Anda di halaman 1dari 27

I.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Tanaman jagung adalah protandry dimana pada sebagian besar varietas,

bunga jantannya muncul (anthesis) 1-3 hari sebelum rambut bunga betina muncul (silking). Penggunaan varietas unggul belum menjamin meningkatnya hasil secara optimal bila benihnya tidak bersertifikat (bermutu). Keuntungan menggunakan benih yang bermutu adalah menghemat jumlah pemakaian benih persatuan luas areal tanaman, tingkat keasaman, serta fisik tanam relatif seragam, dan dapat mengurangi besarnya hasil atau susut. Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas dianjurkan memakai benih yang bermutu dari varietas unggul (Sutherland, 1999). Tanaman jagung mempunyai komposisi genetik yang sangat dinamis karena cara penyerbukan bunganya menyilang. Fiksasi gen-gen unggul (favorable genes) pada genotip yang homozigot justru akan berakibat depresi inbreeding yang menghasilkan tanaman kerdil dan daya hasilnya rendah. Tanaman yang vigor, tumbuh cepat, subur, dan hasilnya tinggi justru diperoleh dari tanaman uang komposisi genetiknya heterozigot (Walden, 1978). Perkawinan antar spesies merupakan salah satu cara yang digunakan dalam meningkatkan keragaman genetik bahan pemuliaan. Keragaman tersebut nantinya akan diseleksi untuk mendapatkan varietas yang memiliki sifat unggul. Varietas bersifat unggul tersebut nantinya dilepas sebagai varietas unggul. Untuk mendapatkan varietas unggul dapat ditempuh melalui beberapa metode. Metode pemuliaan tanaman ini sangat ditentukan oleh sistem penyerbukan atau cara perkembangbiakan tanaman. Metode untuk tanaman menyerbuk sendiri berbeda untuk tanaman menyerbuk silang. Metode untuk tanaman yang dikembangbiakan secara seksual berbeda dengan yang dikembangkan secara seksual (Sunarto, 1997).

1.2

Tujuan Adapun tujuan dari persilangan dalam praktikum ini adalah mempelajari

proses penyerbukan dan persilangan antara tanaman jagung yang berbeda varietas antara jangung manis dan jagung pulut. 1.3 Manfaat 1. Mengetahui proses penyerbukan dan persilangan antara tanaman jagung yang berbeda varietas. 2. Menambah informasi ilmu pengetahuan yang di peroleh baik secara materi maupun secara praktek. 3. Menambah kemampuan praktikan dalam membudidayakan tanaman jagung. 4. Mengetahui teknik persilangan tanaman jagung yang berbeda varietasnya. 5. Mengetahui hasil dari persilangan tanaman jagung yang berbeda varietas.

I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biologi Jagung A. Klasifikasi ilmiah Menurut Singosari (2009), klasifikasi tanaman jaagung adalah sebagai berikut: Kerajaan Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Poales : Poaceae : Zea : Zea. mays L Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif. B. Morfologi Jagung Jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 kultivar jagung, baik yang terbentuk secara alami maupun dirakit melalui pemuliaan tanaman (Singosari, 2009). Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini (Singosari, 2009). Bunga betina jagung berupa "tongkol" yang terbungkus oleh semacam pelepah dengan "rambut". Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai putik (Singosari, 2009).

Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman (Singosari, 2009). Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin (Singosari, 2009). Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun (Singosari, 2009). Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri) (Singosari, 2009).

C. Keanekaragaman Menurut Singosari (2009), jagung dikelompokkan berdasarkan tipe bulir. Kiri atas adalah jagung gigi-kuda, di kiri latar depan adalah podcorn, sisanya adalah jagung tipe mutiara. Jagung yang dibudidayakan memiliki sifat bulir/biji yang bermacam-macam. Di dunia terdapat enam kelompok kultivar jagung yang dikenal hingga sekarang, berdasarkan karakteristik endosperma yang membentuk bulirnya: 1. Indentata (Dent, "gigi-kuda") 2. Indurata (Flint, "mutiara") 3. Saccharata (Sweet, "manis") 4. Everta (Popcorn, "berondong") 5. Amylacea (Flour corn, "tepung") 6. Glutinosa (Sticky corn, "ketan") 7. Tunicata (Podcorn, merupakan kultivar yang paling primitif dan anggota subspesies yang berbeda dari jagung budidaya lainnya) Dipandang dari bagaimana suatu kultivar ("varietas") jagung dibuat dikenal berbagai tipe kultivar: 1. galur murni, merupakan hasil seleksi terbaik dari galur-galur terpilih 2. komposit, dibuat dari campuran beberapa populasi jagung unggul yang diseleksi untuk keseragaman dan sifat-sifat unggul. 3. sintetik, dibuat dari gabungan beberapa galur jagung yang memiliki keunggulan umum (daya gabung umum) dan seragam 4. hibrida, merupakan keturunan langsung (F1) dari persilangan dua, tiga, atau empat galur yang diketahui menghasilkan efek heterosis (Singosari, 2009). Warna bulir jagung ditentukan oleh warna endosperma dan lapisan terluarnya (aleuron), mulai dari putih, kuning, jingga, merah cerah, merah darah, ungu, hingga ungu kehitaman. Satu tongkol jagung dapat memiliki bermacammacam bulir dengan warna berbeda-beda, karena setiap bulir terbentuk dari penyerbukan oleh serbuk sari yang berbeda-beda (Singosari, 2009).

