkat dan kadar glukosa rendah biasanya dibawah 1, mdGdl. Pemeriksaan gram stain dari !S9 dan lesi pete$hial, menunjukkan diplo$o$$us gram negatif. @iagnosa pasti didapatkan dari kultur !S9, $airan sendi, tenggorokan dan sputum. 4ultur dapat positif pada -,. kasus yang tidak diobati. !ounter 7mmuno elektrophoresis #!7 % dapat mendeteksi sir$ulating meningo$o$$al antigen atau respon antibodi. Pada kasus dengan gambaran !S9 yang khas tapi gram stain negatif, dapat dilakukan pemeriksaan late3 aglutination test untuk antigen bakteri. Sensitivitas dari test ini sekitar 8,'(,,. dengan spesifisitas yang tinggi. Bagaimanapun test yang negatif belum menyingkirkan diagnosa meningitis yang disebabkan oleh meningo$o$$us. Polymerase $hain rea$tion dapat digunakanuntuk pemeriksaan @=& dari pasien dengan meningitis meningo$o$$us dengan sensitivitas dan spesifisitas.

!% Epi*epsi Epi*epsi #dari bahasa Dunani 4uno UVWXYZ[ yang memiliki arti pilepsia% adalah gangguan neurologis umum kronis yang ditandai dengan kejang berulang tanpa alasan. 7ni adalah tanda'tanda kejang sementara dan atau gejala dari aktivitas neuronal yang abnormal, berlebihan atau sinkron di otak. pilepsi lebih mungkin terjadi pada anak'anak muda, atau orang

di atas usia :8 tahun, namun dapat terjadi setiap saat. pilepsi biasanya dikontrol, tapi tidak sembuh, dengan pengobatan.

Pemeriksaan laboratorium >iponatremia, hipoglikemia, hipomagnesia, uremia dan hepatik ensefalopati dapat men$etuskan timbulnya serangan kejang. Pemeriksaan serum elektrolit bersama dengan glukose, kalsium, magnesium, I Blood Krea =itrogenJ , kreatinin dan test fungsi hepar mungkin dapat memberikan petunjuk yang sangat berguna. Pemeriksaan toksikologi serum dan urin juga sebaiknya dilakukan bila di$urigai adanya I drug abuseJ #&hmed, Spen$er 1,,4, 6guni 1,,4%.

3% Ense.a*i&is nsefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus. "erkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies #disebabkan oleh virus% atau sifilis #disebabkan oleh bakteri%. Penyakit parasit dan proto2oa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebi$ meningoen$ephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. 4erusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian.

Penyebab nsefalitis Berbagai ma$am mikroorganisme dapat menimbulkan nsefalitis, misalnya bakteria, proto2oa, $a$ing, jamur, spiro$haeta, dan virus. Bakteri streptokok, penyebab nsefalitis adalah Staphylo$o$$us aureus, n$ephalitis . !oli, M. "uber$ulosa dan ". Pallidum.

bakterial akut sering disebut en$ephalitis supuratif akut #Mansjoer, 1,,,%. Penyebab lain adalah kera$unan arsenik dan reaksi toksin dari thypoid fever, $ampak dan $hi$ken po3G$a$ar air. Penyebab en$ephalitis yang terpenting dan tersering ialah virus. 7nfeksi dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak, atau reaksi radang akut infeksi sistemik atau vaksinasi terdahulu.

"anda dan )ejala nsefalitis Meskipun penyebabnya berbeda'beda, gejala

klinis ensefalitis lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis. Se$ara umum, gejala berupa "rias ensefalitis yang terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun. #Mansjoer, 1,,,%. &dapun tanda dan gejala ensefalitis sebagai berikut * (. Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia 1. 4esadaran dengan $epat menurun 5. Muntah 4. 4ejang'kejang, yang dapat bersifat umum, fokal atau twit$hing saja #kejang'kejang di muka% 8. )ejala'gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri'sendiri atau bersama'sama, misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya #>assan, (--/% Pemeriksaan ;aboratorium Pemeriksaan laboratorium pada pasien epilepsi dapat dilakukan pemeriksaan dapat $airan serebrospinal. )ambaran $airan tidak begitu serebrospinal dipertimbangkan meskipun

membantu. Biasanya berwarna jernih ,jumlah sel 8,'1,, dengan dominasi limfasit. 4adar protein kadang'kadang meningkat, sedangkan glukosa masih dalam batas normal. Selain itu juga dapat dilakukan dengan $ara pemeriksaan darah lengkap.

BAB III PENUTUP A% Kesimp/*an Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur

pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sample dari penderita dimana dapat berupa urine, darah, sputum#dahak% dll. Dang mana, pemeriksaan laboratorium berfungsi untuk uji saring adanya penyakit subklinis, 4onfirmasi pasti diagnosis, Menemukan kemungkinan diagnostik

yang dapat menyamarkan gejala klinis, Membantu pemantauan pengobatan, Menyediakan informasi prognosis atau perjalanan penyakit, Memantau perkembangan penyakit, Mengetahui ada tidaknya kelainan serta Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit. @alam pemeriksaan laboratorium terdapat beberapa tahap yakni* Pra'analitik, &nalitik, dan Pas$a analitik. &dapun pemeriksaan laboratorium khususnya dalam kasus

neurobehaviour yakni* pada kasus meningitis pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah pemeriksaan !S9, pemeriksaan darah dan pemeriksaan serum elektrolit dan glukosa. dan pada kasus epilepsi dilakukam pemeriksaan laboratorium glukosa,pemeriksaan kadar elektrolit dan pemeriksaan kalsium dan magnesium. Sedangkan pada kasus ensefalitis pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah pemeriksaaan !S9 dan pemeriksaan darah lengkap. B% Saran Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat memanfaatkan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang pemeriksaan laboratorium yang berguna bagi profesi dan orang disekitar kita. Bagi masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan makalah ini untuk menambah pengetahuan tentang pemeriksaan'pemeriksaan khusus guna mengetahui penyakit yang diderita. 4hususnya, pemeriksaan laboratorium dalam kasus neurobehaviour.

@iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar 4. Mar 4

L/m'a* P/ngsi
BAB I Penda1/*/an A% La&ar 'e*akang ;umbar pun$ture adalah uapaya pengeluaran $airan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid. "est ini dilakukan untuk pemeriksaan $airan serebrospinali, mengukur dan mengurangi tekanan $airan serebrospinal, menentukan ada tidaknya darah pada $airan serebrospinal, untuk mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal, dan untuk memberikan antibioti$ intrathekal ke dalam kanalis spinal terutama kasus infeksi. #Brunner and Suddarth\s, (---, p (:5,%. Earum biasanya dimasukan kedalam ruang su barkhnoid diantara tulang belakang daerah lumbal ketiga dan keempat atau antara lumbal keempat dan kelima hingga men$apai ruang subara$hnoid dibawah medulla spoinalis di bagian $ausa. 4arena medula spinalis membagi lagi dalam sebuah berkas saraf pada tulang belakang bagian lumbal yang pertma maka jarum ditusukan di bawah tingkat ketiga tulang belakang daerah lumbal , untuk men$egah meduila spinalis tertusuk. Manometer dipasang diujung jarum via dua jalan dan $airan

serebrospinal memungkinkan mengalir ke manometer untuk mengetahui tekanan intraspinal. "est Aue$kenstedt\s #Kji manometrik lumbal% dilakukan pada kesempatan ini. "est Pue$kensted\s dilakukan untuk menentukan adanya obstruksi di jalur subarakhnoid spinal. >al ini mungkin akibat fraktur atau dislokasi verebra atau tumor. =ormalnya, aliran $epat dalam tekana intraspinal ketika vena jugularis ditekan pada masins'masing sisi leher selama pungsi lumbal dan ke$epata kembali normal ketika tekanan dilepaskan. Peningkatan tekanan disebabkan karena adanya tekanan. Bila terjadi obstruksi, mun$ulnya tekanan intraspinal dan turunnya kembali sangat lambat. Selanjutnya Eika menometer sempurna terpasang dan 1'5 ml $airan serebrospinal dialirkan kedalam tempat spe$imen steril. 4ita akan mengobservasi warna, konsistensi dan opa$itas $airan serebrospinal apakah ada darah atau tidak. Eika telah selesai jarum di$abut dan tempat penusukan ditutup dengan perban steril. =ormalnya tekanan !SS meninggi $epat dalam merespons terhadap penekanan vena jugularis dan menurun dengan $epat sampai normal bila penekanan dikurangi. Peninggian lambat dan turunnya tekanan merupakan indikasi adanya hambatan sebagian karena penekanan sebuah lesi pada jalur subarkhnoid spinal. Eika tidak ada perubahan tekanan merupakan indikasi adanya hambatan total. Kji ini tidak digunakan jika di$urigai ada lesi intrakranial. Pemeriksaan !airan Serebrospinal. !SS harus jernih dan tidak berwarna . Farna merah muda, adanya darah, atau ber$ampur darah merupakan indikasi sebuah kontusio serebral, laserasi atau perdarahan subarakhnoid.4adang'kadang karena kesulitan dalam pungsi lumbal, !SS dapat mengandung darah, karena ada trauma lokal tetapi akhirnya menjadi jernih.Kmumnya spesimen diperoleh untuk melihat jumlah sel, kultur, kandungan glukosa dan protein. Spesimen ini harus segera dikirim ke laboratorium karena perubahan tempat dapat mengubah hasil pemeriksaan spesimen yang benar. Pungsi lumbal yang berhasil membutuhkan pasien dalam keadaan rileks, ke$emasan pasien menimbulkan tegang dan peningkatan ke$emasan dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada saat hasil diba$a.Earak normal tekanan $airan spinal dengan posisi rekumben adalah /o samapai 1,, mm >16. "ekanan sampai 1,, mm >16 @ikatakan abnormal.Pungsi lumbal sangat berbahaya bila dilakukan pada masa lesi intrakranial, karena tekanan intra kranial diturunkan melalui pengeluaran !SS, maka herniasi otak menurun sampai tentorium dan foramen magnum.

le$troen$ephalogram #

)% adalah suatu test untuk mendeteksi kelainan lektro' nsefalografi # )%. ) nya

aktivitas elektrik otak #!ampellone, 1,,:%. &ktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala disebut &mplitudo dan frekuensi ) bervariasi, tergantung pada tempat perekaman dan

aktivitas otak saat perekaman. Saat subyek santai, mata tertutup, gambaran

menunjukkan aktivitas sedang dengan gelombang sinkron +'(4 siklusGdetik, disebut ge*)m'ang a*.a. )elombang alfa dapat direkam dengan baik pada area visual di daerah oksipital. )elombang alfa yang sinkron dan teratur akan hilang, kalau subyek membuka matanya yang tertutup. )elombang yang terjadi adalah ge*)m'ang 'e&a #O (4 siklusGdetik%. )elombang beta direkam dengan baik di regio frontal, merupakan tanda bahwa orang terjaga, waspada dan terjadi aktivitas mental. Meski gelombang ) berasal dari kortek, modulasinya dipengaruhi oleh formasio retikularis di subkortek. 9ormasio retikularis terletak di substansi abu otak dari daerah medulla sampai midbrain dan talamus. =euron formasio retikularis menunjukkan hubungan yang menyebar. Perangsangan formasio retikularis midbrain membangkitkan gelombang beta, individu seperti dalam keadaan bangun dan terjaga. ;esi pada formasio retikularis midbrain mengakibatkan orang dalam stadium koma, dengan gambaran ) gelombang delta. Eadi formasio retikularis midbrain merangsang &R&S #&s$ending Reti$ular &$tivating System%, suatu proyeksi serabut difus yang menuju bagian area di forebrain. =uklei reti$ular thalamus juga masuk dalam &R&S, yang juga mengirimkan serabut difus kesemua area di kortek serebri. &R&S mempunyai proyeksi non spesifik dengan depolarisasi global dikortek, sebagai kebalikan dari proyeksi sensasi spesifik dari thalamus yang mempunyai efek eksitasi kortek se$ara khusus untuk tempat tertentu. ksitasi &R&S umum memfasilitasi respon kortikal spesifik ke sinyal sensori spesifik dari thalamus. @alam keadaan normal, sewaktu perjalanan ke kortek, sinyal sensorik dari serabut sensori aferen menstimulasi &R&S melalui $abang'$abang kolateral akson. Eika sistem aferen terangsang seluruhnya #suara keras, mandi air dingin%, proyeksi &R&S memi$u aktivasi kortikal umum dan terjaga.

B% T/0/an pen/*isan &dapun tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagau berikut*

#% T/0/an /m/m Mampu melakukan prosedur'prosedur lumbal pungsi dan dengan benar !% T/0/an k1/s/s a. Mampu melakukan tindakan dalam melakukan ;umbal Pungsi dan b. ) )

Mampu melakukan persiapan'persiapan sebelum melakukan tindakan lumbal pungsi dan ) kepada pasien

$.

Mengetahui indikasi dan kotnraindikasi ;umbal pungsi dan )

3% Me&)de pen/*isan Makalah ini berjudul ;umbal Pungsi dan metode* (. Bab 7 terdiri dari latar belakang yang menjelaskan tentang ;umba pungsi dan ) "ujuan menjelaskan tentang sasaran utama yang akan di$apai Metode penulisan menjelaskan tentang dari penulisan makalah ini. ) yang disusun dengan

langkah'langkah yang kami gunakan dalam penulisan makalah. 1. Bab 77 menjelaskan tentang laporan pendahuluan ;umbal pungsi yang terdiri atas definisi, indikasi, kontraindikasi, komplikasi, persiapan alat, persiapan pasien, prosedur pelaksanaan, perawatan selama proses lubal pungsi.

5. Bab 777 menjelaskan tentang laporan pendahuluan definisi, tujuan, ) normal dan ). persiapan alat, pelaksanaan

) yang terdiri atas

) abnormal, persiapan pasien,

4. Bab 7? terdiri dari kesimpulan yang menjelaskan tentang keseluruhan dari pembahasan yang terdapat dalam Bab 77 dan Bab 777 Saran menjelaskan tentang bagaimana pendapat penulis kepada para mahasiswa'mahasiswa keperawatan.

