Anda di halaman 1dari 9

KONSEP DATA MINING DAN IMPLEMENTASI (PENERAPAN)

Oleh: Djoko Tri W (NPM: 18109011)

Pendahuluan
Manusia telah "secara manual" mengekstrak pola dari data selama berabad-abad, tetapi
meningkatnya volume data yang di zaman modern telah menyerukan pendekatan yang lebih otomatis.
Metode awal untuk mengidentifikasi pola-pola dalam data termasuk Bayes 'teorema (1700) dan Analisis
Regresi (1800). Proliferasi, di mana-mana dan meningkatkan kekuatan teknologi komputer telah meningkat
pengumpulan data dan penyimpanan. Seperti kumpulan data telah tumbuh dalam ukuran dan kompleksitas,
tangan langsung-analisis data telah semakin telah ditambah dengan tidak langsung, pemrosesan data
otomatis. Ini telah dibantu oleh penemuan-penemuan lain dalam ilmu komputer, seperti jaringan saraf,
Clustering, Genetic algorithms (1950), Keputusan pohon (1960) dan Dukungan mesin vektor (1980).
diperlukan sebuah metode sebagai penerapan pengumpulan data yang dapat menampung, menganalisis
secara akurat data yang bagitu besar, metode tersebut hingga saat ini dikenal sebagai Data Mining.

Data Mining
Data Mining adalah serangkaian proses untuk menggali nilai tambah dari suatu kumpulan data
berupa pengetahuan yang selama ini tidak diketahui secara manual. Patut diingat bahwa kata mining sendiri
berarti usaha untuk mendapatkan sedikit barang berharga dari sejumlah besar material dasar. Karena itu DM
sebenarnya memiliki akar yang panjang dari bidang ilmu seperti kecerdasan buatan (artificial intelligent),
machine learning, statistik dan database.
Data mining adalah proses menerapkan metode ini untuk data dengan maksud untuk mengungkap
pola-pola tersembunyi. Dengan arti lain Data mining adalah proses untuk penggalian pola-pola dari data.
Data mining menjadi alat yang semakin penting untuk mengubah data tersebut menjadi informasi. Hal ini
sering digunakan dalam berbagai praktek profil, seperti pemasaran, pengawasan, penipuan deteksi dan
penemuan ilmiah. Telah digunakan selama bertahun-tahun oleh bisnis, ilmuwan dan pemerintah untuk
menyaring volume data seperti catatan perjalanan penumpang penerbangan, data sensus dan supermarket
scanner data untuk menghasilkan laporan riset pasar.
Alasan utama untuk menggunakan data mining adalah untuk membantu dalam analisis koleksi
pengamatan perilaku. Data tersebut rentan terhadap collinearity karena diketahui keterkaitan. Fakta yang tak
terelakkan data mining adalah bahwa subset/set data yang dianalisis mungkin tidak mewakili seluruh
domain, dan karenanya tidak boleh berisi contoh-contoh hubungan kritis tertentu dan perilaku yang ada di
bagian lain dari domain . Untuk mengatasi masalah semacam ini, analisis dapat ditambah menggunakan
berbasis percobaan dan pendekatan lain, seperti Choice Modelling untuk data yang dihasilkan manusia.
Dalam situasi ini, yang melekat dapat berupa korelasi dikontrol untuk, atau dihapus sama sekali, selama
konstruksi desain eksperimental.
Beberapa teknik yang sering disebut-sebut dalam literatur Data Mining dalam penerapannya antara
lain: clustering, classification, association rule mining, neural network, genetic algorithm dan lain-lain. Yang
membedakan persepsi terhadap Data Mining adalah perkembangan teknik-teknik Data Mining untuk aplikasi

