Anda di halaman 1dari 8

Selasa, 12 November 2013

ASKEP APENDISITIS
APENDISITIS
A. Pengertian
1. Appendiks adalah : Organ tambahan kecil yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat
dibawah katup ileocecal ( Brunner dan Sudarth, 2002 hal 1097 ).
2. Appendicitis adalah : suatu peradangan pada appendiks yang berbentuk cacing, yang
berlokasi dekat katup ileocecal ( long, Barbara C, 1996 hal 228 )
3. Appendicitis adalah : Peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. (Arif Mansjoer ddk 2000 hal 307 )

B. Anatomi
1. Anatomi Appendiks
a. Letak di fossa iliaca kanan, basis atau pangkalnya sesuai dengan titik Mc Burney 1/3 lateral
antara umbilicus dengan SIAS.
b. Basis keluar dari puncak sekum bentuk tabung panjang 3 5 cm.
c. Pakal lumen sempit, distal lebar. ( Farid 3, 2001 )
2. Usus besar merupakan tabung muscular berongga dengan panjang sekitar lima kaki ( sekitar
1,5 m ) yang terbentang dari sekum sampai kanalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih
besasr dari usus kecil. Rata rata sekitar 2,5 1nc.( sekitar 6,5 cm ) tetapi makin dekat
anus diameternya makin kecil. Usus besardibagi menjadi sekum, colon, dan rectum. Pada
sekum terdapat katup ileosecal dan Appendiks yang melekat pada ujung sekum. Colon dibagi
lagi menjadi colon asendens, transversum desendens dan sigmoid. Tempat dimana colon
membentuk kelokan tajan yaitu pada abdomen kanan dan kiri atas berturut turut dinamakan
fleksura hepatica dan fleksura lienalis. Colon sigmoid mulai setinggi Krista iliaka dan
membentuk S. lekukan rectum. Pada posisi ini gaya berat membantu mengalirkan air dari
rectum ke fleksura sigmoid. Rectum terbentang dari colon sigmoid sampai anus ( Silvia A.
Price, Lorraina, M Wilson 1995

C. Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir 1 2 ml perhari. Lendir itu secara normal dicurahkan kedalam
lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir dimuara appendiks
tampaknya berperan pada patogenesis appendicitis.
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (Gut Associated Lymfoid Tissue) yang
terdapat disepanjang saluran cerna termasuk appendiks. Immunoglobulin itu sangat efektif
sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian pengangkatan appendiks tidak
mempengaruhi system imun tubuh sebab jumlah jaringan limfa disini kecil sekali jika
dibandingkan jumlah disaluran cerna dan seluruh tubuh.

D. Etiologi
Appendicitis belum ada penyebab yang pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi Yaitu :
a. Factor yang tersering adalah obtruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi karena :
Hiperplasia dari folikel limfoid, ini merupakan penyebab terbanyak
Adanya faekolit dalam lumen appendiks
Adanya benda asing seperti biji bijian
Striktura lumen karena fibrosa akibat peradangan sebelumnya
b. Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan streptococcus
c. Laki laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15 30 tahun (remaja
dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada masa tersebut.
d. Tergantung pada bentuk appendiks
1. Appendik yang terlalu panjang
2. Messo appendiks yang pendek
3. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen appendiks
4. Kelainan katup di pangkal appendiks

E. Insiden
Appendisitis aku dinegara maju lebih tinggi daripadadi negara berkembang namun dalam tiga
empat dasawarsa terjadi peningkatan.kejadian ini diduga disebabkan oleh meningkatnya pola
makan berserat dalam menu sehari hari, pada laki laki dan perempuan pada umumnya
sebanding kecuali pada umur 20 30 tahun insiden pada laki laki lebih tinggi. Appendicitis dapat
ditemukan pada semua umur , hanya pada anak yang kurang dari satu tahun yang jarang
dilaporkan, mungkin karena tidak terduga sebelumnya. Insiden tertnggi terjadi pada kelompok
umur 20 30 tahun, setelah itu menurun.

F. Patofisiologi
Appendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat
kemungkinan oleh fekolit ( massa keras dari fecces) atau benda asing. Proses inflamasi
meningkatkan tekanan intaraluminal, menimbulkan nyeri atas atau menyebar hebat secara
progresif, dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen.
Akhirnya appendiks yang terinflamasi terisi pus.

G. Manisfestasi klinis
1. Nyeri kuadran kanan bawah biasanya disertai dengan demam derajat rendah, mual, dan
sering kali muntah.
2. Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus dan spina anterior dari ilium)
nyeri tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rectum kanan.
3. Nyeri alih mungkin saja ada, letak appendiks mengakibatkan sejumlah nyeri tekan, spasme
otot, dan konstipasi atau diare
4. Tanda rovsing dapat timbul dengan mempalpasi kuadran bawah kiri, yang secara paradoksial
menyebabkan nyeri yang terasa pada kuadran kanan bawah
5. Jika terjadi ruptur appendiks, maka nyeri akan menjadi lebih menyebar, terjadi distensi
abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi memburuk.