D. Macam-Macam Jagung Menurut Benyamin (1993), jagung dibedakan menjadi beberapa macam, macam-macam jagung antara lain: 1. Jagung Pulut Menurut Bates et al. (1943) dalam Alexander dan Creech (1977), kandungan endosperm jagung pulut hampir semuanya amilopektin. Pada jagung pulut terdapat gen resesif wx dalam keadaan homosigot (wxwx) yang mempengaruhi komposisi kimia pati sehingga menyebabkan rasa yang enak dan gurih. Hasil jagung pulut umumnya rendah, hanya 2-2,5 t/ha dan tidak tahan penyakit bulai. Sampai saat ini pemuliaan jagung pulut belum banyak mendapat perhatian, terutama dalam peningkatan potensi hasilnya, padahal permintaan jagung pulut terus meningkat, terutama untuk industri jagung marning. Untuk itu perlu diintrogresikan gen jagung pulut ke jagung putih yang bijinya lebih besar, produktivitasnya lebih tinggi, danmemiliki nilai biologis yang tinggi atau dengan membentuk jagung puluthibrida yang berdaya hasil tinggi dan berbiji lebih besar. 2. Jagung Manis Jagung manis (sweet corn) umum dikonsumsi sebagai jagung rebus atau jagung kukus (steam), terutama bagi masyarakat di kota-kota besar. Jagung ini dikonsumsi dalam bentuk jagung muda, mempunyai rasa manis dan enak karena kandungan gulanya tinggi. Jagung manis mempunyai biji-biji yang berisi endosperm manis, mengkilap, tembus pandang sebelum masak dan berkerut bila kering. Pada varietas jagung manis terdapat suatu gen resesif yang mencegah perubahan gula menjadi pati (Purseglove 1992). Gen yang sudah umum digunakan adalah su2 (standard sugary) dan sh2 (shrunken). Gen su2 merupakan gen standar, sedangkan gen sh2 menyebabkan rasa lebih manis dan dapat bertahan

lebih lama atau disebut supersweet. Apabila kedua gen berada dalam satu genotipe maka disebut sugary supersweet. Menurut Straughn (1907) dalam Alexander dan Creech (1977), kandungan gula pada biji yang masak berbeda pada setiap kultivar jagung manis, bergantung pada derajat kerutannya. Kerutan yang dalam lebih banyak mengandung gula dibandingkan kerutan yang dangkal. 3. Jagung Biomas Tinggi Kebutuhan hijauan pakan jagung cacah semakin meningkat, terutama di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Sulawesi Selatan telah

mengeksporsilase jagung ke Korea Selatan dan Jepang. Korea Selatan mengharapkan impor biomas jagung cacah dari Indonesia sekitar 1-2 juta/tahun. Untuk biomas jagung cacah, tanaman jagung dipanen pada saat tongkolnya masih muda (setengah dewasa atau fase masak susu) atau pada saat tanaman berumur 65-75 hari bagi varietas berumur masak fisiologis 90-110 hari. Tanaman dipanen dengan cara memotong batang pada permukaan tanah, kemudian seluruh bagian tanaman (batang, daun, tongkol muda) dicacah dengan mesin, ukuran cacah sekitar 5,0 cm, kemudian difermentasi menjadi silase. Balitsereal telah meneliti varietas jagung dan populasi tanaman optimum untuk biomas hijauan (jagung cacah). Varietas bersari bebas (komposit) Lamuru dengan populasi 357.142 batang/ha memberikan biomas segar 120,0 t/ha dan hasil biji 4,1 t/ha dengan nilai R/C 2,8 (Subandiet al. 2004). 4. Jagung Umur Genjah Varietas jagung berumur genjah diperlukan untuk menyesuaikan pola tanam pada lahan sawah dan pemanfaatan ketersediaan air setelah panen padi. Jagung berumur genjah berpeluang terhindar dari kekeringan sehingga dapat mengurangi risiko kegagalan panen (Subandi et al. 1988). Tanaman jagung pada lahan tegalan sering mengalami kekeringan pada fase pengisian biji. Cekaman kekeringan akan menurunkan hasil biji, bobot tongkol, memperlambat waktu berbunga, dan memperbesar interval berbunga