1
pada database skala besar. Sebelum populernya Data Mining, teknik-teknik tersebut hanya dapat dipakai
untuk data skala kecil saja.
Proses Data Mining
Tahap-Tahap Data Mining. Karena Data Mining adalah suatu rangkaian proses, Data Mining dapat
dibagi menjadi beberapa tahap:
1. Pembersihan data (untuk membuang data yang tidak konsisten dan noise)
2. Integrasi data (penggabungan data dari beberapa sumber)
3. Transformasi data (data diubah menjadi bentuk yang sesuai untuk di-mining)
4. Aplikasi teknik Data Mining
5. Evaluasi pola yang ditemukan (untuk menemukan yang menarik/bernilai)
6. Presentasi pengetahuan (dengan teknik visualisasi)

Tahap-tahap tsb. bersifat interaktif di mana pemakai terlibat langsung atau dengan perantaraan knowledge
base.

Teknik Data Mining


Berikut beberapa jenis teknik Data Mining yang paling populer dikenal dan digunakan:

1. Association Rule Mining


Association rule mining adalah teknik mining untuk menemukan aturan assosiatif antara suatu

2
kombinasi item. Penting tidaknya suatu aturan assosiatif dapat diketahui dengan dua parameter, support
yaitu persentase kombinasi item tsb. dalam database dan confidence yaitu kuatnya hubungan antar item
dalam aturan assosiatif.

Algoritma yang paling populer dikenal sebagai Apriori dengan paradigma generate and test, yaitu pembuatan
kandidat kombinasi item yang mungkin berdasar aturan tertentu lalu diuji apakah kombinasi item tsb
memenuhi syarat support minimum. Kombinasi item yang memenuhi syarat tsb. disebut frequent itemset,
yang nantinya dipakai untuk membuat aturan-aturan yang memenuhi syarat confidence minimum. Algoritma
baru yang lebih efisien bernama FP-Tree.

2. Classification
Classification adalah proses untuk menemukan model atau fungsi yang menjelaskan atau membedakan
konsep atau kelas data, dengan tujuan untuk dapat memperkirakan kelas dari suatu objek yang labelnya
tidak diketahui. Model itu sendiri bisa berupa aturan “jika-maka”, berupa decision tree, formula matematis
atau neural network.
Decision tree adalah salah satu metode classification yang paling populer karena mudah untuk
diinterpretasi oleh manusia. Disini setiap percabangan menyatakan kondisi yang harus dipenuhi dan tiap
ujung pohon menyatakan kelas data. Algoritma decision tree yang paling terkenal adalah C4.5, tetapi akhir-
akhir ini telah dikembangkan algoritma yang mampu menangani data skala besar yang tidak dapat
ditampung di main memory seperti RainForest. Metode-metode classification yang lain adalah Bayesian,
neural network, genetic algorithm, fuzzy, case-based reasoning, dan k-nearest neighbor.
Proses classification biasanya dibagi menjadi dua fase : learning dan test. Pada fase learning, sebagian
data yang telah diketahui kelas datanya diumpankan untuk membentuk model perkiraan. Kemudian pada
fase test model yang sudah terbentuk diuji dengan sebagian data lainnya untuk mengetahui akurasi dari
model tsb. Bila akurasinya mencukupi model ini dapat dipakai untuk prediksi kelas data yang belum
diketahui.

3. Clustering
Berbeda dengan association rule mining dan classification dimana kelas data telah ditentukan
sebelumnya, clustering melakukan penge-lompokan data tanpa berdasarkan kelas data tertentu. Bahkan
clustering dapat dipakai untuk memberikan label pada kelas data yang belum diketahui itu. Karena itu
clustering sering digolongkan sebagai metode unsupervised learning. Prinsip dari clustering adalah
memaksimalkan kesamaan antar anggota satu kelas dan meminimumkan kesamaan antar kelas/cluster.
Clustering dapat dilakukan pada data yan memiliki beberapa atribut yang dipetakan sebagai ruang
multidimensi.
Banyak algoritma clustering memerlukan fungsi jarak untuk mengukur kemiripan antar data, diperlukan
juga metode untuk normalisasi bermacam atribut yang dimiliki data. Beberapa kategori algoritma clustering
yang banyak dikenal adalah metode partisi dimana pemakai harus menentukan jumlah k partisi yang
diinginkan lalu setiap data dites untuk dimasukkan pada salah satu partisi, metode lain yang telah lama
dikenal adalah metode hierarki yang terbagi dua lagi : bottom-up yang menggabungkan cluster kecil menjadi
cluster lebih besar dan top-down yang memecah cluster besar menjadi cluster yang lebih kecil. Kelemahan