BAB II Lap)ran Penda1/*/an L/m'a* P/ngsi A% DEFINISI ;umbal pun$ture adalah upaya pengeluaran $airan serebrospinal

denganmemasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid. "est ini dilakukan untuk pemeriksaan $airan serebrospinali, mengukur dan mengurangi tekanan $airan serebrospinal, menentukan ada tidaknya darah pada $airan serebrospinal, untuk mendeteksi adanya bloksubarakhnoid spinal, dan untuk memberikan antibioti$ intrathekal ke dalam kanalis spinalterutama kasus infeksi. #Brunner and Suddarth\s, (---, p (:5,%

B% INDIKASI (. Meningitis ba$terial G "B!. 1. Perdarahan subarahnoid. 5. 9ebris #4aku kuduk% dengan kesadaran menurun #sebab tak jelas%. 4. en$epahilitis atau tumor malignan. 8. "umor mielum * sebelum dan sesudah mielografi G $audiografi. :. Sindroma )uillainBarre #bila perlu diulang'ulang S satu minggu%. /. 4elumpuhan yang tidak jelas penyebabnya. +. Kntuk mengidentifikasi adanya darah dalam !SS akibat trauma ataudi$urigai adanya perdarahan subara$hnoid. -. 4ejang (,. Paresis atau paralisis termasuk paresis =ervus ?7

((. Kbun L ubun besar menonjol

C% KONTRA INDIKASI (. 1. 5. Syo$kGrenjatan 7nfeksi lo$al di sekitar daerah tempat pungsi lumbal Peningkatan tekanan intra$ranial #oleh tumor, spa$e o$$upying

lesion,hidrosefalus% 4. 8. )angguan pembekuan darah yang belum diobati Pasien yang mengalami penyakit sendi'sendi vertebra degeneratif. >al ini akan

sulituntuk penusukan jarum ke ruang interspinal :. Pasien dengan peningkatan tekanan intra $ranial. >erniasi serebral atau herniasi

serebralbisa terjadi pada pasien ini.

D% KOMPLIKASI (. 7nfeksi

1. 5. 4. 8. :. /. +. -. (,. ((.

7ritasi 2at kimia terhadap selaput otak Earum pungsi pata >ernias "ertusuknya saraf oleh jarum pungs =yeri kepala hebat akibat kebo$oran !SS. Meningitis akibat masuknya bakteri ke !SS. ParesthesiaG nyeri bokong atau tungkai. 7njury pada medulla spinalis. 7njury pada aorta atau vena $ava, menyebabkan perdarahan serius. >erniasi otak. Pada pasien denga peningkatan tekanan, tiba'tiba terjadi

penurunan (1. tekanan akibat lumbar pun$ture, bisa menyebabkan herniasi kompressi otak

terutama (5. (4. batang otak. '(, L 5,. pasien dalam ( L 5 hari dan paling lama 1 L / hari mengalami

postlumbar (8. pun$ture heada$he. Sebagian ke$il mengalami nyeri, tapi bisa dikurangi dengan

berbaringdatar. Penanganan meliputi bed rest dan $airan dengan analgetik ringan. E% ALAT DAN BA$AN (. 1. 5. Sarung tangan steril @uk luban 4assa steril, kapas dan plester

4. 8. :. /. +. -. (,. ((.

&ntisepti$* povidon iodine dan al$ohol /, "roleey Baju steril Earum punksi ukuran (-, 1,, 15 ). Manometer spinal "wo way tap &l$ohol dalam lauran antisepti$ untuk membersihkan kulit. "empat penampung $sf steril 3 5 #untuk bakteriologi, sitologi dan

biokimia% (1. (5. (4. (8. Plester @epper Eam yang ada penunjuk detiknya "empat sampah.

Anes&esi *)(a* (. 1. 5. Spuit dan jarum untuk memberikan obat anestesi lo$al 6bat anestesi loka #lidokian (. 1 3 ml%, tanpa epinefrin. #Reis ! , 1,,: "empat sampah.

F% PERSIAPAN PASIEN

Pasien diposisikan tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan lutut ditarik ke abdomen. !atatan * bila pasiennya obesitas, bisa mengambil posisi duduk di atas kursi, dengan kursi dibalikan dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya.

G% PROSEDUR PELAKSANAAN (. ;akukan $u$i tangan steril 1. Persiapkan dan kumpulkan alat'alat 5. Eamin priva$y pasien 4. Bantu pasien dalam posisi yang tepat, yaitu pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. ;eher fleksi maksimal #dahi ditarik kearah lutut%, eksterimitas bawah fleksi maksimum #lutut di atarik kearah dahi%, dan sumbu kraniospinal #kolumna vertebralis% sejajar dengan tempat tidur. 8. "entukan daerah pungsi lumbal diantara vertebra ;4 dan ;8 yaitu dengan menemukan garis potong sumbu kraniospinal #kolumna vertebralis% dan garis antara kedua spina iskhiadika anterior superior #S7&S% kiri dan kanan. Pungsi dapat pula dilakukan antara ;4 dan ;8 atau antara ;1 dan ;5 namuntidak boleh pada bayi :. ;akukan tindakan antisepsis pada kulit di sekitar daerah pungsi radius (, $m dengan larutan povidon iodine diikuti dengan larutan al$ohol /, . dan tutup dengan duk steril di mana daerah pungsi lumbal dibiarkan terbuka "entukan kembali daerah pungsi dengan menekan ibu jari tangan yang telah memakai sarung tangan steril selama (8'5, detik yang akan menandai titik pungsi tersebut selama ( menit. /. &nestesi lokal disuntikan ke tempat tempat penusukan dan tusukkan jarum spinal pada tempat yang telah di tentukan. Masukkan jarum perlahan L lahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal dengan mulut jarum terbuka ke atas sampai menembus durameter. Earak antara kulit dan ruang subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan gi2i. Kmumnya (,8 L 1,8 $m pada bayi dan meningkat menjadi 8 $m pada umur 5'8 tahun. Pada remaja jaraknya :'+ $m.

+. ;epaskan stylet perlahan L lahan dan $airan keluar. Kntuk mendapatkan aliran $airan yang lebih baik, jarum diputar hingga mulut jarum mengarah ke $ranial. &mbil $airan untuk pemeriksaan. -. !abut jarum dan tutup lubang tusukkan dengan plester (,. Rapihkan alat'alat dan membuang sampah sesuai prosedur rumah sakit ((. !u$i tangan

$% PERAWATAN Pasien berbaring datar dengan hanya hanya ( bantal untuk mengurangi post' duralpun$ture heada$he.&njurkan pasien tidur datar selama : L (1 jam setelah dilakukan prosedur.6bservasi tempat penusukan apakah ada kebo$oran. 6bservasi pasien mengenai orientasi, gelisah, perasaan mengantuk, mual, irritabilitasserebral #fitting, twit$hing, spasti$ity atau kelemahan tungkai% dan melaporkannyakepada dokter.&njurkan pasien melaporkan adanya nyeri kepala dan memberikan analgerik sesuaiprogram.Melaporkan ke dokter bila ada hal yang tidak bisa diatasi. intervensi keperawatan "anggung jawab perawat adalah membantu pasien mempertahankan posisi lateral rekumben dengan lutut fleksi. Menjamin prinsipG teknik aseptik se$ara ketat. Memberi label spe$imen !S9. Menjaga posisi pasien dengan posisi flat beberapa jam tergantung pada permintaan dokter. Memonitor status $airan, neurologis dan tanda'tanda vital. Memberikan obat analgetik sesuai kebutuhan. #;ewis,>eitkemper and @irksen, 1,,,. p (:,5%.

BAB III Lap)ran penda1/*/an EEG A% DEFINISI le$troen$ephalogram # )% adalah suatu test untuk mendeteksi kelainan aktivitas

elektrik otak #!ampellone, 1,,:%.

B% INDIKASI +;an Niss*9 !""6(. 1. otak 5. 4. 8. :. /. Mendiagnosa ;esi desak ruang lain Mendiagnosa !edera kepala Periode keadaan pingsan atau dementia. =ar$olepsy. Memonitor aktivitas otak saat seseorang sedang menerima Mendiagnosa dan mengklasifikasikan pilepsi Mendiagnosa dan lokalisasi tumor otak, 7nfeksi otak, perdarahan

anesthesia umumselama perawatan. +. Mengetahui kelainan metabolik dan elektrolit

C% EEG NORMAL Salah satu penemuan >ans Berger adalah bahwa kebanyakan ) orang

dewasa normal mempunyai irama dominant dengan frekuensi (, siklus per detik, yang di sebutnya sebagai irama alfa. Pada umumnya kini yang dimaksud dengan

iarama alfa adalah irama dengan frekuensi antara +'(5 spd, yang paling jelas terlihat di daerah parieto'oksipital, dengan voltase (,'(8, mikrovolt, berbentuk sinusoid, relative sinkron dan simetris antara kedua hemisfer. Suatu asimetri ringan dalam voltase adalah normal, mengingat adanya dominasi hemisfer. Pada umumnya suatu perbedaan voltase 1 * 5 adalah dalam batas'batas normal, asalkan voltase yang lebih tinggi terlihat pada hemisfer non dominant. Dang lebih penting maknanya adalah bila terdapat perbedaan frekwensi antara kedua hemisfer. Suatu perbedaan frekwensi yang konsisten dari ( spd atau lebih antara kedua hemisfer mungkin sekali diakibatkan suatu proses patologis di sisi dengan frekwensi yang lebih rendah. 7rama alfa terlihat pada rekaman individu dalam keadaan sadar dan istirahat serta mata tertutup. Pada keadaan mata terbuka irama alfa akan menghilang, irama yang terlihat adalah irama lamda yang paling jelas terlihat bila individu se$ara aktif memusatkan pandangannya pada suatu yang menarik perhatiannya. @itinjau dari irama alfanya dapat dibedakan tiga golongan manusia, sekelompok ke$il yang memperlihatkan sedikit sekali atau tidak mempunyai irama alfa, sekelompok ke$il lagi yang tetap memperlihatkan irama alfa walaupun kedua mata dibuka, dan diantara kedua ekstrem ini terletak sebagian besar manusia yang menunjukkan penghilangan irama alfa ketika membuka mata. Berturut'berturut ketiga kelompok ini disebut sebagai kelompok alfa M #minimal atau minus%, alfa P #persisten%, alfa R #responsive%. Suatu irama yang lebih $epat dari irama alfa ialah irama beta yang mempunyai frekuensi di atas (4 spd, dapat ditemukan pada hamper semua orang dewasa normal. Biasanya amplitudonya daopat men$apai 18 mikrovolt, tetapi pada keadaan tertentu bisa lebih tinggi. Pada keadaan normal terlihat terutama di daerah frontal atau presentral. 7rama yang lebih lambat dari irama alfa adalah tidak jarang pula ditemukan pada orang dewasa normal. 7rama teta mempunyai frekuensi antara 4'/ spd. Suatu irama yang lebih pelan dari teta disebut irama delta adalah selalu abnormal bila didapatkan pada rekaman bangun, tetapi merupakan komponen yang normal pada rekaman tidur. 9rekuensi irama delta ialah ] ' 5 spd. Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran ). Perhatian $enderung untuk menghapuskan irama alfa, merendahkan voltase se$ara umum dan memper$epat frekuensi. "ermasuk perhatian ini adalah usaha in&r)speksi dan ker0a men&a* +misa*n<a 'er1i&/ng- . @emikian pula setiap s&im/*/s visual, auditorik dan olfaktorik akan merendahkan amplitudo dan menimbulkan ketidak teraturan irama alfa. Penurunan kadar 61

dan atau !61 darah $enderung menimbulkan perlambatan, sebaliknya peninggian kadar !61 menimbulkan irama yang $epat. Fak&)r /sia juga mempunyai pengaruh penting pula dalam ). Rekaman dewasa sebagaimana digambarkan di atas pada umumnya di$apai pada usia 1,'4, tahun. Rekaman neonatus berusia di bawah satu bulan memperlihatkan amplitude yang rendah dengan irama delta atau teta. &ntara usia ('(1 bulan terlihat peninggian voltase, walaupun irama masih tetap delta atau teta. &ntara ('8 tahun terlihat amplitudo yang tinggi, irama teta yang meningkat dan mulai terlihat irama alfa, sedangkan irama delta mengurang. &ntara :'(, tahun amplitude menjadi sedang, irama alfa menjadi lebih banyak, teta berkurang, delta berkurang sampai hilang. &ntara (('1, tahun voltase terlihat sedang sampai tinggi, dominsi alfa mulai jelas, teta minimal, delta kadangkadang masih terlihat di daerah belakang. @i atas 4, tahun mulai lagi terlihat gelombang lambat 4'/ spd di daerah temporal dan di atas :, tahun rekaman kembali melambat seperti rekaman anak'anak. Per/'a1an &a1ap,&a1ap &id/r berpengaruh besar pula terhadap rekaman ). @alam keadaan mengantuk terlihat pengurangan voltase dan timbul sedikit perlambatan. Pada keadaan tidur sangat ringan dapat terlihat adanya gelombang'gelombang mirip paku bervoltase tinggi, bifasik denganfrekuensi 5'+ spd, simetris dan terjelas di daerah parietal #parietal humps%. )ambaran ini paling jelas pada usia 5'- tahun dan terus terlihat sampai usia 4, tahun. Pada keadaan tidur ringan terdapat #sleep spndle% terdapat gelombang tajam berfrekuensi (1'(4 spd yang sifatnya simetris. Pada keadaan tidur sedang sampai dalam rekaman didominir oleh gelombnag'gelombang lambat tak teratur dengan frekuensi ] ' 5 spd. D% EEG ABNORMAL

) abnormal disebut spesi.ik bila gelombang yang timbul mempunyai gambaran yang khas dan berkorelasi tinggi dengan kelainan klinik tertentu, disebut n)nspesi.ik +aspesi.ik- bila gelombangnya tidak khas dan dapat ditimbulkan oleh banyak kelainan'kelainan neurologik atau sistemik. bawah ini akan dijelaskan beberapa hasil pemeriksaan kelainan'kelainan neurologik, yaitu * ) yang pentingdari

#% EEG pada pen<aki& k)n2/*si. ) paling banyak digunakan untuk mendiagnosa dan mengklasifikasikan epilepsy. Paroksismal merupakan pemun$ulan yang episodi$ dan mendadak suatugelombang atau kelompok gelombang yang se$ara kwantitatif dan kwalitatifberbeda dengan gambaran irama dasarnya.

!% EEG pada &/m)r in&ra(rania* Pentingnya pemeriksaan ) pada tumor otak ditegaskan oleh Falter, yang

menyebutkan irama lambat berfrekuensi kurang dari 4 spd #irama delta%. 7rama delta ini umumnya terlihat fokal, karenanya dapat dipakai untuk menetukan lokalisasi tumor. Earingan otak sendiri tidak memberikan lepas muatan listrik, gelombang' gelombang lambat yang di$atat oleh ) berasal dari neuron'neuron disekitar tumor atau ditempat lain yang fungsinya terganggu se$ara langsung atau tidak langsung. "omor otak tidak memberikan gambaran yang spesifik, kiranya rekaman serial adalah lebih bernilai dari pada rekaman tunggal. "omor infra tentorial memberikan gambaran ) yang berbeda dengan tomor supra tentorial. )ambaran karakteristik tumor infra tentorial adalah berupa perlambatan sinusoidal yang ritmik berfrekuensi 1'5 spd atau 4'/ spd, dapat bersifat terus menerus ataupun paroksismal.Berbeda dengan tomor infra tentorial, tumor supra tentorial pada umumnya memberikan gambaran yang bersifat fokal teta maupun delta, sehingga penentuan lokalisasi lebih dimungkinkan. 4adang'kadang dapat pula ditemui gambar spike atau gelombang tajam yang fokal.Suatu ketentuan yang banyak dianut tentang tumor otak mengatakan bahwasuatu ) yang normal menyingkirkan sebesar -/. tumor kortikal dan sebesar-,. tumor otak pada umumnya. 3% EEG pada *esi desak r/ang *ain Se$ara ), abses otak memberikan gambaran yang sama dengan tumor * -,'-8.

memperlihatkan aktivitas teta atau delta yang menyeluruh dengan fo$us frekuensi terendah diatas daerah abses.

