Anda di halaman 1dari 1

A.

Prosedur Medikolegal
Pada kasus-kasus seperti pembunuhan, penganiayaan, perkosaan, maupun korban
meninggal yang dicurigai adanya tindak pindana, penyidik mungki membutuhkan bantuan
ahli, salah satunya adalah ahli kedokteran kehakiman. Hal tersebut bertujuan untuk
membantu proses penegakkan hukum. Pada kondisi-kondisi seperti diatas, penyidik
berwenang meminta keterangan ahli, sesuai dengan KUHAP pasal !! ayat " #$alam hal
penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan
ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang
mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan
atau ahli lainnya%.
$alam pasal diatas yang berhak mengajukan keterangan ahli penyidik. Adapun yang
termasuk dalam kategori penyidik menurut KUHAP pasal ayat jo PP &' tahun ()! pasal
& ayat adalah Pejabat Polisi *egara +, yang diberi wewenang khusus oleh undang-
undang dengan pangkat serendah-rendahnya, Pembantu -etnan $ua. .edangkan penyidik
pembantu berpangkat serendah-rendahnya .ersan $ua. $alam PP yang sama disebutkan
bahwa bila penyidik tersebut adalah pegawai negeri sipil, maka kepangkatannya adalah
serendah-rendahnya golongan ,,/b untuk penyidik dan ,,/a untuk penyidik pembantu.
Permintaan keterangan ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis. Hal ini diatur
dengan tegas dalam pasal !! ayat &" #Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud
dalam ayat 01 dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas
untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat%.
2ena3ah yang akan dimintakan 4isum et repertumnya harus diberi label yang memuat
identitas mayat, di- lak dengan diberi cap jabatan, yang diikatkan pada ibu jari kaki atau
bagian tubuh lainnya. Pada surat permintaan 4isum et repertumnya harus jelas tertulis jenis
pemeriksaan yang diminta, apakah hanya pemeriksaan luar jena3ah, ataukah pemeriksaan
autopsi. 5ila pemeriksaan autopsi yang diminta, maka penyidik wajib memberitahu kepada
keluarga korban dan menerangkan maksud dan tujuan pemeriksaan. Autopsi dilakukan
setelah keluarga korban tidak keberatan, atau bila dalam dua hari tidak ada tanggapan
apapun dari keluarga korban. 2ena3ah hanya boleh dibawa keluar institusi kesehatan dan
diberi surat keterangan kematian bila seluruh pemeriksaan yang diminta oleh penyidik telah
dilakukan. Apabila jena3ah dibawa pulang paksa, maka baginya tidak ada surat keterangan
kematian. Apabila penyidik hanya meminta pemeriksaan luar saja, maka kesimpulan 4isum
et repertum menyebutkan jenis luka atau kelainan yang ditemukan dan jenis kekerasan
penyebabnya, sedangkan sebab matinya tidak dapat ditentukan karena tidak dilakukan
bedah jena3ah. Apabila dilakukan pemeriksaan bedah jena3ah menyeluruh, dari
pemeriksaan dapat disimpulkan sebab kematian.