3
metode ini adalah bila bila salah satu penggabungan/pemecahan dilakukan pada tempat yang salah, tidak
dapat didapatkan cluster yang optimal. Pendekatan yang banyak diambil adalah menggabungkan metode
hierarki dengan metode clustering lainnya seperti yang dilakukan oleh Chameleon.

Akhir-akhir ini dikembangkan juga metode berdasar kepadatan data, yaitu jumlah data yang ada di
sekitar suatu data yang sudah teridentifikasi dalam suatu cluster. Bila jumlah data dalam jangkauan tertentu
lebih besar dari nilai ambang batas, data-data tsb dimasukkan dalam cluster. Kelebihan metode ini adalah
bentuk cluster yang lebih fleksibel. Algoritma yang terkenal adalah DBSCAN.

Implementasi (Penerapan)
Dalam bidang apasaja data mining dapat diterapkan? Berikut beberapa contoh bidang penerapan
data mining:
- Analisa pasar dan manajemen.
Solusi yang dapat diselesaikan dengan data mining, diantaranya: Menembak target pasar, Melihat pola
beli pemakai dari waktu ke waktu, Cross-Market analysis, Profil Customer, Identifikasi kebutuhan
Customer, Menilai loyalitas Customer, Informasi Summary.
- Analisa Perusahaan dan Manajemen resiko.
Solusi yang dapat diselesaikan dengan data mining, diantaranya: Perencanaan keuangan dan Evaluasi
aset, Perencanaan sumber daya (Resource Planning), Persaingan (Competition).
- Telekomunikasi.
Sebuah perusahaan telekomunikasi menerapkan data mining untuk melihat dari jutaan transaksi yang
masuk, transaksi mana sajakah yang masih harus ditangani secara manual.
- Keuangan.
Financial Crimes Enforcement Network di Amerika Serikat baru-baru ini menggunakan data mining
untuk me-nambang trilyunan dari berbagai subyek seperti property, rekening bank dan transaksi
keuangan lainnya untuk mendeteksi transaksi-transaksi keuangan yang mencurigakan (seperti money
laundry) .
- Asuransi.
Australian Health Insurance Commision menggunakan data mining untuk mengidentifikasi layanan
kesehatan yang sebenarnya tidak perlu tetapi tetap dilakukan oleh peserta asuransi .
- Olahraga.
IBM Advanced Scout menggunakan data mining untuk menganalisis statistik permainan NBA (jumlah
shots blocked, assists dan fouls) dalam rangka mencapai keunggulan bersaing (competitive advantage)
untuk tim New York Knicks dan Miami Heat.
- Astronomi.
Jet Propulsion Laboratory (JPL) di Pasadena, California dan Palomar Observatory berhasil menemukan
22 quasar dengan bantuan data mining. Hal ini merupakan salah satu kesuksesan penerapan data
mining di bidang astronomi dan ilmu ruang angkasa.
- Internet Web surf-aid
IBM Surf-Aid menggunakan algoritma data mining untuk mendata akses halaman Web khususnya yang

4
berkaitan dengan pemasaran guna melihat prilaku dan minat customer serta melihat ke- efektif-an
pemasaran melalui Web.

Contoh kasus penerapan: Implementasi data mining dengan teknik Clustering untuk melakukan
Competitive Intelligence perusahaan.