(perbedaan antara antesis dan keluarnya rambut tongkol), memperpendek tanaman, dan meningkatkan jumlah tanaman yang mandul. Vasal et al. (1995) melakukan seleksi untuk umur genjah dan hasiltinggi terhadap tujuh populasi jagung selama 5-9 daur. Kemajuan seleksi 87-123 kg/ha per daur seleksi. Troyer dan Larkins (1987) melaporkan kemajuan seleksi selama 11 daur terhadap 10 populasi jagung. Kemajuan seleksi rata-rata per daur 167 kg/ha hasil biji dan satu hari lebih genjah untuk keluar rambut tongkol dibandingkan populasi dasar. Di beberapa daerah seperti Madura, petani menanam jagung umur genjah yang ditumpangsarikan dengan kacang hijau. Petani lebih menyukai varietas jagung dengan ukuran biji kecil dan warna biji oranye sebagai bahan pangan pokok atau diekspor untuk pakan burung. Varietas lokal berumur genjah umumnya berdaya hasil rendah sehingga perlu diperbaiki. Balitsereal telah melepas varietas jagung umur genjah (82 hari), berbiji kuning, dan potensi hasil tinggi (9,0 t/ha) dengan nama MS.K(RRS)C2. E. Pemuliaan Jagung 1. Syarat Pertumbuhan Curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya ditanam awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Membutuhkan sinar matahari, tanaman yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang tidak optimal. Suhu optimum antara 230 C - 300 C. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, kemiringan tanah kurang dari 8 %. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. Ketinggian antara 1000-1800 m dpl dengan ketinggian optimum antara 50-600 m dpl (Singosari, 2009). Gumarang yang berasal dari populasi

a. Syarat benih Benih sebaiknya bermutu tinggi baik genetik, fisik dan fisiologi (benih hibryda). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih + 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam POC NASA (dosis 2-4 cc/lt air semalam). b. Pengolahan Lahan Tanah yang akan ditanami dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur merata/pada barisan tanaman, + 1 bulan sebelum tanam. Sebelum tanam sebaiknya lahan disebari GLIO yang sudah dicampur dengan pupuk kandang matang untuk mencegah penyakit layu pada tanaman jagung. 2. Teknik Penanaman a. Tumpang sari (intercropping) Melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo (Dahlan, 1994). b. Tumpang gilir (Multiple Cropping) Dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kedelai, kacang tanah, dll (Dahlan, 1994).

c. Tanaman Bersisipan (Relay Cropping) Pola tanam dengan menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang (Dahlan, 1994). d. Tanaman Campuran ( Mixed Cropping ) : Penanaman terdiri beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu (Dahlan, 1994). e. Lubang Tanam dan Cara Tanam Lubang tanam ditugal, kedalaman 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih. Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam semakin lebar. Jagung berumur panen lebih 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur panen 80-100 hari, jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang) (Dahlan, 1994). f. Pengelolaan Tanaman 1. Penjarangan dan Penyulaman Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (hst). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman (Dahlan, 1994).

2. Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari (Dahlan, 1994).

3. Pembumbunan Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk

memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang (Dahlan, 1994). 4. Pengairan dan Penyiraman Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung (Dahlan, 1994). F. Hama dan Penyakit 1. Hama a. Lalat bibit (Atherigona exigua Stein) Gejala: daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abuabu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman. (2) tanaman yang

terserang segera dicabut dan dimusnahkan. (3) Sanitasi kebun. (4) semprot dengan PESTONA (Dahlan, 1994). b. Ulat Pemotong Gejala: tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilon; Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman; (2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah); (3) Semprot PESTONA, VITURA atau VIREXI (Dahlan, 1994). 2. Penyakit a. Penyakit bulai (Downy mildew) Penyebab: cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 270 C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan; (3) cabut tanaman terserang dan musnahkan; (4) Preventif diawal tanam dengan GLIO (Dalan, 1994). b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh) Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuningkuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan

daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman. (2) mengatur kondisi lahan tidak lembab; (3) Prenventif diawal dengan GLIO (Dahlan, 1994). c. Penyakit karat (Rust) Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P.polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) menanam varietas tahan terhadap penyakit; (3) sanitasi kebun; (4) semprot dengan GLIO (Dahlan, 1994). d. Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut) Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: masuknya cendawan ini ke dalam biji pada tongkol sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus rusak dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban; (2) memotong bagian tanaman dan dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur GLIO dan POC NASA (Dahlan, 1994). e. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) GLIO di awal tanam (Dahlan, 1994). Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki (Dahlan, 1994).

f. Panen dan Pasca Panen 1. Ciri dan Umur Panen Umur panen + 86-96 hari setelah tanam. Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm), jagung rebus/bakar, dipanen ketika matang susu dan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis (Dahlan, 1994). 2. Cara Panen Putar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung (Dahlan, 1994). 3. Pengupasan Dikupas saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh (Dahlan, 1994). 4. Pengeringan Pengeringan jagung dengan sinar matahari (+7-8 hari) hingga kadar air + 9% -11 % atau dengan mesin pengering (Dahlan, 1994). 5. Pemipilan Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung (Dahlan, 1994). 6. Penyortiran dan Penggolongan Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan (Dahlan, 1994).