4% EEG pada r/dapaksa kepa*a ) berkorelasi dengan hebat dan luasnya rudapaksa kepala. !ommotio $erebri diikuti pembentukan aktivitas delta bervoltase rendah yang menyeluruh. 5% EEG pada in.eksi )&ak Meningitis akut memberikan abnormalitas perlambatan yang difus berupa irama delta, baik pada bentuk purulent maupun serosa. Biasanya kelainan ) berkaitan erat dengan tingkat kesadaran individu. Katu perlambatan fokal yang timbul pada rekaman ulangan individu dengan meningitis mungkin sekali menandakan pembentukan abses. 6% EEG pada ke*ainan me&a')*i( dan e*ek&r)*i& >ipoglikemia #^8, mg.% akan selalu memberikan kelainan ) berupa perlambatan, )

umunya normal. Memar otak akut meperlihatkan penurunan voltase yang diffuse,

yang mulanya bersifat frontal kemudian juga temporal. @engan makin merendahnya glukosa darah makin banyak dan makin tinggi voltase aktivitas delta yang terlihat. Setelah koma diabetikum, perlambata menyeluruh dapat terlihat 1'5 minggu.

E% PELAKSANAN PEMERIKSAAN #% Persiapan A*a& Sebelum digunakan alat pada jun$tion bo3. 4ertas pasien yang berambut panjang !% Persiapan Pasien Sebelum di lakukan ) pasien dianjurkan untuk keramas terlebih dahulu # untuk ) dipanaskan terlebih dahulu. lektrode dikelompokkan

menjadi tiga bagian yaitu bagian kiri, tengah dan kanan sesuai dengan yang tertera ) sudah terpasang dengan sempurna. lefik paste, skin pure, sisir, metlyn, spidol, dipersiapkan di meja, dan kalau perlu karet gelang untuk

pasien rawat jalan % dan tidak diperbolehkan memakai minyak rambut. Kntuk pasien rawat inap tidak diharuskan keramas # kalau kondisi pasien tidak memungkinkan%

Pasien tidak diperbolehkan memakai minyak rambut, supaya ele$trode melekat dengan sempurna. Pasien G keluarganya membayar biaya sesuai dengan tarif yang telah ditentukan, ke$uali pasien &stek G &skes. Pasien bayi G anak'anak G pasien dewasa yang gelisah kolaborasi dengan dokter untuk pemberian premedikasi. Sebelum pemberian premedikasi keluarga pasien diberi pengertian terlebih dahulu kemudian diminta untuk menandatangani inform $on$ent yang telah disediakan. Pasien bayi G anak'anak ditimbang dahulu untuk menentukan dosis obat premedikasi.

3% Pe*aksanaan Pasien G keluarganya diberi penjelasan terlebih dahulu tentang tindakan yang akan dikerjakan. Perawat $u$i tangan. 4epala diukur dengan menggunakann metlyn, posisi pasien duduk dikursi # kalau kondisi pasien tidak memungkinkan, diukur dengan posisi tidur terlentang pada tengkuk diberi bantalan supaya tidak ada penekanan % dengan menggunakan system "en L "wenty. >asil pengukuran diberi tanda dengan spidol merah supaya jelas. Selesai pengukuran kepala yang sudah bertanda spidol merah dibersihkan dengan kapas al$ohol, kemudian digosok perlahan dengan skin pure, elefik paste ditempelkan sesuai hasil pengukuran tadi, sampai selesai. Pasien dianjurkan untuk tidur terlentang, tengkuk diberi bantalan kemudian ele$trode # 11 elektrode %di tempelkan di atas elefik . Sebelum mulai merekam pasien dianjurkan untuk tetap rileks dan diberi penjelasan apa yang harus dilakukan pada saat ) diawali dengan kalibrasi sesuai dengan perekaman. Rekaman G pemeriksaan

kebutuhan. Perekaman dimulai dari pattern ( # satu % sampai : # enam % dengan waktu kurang lebih (8 sampai 1, menit # :, lembar kertas %. Pattern ( # pertama % pasien dianjurkan untuk menutup dan membuka mata # ke$uali pasien yang tidak sadar atau pasien yang dengan premedikasi % sampai (, lembar kertas atau lebih kurang 5 menit. Pattern ke 1 # kedua % pasien dianjurkan untuk menutup mata dan menjawab pertanyaan yang diberikan dan tidak diperbolehkan menggeleng atau menganggukkkan kepala, waktu sama dengan pattern pertama. Pattern ke 5 # ketiga % pasien dianjurkan untuk membuka mata kemudian dilakukan PS # photi$ stimulation % sampai selesai kemudian pasien diminta untuk menutup mata lagi, pasien dianjurkan

untuk nafas panjang atau >? # hiper ventilasi % waktu sama dengan pattern sebelumnya. Setelah nafas panjang selesai pasien nafas biasa dan diperbolehkan tidur sampai perekaman selesai. Pattern keempat sampai empat lembar kertas, kertas dibalik dan dilanjutkan sampai sepuluh lembar kertas dengan waktu yang sama tanpa aktivitas, begitu juga dengan pattern kelima dan keenam. Pada pasien yang memakai obat premedikasi mulai dari pattern pertama sampai keenam tidak dilakukan aktivitas. Setelah pattern keenam kembali ke pattern ketiga dan pasien dibangunkan untuk dilakukan Photik .Pada akhir perekaman dilakukan kalibrasi lagi. &pabila di tengah L tengah perekaman grafik menge$il atau terlalu tinggi maka kalibrasi bisa dirubah sesuai dengan kebutuhan.Segala sesuatu yang terjadi pada saat perekaman di$atat pada kertas perekaman. Setelah proses perekaman selesai, ele$trode dilepas dimasukkan dalam air yang sudah disediakan pada suatu tempat dan kulit kepala dibersihkan dengan kapas basah. Pada kertas perekaman diisikan identitas pasien, tanggal, dan nomor register. >asil perekaman diberikan pada pasien G keluarganya untuk kembali ke dokternya, ke$uali pasien konsulan hasil perekaman diserahkan ke dokter spesialis saraf terlebih dahulu untuk pemba$aan sebelum kembali pada dokter yang bersangkutan. lektrode dan alat L alat yang lain dibersihkan, dirapikan, perawat men$u$i tangan.

Ba' I Pen/&/p A% KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan diatas maka kami menarik kesimpulan bahwa * ;umbal pungsi merupakan pengeluaran $airan serebrospinal #!SS% dengan $ara

memasukan jarum keruang subara$hnoid. Pengambilan $airan serebrospinal sendiri dilakukan untuk mendiagnosa berbagai indikasi penyakit yang biasanya menyerang bagian otak. Saat melakukan lumbal pungsi persiapan pasien harus diperhatikan se$ara mendetail, persiapan alat dan bahan serta tenaga medis juga harus se$ara mendetail, dikarenakan keintensifan pelaksanaa lumbal pungsi. ;umbal pungsi sendiri tidak dianjurkan dilaksanakan pada balita. Selanjutnya, le$troen$ephalogram # tujuan ) salah satunya untuk mendiagnosa dan mengklarifikasi epilepsy. )% ) merupakan suatu tes untuk mendeteksi kelainan aktifitas elktrik otak. &da beberapa abnormal terjadi pada kelainan neurologi$ seperti intra$ranial. Pelaksanaan pada system kardiovaskular. Proses perekaman penyakit konvulsif, tumor

) sendiri sama halnya dengan brain mapping, dan 4) ) pada pasien dilakukan di kulit

kepala dengan menempelkan elektroda'elektroda pada kulit kepala, dalam hal ini kulit kepala diwajibkan dalam keadaan bersih dan tidak menggunakan minyak rambut. B% SARAN &dapun saran'saran yang dapat kami sampaikan * (. Sebagai seorang perawat dan $alon perawat hendaknya kita perlu memiliki pengetahuan yang lebih mengenai $ara'$ara plaksanaan ;umbal pungsi dan berbagai 7ndikasinya. 1. Sebagai masyarakat, kita perlu mengetahui indikasi, kontra indikasi dan komplikasi dari tindakan melakukan kelainan otak dapat ter$apai. ) dan ;umbal Pungsi, sehingga penanganan dini ) serta

REFERENSI

Brunner and Suddarth\s. (---. Medi$al Surgi$al =ursing. -th dition. ;ippin$ot * Philadelphia ;ewis, >eitkemper and @irksen. 1,,,. Medi$al Surgi$al =ursing * &ssessment an Management of !lini$al Problems. ?olume 1. Mosby * St. ;ouis Missouri ;u$kmann and Sorensen\s. (--5. Medi$al Surgi$al =ursing * & Psy$hophysiologi$ &ppraoa$h. 4th dition. FB Saunders * Philadelphia. Reis ! . 1,,:. ;umbar Pun$ture. @iambil dari internet tanggal 1, 9ebruasi 1,,:, pukul 1,.48 _. www.arrowheadhospital.$om. 1,,:. Physi$ian mployed =urse Pra$tioner.

@iambil dari internet tanggal - oktober 1,(1 pukul 1,.,, _.www.ngt.org.uk. 1,:. ;umbar Pun$ture. @iambil dari internet tanggal - oktober 1,(1, pukul 1(.,, _.www.mtio.$om. 1,:. ;umbar Pun$ture. @iambil dari internet tanggal - oktober 1,(1, pukul 1,.5,

@iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar 8.

Mar 4

Pemeriksaan ECT dan Brain Mapping


PERSIAPAN PEMERIKSAAN ECT DAN PERSIAPAN PEMERIKSAAN BRAIN MAPPING

Oleh : kelompok

EVART MANOI DENIS MANANSAL JOANETE KOMALIG YULANDA TUMELENG NORMACHRISTI KOJONGIAN SERNI IRJAYANTI RONGA

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNI ERSITAS KATOLIK DE LA SALLE

MANADO !"#!

BAB II LAPORAN PENDA$ULUAN

A% PERSIAPAN PEMERIKSAAN ECT Pada penanganan klien gangguan jiwa di Rumah Sakit baik kronik maupun pasien baru biasanya diberikan psikofarmaka ,psikotherapi, terapi modalitas yang meliputi terapi individu, terapi lingkungan, terapi kognitif, terapi kelompok terapi perilaku dan terapi keluarga. Biasanya pasien menunjukan gejala yang berkurang dan menunjukan penyembuhan, tetapi pada beberapa klien kurang atau bahkan tidak berespon terhadap pengobatan sehingga diberikan terapi tambahan yaitu !" # le$tro !onvulsive "herapy%.

a% Penger&ian "erapi elektrokonvulsif # !"% merupakan suatu jenis pengobatan somatik dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis. &rus tersebut $ukup menimbulkan kejang grand mal, yang darinya diharapkan efek yang terapeutik ter$apai.Mekanisme kerja !" sebenarnya tidak diketahui, tetapi diperkirakan bahwa !" menghasilkan perubahan'perubahan biokimia didalam otak #Peningkatan kadar norepinefrin dan serotinin% mirip dengan obat anti depresan.

'% Indikasi (. )angguan afek yang berat* *pasien dengan depresi berat atau gangguan bipolar, atau depresi menunjukkan respons yang baik pada pemberian !" #+,'-,. membaik versus /,. atau lebih dengan antidepresan%. Pasien dengan gejala vegetatif yang jelas #seperti insomnia, konstipasi0 riwayat bunuh diri, obsesi rasa bersalah, anoreksia, penurunan berat badan, dan retardasi psikomotor% $ukup bersespon.

1. Ski2ofrenia* ski2ofrenia katatonik tipe stupor atau tipe e3$ited memberikan respons yang baik dengan !". "etapi pada keadaan s$hi2ofrenia kronik hal ini tidak teralalu berguna. (% K)n&raindikasi (% "umor intra kranial, karena dapat meningkatkan tekanan intrakranial. 1% 4ehamilan, karena dapat mengakibatkan keguguran 5% 6steoporosis, karena dapat berakibat terjadinya fraktur tulang. 4% 7nfark Miokardium, karena dapat terjadi henti jantung. 8% &sthma bron$hiale, dapat memperberat keadaan penyakit yang diderita d% K)mp*ikasi (% &mnesia #retrograd dan anterograd% bervariasi dimulai setelah 5'4 terapi berakhir 1'5 bulan #tetapi kadang'.kadang lebih lama dan lebih berat dengan metode bilateral, jumlah terapi yang semakin banyak, kekuatan listrik yang meningkat dan adanya organik sebelumnya. 1% Sakit kepala, mual, nyeri otot. 5% 4ebingungan. 4% Reserpin dan !" diberikan se$ara bersamaan akan berakibat fatal 8% 9raktur jarang terjadi dengan relaksasi otot yang baik. :% Risiko anestesi pada !", atropin mernperburuk glaukom sudut sempit, kerja Suksinilkolin diperlama pada .keadaan defisiensi hati dan bisa menyebabkan hipotonia.

e% Persiapan ECT +Pra,ECT(% ;engkapi anamnesis dan pemeriksaan fisik, konsentrasikan pada peme<riksaan jantung dan status neurologi$, pemeriksaan darah perifer lengkap, 4), ) atau !" S$an jika terdapat gambaran =eurologis tidak abnormal. >al ini penting mengingat terdapat kontraindikasi pada gangguan jantung, pernafasan dan persarafan. 1% Siapkan pasien dengan, informasi, dan. dukungan, psikologis. 5% Puasa setelah tengah malam. 4% 4osongkan kandung kemih dan lakukan defekasi 8% Pada keadaan ansietas berikan 8 mg dia2epam ('1 jam sebelumnya :% &ntidepresan, antipsikotik, diberikan sehari sebelumnya /% Sedatif'hipnotik, dan antikonvulsan #dan sejenisnya% harus dihentikan 'sehari sebelumnya. .% Pe*aksanaan ECT (% Buat pasien merasa nyaman. Pindahkan ke tempat dengan permuka<an rata dan $ukup keras. 1% >iperekstensikan punggung dengan bantal. 5% Bila sudah siap, berikan premedikasi dengan atropin #,,:'(,1 mg S!, 7M atau 7?%. &ntikolinergik ini mengendalikan aritmia vagal dan menurunkan sekresi gastrointestinal. 4% Sediakan -,'(,,. oksigen dengan kantung oksigen ketika respirasi tidak spontan. 8% Beri natrium metoheksital #Brevital% #4,'(,, mg 7?, dengan $epat%. &nestetik barbiturat kerja singkat ini dipakai untuk menghasilkan koma yang ringan. :% Selanjutnya, dengan $epat berikan pelemas otot suksinilkolin #&ne$tine% #5,'+, mg 7?, se$ara $epat awasi kedalaman relaksasi melalui fasikulasi otot yang dihasilkan% untuk menghindari kemungkinan kejang umum #seperti plantarfleksi% meskipun jarang. /% Setelah lemas, letakkan balok gigi di mulut kemudian berikan stimulus listrik #dapat dilakukan se$ara bilateral pada kedua pelipis ataupun unilateral pada salah satu pelipis otak yang dominan%

g% P)s& ECT (% &wasi pasien dengan hati'hati sampai dengan klien stabil kebingungan biasanya timbul kebingungan pas$a kejang (8'5, menit. 1% Pasien berada pada resiko untuk terjadinya apneu memanjang dan delirium pas$akejang #8 (, mg dia2epam 7? dapat membantu%

B% PERSIAPAN PEMERIKSAAN BRAIN MAPPING Penger&ian 4e$elakaan fisik yang terjadi pada otak seperti gegar otak, radiasi otak, gangguan yang disebabkan oleh ra$un dari luar, sei2ure disorder, &l2heimer , ano3ia dan infeksi pada otak #spt., peradangan selaput otak% yang disertai perubahan aktivitas gelombang otak, &@@, 6!@, an3iety, depresi dan seseorang yang lemah dalam belajar merupakan $iri'$iri adanya permasalahan pada gelombang otak manusia.