Pembangunan perangkat lunak data mining dengan metode clustering menggunakan algoritma hirarki
divisive untuk pengelompokan customer dalam studi kasus ini, fungsi – fungsi yang dipakai adalah fungsi
untuk menentukan titik-titik pusat yang berguna sebagai pusat-pusat kelompok customer.

Langkah 1.

Fungsi untuk menentukan titik pusat awal dari semua data customer yang ada berdasarkan
transaksi yang dilakukan menggunakan perhitungan nilai rata-rata (mean) dari semua data yang ada dalam
tabel frekuensi transaksi. Pada langkah ini digunakan perhitungan nilai rata-rata (mean) karena untuk
mengantisipasi adanya nilai outline (nilai yang letaknya sangat jauh dari data yang ada) dari data yang ada
dalam tabel frekuensi. Contoh perhitungan dari sample data frekuensi transaksi customer, adalah sebagai
berikut:

5
Dari contoh data frekuensi diatas, maka kemudian diurutkan dari frekuensi paling kecil sampai ke frekuensi
terbesarnya, yaitu sebagai berikut:
Data frekuensinya :0,0,0,0,0,0,0,0,0,1,1,1,1,1,1,1,2,2,2,4,5,5,6,7,11,11,15. Maka perhitungan pada langkah I
ini adalah sebagai berikut:
• Perhitungan nilai rata-rata (mean) dari semua nilai yang ada pada tabel frekuensi.
= 0+0+0+0+0+0+0+0+0+1+1+1+1+1+1+1+2+2+2+4+5+5+6+7+11+11+15/30
= 2.56666666667.
• Perhitungan titik pusat 1
→ nilai frekuensi terkecil + nilai mean dari semua data tabel frekuensi/ 2
= 0+2.56666666667/2
= 1.283333333333.
• Perhitungan titik pusat 2
→ menggunakan hasil perhitungan nilai rata-rata (mean) dari semua nilai yang ada pada tabel
frekuensi.
= 2.56666666667.
• Perhitungan titik pusat 3
→ nilai rata-rata dari semua data tabel frekuensi + nilai frekuensi terbesar / 2.
= 2.56666666667 + 15 /2
= 8.78333333333.
• Maka hasil titik pusat dari langkah I ini adalah :
 Titik pusat 1 = 1.283333333335
 Titik pusat 2 = 2.56666666667
 Titik pusat 3 = 8.78333333333

Setelah pencarian titik pusat klaster pada langkah 1 diketahui hasilnya, kemudian titik – titik pusat tersebut
digunakan untuk menarik anggota dari semua nilai data yang ada pada tabel frekuensi dengan
menggunakan sistem perhitungan jarak kedekatan setiap data dengan masing-masing titik pusat tersebut.
Perhitungan jarak kedekatan dalam langkah 1 ini ditentukan dengan perhitungan selisih antar titik pusat
dibagi 2, kemudian hasil selisih titik pusat tersebut ditambahkan pada titik pusat yang lebih kecil dan
dikurangkan dengan titik pusat yg lebih besarnya, sehingga bisa diambil kesimpulan bahwa data-data yang
berada dalam rentang titik pusat tersebut merupakan anggotanya.
Contoh: Untuk menentukan anggota cluster dari titik pusat 2, meliputi :
• Perhitungan rentang terendah :
= 2.576666666667 - 1.283333333335 / 2 = 0.646666666666.
Maka titik terendah dari titik pusat 2 adalah
= 2.56666666667 - 0.646666666666 = 1.920
• Perhitungan rentang tertinggi:
= 8.78333333333 - 2.56666666667 / 2 = 3.10833333333
Maka titik tertinggi dari titik pusat 2 adalah

6
= 2.56666666667 + 3.10833333333
= 5.675
• Sehingga anggota cluster dari titik pusat 2 bisa diambil dari rentang titik frekuensi data : 1.920 ≤
anggota cluster titik pusat 2 < 5.675