G. Metode Seleksi 1. Seleksi Massa (Mass Selection) Seleksi massa adalah pemilihan individu secara visual untuk

karakterkarakter yang diinginkan. Seleksi massa tidak melibatkan evaluasi famili. Seleksi massa dapat dijadikan dasar untuk domestikasi tanaman menyerbuk silang dan dasar pemeliharaan bentuk asal (true type) dari spesies tanaman yang

menyerbuk silang, sebelum dikembangkan program perbaikan tanaman (Deptan, 2007). Seleksi massa efektif untuk karakter yang mempunyai heritabilitas tinggi, karena pemilihan hanya berdasarkan genotipe individu-individu tanaman pada satu

lokasi dan satu musim. Pada tanaman jagung, seleksi massa dipilih berdasarkan tetua betina karena genotipe tetua betina diketahui dengan pasti.(Deptan, 2007). Untuk karakter yang dipilih sebelum berbunga, seleksi dapat dilakukan terhadap kedua tetua jantan maupun tetua betina. Tanaman yang tidak terpilih dibuang atau dibuat persilangan buatan antara tanaman terpilih. Seleksi berdasarkan kedua tetua akan memberikan kemajuan seleksi yang lebih besar daripada seleksi berdasarkan satu tetua saja (Deptan, 2007). Gardner dan Snusta (1981) telah berhasil meningkatkan hasil biji jagung varietas Hays-Golden dengan total respon kenaikan 23% dari populasi asal selama 10 generasi seleksi massa (di atas 10 tahun), dan respon tiap generasi adalah 2,8%, dengan beberapa teknik untuk memperbaiki efisiensi seleksi individu tanaman. a. Seleksi dibatasi pada hasil saja, pengukuran yang lebih teliti pada biji-bijiyang telah dikeringkan sampai kadar air konstan. b. Luas lahan percobaan 0,2-0,3 ha, tanaman dipelihara dengan pemberian pupuk, irigasi, dan pengendalian gulma untuk memperkecil keragaman lingkungan. c. Lahan percobaan dibagi menjadi petak-petak yang lebih kecil dengan ukuran 4 m x 5 m.

d. Petak-petak seleksi terdiri atas empat baris, masing-masing 10 tanaman. e. Intensitas seleksi 10% dilakukan secara seragam terhadap 4.000-5.000 tanaman, empat tanaman unggul dipilih dari masing-masing petak kecil yang terdiri atas 40 tanaman.

3. Seleksi Satu Tongkol Satu Baris (Ear-to-Row) Seleksi satu tongkol satu baris pada jagung, yang pada tanaman lain disebut head-to-row, atau satu malai satu baris, merupakan halfsib selection yang awalnya dirancang oleh Hopkins (1899) dalam Dahlan (1994) di Universitas Illinois untuk menyeleksi kandungan minyak dan protein pada jagung. Teknik seleksi ini merupakan modifikasi dari teknik seleksi massa yang menggunakan pengujian keturunan (progeny test) dari tanaman yang terseleksi, untuk membantu memperlancar seleksi yang didasarkan atas keadaan fenotipe individu tanaman. Kelemahan seleksi ini adalah kemungkinan terjadinya silang dalam cukup besar karena pemilihan pada satu tongkol hanya satu baris. Timbulnya inbreeding akan mengurangi kemajuan genetik pada proses seleksi. Dalam seleksi, setelah pencampuran biji-biji tetua, diseleksi kembali fenotipe-fenotipe individu tanaman yang baik untuk diteruskan ke siklus berikutnya. Tanaman di dalam baris-baris keturunan adalah saudara tiri (half sibs). Dengan demikian, metode ini memasukkan pengujian tanpa ulangan dari keturunan-keturunan bersari bebas dari tanaman terpilih (Dahlan, 1994).