) Brain Mapping #Auantitative

) #ele$troen$ephalogram% merupakan sebuah alat )

untuk men$atat aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu. A )% atau dikenal pula dengan sebutan Bbrain mappingB, ). memberikan data yang komprehensif tentang gelombang otak dan memberikan analisa yang tepat dari data mentah yang diberikan oleh

) bekerja menyerupai $ara kerja

), akan tetapi data yang diperoleh

dari A

) bisa ditampilkan dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan, bisa

dalam bentuk gambar topografi, berupa diagram, atau beropa gambar'gambar yang menunjukkan aktivitas pada bagian $orte3 #luar otak%.

Prosedur Prosedur Brain Map meliputi menempatkan elektroda di berbagai area pada kulit kepala sebagai sarana untuk mengukur aktivitas gelombang otak dari klien # )%. Sesuatu berbentuk gel ditempelkan pada setiap elektroda untuk mendapatkan sinyal yang baik. Prosedur yang dilakukan non'invasif dan tidak menimbulkan rasa sakit. "idak ada sesuatu pun yang dimasukkan ke dalam otak. le$troen$ephalogram se$ara murni hanya menggambarkan gelombang listrik di dalam otak. Rekaman kondisi atau tes. ) diambil dalam beberapa

4ondisi yang direkam adalah pada saat a%mata tertutup, b%mata tertutup, $% memba$a untuk memahami atau mengerjakan soal matematika dengan tingkat kesulitan tertentu. &nalisis statistik membandingkan data subjek dengan database normative dari anak maupun orang dewasa lainnya. @ata kemudian dievaluasi berdasarkan persentase yang ada dan kemudian dibandingkan dengan database normatif dari kebervariasian yang ada. Sementara teknik'teknik lain #!", MR7, P ", SP !" dll.% $enderung mengukur aliran darah ke otak, metabolisme otak atau mengamati bagian' bagian otak, A ) justru mengukur arus listrik yang dihasilkan oleh otak atau ) menyediakan data analisis yang biasa disebut gelombang otak. A

sebetulnya sangat kompleks tentang gelombang otak dengan karakteristik khusus baik itu se$ara simetris, tahap'tahap perubahannya, hubungan antara satu dengan lainnya, luas gelombang otak yang dihasilkan, power dan gelombang otak yang dominan. 9aktanya, gangguan ke$il pada gelombang

otak bisa jadi adalah pertanda awal dari permasalahan besar yang bisa terjadi pada otak dan tubuh kita.

>asil laporan dari alat A

) akan dibandingkan dengan data normatif. @ata

normatif ini merupakan data yang diperoleh dari pen$atatan otak pada kurang lebih ratusan otak pada manusia yang sehat. Perbandingan tersebut disebut sebagai C s$ores, Dang mana menggambarkan selisih antara data normatif dengan data klien yang bermasalah. Penggunaan utama dari A ) adalah untuk memeriksa pola struktur dan

frekwensi gelombang otak serta untuk membantu seseorang yang akan menjalani proses terapi neurotherapy sehingga nantinya memiliki perhitungan yang tepat sehingga bisa seperti gelombang otak yang normal lainnya. A ) bukan merupakan alat yang men$iptakan diagnosa, akan tetapi ) )0 hal itu merupakan dua hal ) dan

merupakan alat untuk membantu terapis dalam menentukan diagnosa. A di$iptakan bukan untuk mengganti peran bukan A ) dalam bekerja. yang berbeda terutama bagi Spesialis 6tak yang menggunakan

DAFTAR PUSTAKA

)u2e, B., Ri$heimer, S., dan Siegel, @.E. #(--,%. "he >andbook of Psy$hiatry. !alifornia* Dear Book Medi$al Publishers 4aplan, >.7., Sado$k, B.E., dan )rebb, E.&. #1,,,%. Synopsis of Psy$hiatry. =ew Dork* Filliams and Filkins

Stuart, ).F. dan ;araia, M.". #1,,(%. Prin$iples and Pra$ti$e of Psy$hiatri$ =ursing. # d ke'/%. St. ;ouis* Mosby, 7n$. http*GGwww.neurotherapy.asiaGeegHbrainHmapping.htm

BAB I PENDA$ULUAN La&ar 'e*akang Salah satu terapi pada psikiatri atau dunia kedokteran jiwa yang tidak banyakdiketahui oleh banyak masyarakat adalah suatu terapi kejut dengan menggunakansebuah instrumen khusus yang dinamakan sebagai !" # le$tro !onvulsion"herapy%. Caman dahulu penanganan pasien gangguan jiwa adalah dengandipasung, dirantai, atau diikat, lalu ditempatkan di rumah atau hutan jika gangguan jiwa berat. "etapi bila pasien tersebut tidak berbahaya, dibiarkan berkeliaran di desa,sambil men$ari makanan dan menjadi tontonan masyarakat. "erapi dalam gangguan jiwa bukan hanya meliputi pengobatan dengan farmakologi tetapi juga denganpsikoterapi, serta terapi modalitas yang sesuai dengan gejala atau penyakit pasienyang akan mendukung penyembuhan pasien jiwa. "erapi kejang listrik merupakan salah satu terapi dalam kelompok terapitotal."erapi ini berupa terapi fisik dengan pasien'pasien psikiatri dengan indikasi dan$ara tertentu. "erapi kejang listrik adalah suatu pengobatan untuk menimbulkankejang grand mal se$ara artifi$ial dengan melewatkan aliran listrik melalui elektrodayang dipasang pada satu atau dua ItemplesJ#Stuard,1,,/%. Pada pelaksanaanpengobatan !", mekanismenya sebenarnya tidak diketahui, tapi diperkirakanbahwa !" menghasilkan perubahan'perubahan biokimia dalam otak. Suatupeningkatan kadar norefinefrin dan serotonin, mirip efek obat antidepresan.4ehilangan memori dan keka$auan mental sementara merupakan efek sampingyang paling umum dimana perawat merupakan hal yang penting hadir pada saatpasien sadar setelah !", supaya dapat mengurangi ketakutan'ketakutan yangdisertai dengan kehilangan memori # rlinafsiah, 1,(,%. ) Brain Mapping ) #ele$troen$ephalogram% merupakan sebuah alat untuk men$atat aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu. A #Auantitative )% atau dikenal pula dengan sebutan Bbrain mappingB, )

memberikan data yang komprehensif tentang gelombang otak dan memberikan analisa yang tepat dari data mentah yang diberikan oleh ). A ) bekerja menyerupai $ara kerja ), akan tetapi data yang diperoleh dari A ) bisa ditampilkan dalam berbagai jenis sesuai kebutuhan, bisa dalam bentuk gambar topografi, berupa diagram, atau beropa gambar'gambar yang menunjukkan aktivitas pada bagian $orte3 #luar otak%.

T/0/an Um/m (. Penulis dapat memahami dan mengerti tentang persiapan pemeriksaan !". 1. Penulis dapat memahami dan mengerti tentang persiapan pemeriksaan brain mapping T/0/an K1/s/s (. penulis mampu melakukan intervensi peda pemmeriksaan !" dan Brain mapping Man.aa& Pen/*isan Kntuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang persiapan pemeriksaan !" dan persiapan pemeriksaan brain mapping Sis&ema&ika Pen/*isan B&B 7 * Pendahuluan, "ujuan Kmum, "ujuan 4husus, Manfaat Penelitian,Sistematika Penulisan.B&B 77 * &.Pengertian, 7ndikasi, 4ontraindikasi,4omplikasi, Persiapan !"#pra !"%, Penatalaksanaan !", Post !". B.Pengertian, Prosedur .B&B 777 * 4esimpulan.

BAB III KESIMPULAN &. !" adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik danmenimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik. "indakan ini adalahbentuk terapi pada klien dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yangditempelkan pada pelipis klien untuk membangkitkan kejang grandmall. "herapi !"merupakan peubahan untuk penderita psikiatrik berat, dimana pemberian arus listriksingkat dikepala digunakan untuk menghasilkan kejang tonik klonik umum.Padaterapi !" ini,ada efek samping yang di hasilkan.6leh karena itu perawat harusmemperhatikan efek samping yang akan terjadi.@an peran perawat dalam terapi !" yaitu perawat sebelum melakukan terapi !", harus mempersiapkan alat danmengantisipasi ke$emasan klien dengan menjelaskan tindakan yang akandilakukan. ) Brain Mapping ) #ele$troen$ephalogram% merupakan sebuah alat untuk men$atat aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu. A ) #Auantitative )% atau dikenal pula dengan sebutan Bbrain mappingB, memberikan data yang komprehensif tentang gelombang otak dan memberikan analisa yang tepat dari data mentah yang diberikan oleh ).

B.

DAFTAR ISI

C)2er # Da.&ar Isi ! BAB # Penda1/*/an 3 a% La&ar 'e*akang 3 '% T/0/an Um/m 4 (% T/0/an K1/s/s 4 d% Man.aa& pen/*isan 4 e% Sis&ema&ika pen/*isan 4

BAB II Lap)ran Penda1/*/an 5 A% Penger&ian 5 Indikasi 5 K)n&raindikasi 6 K)mp*ikasi 6 Persiapan ECT+pra ECT6 Pena&a*aksanaan ECT 7 P)s& ECT 7 B%Penger&ian Pr)sed/r 89: BAB ### Kesimp/*an #" Da.&ar P/s&aka ## 8

@iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar :. Mar 4

Pemeriksaan Fisik
B&B 7 Pendahuluan

&. ;atar Belakang Pengkajian kesehatan menyeluruh seorang individu terdiri dari tiga komponen* wawan$ara dan riwayat kesehatan0 pengamatan umum dan pengukuran tanda' tanda vital0 dan pemeriksaan fisik, yang meliputi evaluasi diagnostik, interpretasi temuan klinis, diagnosis, terapi dan tindak'lanjut. Pemeriksaan dalam keperawatan menggunakan pendekatan yang sama dengan pengkajian fisik kedokteran, yaitu dengan pendekatan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi . Pengkajian fisik kedokteran dilakukan untuk menegakkan diagnosis yang berupa kepastian tentang penyakit apa yang diderita klien . pengkajian fisik keperawatan pada prinsipnya dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang lebih difokuskan pada respon yang ditimbulkan akibat masalah kesehatan yang dialami. Pengkajian fisik keperawatan harus men$erminkan diagnosa fisik yang se$ara umum perawat dapat membuat peren$anaan tindakan untuk mengatasinya. Kntuk mendapatkan data yang akurat sebelum pemeriksaan fisik

dilakukan pengkajian riwayat kesehatan, riwayat psikososial, sosek, dll. >al ini memungkinkan pengkajian yang fokus dan tidak menimbulkan bias dalam mengambil kesimpulan terhadap masalah yang ditemukan.

B. "ujuan (. Kntuk mengetahui pengertian dan tujuan pemeriksaan fisik. 1. Kntuk mengetahui jenis'jenis pemeriksaan fisik. 5. Kntuk mengetahui pemeriksaan fisik pada &l2eimer, @ementia, dan pilepsi.

B&B 77

"injauan Pustaka

&. Pemeriksaan fisik (. @efinisi Pemeriksaan fisik adalah salah satu tehnik pengumpul data untuk mengetahui keadaan fisik dan keadaan kesehatan. 1. >al'hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan fisik a. Selalu meminta kesediaanG ijin pada pasien untuk setiap pemeriksaan

b. Eagalah privasi pasien $. d. Pemeriksaan harus seksama dan sistimatis Eelaskan apa yang akan dilakukan sebelum pemeriksaan #tujuan, kegunaan, $ara dan bagian yang akan diperiksa% e. f. Beri instruksi spesifik yang jelas Berbi$aralah yang komunikatif

g. &jaklah pasien untuk bekerja sama dalam pemeriksaan h. Perhatikanlah ekpresiGbahasa non verbal dari pasien 5. Eenis pemeriksaan fisik a. Pemeriksaan 7nspeksi a% @efinisi 7nspeksi adalah suatu tindakan pemeriksa dengan menggunakan indera penglihatannya untuk mendeteksi karakteristik normal atau tanda tertentu dari bagian tubuh atau fungsi tubuh pasien. 7nspeksi

digunakan untuk mendeteksi bentuk, warna, posisi, ukuran, tumor dan lainnya dari tubuh pasien. b% !ara pemeriksaan (. Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri 1. Bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka #diupayakan pasien membuka sendiri pakaiannya Sebaiknya pakaian tidak dibuka sekaligus, namun dibuka seperlunya untuk pemeriksaan sedangkan bagian lain ditutupi selimut%. 5. Bandingkan bagian tubuh yang berlawanan #kesimetrisan% dan abnormalitas. 4. !atat hasilnya b. Pemeriksaan Palpasi a% @efinisi Palpasi adalah suatu tindakan pemeriksaan yang dilakukan dengan perabaan dan penekanan bagian tubuh dengan menggunakan jari atau tangan. Palpasi dapat digunakan untuk mendeteksi suhu tubuh, adanya getaran, pergerakan, bentuk, kosistensi dan ukuran. Rasa nyeri tekan dan kelainan dari jaringanGorgan tubuh. @engan kata lain bahwa palpasi merupakan tindakan penegasan dari hasil inspeksi, disamping untuk menemukan yang tidak terlihat. b% !ara pemeriksaan (. Posisi pasien bisa tidur, duduk atau berdiri tergantung bagian mana yang diperiksa dan Bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka

1. Pastikan pasien dalam keadaan rileks dengan posisi yang nyaman untuk menghindari ketegangan otot yang dapat mengganggu hasil pemeriksaan 5. 4uku jari'jari pemeriksa harus pendek, tangan hangat dan kering 4. Minta pasien untuk menarik napas dalam agar meningkatkan relaksasi otot. 8. ;akukan Palpasi dengan sentuhan perlahan'lahan yaitu dengan tekanan ringan dan sebentar'sebentar. :. Palpasi daerah yang di$urigai, adanya nyeri tekan menandakan kelainan /. ;akukan Palpasi se$ara hati'hati apabila diduga adanya fraktur tulang. +. >indari tekanan yang berlebihan pada pembuluh darah. -. ;akukan Palpasi ringan apabila memeriksa organGjaringan yang dalamnya kurang dari ( $m. (,. ;akukan Palpasi agak dalam apabila memeriksa organGjaringan dengan kedalaman ( ' 1,8 $m. ((. ;akukan Palpasi bimanual apabila melakukan pemeriksaan dengan kedalaman lebih dari 1,8 $m. Daitu dengan mempergunakan kedua tangan dimana satu tangan direlaksasi dan diletakkan dibagian bawah organGjaringan tubuh, sedangkan tangan yang lain menekan kearah tangan yang dibawah untuk mendeteksi karakteristik organG jaringan. (1. Rasakan dengan seksama kelainan organGjaringan, adanya nodul, tumor bergerakGtidak dengan konsistensi padatGkenyal, bersifat kasarGlembut, ukurannya dan adaGtidaknya getaranG trill, serta rasa nyeri raba G tekan .