Langkah 2.
Setelah klaster-klaster pada langkah 1 terbentuk, maka pada langkah 2 ini dilakukan pengecekan
ulang perhitungan titik pusat setiap klaster dengan menggunakan perhitungan nilai median (perhitungan nilai
tengah). Pemakaian perhitungan nilai median karena semua data yang ada sudah diketahui pada langkah
1, sehingga tidak ada kekhawatiran munculnya data outline. Contoh perhitungan pada langkah 2
berdasarkan semua data yang ada pada halis langkah I adalah sebagai berikut:
• Titik pusat 1
Membaca semua data anggota klaster ini pada langkah I, yaitu: 0,0,0,0,0,0,0,0,0,1,1,1,1,1,1,1,2,2,2
Dari data diatas, untuk menghitung nilai titik pusat 1 pada langkah 2 digunakan perhitungan dengan
langkah sebagai berikut:
a. Jumlahkan semua item data yang ada pada klaster 1 pada langkah I
Num=[0,0,0,0,0,0,0,0,0,1,1,1,1,1,1,1,2,2,2] = 19 item
b. Kemudian melakukan perhitungan titik pusat menggunakan perhitungan median (nilai tengah)
untuk mengecek titik pusat pada langkah 1
Jika Nilai sisa bagi = 19mod2 = 1
Karena sisa bagi dari total item 1, maka perhitungan titik pusat
= ((19/2) +((19/2)-1)/2
= 9  nilai tengahnya berada diantara item ke – 9 yang dibaca dari awal data dan akhir data dari
anggota klaster 1 pada langka I
=[0,0,0,0,0,0,0,0,0|1|1,1,1,1,1,1,2,2,2]
Jadi nilai titik pusat satu pada langkah II adalah 1.
Kemudian titik pusat satu pada langkah II ini dibandingkan dengan titik pusat satu pada langkah I,
dimana nilai 1 ≠ 1.283333333335 sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa titik pusat masih berubah.
• Titik pusat 2
Anggota klaster ini pada langkah I adalah : 4,5,5
Dari data diatas, titik pusat 2 pada langkah II ini dihitung dengan cara sebagai berikut:
a. Jumlahkan semua item data yang ada pada klaster 1 pada langkah I
Num = [4,5,5] = 3 item
b. Kemudian melakukan perhitungan titik pusat menggunakan perhitungan median (nilai tengah)
untuk mengecek titik pusat pada langkah 1
Jika Nilai sisa bagi = 3 mod 2 = 1
Karena sisa bagi dari total item 1, maka perhitungan titik pusat
= ((3/2) +((3/2)-1)/2
= 1 → nilai tengahnya berada diantara item ke – 1 yang dibaca dari
awal data dan akhir data dari anggota klaster 2 pada langka I = [5|5|5]

7
Jadi nilai titik pusat dua pada langkah II adalah 5.
Kemudian titik pusat dua pada langkah II ini dibandingkan dengan titik pusat dua pada langkah I,
dimana nilai 5 ≠ 2.56666666667 sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa titik pusat masih berubah
• Titik pusat 3
Anggota cluster pada langkah I adalah : 6,7,11,11,15
Dari data diatas, titik pusat 3 pada langkah II ini dihitung dengan cara sebagai berikut:
a. Jumlahkan semua item data yang ada pada klaster 1 pada langkah I
Num = [6,7,11,11,15] = 5 item
b. Kemudian melakukan perhitungan titik pusat menggunakan perhitungan median (nilai tengah)
untuk mengecek titik pusat pada langkah 1
Jika Nilai sisa bagi = 5 mod 2 = 1
Karena sisa bagi dari total item 1, maka perhitungan titik pusat
= ((5/2) +((5/2)-1)/2
= 2 → nilai tengahnya berada diantara item ke – 2 yang dibaca dari awal data dan akhir data
dari anggota klaster 3 pada langka I
= [6,7|11|11,15]
Jadi nilai titik pusat satu pada langkah II adalah 11.