4. Seleksi Pedigri (Pedigree Selection) Menurut Dahlan (1994), seleksi pedigri dibedakan menjadi : a. Musim 1: Ditanam populasi dasar sekitar 3.000-5.000 tanaman, dipilih 300400 tanaman dengan karakter yang dikehendaki dan dibuat silang diri untuk menghasilkan galur S1. Panen dilakukan secara terpisah dari masing-masing tanaman hasil silang diri yang mempunyai karakter yang diinginkan. b. Musim 2: Biji yang diperoleh pada musim 1 (S1) dari tiap tongkol ditanam satu baris, 25 tanaman. Seleksi secara visual dilakukan antara famili dan dalam famili (baris), dan dipilih 3-5 tanaman dari baris yang terpilih untuk

dilakukan silang diri. Panen dilakukan secara terpisah untuk masing-masing tongkol, dipilih 1-3 tongkol hasil silang diri untuk tiap baris terpilih dan diperoleh biji S2. c. Musim 3: Biji S2 ditanam satu tongkol satu baris dengan 15-25 tanaman. Seleksi diteruskan antara baris dan dalam baris. Pilih 3-5 tanaman dari baris yang terpilih untuk dibuat silang diri. Panen dilakukan secara terpisah untuk masing-masing tongkol dan akan diperoleh biji S3. d. Musim 4: Biji (S3) yang terpilih ditanam kembali seperti pada musim 3. Silang diri dilakukan sampai generasi keenam (S6) untuk memperoleh galur yang mendekati homozigot. Dalam pembentukan galur dapat dilakukan seleksi terhadap hama dan penyakit utama dengan inokulasi buatan.

5. Seleksi Curah (Bulk Selection) Seleksi dengan metode curah dilakukan dengan mencampurkan biji daritongkol hasil silang diri dalam jumlah yang sama. Seleksi dilakukan sampai empat generasi dan evaluasi daya gabungnya dilakukan pada galur S4. Modifikasi dapat dilakukan dengan mengevaluasi daya gabung pada S1 dan galur terpilih digunakan untuk silang diri, tetapi biji dari 1-3 tongkol hasil silang diri dari galur terpilih dicampur dan silang diri dilanjutkan hingga mencapai homozigot. Seleksi curah dapat menghemat biaya dan dapat dilakukan dengan banyak populasi sekaligus (Dahlan, 1994). 6. Modifikasi Seleksi Pedigree Metode seleksi ini merupakan kombinasi antara seleksi pedigree dan seleksi curah. Dari populasi dasar dipilih tanaman yang diinginkan (300-400 tanaman), dan dilakukan silang diri. Pada saat panen dipilih tongkol yang baik dari tanaman hasil silang diri. Generasi selanjutnya ditanam satu baris 10-25 tanaman tiap tongkol, dan dipilih baris tanaman dengan karakter yang diinginkan. Dibuat silangdiri 3-5 tanaman dari baris terpilih (Dahlan, 1994). Setelah panen dari tiap baris terseleksi dipilih 1-3 tongkol dan diambil biji yang sama tiap tongkol untuk ditanam dalam satu baris 10-25 tanaman. Seleksi curah dalam famili dilakukan beberapa generasi berikutnya. Seleksi pedigree

dilakukan lagi apabila galur akan dievaluasi daya gabungnya. Dapat pula diseling antara metode seleksi pedigree dan seleksi curah (Dahlan, 1994). Prosedur lainnya, biji S1 ditanam satu baris satu tongkol (ear to row), seleksi dilakukan antarbaris dan dalam baris. Biji-biji hasil silang diri diambil dengan jumlah yang sama, dicampur sebagai populasi S2. Seleksi curah diteruskan sampai dilakukan evaluasi galur. Dalam seleksi curah ada kemungkinan tanaman yang pendek akan tersingkir karena persaingandengan tanaman yang lebih tinggi, sehingga pertumbuhannya kurang maksimal dan akan diperoleh galur yang tanamannya tinggi (Dahlan, 1994). 7. Seleksi Dapur Tunggal (Single Hill Selection, Single Seed Descent) Metode seleksi dapur tunggal berfungsi mempertahankan keragaman dan dapat digunakan untuk pembentukan RIL (Recombinant Inbred Lines). RIL digunakan untuk kajian genetik dan analisis molekuler. Dalam seleksi ini, tiap tanaman hanya diambil satu biji untuk generasi berikutnya. Dari populasi dasar dipilih tanaman yang mempunyai karakter yang diinginkan untuk disilangdirikan. Setelah panen, diambil satu biji dari tiap tongkol dan dicampur menjadi satu. Biji campuran ini ditanam lagi dan dibuat silang diri dari masing-masing tanaman (Dahlan, 1994). Seleksi dilakukan tanpa membuat silang diri tanaman yang terserang hama penyakit, rebah, dan yang memiliki karakter lain yang tidak diinginkan. Setelah panen, diambil lagi satu biji dari tiap tongkol dan dicampur. Pekerjaan ini dilakukan beberapa generasi sampai tahap evaluasi galur. Apabila mula-mula dilakukan silang diri 500 tanaman, maka dari generasi ke generasi berikutnya jumlah tanaman yang berkurang hanya sedikit (Dahlan, 1994). 8. Seleksi Fenotipe Berulang (Phenotypic Recurrent Selection) Seleksi fenotipe berulang adalah seleksi dari generasi ke generasi dengan diselingi oleh persilangan antara tanaman-tanaman terseleksi agar terjadi rekombinasi. Sparague dan Brimhall (1952) telah menggunakan prosedur seleksi