(5. !atatlah hasil pemeriksaan yang didapat $. Pemeriksaan Perkusi a% @efinisi Perkusi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi getaranG gelombang suara yang dihantarkan kepermukaan tubuh dari bagian tubuh yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan ketokan jari atau tangan pada permukaan tubuh. Perjalanan getaranG gelombang suara tergantung oleh kepadatan media yang dilalui. @erajat bunyi disebut dengan resonansi. 4arakter bunyi yang dihasilkan dapat menentukan lokasi, ukuran, bentuk, dan kepadatan struktur di bawah kulit. Sifat gelombang suara yaitu semakin banyak jaringan, semakin lemah hantarannya dan udaraG gas paling resonan b% !ara pemeriksaan (. Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri tergantung pada bagian mana yang akan diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka 1. Pastikan pasien dalam keadaan rilek dan posisi yang nyaman untuk menghindari ketegangan otot yang dapat mengganggu hasil perkusi. 5. Minta pasien untuk menarik napas dalam agar meningkatkan relaksasi otot. 4. 4uku jari'jari pemeriksa harus pendek, tangan hangat dan kering. 8. ;akukan perkusi se$ara seksama dan sistimatis yaitu dengan * Metode langsung yaitu melakukan perkusi atau mengentokan jari tangan langsung dengan menggunakan ( atau 1 ujung jari.

Metode tidak langsung dengan $ara sebagai berikut * (. Eari tengah tangan kiri #yang tidak dominan% sebagai fleksimeter di letakkan dengan lembut di atas permukaan tubuh, upayakan telapak tangan dan jari'jari lain tidak menempel pada permukaan tubuh. 1. Kjung jari tengah dari tangan kanan #dominan% sebagai fleksor, untuk memukulG mengetuk persendian distal dari jari tengah tangan kiri. 5. Pukulan harus $epat, tajam dengan lengan tetapG tidak bergerak dan pergelangan tangan rileks 4. Berikan tenaga pukulan yang sama pada setiap area tubuh. 8. Bandingkan bunyi frekuensi dengan akurat. a% Bandingkan atau perhatikan bunyi yang dihasilkan oleh perkusi. Bunyi timpani mempunyai intensitas keras, nada tinggi, waktu agak lama dan kualitas seperti drum #lambung%. b% Bunyi resonan mempunyai intensitas menengah, nada rendah, waktu lama, kualitas bergema #paru normal%. $% Bunyi hipersonar mempunyai intensitas amat keras, waktu lebih lama, kualitas ledakan #empisema paru%. d% Bunyi pekak mempunyai intensitas lembut sampai menengah, nada tinggi, waktu agak lama kualitas seperti petir #hati%. e% Bunyi kempes mempunyai intensitas lembut, nada tinggi, waktu pendek, kualitas datar #otot%.

d. Pemeriksaan &uskultasi a% @efinisi &ukultasi adalah suatu tindakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang terbentuk di dalam organ tubuh. >al ini dimaksudkan untuk mendeteksi adanya kelainan dengan $ara membandingkan dengan bunyi normal. &uskultasi yang dilakukan di dada untuk mendengar suara napas dan bila dilakukan di abdomen mendengarkan suara bising usus. b% Penilaian pemeriksaan auskultasi meliputi * (% 9rekuensi yaitu menghitung jumlah getaran permenit. 1% @urasi yaitu lama bunyi yang terdengar. 5% 7ntensitas bunyi yaitu ukuran kuatG lemahnya suara 4% 4ualitas yaitu warna nadaG variasi suara. Pemeriksa harus mengenal berbagai tipe bunyi normal yang terdengar pada organ yang berbeda, sehingga bunyi abnormal dapat di deteksi dengan sempurna. Kntuk mendeteksi suara diperlukan suatu alat yang disebut stetoskop yang berfungsi menghantarkan, mengumpulkan dan memilih frekuensi suara. Stetoskop terdiri dari beberapa bagian yaitu bagian kepala, selang karetGplastik dan telinga. Selang karetGplastik stetoskop harus lentur dengan panjang 5,'4, $m dan bagian telinga stetoskop yang mempunyai sudut binaural dan bagiannya ujungnya mengikuti lekuk dari rongga telinga 4epala stetoskop pada waktu digunakan menempel pada kulit pasien. &da 1 jenis kepala stetoskop yaitu * Bel stetoskop digunakan untuk bunyi bernada rendah pada tekanan ringan, seperti pada bunyi jantung dan vaskuler. Bila

ditekankan lebih kuat maka nada frekuensi tinggi terdengar lebih keras karena kulit menjadi teranggang, maka $ara kerjanya seperti diafragma. @iafragma digunakan untuk bunyi bernada tinggi seperti bunyi usus dan paru $% !ara pemeriksaan (% Posisi pasien dapat tidur, duduk atau berdiri tergantung bagian mana yang diperiksa dan bagian tubuh yang diperiksa harus terbuka 1% Pastikan pasien dalam keadaan rilek dengan posisi yang nyaman 5% Pastikan stetoskop sudah terpasang baik dan tidak bo$or antara bagian kepala, selang dan telinga 4% Pasanglah ujung steoskop bagian telinga ke lubang telinga pemeriksa sesuai arah, ukuran dan lengkungannya. Stetoskop telinga 8% >angatkan dulu kepala stetoskop dengan $ara menempelkan pada telapak tangan pemeriksa atau menggosokan pada pakaian pemeriksa :% "empelkan kepala stetoskop pada bagian tubuh pasien yang akan diperiksa dan lakukan pemeriksaan dengan seksama dan sistimatis /% Pergunakanlah bel stetoskop untuk mendengarkan bunyi bernada rendah pada tekanan ringan yaitu pada bunyi jantung dan vaskuler dan gunakan diafragma untuk bunyi bernada tinggi seperti bunyi usus dan paru +% 7nformasikan hasil pemeriksaan dan $atat pada status.

4. Posisi Pemeriksaan Kntuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal, maka posisi pemeriksaan sangat menentukan. Beberapa posisi yang umum dilakukan yaitu * (% Posisi duduk dapat dilakukan di kursi atau tempat tidur. @igunakan untuk pemeriksaan pada kepala, leher, dada, jantung, paru, mamae, ektremitas atas. 1% Posisi supine #terlentang% yaitu posisi berbaring terlentang dengan kepala disangga bantal. Posisi ini untuk pemeriksaan pada kepala, leher, dada depan, paru, mamae, jantung, abdomen, ektremitas dan nadi perifer 5% Posisi dorsal re$umbent yaitu posisi berbaring dengan lutut ditekuk dan kaki menyentuh tempat tidur 4% Posisi sims #tidur miring% , untuk pemeriksaan re$tal dan vagina 8% Posisi Prone #telungkup%, untuk evaluasi sendi pinggul dan punggung :% Posisi lithotomi yaitu posisi tidur terlentang dengan lutut dalam keadaan fleksi. /% Kntuk pemeriksaan re$tal dan vagina +% Posisi knee $hest #menungging%, untuk pemeriksaan re$tal -% Posisi berdiri yaitu untuk evaluasi abnormalitas postural, langkah dan keseimbangan.

B. &l2eimer (. @efinisi

&l2heimer bukan penyakit menular, melainkan merupakan sejenis sindrom dengan apoptosis sel'sel otak pada saat yang hampir bersamaan, sehingga otak tampak mengerut dan menge$il. &l2heimer juga dikatakan sebagai penyakit yang sinonim dengan orang tua. Risiko untuk mengidap &l2heimer, meningkat seiring dengan pertambahan usia. Bermula pada usia :8 tahun, seseorang mempunyai risiko lima persen mengidap penyakit ini dan akan meningkat dua kali lipat setiap lima tahun, kata seorang dokter. Menurutnya, sekalipun penyakit ini dikaitkan dengan orang tua, namun sejarah membuktikan bahawa pesakit pertama yang dikenal pasti menghidap penyakit ini ialah wanita dalam usia awal 8,'an. 1. 9aktor risiko (% Pengidap hipertensi yang men$apai usia 4, tahun ke atas 1% Pengidap ken$ing manis 5% 4urang berolahraga 4% "ingkat kolesterol yang tinggi 8% 9a$tor keturunan 5. 4riteria diagnose "erdapat beberapa kriteria untukdiagnosa klinis penyakit al2heimer yaitu*
1)

4riteria diagnosis tersangka penyakit al2heimer terdiri dari* @emensia ditegakkan dengan pemeriksaan klinik dan pemeriksaan status mini mental atau beberapa pemeriksaan serupa, serta dikonfirmasikan dengan test neuropsikologik @idapatkan gangguan defisit fungsi kognisi O1 "idak ada gangguan tingkat kesadaran


2)

&witan antara umur 4,'-, tahun, atau sering O:8 tahun "idak ada kelainan sistematik atau penyakit otak lainnya

@iagnosis tersangka penyakit al2heimer ditunjang oleh* Perburukan progresif fungsi kognisi spesifik seperti berbahasa, ketrampilan motorik, dan persepsi &@; terganggu dan perubahan pola tingkah laku &danya riwayat keluarga, khususnya kalau dikonfirmasikan dengan neuropatologi Pada gambaran ) memberikan gambaran normal atau perubahan

nonspesifik seperti peningkatan aktivitas gelombang lambat Pada pemeriksaan !" S$an didapatkan atropu serebri

4. Pemeriksaan penunjang
(%

=europatologi @iagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Se$ara umum didapatkan atropi yang bilateral, simetris, sering kali berat otaknya berkisar (,,, gr #+8,'(18,gr%. Beberapa penelitian mengungkapkan atropi lebih menonjol pada lobus temporoparietal, anterior frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem somatosensorik tetap utuh #Eerins (-5/%. 4elainan' kelainan neuropatologi pada penyakit al2heimer terdiri dari* a. =eurofibrillary tangles #=9"% Merupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari filamen'filamen abnormal yang berisi protein neurofilamen, ubiPuine, epitoPue. =9"

ini juga terdapat pada neokorteks, hipokampus, amigdala, substansia alba, lokus seruleus, dorsal raphe dari inti batang otak. =9" selain didapatkan pada penyakit al2heimer, juga ditemukan pada otak manula, down syndrome, parkinson, SSP , sindroma ektrapiramidal, supranuklear palsy. @ensitas =9" berkolerasi dengan beratnya demensia. b. Senile plaPue #SP% Merupakan struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi nerve ending yang berisi filamen'filamen abnormal, serat amiloid ektraseluler, astrosit, mikroglia. &mloid prekusor protein yang terdapat pada SP sangat berhubungan dengan kromosom 1(. Senile plaPue ini terutama terdapat pada neokorteks, amygdala, hipokampus, korteks piriformis, dan sedikit didapatkan pada korteks motorik primer, korteks somatosensorik, korteks visual, dan auditorik. Senile plaPue ini juga terdapat pada jaringan perifer. Perry #(-+/% mengatakan densitas Senile plaPue berhubungan dengan penurunan kolinergik. 4edua gambaran histopatologi #=9" dan senile plaPue% merupakan gambaran karakteristik untuk penderita penyakit al2heimer. c. @egenerasi neuron Pada pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada penyakit al2heimer sangat selektif. 4ematian neuron pada neokorteks terutama didapatkan pada neuron piramidal lobus temporal dan frontalis. Euga ditemukan pada hipokampus, amigdala, nukleus batang otak termasuk lokus serulues, raphe nukleus dan substanasia nigra. 4ematian sel neuron kolinergik terutama pada nukleus basalis dari meynert, dan sel noradrenergik terutama pada lokus seruleus serta sel serotogenik pada nukleus raphe dorsalis, nukleus tegmentum dorsalis. "elah ditemukan faktor pertumbuhan saraf pada neuron kolinergik yang berdegenerasi pada lesi eksperimental binatang dan ini merupakan harapan dalam pengobatan penyakit al2heimer.

d. Perubahan vakuoler Merupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk oval dan dapat menggeser nukleus. Eumlah vakuoler ini berhubungan se$ara bermakna dengan jumlah =9" dan SP , perubahan ini sering didapatkan pada korteks temporomedial, amygdala dan insula. "idak pernah ditemukan pada korteks frontalis, parietal, oksipital, hipokampus, serebelum dan batang otak. e. ;ewy body Merupakan bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada enterhinal, gyrus $ingulate, korteks insula, dan amygdala. Sejumlah ke$il pada korteks frontalis, temporal, parietalis, oksipital. ;ewy body kortikal ini sama dengan immunoreaktivitas yang terjadi pada lewy body batang otak pada gambaran histopatologi penyakit parkinson. >ansen et al menyatakan lewy body merupakan variant dari penyakit al2heimer.
1%

Pemeriksaan neuropsikologik Penyakit al2heimer selalu menimbulkan gejala demensia. 9ungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan fungsi kognitif umum dan mengetahui se$ara rin$i pola defisit yang terjadi. "est psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda'beda seperti gangguan memori, kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa. valuasi neuropsikologis yang sistematik mempunyai fungsi diagnostik yang penting karena* a. &danya defisit kognisi yang berhubungan dgndemensia awal yang dapat diketahui bila terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat penuaan yang normal. b. Pemeriksaan neuropsikologik se$ara komprehensif memungkinkan untuk membedakan kelainan kognitif pada global demensia dengan

defi$it selektif yang diakibatkan oleh disfungsi fokal, faktor metabolik, dan gangguan psikiatri $. Mengidentifikasi gambaran kelainan neuropsikologik yang

diakibatkan oleh demensia karena berbagai penyebab. "he !onsortium to establish a Registry for &l2heimer @isease #! R&;@% menyajikan suatu prosedur penilaian neuropsikologis dengan mempergunakan alat batrey yang bermanifestasi gangguan fungsi kognitif, dimana pemeriksaannya terdiri dari*
a) b) c) d) e) f) g)

?erbal fluen$y animal $ategory Modified boston naming test mini mental state Ford list memory !onstru$tional pra3is Ford list re$all Ford list re$ognition "est ini memakn waktu 5,'4, menit dan ^1,'5, menit pada kontrol

5%

!" S$an dan MR7 Merupakan metode non invasif yang beresolusi tinggi untuk melihat kwantifikasi perubahan volume jaringan otak pada penderita al2heimer antemortem. Pemeriksaan ini berperan dalam menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain al2heimer seperti multiinfark dantumor serebri. &tropi kortikal menyeluruh danpembesaran ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini. "etapi gambaran ini juga didapatkan pada demensia lainnya seperti multiinfark, parkinson, binswanger sehingga kita

sukar untuk membedakan dengan penyakit al2heimer. Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran ventrikel berkorelasi dengan beratnya gejala klinik dan hasil pemeriksaan status mini mental. Pada MR7 ditemukan peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler #!apping anterior horn pada ventrikel lateral%. !apping ini merupakan predileksi untuk demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal sepertiadanya atropi hipokampus, amigdala, serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii. Seab et al, menyatakan MR7 lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit al2heimer dengan penyebab lain, dengan memperhatikan ukuran #atropi% dari hipokampus.
4%

) Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit al2heimer didapatkan perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik.