H. Test Diagnosa
Untuk menegakkan diagnosa pada appendicitis didasarkan atas annamnesa ditambah dengan
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
a. Gejala appendicitis ditegakkan dengan anamnesa, ada 4 hal yang penting adalah :
1. Nyeri mula mula di epeigastrium (nyeri visceral) yang beberapa waktu kemudian menjalar
keperut kanan bawah.
2. Muntah oleh karena nyeri visceral
3. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus)
4. Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan di perut terasa nyeri
b. Pemeriksaan yang lain
1. Lokalisasi
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut,tetapi paling terasa
nyeri pada titik Mc Burney. Jika sudah infiltrat, insfeksi juga terjadi jika orang dapat
menahan sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney


2. Test Rectal
Pada pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada
daerah prolitotomi.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap
mikroorganisme yang menyerang pada appendicitis akut dan perforasi akan terjadi
leukositosis yang lebih tinggi lagi.
b. Hb (hemoglobin) nampak normal
c. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendicitis infiltrat
d. Urine penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
4. Pemeriksaan Radiologi
Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosaappendicitis akut, kecuali bila
terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut :
a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan
b. Kadang ada fekolit (sumbatan)
c. Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma

I. Diagnosa Banding
Gastroenteritis akut adalah kelainan yang sering dikacaukan dengan appendicitis. Pada
kelainan ini muntah dan diare lebih sering. Demam dan leukosit akan meningkat jelas dan
tidak sesuai dengan nyeri perut yang timbul. Lokasi nyeri tidak jelas dan berpindah pindah.
Hiperperistaltik merupakan merupakan gejala yang khas. Gastroenteritis biasanya berlangsung
akut, suatu obsevasi berkala akan dapat menegakkan diagnosis.
Adenitis mesebrikum juga dapat menunjukan gejala dan tanda yang identik dengan
appendicitis. Penyakit ini lebh sering pada anak anak, biasanya didahului dengan infeksi
saluran napas. Lokasi nyeri di perut kanan bawah tidak konstan dan menetap, jarang terjadi
truemuscie guarding.
Divertikulitis Meckeli juga menunjukan gejala yang hampir sama. Lokasi nyeri mungkin
lebih kemedial, tetapi ini bukan criteria diagnosis yang dapat dipercaya. Karena kedua
kelainan ini membutuhkan tindakan operasi, maka perbedaannya bukanlah hal yang penting.
Enteritis regional, amubiasis,ileitis akut, perforasi ulkus duodeni, kolik ureter, salpingitis
akut, kehamilan ektopik terganggu, dan kista ovarium terpuntir juga sering dikacaukan
dengan appendicitis. Pneumonia lobus kanan bawah kadang kadang juga
berhubungan dengan nyeri di kuadran kanan bawah.
J. Komplikasi
Apabila tindakan operasi terlambat, timbul komplikasi sebagai berikut :
1. Peritonitis generalisata karena ruptur appendiks
2. Abses hati
3. Septi kemia

K. Penatalaksanaan
a. Perawatan prabedah perhatikan tanda tanda khas dari nyeri
Kuadran kanan bawah abdomen dengan rebound tenderness (nyeri tekan lepas), peninggian
laju endap darah, tanda psoas yang positif, nyeri tekan rectal pada sisi kanan. Pasien disuruh
istirahat di tempat tidur, tidak diberikan apapun juga per orang. Cairan intravena mulai
diberikan, obat obatan seperti laksatif dan antibiotik harus dihindari jika mungkin.
b. Terapi bedah : appendicitis tanpa komplikasi, appendiktomi segera dilakukan setelah
keseimbangan cairan dan gangguan sistemik penting.
c. Terapi antibiotik, tetapi anti intravena harus diberikan selama 5 7 hari jika appendicitis
telah mengalami perforasi.



DATA DASAR PENGKAJIAN APENDISITIS
(PRE OPERASI)

DATA DASAR YANG DAPAT DITEMUKAN DALAM PENGKAJIAN :
1) Aktivitas atau istirahat
Gejala : Malaise
2) Sirkulasi
Tanda : Takikardi
3) Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awitan
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan atau lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada
bising usus.
4) Makanan/ Cairan
Gejala : Anoreksia, mual atau muntah
5) Nyeri atau kenyamanan
Gejala :
o Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus yang meningkat berat dan terlokalisasi pada
titik Mc. Burney (setengah jarak antara umbilicus dan tulang ileum kanan). Meningkat karena
berjalan, bersin, batuk atau napas dalam.
o Keluhan berbagai rasa nyeri/ gejala tidak jelas (sehubungan dengan lokasi appendiks, contoh
retrosekal atau sebelah ureter).
Tanda :
o Prilaku berhati hati berbaring kesamping atau terlentang dengan lutut ditekuk :
meningkatnya nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi
o Ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak
o Nyeri lepas pada sisi kiri diduga inflamasi peritoneal.
6) Keamanan
Tanda : demam (biasanya rendah)
7) Pernapasan
Tanda : takipnea, pernapasan dangkal (Marilyn E. doenges, 508 505, 2000)
8) Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Riwayat kondisi lain yang berhubunngan dengan nyeri abdomen contohnya pielis akut,
batu uretra, salpingitis akut, ileitis regional. Dapat terjadi pada berbagai usia
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat: 4,2 hari
Rencana pemulangan : Membutuhkan bantuan sedikit dalam transportasi tugas pemeliharaan rumah