ini dalam meningkatkan kadar minyak yang tinggi pada varietas jagung Stiff Stalk Synthetic. Langkah-langkah pelaksanaan seleksi fenotip berulang adalah: a. Musim 1: Ditanam 100 tanaman S0 dan dilakukan persilangan sendiri (selfing), bijinya diuji untuk menentukan kandungan minyaknya. b. Musim 2: Seleksi 10% tongkol S1 dengan persentase minyak tertinggi ditanam satu tongkol satu baris dan saling silang (intercrossing). Biji-biji dengan jumlah yang sama dari tiap tongkol dicampur dan ditanam kembali untuk diseleksi pada generasi berikutnya.

9. Seleksi Berulang untuk Daya Gabung Umum (Recurrent Selection forGeneral Combining Ability) Seleksi ini awalnya disarankan oleh Jenkins (1978), dengan anggapan bahwa daya gabung dapat ditentukan sejak dini. Prosedur seleksi adalah sebagai berikut: a. Musim 1: Dipilih tanaman dari populasi dasar dengan karakter yang diinginkan. Tanaman terpilih kemudian disilangdirikan (selfing) untuk memperoleh galur S1. Pada saat panen hanya dipilih tanaman yang masih menunjukkan karakter yang diinginkan. b. Musim 2: Sebagian benih S1 digunakan untuk pembuatan persilangan antara galur S1 dengan populasi asal (silang puncak). Populasi digunakan sebagai tetua penguji. Sisa benih S1 disimpan untuk digunakan dalam rekombinasi. c. Musim 3: Evaluasi famili saudara tiri (silang puncak) dilakukan dalam rancangan acak kelompok atau latis umum (generalized lattice) dengan 2-4 ulangan pada 1-3 lokasi. Berdasarkan evaluasi ini dipilih famili superior. d. Musim 4: Rekombinasi famili terpilih menggunakan biji S1 dengan cara disaling-silangkan untuk membentuk populasi baru (C1). e. Musim 5: Populasi hasil rekombinasi pada musim 4 dibuat silang diri seperti pada musim I untuk membentuk daur kedua (C2) dan seterusnya.

10. Seleksi Berulang Timbal Balik (Reciprocal Recurrent Selection) Seleksi berulang timbal balik memerlukan lima musim tanam dengan prosedur yang sama dengan yang telah dijelaskan pada perbaikan populasi, yaitu: a. musim 1: pembuatan galur S1, musim 2: pembuatan silang puncak (topcross), musim 3: evaluasi silang puncak, musim 4: rekombinasi galur terpilih, musim 5: pembuatan galur S1.

11. Seleksi Silang Balik (Backcross) Prosedur seleksi silang balik digunakan untuk memperbaiki galur yang sudah ada tetapi perlu menambah karakter yang lain seperti ketahanan terhadap hama penyakit. Galur yang hendak diperbaiki adalah tetua pengulang (recurrent parent), karakter-karakternya tetap dipertahankan, kecuali karakter yang hendak diintrogresikan dari tetua donor. Galur A (tetua pengulang) disilangkan dengan galur donor X, selanjutnya F1 atau F2 disilangkan kembali dengan galur A. Dari beberapa silang balik dengan galur A akan diperoleh galur A yang karakternya sama dengan galur A, tetapi mengandung gen yang diinginkan yang berasal dari galur X. Dalam silang balik harus jelas karakter yang diinginkan sehingga dapat diikuti selama proses seleksi. Tanaman F1 mengandung 50% gen-gen galur A, silang balik 1 (BC1) 75%, bc2 meningkat menjadi 87,5%, bc3 menjadi 93,8%, dan bc4 meningkat menjadi 96,9%. Namun dalam proses back cross harus diikuti oleh kemampuan daya gabungnya agar tidak sampai berubah dari galur pasangannya dalam pembuatan hibrida. 12. Seleksi Gamit (Gameet Selection) Seleksi gamit dianjurkan oleh Stadler pada tahun 1974 (Jugenheimer 1985). Apabila frekuensi zigot p2 maka frekuensi gamit adalah p, sehingga seleksi gamit lebih efisien karena p> p2. Prosedur untuk memperbaiki galur A adalah dengan populasi P, sehingga silang tunggal A/B memiliki karakter lebih unggul dibanding persilangan A/B sebagai berikut:

a. Musim 1: Tanaman terpilih dari populasi P dikumpulkan dan dicampur tepung sarinya untuk menyerbuki tanaman galur A. Satu tongkol hasil persilangan merupakan famili tiri (half sib) dari banyak tetua jantan. b. Musim 2: Gunakan tepungsari tanaman F1 untuk silang diri dan menyerbuki tanaman galur B. c. Musim 3: Evaluasi silang puncak hasil persilangan pada musim 1 dengan menggunakan pembanding hibrida A/B. Dipilih galur-galur yang memiliki hasil silang puncak lebih tinggi dari hasil hibrida A/B. d. Musim 4: Galur S2 terpilih disilangdirikan, proses ini diteruskan hingga diperoleh galur murni. H. Sifat Agronomi Jagung 1. Kandungan gizi Jagung Biji jagung kaya akan karbohidrat. Sebagian besar berada pada endospermium. Kandungan karbohidrat dapat mencapai 80% dari seluruh bahan kering biji. Karbohidrat dalam bentuk pati umumnya berupa campuran amilosa dan amilopektin. Pada jagung ketan, sebagian besar atau seluruh patinya merupakan amilopektin. Perbedaan ini tidak banyak berpengaruh pada kandungan gizi, tetapi lebih berarti dalam pengolahan sebagai bahan pangan. Jagung manis diketahui mengandung amilopektin lebih rendah tetapi mengalami peningkatan fitoglikogen dan sukrosa (Deptan, 2007). Menurut Deptan (2007), kandungan gizi Jagung per 100 gram bahan adalah: Kalori : 355 Kalori,Protein : 9,2 gr,Lemak : 3,9 gr,Karbohidrat : 73,7 gr,Kalsium : 10 mg,Fosfor : 256 mg,Ferrum : 2,4 mg,Vitamin A : 510 SI,Vitamin B1 : 0,38 mg, dan Air : 12 gr. Sumber Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan Republik Indonesia Untuk ukuran yang sama, meski jagung mempunyai kandungan karbohidrat yang lebih rendah, namum mempunyai kandungan protein yang lebih banyak.

2. Pemanfaatan Selain sebagai bahan pangan dan bahan baku pakan, saat ini jagung juga dijadikan sebagai sumber energi alternatif. Lebih dari itu, saripati jagung dapat diubah menjadi polimer sebagai bahan campuran pengganti fungsi utama plastik. Salah satu perusahaan di Jepang telah mencampur polimer jagung dan plastik menjadi bahan baku casing komputer yang siap dipasarkan (Deptan, 2007).

I. Pemuliaan Tanaman 1. Pengertian Pemuliaan Tanaman Pemuliaan tanaman adalah kegiatan mengubah susunan genetik individu maupun populasi tanaman untuk suatu tujuan. Pemuliaan tanaman kadang-kadang disamakan dengan penangkaran tanaman, kegiatan memelihara tanaman untuk memperbanyak dan menjaga kemurnian; pada kenyataannya, kegiatan

penangkaran adalah sebagian dari pemuliaan. Selain melakukan penangkaran, pemuliaan berusaha memperbaiki mutu genetik sehingga diperoleh tanaman yang lebih bermanfaat. Pelaku pemuliaan tanaman disebut pemulia tanaman. Karena

pengetahuannya, seorang pemulia tanaman biasanya juga menguasai agronomi dan genetika. Tugas pokok seorang pemulia tanaman adalah merakit kultivar yang lebih baik: memiliki ciri-ciri yang khas dan lebih bermanfaat bagi penanamnya. 2. Tujuan Pemuliaan Tanaman Tujuan dalam program pemuliaan tanaman didasarkan pada strategi jangka panjang untuk mengantisipasi berbagai perubahan arah konsumen atau keadaan lingkungan. Pemuliaan padi, misalnya, pernah diarahkan pada peningkatan hasil, tetapi sekarang titik berat diarahkan pada perakitan kultivar yang toleran terhadap kondisi ekstrem (tahan genangan, tahan kekeringan, dan tahan lahan bergaram) karena proyeksi perubahan iklim dalam 2050 tahun mendatang. Tujuan pemuliaan akan diterjemahkan menjadi program pemuliaan. Ada dua tujuan umum dalam pemuliaan tanaman: peningkatan kepastian terhadap hasil yang tinggi dan perbaikan kualitas produk yang dihasilkan.