8%

P " #Positron mission "omography% Pada penderita al2heimer, hasil P " ditemukan penurunan aliran darah, metabolisma 61, dan glukosa didaerah serebral. Kp take 7.(15 sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi dengan kelainan fungsi kognisi danselalu dan sesuai dengan hasil observasi penelitian neuropatologi

:%

SP !" #Single Photon mission !omputed "omography% &ktivitas 7. (15 terendah pada refio parieral penderita al2heimer. 4elainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. 4edua pemeriksaan ini #SP !" dan P "% tidak digunakan se$ara rutin.

/%

;aboratorium darah "idak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita al2heimer. Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan

penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin, B(1, !alsium, Posfor, BS , fungsi renal dan hepar, tiroid, asam folat, serologi sifilis, skreening antibody yang dilakukan se$ara selektif.

!. @ementia (. @efinisi @emensia #bahasa 7nggris* dementia, senility% merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan penurunan fungsional yang disebabkan oleh kelainan yang terjadi pada otak. @emensia bukan berupa penyakit dan bukanlah sindrom. Pikun merupakan gejala umum demensia, walaupun pikun itu sendiri belum berarti indikasi terjadinya demensia. @emensia #Pikun% adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan sekelompok gejala yang terdiri dari kehilangan ingatan, gangguan penilaian, disorientasi dan perubahan tingkah laku, yang $ukup akut untuk mengakibatkan kehilangan fungsi. @emensia #Pikun% bukan merupakan bagian dari proses penuaan normal, meskipun lansia lebih rentan untuk menjadi pikun. @emensia #Pikun% terjadi akibat adanya degenerasi fungsi otak, yang pada akhirnya mempengaruhi kegiatan sosial atau kerja #misalnya pekerjaan, hobi, berbelanja, memasak, berpakaian, makan, mandi dan kegiatan higienis%. 6rang'orang yang menderita demensia sering tidak dapat berpikir dengan baik dan berakibat tidak dapat beraktivitas dengan baik. 6leh sebab itu mereka lambat laun kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan dan perlahan menjadi emosional, sering hal tersebut menjadi tidak terkendali. Banyak penyakitGsindrom menyebabkan demensia, seperti stroke, &l2heimer, penyakit !reut2feldt'Eakob, >untington, Parkinson, &7@S, dan lain'lain. @emesia juga dapat diinduksi oleh defisiensi niasin. @emensia pada &l2heimer dikategorikan sebagai simtoma degeneratif otak yang progresif. Mengingat beban yang ditimbulkan penyakit ini,

masyarakat perlu mewaspadai gangguan perilaku dan psikologik penderita demensia &l2heimer. 1. 9aktor resiko Pertambahan usia, faktor kardiovaskular seperti hipertensi, dan lebih langka, faktor genetik, berkontribusi terhadap resiko demensia. 5. )ejala &khir'akhir ini hilang ingatan sehingga mempengaruhi kinerja bekerja 4esulitan dalam menjalankan tugas'tugas rutin Permasalahan dengan bahasa @isorientasi waktu dan jarak Penilaian buruk atau berkurang Masalah dengan pemikiran abstrak Salah menempatkan barang'barang Perubahan kepribadian 4ehilangan inisiatif Perubahan suasana hati atau tingkah laku

4. Pemeriksaan @emensia #&sosiasi &l2heimer 7ndonesia,1,,5% @iagnosis klinis tetap merupakan pendekatan yang paling baik karena sampai saat ini belum ada pemeriksaan elektrofisiologis, neuro imaging dan pemeriksaan lain untuk menegakkan demensia se$ara pasti. Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan antara lain *

a.

Riwayat medik umum Perlu ditanyakan apakah penyandang mengalami gangguan medik yang dapat menyebabkan demensia seperti hipotiroidism, neoplasma, infeksi kronik. Penyakit jantung koroner, gangguan katup jantung, hipertensi, hiperlipidemia, diabetes dan arteriosklerosis perifer mengarah ke demensia vaskular. Pada saat wawan$ara biasanya pada penderita demensia sering menoleh yang disebut head turning sign.

b. Riwayat neurologi umum "ujuan anamnesis riwayat neurologi adalah untuk mengetahui kondisi' kondisi khusus penyebab demensia seperti riwayat stroke, "7&, trauma kapitis, infeksi susunan saraf pusat, riwayat epilepsi dan operasi otak karena tumor atau hidrosefalus. )ejala penyerta demensia seperti gangguan motorik, sensorik, gangguan berjalan, nyeri kepala saat awitan demesia lebih mengindikasikan kelainan struktural dari pada sebab degeneratif. $. Riwayat neurobehavioral &namnesa kelainan neurobehavioral penting untuk diagnosis demensia atau tidaknya seseorang. 7ni meliputi komponen memori. #memori jangka pendek dan memori jangka panjang% orientasi ruang dan waktu, kesulitan bahasa, fungsi eksekutif, kemampuan mengenal wajah orang, bepergian, mengurus uang dan membuat keputusan. d. Riwayat psikiatrik Riwayat psikiatrik berguna untuk menentukan apakah penyandang pernah mengalami gangguan psikiatrik sebelumnya. Perlu ditekankan ada tidaknya riwayat depresi, psikosis, perubahan kepribadian, tingkah laku agresif, delusi, halusinasi, dan pikiran paranoid. )angguan depresi juga dapat menurunkan fungsi kognitif, hal ini disebut pseudodemensia. e. Riwayat kera$unan, nutrisi dan obat'obatan

7ntoksikasi aluminium telah lama dikaitkan dengan ensefalopati toksik dan gangguan kognitif walaupun laporan yang ada masih inkonsisten. @efisiensi nutrisi, alkoholism kronik perlu menjadi pertimbangan walau tidak spesifik untuk demensia &l2heimer. Perlu diketahui bahwa anti depresan golongan trisiklik dan anti kolinergik dapat menurunkan fungsi kognitif. f. Riwayat keluarga Pemeriksaan harus menggali kemungkinan insiden demensia di keluarga, terutama hubungan keluarga langsung, atau penyakit neurologik, psikiatrik. g. Pemeriksaan objektif Pemeriksaan untuk deteksi demensia harus meliputi pemeriksaan fisik umum, pemeriksaan neurologis, pemeriksaan neuropsikologis, pemeriksaan status fungsional dan pemeriksaan psikiatrik. h. Pemeriksaan penunjang #&sosiasi &l2heimer 7ndonesia,1,,5% a% Pemeriksaan laboratorium rutin Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosis klinis demensia ditegakkan untuk membantu pen$arian etiologi demensia khususnya pada demensia reversible, walaupun 8,. penyandang demensia adalah demensia &l2heimer dengan hasil laboratorium normal, pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya dilakukan. Pemeriksaan laboratorium yang rutin dikerjakan antara lain* pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, elektrolit serum, kalsium darah, ureum, fungsi hati, hormone tiroid, kadar asam folat b% 7maging

Computed Tomography #!"% s$an dan MR7 #Magnetic Resonance Imaging% telah menjadi pemeriksaan rutin dalam pemeriksaan demensia. $% Pemeriksaan $airan otak Pungsi lumbal diindikasikan bila klinis dijumpai awitan demensia akut, penyandang dengan imunosupresan, dijumpai rangsangan meningen dan panas, demensia presentasi atipikal, hidrosefalus normotensif, tes sifilis #S%, penyengatan meningeal pada !" s$an. d% Pemeriksaan genetika &polipoprotein #&P6 % adalah suatu protein pengangkut lipid yang berbeda.

polimorfik yang memiliki 5 allel yaitu epsilon 1, epsilon 5, dan epsilon 4. setiap allel mengkode bentuk &P6 Meningkatnya frekuensi epsilon 4 diantara penyandang demensia &l2heimer tipe awitan lambat atau tipe sporadik menyebabkan pemakaian genotif &P6 meningkat. i. Pemeriksaan neuropsikologis Pemeriksaan neuropsikologis meliputi pemeriksaan status mental, aktivitas sehari'hari G fungsional dan aspek kognitif lainnya. .#&sosiasi &l2heimer 7ndonesia,1,,5%. Pemeriksaan neuropsikologis penting untuk sebagai penambahan pemeriksaan demensia, terutama pemeriksaan untuk fungsi kognitif, minimal yang men$akup atensi, memori, bahasa, konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem solving. Pemeriksaan neuropsikologi sangat berguna terutama pada kasus yang sangat ringan untuk membedakan proses ketuaan atau proses depresi. Sebaiknya syarat pemeriksaan neuropsikologis memenuhi syarat sebagai berikut* o mampu menyaring se$ara $epat suatu populasi epsilon 4 sebagai penanda semakin

o mampu mengukur progresifitas penyakit yang telah diindentifikaskan demensia. #Sjahrir,(---% Sebagai suatu esesmen awal pemeriksaan Status Mental Mini #MMS % adalah test yang paling banyak dipakai. #&sosiasi &l2heimer 7ndonesia,1,,5 0Boustani,1,,5 0>ou3,1,,1 04liegel dkk,1,,4% tetapi sensitif untuk mendeteksi gangguan memori ringan. #"ang'Fei,1,,5% Pemeriksaan status mental MMS 9olstein adalah test yang paling sering dipakai saat ini, penilaian dengan nilai maksimal 5, $ukup baik dalam mendeteksi gangguan kognisi, menetapkan data dasar dan memantau penurunan kognisi dalam kurun waktu tertentu. =ilai di bawah 1/ dianggap abnormal dan mengindikasikan gangguan kognisi yang signifikan pada penderita berpendidikan tinggi.#&sosiasi &l2heimer 7ndonesia,1,,5% Penyandang dengan pendidikan yang rendah dengan nilai MMS paling rendah 14 masih dianggap normal, namun nilai yang rendah ini mengidentifikasikan resiko untuk demensia. #&sosiasi &l2heimer 7ndonesia,1,,5%. Pada penelitian !rum R.M (--5 didapatkan median skor MMS adalah 1- untuk usia (+'14 tahun, median skor 18 untuk yang O +, tahun, dan median skor 1- untuk yang lama pendidikannya O- tahun, 1: untuk yang berpendidikan 8'+ tahun dan 11 untuk yang berpendidikan ,'4 tahun. Clinical Dementia Rating #!@R% merupakan suatu pemeriksaan umum pada demensia dan sering digunakan dan ini juga merupakan suatu metode yang dapat menilai derajat demensia ke dalam beberapa tingkatan. #Burns,1,,1%. Penilaian fungsi kognitif pada !@R berdasarkan : kategori antara lain gangguan memori, orientasi, pengambilan keputusan, aktivitas sosialGmasyarakat, pekerjaan rumah dan hobi, perawatan diri. =ilai yang dapat pada pemeriksaan ini adalah merupakan suatu derajat penilaian fungsi kognitif yaitu0 =ilai ,, untuk orang normal tanpa gangguan kognitif. =ilai ,,8, untuk Quenstionable dementia. =ilai (, menggambarkan derajat demensia ringan, =ilai 1, menggambarkan suatu derajat demensia sedang

dan nilai 5, menggambarkan suatu derajat demensia yang berat. #&sosiasi &l2heimer 7ndonesia,1,,5, )olomb,1,,(%.

@.

pilepsy

(. @efinisi pilepsi menurut E> Ea$kson #(-8(% didefinisikan sebagai suatu gejala akibat $etusan pada jaringan saraf yang berlebihan dan tidak beraturan. !etusan tersebut dapat melibatkan sebagian ke$il otak #serangan parsial atau fokal% atau lebih luas pada kedua hemisfer otak #serangan umum%. pilepsi merupakan gejala klinis kompleks yang disebabkan berbagai proses patologis di otak. pilepsi ditandai dengan $etusan neuron yang berlebihan dan dapat dideteksi dari gejala klinis, rekaman elektroensefalografi # )%, atau keduanya.

pilepsi adalah suatu kelainan di otak yang ditandai adanya bangkitan epileptik yang berulang #lebih dari satu episode%. International eague !gainst "pilepsy #7;& % dan International #ureau $or "pilepsy #7B % pada tahun 1,,8 merumuskan kembali definisi epilepsi yaitu suatu kelainan otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi yang dapat men$etuskan bangkitan epileptik, perubahan neurobiologis, kognitif,psikologis dan adanya konsekuensi sosial yang diakibatkannya. @efinisi ini membutuhkan sedikitnya satu riwayat bangkitan epileptik sebelumnya. 1. @iagnosis @iagnosis epilepsi ditegakkan atas dasar adanya gejala dan tanda klinik dalam bentuk bangkitan epilepsi berulang #minimal 1 kali% yang ditunjang oleh gambaran epileptiform pada ). Se$ara lengkap urutan pemeriksaan untuk menuju ke diagnosis adalah sebagai berikut* a. &namnesis "ahap pertama mengevaluasi penderita dengan kemungkinan epilepsi adalah menetapkan apakah penderita menderita kejang atau tidak.