Kemudian titik pusat tiga pada langkah II ini dibandingkan dengan titik pusat tiga pada langkah I,
dimana nilai 11 ≠ 8.78333333333 sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa titik pusat masih berubah.
Karena hasil titik pusat pada langkah dua ini masih beruba maka dilakukan perhitungan jarak rentang
anggota masing – masing cluster, sebagai penentu suatu nilai data masuk pada tiap-tiap klaster yang jarak
titik pusatnya paling dekat dengan data. Contoh perhitungan jarak rentang antar data adalah, sebagai
berikut:
• Titik pusat 1
→ Rentang titik pusat 1 = Titik pusat 2 – titik pusat 1 / 2 = 5-1 / 2 = 2
Maka rentang anggota titik pusat 1 langkah II = 1 +2 = 3
→ anggota klaster 1 pada langkah II < data frekuensi bernilai 3
• Titik pusat 2
→ Rentang terendah = 5 - 1 / 2 = 2
Maka rentang terendah = 5 – 2 = 3
→ Rentang tertinggi : 11 – 5 / 2 = 3
Maka rentang teringgi = 5 + 3 = 8
Sehingga rentang anggota titik pusat 2  data frekuensi bernilai 3 ≤ anggota klaster 2 pada langkah
II < data frekuensi bernilai 8
• Titik pusat 3
→ Rentang titik pusat 3 = titik pusat 3 – titik pusat 2 / 2 = 11 – 5 / 2 = 3
Maka rentang anggota titik pusat 3 = 11 – 3 = 8 → data frekuensi bernilai 8 ≤ anggota klaster 3 pada
langkah 2.

8
Langkah 3.

Fungsi yang digunakan pada langkah ini, sama seperti fungsi yang digunakan pada langkah 2, yaitu
penggunaan perhitungan nilai tengan (median). Fungsi dalam langkah ini digunakan untuk mengecek
apakah titik pusat klaster yang telah terbentuk pada langkah sebelumnya sudah tidak berubah lagi atau
tidak, dengan cara membandingkan hasil perhitungan titik pusat langkah ini dengan langkah sebelumnya.
Apabila titik pusat tersebut sudah tidak berubah maka pembentukan klaster customer sudah selesai. Tetapi
apabila titik pusat masih berubah maka dilakukan perhitungan ulang seperti pada langkah II, perhitungan ini
akan terus berulang sampai titik pusat cluster tidak berubah lagi.

Kesimpulan
1) Untuk melakukan pembentukan sebuah cluster dibutuhkan sebuah titik pusat yang bisa dicari dari
seluruh data yang ada dalam tabel frekuensi transaksi dengan melakukan metode perhitungan nilai rata
rata (mean) ataupun perhitungan nilai tengah (median).
2) Hasil dari aplikasi ini bisa dijadikan sebagai pendukung keputusan oleh manager terhadap customer –
customer yang dimilikinya. Misalnya pendukung keputusan untuk meningkatkan promosi kebeberapa
customer yang berada diklaster kurang aktif dan sedang ataupun keputusan untuk memberikan fasilitas
yang lebih exclusive maupun pemberian bonus atau diskon kepada customer yang berada di klaster
yang aktif.

Sumber:
wikipedia, “Data Mining”, http://en.wikipedia.org/wiki/Data_mining
Iko Pramudiono, “Pengantar data mining: Menambang Permata Pengetahuan di Gunung Data”,
http://ilmukomputer.com
Yudo Giri Sucahyo, “Penerapan data mining: Permasalahan apa saja yang bisa diselesaikan?”,
http://ilmukomputer.com
Noor Rindho, Suzuki Syofian, “Implementasi Data Mining dengan Metode Clustering untuk melakukan
Competitive Intelligence perusahaan”