Peningkatan kepastian terhadap hasil biasanya diarahkan pada peningkatan daya hasil, cepat dipanen, ketahanan terhadap organisme pengganggu atau kondisi alam yang kurang baik bagi usaha tani, serta kesesuaian terhadap perkembangan teknologi pertanian yang lain. Hasil yang tinggi menjamin terjaganya persediaan bahan mentah untuk diolah lebih lanjut. Usaha perbaikan kualitas produk adalah tujuan utama kedua. Tujuan semacam ini dapat diarahkan pada perbaikan ukuran, warna, kandungan bahan tertentu (atau penambahan serta penghilangan substansi tertentu), pembuangan sifat-sifat yang tidak disukai, ketahanan simpan, atau keindahan serta keunikan.

3. Sejarah Pemuliaan Tanaman Kegiatan pemuliaan tanaman dapat dikatakan sebagai tekanan evolusi yang sengaja dilakukan oleh manusia. Pada masa prasejarah, pemuliaan tanaman telah dilakukan orang sejak dimulainya domestikasi tanaman, namun dilakukan tanpa dasar ilmu yang jelas. Para petani pada masa-masa awal pertanian selalu menyimpan sebagian benih untuk pertanaman berikutnya dan tanpa sengaja melakukan pemilihan (seleksi) terhadap tanaman yang kuat karena hanya tanaman yang kuat mampu bertahan hingga panen Perkembangan seleksi lebih lanjut telah menunjukkan kesengajaan dan terkait dengan tingkat kebudayaan masyarakat penanam. Bulir jagung terseleksi dari teosinte yang bulirnya keras serta terbungkus sekam, lalu menjadi jagung bertongkol namun bulirnya masih terbungkus sekam, dan akhirnya bentuk yang berbulir tanpa sekam dan lebih mudah digiling menjadi semakin banyak ditemukan. 4. Pemuliaan pada masa pramodern Pada awal milenium pertama dan paruh pertama milenium kedua telah terjadi pertukaran komoditi pertanian yang berakibat migrasi sejumlah bahan pangan. Pisang menyebar dari Asia Tenggara maritim ke arah barat hingga pantai timur Afrika. Berbagai tanaman rempah, seperti merica dan ketumbar, dan

tanaman "suci", seperti randu alas dan beringin, menyebar dari India ke Nusantara. Namun demikian, pertukaran tanaman yang intensif terjadi setelah penjelajahan orang Eropa. Meskipun penyebaran tanaman telah terjadi sebelum kolonialisme, Zaman Penjelajahan (sejak abad ke-14) dan kolonialisme (penjajahan) yang menyusulnya telah membawa pengaruh yang dramatis dalam budidaya tanaman.

J. Hibridisasi . Hibridisasi bertujuan untuk memperoleh kombinasi genetik yang diinginkan melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipenya. Terdapat dua macam hibridisasi,Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Pada tanaman menyerbuk sendiri hibridisasi merupakan langkah awal pada program pemuliaan setelah dilakukan pemilihan tetua. Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk menguji potensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas keragaman (Alfikri, 2011).

III. 3.1 Waktu dan Tempat

METODE PRAKTIKUM

Kegiatan praktikum Pemuliaan Tanaman ini dilaksanakan pada hari. Bertempat di Jl. Soekarno Hatta, Kampus STIPER, Kec. Sengatta Utara, Kab. Kutai Timur. Propinsi Kalimantan Timur.

3.2 Alat dan Bahan A. Alat: 1. Cangkul 2. Sekop 3. Ember 4. Timba 5. Amplop Penutup 6. Alat ukur 7. Karung 8. Kamera 9. Alat tulis A. Bahan: 1. Jagung manis 2. Jagung Pulut 3. Top soil 4. Polybag 5. Pasir 6. Pupuk kandang

3.3 Metode Praktimum 1. Menyiapkan Media Tanam dalam polybag. 2. Menanam benih jagung dari varietas bonanza dan paramita kedalam polybag tersebut dua biji perpolybag. 3. Setelah berumur 1 minggu masing-masing polybag hanya di sisahkan 1 tanaman dalam setiap polybag. 4. Pemeliharaan tanaman sesuai dengan petunjuk teknis budidaya tanaman jagung. Dari mulai penanaman, penyiraman, pemupukan, pemberantasan hama penyakit, pemyiangan, pembubunan, dll 5. Setelah tongkol keluar di lakukan isolasibungga jantan dan bunga betina dengan cara membungkus dengan amplop (kertas) dimana isolasi dilakukan sebelum bunga mekar. 6. Parameter pengamatan yang di ambil yaitu bentuk struktur bulir jagung dan warna dari hasil persilangan. 7. Menyilangkan kedua jenis varietas jagung yang di amati yaitu jagung bonanza dan jagung paramita.

LEMBARAN ASISTENSI PEMULIAN TANAMAN


NAMA NIM P.STUDY NO : MARCELINUS LILING : 11542111000744 : AGROTEKNOLOGI HAL YANG DIPERBAIKI TTD/PRAF

TANGGAL