&namnesis yang lengkap seorang dokter dapat memperkirakan apakah seseorang benar menderita kejang atau tidak, dan juga perlu untuk menentukan tipe kejang atau jenis epilepsi tertentu. Penentuan tipe kejang atau epilepsi sangat penting karena pengobatan penderita epilepsi salah satunya didasarkan pada tipe kejang atau jenis epilepsi. &namnesis dapat dilakukan pada pasien atau saksi mata yang menyaksikan pasien kejang. Sering penderita datang dalam keadaan tidak sadar, sehingga gambaran bangkitan sebagian besar berdasarkan pada anamnesis. 7ni sering bergantung pada kepandaian pemeriksa untuk menentukan pola bangkitan dan kepandaian saksi mata dalam melukis bangkitan. Kntuk penentuan penyebab dari kejang, dokter harus menentukan apakah ada anamnesa keluarga dengan epilepsi, trauma kepala, kejang demam, infeksi telinga tengah atau sinus atau gejala dari keganasan. &dapun pertanyaan yang penting untuk ditelusuri berupa* Pola G bentuk bangkitan ;ama bangkitan )ejala sebelum, selama dan pas$a bangkitan 9rekuensi bangkitan 9aktor pen$etus` &da G tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang Ksia saat terjadinya bengkitan pertama Riwayat pada saat dalam kandungan, persalinan G kelahiran dan perkembangan bayi G anak Riwayat terapi epilepsi sebelumnya Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga

b. Pemeriksaan 9isik Kmum dan =eurologi Pemeriksaan fisik dilakukan untuk melihat adanya tanda'tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi, misalnya trauma kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan kongenital, gangguan neurologik fokal atau difus, ke$anduan obat terlarang atau alkohol dan kanker. $. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah* ) #elektroensefalogram% Merupakan pemeriksaan yang mengukur aktivitas listrik di dalam otak. Pemeriksaan ini tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak memiliki resiko. "lektroda ditempelkan pada kulit kepala untuk mengukur impuls listrik di dalam otak. Setelah terdiagnosis, biasanya dilakukan pemeriksaan lainnya untuk menentukan penyebab yang biasa diobati. ) hanyalah suatu pemeriksaan, bukan penentu diagnosis pasti. 7nterpretasi gambaran ) harus dilakukan dengan hati'hati. Pada sebagian pasien, digunakan teknik'teknik pengaktifan tertentu, seperti hiperventilasi atau stimulasi $ahaya berkedip'kedip, untuk memi$u mun$ulnya pola listrik yang abnormal. Bahkan setelah pemeriksaan ) berulang, hasil tetap negatif pada hampir 1,. pasien. Rekaman ) yang normal sering dijumpai pada anak dengan kejang tonik'klonik. ) digunakan untuk mengidentifikasi daerah'daerah otak spesifik yang terlibat dalam lepas muatan abnormal, dan data ini dikolerasikan dengan rekaman video. Pemeriksaan ;aboratorium. Pemeriksaan darah meliputi hemoglobin, leukosit, trombosit, hapusan darah tepi, elektrolit #natrium, kalium, kalsium, magnesium%, kadar gula darah, fungsi hati #S)6", S)P", )amma )", &lkali fosfatase%,

ureum, kreatinin dan lain'lain atas indikasi. Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk* Mengukur kadar gula, kalsium dan natrium dalam darah Menilai fungsi hati dan ginjal Menghitung jumlah sel darah putih #jumlah yang meningkat menunjukkan adanya infeksi%

Pemeriksaan $airan serebrospinal bila di$urigai adanya infeksi SSP Pemeriksaan'pemeriksaan lain untuk dilakukan bila ada indikasi misalnya adanya kelainan metabolik bawaan.

4) #elektrokardiogram% 4) dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan irama jantung sebagai akibat dari tidak adekuatnya aliran darah ke otak, yang bisa menyebabkan seseorang mengalami pingsan.

!" L S$an dan MR7 !" Ls$an dan MR7 dilakukan untuk melihat ada tidaknya neuropati fokal. MR7 lebih disukai karena dapat mendeteksi lesi ke$il #misalnya tumor ke$il, malformasi pembuluh, atau jaringan parut% di lobus temporalis.

Pungsi ;umbal 4adang dilakukan untuk mengetahui apakah telah terjadi infeksi otak.

B&B 777 Penutup

&. 4esimpulan Pemeriksaan fisik adalah salah satu tehnik pengumpul data untuk mengetahui keadaan fisik dan keadaan kesehatan. Eenis'jenis pemeriksaan fisik yaitu, palpasi, auskultasi, perkusi, dan inspeksi. Pemeriksaan penunjang juga termasuk dalam pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sangat diperlukan untuk mendiagnosa klien dengan al2eimer, dementia T epilepsi

B. Saran Pemeriksaan fisik sangat diperlukan untuk menentukan diagnose bagi klien sehingga kita harus mengetahui pemeriksaan fisik apa yang dperlukan khususnya bagi al2eimer, dementia dan epilepsy. "erutama bagi mahasiswa keperawatan yang nantinya akan melakukan pemeriksaan fisik pada klien.

@aftar Pustaka

B*ass ; e& a*% "hiamin and al2heimer disease. &r$h. =eurol. (-++#48%* +55'+58 BR Reed% &l2heimer disease* age antibodi onset and SP !" pattern of reginal $erebral blood flow, &r$hieves of =eurology, (--,#4/%*:1+':55 C/mmings9 MD ;e..re< L% @ementia a $lini$al approa$h.1nd ed. Butter worth* 45'-5 DL Spark. &ging and al2heimer disease* alteredd $orti$al serotogeni$ binding. &r$h. =eurology, (-+-#4:%* (5+'(48. E%M)1r% !lonidine treatment of al2heimer disease. &r$hive of =eurology, (-+-#4:%* 5/:'5/+

Fra&ig*i)ni L. !lini$al diagnosis of al2heimer disease and other dementia in population survey. &r$.=eurol. (--1#4-%*-1/'-51 ;%C% M)rries. "he $onsortium to establish a registry for al2heimer disease #! R&;@% part 7* $lini$al and neuropsy$ology$al assessment of &@&;&>.=eurology, (-+- #5-%*((8-'((,8 ;aka%1,,-.@ementia. http*GGwww.drjaka.$omG1,,-G(,Gdemensia.html diakses pada (: oktober 1,(1 pada (+.,, F7"& Ka&1*een A% =europsy$ologi$al assessment of al2heimer disease. =eurology (--/ #4-%* S(('S(5 Made%1,(1.&skep @emensia. http*GGudayatimade.blogspot.$omG1,(1G,8Gaskep'

demensia.html diakses pada (: 6ktober 1,(1 pada (+.,, F7"& @iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar /. Mar 4

Tingka& Kesadaran
Da.&ar Isi

B&B 7 (.( ;atar belakang .................................................1

(.1 "ujuan Penulisan .................................................1 (.5 Manfaat Penulisan .................................................1

B&B 77 Pembahasan 1.( "ingakat 4esadaran .................................................5 1.(.( Pengujian "ingkat 4esadaran .................................................4 1.(.1 Penyebab Penurunan "ingkat 4esadaran .................................................8 1.1 Status Mental .................................................: 1.1.( Pemeriksaan status mental ................................................./ 1.1.1 Pemeriksaan kemampuan berbi$ara ................................................./ 1.1.5 Pengenalan status mental se$ara formal ................................................./ 1.1.4 6rientasi Pemeriksaan ................................................+ mengenai kejadian daya daya Pemeriksaan ................................................+ Pemeriksaan ................................................respon

1.1.8 Pemeriksaan pengetahuan mutakhir ................................................+ 1.1.: pertimbangan 1.1./ abstraksi 1.1.+ kosakata 1.1.emosional

Pemeriksaan ...............................................+ Penilaian ................................................+

1.1.(, ingat 1.1.(( motorik 1.1.(1 6lfaksi 1.1.(5 berhitung. 1.1.(4 benda

Pemeriksaan ................................................Pemeriksaan integritas ................................................ ................................................Pemeriksaan ................................................Pemeriksaan kemampuan ................................................-

daya aktifitas Pemeriksaan kemampuan mengenal

B&B 777 Penutup 5.( 4esimpulan ..................................................(, 5.1 Saran ..................................................(,

BAB I PENDA$ULUAN

#%# LATAR BELAKANG =eurologi adalah ilmu kedokteran yang mempelajari kelainan, gangguan fungsi, penyakit, dan kondisi lain pada sistim saraf manusia. 6leh sebab itu dipelajari pula hal'hal yang se$ara alami dianggap fungsi sistim saraf normal. Misalnya* kepandaian berbahasa, gangguan belajar, pikun dan lain'lainnya. @alam rangka menegakkan diagnosis penyakit saraf diperlukan pemeriksaan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan mental dan laboratorium #penunjang%. Pemeriksaan neurologis meliputi* fungsi $erebral, fungsi nervus $ranialis, fungsi sensorik, fungsi motorik dan reflek. Selama beberapa dasawarsa ini ilmu serta teknologi kedokteran maju dan berkembang dengan pesat. Banyak alat dan fasilitas yang tersedia, dan memberikan bantuan yang sangat penting dalam mendiagnosis penyakit serta menilai perkembangan atau perjalanan penyakit. Saat ini kita dengan mudah dapat mendiagnosis perdarahan di otak, atau keganasan di otak melalui pemeriksaan pen$itraan. 4ita juga dengan mudah dapat menentukan polineuropati dan perkembangannya melalui pemeriksaan kelistrikan. @i samping kemajuan yang pesat ini, pemeriksaan fisik dan mental di sisi ranjang #bedside% masih tetap memainkan peranan yang penting. 4ita bahkan dapat meningkatkan kemampuan pemeriksaan di sisi ranjang dengan bantuan alat teknologi yang $anggih. 4ita dapat mempertajam kemampuan pemeriksaan fisik dan mental dengan bantuan alat'alat $anggih yang kita miliki. Sampai saat ini kita masih tetap dan harus memupuk kemampuan kita untuk melihat, mendengar, dan merasa, serta mengobservasi keadaan pasien. @engan pemeriksaan anamnesis, fisik dan mental yang $ermat, kita dapat menentukan diagnosis, dan pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan.

#%# TU;UAN PENULISAN @alam penulisan makalah ini terdapat 1 #dua% tujuan utama penulisan yaitu0

(.(.(

"ujuan Kmum

untuk memberikan informasi mengenai $ara pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental pada pasien penderita gangguan kejiwaan.

(.(.1

"ujuan 4husus Se$ara khusus bagi * Mahasiswa keperawatan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar mengenai pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental. 7nstitusi keperawatan bertujuan untuk mendambah literatur atau referensi mengenai pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental.

#%3 MANFAAT PENULISAN penulisan ini diharapkan memberikan manfaat bagi dunia kesehatan pada umumnya terlebih mengenai pemeriksaan tingkat kesadaran dan status mental bagi pasien yang menderita gangguan kejiwaan.

BAB II PEMBA$ASAN !%# TINGKAT KESADARAN 4esadaran mempunyai arti yang luas,kesadaran dapat didefinisikan sebagai keadaan yang men$erminkan pengintegrasian impuls eferen dan aferen. 4eseluruhan dari impuls aferen dapat disebut input susunan saraf pusat dan keseluruhan dari impuls eferen dapat disebut output susunan saraf pusat. 4esadaran yang sehat dan adekuat dikenal sebagai kewaspadaan, yaitu aksi dan reaksi terhadap apa yang diserap #dilihat, didengar, dihidu, dike$ap. @an sterusnya % bersifat sesuai dan tepat. 4eadaan ketika aksi sama sekali tidak dibalas dengan reaksi dikenal sebagai k)ma. 4esadaran yang terganggu dapat menonjolkan kedua seginya, yaitu unsure tingkat dan unsure kualitasnya.Suatu ilustrasi perbedaan tingkat dan kualitas kesadaran ketika seorang klien yang sakit tidak dapat mengenal lagi orang'orang yang biasanya bergaul akrab dengan dia. 6rang awam menamakan keadaan itu I tidak sadarJ atau pikiran ka$au. &pa yang dimaksud dengan istilah itu adalah kualitas kesaradarannya terganggu. @alam hal ini, klien tidak menunjukkan gangguan tingkat kesaradan, oleh karena apabila perawat memberi stimuli klien akan

memberikan respons dengan perubahan ekspresi nyeri atau klien akan menarik bagian yang diberikan stimuli untuk menghindarinya. 4ualitas kesadaran yang menurun tidak senantiasa menurunkan juga tingkat kesadaran. "etapi tingkat kesadaran yang menurun senantiasa menggangu kualitas kesadaran. 6leh karena itu fungsi mental yang ditandai oleh berbagai ma$am kualitas kesadaran sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran. Pengertian kualitas dan tingkat kesadaran dapat diartikan bahwa jumlah #kuantitas% input susunan saraf pusat menentukan tingkat kesadaran. !ara pengolahan input itu yang melahirkan pola'pola output susunan saraf pusat menentukan kualitas kesadaran. 7nput susunan saraf pusat dapat dibedakan menjadi input yang bersifat spesifik dan yang bersifat nonspesifik.Pengertian spesifik itu merujuk kepada perjalanan impuls aferen yang khas dan kesadaran yang dilahirkan oleh impuls aferen itu yang khas itu juga. >al ini berlaku bagi semua lintasan yang menghubungkan suatu titik pada tubuh dengan suatu titik di daerah korteks perseptif primer. 6leh karena itu penghantaran impuls spesifik itu dikenal sebagai penghantaran impuls aferen dari titik ke titik. Setibanya impuls aferens spesifik ditingkat korteks ter$iptalah suatu kesadaran akan suatu modalitas perasaan, yaitu perasaan nyeri di kaki atau di wajah atau suatu penglihatan pen$iuman atau pendengaran tertentu. Pengertian input yang bersifat nonspesifik itu adalah sebagian dari impuls aferen spesifik yang disalurkan melalui lintasan aferen nonspesifik. ;intasan ini terdiri atas serangkaian neuron'neuron di substansia medulla spinalis dan batang otak yang menyalurkan impuls aferen ke thalamus yaitu ke inti intralaminaris.7mpuls aferen spesifik sebagian disalurkan melalui kolateralnya ke rangkaian neuron'neuron substansia metikularis dan impuls aferen itu selanjutnya bersifat nonspesifik oleh karena $ara penyalurannya ke thalamus berlangsung se$ara multisinaptik, unilateral, dan bilateral dan setibanya di nu$leus intralaminaris akan membangkitkan inti tersebut untuk meman$ar impuls yang menggiatkan seluruh korteks se$ara divus dan bilateral. ;intasan aferen yang nonspesifik itu lebih dikenal sebagai di$$use ascending reticular system. @engan adanya dua lintasan aferen itu, maka terbentuk penghantaran aferen yang pada prinsipnya berbeda. ;intasan spesifik #jaras spino'talamik, lemniskus medialis, jaras genikolo'kalkarina dsb% menghantarkan impuls dari satu alat reseptor ke satu titik pada korteks perseptif primer. Sebaliknya, lintasan aferen nonspesifik menghantarkan setiap impuls dari titik manapun dari tubuh ke titik'titik dibagian seluruh korteks serebri. =euron'neuron diseluruh korteks serebri yang dibangkitkan oleh impuls aferen nonspesifik disebut Ne/r)n Pengem'an Ke=aspadaan, oleh karena bergantung pada jumlah neuron'neuron tersebut yang aktif, maka derajat kesadaran bisa tinggi atau rendah. &ktivasi neuron'neuron tersebut dilakukan oleh neuron'neuron yang menyusun inti talamik yang disebut N/k*e/s In&ra*aminaris. &pabila terjadi gangguan sehingga kesadaran menurun sampai tingkat yang terendah, maka koma yang dihadapi dapat terjadi karena neuron pengemban kewaspadaan sama sekali tidak berfungsi disebut K)ma K)r&ika* Bi1emis.erik atau oleh karena neuron pembangkit kewaspadaan tidak berdaya untuk mengaktifkan neuron pengemban kewaspadaan disebut K)ma Diense.a*ik yang dapat bersifat Supratentorial atau 7nfratentorial.