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
SDP : Leukositosis diatas 12.000/mm
3
, neutrofil menungkat sampai 75 %
Urinalisis : normal tetapi erytrosit/leukosit mungkin ada
Foto Abdomen : Dapat menyatakan adanya pergeseran material dari apendiks (fekalit), ileus
terlokalisir

PRIORITAS KEPERAWATAN
TUJUAN PEMULANGAN
1. Nyeri b/d distensi jaringan usus, inflamasi, adanya luka operasi
Tujuan : Nyeri hilang/berkurang dengan criteria (pasien tampak rileks, mampu tidur atau
istirahat)
No INTERVENSI RASIONALISASI
1

Kaji nyeri, catat lokasi,karakteristik
beratnya.
Dapat diketahui tingkat nyeri pasien,


2



3

4

5

Pertahankan istirahat dengan
mempertahankan istirahat dengan
posisi semi fowler

Berikan aktivitas hiburan

Ajarkan tehnik relaksasi dengan
napas dalam
Berkolaborasi dalam pemberian
analgesik

Posisi ini mengurangi ketegangan pada
insisi dan organ organ abdomen

Mengalihkan pasien dari rasa nyeri

Mengurangi ketegangan dapat
mengurangi
Sebagai mitra kita perlu berkolaborasi
dengan dokter ,apabila nyeri pasien
tidak dapat hilang dengan posisi dan
tehnik relaksasi

2. Resiko defisit volume cairan elektrolit tubuh b/d mual dan muntah
Tujuan : defisit volume cairan tidak terjadi, ditunjukan dengan (turgor kulit baik, kelembaban
membran mukosa baik,tanda tanda vital stabil dan keluaran urine adekuat.

No INTERVENSI RASIONALISASI
1



2



3




4
Kaji tanda tanda vital



Kaji membran mukosa, turgor kulit
dan pengisian kapiler


Kaji dan catat intake dan output
cairan secara teliti, termasuk urine
output,catat warna
urine/konsentrasi dan jenis

Berikan cairan peroral atau
parenteral sesuai anjuran dan
lanjutkan dengan diet sesuai
toleransi
Tanda tanda vital sangat membantu
mengidentifikasi fluktuasi
volume intravaskuler

Turgor kulit dan membran mukosa
merupakan indikasi status hidrasi serta
keadekuatan sirkulasi perifer

Penurunan output urine pekat dan
peningkatan berat jenis diduga
dehidrasi/ kebutuhan peningkatan
cairan.

Dapat menurunkan iritasi gaster dan
muntah serta meminimalkan kehilangan
cairan






3. Resiko infeksi b/d perporasi atau ruptur appendiks, peritonitis, pembentukan abses
Tujuan : infeksi tidak terjadi ditandai dengan ( tidak dijumpainya tanda tanda
infeksi,inflamasi,drainase purulenta, eritema dan demam)
No INTERVENSI RASIONALISASI
1





2



3



4





5
Awasi dan catat tanda tanda vital,
perhatikan bila ada demam
berkeringat, perubahan mental,
meningkatnya nyeri abdomen


Lakukan pencucian tangan yang baik
dan perawatan luka septic sesuai
prosedur kerja

Pantau insisi luka dan balutan,
catatan karakteristik drainase luka/
adanya eritema

Berikan informasi yang tepat dan
jujur pada klien atau orang
terdekatnya tentang kondisi klien



Kolaborasi dalam pemberian abat
obat antibiotik
Segera timbulnya dugaan infeksi
atau terjadinya sepsis, abses
peritonitis memudahkan perawat
merencanakan dan melakukan
tindakan keperawatan secara dini.

Dapat menrukan atau mencegah
terjadinya infeksi


Memberikan deteksi dini terjadinya
situasi proses infeksi atau
pengawasan penyembuhan

Suatu informasi yang akurat
memberikan pengetahuan tentang
adanya kemajuan situasi sehingga
memberikan dukungan emosi,
membantu menurunkan kecemasan

Memungkinkan penurunan jumlah
organisme terutama pada infeksi
yang telah ada sebelumnya

4. Kurang pengetahuan b/d kurang mengingat, kurang informasi
Tujuan : pengetahuan pasien tantang proses penyakitnya bertambah

No INTERVENSI RASIONALISASI
1



2



3
Kaji pembatasan aktivitas pasien



Dorong aktivitas sesuai toleransi
dengan periode istirahat


Diskusikan mengenai perawatan
dengan pasien dan keluarga
Memberi informasi pada klien untuk
merencanakan kembali rutinitas
tanpa menimbulkan masalah

Mencegah kelemahan, meningkatkan
penyembuhan dan mepermudah
aktifitas normal

Pemehaman meningkatkan
kerjasama dalam program terapi,
meningkatkan penyembuhan dan
proses perbaikan