4ualitas kesadaran klien merupakan parameter yang paling mendasar dan penting yang membutuhkan pengkajian. "ingkat keterjagaan klien dan respons terhadap lingkungan adalah indi$ator paling sensitive untuk disfungsi system persarafan. Beberapa system digunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan keterjagaan. 7stilah'istilah seperti letargi, stupor, dan semikomatosa adalah istilah yang umum digunakan dalam berbagai area.

!%#%# PENGU;IAN TINGKAT KESADARAN

a% Se(ara k/a*i&a&i. (. C)mp)sMen&is #$ons$ious%, yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya. 1. Apa&is, yaitu keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya a$uh tak a$uh. 5. De*iri/m, yaitu gelisah, disorientasi #orang, tempat, waktu%, memberontak, berteriak'teriak, berhalusinasi, kadang berhayal. 4. S)mn)*en #6btundasi, ;etargi%, yaitu kesadaran menurun, respon psikomotor yang lambat, mudah tertidur, namun kesadaran dapat pulih bila dirangsang #mudah dibangunkan% tetapi jatuh tertidur lagi, mampu memberi jawaban verbal. 8. S&/p)r #soporo koma%, yaitu keadaan seperti tertidur lelap, tetapi ada respon terhadap nyeri. :. C)ma #$omatose%, yaitu tidak bisa dibangunkan, tidak ada respon terhadap rangsangan apapun #tidak ada respon kornea maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap $ahaya%.

'% Se(ara K/an&i&a&i. dengan GCS + G*asg)= C)ma S(a*e -

(. Menilai respon membuka mata # % #4% * spontan #5% * dengan rangsang suara #suruh pasien membuka mata%.

#1% * dengan rangsang nyeri #berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan kuku jari% #(% * tidak ada respon 1. Menilai respon ?erbalGrespon Bi$ara #?% #8% * orientasi baik #4% * bingung, berbi$ara menga$au # sering bertanya berulang'ulang % disorientasi tempat dan waktu. #5% * kata'kata saja #berbi$ara tidak jelas, tapi kata'kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya Iaduh_, bapak_J% #1% * suara tanpa arti #mengerang% #(% * tidak ada respon 5. Menilai respon motorik #M% #:% * mengikuti perintah #8% * melokalisir nyeri #menjangkau T menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri% #4% * withdraws #menghindar G menarik e3tremitas atau tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri% #5% * fle3i abnormal #tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada T kaki e3tensi saat diberi rangsang nyeri%. #1% * e3tensi abnormal #tangan satu atau keduanya e3tensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal T kaki e3tensi saat diberi rangsang nyeri%. #(% * tidak ada respon

>asil pemeriksaan tingkat kesadaran berdasarkan )!S disajikan dalam simbol _ ?_M_ Selanutnya nilai'nilai dijumlahkan. =ilai )!S yang tertinggi adalah (8 yaitu 4?8M: dan terendah adalah 5 yaitu (?(M(

Setelah dilakukan s$oring maka dapat diambil kesimpulan * #!ompos Mentis#)!S* (8'(4% G &patis #)!S* (5'(1% G Somnolen#(('(,% G @elirium #)!S* -'/%G Sporo $oma #)!S* :'4% G !oma #)!S* 5%%.

!%#%! PEN>EBAB PENURUNAN TINGKAT KESADARAN Penurunan tingkat kesadaran mengindikasikan difisit fungsi otak. "ingkat kesadaran dapat menurun ketika otak mengalami kekurangan oksigen #hipoksia%, kekurangan aliran darah #seperti pada keadaan syok%, penyakit metaboli$ seperti diabetes mellitus #koma ketoasidosis%, pada keadaan hipo atau hipernatremia, dehidrasi, asidosis, alkalosis, pengaruh obat'obatan, alkohol, kera$unan, hipertermia, hipotermia, peningkatan tekanan intrakranial #karena perdarahan, stroke, tomor otak%, infeksi #en$ephalitis% T epilepsi.

!%! STATUS MENTAL Status mental merupakan keadaan kejiwaan yang dimiliki seseorang. Se$ara ringkas prosedur pengkajian status mental klien dapat dilakukan meliputi* (. 6bservasi penampilan klien dan tingkah lakunya dengan melihat $ara berpakaian klien, kerapihan, dan kebersihan diri. 1. 6bservasi postur, sikap, gerakan'gerakan tubuh, ekspresi wajah dan aktifitas motorik semua ini sering memberikan informasi penting tentang klien. 5. Penilaian gaya bi$ara klien dan tingkat kesadaran juga diobservasi. 4. &pakah gaya bi$ara klien jelas atau masuk akal a 8. &pakah klien sadar dan berespons atau mengantuk dan stupor a

Kntuk melihat lebih jauh penilaian status mental bagi perawat terdapat pada table berikut *

PENILAIAN Perhatian @aya ingat

RESPONS Rentang perhatian ke depan dan ke belakang ' Eangka pendek* mengingat kembali tiga item setelah 8 menit ' Eangka panjang * mengingat nama depan ibunya, mengingat kembali menu makanan pagi, kejadian pada hari sebelumnya. Perasaan #efektif% ' &mati suasana hati yang ter$ermin pada tubuh, ekspresi tubuh ' @eskripsi verbal efektif ' ?erbal kongruen, indi$ator tubuh tentang suasana hati. Bahasa ' 7si dan kualitas u$apan spontan ' Menyebutkan benda'benda yang umum, bagian'bagian dari suatu benda ' Pengulangan kalimat ' 4emampuan untuk memba$a dan menjelaskan pesan'pesan singkat pada surat kabar, majalah. ' 4emampuan menulis se$ara spontan, di'dikte. Pikiran ' 7nformasi dasar #misalnya presiden terbaru, 5 presiden terdahulu% ' Pengetahuan tentang kejadian'kejadian baru. ' 6rientasi terhadap orang tempat dan waktu. ' Menghitung * menambahkan dua angka, mengurangi (,, dengan /. Persepsi ' Menyalin gambar * persegi, tanda silang, kubus, tiga dimensi. ' Menggambar bentuk jam membuat peta ruangan. ' Menunjuk ke sisi kanan dan kiri tubuh. ' Memperagakan * mengenakan jaket, meniup peluit, menggunakan sikat gigi.

!%!%# Pemeriksaan s&a&/s men&a*

Pemeriksaan status mental terdiri dari hal'hal berikut ini * Bi$ara 6rientasi Pengetahuan kejadian mutakhir Pertimbangan &bstraksi 4osakata Respon emosional @aya ingat Berhitung Pengenalan benda Praktis #integrasi aktivitas motorik%

!%!%! Pemeriksaan kemamp/an 'er'i(ara Eika pasien bangun dan waspada, anda sudah dapat mengamati $ara berbi$aranya. Pasien sekarang diminta untuk mengulangi ungkapan singkat. &pakah ada disatria disfoni,disfasia, atau afasiaa @isatria adalah kesukaran artikulasi. Biasanya disatria disebabkan oleh lesi pada lidah dan palatum. @isfoni adalah kesulitan dalam fonasi. &kibatnya perubahan volume dan nada suara. ;esi palatum dan pita suara seringkali menjadi penyebabnya. @isfasia adalah kesukaran memahami atau berbi$ara sebagai akibat gangguan fungis serebral. Pasien yang kehilangan kemampuan berbi$aranya sama sekali menderita afasia. Berbagai daerah di otak menyebabkan afasia yang berbeda'beda. &fasia tidak lan$ar, motorik, ekspresif ada jika pasien mengetahui apa yang ingin dikatakannya, tetapi menderita gangguan motorik dan tidak dapat mengu$apkannya dengan tepat. 7a memahami tulisan dan perintah verbal tetapi tidak dapat mengulanginya. Suatu lesi di lobus frontal sering menjadi penyebabnya. &fasia sensorik, reseptif, lan$ar, ada jika pasien mengu$apkan kata'kata se$ara spontan tetapi memakai kata'kata se$ara tidak tepat. Pasien mengalami kesukaran dalam memahami perintah tertulis dan verbal serta tidak dapat mengulanginya. 4eadaan sering disebabkan oleh lesi temporoparietal.

!%!%3 Pengena*an s&a&/s men&a* se(ara .)rma*

Selama wawan$ara, pemeriksa telah memperoleh banyak informasi mengenai status mental pasien. Pewawan$ara mungkin sudah dapat menilai daya ingat jangka panjang pasien, afek dan pertimbangannya. Pemeriksaan status mental se$ara formal, sebagai bagian pemeriksaan neurologik, diperkenalkan oleh pemeriksa. !%!%4 Pemeriksaan Orien&asi 6rientasi pasien terhadap orang, tempat dan waktu harus ditentukan. 6rientasi menunjukkan kesadaran orang bersangkutan dalam hubungannya dengan orang lain, tempat dan waktu. @isorientasi terjadi dalam kaitannya dengan gangguan daya ingat dan rentang perhatian. !%!%5 Pemeriksaan penge&a1/an mengenai ke0adian m/&ak1ir Pemeriksaan pengetahuaan mengenai kejadian mutakhir dapat diperiksa dengan menanyakan kepada pasien, nama empat presiden terakhir amerika serikat. Menanyakan kepada pasien nama walikota atau gubernur. 4emampuan menyebutkan peristiwa mutakhir memerlukan orientasi yang utuh, daya ingat mutakhir yang utuh, dan kemampuan berpikir se$ara abstrak. !%!%6 Pemeriksaan da<a per&im'angan Pemeriksaan daya pertimbangan dilakukan dengan meminta pasien untuk menafsirkan suatu masalah sederhana.

!%!%7 Peni*aian da<a a's&raksi &bstraksi adalah suatu fungsi luhur serebral yang memerlukan pemahaman dan pertimbangan. Peribahasa la2im dipakai untuk menguji penalaran abstraksi. Pasien dengan kelainan penalaran abstrak mungkin menafsirkan peribahasa dengan memakai tafsiran konkrit. Respon konkrit la2im dijumpai pada pasien dengan retardasi mental atau dengan kegagalan otak. Pasien ski2ofrenia sering menjawab dengan penafsiran konkrit, tetapi penilaian yang aneh juga la2im dijumpai. !ara lain untuk memeriksa penalaran abstrak adalah dengan menanyakan kepada pasien bagaimana sepasang benda serupa atau tidak serupa. !%!%8 Pemeriksaan k)saka&a 4osakata seringkali sangat sulit untuk diperiksa. 4esulitan ini berdasarkan atas banyak faktor, yang men$akup pendidikan pasien, latar belakang, pekerjaan, lingkungan dan fungsi serebral. "etapi kosakata merupakan parameter penting dalam menilai kemampuan intelektual. Pasien retardasi mental mempunyai kosakata yang terbatas, sedangkan pasien dengan kegagalan otak mental mempunyai kosakata yang terpelihara dengan baik. Pasien harus diminta untuk mendefinisikan kata'kata atau memakainya dalam kalimat. 4ata apa saja dapat dipakai, tetapi harus dipakai dengan tingkat kesukaran yang makin bertambah. !%!%: Pemeriksaan resp)n em)si)na*

Meskipun respon emosional sudah diamati se$ara tidak formal, penting untuk ditanyakan se$ara spesifik apakah pasien memperhatikan adanya perubahan suasana hati se$ara tiba'tiba. &fek didefinisikan sebagai respon emosional terhadap suatu peristiwa. Responnya mungkin tepat, abnormal, atau mendatar. Respon yag tepat terhadap kematian orang yang di$intai mungkin menangis. Respon yang tidak tepat mungkin tertawa. Respon mendatar memperlihatkan sedikit respon emosional. Pasien dengan kerusakan serebral bilateral kehilangan kendali akan emosinya.

!%!%#" Pemeriksaan da<a inga& Kntuk memeriksa daya ingat, pasien harus diminta untuk mengingat kejadian yang baru saja terjadi dan dominan. &utotopagnosia adalah istilah yang dipakai untuk melukiskan ketidak mampuan untuk mengenali tubuh pasien sendiri, seperti tangan atau tungkainya.

!%!%## Pemeriksaan in&egri&as ak&i.i&as m)&)rik Praksis adalah kemampuan untuk melakukan suatu aktifitas motorik apraksia adalah ketidakmampuan pasien untuk melakukan suatu gerakan volunter tanpa adanya gangguan dalam kekuatan, sensasi, atau koordinasi motorik. @ispraksia adalah berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktifitas. Pasien mendengar dan memahami perintah, tetapi ia tidak dapat mengintegrasikan aktifitas motorik yang akan melakukan gerakan itu. Mintalah kepada pasien untuk menuangkan air dari tempat air minum kedalam gelas minumannya. )angguan ini sering disebabakan oleh lesi jauh di dalam lobus frontal.jenis apraksia lainnya disebut apraksia konstruksi pada penyakit ini, pasien tidak mampu menyusun atau menggambar desain sederhana. Pasien dengan apraksia konstruksi sering menderita lesi dipars posterior lobus pariental. !%!%#! Pemeriksaan O*.aksi Pasien diminta untuk menutup matanya dan satu lubang hidung ketika pemeriksa mendekat 2at penguji kelubang hidung lainnya.pasien diminta untuk menghirup 2at penguji itu. Cat penguji itu harus mudah mengguap dan tidak mengiritasi,seperti $enggkeh,vanila bean,kopi yang baru digiling,atau lavender. !%!%#3 Pemeriksaan kemamp/an 'er1i&/ng% 4emampuan berhitung tergantung kepada integritas bemisfer serebral yang dominan dan juga intelegensia pasien. !%!%#4 Pemeriksaan kemamp/an mengena* 'enda

Pengenalan benda disebut genosia. &gnosia adalah kegagalan mengenali suatu rangsangan sensorik meskipun ada sensasi primer yang normal,$ontohnya*memperlihtakan benda yang sudah dikenal se$ara luas seperti uang logam,pena,ka$amata dll. @an mintalah kepadanya untuk mnyebutkan nama'nama benda itu. Eika pasien mempunyai daya visus normal dan tidak dapat mengenal benda itu dikatakan bahwa ia mangalami agnosia visual. &gnosia taktil adalah ketidakmampuan seorang pasien mengenal sebuah benda dengan palpasi tanpa ada gangguan sensorik. Semua terjadi pada lesi lubus pariental yang tidak.

BAB III PENUTUP 3%# KESIMPULAN 4ualitas kesadaran yang menurun tidak senantiasa menurunkan juga tingkat kesadaran. "etapi tingkat kesadaran yang menurun senantiasa menggangu kualitas kesadaran. 6leh karena itu fungsi mental yang ditandai oleh berbagai ma$am kualitas kesadaran sangat ditentukan oleh tingkat kesadaran. Status mental merupakan keadaan kejiwaan yang dimiliki seseorang. Pemeriksaan status mental seseorang harus dinilai dari berbagai aspek yang ditentukan, tidak bisa hanya melihat dari satu penilaian saja.

3%! SARAN , bagi perawat dalam melakukan pemeriksaan harus menggunakan ketelitian ' Serta dalam pemeriksaan status mental perawat harus menggunakan prosedur pengkajian yang telah biasa diterapkan kepada pasien yang mengalami gangguan mental. @iposkan 4th Mar$h oleh va Maria 4eljombar Memuat

4irim masukan